Bolehkah Ucapan Selamat Hari Raya Kepada Orang-Orang Masihiyun?

BOLEHKAH MEMBERI UCAPAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG-ORANG MASIHIYUN (PENGIKUT ISA AL-MASIH)?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah boleh memberikan ucapan selamat hari raya atau yang lainnya kepada orang-orang masihiyun ?

Jawaban.
Yang benar adalah jika kita mengatakan : Orang-orang nashrani, karena kalimat masihiyun berarti menisbatkan syariat (yang dibawa Nabi Isa) kepada agama mereka, artinya mereka menisbatkan diri mereka kepada Al-Masih Isa bin Maryam. Padahal telah diketahui bahwa Isa bin Maryam ‘Alaihissalam telah membawa kabar gembira untuk Bani Israil dengan (kedatangan) Muhammad. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata : ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)’. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : ‘Ini adalah sihir yang nyata”. [Ash-Shaff/61 : 6]

Maka jika mereka mengkafiri Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berarti mereka telah mengkafiri Isa, karena mereka telah menolak kabar gembira yang beliau sampaikan kepada mereka. Dan oleh karena itu kita mensifati mereka dengan apa yang disifatkan Allah atas mereka dalam Al-Qur’an dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam As-Sunnah, dan yang disifatkan oleh para ulama muslimin dengan sifat ini yaitu bahwa mereka adalah nashrani, sehingga kita pun mengatakan : Sesungguhnya orang-orang nashrani jika mengkafiri Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sebenarnya mereka telah mengkafiri Isa bin Maryam.

Akan tetapi mereka mengatakan : “Sesungguhnya Isa bin Maryam telah memberikan kabar gembira kepada kami dengan seorang rasul yang akan datang sesudahnya yang namanya Ahmad, sementara yang datang namanya adalah Muhammad. Maka kami menanti (rasul yang bernama) Ahmad, sedangkan Muhammad bukanlah yang dikhabar gembirakan oleh Isa”. Maka apakah jawaban atas penyimpangan ini ?

Jawabannya adalah kita mengatakan bahwa Allah telah berfirman : Maka ketika ia (Muhammad) datang kepada mereka dengan penjelasan-penjelasan”. Ayat ini menunjukkan bahwa rasul tersebut telah datang ; dan apakah telah datang kepada mereka seorang rasul selain Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Isa ? Tentu saja tidak, tidak seorang rasul pun yang datang sesudah Isa selain Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan berdasarkan ini maka wajiblah atas mereka untuk beriman kepada Muhamamd Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga kepad Isa ‘Alaihissallam.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan) : ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya” [Al-Baqarah/2 : 285]

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi sallam bersabda (yang artinya) :

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Isa dalah hamba dan utusan Allah ..” [1]

Maka tidak sempurna iman kita kecuali dengan beriman kepada Isa ‘Alaihis salam dan bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah, sehingga kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang nashrani ; bahwa ia adalah putra Allah, dan tidak (pula mengatakan) bahwa ia adalah tuhan. Dan kita tidak pula mengatakan sebagaiamana yang dikatakan oleh orang yahudi : Bahwa beliau adalah pendusta dan bukan seorang Rasul dari Allah, akan tetapi kita mengatakan bahwa Isa diutus kepada kaumnya dan bahwa syari’at Isa dan nabi-nabi yang lainnya telah dihapus oleh syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun memberikan ucapan selamat hari raya kepada orang-orang nashrani atau yahudi maka ia adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitab Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, dan silakan anda membaca teks tulisan beliau.

“Dan adapun memberikan ucapan selamat untuk syi’ar-syi’ar kekufuran yang bersifat khusus maka ia adalah haram secara ijma’, seperti mengucapkan selamat untuk hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan : “Hari raya yang diberkahi untuk anda”. Maka yang seperti ini kalaupun orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran maka perbuatan itu termasuk yang diharamkan. Dan ia sama dengan memberikan selamat untuk sujudnya kepada salib. Bahkan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai oleh Allah daripada memberikan selamat atas perbuatannya meminum khamar, membunuh, melakukan zina dan yang semacamnya. Dan banyak orang yang tidak memiliki penghormatan terhadap Ad-Dien terjatuh dalam hal itu dan ia tidak mengetahui apa yang telah ia lakukan”. Selesai tulisan beliau

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Islamiyah ; Dhawabith wa Taujihat edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Editor Abu Anas Ali bin Husein Abu Luz, terbitan Darul Haq]
_______
Footnote.
[1]. Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari No. 3435 dalam kitab Ahaditsul Anbiya Bab Qauluhu Ta’ala : Ya Ahlal Kitabi La Taghlu Fi Dinikum, dan oleh Muslim No. 28 dalam kitab Al-Iman Bab Ad-Dalil ‘Alaa Inna Man Maata Alat Tauhid Dkhalal Jannah Qath’an dari hadits Ubaidah bin Ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu.