Amar Ma’ruf Nahi Munkar

MENCARI ILMU BAGI KAUM WANITA

Pasal 2
Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” [Ali ‘Imran/3: 110]

Allah Ta’ala berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas” [Al-Maaidah/5: 78]

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيمَانِ.

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan. Dan jika tidak mampu, maka hendaklah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka hendaklah merubah dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.’” [HR. Muslim].

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian duduk-duduk di jalanan.” Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kami biasa duduk-duduk dan berbincang-bincang di jalanan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menolak, maka dari tempat kalian itu berilah hak pada jalan.”

Mereka bertanya, “Lalu apa hak jalan itu?” Beliau menjawab:

غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ اْلأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَأَمْرٌ بِـالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ.

Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam, dan amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang tengah menangis di dekat kuburan, lalu beliau bersabda:

اِتَّقِى اللهَ وَاصْبِرِي.

Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.’

Wanita itu berkata, ‘Pergilah engkau dariku, karena engkau tidak mengalami musibah yang aku derita serta tidak juga mengetahuinya.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Orang itu adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Maka dia pun mendatangi pintu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia tidak men-dapatkan padanya para penjaga pintu seraya berucap, ‘Aku tidak mengenalmu.’ Nabi pun bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُوْلَى.

Sesungguhnya kesabaran itu (diganjar) ketika tertimpa musibah pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dari Ummud Darda’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari menjumpainya, lalu berkata, “Dari mana engkau, wahai Ummud Darda’?” Dia menjawab, “Dari pemandian umum.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَا مِنِ امْرَأَةٍ تَنْزِعُ ثِيَابَهَا إِلاَّ هَتَكَتْ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّى مِنْ سِتْرٍ.

Tidaklah seorang wanita menanggalkan pakaiannya (diselain rumahnya) melainkan akan terbuka tabir antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla.” [HR. Ahmad dengan sanad yang hasan].

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]