Kisah Kaum ‘Aad

KISAH KAUM ‘AAD[1]

Allâh Azza wa Jalla menciptakan semua makhluk-Nya agar beribadah hanya kepada-Nya dengan mengikhlaskan semua amal perbuatannya untuk Allâh Azza wa Jalla berupa ketaatan terhadap perintah-perintah Allâh Azza wa Jalla , menjauhi semua larangan Allâh, menunaikan hak-hak Allâh Azza wa Jalla dengan menegakkan keadilan dan melarang semua tindak kezhaliman.

Melalui kitab-Nya, Allâh memberikan perintah, melarang, memberikan motivasi juga memberikan ancaman, mengisahkan kisah terbaik sebagai nasehat dan pembelajaran. Dan sunnatullah yang berlaku pada orang yang melakukan perbuatan maksiat dan orang yang sombong dari umat terdahulu tidak akan berubadah. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Sebagai sunnah Allâh yang berlaku atas orang-orang yang Telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allâh. [al-Ahzâb/33:62]

Diantara kisah yang diceritakan dalam al-Qur’an yaitu kisah kaum ‘Aad yang tidak ada tandingannya dalam masalah kekuatan dan kezhalimannya. Kisah mereka dimuat dalam beberapa surat diantaranya dalam surat Hûd yaitu nama nabi mereka juga dalam surat al-Ahqâf yaitu tempat peristiwa itu terjadi. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kisah mereka dalam beberapa tempat agar kaum Muslimin bisa mengambil pelajaran dari kisah pembangkangan mereka.”

Mereka memiliki fisik yang bagus, tinggi dan kuat. Bahkan Allâh Azza wa Jalla tidak pernah memberikan kekuatan seperti kekuatan mereka. al-Baghawi mengatakan, “Belum pernah diciptakan seperti kabilah ini dalam masalah ketinggian dan kekuatan fisik.

Tempat tinggal mereka adalah tempat tinggal terindah dan terbaik serta kokoh. Mereka berlebih-lebihan dalam masalah ini. Mereka banyak sekali membangun bangunan megah, padahal mereka tidak butuh. Mereka melakukan itu hanya untuk unjuk kekuatan dan kemampuan. Prilaku ini diingkari oleh nabi mereka :

أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ

Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main [as-syu’ara/26:128]

Allâh Azza wa Jalla membukakan pintu-pintu rizki buat mereka sehingga kekayaan mereka terus bertambah dan bertambah pula bangunan-bangunan yang mereka dirikan. Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan tumbuh-tumbuhan dan mata air. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ ﴿١٣٣﴾ وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

Allâh telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.” [asy-Syu’ara/26:133-134]

Lalu Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk mengingat-ingat berbagai nikmat ini agar bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun apa yang mereka lakukan?

Mereka membalas kebaikan-kebaikan Allâh Azza wa Jalla itu dengan pembangkangan dan penentangan. Mereka menyembah berhala. Seruan rasul (utusan) Allâh Azza wa Jalla agar beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla semata, mereka remehkan dan nabi mereka dituduh sudah gila. Mereka mengatakan

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ 

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu” [Hûd/11:54].

Mereka juga mengungkapkan kekufuran mereka dengan terus terang. Mereka mengatakan,

وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” [Hûd/11:53].

Dengan ini mereka menolak dakwah nabi mereka, mereka mengatakan:

قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ

Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat [asy-Syu’ara/26:136]

Itulah prilaku buruk mereka. Kebaikan-kebaikan yang Allâh Azza wa Jalla berikan, mereka balas dengan keburukan dan kesombongan. Seiring dengan perjalanan waktu, berbagai keburukan mereka pun bertambah, sampai-sampai mereka meminta agar rasul yang diutus kepada mereka bukan dari golongan manusia akan tetapi dari golongan malaikat. Mereka mengatakan,

قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Kalau Rabb kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu bawa” [Fusshilat/41:14]

Mereka tidak mengimani keberadaan hari kebangkitan, bahkan mereka menilainya suatu yang mustahil. Mereka mengatakan,

أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُمْ مُخْرَجُون﴿٣٥﴾هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ َ

Apakah ia (Nabi) menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu akan dikeluarkan (dari kuburmu). Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu. [al-Mu’minun/23:35-36]

Dan masih banyak lagi berbuatan buruk yang mereka lakukan dalam perjalan hidup mereka.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allâh Azza wa Jalla !
Akibatnya, Allâh Azza wa Jalla menimpakan mereka adzab dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allâh Azza wa Jalla menahan air hujan sehingga semua menjadi kering kerontang. Dalam kondisi seperti itu, Allâh Azza wa Jalla mengirimkan awan hitam kepada mereka, sehingga hati mereka berbunga-bunga saat melihatnya. Mereka mengatakan :

قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا 

Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”[al-Ahqâf/46:24]

Namun penilaian dan harapan mereka ini dibantah oleh Allâh Azza wa Jalla :

بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٢٤﴾ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا

(Bukan!) namun itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya. [al-Ahqaaf/46:24-25]

Dalam firman-Nya yang lain :

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ

Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk [adz-Dzariyat/51:42]

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Allâh Azza wa Jalla menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk) [al-Haqqah/69:7]

Itulah adzab yang Allâh Azza wa Jalla kirimkan kepada mereka yang membangkang perintah-Nya. Cepat atau lambat adzab itu pasti datang, tidak ada yang bisa menghalanginya jika sudah tiba waktu. Sungguh, Allâh Azza wa Jalla maha kuasa untuk mengirimkanya dalam hitungan detik bahkan lebih cepat dari itu. Maka, hendaklah apa yang dialami kaum ‘Aad, kaum terkuat yang pernah ada, namun akhir binasa, menjadi pelajaran bagi kita, kaum Muslimin yang masih hidup. Kekuatan yang mereka miliki tidak berarti sama sekali saat berhadapan dengan kekuatan Allâh Azza wa Jalla, Pencipta langit dan bumi.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allâh.
Memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla adalah jalan yang ditempuh oeh para rasul. Saat diremehkan dan tidak dipedulikan oleh kaumnya, mereka berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla :

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

Ya Rabbku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku. [al-Mu’minun/23:26]

Juga tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla merupakan jalan untuk meraih kemenangan. Kaum Aad adalah kaum yang sangat kuat sementara Hûd Alaihissallam tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka. Setelah berusaha mendakwahi mereka, Nabi Hûd Alaihissalam  menyerahkan segala urusannya kepada Allâh Azza wa Jalla :

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ 

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allâh Rabbku dan Rabb kalian. [Hûd /11:56]

Kemudian juga, istigfar memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla  dan bertaubat kepad-Nya termasuk diantara sebab yang bisa mendatangkan kekuatan, rasa aman dan kemakmuran. Nabi Hûd Alaihissallam mengatakan kepada kaumnya :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” [Hûd /11:52]

Itulah diantara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Hûd Alaihissallam  dan kaumnya ‘Aad.

Manusia terbaik adalah orang yang menyeru dan mengajak manusia untuk senantiasa hanya beribadah kepada Allâh semata dengan mengikhlaskan semua amal ibadahnya hanya untuk Allâh Azza wa Jalla. Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin, sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla maha mengetahui semua keadaan pada hamba-Nya dan senantiasa memperhatikan mereka. Orang yang kufur kepada Allâh Azza wa Jalla, pasti akan dihinakan oleh Allâh Azza wa Jalla. Barangsiapa tidak bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas berbagai nikmat yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepadanya, maka Allâh Azza wa Jalla pasti mencabut nikmat tersebut. Jika pelaku keburukan atau kezhaliman semakin bertambah zhalim, maka ketahuilah itu merupakan pertanda kebinasaannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allâh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), Kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [al-Isra’/17:16]

Fir’aun salah satu contohnya, saat kesombongannya terus meningkat sampai kemudian mengaku dirinya sebagai rabb, akhirnya Allâh Azza wa Jalla tenggelamkan dalam lautan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Diangkat dari khutbah Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim yang disampaikan di Masjidin Nabawi pada tanggal 20 Syawal 1433 H