Mewujudkan Ketauhidan Kepada Allah adalah Sebab Utama Keselamatan dari Siksa Kubur.

Bab III
Sebab-Sebab yang Menyelamatkan Seseorang dari Siksa Kubur

1. Mewujudkan Ketauhidan Kepada Allah adalah Sebab Utama Keselamatan dari Siksa Kubur.
Di dalam hadits al-Barra’ yang masyhur, tegas-nya ketika membicarakan pertanyaan dua Malaikat kepada seorang hamba, di dalamnya diungkapkan:

Mereka berdua mendudukannya, lalu bertanya, “Siapakah Rabb-mu?”
“Allah Rabb-ku,” jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi), “Apakah agama-mu?”
“Islam agamaku,” jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi), “Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?”
“Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi), “Apakah yang telah kau perbuat?”
“Aku membaca al-Qur-an, lalu aku mempercayainya dan membenarkannya,” jawabnya. Lalu mereka membentaknya dengan berkata, “Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?” Itulah cobaan terakhir yang diberikan kepada seorang mukmin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia… [Ibrahim/14: 27].

Keteguhan yang didapatkan oleh seorang mukmin timbul karena adanya ketauhidan di dalam dirinya, bahkan ia adalah sebab utama baginya.

Tauhid adalah sebab utama adanya ampunan atas dosa-dosa walaupun dosa tersebut sepenuh bumi.

Di dalam sebuah hadits Qudsi diungkapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَـا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِـيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَـا ثُمَّ لَقِيتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا  َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.

Wahai manusia! Seandainya engkau datang ke-padaku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dengan tidak melakukan kemusyrikan, maka Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.”[1]

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Siapa saja yang merealisasikan kalimat Tauhid di dalam hatinya, maka kalimat tersebut akan mengeluarkan sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, cinta, pengagungan, rasa takut, dan tawakkal kepada selain-Nya. Pada waktu itu, maka segala kesalahannya akan terbakar walaupun sebanyak buih di lautan. Bahkan bisa saja semua kesalahannya itu berubah menjadi kebaikan untuk dirinya sebagaimana yang diungkapkan di muka, karena tauhid ini merupakan sebuah obat yang mujarab, seandainya sebesar atom saja darinya diletakkan di atas gunung dosa-dosa dan kesalahan, niscaya gunung tersebut akan berubah menjadi kebaikan.”[2]

Baca Juga  Meratapi Mayit

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kasih sayang-Nya kepada al-Hafizh, beliaulah yang berkata, “Wahai kawan-kawanku! Bersungguh-sungguhlah kalian dalam mewujudkan ketauhidan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekarang juga, karena tidak ada yang dapat menyela-matkan dari siksa Allah kecuali dengan mewujud-kannya, tidak ada ungkapan yang paling baik untuk diucapkan kecuali (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ).”[3]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, kitab ad-Da’waat (no. 3540), bab fi Fadhlit Taubah wal Istighfaar, beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Hadits ini shahih dengan berbagai penguat, lihat takhrijnya di dalam kitab Asbaabul Maghfirah, karya Ibnu Rajab dengan tahqiq kami.
[2] Jaam’iul ‘Uluum wal Hikam, hal. 483.
[3] Tahqiiqul Kalimatil Ikhlaash, hal. 71.