Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Doa Meminta Ampun Dari Segala Dosa

DOA MEMINTA AMPUN DARI SEGALA DOSA

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ

وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي ؛

أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ya Allâh, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, sikapku yang berlebihan dalam urusanku,

 juga apa-apa yang Engkau lebih tahu dariku.

Ya Allâh, ampunilah aku, baik kesalahanku dalam hal yang serius maupun gurauanku; kesilapanku

 juga kesalahanku yang aku sengaja; itu semua memang ada pada diriku.

Ya Allâh, ampunilah aku atas apa-apa yang telah aku lakukan, dan apa-apa yang terjadi belakangan nanti, apa-apa yang aku lakukan dengan sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan,

dan apa-apa yang Engkau lebih tahu dariku.

Engkaulah Yang mengedepankan (derajat dan keistimewaan hamba dengan taufik-Mu);

dan Engkau lah Yang mengakhirkan (derajat mereka).

Dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

  1. Doa di atas adalah dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan doa tersebut. Doa tersebut adalah doa agung yang maknanya mencakup permohonan ampun dari semua dosa; di mana redaksi doa tersebut datang dengan lafaz yang rinci dan detail. Apalagi maqam (status) doa ini adalah maqam permohonan ampun, tadharru’, doa, merasa betapa butuhnya hamba kepada-Nya; sehingga sangat sesuai bila disebutkan dengan detail dan rinci. Dan ini memberi kesan bahwa permintaan ampun tersebut mencakup semua dosa, dan agar hamba menghadirkan semua dosa yang telah ia perbuat, yang ia ketahui maupun tidak; baik kesalahannya yang lama ataupun baru, yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi, yang disengaja ataupun tidak. Dan ini akan membuat hamba lebih khusyu’ dan lebih ber-tadharru’ (tunduk dengan penuh merendahkan diri) dalam memohon ampunan-Nya.
  2. Permintaan ampun yang datang dari Nabi tersebut; mengajarkan kepada umatnya bagaimana mereka meminta ampun kepada Allâh, bagaimana mereka bertadharru’ kepada-Nya. Sekaligus menunjukkan betapa tunduk dan tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  3. Semua hamba tidak luput dari kesilapan; sehingga ia harus selalu ber-tadharru’ dan menghinakan diri di hadapan Rabbnya.
  4. Sudah seharusnya hamba bertaubat dari semua dosa tanpa terkecuali; baik yang ia ketahui maupun tidak.
  5. Perihal seseorang mendapat taufiq ataupun tidak, itu ada di tangan Allâh. Dialah yang menjadikan seseorang meraih kedudukan dan rahmat-Nya dengan taufik-Nya; Dia pula yang mengakhirkan kedudukan seseorang sehingga Allâh menghinakannya. Maka mintalah senantiasa taufik dari-Nya.

(Syarh Tha’ifah Min al-Ad’iyah oleh Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr –hafizhahullah-Bahjat an-Nâzhiriîn Syaikh Salim ‘Id al-Hilali hadits no 1521)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!