Kedudukan Puasa Dalam Islam

PENDAHULUAN

Pembahasan 2
KEDUDUKAN PUASA DALAM ISLAM
Puasa adalah salah satu rukun dari lima rukun Islam, dan ia adalah ibadah yang paling utama dari ibadah-ibadah lainnya secara mutlak, karena Allah جل وعلا telah mengkhususkan puasa hanya untuk-Nya saja.

Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

“كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ…”

Setiap amal anak Adam itu untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan (langsung) pahala atasnya…[1]

Puasa adalah ibadah individual yang tidak tampak secara eksternal, karena ia merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya yang tercermin di dalamnya unsur pengawasan yang tulus dalam nurani setiap mukmin, karena tidak akan ter-bersit pada dirinya keinginan untuk riya’ (dilihat oleh orang lain). Mahabenar Allah Yang Mahaagung ketika berfirman, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Agar kalian bertakwa.”

Puasa akan menumbuhkan muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah) dan rasa takut kepada-Nya pada diri seorang mukmin. Dengan demikian, dia tidak akan menolak nafsu syahwatnya dan melawannya, kecuali karena dia merasa senantiasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dan takut kepada-Nya, padahal ada kemungkinan baginya untuk makan dan minum tanpa diketahui oleh seorang pun, namun dia mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla  melihatnya sehingga dia tunduk patuh kepada perintah-Nya dan menahan diri karena-Nya.

Yang demikian itu merupakan tujuan mulia dan terhormat, namun kebanyakan manusia dengan ketamakannya tidak mampu mencapainya. Nash al-Qur-an al-Karim telah menetapkan pada akhir ayat puasa ini, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Agar kalian bertakwa,” tentang beberapa keistimewaan dan hikmah puasa. Nash tersebut menerangkan bahwa ia merupakan hikmah dan tujuan dari semua agama, dan ia merupakan keistimewaan khusus dari banyak keistimewaan syari’at Islam lainnya. Hikmah dan tujuan itu adalah takwa, yakni pemeliharaan diri dari kecenderungan dan hawa nafsunya, yang juga sebagai gabungan perintah secara keseluruhan.

Allah تبارك وتعالى berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah/2: 183]

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzaariyat/51: 56]

“…Dan tampaklah tujuan yang besar dari puasa, yaitu takwa. Dengan demikian, takwa adalah tujuan yang membangunkan apa yang ada di dalam hati, ia pula yang menunaikan kewajiban dengan penuh ketaatan kepada Allah serta yang senantiasa mengutamakan keridhaan-Nya. Takwa memelihara hati dari rusaknya puasa ka-rena kemaksiatan, meskipun hal itu telah bergejolak di dalam hati. Orang-orang yang dituju oleh ayat al-Qur-an tersebut akan menge-tahui kedudukan takwa di sisi Allah serta beratnya ia di dalam timbangan-Nya, karena ia merupakan tujuan yang senantiasa di-cari oleh ruh-ruh mereka. Puasa merupakan salah satu sarana dan jalan yang menyampaikan kepadanya. Oleh karena itu, ayat-ayat di atas mengangkat takwa di depan mata mereka sebagai tujuan dan sasaran yang mereka tuju dengan menempuh jalan puasa: Agar kalian bertakwa…” [2]

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang tidak sempurna keislaman seseorang kecuali dengannya. Dan ia merupakan amal yang dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diri-Nya di antara amal-amal anak Adam secara keseluruhan. Di dalam bulan ini terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan dan merupakan bulan yang dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan diturun-kannya al-Qur-an. Dapat saya katakana : “Seandainya di dalam bulan puasa itu tidak ada keutamaan kecuali hal-hal tersebut di atas, niscaya sudah cukup baginya dalam memiliki kemuliaan dan kedudukan.”

Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)…” [Al-Baqarah/2: 185]

Dia Ta’ala juga berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” [Al-Qadr/97: 3]

Di dalam Hasyiyahnya, Ibnu ‘Abidin mengatakan: “…Di dalam al-Iidhaah, beliau mengatakan, ‘Ketahuilah bahwa puasa itu merupakan rukun agama yang paling agung sekaligus sebagai ketentuan hukum syari’at yang paling kuat. Dengannya, jiwa yang menyuruh berbuat kejahatan ditundukan. Puasa terdiri dari rangkaian amalan hati dan pencegahan dari makan, minum, dan berhubungan badan dalam sebagian hari. Dan ia merupakan tabi’at yang paling bagus, hanya saja ia merupakan taklif (beban kewajiban) yang paling berat bagi jiwa…’” [3]

[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”,  Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
_____
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/22, dari jilid I) dan Shahiih Muslim (III/157))
[2] Ini adalah perkataan Sayyid Quthb dalam kitab Fii Zhilaalil Qur-aan (II/75). Sebagian orang memuji kitab ini secara berlebihan, namun yang perlu diingat bahwa tidak ada gading yang tak retak. Maka, dalam rangka saling memberikan nasihat kepada sesama muslim, kitab tafsir tersebut tidak luput dari kesalahan di bidang ‘aqidah dengan kesalahan yang cukup banyak dan fatal. Untuk mengetahuinya, silakan baca kitab al-Maurid azh-Zhallal fit Tanbiih ‘alaa Akhthaa-izh Zhilaal, karya Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad ad-Duwais, dan kitab-kitab lainnya.-ed.
[3] Haasyiyah Ibni ‘Abidin (IV/370).