Kedatangan Utusan Bani Tamim

KEDATANGAN UTUSAN BANI TAMIM

Oleh
Ustadz Abu Firas Luthfi bin Muhammad Yasin

Pembahasan ini adalah lanjutan pembahasan kedatangan delegasi dari penjuru Arab.

ASAL USUL BANI TAMIM
Bani Tamim adalah Tamim bin Murr bin Udd bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar[1].

KEUTAMAAN BANI TAMIM
Terdapat beberapa dalil tentang keutamaan mereka, yang bisa disebutkan diantaranya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: مَا زِلْتُ أُحِبُّ بَنِي تَمِيْم مُنْذُ ثَلَاثٍ سَمِعْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْهِمْ: سَمِعْتُ يَقُوْلُ فِيْهِمْ: (هُمْ أَشَدُّ أُمَتِي عَلَى الدَّجَّالِ) وَ جَاءَتْ صَدَقَاتُهُمْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ( هَذِهِ صَدَقَةُ قَوْمِناَ) وَ كَانَتْ سَبِيَّةٌ مِنْهُمْ عِنْدَ عَائِشَةَ فَقَالَ ( أَعْتِقِيْهَا لِأَنَّهاَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu ia berkata: Aku tetap mencintai Bani Tamim sejak aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga keutamaan mereka. “Mereka yang paling sengit dalam memerangi dajjal dari umatku”. Ketika datang zakat dari Bani Tamim Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Ini zakat kaum kami[2]”. Salah satu tawanan dari Bani Tamim ada pada Aisyah, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Lepaskan dia, sesungguhnya ia termasuk keturunan Ismail”[3].

WAKTU KEDATANGAN
Menurut Diyar Bakari kedatangan terjadi pada awal tahun 9 H[4]

JUMLAH UTUSAN
Ibnu Hajar mengutip Ibnu Ishaq bahwa utusan Tamim datang kepada Rasulullah. Diantara mereka adalah 1) Utharid bin Hajib ad-Darimi, 2) Aqra’ bin Habis, 3) Zibriqan bin Badr as-Sa’di at-Tamimi, 4) Amru bin al-Ahtam, 5) Khabkhab bin Yazid[5], 6) Nuaim bin Yazid bin Harits, 7) Qais bin Ashim dan lainnya dalam rombongan besar[6]. Ibnu Ishaq menambahkan 8) Uyainah bin Khisn[7].

SEBAB KEDATANGAN
Ibnu Qayyim memandang kedatangan rombongan ini karena Sariyah Uyainah bin Hisn yang menyerang Bani Tamim dan menawan sebagian mereka[8]. Ibnu Hajar mengutip Waqidi mengatakan, hal itu karena kaum Anbar dari Bani Tamim menyerang Bani Khuza’ah[9]. Sehingga kedatangan rombongan ini bertujuan membebaskan kaumnya[10].

SIFAT KEDATANGAN
Rombongan Bani Tamim ketika datang dan masuk ke masjid mereka  menyeru Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari balik kamarnya.

Kedatangan mereka ini pula yang kemudian hampir saja mencelakakan Abu Bakar dan Umar, ketika keduanya berselisih dan mengangkat suara di sisi Nabi ketika datang tombongan Bani Tamim. Umar mengusulkan Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin Bani Tamim. Sedangkan Abu Bakar mengusulkan orang lain yaitu Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zurarah. Abu Bakar mengatakan pada Umar: Engkau hanya ingin menyelisihiku. Umar mengatakan: Aku tidak ingin menyelisihimu. Suara keduanya meninggi. Maka Allah menurunkan ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi [Al-Hujurat/49:2][11].

Riwayat lain menyebut bahwa ayat yang turun adalah ayat 2 dan 3 dari surat al-Hujurat ini[12].

Riwayat lain dari Abdur Razzaq menyebut bahwa seseorang datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari belakang kamar-kamar dan mengatakan: Wahai Muhammad, sungguh pujian bagiku baik (layak) dan celaan bagiku aib. Nabi mengatakan: Hal itu hanyalah milik Allah, dan turunlah ayat.

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti [Al-Hujurat/49:4][13].

Ibnu Hajar mengutip riwayat dari Thabari mengatakan: mereka badui dari Bani Tamim[14].

Ibnu Ishaq  menceritakan kedatangan mereka di masjid dan kemudian mengatakan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari balik kamar” Wahai Muhammad! Kami datang kepadamu untuk berbangga-bangga denganmu. Izinkan penyair dan orator kami berbicara. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Aku telah mengizinkan orator kalian, silahkan bicara. Setelah itu berbicaralah orator mereka, Utharid bin Hajib[15] yang intinya membanggakan Bani Tamim[16].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan kepada Tsabit bin Qais[17]. “Bangkitlah, dan jawablah pidatonya. Maka Tsabit bin Qais berpidato dengan menyebut kemuliaan nasab Rasululluh dan posisi Anshar sebagai pembela Rasulullah[18].

Zibriqan bin Badr[19] kemudian menyampaikan syair yang menyebut kemulian Bani Tamim[20]. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu mengirim utusan untuk memanggil penyair Rasulullah, Hassan bin Tsabit[21]. Ia lalu mendatangi Rasulullah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan kepada Hassan bin Tsabit :”Bangkitlah, jawablah apa yang dikatakannya”. Maka Hassan bin Tsabit menyampaikan syairnya yang menyebut kemulian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya[22].

KEISLAMAN ROMBONGAN BANI TAMIM
Ibnu Ishaq menyebutkan: setelah Hassan bin Tsabit selesai membacakan syairnya. Aqra’ bin Habis mengatakan: Demi ayahku, sungguh orang ini benar-benar mendapatkan taufiq. Oratornya lebih handal dari orator kita, penyairnya lebih mahir dari penyair kita. Suara mereka lebih bagus dari suara kita. Setelah selesainya rombongan tersebut, mereka masuk Islam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan hadiah kepada rombongan dengan hadiah yang indah[23].

KISAH AMRU BIN AHTAM DAN QAIS BIN ‘ASHIM
Amru bin Ahtam ditinggalkan kaumnya bersama onta mereka. Ia adalah yang paling muda di antara rombongan ini. Qais bin ‘Ashim – ia membenci Amru bin Ahtam – kemudian mengatakan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  : Wahai Rasulullah! Ada salah satu dari rombongan kami yang masih di onta kami, ia anak kecil. Ibnu Ishaq mengatakan : Qais merendahkan Ibnu Ahtam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan hadiah kepada Amru bin Ahtam sebagaimana memberikannya pada yang lain[24].

HUKUM-HUKUM DAN IBRAH

  1. Hadits tentang keutamaan Bani Tamim menunjukkan kelebihan mereka.
  2. Hadits tersebut juga menunjukkan peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman kelak[25].
  3. Kehormatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hidup sama dengan kehormatannya ketika sudah wafat, Larangan meninggikan suara di sisi Rasulullah. Sabdanya yang mulia setelah wafatnya sama dengan sabdanya yang bisa didengar dari lafalnya. Jika dibacakan sabdanya wajib hukumnya bagi yang hadir untuk tidak mengangkat suara melebihi suaranya dan tidak boleh berpaling darinya sebagaimana hal itu wajib baginya di majlisnya ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  masih hidup[26].
  4. Ayat kedua dari al-Hujurat mengisyaratkan perintah mengagungungkan dan menghormati Rasulullah. Mengecilkan suara di hadapannya dan ketika berbicara dengannya[27].
  5. Ayat keempat dari al-Hujurat mengisyaratkan rendahnya adab sebagian Bani Tamim. Karena itu dikatakan bahwa yang memanggil Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari balik kamar mayoritas mereka jahl/tidak berakal.
  6. Sahabat adalah manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan kehilafan, namun mereka orang yang paling bersegera untuk bertaubat. Karena itu, setelah turunnya ayat larangan meninggikan suara tersebut Umar sangat menjaga adab berbicaranya terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat berusaha menurunkan suaranya hingga terkadang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan maksud perkataannya[28].
  7. Pidato dan syair bisa menjadi sarana dakwah yang efektif sebagaimana nampak dari cerita di atas.
  8. Penghormatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tamu, salah satu bentuknya disini dengan memberikan hadiah.
  9. Penghormatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap utusan, walaupun dianggap anak kecil karena paling muda. Hal itu sebagaimana perlakuan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Qais bin Ahtam.

Wallahua’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Qalqasyandi, Nihayah al-Arab fi Ma’rifah Ansab al-Arab ,Tahqiq Ibrahim al-Abyari, (Beirut: Dar Kitab al-Lubnani, Cet. 2, 1400 H), hlm. 190; Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Tahqiq Nadzr al-Faryabi, (Riyadh: Dar Tayyibah, Cet. 3, 1431 H), 9/513.
[2] Ibnu Hajar menjelaskan alasan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbatkan Bani Tamim kepadanya karena nasab Bani Tamim bertemu dengan nasab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ilyas bin Mudhar. Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 6/374.
[3] Bukhari, hadist (2543) dan (4366).
[4] Diyar Bakari, Tarikh al-Khamis, 2/115-116 sebagaimana dikutip Mahdi Rizqullah Ahmad, as-Sirah an-Nabawiyah fi Dhau’ al-Mashadir al-Ashliyyah, (Riyadh: Markaz Malik Faishal li al-Buhuts wa Dirasat al-Islamiyah, Cet. 1, 1412 H), hlm. 641.
[5] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, Tahqiq Mustafa Saqa’ dkk., (Damaskus; Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. 2, 1426 H), hlm. 1058.
[6] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1058.
[7] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1059. Ibnu Ishaq menambahkan bahwa Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Khisn ikut serta bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Fath Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif.
[8] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Zad al-Ma’ad, Tahqiq Syauaib dan Abdul Qadir al-Arnauth, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, Cet. 3, 1418 H), 3/446.
[9] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 9/514.
[10] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 9/514.
[11] Bukhari, hadist (4845).
[12] Bukhari, hadist (7302).
[13] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 10/613.
[14] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 10/614.
[15] Pernah ditunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi amil zakat bagi Bani Tamim. Ibnu Hajar, al-Ishabah, Tahqiq Abdullah bin Abd al-Muhsin at-Turki, (Kairo: Hajar, Cet.1, 1429 H), 7/183-184..
[16] Lihat lengkap teks pidato Utharid di Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1059.
[17] Tsabit bin Qais bin Syammas bin Zuhair bin Malik bin Imrui al-Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’b bin Khazraj al-Anshari al-Khazraji. Orator kaum Anshar. Kunyahnya Abu Muhammad. Peperangan pertama yang diikutinya adalah Uhud dan setelahnya. Dijamin masuk surga berdasarkan hadist hasan dari Abu Hurairah (Tirmidzi 3795 dan 3759 dan lainnya) yang di dalamnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sebaik-baik laki-laki adalah Tsabit bin Qais bin Syammas. Ibnu Hajar, al-Ishabah, 2/55.
[18] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1059.
[19] Zibriqan bin Badr bin Imrui al-Qais bin Khalaf bin Bahdalah bin Auf bin Ka’b bin Sa’d bin Zaid Manat bin Tamim at-Tamimi as-Sa’di. Dikatakan namanya adalah Khusayyin. Dijuluki Zibriqan karena ketampanannya. Zibriqan adalah satu nama bulan. Ibnu Hajar, al-Ishabah, 4/10-14.
[20] Lihat syair Zibriqan di Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1060.
[21] Hassan bin Tsabit bin Mundzir bin Haram an-Najari al-Khazraji al-Anshari. Penyair Nabi. Ibunya adalah Fura’iah bintu Khalid bin Khunais bin Laudzan al-Khazrajiyah. Fura’iah mendapati Islam, memeluknya, dan membaiat Rasulullah. Kunyah Hassan yang paling masyhur adalah Abu Khalid. Khalifah bin Khayyath mengatakan bahwa ia meninggal sebelum tahun 40 H. Jumhur mengatakan bahwa ia wafat dalam usia 120 tahun. Ibnu Hajar, al-Ishabah, 2/525-528.
[22] Lihat syair Hassan bin Tsabit di Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1061-1062.
[23] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1063.
[24] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1064.
[25] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 6/376.
[26] Ibnu al-Arabi, Ahkam al-Qur’an, Tahqiq Muhammad Abdu al-Qadir Atha’. (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet. 3, 1424 H), 4/146.
[27] Al-Quthubi, al-Jami’ Li ahkam al-Qur’an, (Kairo: Dar al-Hadist, Tt.), 8/578.
[28] Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 17/178.

As-sirah An-nabawiyah Fi Dhau Al-mashadir Al-ashliyyah. Luthfi