Kedatangan Utusan Bani Daus

KEDATANGAN UTUSAN BANI DAUS

Oleh
Ustadz Abu Firas Luthfi bin Muhammad Yasin

Pembahasan ini adalah rincian pembahasan sebelumnya tentang kedatangan delegasi dari penjuru Arab.

ASAL USUL BANI DAUS
Daus dinisbahkan kepada Daus bin Udtsan (عُدثان) bin Abdullah bin Zahran. Nasabnya bersambung ke Azad[1]. Qalqasyandi menyebut nasab lengkapnya dengan Daus bin Udtsan bin Abdullah bin Zahran bin Ka’b bin Harits bin Ka’b bin Abdullah bin Khalid bin Nashr.[2]. Bani ini adalah kaum Abu Hurairah[3]. Tidak dijelaskan tempat asal kaum ini, hanya disebutkan bahwa mereka berasal dari Yaman[4].

KEISLAMAN DAUS
Tokoh penting yang berperan penting dalam keislaman Bani Daus adalah Tufail bin Amru ad-Dausi.  Tufail dijuluki sebagai Dzun-Nur (pemilik cahaya, pen.). Julukan itu karena ketika ia datang kepada Rasûlullâh di Makkah dan kemudian masuk Islam, Rasululah mengutusnya kepada kaumnya sendiri. Tufail mengatakan: “ Wahai Rasûlullâh, jadikan pada diriku ayat (karamah, pen.)”. Rasûlullâh mengatakan: “Ya Allah, jadikan baginya cahaya.” Maka muncullah cahaya diantara kedua matanya. Amru mengatakan: “Wahai Rabbku, aku takut kaumku mengatakan bahwa cahaya itu musibah bagiku, maka cahaya itu berpindah ke tepi cambuknya dan cahaya itu meneranginya di malam yang gelap gulita “[5].

Hal lain yang  membuktikan kedatangan Tufail bin Amru di Makkah adalah riwayat Jabir bin Abdillah di Shahih Muslim[6] ketika ia datang ke Makkah dan melihat gangguan kaum Musyrik terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia menawarkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhijrah ke Bani Daus di Yaman.

Tufail terus berdakwah namun kaumnya tidak segera menerima Islam, tapi ayah dan istrinya menerima Islam. Hingga ia mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta didoakan keburukan bagi Daus karena lambatnya mereka menerima Islam. Namun Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mendoakan kebaikan[7], dengan redaksi do’a yang akan tersebut dalam keutamaan Bani Daus.

Tufail kembali ke kaumnya hingga ia datang kembali bersama rombongan yang akan diceritakan nanti pada tahun 7 H ketika Rasûlullâh menghadapi Yahudi di Khaibar.

Tufail tetap bersama Rasûlullâh hingga ketika Fath Makkah ia diutus Rasûlullâh untuk menghancurkan patung Amru bin Shamamah di Dzu al-Kaffain hingga ia membakarnya[8].

KEUTAMAAN BANI DAUS.
1. Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ دَوْسًا قَدْ هَلَكَتْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِم

Dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata: Tufail dan shahabatnya dari Kabilah Daus datang kepada Rasûlullâh dan mereka mengatakan: Wahai Rasûlullâh sesungguhnya Kabilah Daus telah kufur dan enggan (menerima Islam) maka berdoalah agar mereka celaka. Abu Hurairah mengatakan: binasalah Daus[9], maka Rasûlullâh mengatakan: Ya Allah, berilah hidayah kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Rasûlullâh)[10].     

2. Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَهْدَى لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكْرَةً فَعَوَّضَهُ مِنْهَا سِتَّ بَكَرَاتٍ فَتَسَخَّطَهَا، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ فُلَانًا أَهْدَى إِلَيَّ نَاقَةً فَعَوَّضْتُهُ مِنْهَا سِتَّ بَكَرَاتٍ فَظَلَّ سَاخِطًا، لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ لَا أَقْبَلَ هَدِيَّةً إِلَّا مِنْ قُرَشِيٍّ أَوْ أَنْصَارِيٍّ أَوْ ثَقَفِيٍّ أَوْ دَوْسِيٍّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu : seorang badui menghadiahkan pada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor unta betina kecil, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ganti memberinya enam ekor unta betina kecil. Namun badui tadi malah tidak rela dengan pemberian tersebut. Kabar tersebut sampai pada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi n membaca tahmid dan memuji-Nya kemudian bersabda: Sesungguhnya fulan memberiku hadiah seekor unta betina dan aku ganti memberinya enam ekor unta betina kecil namun ia tetap tidak rela dengan pemberian itu. Aku berharap untuk tidak menerima hadiah kecuali dia tidak tamak dengan balasan sebesar itu kecuali[11] dari seorang Qurays, atau Anshar, atau Tsaqif, atau Daus[12].

Hadist setelahnya di Sunan Tirmidzi (3946) menyebut bahwa orang tersebut berasal dari Bani Fazarah[13].

WAKTU KEDATANGAN
Menurut riwayat dalam keutamaan Daus di atas, terkesan bahwa Tufail bin Amru dan kaumnya datang menemui Rasûlullâh ketika di masih di Makkah. Karena itu Ibnu Hajar menyebut bahwa Abu Hurairah yang meriwayatkan hadist tersebut sudah masuk Islam sedari lama. Menurut Ibnu Ishaq[14], saat Tufail datang ke Makkah mengadu lambatnya Daus menerima Islam dan meminta didoakan keburukan bagi Daus. Pada waktu itulah Rasûlullâh mengucapkannya.  Namun Ibnu Ishaq tidak tegas menyebut apakah Tufail datang sendiri ke Makkah atau bersama kaumnya.

Menurut Ibnu Ishaq, kedatangan Tufail bin Amru dengan kaumnya datang ke Madinah sedangkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di Khaibar (7 H, pen,), maka Amru menyusul Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Khaibar dan mereka semua mendapatkan pampasan perang di Khaibar[15]. Riwayat ‘Irak bin Malik dari Abu Hurairah menyebut bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu anhu datang ke Madinah bersama beberapa orang dari kaumnya sedangkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Khaibar, maka hingga ia dan kaumnya menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Khaibar setelah selesai penaklukannya. Rasûlullâh meminta izin kepada kaum Muslimin yang mendapatkan ghanimah agar rombongan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mendapat bagian dan mereka setuju[16].

JUMLAH UTUSAN
Jika Tufail bin Amru Radhiyallahu anhu memang datang menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dua kali, pertama di Makkah. Kedua di Madinah. Maka kedatangan yang pertama tidak dijelaskan angka pasti, hanya riwayat Abu Hurairah tentang hadist do’a Nabi untuk Daus disebut kedatangan Tufail bin Amru dengan kaumnya. Hadist tersebut juga mengesankan Abu Hurairah turut serta dalam rombongan tersebut. Ibnu Ishaq juga tidak menyebut angka dalam riwayatnya[17].

Kedatangan kedua Tufail tidak disebutkan dengan detail jumlah rombongannya ke Madinah, hanya disebutkan bahwa Tufail membawa kaumnya yang masuk Islam sebanyak 70 atau 80 keluarga Bani Daus[18]. Riwayat di Musnad Ahmad[19] menyebut juga kedatangan Abu Hurairah ke Madinah kemudian ke Khaibar menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Apakah Tufail dan Abu Hurairah datang dalam satu rombongan?, Ibnu Abi Hatim memastikan demikian[20]. Ibnu Hajar mengutip perkataan ini tanpa sanggahan dalam masalah ini[21], bahkan menambahkan : seakan-akan itu kedatangan Tufail yang kedua[22]. Wallahua’lam.

HUKUM-HUKUM DAN IBRAH

  1. Doa kebaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Daus jelas menunjukkan keutamaan mereka[23].
  2. Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadist keutamaan kabilah Daus dengan memberikan judul babnya, doa agar orang musyrik mendapatkan hidayah dengan tujuan melunakkan hati mereka. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa terkadang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan dan terkadang mendoakan keburukan bagi mereka. Kondisi pertama jika posisi mereka kuat dan bahaya besar yang ditimbulkan. Sedangkan doa kebaikan jika umat aman dari kerusakan dan bahaya mereka dengan harapan agar hati mereka lunak[24].
  3. Dianjurkan mengulang do’a tiga kali, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Daus tiga kali[25].
  4. Dianjurkan berdo’a menghadap kiblat, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdo’a untuk Daus menghadap kiblat[26].
  5. Disyariatkannya menerima hadiah[27].
  6. Disyariatkannya membalas pemberian[28].
  7. Dianjurkan untuk tidak menerima hadiah jika pemberi hadiah tamak mengharap balasan[29].
  8. Bolehnya memberi hadiah dengan tujuan mendapatkan balasan[30].

Wallahu Waliyyutaufiq

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XXI/1439H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Tahqiq Nadzr al-Faryabi, (Riyadh: Dar Tayyibah, Cet. 3, 1431 H), 9/493.
[2] Al-Qalqasyandi, Nihayah al-Arab fi Ma’rifah Ansab al-Arab, Tahqiq Ibrahim al-Abyari, (Beirut: Dar Kitab al-Lubnani, Cet. 2, 1400 H), hlm. 253. Bandingkan dengan Ibnu Abdi al-Barr, al-Anbah ala Qabail RuwatTahqiq Ibrahim al-Abyari, (Beirut: Dar Kitab al-Lubnani, Cet. 2, 1405 H), hlm. 109.
[3] Sahabat masyhur. Ulama berselisih tentang nama aslinya dan waktu keislamannya. Tidak sedikit yang menyebutnya adalah Abdurrahman bin Sakhr ad-Dausi. Ibnu Hajar dalam Ishabah mengatakan ijma’ ulama bahwa ia sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist dari Rasûlullâh. Ibnu Ishaq menyebut bahwa nasabnya mulia di Bani Daus. Dilindungi oleh Abu Bakar. Disebut Abu Hurairah (bapaknya kucing) karena ia mendapati kucing dan membawanya di lengan bajunya. Atau dalam riwayat Tirmidzi (3840) kucing itu diletakkanya di pohon. Wafat di Aqiq tahun 57 H dan dibawa ke Madinah. Ibnu Hajar, al-Ishabah, Tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, (Kairo: Hajar, Cet. 1. 1429 H), 13/29-59.
[4] Musa Sahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Sahih Muslim, (Kairo: Dar asy-Syuruq, Cet. 1, 1423 H), 1/380.
[5] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, Tahqiq Abdul Salam at-Tadmuri, (Beirut: Dar Fikr al-Arabi, Cet. 3, 1410 H), 2/36; Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 9/541.
[6] Imam Muslim. Sahih Muslim, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. 2, 1428 H), Kitab Iman hadist (307).
[7] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, Tahqiq Abdul Salam at-Tadmuri, (Beirut: Dar Fikr al-Arabi, Cet. 3, 1410 H), 2/35-36.
[8] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 2/36.
[9] Faidah: Ibnu Hajar mengatakan: Hal ini menunjukkan bahwa sudah lama Abu Hurairah masuk Islam, Ibnu Abi Hatim memastikan bahwa Tufail bin Amru datang bersama Abu Hurairah ke Khaibar (7 H, pen.), seakan-akan waktu itu kedatangan Tufail yang kedua. Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Tahqiq Nadzr al-Faryabi, (Riyadh: Dar Tayyibah, Cet. 3, 1431 H), 9/541.
[10] Bukhari, Sahih Bukhari, hadist 2937, 4392 dan 6397; Muslim, Sahih Muslim, hadist 6397.
[11] As-Sindi mengatakan: kalimat “أو” disini menunjukkan umum. Tidak bermakna menolak pemberian dari semua yang dikecualikan tersebut. Tidak juga Rosulullah hanya menerima satu hadiah saja dari semua yang dikecualikan tersebut (sehingga mengharuskan) hanya boleh menerima satu hadiah dan menolak dari yang lain. Hasyiah as-Sindi atas Sunan Nasa’i, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, Tt.), 6/596.
[12] Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Tahkim dan Ta’liq al-Albani, (Riyadh: Maktabah Ma’arif, Cet. 2, 1429 H), hlm. 581 hadist (3945) dan (3946); Imam Nasa’i, Sunan Nasa’i, Tahkim dan Ta’liq al-Albani, (Riyadh: Maktabah Ma’arif, Cet. 2, 1429 H), hlm. 581 hadist (3759); Imam Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Tahkim dan Ta’liq al-Albani, (Riyadh: Maktabah Ma’arif, Cet. 2, 1427 H), hlm. 634 hadist (3537)
[13] Fazarah bin Dzibyan bin Baghid bin Raits bin Ghathafan bin Sa’ad bin Qais. Sahabat yang berasal dari Bani Fazarah diantaranya adalah Samurah bin Jundub dan Uyainah bin Khisn. Ibnu Abdi al-Barr, al-Anbah ala Qabail Ruwat, hlm. 71.
[14] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 2/36
[15] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 2/36.
[16] Imam Ahmad, Musnad, Tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Adil Mursyid, (Damaskus: Muassasah Risalah, Cet. 4, 1436 H), 14/226 hadist (8552). Pentahqiq mengatakan: Isnadnya sahih atas syarat Bukhari dan Muslim.
[17] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 2/36
[18] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 2/36.
[19] Lihat footnote no. 16.
[20] Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa Ta’dil, Tahqiq Mustafa Abdul Qadir Atha, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, Cet. 1, 1422 H), 4/461.
[21] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 9/541; al-Ishabah, 5/404.
[22] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 9/541.
[23] Siddiq Hasan Khan, Sirojul Wahhaj Min Kasyf Mathalib Sahih Muslim bin Hajjaj, (Tt: Syuun Diniyyah Daulah Qatar, Tt),  9/674.
[24] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 7/204.
[25] Abu Awanah, Mustakhraj ‘ala Sahih Muslim, Tahqiq Abdullah Alu Sa’id, (Madinah: Jam’ah Islamiah, Cet. 1, 1435 H), 19/218 hadist (11022).
[26] Abu Awanah, Mustakhraj ‘ala Sahih Muslim, 19/218 hadist (11022).
[27] Ali Adam al-Ethiopi, Dazkhirat al-Uqba fi Syarh al-Mujtaba, (Makkah: Dar Alu Barum, Cet. 1, 1424 H), 30/266.
[28] Ali Adam al-Ethiopi, Dazkhirat al-Uqba, 30/266.
[29] Ali Adam al-Ethiopi, Dazkhirat al-Uqba, 30/266.
[30] Ali Adam al-Ethiopi, Dazkhirat al-Uqba, 30/266.

404