Lihat Apa Yang Dia Katakan!

LIHAT APA YANG DIA KATAKAN!

Pertanyaan.
Bismillah. Haditskah ? atau ungkapan? “undzur ma qola walaa tandzu man qola“. Kalau hadits shahihkah? Syukron.

Jawaban.
Kalimat  “ أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ ”  artinya: “Lihatlah apa yang dia katakan, dan janganlah engkau melihat orang yang mengatakan”.  Kalimat ini bukan ayat dan bukan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang menganggapnya sebagai hadits, ini tidak benar. Hendaklah kita berhati-hati jangan sampai menisbatkan sesuatu yang tidak benar kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena hal ini merupakan kesalahan dan dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam neraka kepada pelakunya.

عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Dari Al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Bukhari, no. 1229]

Berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdusta di dalam syari’at, sehingga dampaknya mengenai seluruh umat, maka dosanya lebih besar dan hukumannya lebih berat. Di dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجْ النَّارَ

Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka. [HR. Bukhari, no. 106; Muslim, no. 1]

Sedangkan makna kalimat tersebut bisa benar, juga bisa salah. Jika maksudnya adalah bahwa kebenaran itu diukur dengan dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, dengan pemahaman Salafus Shalih, bukan diukur dengan siapa yang mengatakannya, maka makna ini benar. Namun jika maksudnya adalah bahwa mengambil ilmu boleh dari sembarang orang, maka ini tidak benar. Karena mengambil ilmu itu harus dari ahlinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. [HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya]

Wallahu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]