Allamah Abu Nu’aim Al Ashbahani Rahimahullah Dan Tuduhan Palsu Atas Dirinya

Hilyatul Auliya Al Hilyah Thulab

ALLAMAH ABU NU’AIM AL ASHBAHANI RAHIMAHULLAH DAN TUDUHAN PALSU ATAS DIRINYA

Tokoh ini lebih dikenal dengan sebutan Abu Nu’aim al Ashbahani. Nama Ashbahan yang menjadi nisbat pada namanya, merupakan sebuah kota yang sampai sekarang masih ada, terletak di Negara Iran. Kadang, dikenal juga dengan sebutan Ashfahan. Abu Nu’aim sendiri memiliki nama, Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mihran. Dia dilahirkan pada bulan Rajab 336 H. Ada juga yang berpendapat, ia lahir tahun 334 H. Dan beliau meninggal pada 20 Muharram 430 H dalam usia 94 tahun. Demikian berdasarkan paparan para ulama yang menuliskan biografinya. Usia beliau banyak dihabiskan dengan belajar, mengajar dan menulis.

Abu Nu’aim menceritakan bahwa Mihran, ialah kakek moyangnya yang pertama kali masuk Islam. Dia sebagai maula ‘Abdullah bin Mu’awiyah bin ‘Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib.

Sejak usia masih belia, Abu Nu’aim telah mengarungi dunia thalabul ‘ilmi, lantaran perhatian besar sang ayah kepadanya. Maka berkat kemampuan ilmiahnya, tak ayal, gelar imam, ats tsiqah, ‘allamah serta Syaikhul Islam telah tersemat padanya. Sampai-sampai adz Dzahabi menyatakan,”Tokoh-tokoh ilmu dunia telah memberikan ijazah baginya pada tahun 340-an H, padahal usianya baru 6 tahun.” [1] Dia mendapatkan ijazah (rekomendasi untuk meriwayatkan) dari banyak ulama, tanpa ada orang lain yang menyamainya. Abu Muhammad bin Faris, adalah orang pertama yang memberikannya.

Beliau tidak hanya piawai dalam disiplin ilmu hadits. Dalam medan qira`ah pun, kemampuannya terakui. Beliau telah meriwayatkan banyak qira`ah langsung melalui ath Thabrani. Abul Qasim al Hudzali mengambil ilmu qira`ah darinya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Ibnul Jazari menulis biografi Abu Nu’aim dalam karyanya, Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra`.

Ilmu fiqih juga termasuk bidang yang beliau kuasai. Sehingga Abu Nu’aim terkenal sebagai ahli fiqih dalam madzhab Syafi’i. Karenanya, as Subki, al Isnawi dan Ibnu Hidayatullah memasukkannya dalam Thabaqat asy Syafi’iyyah.

ABU NU’AIM BUKAN PENGIKUT SYIAH
Tuduhan yang dialamatkan kepadanya sebagai pengikut Syiah adalah batil. Ini merupakan pemalsuan yang dilakukan oleh kelompok Syiah atasnya. Klaim semacam ini dikutip oleh al Khawansari di Raudhatul Jannat dengan menyertakan komentar ulama Syiah untuk menguatkan pernyataannya.

Di antara tulisan ulama Syiah yang ia salin, yaitu milik Muhammad al Khatun Abadi. Adapun di antara tokoh ulama awam [2] yang aku ketahui terpengaruh Syiah al Hafizh Abu Nua’im seorang ahli hadits di Ashbahan, penulis kitab Hilyatul Auliya`….ia termasuk ulama hadits dari kalangan ‘awam’ dalam penampilan lahiriahnya, namun batinnya murni berkeyakinan Syiah. Ia melakukan taqiyah karena kondisi menuntutnya demikian. Oleh karenanya, Anda melihat kitabnya penuh dengan penyebutan keutamaan Amiril Mukminin yang tidak dijumpai di kitab-kitab lainnya.

Tentu saja anggapan seperti itu sangat lemah. Tidak berdasar, suatu klaim tanpa bukti. Karena sesungguhnya, dalam kitabnya, al Hilyah tersebut, selain meriwayatkan keutamaan-keutamaan ‘Ali, Abu Nu’aim juga membawakan riwayat dari para sahabat lainnya. Beliau juga telah menulis kitab Tatsbitu al Imamah wa Tartibul Khilafah dan kitab Ma’rifatush Shahabah. Dua kitab ini, dengan jelas menangkal tuduhan di atas, dan Abu Nu’aim berlepas diri darinya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Penisbatan riwayat itu kepada Abu Nu’aim tidak serta-merta menunjukkan kalau riwayat tersebut shahih berdasarkan kesepakatan ulama hadits, dari kalangan Sunni maupun Syi’i. Sesungguhnya Abu Nu’aim meriwayatkan hadits-hadits yang dha’if, bahkan ada juga yang maudhu’ berdasarkan kesepakatan ulama hadits dari Sunni maupun Syi’i”.

ABU NU’AIM BERLEPAS DIRI DARI HADITS-HADITS PALSU
Tentang hal ini, adz Dzahabi mengatakan: “Aku tidak mengetahui ada dosa padanya -semoga Allah mengampuni- yang lebih parah dikarenakan meriwayatkan hadits-hadits palsu dalam tulisan-tulisannya dengan mendiamkan (tanpa memberi penjelasan)nya”.

Adz Dzahabi mengulangi perkataan yang serupa, saat menjelaskan apa yang terjadi antara Abu Nua’im dan Ibnu Mandah. Beliau menyatakan : “Komentar Ibnu Mandah terhadap Abu Nua’im sangat pedas, tetapi aku tidak ingin menceritakannnya. Aku tidak mau menerima komentar salah seorang dari mereka terhadap yang lain. Dua-duanya dapat diterima dalam pandanganku. Aku tidak mengetahui dosa dari mereka berdua yang lebih besar disebabkan meriwayatkan hadits-hadits palsu, dan mendiamkan (tanpa memberi penjelasan)nya”.

Syaikh Masyhur mendudukkan dengan pernyataan beliau : “Perkara di atas tidak hanya terjadi pada kedua orang itu saja. Bahkan kebanyakan muhaddits di masa-masa lalu, apabila mereka telah mengetengahkan hadits disertai sanadnya, mereka telah meyakini diri mereka telah berlepas diri darinya”.[3]

Syaikhul Islam menyatakan: “Bahwa metode demikian ini dipandang oleh kebanyakan ulama hadits. Mereka menyampaikan semua riwayat yang ada dalam bab tertentu, gunanya untuk diketahui saja, kendatipun ia hanya berhujjah dengan sebagian darinya semata”.[4]

TUDUHAN ATAS DIRI BELIAU SEORANG ASY’ARI
Al ‘Askari menempatkan Abu Nu’aim sebagai pengikut Abul Hasan al Asy’ari. Tuduhan ini pun tidak tepat. Adz Dzahabi telah mengutip perkataannya dalam kitab al ‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar (176) mengenai gambaran aqidah yang ia yakini, bunyinya : “Manhaj kami adalah manhaj Salaf yang mengikuti al Kitab, as Sunnah dan Ijma’ umat, serta perkara-perkara yang mereka yakini…”.

Setelah itu, beliau mengungkapkan beberapa hal yang menunjukkan bahwa, dirinya tidak ada sangkut-pautnya dengan tuduhan yang diarahkan kepadanya tersebut.

BEBERAPA KARYA TULIS ABU NU’AIM AL ASHBAHANI
Di antara karyanya yang terkenal ialah kitab Hilyatul Auliya`. Kitab ini merupakan karya beliau yang paling terkenal, dan banyak ulama yang menyanjungnya.

Ibnu al Khalakan mengatakan, kitab al Hilyah termasuk kitab yang bagus. Ibnu Katsir mengatakan, al Hilyah tertuang dalam banyak volume (beberapa jilid), yang menunjukkan luasnya wawasan riwayat beliau, dan banyaknya guru, serta ketahanan dalam menelaah sumbar-sumber hadits dan jalur-jalur periwayatan”.

Kitab lainnya, yaitu Ma’rifatush Shahabah. Ulama yang menuliskan sejarah sahabat, banyak mengutip dari kitab ini, semisal, Ibnul Atsir, Ibnu ‘Abdir Barr, adz Dzahabi, Ibnu Hajar dan lain-lain.

Juga masih ada karya lainnya, seperti Dalailu an Nubuwwah, Dzikru Akhbari Ashbahan, Sifatul Jannah, adh Dhu’afa`, dan masih banyak lagi.

Demikian sekilas riwayat hidup Abu Nu’aim, yang selama hidupnya banyak dihabiskan dengan belajar, mengajar dan menulis. Semoga Allah memberikan limpahan pahala bagi beliau dan menempatkannya di Jannatun Na’im.

(Diangkat dari muqaddimah tahqiq kitab Fadhilatul ‘Adilain minal Wulah,
karya Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdillah bin Ahmad bin Ishaq al Ashbahani (336-430 H), tahqiq Masyhur bin Hasan Alu Salman, Dar al Wathan Cet. I, Th. 1418 H)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Tadzkiratul Huffazh (1092).
[2]. Syiah menyebut Ahlu Sunnah dengan sebutan “orang awam”.
[3]. Tahqiq kitab hlm. 21. Terdapat ungkapan “man asnada faqad ahala (Siapa saja yang telah meriwayatkan sebuah riwayat dengan sanadnya, sungguh ia telah mengalihkan pembaca untuk menilai sendiri sanad tersebut, pent.
[4]. Minhajus Sunnah, 4/15.