Category Archives: B2. Topik Bahasan7 Syakhshiyah

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, Ahli Bid’ah Menghargai Kepalanya 200 Ribu Dollar

SYAIKH IHSAN ILAHI ZHAHIR, AHLI BID’AH MENGHARGAI KEPALANYA 200 RIBU DOLLAR

Nama dan nasab beliau, Ihsan Ilahi Zhahir bin Zhuhur Ilahi bin Ahmaduddin bin Nizhamuddin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang saudara beliau yang bernama Syaikh Fadh Ilahi menjelaskan,  bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir lahir pada tahun 1940 di kota Siyalkut. Yaitu sebuah kota tua di Pakistan, di sebelah utara kota Propinsi Punjab. Kota ini terkenal dengan kelahiran tokoh-tokoh dan ulama. Dan lingkungan yang sangat subur dengan ulama, tentu sangat kondusif bagi perkembangan seorang anak. Demikian juga dengan keberadaan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.

Keluarga besarnya sangat populer dengan perniagaan berbagai macam kain. Ketinggian tingkat keilmuan dan semangat juang untuk membela agama, serta kelimpahan harta-benda juga menjadi penghias yang melekat pada keluarga besarnya.

Ayahnya seorang pedagang kain yang terkenal dengan amanahnya, dan juga termasuk orang yang mencintai ulama dan giat mendakwahkan aqidah salaf, dengan menyibukkan diri berceramah di beberapa masjid. Dan ia telah memilihkan jalan bagi anak-anaknya agar menjadi para penyeru (da’i) di jalan Allah. Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan proses pendidikan anak-anaknya dengan baik.

Sang ayah sudah semenjak dini meminta Ihsan agar menghabiskan waktunya untuk senang mencari ilmu agama, jangan memikirkan mata pencaharian dahulu. Bahkan semua anggota keluarganya pun mempunyai pemikiran yang sama, mendukung Ihsan agar secara sungguh-sungguh mencurahkan thalabul ilmi dan berdakwah, meskipun yang menjadi taruhannya adalah harta.

Bukti keseriusan ayahnya nampak, yaitu tatkala Ihsan masih di bangku sekolah dasar. Kendatipun pihak sekolah sudah memberikan jatah snack bagi para siswanya, namun beliau malah melarang anaknya untuk memakannya. Sebagai gantinya, sang ayah membawakan makanan, jus dan susu. Sebab menurutnya, hal itu lebih bermanfaat bagi fisiknya daripada makanan sekolah. Bahkan tidak sampai di situ, sang ayah pun tidak segan-segan untuk memijit anaknya dengan olesan minyak, agar fisik anaknya tersebut menjadi sehat. Apalagi dengan kebutuhan primer sekolah lainnya, seperti buku-buku pelajaran, juga tidak luput menjadi perhatian keluarganya. Segala daya upaya diusahakan agar sang anak dapat belajar dengan nyaman.

Ibunya juga mempunyai orientasi dan komitmen yang jelas dalam mendidik anaknya di atas manhaj Salaf. Dia seorang wanita yang tekun beribadah, berpuasa sehingga menurunkan pengaruh besar pada pembentukan kepribadian anak-anaknya. Tidak terkecuali pula pada diri Syaikh Ihsan.

Semenjak kecil, Syaikh Ihsan sudah terkenal dengan kecerdasannya. Demikian juga kecintaannya terhadap ilmu. Para ulama semakin mendukungnya untuk dapat mendulang ilmu yang banyak. Semenjak usia 9 tahun, Ihsan kecil sudah menghafal al Qur`an. Ditempatnya belajar, yaitu Madrasah asy Syihabiyah, menuntaskan pendidikan dasar dan menengahnya, para dewan guru sangat mengaguminya. Setelah itu, beliau memperdalam ilmu-ilmu agama di al Jami’ah al Muhammadiyyah, salah satu universitas salafiyyah terbesar di Pakistan. Beliau menyelesaikan studinya di universitas yang berlokasi di Faishal Abad tersebut pada tahun 1961. Setelah itu, berguru kepada seorang pakar hadits yang bernama Syaikh Muhammad al Jandalwi. Kemudian pada tahun 1963, ia berkesempatan untuk menimba ilmu di kota Rasul, Madinah, tepatnya di Jami’ah Islamiyyah. Ulama-ulama besar berhasil ditemuinya untuk menjadi rujukan ilmiah.

Tentang ketekunannya saat berada di bangku Jami’ah Islamiyyah, Dr. Luqman as Salafi, teman sekelasnya menceritakan: “Aku telah mengenal mujahid ini yang nyawanya dikorbankan di jalan Allah sejak 25 tahun yang lalu, tatkala kami duduk berdampingan di bangku kuliah universitas Islam Madinah pada tahun enam puluhan. Aku dapati ia sebagai seorang mahasiswa yang cerdas, pintar. Kemampuannya berada di atas kawan-kawannya dalam mata kuliah, penelitian dan diskusi. Mempunyai hafalan ribuan hadits. Saat jam istirahat, ia selalu mengikuti pakar hadits akhir abad ini, (yaitu) Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani. Ia biasa bersama beliau di halaman kampus, meskipun harus duduk di atas pasir (tanah), untuk melontarkan pertanyaan seputar hadits, ilmu musthalah. Di Madinah, tepatnya di Fakultas Syariah, ia menuntaskannya dalam kurun waktu empat tahun dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1967, dengan menempati rangking pertama untuk angkatan ketiga. Pihak kampus akhirnya menawarinya untuk menjadi staf pengajar, namun ia menjawab : ‘Sesungguhnya negeriku lebih membutuhkanku’.

Sesampai di kampung halaman untuk memulai dakwah, ia mencermati bahwa masyarakatnya kurang menghargai ilmu agama. Dan menurut mereka, orang yang disebut ulama tidak mempunyai kemampuan untuk meresapi apa yang mereka sebut sebagai “ilmu-ilmu modern”. Syaikh Ihsan ingin membalikkan asumsi mereka. Dengan ketekunannya, akhirnya ia mampu mengantongi berbagai gelar master pada ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu dan Inggris, master dalam hukum dan politik.

Sebenarnya kitab-kitab yang ia tulis sudah sangat jelas menggambarkan komitmennya kepada manhaj Salaf. Namun ada baiknya kita melihat selintas tentang aqidahnya melalui penuturannya sendiri: “Tidak ada barometer untuk mengetahui kejujuran dari kedustaan, kebenaran dari kebatilan, kebaikan dari kejelekan, kebaikan dari keburukan kecuali al Kitab (al Qur`an) dan as Sunnah. Setiap pendapat yang bertentangan dengan firman Allah dan setiap tindakan yang berlawanan dengan praktek Rasulullah, maka harus ditinggalkan lagi tertolak, tidak perlu diperhatian ataupun dilirik, baik muncul dari tokoh besar, orang kecil, orang bertakwa ataupun manusia celaka. Sebab, kaum Mukminin tidak terikat dengan individu dan pemikiran mereka. Justru, mereka itu diperintahkan untuk mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah”. [1]

Di antara ulama besar yang pernah memoles beliau, sebelum bertolak ke Madinah, ialah Syaikh Muhammad al Jandalwi, Abul Barakat Ahmad bin Isma’il. Keduanya dikenal sebagai pakar hadits. Sesampainya di Madinah, ia sempat berguru kepada Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad, Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi (penulis tafsir Adhwau al Bayan), Syaikh ‘Athiyyah Salim, Syaikh Hammad al Anshari, Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi, dan lain-lain.

Sejak menjadi mahasiswa di Jami’ah Islamiyah Madinah, Syaikh Ihsan mempunyai kegemaran menulis. Hasil karyanya yang pertama, yaitu kitab al Qadiyaniyah[2] yang sebelumnya berbentuk tulisan-tulisan berseri yang diterbitkan oleh majalah Hadharah al Islam. Majalah ini biasa menjadi tempat para ulama dan penulis besar untuk menggoreskan tintanya.

Ada beberapa ciri khas pada gaya penulisan Syaikh Ihsan dalam buku-buku yang ditulisnya, yang jarang ditemukan pada penulisan di abad sekarang.

Penyanggahan firqah dan pemikirannya melalui pernyataan dan referensi asli mereka. Kutipan-kutipannya selalu dari kitab-kitab standar mereka, atau perkataan yang keluar dari pernyataan tokoh-tokohnya.

Usaha komparasi dan penelusuran akar bid’ah pada agama lain. Kajian-kajiannya tentang golongan-golongan dalam Islam diikuti dengan perbandingan unsur-unsur kesamaan dengan agama dan golongan-golongan lainnya. Misalnya, ia membandingkan kemiripan antara Syi’ah dengan Sufiyah, tasawuf dengan ritual yang ada di agama Nashara.

Syaikh Ihsan mengatakan,”Kami tidak merasa cukup dengan membawakan nash dari kitab Sufiyah, tetapi kami juga menyertakan nash yang mirip yang berasal dari agama-agama selain Islam”.[3]

Menghimpun semua pernyataan, tidak cukup dengan satu saja.  Ini merupakan sebuah usaha yang paling sulit. Syaikh Ihsan membawakan berbagai riwayat supaya mendapatkan kekuatan berhujjah dalam membawakan argumetasi “menyerang musuh”, sehingga “musuh” tidak berkutik lagi.

Penelaahan yang luas pada sebuah obyek penulisan. Dengan jelas, hal ini terbukti pada penulisan sebuah kitab, Syaikh Ihsan membaca lebih dari tiga ratus bahan, yang terdiri dari kitab dan makalah seputar obyek pembahasan.

Ciri khas yang terakhir terletak pada kekuatan beliau dalam mematahkan argumentasi “musuh”.

Meskipun beliau sangat sibuk dalam berdakwah, namun beliau masih menyempatkan waktu untuk mendidik anak-anaknya yang berjumlah tiga orang.

Ibtisam, anak tertua mengisahkan: “Ayah sudah menanamkan pada hatiku kecintaan kepada aqidah Islamiyah dan membaca kitab-kitab salaful ummah. Pernah beliau mengajakku ke sebuah seminar dan ceramah-ceramah dan menyuruhku untuk berceramah supaya aku terbiasa berbicara di depan orang”.

Tulisan-tulisan beliau lebih banyak berkutat pada ‘penyerangan’ terhadap firqah-firqah sesat, baik yang berskala lokal (di Pakistan saja), maupun yang berskala internasional, seperti : Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Syi’ah, Babiyah, Bahaiyyah, Sufiyah. Beberapa contoh firqah yang beliau angkat dalam sebuah tulisan, sebagian sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Beliau senantiasa menyibukkan diri dengan dakwah, sampai akhirnya Allah menentukan takdir ajalnya.

Hari itu, Syaikh mendatangi suatu pertemuan ilmiah para ulama yang diselenggarakan oleh Jum’iyyah ahli al hadits di Lahore, pada tanggal 23-7-1407H. Dihadiri oleh 2000 peserta. Malam sudah larut, tepatnya jam 23.00. Pada saat itu, Syaikh maju untuk mengutarakan ceramahnya di atas podium. Setelah 22 menit berceramah, tiba-tiba sebuah bom meledak dari bawah panggung. Sembilan orang tewas seketika, 114 orang cedera, berat dan ringan. Beberapa gedung dan rumah yang berdekatan dengan tempat kejadian runtuh. Sementara Syaikh terlempar sekitar 20 meter dari tempatnya. Bagian tubuh kiri beliau mengalami luka parah. Namun beliau masih sadar. Bahkan berusaha untuk meneruskan pembicaraannya.

Beliau dibawa menuju Rumah Sakit Pusat di Lahore. Akhirnya dengan rekomendasi Syaikh bin Baz kepada Khadimul Haramain Raja Fahd, pihak Kerajaan Saudi siap untuk mengambil-alih pengobatannya. Begitu sampai di kota Riyadh, para ulama, para pejabat negara menyambut kedatangan beliau. Beliau dirawat di Rumah Sakit Militer. Para dokter memutuskan agar kaki beliau diamputasi, tetapi Syaikh Ihsan menolaknya. Dan pada hari Senin pagi jam 04.00, tanggal 1 Sya’ban 1407H, bertepatan dengan tanggal 30 Maret 1987, Syaikh Ihsan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kesedihan menyayat masyarakat Riyadh. Pada hari itu, sekolah-sekolah diliburkan. Demikian juga toko-toko di dekat Masjid al Jami’ al Kabir ditutup. Orang-orang berdesakan menyolati Syaikh Ihsan dengan dipimpin oleh Syaikh bin Baz. Sementara itu, masyarakat di tiga kota di Pakistan, yaitu Islamabad, Lahore dan Karachi menutup tempat-tempat perniagaan mereka, lantaran kesedihan yang mendalam atas meninggalnya sang mujahid.

Setelah itu, jenazah diterbangkan ke kota Madinah untuk disholatkan di Masjid Nabawi dan selanjutnya dimakamkan di Baqi. Sambutan masyarakat Madinah begitu antusias. Para ulama, mahasiswa dan masyarakat Madinah turut berduka-cita atas meninggalnya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir yang menjadi musuh besar Syi’ah setelah Syaikh Muhibbudin al Khatib meninggal.

Sebuah kematian yang indah setelah mengisi usia dengan perjuangan dan pengorbanan demi Islam di berbagai negara. Dr. Luqman as Salafi menyatakan, beliau seolah-olah bagaikan pembela bagi Islam. Sehari sebelum peristiwa meledaknya bom, beliau sedang duduk dalam acara debat yang berlangsung selama 6,30 jam dengan pihak-pihak yang meminta penetapan fiqih Hanafi Ja’fari dan fiqh-fiqh lainnya. Beliau menjawab,”Kami tidak menginginkan sebuah pengganti bagi al Qur`an dan Sunnah.” Nampak dalam perdebatan ini, bahwa Syaikh Ihsan sangat kuat pendirian dalam membela al haq. Hingga, kemudian pada hari kedua, para hakim mengumumkan hasil sidang bahwa kebenaran berada di pihak Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.

Kegigihan beliau membasmi firqah-firqah sesat melalui tulisan maupun ceramah-cermah sangatlah kentara. Akibatnya, dia mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan. Intimidasi ancaman bunuh via telpon ataupun surat sudah biasa beliau terima. Di Amerika, bahkan beliau pernah mengalami percobaan pembunuhan atas dirinya. Al Khumaini, pemimpin Syi’ah Iran pernah pula membuat maklumat, yang isinya : “Barangsiapa dapat membawa kepala Ihsan (Ilahi Zhahir), niscaya ia akan mendapatkan 200 ribu dolar”. Ada juga yang mengatakan: “Siapa saja yang berhasil membawa kepala Ihsan, ia adalah orang yang syahid”. Beliau juga pernah mendapatkan tembakan peluru.

Syaikh Ihsan menyadari, pilihan beliau dengan menghabiskan usia untuk berdakwah, terutama dalam usaha mengoreksi golongan-golongan yang sesat, akan mengantarkan kepada kesibukan yang luar biasa dan ancaman bahaya. Begitu pula segala jenis intimidasi di atas, lantaran kegigihan beliau dalam mengoreksi penyimpangan-penyimpangan golongan-golongan yang mengklaim diri sebagai bagian dari Islam, namun ternyata jauh panggang dari apinya.

Adapun pujian-pujian kepada beliau secara otomatis muncul langsung dari ulama-ulama yang pernah mengenalnya. Sebagai misal, pujian yang datang dari Syaikh Bin Baz, beliau mengatakan: “Ia adalah orang yang sangat baik. Kami mengenalnya sarat dengan ilmu dan keutamaan, aqidahnya bagus. Semoga Allah mengampuninya”.

Meskipun Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir telah pergi meninggalkan dunia fana ini, tetapi buku-buku beliau masih saja menjadi musuh abadi bagi golongan-golongan yang dahulu diserang.

Semoga Allah menerima amal kebaikan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dan menempatkan beliau di syurga yang paling tinggi.

(Diringkas dari kitab asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, Manhajuhu, wa Juhuduhu fi Taqribi al ‘Aqidah wa ar Raddi ‘ala al Firaqi adh-Dhallah, karya Dr. ‘Ali bin Musa az Zahrani, Daru al Muslim, Riyadh, Cet. I Th. 1425 H/2004, sebuah thesis dari jurusan ‘Aqidah Universitas Ummul Qura`)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1]  Dirasat Fi at Tashawwuf  karya beliau, hlm. 12
[2]  Mengungkap kerusakan Ahmadiyah.
[3] At Tashawwauf, al Mansya` wa al Mashadir, hlm. 8.

Mengenal Sosok Syaikul Islam Ibnu Taimiyah

MENGENAL SOSOK SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah untaian kisah dari perjalanan seorang ulama besar dari kalangan ulama umat ini. Seorang imam dari kalangan para imam yang mendapat petunjuk, dengannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla memperbaharui agama ini, dan melalui tangannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla menumpas bid’ah sampai ke akar-akarnya. Beliau adalah seorang ulama dunia pada zamannya, orang tercerdas pada waktunya, belum ada yang menyamai dirinya dalam hal hafalan, ilmu serta amalan.

Beliau adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Syihabudin Abdul Halim bin Majdudin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qosim al-Harani Ibnu Taimiyah yang merupakan julukan bagi kakeknya yang paling atas. Lahir para tangal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Adapun al-Harani adalah nisbat kepada sebuah negeri masyhur yang berada diantara negeri Syam dan Iraq.

Beliau berkulit putih, berperawakan tinggi sedang, berdada datar tegap, sedikit beruban, dengan rambut menjulur sampai diatas daun telinga, matanya besar bagaikan lisan ketika berbicara, suaranya emas, fasih, sangat cepat dalam membaca, padanya berhenti dalam hal keberanian serta memaafkan. Beliau hafal al-Qur’an pada usia sebelum baligh, terampil dalam ilmu syari’at dan bahasa arab serta mantiq dan lainnya. Dirinya tidak menikah tidak pula memiliki wanita simpanan, bukan karena tidak menyukai nikah, karena itu merupakan sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun, karena kesibukan beliau dengan ilmu, mengajar, dakwah serta berjihad. Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk meneliti, membaca, dan menelaah. Seakan dirinya tidak pernah kenyang dan puas akan ilmu, tidak merasa puas dari menelaah, tidak bosan serta capek dari menyibukan diri dengan penelitian ilmu.

Berkata Imam Dzahabi, “Tidaklah aku melihatnya kecuali sedang berada diantara tumpukan kitab”.

Beliau menyusun kitab untuk pertama kalinya pada usia tujuh belas tahun, dirinya termasuk seorang ulama yang berpredikat sepanjang masa disebabkan begitu banyak karya tulis yang beliau hasilkan, sehingga belum pernah didapati dalam sejarah Islam ada orang yang menulis karya ilmiah seperti yang beliau tulis, diperkirakan tulisan yang beliau hasilkan mencapai lima ratus jilid, dengan empat ribu buku tulis atau lebih.

Sampai dikatakan tulisan yang beliau hasilkan pada setiap harinya mencapai empat buku, didalam menulis buku-bukunya beliau selalu mengambil dari hafalan yang dia miliki, dirinya sangat mahir dalam masalah menulis dan cepat dalam menyusun, sehingga hasil tulisannya bila disamakan hampir sama dengan kilatan cahaya mesin. Hasil karya tulisanya sangat sempurna, dengan dibarengi hujjah dan dalil yang kuat, bagus dalam penulisan serta susunan pembahasannya.

Beliau mulai mengajar, sedang usianya pada saat itu masih dua puluh satu tahun setelah kematian bapaknya. Adapun dalam mengajar tafsir maka beliau mulai mengajar pada usia tiga puluh tahun, dan terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama, sungguh terkumpul pada dirinya imamah dalam masalah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an. Dimana beliau sangatlah menekuni dan menyukainya secara total sampai dirinya betul-betul menguasai ilmu-ilmu tadi sehingga meninggalkan jauh yang lainnya. Dikisahkan, beliau mempunyai kitab tafsir yang sangat panjang yang berisikan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya yang menyamainya.

Beliau terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat, setiap perkara yang pernah dihafalnya maka sangat jarang dirinya lupa. Adalah al-Hafidh al-Mizzi sangat mengagungkan gurunya ini dengan pujian yang banyak, sampai kiranya beliau mengatakan, “Tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengannya semenjak empat ratus tahun yang lalu”. Kehidupan yang dijalani sehari-harinya dipenuhi dengan kesungguhan, giat dan giat, yang tidak pernah diketahui menyibukan diri untuk bersendau gurau apalagi sampai melakukan akhlak tercela seperti mengunjing atau adu domba. Beliau sangatlah menjauhi dan bersih dari perilaku mengunjing dan mengadu domba ini, belum pernah ada penukilan yang menceritakan dirinya terjatuh dalam permasalah buruk semacam itu. Majelisnya dipenuhi dengan hikmah dan kebaikan dan tidaklah mungkin berani orang yang senang menggunjing untuk melakukannya dimajelis beliau.

Beliau sangat zuhud terhadap dunia, akan tetapi tidak sampai berlebihan, dirinya biasa mendapatkan harta pada tiap tahunnya yang sangat banyak, kemudian beliau menginfakan seluruhnya yang mencapai sampai dua ribu dirham lebih, dan tangannya tidak menyentuh satu dirhampun, tidak mengambil walau hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau biasa mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, menunaikan hak-hak orang lain, dan sangat baik terhadap orang lain, sehingga dirinya dicintai oleh semua kalangan, baik ulama, orang sholeh, tentara sampai penguasa, para saudagar dan pembesar, serta semua lapisan masyarakat. Disebabkan kontstribusi besar yang bermanfaat pada mereka baik siang maupun malam, dengan lisan maupun tulisannya.

Seringkali beliau diajukan dan ditawari untuk menjadi pejabat dan mempimpin namun dirinya enggan dan menolak, sembari mengatakan, “Carilah orang lain yang lebih cocok dari diriku”. Adapun dalam masalah menyebarkan ilmu, mengoreksi aqidah yang benar, dan mengembalikan manusia kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, maka mereka lebih membutuhkannya dari pada jabatan serta tawaran tadi. Begitu pula seringkali beliau ditawari hadiah serta hibah akan tetapi beliau menolaknya, karena dirinya paham kalau sekiranya diambil tentu akan sulit bergerak dan melemahkan dalam menolak kebatilan serta akan suka menjilat. Dan ini merupakan metodenya Imam Ahmad bin Hanbal.

Dikisahkan dalam biografi beliau, dirinya dipenuhi materi dunia akan tetapi beliau menolaknya, sehingga beliau hanya mencukupkan sedikit. Dan dalam hal ini saudaranya Syarifudin yang mengurusi kebutuhannya. Berkata syaikh Abu Bakar Abu Zaid mengomentari hal ini, “Dan ini merupakan pelajaran bagi kita, bahwa tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang dua hal yang saling bertentangan, sebagaimana dikatakan:

Cinta terhadap kitab dan senang pada nyanyian
Tidak mungkin terkumpul dalam hati seorang hamba

Maka kecintaan terhadap ilmu lalu menyibukan hati dan anggota badan demi harta, mengumpulkan serta meperbanyak maka tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang, sehingga setiap kali ada porsi serta usaha dan waktu yang engkau luangkan melebihi dari yang lainnya maka akan hilang yang satunya, cukuplah hal ini membuat kita menangis”.[1]

Adapun sikap beliau bersama penguasa, maka beliau sangat sering di dalam memberi nasehat, menyuruh perkara ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, diantara yang tercatat dalam sejarah adalah sikapnya yang begitu besar dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan. Demikian pula sikap beliau ketika berhadapan dengan Ghazan hingga dirinya dijuluki “Khalidiyah nisbat kepada Pedang Allah yang terhunus” karena keberaniannya bersama Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu.

Dikisahkan, pada tahun 699 H terjadi peristiwa genting, yakni datangnya Raja Ghazan ke negeri Damaskus. Maka segera Syaikhul Islam keluar mendatanginya lalu bertemu dengannya dan mengajak bicara bersamanya secara kasar. Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah mencukupi dirinya dari keburukan tangan Ghazan.  Yaitu tatkala dirinya meminta kepada penerjemah raja Ghazan, katakan padanya, “Engkau mengira dirimu seorang muslim, dan bersamamu qodhi, imam, dan syaikh,  sedangkan kalian menyakiti dan memerangi kami seperti sekarang ini. Adapun ayah dan kakekmu, keduanya adalah kafir, akan tetapi keduanya tidak melakukan seperti yang kamu lakukan sekarang ini, keduanya membuat perjanjian dan memenuhinya, adapun engkau, membuat perjanjian namun engkau langgar sendiri, dan saya katakan engkau tidak memenuhinya sama sekali”.

Beliau menyeret beberapa perkara bersama Ghazan dan Qathlusyah serta Bulari yang beliau lakukan semuanya karena Allah Ta’ala, beliau mengatakan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikitpun kecuali kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Suatu ketika seluruh qodhi Damaskus serta tokoh-tokoh pembesar hadir pada majelisnya Ghazan, kemudian raja Ghazan menjamu mereka dengan berbagai makanan, lalu mereka semua menyantap jamuan tersebut kecuali Ibnu Taimiyah, beliau tidak ikut memakannya, maka ditanyakan padanya, “Kenapa engkau tidak ikut makan? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku memakan makanan ini sedang kalian mengambilnya dengan merampas milik masyarakat, kemudian yang kalian masak adalah hasil dari rampokan harta mereka”. Kemudian Raja Ghazan meminta pada beliau supaya dido’akan kebaikan, maka beliau mengatakan dalam untaian do’anya, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau mengetahui kalau dirinya perperang hanya untuk menegakkan kalimat Allah Shubhanahu wa Ta’alla biar tinggi dan berjihad di jalan -Mu, maka teguhkan serta tolonglah dirinya. Dan jikalau tujuannya hanya untuk kekuasaan, dunia dan memperbanyak harta, lakukan lah sekehendak -Mu…kemudian beliau pun mendo’akan dirinya dan raja Ghazan mengamini do’a tersebut. sedangkan para qodhi tadi yang datang bersamanya merasa takut bila sampai membunuhnya, maka mereka langsung merapikan pakaian, takut kalau kiranya raja Ghazan murka lalu membunuhnya sehingga darahnya Ibnu Taimiyah menimpa mereka.

Maka tatkala mereka keluar dari hadapan sang Raja, berkata pimpinan para pembesar Qodhi yang bernama Ibnul Shashari kepada Ibnu Taimiyah, “Hampir saja engkau membunuh kami semua bersamamu, maka mulai sekarang kami tidak ingin menemanimu kembali”. Maka dijawab sama beliau, “Demikian juga mulai dari sekarang aku pun tidak ingin menemani kalian”.

Beliau di jebloskan ke dalam penjara Qol’ah di Damaskus pada akhir hayatnya, maka beliau tinggal didalamnya sambil menulis, dan mengirim surat kepada para sahabatnya, sambil mengatakan bahwa dirinya mendapat karunia ilmu yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla bukakan untuknya dari berbagai macam ilmu yang sangat besar faidahnya.

Beliau mengatakan, “Sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membuka untukku dalam penjara ini, beberapa kali dari makna-makna al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu lainya yang sangat banyak, dimana banyak dari kalangan para ulama mengharap untuk bisa memahaminya. Dan aku sangat menyesal karena telah banyak menyia-yiakan waktuku yang aku habiskan bukan untuk mempelajari makna al-Qur’an”. Selanjutnya beliau dilarang untuk menulis, sehingga tidak ada satu pun disisinya alat untuk menulis, seperti kertas dan pena. Kemudian setelah itu beliau menyibukkan diri untuk membaca, bermunajat dan dzikir kepada Allah azza wa jalla.

Imam Ibnu Qoyim, muridnya menceritakan, “Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mensucikan ruhnya dan menyinari kuburnya-, berkata, “Sesungguhnya didunia ada surga, barangsiapa yang diharamkan untuk memasukinya maka tidak akan mungkin masuk ke dalam surga yang di akhirat”. Suatu ketika beliau juga pernah bertanya padaku, “Apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku terhadap diriku? Diriku adalah surgaku dan tamanku berada didalam dadaku, dimanapun diriku pergi dia akan selalu bersamaku dan tidak akan berpisah denganku. Adapun bagiku penjara adalah tempat untuk menyendiri bersama Allah Shubhanahu wa Ta’alla, ketika aku dibunuh maka mati syahid bagiku, ketika mereka mengusir dari negeriku maka itu seperti bertamasya”.

Dan ketika di dalam penjara beliau berkata, “Kalau seandainya diganti sepenuh penjara ini dengan emas niscaya tidak ada bandingannya bagiku untuk mensyukuri nikmat di penjara ini”. atau ucapan beliau, “Niscaya aku tidak mampu membalas mereka, karena dengan sebab mereka aku memperoleh kebaikan yang sangat banyak…atau ucapan beliau yang senada dengan ini. Ketika beliau sujud di dalam sholatnya beliau biasa berdo’a, “Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada -Mu, untuk bersyukur kepada -Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada -Mu”.

Suatu ketika beliau pernah menuturkan, “Orang yang terpenjara ialah yang terpenjara hatinya dari mengenal Rabbnya, dan orang yang tertawan ialah yang tertawan oleh hawa nafsunya”. Manakala beliau masuk ke dalam penjara Qol’ah dan berada didalamnya, beliau melihat sekelilingnya sembari membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ

“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”. [Al-Hadiid/57: 13].

Beliau adalah orang yang banyak beribadah, senantiasa membasahi lisannya untuk berdzikir, sampai tidak ada yang mampu menggantikan kebiasaan ini dari kesibukan apapun tidak pula ada yang memalingkannya.

Imam Ibnu Qoyim mengkisahkan, “Aku pernah datang untuk melakukan sholat shubuh bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, setelah selesai beliau duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga mendekati pertengahan siang, setelah itu beliau berpaling kepadaku sambil berkata, “Inilah makananku kalaulah sekiranya aku tidak memberi makanan ini pada tubuhku maka aku akan jatuh lemas, atau ucapan yang mirip dengan ini. Beliau juga pernah berkata padaku, “Aku tidak pernah meninggalkan untuk berdzikir kecuali hanya sekedar menghilangkan kepenatan dan istirahat sejenak untuk bersiap-siap melakukan dzikir yang lainnya. Atau ucapan yang semkna dengan ini.

Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengetahui, belum pernah aku melihat seorangpun yang lebih baik kehidupannya dari beliau sebelumnya, walaupun dirinya dipenjara dan diancam serta ditekan namun bersamaan dengan itu beliau adalah orang yang paling baik penghidupannya, paling lapang dadanya, paling teguh hatinya, dan paling berbahagia jiwanya, terpancar pada pandangan matanya kenikmatan yang tiada tara. Dan kami, biasanya tatkala sedang merasa gundah dan berprasangka buruk serta terasa sempit dunia tempat berpijak ini, maka kami mendatangi beliau. Dan tidaklah ketika kami melihatnya serta mendengar nasehatnya melainkan segera hilang kegundahan dan segala permasalahan tersebut, lalu berubah menjadi ketenangan, merasa kuat, yakin dan tentram. Maha suci Allah Shubhanahu wa Ta’alla, bagi orang dari kalangan para hambaNya yang menyaksikan surga-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membukakan untuk meraka pintu-pintu surga di dunia ini, negeri untuk beramal, lalu datang kepada mereka bau harumnya, anginnya serta keindahannya, sehingga mendorong kekuatannya untuk menggapai surga dan berlomba-lomba untuk merengkuhnya”.

Beliau pernah berkata, “Aku halalkan kehormatanku bagi tiap orang yang pernah menyakitiku, akan tetapi barangsiapa yang menyakiti Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, demi Allah pasti aku akan membalasnya”. Berkata Qodhi Ibnu Makhluf, dia adalah salah seorang musuhnya, “Kami belum pernah melihat orang yang paling bertakwa melebihi Ibnu Taimiyah, tidak ada kesempatan bagi kami untuk memusuhinya pasti kami lakukan, akan tetapi, tatkala beliau mampu membalasnya beliau memaafkan kami”.

Adapun meninggalnya beliau dikarenakan ketika masih berada didalam penjara Qol’ah pada dini hari malam senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 H. sebelumnya beliau sakit demam selama tujuh belas hari. Beliau meninggal tepat pada waktu sepertiga malam terakhir. Setelah tersebar berita kematiannya maka berkumpul di penjara Qol’ah manusia yang sangat banyak dari kalangan teman dan murid-murid beliau, sambil menangisi serta memujinya. Dan saudaranya Zainudin Abdurahman mengabarkan pada mereka bahwa dirinya bersama beliau semenjak dijebloskan ke dalam penjara, mereka berdua telah menghatamkan al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali.

Dan hampir menyelesaikan yang ke delapan puluh satunya akan tetapi ketika sampai pada firman Allah ta’ala beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir:

قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَنَهَرٖ ٥٤ فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa”. [al-Qomar/54: 54-55].

Sungguh terkumpul pada saat itu manusia yang mengikuti sholat jenazah beliau lautan masa yang begitu banyak sampai diperkirakan dari kalangan laki-lakinya enam puluh ribu orang atau lebih sampai dua ratus ribu orang. Dari kalangan wanita lima belas ribu orang, dan ini mengingatkan kita pada ucapannya Imam Ahmad yang mengatakan kepada ahli bid’ah, “Perjanjian kami bersama kalian adalah  ketika sholat jenazah”.

Dikisahkan banyak mimpi orang sholeh yang mengabarkan kebaikan untuknya. Kemudian dilaksanakan pula pada sebagian besar negeri kaum muslimin sholat ghoib, baik negeri yang berdekatan maupun yang jauh sampai di negeri Yaman dan China. Dikabarkan bahwa orang-orang yang sedang safar mendengar panggilan diperbatasan China untuk melaksanakan sholat ghoib untuk beliau pada hari jum’at, dikatakan dalam panggilan tersebut, “Sholat untuk penerjemah al-Qur’an”.[2] Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati Syaikhul Islam, dan memberinya balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengumpulkan kami dan beliau di negeri yang penuh kenikmatan bersama para Nabi, shidiqin, para syuhada dan orang-orang sholeh, dan mereka adalah sebaik-baik teman

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة شيخ الإسلام ابن تيمية  Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] al-Jami’ li Siroti Syakihil Islam Ibnu Taimiyah hal: 26-27.
[2] al-Jami’ li Siroti Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah karya Syaikh Muhammad Aziz Syams dan Syaikh Ali al-Imrani dengan pengawasan dari Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

Sejarah Imam asy-Syafi’i

SEJARAH IMAM ASY-SYAFI’I

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Ketokohan profil ini tidak diragukan lagi. Ia sangat meyakinkan, reputasinya tak perlu dipertanyakan. Banyak ayat Al-Qur`an yang membicarakan keutamaan beliau, baik secara pribadi maupun dalam konteks umum.

Berikut ini adalah rangkain kisah perjalanan hidup seorang pahlawan dari pahlwan-pahlawan umat ini, yang gagah berani, seorang imam dari imam kaum muslimin, Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan dirinya sebagai pembela sunah dan penumpas perbuatan bid’ah.

Beliau lahir di Gaza yaitu sebuah kota yang letaknya berada di tengah-tengah negeri Syam dari arah Mesir dan selatan Palestina, pada tahun 150 H tepatnya pada bulan Rajab. Dirinya terkenal dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya semenjak kecil. Beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku berada bersama para pencatat kitab, disana aku mendengar ustad sedang mengajari ayat al-Qur’an pada anak-anak kecil, maka aku langsung dapat menghafalnya. Dan sebelum ustad tadi selesai mendikte ayat pada mereka aku telah menghafal semua yang di diktekan tadi. Pada suatu hari beliau berkata padaku, “Tidak halal bagiku untuk menghalangimu sedikitpun”. Dan dia senantiasa dalam keadaan seperti itu sampai dirinya mampu menghafal al-Qur’an sedang beliau saat itu berusia tujuh tahun.

Besar dalam kondisi yatim dan diasuh oleh ibunya seorang, lalu ibunya khawatir pada dirinya, lantas mengajaknya berhijrah ke Makah dan disana dia belajara bahasa Arab dan syair. Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kecintaan dirinya pada ilmu fikih yang sedikit diabaikan oleh kebanyakan orang pada zamannya, beliau lalu menulis beberapa karya tulis besar dalam beberapa disiplin ilmu, seperti fikih, ushul fikih, nasab dan adab serta karya tulisan lainnya.

Beliaulah Imam dunia yang bernama Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Saafi’ bin as-Saa’ib bin Ubaid bin Abd bin Yazid bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdi Manaf. Ahli ilmu pada zamannya, pembela sunah, ahli fikih umat ini yang berkun’yah Abu Abdillah al-Quraisy kemudian al-Muthalabi asy-Syafi’i al-Makki al-Ghazi sebagai tanah kelahirannya, beliau masih memiliki hubungan nasab bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bertemu dalam silsilah pada anak pamannya, karena al-Muthalib adalah saudaranya Hasyim ayah dari Abdul Muthalib. Beliau mempunyai warna kulit putih, berbadan tinggi, dengan paras wajah yang gagah, dan di segani, beliau memakai semir dengan pohon pacar karena ingin menyelisihi orang-orang Syi’ah.

Perkataan Ulama Tentang Imam asy-Syafi’i
Telah banyak pujian dari para ulama dengan pujian yang banyak, berkata Imam Ahmad bin Hanbal tentang beliau, “Tidak ada seorangpun yang memegang alat tulis tidak pula pena melainkan bagi pundak Syafi’i mempunyai bagian darinya. Kalaulah bukan karena Syafi’i tentulah kami tidak mengetahui fikih hadits. Adalah ilmu fikih seperti terkunci bagi ahlinya sampai kiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla membukakan melalui Syafi’i”.

Beliau juga pernah menuturkan manakala ditanya putranya tentang Syafi’i, “Duhai ayahku, seperti apa sejatinya Syafi’i itu? Betapa sering aku mendengar engkau mendo’akan dirinya”. Imam Ahmad menjawab, “Duhai anakku, Syafi’i itu bagaikan matahari bagi dunia, bagaikan obat bagi tubuh, lihatlah apakah dua kemulian ini ada yang mampu mewarisi atau menggantikan kedudukannya”.

Dan Ahmad bin Hanbal biasa mendo’kan Syafi’i dalam sholatnya selama kurang lebih empat puluh tahun. Dan beliau berkata ketika mendengar sebuah hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا » [أخرجه أبو داود]

Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui agamanya“. HR Abu Dawud no: 4291.

Beliau mengatakan, “Maka Umar bin Abdul Aziz adalah pembaharu pada penghujung seratus tahun pertama, dan asy-Syafi’i pada penghujung tahun dua ratusan”.[1]

Abdurahman bin Mahdi menyebutkan tentang beliau, “Tatkala aku membaca kitab Risalah karyanya Syafi’i, kitab tersebut membikin diriku bingung, karena aku melihat didalamnya perkataan seorang yang jenius, fasih dan tulus. Sesungguhnya saya banyak mendo’akan beliau. Dan aku berpendapat bahwa Allah ta’ala belum menciptakan (lagi) orang yang seperti beliau”.

Daud bin Ali adh-Dhahiri mengatakan didalam kitabnya yang mengumpulkan manakibnya Imam Syafi’i, “Bagi Imam Syafi’I, beliau banyak sekali mempunyai keutamaan yang tidak dijumpai pada ulama yang lain. Mulai dari garis nasabnya yang mulia, kebenaran agama dan aqidahnya serta kedermawanan jiwanya, pengetahuan dirinya tentang ilmu hadits baik yang shahih maupun lemah, nasikh maupun mansukh, hafalannya pada al-Qur’an dan sunah, serta sejarahnya para khulafa, bagus dalam membuat karya tulis, kebaikan pada teman dan murid yang dimilikinya, Seperti Ahmad bin Hanbal, didalam sikap zuhud dan wara’nya serta keistiqomahanya didalam menekuini sunah”.

Diantara Perkataan Imam asy-Syafi’i
Imam Syafi’i pernah menuturkan, “Ilmu ada dua macam, ilmu agama yaitu ilmu fikih, dan ilmu dunia yaitu ilmu kedokteran. Adapun selain keduanya dari ilmu syair dan selainya maka itu kesia-sian dan sesuatu yang tidak berguna. Lalu beliau melantunkan bait syair:

Setiap ilmu selain al-Qur’an adalah kesibukan
Kecuali hadits dan ilmu fikih dalam agama
Ilmu itu adalah yang dikatakan telah menyampai pada kami
Selain dari pada itu adalah was-was setan

Beliau pernah ditanya, “Bagaimana nafsumu terhadap ilmu? Beliau menjawab, “Aku mendengar perhuruf dari sesuatu yang belum pernah aku dengar. Kecintaan pada anggota tubuhku kalau seandainya mereka punya pendengaran sehingga merasakan nikmat seperti kenikmatan yang dirasakan oleh kedua telingaku”. Lalu beliau ditanya, “Lantas bagaimana dengan semangatmu? Beliau menjawab, “Semangatnya orang pelit yang berusaha mengumpulkan harta didalam usahanya demi memperoleh harta yang diinginkan”. Kemudian beliau ditanya kembali, “Lalu bagaimana dengan pencarianmu pada ilmu? Beliau berkata, “Seperti pencariannya seorang ibu yang kehilangan anak semata wayang miliknya”. Imam Syafi’i menuturkan dalam bait syairnya:

Aku akan arungi jauhnya negeri nan luas
Demi tercapai keinginanku atau aku mati terasing
Bila diriku mati maka Allah lah yang akan mengganti tempat tinggalku
Dan bila aku selamat maka pulangnya aku untuk menemui keluarga

Beliau juga pernah mengatakan, “Membaca hadits itu lebih baik dari pada mengerjakan sholat sunah. Dan menuntut ilmu itu lebih utama dari pada mengerjakan sholat sunah”. Diantara pesan beliau ialah, “Barangsiapa mempelajari al-Qur’an, mulia kedudukannya, barangsiapa berbicara tentang fikih, akan tumbuh kemampuannya, barangsiapa menulis hadits, kuat argumennya, barangsiapa melirik ilmu bahasa, tabiatnya akan lunak, dan barangsiapa memperhatikan ilmu hisab, akan melimpah pendapatnya, dan bagi siapa yang tidak menjaga dirinya, maka tidak bermanfaat ilmu yang dimilikinya”.

Beliau menuturkan, “Aku berharap kalau seandainya manusia mempelajari ilmu ini, kemudian tidak ada sedikitpun yang dinasabkan pada diriku, aku masuk didalamnya namun manusia tidak memujiku”. Beliau juga mewanti-wanti pada pengikutnya dengan berkata, “Apabila engkau jumpai ada hadits shahih maka itulah madzhabku. Dan apabila ada hadits shahih maka lemparlah pendapatku ke tembok”.

Imam Syafi’i adalah seorang ahli ibadah serta zuhud pada dunia, dikatakan oleh Rabi bin Sulaiman, “Adalah Imam Syafi’i mencukupkan malamnya, sepertiga untuk menulis, sepertiganya lagi untuk sholat, dan sepertiga yang terakhir untuk digunakan tidur. Dan beliau biasa menghatamkan al-Qur’an pada bulan ramadhan sebanyak enam puluh kali. Dan pada setiap bulanya sebanyak tiga puluh kali”.

Diantara ucapan agung beliau ialah, “Ilmu itu adalah yang bermanfaat bukanlah ilmu itu yang hanya sekedar dihafal”. Beliau juga mengatakan, “Belum pernah aku merasakan kenyang semenjak sepuluh tahun yang lalu kecuali sekali, itupun aku muntahkan dengan cara memasukan jari kedalam tenggorokan. Karena rasa kenyang membikin badan menjadi malas dan membuat hati keras, serta menghilangkan kecerdasan, membawa rasa kantuk dan membuat malas beribadah”.

Beliau juga pernah menuturkan, “Tidaklah sempurna seseorang melainkan dengan empat perkara, agama, amanah, penjagaan, dan keteguhan”. Diantara perkataan beliau, “Orang yang berakal ialah yang mengekang akalnya dari semua perkara yang tercela”. “Orang yang tidak mulai dengan ketakwaannya maka tidak ada kemulian bagi dirinya”. “Aku tidak merasa takut pada kefakiran sedikitpun, orang yang berlebihan mencari dunia adalah siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla yang ditimpkan padanya ahli tauhid”.

Ditanyakan pada beliau, “Kenapa seringkali engkau memegang tongkat, bukankah kamu masih sehat? Beliau menjawab, “Supaya mengingatkan diriku kalau sedang bepergian”. Beliau menuturkan, “Barangsiapa enggan meninggalkan syahwat maka dirinya tidak akan terpisah dari menyembah dunia”. Beliau berkata, “Kebaikan ada di lima perkara, kaya hati, tidak menganggu orang lain, usaha halal, bertakwa, dan percaya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla“. “Jauhilah perbuatan maksiat, dan meninggalkan perkara yang tidak berguna niscaya itu akan menyebabkan hatimu bersinar, biasakanlah dirimu menyendiri dan jangan banyak makan, dan hati-hatilah bergaul dengan orang bodoh dan orang yang enggan melayanimu”.

Imam Syafi’i juga pernah menuturkan, “Apabila engkau berbicara pada perkara yang tidak berguna niscaya ucapanmu akan menguasaimu bukan kamu yang menguasainya”. “Rukun muru’ah itu ada empat perkara, akhlak mulia, dermawan, rendah diri dan giat beribadah”. “Rendah diri termasuk akhlak mulia, sedang sombong maka termasuk kebiasaan yang rendah, rendah diri melahirkan kecintaan, dan merasa cukup melahirkan ketenangan jiwa”.

Beliau mengatakan, “Jika engkau merasa khawatir amalanmu terkotori dengan rasa ujub, ingatlah keridhoan siapa yang sedang engkau cari, nikmat seperti apa yang engkau inginkan, dan adzab siapa yang engkau lari darinya. Maka barangsiapa yang memikirkan hal tersebut, akan terasa rendah amalan yang ia kerjakan”. Senjata menjadi pemimpin ada lima, jujur dalam berkata, menyembunyikan rahasia, memenuhi janji, mulai memberi nasehat dan menunaikan amanah.

Beliau juga mengatakan, “Kedudukan orang yang tertinggi ialah orang yang tidak melihat pada kedudukan tersebut, dan orang yang paling banyak memiliki keutamaan adalah yang tidak melirik pada keutamaan”. Perkataan dan wejangan beliau diatas tadi menunjukan akan kesempurnaan akal pikiran serta kefasihan beliau. Dimana para ulama memasukkan Imam Syafi’i dalam barisan orang-orang yang berotak jenius. Imam Dzahabi menjelaskan, “Demi Allah Tidaklah tercela bagi kami, untuk mencintai Imam ini. karena beliau termasuk ulama yang sempurna keilmuannya yang ada pada zamannya”.

Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i, dimanakah ada orang yang seperti beliau dari sisi kejujuran, kemulian, kehormatan, keluasan ilmu, kecerdasan, pembelaan terhadap kebenaran, dan keutamaan yang begitu banyak. Rabi bin Sulaiman mengatakan, “Kalau seandainya kepandaian Imam Syafi’i dibandingkan dengan setengah dari akal penduduk bumi niscaya akal beliau lebih baik. Kalau sekiranya dari Bani Israil tentulah mereka akan membutuhkannya”. Beliau adalah orang yang sangat dermawan yang tidak ada bandingannya, walaupun kebanyakan hidup yang beliau jalani selalu ditemani dengan kefakiran. Apabila beliau mendapat harta, beliau langsung menginfakkanya, mensedekahkan pada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Al-Humaidi mengkisahkan tentang beliau, “Imam Syafi’i pernah suatu kali datang ke Yaman dan bersama beliau ada dua puluh dinar. Kemudian beliau mendirikan kemah diluar Makah dan belum sampai sempurna kemahnya berdiri beliau telah mensedekahkan uang itu semuanya”. Abu Tsaur salah seorang sahabatnya mengkisahkan, “Syafi’i pernah punya keinginan pergi ke Makah dan bersama beliau ada sedikit uang. Aku katakan padanya, “Kalau sekiranya anda membeli dengan uang tersebut sedikit ladang untuk anakmu”.

Dan beliau sangat jarang sekali memegang uang disebabkan kedermawananya. Beliau kemudian pergi dan pulang, maka aku tanyakan padanya, dan beliau menjawab, “Aku tidak menjumpai di Makah ada ladang yang memungkinkan bagiku untuk membelinya, akan tetapi, aku membangun di Mina kemah yang bisa digunakan bagi saudara kita apabila berangkat haji sehingga mereka bisa bertempat disana”. Abu Tsaur mengomentarai, “Sungguh diriku menjadi paham, sehingga akupun ingin melakukannya”. Lalu beliau melantunkan bait syair:

Apabila pagi menyapa diriku masih bisa makan
Biarkanlah keinginan pergi dariku duhai Sa’id
Jangan khawatir akan masa depan yang datang
Sesungguhnya hari esok masih menyisakan rizki baru

Kematian Imam asy-Syafi’i.       
Al-Muzni mengkisahkan tentangnya, “Aku berkunjung pada Imam Syafi’i saat beliau sedang sakit yang mengantarkan pada kematiannya, aku tanyakan padanya, “Wahai Abu Abdillah, bagaimana kabarmu? Beliau mengangkat kepala lalu berkata, “Kabarku yang akan segara meninggalkan dunia, dan berpisah dengan para sahabatku, bertemu dengan amal jelek yang aku perbuat, dan kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla aku akan kembali. Sedang diriku tidak tahu kemana ruhku dibawa, apakah kesurga maka ku ucapkan selamat padanya atau ke nereka maka aku pun bersedih dengannya”. Kemudian beliau menangis tersedu-sedu, lalu berkata dalam bait syair:

Tatkala hatiku keras dan terasa sempit keyakinanku
Aku jadikan rasa harap pada Allah sebagai tanggaku
Betapa besar dosa yang ku perbuat, namun ketika aku bandingkan
Dengan ampunan Rabbku, sungguh ampunanNya lebih besar
Senantiasa Engkau Maha Pengampun atas segala dosa
Penyayang lagi mengampuni, menganugerahi serta memuliakan

Beliau meninggal di Mesir, tepatnya pada hari kamis, ada yang mengatakan, hari jum’at pada akhir bulan Rajab tahun 204 H, dengan usia lima puluh empat tahun. Begitu mulia kedudukannya dan semoga surga sebagai tempat kembalinya.

Berkata Rabi bin Sulaiman, “Aku melihat Imam Syafi’i setelah kematian beliau dalam mimpiku, aku pun bertanya padanya, “Wahai Abu Abdillah, apa yang diperbuat Allah Shubhanahu wa Ta’alla denganmu? Dia menjawab, “Mendudukan diriku diatas kursi yang terbuat dari emas dan menaburkan disekelilingku permata yang halus”.[2] Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati Imam Syafi’i, dan membalas atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan, serta menempatkan diri derajat yang tinggi.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة الإمام الشافعي Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Bidayah wa Nihayah 14/135.
[2] Siyar a’lamu Nubala 10/5-99. Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir 14/132-140.

Imam Ibnu Mubarak

IMAM IBNU MUBARAK

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah rangkaian kisah perjalanan hidup seorang ulama ahli ilmu dari para ulama umat ini. Imam dari kalangan para imam petunjuk, Allah Shubhanahu wa Ta’ala telah menolong agama Islam dengan perantaranya, serta menjadi penjaga sunah. Berkata Imam Dzahabi menjelaskan biografi beliau, “Syaikhul Islam, pemimpin para ahli takwa pada zamannya, al-Hafidh yang mumpuni, Abdullah bin Mubarak al-Handhali maula at-Turki kemudian al-Marwazi yang lahir pada tahun 118 H.

Beliau mulai menuntut ilmu pada usia yang kedua puluh tahun, beliau termasuk orang yang paling banyak melakukan perjalanan jauh dan berkeliling dunia guna menuntut ilmu, berjihad, berdagang, dan berinfak kepada saudaranya sesama muslim karena Allah Shubhanahu wa Ta’ala. Dengan menyiapkan segala keperluan mereka untuk berangkat haji bersamanya. Syu’aib bin Harb menjelaskan, “Aku pernah mendengar Abu Usamah berkata, “Ibnu Mubarak dalam Kalangan ahli hadits semisal amirul mukminin dikalangan manusia”. Dan Kebiasaan yang beliau lakukan adalah banyak duduk dirumahnya sampai pernah dikatakan padanya, “Tidakkah engkau merasa jenuh? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku merasa jenuh sedangkan diriku bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (karena menyibukkan diri untuk mentelaah hadits)”.

Asy’ats bin Syu’bah mengatakan, “Tatkala khalifah ar-Rasyid datang ke Ruqah maka orang-orang berhamburan lalu berdiri dibelakang Ibnu Mubarak, tali sendal saling terputus, debu pun berterbangan, maka Ibunya Amirul mukminin melongokkan kepalanya keluar dari tempat tandunya. Lalu bertanya, “Siapa dia? Mereka menjawab, “Ulama dari ahli Khurasan telah datang”. Lalu dia berkata, “Demi Allah, inilah raja sesungguhnya, bukan seperti kerajaanya Harun yang tidak berkumpul melainkan orang-orang tertentu dan para bangsawan”.

Muhammad bin ‘Ayan menceritakan, “Aku pernah mendengar Abdurahman bin Mahdi berkata, sedang waktu itu berkumpul disisinya para pakar hadits yang mana mereka menanyakan pada beliau, “Engkau telah berguru kepada ats-Tsauri dan mendengar hadits darinya, begitu pula anda telah berguru kepada Ibnu Mubarak, manakah yang lebih utama dari keduanya? Beliau menjawab, “Kalau seandainya Sufyan ats-Tsauri berusaha dalam suatu hari untuk semisal Abdullah bin  Mubarak tentu dirinya tidak akan sanggup”.

Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Sungguh diriku tidak punya hajat untuk mengerahkan umurku seluruhnya untuk suatu ketika menjadi semisal Ibnu Mubarak. Aku tidak sanggup untuk menjadi seperti dia tidak pula dalam waktu yang singkat”. Sedang Ibnu Uyainah mengatakan, “Aku melihat kepada perkaranya para sahabat, dan membandingkan dengan perkaranya Abdullah bin Mubarak maka aku tidak menjumpai keutamaan mereka dibanding dengan Abdullah melainkan shuhbah (bersahabat) bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka berjihad bersama beliau”.

Ibnu Mubarak menyatakan, “Aku pernah meminjam sebuah pena pada penduduk Syam maka akupun pergi ke sana untuk mengembalikannya. Tatkala diriku baru sampai di Muru maka aku jumpai ternyata orangnya ada disana lantas aku kembali ke Syam sampai kiranya aku kembalikan kepada pemiliknya”. Pernah suatu ketika berkumpul semisal al-Fadhl bin Musa, Makhlad bin Husain, lalu mereka mengatakan, “Mari kita coba hitung pintu-pintu kebaikan yang dilakukan oleh Ibnu Mubarak. Maka mereka mulai menghitungnya, “llmu, fikih, adab, nahwu dan bahasa, zuhud, berbahasa secara fasih, sya’ir, sholat malam, ibadah, haji, jihad, pemberani, jago naik kuda, kuat, meninggalkan ucapan yang tidak penting, adil, dan sangat sedikit berselisih bersama para sahabatnya”.

Pernah suatu ketika dikatakan pada Ibnu Mubarak, “Jika engkau usai sholat kenapa tidak pernah duduk-duduk bersama kami? Beliau menjawab, “Justru aku duduk bersama para sahabat dan tabi’in. Aku menelaah buku-buku dan atsar-atsar mereka. Kalau bersama kalian apa yang harus aku perbuat? Sedang kalian senangnya mengunjing orang lain”.  Nu’aim bin Hamad pernah mengatakan tentang beliau, “Adalah Ibnu Mubarak jika beliau membaca kitab yang berkaitan masalah hati maka beliau seperti onta atau sapi yang disembelih karena menangis, tidak ada seorangpun diantara kami yang menanyakan perihal itu pada beliau kecuali beliau tidak menanggapinya”.

Diriwayatkan bukan hanya seorang, bahwa Ibnu Mubarak pernah ditanya, “Sampai kapan engkau akan menulis hadits? Beliau menjawab, “Mungkin ada kata yang bermanfaat bagiku yang belum sempat aku menulisnya”. Beliau adalah saudagar yang kaya raya lagi pandai bersyukur dan dermawan, berkata Salamah bin Sulaiman, “Pernah suatu ketika ada seseorang datang kepada Ibnu Mubarak lalu memohon supaya melunasi hutang-hutangnya. Maka beliau menulis surat pada orang tersebut supaya dikasih kepada pegawainya. Tatkala surat tersebut sampai pada sang pegawai, ia bertanya, “Berapa hutang yang engkau minta supaya dilunasi? Dia menjawab, “Tujuh ratus dirham”.

Akan tetapi Ibnu Mubarak telah menulis pada pegawainya supaya memberi orang tersebut sebanyak tujuh ribu dirham. Maka pegawai tadi menyuruh supaya menghadap beliau lagi, lalu dia berkata, “Sesungguhnya hartamu akan habis”. Maka Abdullah menulis kembali padanya kalau hartaku habis, maka sesungguhnya umur juga akan habis, beri uang sebanyak apa yang aku tulis”. Beliau juga pernah berkata kepada Fudhail bin Iyadh, “Kalaulah bukan karenamu dan para sahabatmu tentu aku tidak akan berniaga”. Dan beliau punya kebiasaan selalu berinfak kepada fakir miskin pada setiap tahunnya sebanyak seratus ribu dirham.

Ali bin Fudhail mengkisahkan, “Aku pernah mendengar ayahku berkata kepada Ibnu Mubarak, “Engkau yang menyuruh kami untuk zuhud dan tidak banyak mengumpulkan harta, serta hidup apa adanya. Namun, kami justru melihat engkau datang dengan harta dagangan, bagaimana ini? Dia menjawab, “Wahai Abu Ali, aku melakukan ini hanya untuk menjaga wajahku, memuliakan kehormatanku serta untuk menolongku didalam ketaatan kepada Rabbku”. Ayahku berkata, “Duhai Ibnu Mubarak betapa indahnya kalau bisa demikian”.

Muhammad bin Isa mengatakan, “Adalah Ibnu Mubarak seringkali bolak-balik pergi ke Thurtus. Biasanya rombongan berhenti didaerah yang bernama Khan. Ditempat tersebut ada seorang pemuda yang sering bertemu dengannya, membantu keperluannya serta mendengar hadits darinya. Pada suatu waktu Abdullah bin Mubarak datang berkunjung ketempat tersebut, namun beliau tidak menjumpai pemuda tersebut, maka beliau keluar ke medan jihad dengan tergesa-gesa, tatkala kembali maka beliau menanyakan kabar pemuda tadi, diantara kabar yang didapatkan, bahwa pemuda tersebut sedang  bingung dikarenakan terlilit hutang sebanyak sepuluh ribu dirham. Lalu beliau pun segera meminta petunjuk rumah yang memberi pinjaman, setelah bertemu beliau membayar hutang pemuda tadi sebanyak sepuluh ribu dirham sambil bersumpah agar tidak memberi tahu seorangpun selagi dirinya masih hidup. Akhirnya sang pemuda terbebas dari jerat hutang berkat kedermawanan Ibnu Mubarak.

Kemudian beliau bertemu dengan sang pemuda sejauh perjalanan dua hari dari Ruqah. Lantas beliau menanyakan kabarnya, “Duhai anak muda dari mana kiranya kamu, sudah lama aku tidak menjumpaimu? Dirinya menjawab, “Ada seorang yang baik hati telah melunasi hutang-hutangku yang aku tidak tahu siapa dia”. Ibnu Mubarak berkata, “Bersyukurlah kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala“. Sang pemuda tadi tetap tidak tahu siapa orangnya, dirinya baru mengetahui setelah Abdullah bin Mubarak meninggal dunia. Adalah Ibnu Mubarak apabila datang musim haji maka orang-orang dari penduduk Muru berkumpul disisi beliau sambil mengatakan, “Kami ingin pergi haji bersamamu”. Beliau mengatakan, “Mari, sini kumpulkan harta perbekalan kalian”.

Beliau lalu mengumpulkan bekal mereka lalu meletakan disebuah kotak kemudian menguncinya. Selanjutnya beliau berkumpul dan keluar bersama-sama dari Muru menuju Baghdad sedang beliau yang menanggung semua kebutuhan perjalanan mereka. Memberi makan dengan makanan yang paling mewah, menjamu dengan buah-buahan yang lezat. Dari sana kemudian mereka lanjutkan perjalanan keluar dari Baghdad dengan pakaian yang paling indah dan bagus sampai akhirnya mereka sampai dikota Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya disana beliau menanyakan satu persatu, “Apa yang engkau inginkan sebagai oleh-oleh untuk keluargamu? Mereka menjawab, “Ini dan itu”.

Lalu mereka keluar dari Madinah menuju Makah, manakala mereka telah selesai melaksanakan manasik ibadah haji, beliau bertanya kembali pada setiap orangnya, “Hadiah apa yang engkau sukai untuk diberikan kepada keluargamu dari cendera mata Makah? Mereka menjawab, “Ini dan itu”. Beliau pun membelikan keinginan mereka semua.

Kemudian mereka keluar dari Makah untuk kembali kekampung halaman, dan beliaulah yang menanggung semua biaya perjalanan sampai akhirnya mereka sampai di Muru dan kembali kerumahnya masing-masing. Manakala tiga hari sesudah kepulangan mereka, beliau mengundang dan menjamu makan dirumahnya, tatkala mereka sudah makan dan merasa senang, beliau lalu meminta pegawainya untuk mengambilkan kotak yang berisi uang mereka, beliau membuka lalu mengembalikan kepada mereka semua sesuai dengan nama-nama yang tercantum pada kotak tersebut.

Tatkala beliau ditegur kenapa beliau lebih memilih untuk membagi-bagi harta dipenjuru negeri dan tidak lebih mementingkan negerinya. Beliau beralasan, “Sesungguhnya aku mengetahui tempat orang-orang yang punya keutamaan, jujur, dan senang mengumpulkan hadits dan tekun didalam mencarinya demi kebutuhan manusia terhadap mereka jikalau mereka membutuhkan. Jika sekiranya kita tinggalkan mereka tentu akan sia-sia ilmu yang mereka miliki. Dan bila kita bantu mereka, maka mereka akan mudah untuk menyebarkan ilmu kepada umatnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedang aku tidak mengetahui setelah kenabian yang lebih utama dari pada rumah ilmu”.

Ini merupakan pesan yang tersirat bagi para pedagang agar mereka senang untuk menginfakan hartanya bagi para fakir, orang-orang yang membutuhkan, para penuntut ilmu, program kebaikan serta yayasan sosial. Sesungguhnya dengan melakukan hal tersebut akan menjadikan harta dan kekayaannya berbarokah. Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ » [أخرجه أحمد]

Kenikmatan pada harta yang baik adalah ketika berada ditangan orang sholeh“. [HR Ahmad 29/299. no: 17763]

Didalam hadits lain dijelaskan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

Tidaklah pagi menyapa seorang hamba melainkan ada dua malaikat yang turun kepadanya. Lalu salah satunya berdo’a: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak”. Sedang satunya lagi berdo’a: “Ya Allah, berilah kebinasaan bagi harta orang yang pelit“. [HR Bukhari no: 1442. Muslim no: 1010]

Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ » [أخرجه مسلم]

Sedekah tidak akan mengurangi sedikitpun dari harta benda“. [HR Muslim no: 2588]

Diantara petuah-petuah beliau adalah, “Adakalanya amalan sedikit menjadi banyak disebabkan niat, dan adakalanya amalan besar menjadi kecil gara-gara niat”. Beliau juga pernah berkata,  “Barangsiapa yang meremehkan para ulama maka sungguh akhiratnya telah hilang. Barangsiapa yang memandang remeh pada penguasa maka dirinya akan kehilangan dunia. Dan barangsiapa yang memandang bodoh saudaranya maka harga dirinya telah pergi”.

Ali bin Hasan mengatakan, “Aku pernah mendengar Ibnu Mubarak ditanya oleh seseorang tentang nanah yang keluar dari lututnya yang telah dideritanya semenjak tujuh tahun yang lalu. Dirinya menjelaskan, “Aku telah mengobati dengan berbagai ramuan, dokter juga telah aku tanyai, namun tidak ada tanda-tanda kesembuhan”. Beliau berkata padanya, “Pergilah, lalu galilah sebuah sumur ditempat (orang) yang membutuhkan air, aku berharap semoga disana ada mata air, lalu engkau gunakan untuk menahan lukamu tersebut”. Orang tersebut mematuhi perintahnya, dan betul akhirnya dia sembuh dari penyakitnya.

Suwaid bin Sa’id mengatakan, “Aku pernah melihat Ibnu Mubarak di Makah dengan mendatangi air zam-zam lantas beliau mengambil airnya untuk diminum, kemudian beliau menghadap ke kiblat dan berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya Ibnu Abi Mawal mengabarkan pada kami dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Air zam-zam sesuai dengan hajat yang meminumnya“. Maka kini, aku meminumnya untuk mengobati kehausanku kelak pada hari kiamat”. Kemudian beliau meminumnya.  Muhammad bin Ibrahim menceritakan, “Ali bin Ibnu Mubarak pernah mengimla untuk kami pada tahun 177 H, sebuah syair yang kami sampaikan kepada Fudhail bin Iyadh dari Thurtus:

Duhai ahli ibadah dua tanah haram, jikalau engkau menyaksikan kami
Tentu engkau mengira kalau kami bermain-main
Duhai yang pipinya selalu basah oleh air mata
Sedang leher kami hanya mengalirkan darah
Duhai orang yang selalu berjihad dengan keberanian
Adapun kuda kami hanya capai menderum
Debu memenuhi tubuhmu dan kami hanya melewatinya
Demi menebas musuh engkau pacu kudamu
Telah sampai kepada kita berita dari Nabi
Sabdanya yang shahih lagi jujur tidak didustakan
Tidak akan berkumpul debu jihad dijalan Allah
Pada diri seseorang dengan uap dari jilatan api neraka
Perhatikan pula al-Qur’an yang berbicara kepada kami
Yang tidak bisa didustakan, jika seorang syahid tidaklah binasa

Maka ketika Fudhail menerima surat tersebut tatkala di Makah, beliau lalu membacanya dan menangis, kemudian berkata, “Benar apa yang dikatakan oleh Abu Abdurahman”. Tatkala beliau telah meninggal ada salah seorang sahabatnya yang melihat beliau didalam mimpi, lalu ditanyakan padanya, “Apa yang telah Allah Shubhanahu wa Ta’ala perbuat untukmu? Beliau menjawab, “Allah telah mengampuniku dengan sebab perjalananku untuk mencari hadits”. Dan beliau berpesan, “Pegangilah al-Qur’an, pegangilah al-Qur’an”.

Beliau meninggal pada tahun 181 H pada usianya yang ke enam puluh tiga tahun. Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Dan membalas dengan sebaik-baik balasan atas jasanya kepada Islam dan kaum muslimin, dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kami bersamanya dikampung kenikmatan, bersama para Nabi, shidiqin, para syahid dan orang-orang sholeh, merekalah sebaik-baik teman.[1]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الإمام عبد الله بن المبارك وشيء من أخباره Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] . Lihat Siyar ‘alamu Nubala 8/378-421.

Si Mulia Hati dan Sang Penjaga kehormatan Diri

SI MULIA HATI DAN SANG PENJAGA KEHORMATAN DIRI

Dari Ibrahim bin Sa’d dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata:

قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ بَيْنِي وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ فَقَالَ سَعْدُ بْنُ الرَّبِيعِ إِنِّي أَكْثَرُ الْأَنْصَارِ مَالًا فَأَقْسِمُ لَكَ نِصْفَ مَالِي وَانْظُرْ أَيَّ زَوْجَتَيَّ هَوِيتَ نَزَلْتُ لَكَ عَنْهَا فَإِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا قَالَ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ قَالَ سُوقُ قَيْنُقَاعٍ قَالَ فَغَدَا إِلَيْهِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَتَى بِأَقِطٍ وَسَمْنٍ قَالَ ثُمَّ تَابَعَ الْغُدُوَّ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَلَيْهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَمَنْ قَالَ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ كَمْ سُقْتَ قَالَ زِنَةَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاة

Abdur Rahman bin ‘Auf  Radhiyallahu anhu berkata : “Ketika kami sampai ke Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan aku dengan Sa’ad bin ar Rabi’ Radhiyallahu anhu .”
Maka Sa’ad bin ar Rabi’ Radhiyallahu anhu menawarkan : “Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya. Akan ku serahkan setengah hartaku untukmu. Dan coba lihat, wanita mana dari istriku yang engkau inginkan. Aku akan menceraikannnya. Bila telah selesai iddahnya, engkau bisa menikahinya”.
‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu menjawab: “Saya tidak menginginkannya. Apakah ada pasar tempat perdagangan ( di sini)?”.
Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata: “Pasar Bani Qainuqa’”
Maka ‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu bergegas ke sana dan pulang membawa susu kering dan minyak samin. Ia terus menjalani aktifitas itu. Sampai akhirnya terlihat muncul dengan aroma wewangian.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertanya: “Apakah engkau baru menikah?”
Ia menjawab: “Benar”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Dengan siapa?”.
Ia menjawab: “Dengan seorang wanita Anshar”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Berapa banyak mahar yang engkau serahkan?”
Ia menjawab: “Emas sebesar biji kurma”.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan : “Selenggarakan walimah meski dengan seekor kambing”.[1]

Refleksi Dari Kisah di Atas[2]:
Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya”.

Itulah informasi dari Sa’ad bin Ar Rabi’ Radhiyallahu anhu kepada saudara barunya, Abdur Rahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu . Sahabat yang mulia itu tidak berkata ‘aku punya harta’ atau mengatakan ‘hartaku sedikit’. Tidak mencari-cari alasan untuk menutup-nutupi seberapa banyak uang yang ia miliki. Begitu pula, tidak muncul dari lisannya ‘utang-utangnya masih banyak’ guna menolak saudaranya dari kaum Muhajirin. Subhanallah

Akan ku serahkan setengah hartaku untukmu”.

Sa’ad tidak sedang menawarkan beberapa keping dirham atau dinar saja!. Akan tetapi. Separo dari harta miliknya!. Alangkah menakjubkan jiwanya!. Jiwa sahabat ini, bukanlah jiwa orang kebanyakan yang sering kita kenal dan kita saksikan. Jiwa yang berhasil menggenggam perilaku suci yang bersumber dari Kitabullah. Jiwa yang sudah mengakar padanya ruh berkorban melalui tempaan pendidikan nubuwwah.

Sungguh memprihatinkan hubungan kita dengan karib kerabat dan sanak saudara. Meski seiman, akan tetapi lantaran jauhnya kita dari agama, hubungan mesra seperti itu tidak terimajinasikan.

Sebuah tali persaudaraan yang berdasarkan agama, yang sanggup meluluhkan pertimbangan-pertimbangan matematis. Rahasianya, berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu membersihkan hati, mengkondisikannya selalu melihat akhirat, menciptakan jiwa yang mementingkan kepentingan orang lain dan berani berkorban.

Apakah dengan itu, Sa’ad Radhiyallahu anhu sedang menyia-nyiakan hartanya?. Jawabannya, sama sekali tidak! Justru pilihannya itu salah satu wahana yang baik untuk menginvestasikan apa yang ia miliki. Sebuah usaha investasi untuk perkampungan di akhirat.

Coba sekarang saksikan, orang-orang yang memiliki uang jutaan, bahkan milyaran, bagaimana mereka memporak-porandakan kehidupan akhirat mereka. Bila langkah-langkah mereka ditinjau melalui kacamata prinsip perdagangan, usaha mereka tidak menjanjikan. Justru malah membekukannya.

Jelasnya, orang yang memiliki nominal uang yang besar, apakah yang akan ia lakukan bersama keluarganya terhadap makanan, minuman, pakaian dan rumah?. Apakah mereka akan memakai melebihi kebutuhannya?. Siapakah yang memanfaatkan sisanya?.

Anggap saja, seorang milyader mempunyai sepuluh, seratus atau seribu mobil, apakah ia akan mengendarai seluruhnya dalam perjalanan pulang perginya?. Di siang hari, jika suguhan hidangan makan siangnya seratus ekor ayam bakar dan seratus ekor kambing daging lunak, berapa banyak yang akan ia telan? Bukankan ia hanya akan memakan sesuai dengan kebutuhannya dan meninggalkan sisanya?.

Seandainya mereka membelanjakan harta mereka itu di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala , sudah tentu akan lebih baik bagi agama dan dunia mereka. Sehingga kekayaan tetap melekat pada diri mereka di dunia dan akhirat.

Dan coba lihat, wanita mana dari istriku yang engkau inginkan. Aku akan menceraikannnya. Bila telah selesai iddahnya, engkau bisa menikahinya”.

Apakah mungkin ucapan di atas keluar dari mulut manusia?. Apakah cerita ini pernah terjadi?. Ya, ada manusia yang tubuhnya terdiri dari daging dan darah yang pernah mengucapkannya. Akan tetapi, ia hidup bersama nilai-nilai Kitabullah dan terdidik dibawah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup dengan denyut ilmu, amal dan keikhlasan. Benar-benar merasa nikmat untuk menyelesaikan persoalan yang melilit saudaranya.

Orang-orang semisal Sa’ad Radhiyallahu anhu, bukan berarti tidak membutuhkan wanita. Orang-orang sekaliber mereka tentu tidak lupa dengan hadits :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik bagi keluarganya. Dan aku orang yang terbaik bagi keluargaku”.[3]

Kecintaan dan kesetiaan mereka kepada istri-istri tidak mampu mengalahkan cinta mereka kepada Allah.

Maka, cobalah orang-orang yang ingin mencarikan lelaki kaya bagi putrinya merenungi perkataan Sa’ad ini. Dengarlah perkataan Sa’ad ini, wahai orang tua yang menyampaikan alasan-alasan yang dibuat-buat untuk menolak lelaki yang berhasrat meminang putrinya, lantaran ia berasal dari status social rendah atau tidak punya apa-apa. Berbagai alasan yang sejatinya hanya kedustaan.

Sa’ad Radhiyallahu anhu  menyerahkan harta dan istrinya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala . Kapan kita menyisihkan harta kita bagi orang-orang miskin dan yang membutuhkan?!

“‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu menjawab: “Saya tidak menginginkannya. Apakah ada pasar tempat perdagangan ( di sini)?”. Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata: “Pasar Bani Qainuqa’

‘ Abdur Rahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu tidak memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh si baik hati. Tidak terbetik pada dirinya untuk berfikir : Mumpung saudaraku ini berharta banyak. Andai aku terima tawarannya itu, tetap saja tidak merugikannya”. Sahabat yang termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni syurga ini ternyata enggan menerima tawaran tersebut. Ia menolaknya. Bagaimana mungkin akan menerima tawaran untuk mengambil istri Sa’ad?!. Yang keluar dari lisannya, justru pertanyaan tentang keberadaan pasar dan letaknya untuk memulai perniagaan. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan pribadinya dan tetap dapat memelihara muru`ah (kehormatan)nya.

Itulah langkah yang ditempuh dan Allah memberikan barokah bagi usahanya. Pernikahan pun akhirnya bisa terlaksana. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong siapa saja yang berazam untuk menikah demi menjaga kehormatan jiwanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ الْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْعَفَافَ

Ada tiga golongan, Allah mewajibkan atas Dzatnya untuk membantunya: (yaitu) Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri dan budak yang berusaha membeli dirinya sendiri hingga menjadi orang merdeka [HR Ahmad dan At-Tirmidzi]

Itulah potret jiwa yang terjaga, bersih lagi suci. Itulah gambaran jiwa yang bening lagi baik. Teladan dalam kemurahan, pengutamaan kepentingan orang lain yang membutuhkan, kerja keras dan tawakkal kepada Allah Ta’ala.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1]  HR. al Bukhari 2048
[2]  Syaikh  Husain  bin ‘Audah al ‘Awayisyah  Mu`akhâtur Rasûl Baina Abdir Rahmân bin ‘Auf wa Sa’d bin Ar Rabî’ Dar. Ibni ‘Affân Cet. I Th. 1412H – 1991 M.
[3] Ash Shahîhah no. 285

Sekilas Tentang Syaikh Ali Hasan al-Halabi

SEKILAS TENTANG SYAIKH ALI HASAN AL-HALABI

Beliau dilahirkan di kota Zarqo, Yordania pada 29 Jumadil Tsani 1380 H (1960 M). Nama beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Yafi al-Halabi al-Atsari. Al-Yafi nisbat pada tempat asal beliau (Jaffa, di barat daya Palestina). Al-Halabi nisbat beliau kepada Aleppo, Syria. Al-Urduni nisbat pada tempat keluarganya berhijrah, Yordania. Dan al-Atsari menunjukkan manhaj beliau sebagai pengikut Atsar.

Beliau mulai mencari ilmu ketika berusia 20 tahun lebih sedikit. Guru beliau yang paling masyhur adalah ulama besar, ahli Hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani , kemudian ulama ahli sastra, Syaikh Abdul Wadud az-Zarori , dan ulama lainnya.

Beliau memiliki ijazah (pengakuan) dalam bidang agama secara umum dan hadits secara khususnya, dari beberapa ulama seperti Syaikh Badi`uddin as-Sindi, Syaikh Muhammad asy-Syanqithi dan lainnya.

1. Syaikh Ali dan Syaikh al-Albani
Syaikh Ali al-Halabi merupakan pentahqiq (peneliti), ahli Hadits dan beliau termasuk murid dan sahabat Syaikh al-Albani, bahkan termasuk murid dan sahabat khusus. Beliau banyak bermulazamah (duduk belajar) terhadap ulama, imam besar dalam ilmu dan dakwah ini yaitu Syaikh al-Albani.

Syaikh Ali mendampingi al-Imam al-Albani dalam sebagian safarnya dan banyak mendampingi pada saat mukimnya, menghadiri majelis-majelis beliau baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum, mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah yang banyak nan beraneka ragam, dan itu berjalan dalam kurun waktu yang sangat lama sekali tidak kurang dari 1/4 abad. Dengan demikian Syaikh Ali sangat banyak mendapatkn manfaat dari jawaban-jawaban, pelajaran-pelajaran dan ilmu-ilmu yang beraneka ragam dari Syaikh al-Albani, yang hal ini hampir tidak didapat oleh yang lainnya.

Syaikh Ali banyak membantu Imam al-Albani menyiapkan banyak karya-karyanya untuk diterbitkan, baik terkait dengan Hadits maupun lainnya, menyiapkan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, bermulazamah di akhir-akhir hidup Imam Albani di rumahnya dan di perustakaannya.

Hubungan keduanya sangatlah erat, sehingga dengan banyak pertemuan-pertemuan Syaikh Ali bertambah dalam dan kuat ilmunya dan dapat menimba ilmu dari mata air salaf yaitu Imam al-Albani, mengambil metode ahli Hadits dalam belajar, memahami, menuntut ilmu dan pengamalan. Setelah itu, disebarluaskanlah ilmu yang banyak dan beraneka ragam yang telah didapat tersebut dalam bentuk buku-buku yang banyak, yang membahas dakwah, dan juga banyak menulis makalah-makalah berharga terkait dengan manhaj yang dimuat dalam majalah, surat kabar dan yang lainnya. Semua itu pada masa hidup Imam Albani.

Dengan kerendahan hati ketika menulis, Syaikh Ali menyodorkan karya-karyanya kepada Syaikhnya dan gurunya (yaitu Imam Albani) untuk dimuroja’ah (membacanya kembali), dan Imam Albani pun membaca kembali sebagian karyanya dan bahkan Imam Albani pun ridho untuk ditulis namanya di samping nama muridnya.

2. Pujian Syaikh al-Albani kepada Syaikh Ali Hasan al-Halabi
Syaikh Albani benar-benar mengetahui karya-karya muridnya ini, yang berada di atas manhaj yang benar dan hujjah yang kuat, sehingga banyak memujinya dan mengarahkan para pembaca bukunya untuk membaca dan menelaah karya-karyanya. Imam Albani mengatakan tentangnya, “Dia (Syaikh Ali) termasuk saudara kita yang kuat dalam ilmu ini yaitu ilmu Hadits.” (Lihat as-Silsilah as-Shohihah: 2/720, as-Silsilah ad-Dho’ifah: 1/7, as-Silsilah as-Shohihah: 7/354-371 dan Su’al wa Jawab Haula Fiqil Waqi’ : 26, karya Imam al-Albani)

Dan Syaikh Albani mensifati Syaikh Ali dengan “sahabat kita yang mulia” dalam kitab Arrodul Mufhim: 79, mensifati bantahan-bantahan Syaikh Ali dengan sebutan “bantahan yang berharga”, sebagaimana disebutkan dalam Adabuz Zifaf: 7-8, menyebutkan dalam as-Silsilah as-Shohihah: 7/947 tentang Ibnu Hajar ketika membawakan Hadits dalam kitabnya Atroful Musnad: ”Telah memberikan faidah kepadaku saudara Ali Hasan melalui telepon, jazahullohu khoiron“ dan mengatakan dalam as-silsiah as-Shohihah: 6/8: “Demikian pula saudara Ali al-Halabi, sungguh saya telah mendapatkan komentar-komentarnya yang ditulis pada kitab asli yang masih saya tulis dengan tanganku…”

Dan Syaikh Albani memanggil Syaikh Ali di awal kitab ar-Roudhoh Nadiah: 1/4 dengan sebutan ”Anak kami, sahabat kami, saudara Abul Harits” dan memanggilnya juga ”.. kepada sahabat kami dan tilmidz (murid) kami yang muda Ali al-Halabi…” demikian yang tertulis dalam kitab Hukmi Tariki as-Sholat: 45.

Bahkan tatkala muncul fitnah Abu Ruhayyim yang berbuat dzolim dan menuduh Syaikh Ali al-Halabi tentang akidahnya, maka Syaikh Albani mengatakan kepada Abu Ruhoyyim: “Apabila akidahmu seperti akidahnya 3 syaikh yang kamu bela yaitu Bin Baz, Ibnu Utsaimin dan al-Albani, padahal akidah saudara Ali seperti mereka. Dan apabila akidahmu berbeda dengan akidahnya saudara Ali maka saya siap duduk denganmu (untuk berdiskusi, pent).” Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh Azmi al-Jawabiroh dalam risalahnya yang hal itu dipersaksikan juga oleh 2 saudara yang mulia Lafi asy-Syatorot dan Kamil al-Qoshshosh, itu terjadi pada tanggal 20 Robiul Awwal 1422H, dan Syaikh Azmi al-Jawabiroh menukil ucapan imam Albani, beliau mengatakan “saudara al-Halabi sebanding seribu satu Abu Ruhayyim”.

Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan menukil dari Syaikh al-Albani bahwa Syaikh Albani menjuluki Syaikh Ali sebagai “pemilik pena yang berjalan dan seorang ustadz yang produktif”. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Imam al-Albani Durusun al-Mawaqif wa al-Ibar, hal. 170.

Disebutkan juga dalam risalah yang berjudul Sofahat Baidho’ min Hayati al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, hal. 52 bersumber dari sebagian cucu Syaikh al-Albani, bahwasanya Syaikh al-Albani mengatakan: “Dua orang yang paling menguasai ilmu hadits sekarang adalah Ali al-Halabi dan Abu Ishaq al-Khuwaini.”

Syaikh yang mulia Abu Abdillah Azad pernah mendengar Syaikh al-Albani di rumah saudara Abdurrohim di Yordania bahwa beliau pernah ditanya tentang suatu hadits, tapi beliau tidak ingat dan tidak hapal derajatnya, beliau mengisyaratkan kepada Syaikh Ali ”Tanyakan al-Hafidz Ali al-Halabi”, maka kami pun menanyakan kepadanya pada saat Syaikh al-Albani ada di situ dan Syaikh Ali menjawab, ”Hadits itu shohih”, kemudian beliau berdiri dan masuk ke maktabah saudara Abdurrohim dan mengeluarkan hadits dari Shohih al-Jami’.”

Abu Abdillah Azat juga pernah mengatakan, aku juga pernah bertanya pada Syaikh al-Albani ketika beliau hendak safar ke emirat, “Siapa yang paling layak kami tanya setelah Anda wahai Syaikh?” Maka beliau menjawab, “Bertanyalah kepada Ali al-Halabi karena dia paling dekat dengan sunnah.”

Ini menunjukkan banyaknya pujian Syaikh al-Albani kepada muridnya yaitu Syaikh Ali al-Halabi dan kitab-kitabnya seraya mensifati dengan panggilan saudara, murid, syaikh, sahabat, dan lain sebagainya dari panggilan-panggilan penghormatan yang itu menunjukkan keistimewaannya dalam berbagai macam ilmu, dan syaikh Ali banyak ikut serta dalam berbagai macam tugas dan proyek ilmiah baik itu dalam masalah fikih, hadits, manhaj, sehingga tidak heran ketika syaikh Ali paling banyak disebutkan dalam kitab-kitab Syaikh Albani.

3. Perkataan Para Ulama Terhadap Syaikh Ali Hasan
Sesungguhnya dalam hidup, yang namanya pujian itu perkara yang biasa terjadi. Dan pujian kalau datang dari orang jahil maka kurang berarti, berbeda apabila pujian itu bersumber dari para ulama dan rekomendasi dari mereka, maka ini mengandung arti dan bertambah berarti lagi apabila datang fitnah dan tuduhan yang tidak-tidak di arahkan kepada seseorang. Oleh karena itu berikut ini kami nukilkan pujian para ulama kepada Syaikh Ali Hasan dan rekomendasi yang diarahkan kepadanya, untuk menghilangkan kedzoliman:

Pujian Syaikh Bin Baz.
Beliau mengatakan dalam memberikan taqridz terhadap kitab Syaikh Ali yang membantah Dr. al-Askar: Saya memandang agar bantahan ini disebarkan karena mengandung faidah yang besar dan untuk menghilangkan kerancuan. Mudah-mudahan Alloh membalas Anda dengan balasan yang baik, dan saya telah memerintahkan untuk menyebarkanya di majalah al-Buhuts al-Islamiyah karena faidah yang dikandungnya.

Dan beliau Syaikh Bin Baz juga mengatakan tentang kitab yang sama: Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz yang ditujukan kepada saudara yang mulia, shohibul fadhilah Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi -waffaqohulloh lima fihi ridhohu-, salaamun ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh, amma ba’du, surat Anda telah sampai kepadaku pada tanggal 25/11/1418H mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan hidayah dan petunjuk. Saya telah menelaah kitab bantahan Anda terhadap kitab Dr. Abdul Aziz al-Askar (tentang diri yang mulia as-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani), saya menilai bahwa bantahan Anda adalah bantahan yang sangat berharga, membawa berkah lagi sangat memuaskan. Dan sungguh Anda telah menggunakan gaya bahasa yang bagus, dan Alloh telah memberikan taufiq kepadamu untuk bersikap lembut terhadap orang yang Anda bantah, saya meminta kepada Alloh agar melipatgandakan pahala…”

Pujian Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin.
Berkata Ahmad bin Ismail as-syaukani, telah menceritakan kepadaku Abdulloh Qomaruddin al-Bakistani as-Salafi, beliau berkata, “As-Syaikh al-Imam Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang berbagai macam pertanyaan di musim haji tahun (1420 H) dan beliau menjawabnya, kemudian dalam sebagian pertanyaan beliau mengisyaratkan kepada Syaikh Ali sambil mengatakan, “Tanyakanlah kepada al-Bahr (lautan, istilah untuk orang yang banyak ilmunya)”. Maka Syaikh Ali mengatakan, “Saya kira ini bercanda, saya bukan al-Bahr (lautan) dan tidak pula an-Nahr (sungai) tidak pula lainnya, nastaghfirulloh dan kita mengharap husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik)”, kemudian berdo’a seperti do’a yang diucapkan Abu Bakar ash-Shiddiq tatkala mendapat pujian: “Ya Alloh jangan kau siksa saya sebab apa yang yang mereka ucapkan, dan ampunilah saya terhadap apa yang tidak mereka ketahui dan jadikanlah saya lebih baik dari apa yang mereka duga”. Dan masih ada pujian al-Imam Ibnu ‘Utsaimin terhadap Syaikh Ali di kesempatan-kesempatan lainnya.

Pujian Syaikh ahli Hadits Madinah, al-Allamah Hammad bin Muhammad al- Anshori
Beliau memuji Syaikh Ali dan kehebatannya dalam bidang hadits sebagaimana dinukil oleh anaknya yang bernama Abdul Awwal bin Hammad al-Anshori dalam kitabnya al-Majmu’ fi Tarjamati al-Muhaddits as-Syaikh Hammad al-Anshori (2/598) dari bapaknya berkata, “Saya menduga bahwa Ali Hasan Abdul Hamid yang akan mengantikan Syaikh al-Albani.”

Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Menteri Urusan Agama, Bimbingan dan Wakaf, Kerajaan Arab Saudi.
Beliau punya hubungan yang sangat baik dengan Syaikh Ali sejak 20 tahunan, bahkan setelah datang fatwa lajnah, beliau pun mengundangnya dengan undangan resmi untuk menghadiri acara an-Nadwah al-Ilmiyah al-Qur’aniyah di Madinah tanggal 11 Jumadil Akhir 1421 H.

Ketika Syaikh Sholih Alu Syaikh menulis kitab Hadzihi Mafahiimuna… mengirimkan kepada Syaikh Ali dan mengatakan tentang hadiahnya: Kepada saudara yang baik, peneliti yang jeli, pemilik akal yang cemerlang dan pandangan yang tajam, Ali Hasan Abdul Hamid, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan kekuatan untuk meninggikan bendera Sunnah sesuai petunjuk salaf…

Begitu pula ketika menulis kitab at-Takmil Lima Fata Tahrijuhu min Irwa’ al-Gholil dan memberikan hadiah dan pujian dengan sebutan-sebutan penghormatan mirip di atas.

Pujian Syaikh Abdulloh al-Ubailan ditanya tentang celaan yang di arahkan kepada Syaikh Ali Hasan disebabkan menulis kitab Manhaj as-Salaf as-Sholih maka beliau menjawab, ”Saudara kita asy-Syaikh al-Allamah Ali adalah termasuk pembesar penyeru kepada dakwah salaf di Yordania dan negara-negara Syam, wala nuzakki allalloh ahada. Saya berharap perselisian antara kedua belah pihak adalah masuk dalam perselisihan dalam lingkup ijtihad Ahlus Sunnah, dan perkaya ini wajar terjadi, karena para salaf juga berselisih dalam hal yang lebih besar dari ini akan tetapi tidak saling mencela antara satu dengan yang lainnya…” kemudian Syaikh Ubailan menyebutkan ucapan Syaikhul Islam….”

Dan Syaikh ahli Hadits Abdul Muhsin al-Abbad baru-baru ini di tanya tentang Syaikh Ali, yaitu pada tanggal 28 Nopember 2010 (21 Dzul Hijjah 1431), beliau menjawab, ”Saya mengetahui, beliau di atas sunnah, ambillah ilmu darinya.”

Begitu pula Syaikh al-Ubaikan pada tanggal 3 Januai 2011 pernah ditanya seseorang dari Iraq tentang Syaikh Ali Hasan dan seorang ulama dari Iraq, beliau menjawab, ”Kami tidak mengetahui tentang Syaikh kecuali kebaikan.”

Dan masih banyak pujian para ulama baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia tentang Syaikh Ali di antaranya: Syaikh al-Muhadits Muqbil al-Wadi’i, Syaikh Sa’ad al-Husyoyyin, (al-Mustasyar ad-Dini Saudi di Yordania,) Syaikh Husain bin Abdul Aziz Ali Syaikh, (Imam dan khotib serta pengajar di masjid Nabawi, serta Hakim di Mahkamah Kubro), Syaikh Washiulloh Abbas, Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili, ahli tafsir Muhammad Nasif ar-Rifa’i, as-Syaikh Hamd as-Syitwi, Syaikh Muhammad bin Syaikh Ali bin Adam al-Itsyuni, Syaikh Abdul Karim Khudair, Syaikh Abdul Malik ar-Romadhoni al-Jazairi dll. Termasuk salah seorang guru Syaikh Robi’ al-Madkholi yang berrnama Syaikh Abdul Wahab bin Marzuq al-Banna sangat memuji Syaikh Ali, beliau mengatakan, ”Perumpamaan al-Halabi kepada al-Albani adalah seperti Ibnul Qoyyim kepada Ibnu Taimiyah.” Sebagaimana yang telah didengar Syaikh Abdulloh Baibani al-A’shimi.

Inilah sebagian kemuliaan Syaikh Ali, ilmu, manhaj dan akidahnya. Dan kami dalam menyebutkan ini bukan berarti kami mengajak berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dan mengkultuskan serta menganggapnya ma’sum, sekali-kali tidak, akan tetapi ini semua agar kita mengetahui dan menghormati para ulama sebagaimana sabda Rosululloh:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak memuliakan yang tua, menyayangi yang muda dan mengenal hak orang alim di antara kami.” [HR Ahmad]

Wa shollollohu ‘ala nabiyina muhammad wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber.

  1. Al-Jawab al-‘I’laami.
  2. Su’alat al-Halabi.
  3. Al-Imam al-Albani Durusun Mawaqif wa ‘Ibar.
  4. https://kulalsalafiyeen.com

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 67, hal. 45-51. Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah awal terbit pada Ramadhan 1423 H/Nopember 2002, diterbitkan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya yang sekarang telah berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. (Abu Mundzir)]

Kisah Batil Ali bin Abi Thalib Menemukan Baju Besinya Di Seorang Yahudi

DUA KISAH BATIL TENTANG ALI BIN ABI THALIB MENEMUKAN BAJU BESINYA DI TANGAN SEORANG YAHUDI

Oleh
Syaikh Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Kisah pertama : Abu Nu’aim rahimahullahu berkata dalam kitab beliau Al-Hilyah (4/139) : Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats menceritakan kepada kami, dan Sulaiman bin Ahmad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aun As-Sairafi Al-Muqri meceritakan kepada kami, Ahmad bin Al-Miqdam menceritakan kepada kami, Hakim bin Khidzam Abu Samir menceritakan kepada kami, Al-Ama’sy menceritakan kepda kami dari Ibrahim bin Yazid At-Taimi, dari ayah beliau, ia (ayah beliau) berkata : “Ali bin Abi Thalib menemukan baju besinya di tangan seorang Yahudi yang menemukannya dan Ali lalu mengetahuinya, Ali pun berkata, ‘Baju besiku jatuh dari untaku yang bernama Auraq (yang berwarna abu-abu)’. Si Yahudi berkata, ‘Ini baju besiku dan ada di tanganku’. Lalu si Yahudi berkata kepada Ali, ‘Kita bawa perkara ini kehadapan seorang hakim kaum muslimin!”

Keduanya pun mendatangi Syuraih dan ketika Syuraih melihat kedatangan Ali, beliaupun bergerser dari tempat duduknya, lalu Ali duduk di tempat Syuraih. Ali kemudian berkata. ‘Seandainya lawanku (dalam perkara ini) seorang muslim, niscaya aku menganggapnya sama (sederajat) dalam majelis’. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian menyamakan mereka (orang-orang Yahudi) dalam majelis, dan giringlah mereka ke jalan yang tersempit. Jika mereka mencaci maki kalian maka pukullah mereka, dan jika mereka membalas memukul kalian maka bunuhlah mereka”. Kemudian Syuraih berkata, ‘Apa keperluan anda wahai Amirul Mukminin?’. Ali menjawab, ‘Baju besiku jatuh dari untaku yang bernama Auraq dan ditemukan oleh si Yahudi ini’. Syuraih lalu berkata, ‘Apa tanggapan anda wahai orang Yahudi?’ Si Yahudi lalu berkata, ‘Baju besi ini milikku dan ada di tanganku’. Maka Syuraih berkata, “Demi Allah, engkau benar wahai Amirul Mukminin. Baju besi itu pasti milik anda, tetapi harus ada dua orang saksi’. Kemudian Ali memanggil Qunbur (budak beliau) dan Hasan bin Ali, putra beliau. Lalu keduanya bersaksi bahwa baju besi tersebut adalah milik Ali. Syuraih berkata : ‘Adapun kesaksian maula anda ini maka kami membolehkannya, sedangkan kesaksian putra anda maka kami tidak membolehkannya’.

Maka Ali berkata kepada Syuraih, ‘Celaka anda! Apakah anda tidak pernah mendengar Umar bin Khaththab mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hasan dan Husein adalah pemimpin para pemuda surga”. Syuraih berkata, ‘Benar!’. Ali berkata, ‘Lalu kenapa anda tidak membolehkan kesaksian pemimpin para pemuda surga? Demi Allah, aku akan memindahkanmu ke Banfia[1], dan menjadi qadhi (hakim) di sana selama empat puluh hari. Kemudian Ali berkata kepada si Yahudi, ‘Ambillah baju besi itu!, ‘Si Yahudi lalu berkata, Amirul Mukminin menghadap besamaku ke hakim kaum muslimin, lalu sang hakim memutuskannya kalah dalam persidangan dan ia menerimanya. Demi Allah, anda yang benar wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ini adalah baju besi anda yang jatuh dari unta anda dan aku menemukannya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’. Lalu Ali menghibahkan baju besinya kepada si Yahudi dan menambahkan kepadanya hadiah. Si Yahudi kemudian mati terbunuh dalam peperangan Shiffin dalam membela Ali”.

Redaksi bahasa ini disusun Muhammad bin Aun. Abdullah bin Sulaiman menyebutkan, “Ali berkata, ‘Baju besi itu untukmu dan kuda ini untukmu sebagai hadiah’. Maka si Yahudi pun terus bersama Ali bin Abi Thalib hingga ia terbunuh dalam peperangan Shiffin”.

Kisah ini termasuk yang janggal dari hadits Al-A’masy yang beliau riwayatkan dari Ibrahim bin Yazid At-Taimi. Hakim meriwayatkan hadits ini sendirian dan diriwayatkan juga oleh putra-putra Syuraih dari beliau, dari Ali bin Thalib.

Kisah kedua (versi lain) : Muhammad bin Ali bin Hubaisy menceritakan kepada kami. Al-Qasim bin Zakaria Al-Muqri menceritakan kepada kami, Ali bin Abdullah bin Mu’awiyah bin Maisarah menceritakan kepada kami dari Syuarih, bahwa beliau berkata : “Ketika Ali berangkat ke medan perang melawan Mu’awiyah, beliau kehilangan baju besinya. Setelah peperangan usai dan beliau kembali ke Kufah, beliau mendapatkan baju besi berada pada orang Yahudi yang sedang menjualnya di pasar. Beliaupun berkata, ‘Wahai Yahudi, baju besi ini milikku, aku tidak menjualnya dan tidak pula menghibahkannya!’. Si Yahudi lalu berkata, ‘Baju besi ini milikku dan (sekarang) berada di tanganku’. Beliau berkata, ‘Kita menghadap qadhi!

Keduanyapun menemui Syuraih (qadhi pada masa itu), kemudian beliau duduk disamping Syuraih sedangkan si Yahudi duduk di hadapan beliau. Beliau kemudian berkata, ‘Kalaulah tidak karena lawanku (dalam perkara) ini seorang kafir dzimmi, niscaya aku akan duduk berdampingan dengannya’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Anggaplah mereka kecil sebagaimana Allah telah menganggap (memperlakukan) mereka kecil’. Syuraih lalu berkata, “Silahkan wahai Amirul Mukminin mengatakan sesuatu!’. Beliaupun berkata, ‘Ya, sesungguhnya baju besi yang berada pada si Yahudi ini adalah baju besiku. Aku tidak menjulannya dan tidak pula menghibahkannya. Syuraih berkata, ‘Apa tanggapan anda, wahai Yahudi?’. Si Yahudi berkata, ‘Baju besi ini milikku dan ada padaku’. Syuraih berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, anda memiliki bukti?’ Beliau berkata, ‘Ya, Qunbur dan Hasan akan menjadi saksi bahwa baju besi itu adalah milikku’. Syuraih berkata, ‘Kesaksian seorang anak terhadap ayahnya tidak dibenarkan’. Ali berkata, ‘Seorang lelaki penghuni surga tidak boleh bersaksi?’. ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :’Hasan dan Husein adalah pemimpin para pemuda penghuni surga’. Selanjutnya si Yahudi pun berkata, ‘Amirul Mukminin membawaku ke qadhi (hakim), dan qadhi memutuskannya kalah (dalam persidangan). Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sesungguhnya baju besi ini milik anda. Ketika anda sedang menunggung unta menuju Shiffin, di suatu malam baju besi itu pun jatuh dari unta anda lalu aku mengambilnya’. Setalah peristiwa ini, si Yahudi tersebut turut berperang bersama Ali melawan orang-orang durhaka di Nahrawan dan terbunuh dalam peperangan tersebut”.

Aku membaca kisah ini di Subulus-Salam karya Ash-Shan’ani, di mana beliau menyandarkannya pada kitab Al-Hilyah dan aku kagum dengannya. Saat itu akan belum bisa membedakan antara yang shahih dan yang maudhu (palsu). Terbayang dalam pikiranku tentang keadilan dan kejujuran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, begitu pula sang qadhi Syuraih bin Al-Harits Al-Kindi. Selang beberapa lama aku menelaah kitab Al-Abathil karya Al-Jauzaqani, di mana beliau menyebutkan kisah ini di dalamnya sebagai kisah yang batil. Ketika aku melihat banyak orang yang kagum dengan kisah ini seperti halnya aku dulu, ada yang menceritakannya dalam ceramah dan ada yang menulisnya di majalah, sementara yang lain menulisnya dalam buku karangannya, padahal kisah ini sendiri tidak benar, maka aku memandang perlu menyebutkan pernyataan para ulama mengenai kisah ini, sebagai berikut:

Al-Jauzaqani rahimahullahu menyebutkan dalam kitab beliau Al-Abathil (2/197), beliau mengatakan, “Ini adalah riwayat yang batil (tidak benar). Abu Sumair seorang yang haditsnya mungkar, meriwayatkannya seorang diri… dst”. Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam Al-Ilalul Mutanahiah (2/388) di mana beliau menyatakan hal yang senada dengan yang ditulis Al-Jauzaqani. Imam Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Miizanul I’tidal ketika beliau mengemukakan biografi Abu Sumair Hakim bin Khidzam ini –yang dalam Al-Hilyah dan Al-Abathil disebutkan, Hizam (dan bukan Khidzam)– Beliau juga mengatakan bahwa Abu Hatim berkata, “Sesungguhnya Abu Sumair ditinggalkan haditsnya”. Bukhari berkata, “Haditsnya mungkar dan seorang yang dinilai beraliran Qadariah”. Sedang Al-Qawariri berkata, “Aku bertemu dengannyam dia seorang hamba Allah yang shalih”.

Dengan demikian diketahui bahwa kisah ini sangat dha’if (lemah, tidak kuat) ditinjau dari jalur Abu Sumair Hakim bin Khidzam.

Adapun sanad yang kedua, maka di dalamnya terdapat perawi yang disebutkan (saqath) atau terjadi perubahan nama (tashhif), yaitu sanad dari jalur Ali bin Abdullah bin Maisarah dari Syuraih dan Ali bin Abdullah bin Mu’awiah. Ali bin Abdullah bin Maisarah di sini tidk meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dari Syuraih, sebagaimana disebutkan dalam Al-Mizan dan Al-Lisan. Dengan demikian dalam sanad ini terdapat saqath atau setidaknya tashhif. Kemudian Adz-Dzahabi meriwayatkan dari Abu Hatim bahwa beliau menyebutkan kisah lain yang ia ceritakan kepada beliau (Abu Hatim), lalu beliau berkata, “Aku menulis kisah ini, agar aku mendengarkannya dari Syaikh ini (Ali bin Abdullah), kemudian aku membuangnya karena kisahnya maudhu (dibuat-buat).

Kemudian aku mendapatkan kisah dengan sanad yang kedua ini dari kitab Akhbarul Qudhah karya Muhammad bin Khalaf yang bergelar Waqi, beliau berkata (2/194) : Ali bin Abdullah bin Maisarah bin Syuraih Al-Qadhi (sang hakim) menceritakan kepada kami, Ayahnya menceritakan kepadanya dari ayahnya (kakek) Mu’awiyah, dari Maisarah, dari Syuraih, bahwa beliau berkata : “Ketika Ali pulang dari peperangan melawan Mu’awiyah, beliau menemukan baju besinya yang hilang berada di tangan seorang Yahudi yang sedang menjualnya. Beliaupun berkata kepada si Yahudi, ‘Ini baju besiku, aku tidak pernah menjualnya dan tidak pula menghibahkannya’. Si Yahudi berkata, ‘Ini adalah baju besiku dan berada di tanganku’. Lalu keduanya pun menghadap Syuraih. Syuraih berkata kepada Ali sebagai pihak penuntut, ‘Apakah anda memiliki bukti?’ Ali menjawab, ‘Ya, Qunbur dan putraku Hasan’. Syuraih berkata, “Kesaksian seorang anak terhadap ayahnya tidak di bolehkan“. Lalu Ali berkata, ‘Maha suci Allah ! Ia seorang laki-laki penghuni surga”.

Dengan demikian diketahui bahwa sanad Abu Nu’aim terdapat perawi yang tidak disebutkan atau terjadi tashhif. Sanadnya tersebut tidak jelas, aku tidak menemukannya dalam kitab-kitab Jarhu wa-Ta’dil kecuali sekedar biografi Ali bin Abdullah bin Mu’awiyah dan biografi Mu’awiyah bin Maisarah dalam kitab Al-Jarhu wa-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim, di mana beliau berkata, “Ia seorang syaikh”.

Jadi dengan ini diketahui bahwa kisah di atas tidak tsabit, sementara keadilan Islam tetap dapat diketahui meskipun tidak melalui kisah di atas yang batil ini. Alhamdulillah.

[Disalin dari kitab edisi Indonesia Bantahan terhadap Musuh Sunnah, Penulis Syaikh Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Penerjemah Munawwir A Djasari, Penerbit Pustaka Azzam, Februari 2003]
_______
Footnote
[1] Banfia adalah suatu wilayah di ujung kota Kufah, sebagaimana yang disebutkan dalam Ta’liqatas kitab Al-Hilyah

‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu Anhu

‘UQBAH BIN AMIR AL-JUHANI RADHIYALLAHU ANHU

Pernahkah saudara mendengar nama ‘Uqbah bin ‘Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu?. Kalau belum pernah mendengar sosok ini sama sekali, perlu kita ketahui, bahwa beliau termasuk Sahabat Nabi yang berkategori masyhur (populer). Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni rahimahullah dalam Taqrîb at-Tahdzîb mengatakan, “ ‘Uqbah bin ‘Âmir al-Juhani, seorang Sahabat (Nabi) yang masyhur”[1]. Dan sebelumnya, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyematkan gelar al-Imam al-Muqri’ (seorang imam panutan, ahli qira`ah)[2] . Maka, baik sekali bila kesimpulan al-Hâfizh Ibnu Hajar t ini menjadi pendorong kita untuk mengenal beliau lebih jauh dan mengambil pelajaran darinya.

‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu Anhu
‘Uqbah bin Âmir bin ‘Abs bin ‘Amr bin ‘Adi bin ‘Amr bin Rifâ’ah al-Juhani Radhiyallahu anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan garis nasabnya hingga Juhainah, nama yang menjadi dasar penisbatannya, al-Juhani. Sedangkan kunyah ‘Uqbah bin Âmir, ia dikenal dengan beberapa panggilan: Abu ‘Abs, Abu Hammâd, Abu ‘Amr atau Abul Asad al-Mishri.

Keutamaan Dan kedudukan ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu Anhu
‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu  termasuk Sahabat Nabi yang memiliki kedudukan tinggi, sebagaimana dikatakan oleh Qais bin Abi Hâzim rahimahullah, seorang dari generasi Tabi’in senior[3].

‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu seorang yang berilmu, ahli qirâ`ah, berlisan fasih, faqih, ahli faraidh, penyair dan mempunyai kedudukan tinggi.[4]

Selain menguasai al-Qur`ân, ia juga dikenal bersuara merdu ketika melantunkannya. Suatu ketika, ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu memintanya membacakan al-Qur`ân kepadanya. Lalu ‘Uqbah bin Âmir al Juhani Radhiyallahu anhu membacakan al-Qur`ân kepada Umar Radhiyallahu anhu. ‘Umar pun menangis mendengar bacaannya.

‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu juga mempunyai kehandalan di bidang peperangan. Ia dikenal sebagai pemanah ulung.

Yang menarik, semua itu ia dapatkan dalam segala keterbatasan, karena ia termasuk salah seorang penghuni Suffah, sebuah tempat di dalam Masjid Nabawi waktu itu yang menjadi tempat menginap orang-orang fuqara dari kaum Muhajirin dan orangorang yang tidak memiliki tempat tinggal.

Murid-Murid ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu Anhu
Banyak kalangan yang menimba ilmu dari ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Rad Radhiyallahu anhu. Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu , Jâbir bin Abdillâh Radhiyallahu anhu, Abu Ayyûb Rahiyallahu anhu dan Abu Umâmah Radhiyallahu anhu termasuk yang mengambil manfaat darinya. Selain mereka, banyak orang dari kalangan Tabi’in yang meriwayatkan ilmu dari beliau. Mereka adalah Sa’îd bin Musayyib, Abu Idrîs al-Khaulâni, Jubair bin Nufair, Sa’îd al-Maqburi dan lain-lain.

Peran Mengesankan Dari ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani  Radhiyallahu Anhu
‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu ikut serta dalam peperangan untuk menaklukan wilayah Syam dan Mesir. Dan ketika kaum Muslimin berhasil menguasai kota Damaskus, dialah orang  yang berperan sebagai pembawa berita gembira tentang  penaklukan kota Damaskus kepada Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu di Madinah. Jarak yang jauh antara Syam dan Madinah hanya dia tempuh dalam waktu sehari saja.

Ia mengatakan, “Saya keluar dari Syam pada hari Jum’at dan aku memasuki kota Madinah pada hari Jum’at (juga)”.

‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu Wafat
‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu wafat pada tahun 58 H pada pemerintahan Mu’awiyah Radhiyallahu anhu. Beliau dimakamkan di Muqaththam.

Jumlah Hadits ‘Uqbah bin Âmir alJuhani Radhiyallahu Anhu
Al-Hafizh Ibnu Hajar  rahimahullah mengatakan tentang ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu termasuk Sahabat yang memiliki cukup banyak riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5] Dalam Musnad Baqi, ia memiliki sejumlah 55 hadits.

Salah Satu Hadits ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu Anhu
Dari ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (kepadaku):

أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟  قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Tidakkah engkau mengetahui ayat-ayat yang telah diturunkan malam ini yang belum pernah terlihat persamaannya sama sekali sebelumnya?. Yaitu, Qul a’ûdzu birabbil falaq dan Qul a’ûdzu birabbinnâs[6].

Semoga perjalanan hidup ‘Uqbah bin Âmir al-Juhani Radhiyallahu anhu menjadi pelecut semangat generasi Islam untuk menguasai ilmu-ilmu agama dan berbuat banyak bagi Islam dan Muslimin, meskipun dalam kondisi yang serba terbatas. Amin.

Disusun oleh
Ustadz Abu Minhal, Lc.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Taqrîbu at-Tahdzîb hlm. 334. Liha t juga al-Ishâbah hlm. 1041
[2] Siyaru A’lâmin Nubalâ 2/467.
[3] Pernyataannya termuat dalam hadits riwayat Muslim no.814 dari Qais bin Abi Hâzim dari ‘Uqbah bin ‘Âmir dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[4] Siyaru A’lâmin Nubalâ 2/467
[5] Al-Ishâbah hlm. ibid. Liha Tahdzîbul Kamâl 20/205
[6] HR. Muslim dalam Shahîhnya kitab Shalâtil Musâfirîn wa Qashruhâ bab keutamaan membaca al-Mu’awwidzatain no.814.

Sa’îd bin Zaid Al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu

SAID BIN ZAID AL-‘ADAWI RADHIYALLAHU ANHU

Termasuk aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, mempersaksiksan sebagai penghuni Surga bagi orang-orang yang sudah diberitahukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka akan memasuki surga dengan menyebut nama mereka masing-masing. Ada sekian sosok mulia yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut nama mereka dengan terang-terangan bahwa mereka  termasuk penghuni Surga, walaupun mereka masih hidup di muka bumi.

Di antara orang-orang mulia itu, ada deretan sepuluh orang yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut secara berturut-turut sebagai penghuni surga yang kemudian lebih dikenal dengan julukan al-‘asyrah al-mubasyyarûn bil jannah (sepuluh orang yang mendapat kabar gembira akan memasuki Surga). Mereka itu adalah Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu, ‘Utsmân bin ‘Affân, ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu , Thalhah bin ‘Ubaidillâh, Az- Zubair bin Al-‘Awwâm Radhiyallahu anhu , ‘Abdur Rahmân bin ‘Auf Radhiyallahu anhu , Sa’ad bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu , Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu , Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrâh Radhiyallahu anhu . [1]

Allâh Azza wa Jalla  telah memberikan berita kepada Rasul-Nya tentang perkara gaib ini. Dan ini termasuk kandungan firman-Nya berikut:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿٢٦﴾ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”.[Al-Jin/72:26-27]

Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu
Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi terlahir di Makkah. Nama lengkapnya,Sa’îd bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyâh bin Qurth bin Razâh bin ‘Adi bin Ka’b bin Lu`ai bin Ghâlib al-Qurasyi al-‘Adawi Radhiyallahu anhu. Salah seorang Sahabat Nabi yang masyhur lagi  terpandang. BerkunyahAbul A’war. Beliau berasal dari satu suku dengan ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu , tepatnya, merupakan putra pamannya. Garis nasab mereka berdua menyatu pada Nufail. Istri Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu, Fâthimah binti Khaththâb Radhiyallahu anha merupakan saudara perempuan ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu .

Sementara sang ayah, Zaid bin ‘Amr bin Nufail termasuk orang-orang yang lari kepada Allâh Azza wa Jalla dan menghindari penyembahan terhadap berhala-berhala. Ia masih berada di atas millah Ibrahim. Sempat menjumpai masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul, dan tidak lama kemudian ia meninggal.

Termasuk As-Sâbiqûnal Awwalûn
Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu menyatakan keislamannya sejak dini bersama sang istri, sejak awal perkembangan dakwah Islam. Bahkan keislamannya menjadi sebab Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu memeluk Islam. Beliau memeluk Islam sebelum Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki  rumah al-Arqam bin Abil Arqam Radhiyallahu anhu, sehingga terhitung sebagai salah satu dari As-Sâbiqûnal Awwalûn.

Jihad Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu
Jihad Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu dimulai pada Perang Uhud. Ia tidak ikut serta dalam Perang Badar lantaran diutus oleh Rasulullah n ke negeri Syam bersama Thalhah bin ‘Ubaidillâh Radhiyallahu anhu untuk mencari-cari berita tentang kafilah dagang Quraisy. Setelah Perang Uhud, seluruh peperangan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia ikuti. Bahkan Sahabat Nabi yang terkenal dengan keberaniannya ini ikut ambil bagian dalam Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Panglima Khâlid bin WalîdRadhiyallahu anhu dan pengepungan Damaskus.

Sa’îd bin Zaid bin al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu, Orang Yang Terkabul Doanya
Doa orang yang terzhalimi termasuk doa yang mustajab. Bagaimana bila orang yang terzhalimi dan memanjatkan doa itu adalah seorang Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu .

Ada sebuah kisah terkait julukan Sa’îd bin Zaid sebagai orang yang mujâbud da’wah (doanya dikabulkan).

Kisah itu disampaikan oleh ‘Urwah bin az-Zubair rahimahullah bahwa Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu diperkarakan oleh Arwa binti Aus di hadapan penguasa waktu itu, Marwân bin Al-Hakam. Wanita itu mengklaim bahwa Sa’îd bin Zaid  Radhiyallahu anhu menyerobot sebagian dari tanah miliknya. Maka, Sa’îd berkata, “Apakah aku (akan nekat) mengambil sebagian dari tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasûlullâh?”. Kemudian Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh bersabda:

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ اْلأَرْضِظُلْمًا فَإِنَّهُ طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Barang siapa menyerobot sejengkal tanah secara zhalim, maka tanah itu akan dikalungkan pada Hari Kiamat dari tujuh bumi”.  [HR. Al-Bukhâri no. 3198 dan Muslim no.1610]

Maka Marwân rahimahullah berkata kepadanya, “Aku aku tidak akan pernah memintamu saksi setelah (mendengar) ini.

Setelah itu, Sa’îd bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu  mengatakan, “Ya Allâh, bila Arwa ini memang benar telah berbuat sewenang-wenang kepadaku, maka butakanlah matanya dan jadikanlah kuburnya di sumurnya”. Lalu Allâh Azza wa Jalla mengabulkan doanya. Wanita itu akhirnya buta, dan suatu hari, ia keluar untuk memenuhi keperluannya, lalu terjerumus ke dalam sumur miliknya dan meninggal di dalamnya.

Hadits Sa’id bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu
Dalam kitab-kitab hadits, tidak banyak hadits yang beliau riwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , hanya sejumlah 48 hadits. Ada dua hadits yang berasal dari Sa’îd bin Zaid  Radhiyallahu anhu di dalam Shahihain.

Di antara jumlah yang sedikit itu adalah hadits tentang orang-orang yang mati syahid.

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : مَنْ قُتِلِ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ , وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ ” .

Dari Abul A’war Sa’id bin Zaid Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersabda, “Orang yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia matis yahid. Dan orang yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia mati syahid. Dan orang yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia mati syahid. Dan orang yang terbunuh, karena membela keluarganya, maka ia mati syahid”.[HR. Abu Dawud no.4772, at-Tirmidzi no.1421].

Sa’id bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu Anhu
Said bin Zaid al-‘Adawi Radhiyallahu anhu meninggal di ‘Aqîq Madinah pada tahun 51 H dalam usia 73 atau 74 tahun.

Sebuah Pelajaran Penting
Kehidupan seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mendatangkan pelajaran-pelajaran berharga bagi umat Islam, sebagaimana akan dapat digali sekian banyak pelajaran dari kehidupan penghuni Surga ini, Sa’îd bin Zaid Radhiyallahu anhu . Salah satunya, yang keluar dari lisannya saat berkata kepada Marwan, “Apakah aku (akan nekat) mengambil sebagian dari tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasûlullâh?”, pengagungannya terhadap petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan komitmen besarnya untuk menghindari ancaman-ancaman siksa yang disampaikan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maraji.

  1. Siyaru A’lâmin Nubalâ, adz-Dzahabi 11/124-143
  2. Usdul Ghâbah fî Ma’rifati ash-Shahâbah, Ibnul Atsir hlm. 484-486.

Semoga bermanfaat.

Disusun oleh
Ustadz Abu Minhal, Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Silahkan lihat Aqîdah as- Salaf Wa Ash-Hâbil Hadîts hlm.287.

Mengenal Sosok-Sosok Dari Generasi As-Sâbiqûnal Awwalûn

MENGENAL SOSOK-SOSOK DARI GENERASI AS-SABIQUNAL AWWALUN

Dalam permulaan dakwah Islam, umat Islam mengenal adanya istilah as-sâbiqunal awwalûn. Dari kata   السَّابِقُوْنَ (as-sâbiqûn) yang artinya orang yang  terdahulu (daripada orang lain) dan  اْلأَوَّلُوْنَ (al-awwalûn) yang bermakna orang-orang yang pertama-tama. Maka, ketika digabungkan dua kata tersebut, bermakna orang-orang yang  terdahulu yang pertama-tama masuk Islam.

Al-Qur`ânul Karîm telah menyatakan perihal tingginya derajat as-Sâbiqûnal awwalûn, baik dari kalangan Muhâjirîn dan Anshâr di atas muslim lainnya, baik di masa generasi Sahabat, apalagi di atas generasi sekarang.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allâh, dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:100].

Sebagian Ulama memandang mereka itu adalah orang-orang yang sempat mengerjakan shalat dengan mengarah dua kiblat, Baitul Maqdis dan Ka’bah. Sebagian yang lain menyatakan, mereka itu adalah orang-orang yang berbaiat dalam Baiat Ridhwan.[1]

Hanya saja, Imam adz-Dzahabi rahimahullah mempunyai pandangan lain dalam memaknai as-Sâbiqunal Awwalûn dalam kitabnya, Târikhul Islâm[2]. Secara implisit, Beliau rahimahullahn menyatakan bahwa as-Sâbiqûnal Awwalûn adalah orang-orang yang menyambut dakwah Rasûlullâh Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada periode dakwah fardiyyah dalam tiga tahun pertama dari tahun kenabian, karena setelah itu, beliau menuliskan bab tentang dakwah jahriyyah (secara terang-terangan).[3]

Dakwah fardiyyah ditempuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah turun ayat dalam Surat Al-Muddatsir. Mulailah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah mengajak manusia kepada Allâh Azza wa Jalla  dan Islam secara sembunyi-sembunyi dengan mendatangi individu-individu tertentu. Dan secara logika, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya dengan keluarga sendiri, kawan-kawan dekat dan orang-orang yang punya hubungan baik dengan Beliau.

Orang-orang yang memperoleh kemuliaan dan taufik dari Allâh Azza wa Jalla sehingga menjadi pemeluk Islam pertama-tama yang kemudian dikenal dengan  as-Sâbiqunal Awwalûn  adalah:

  1. Khadîjah binti Khuwailid .
  2. Abu Bakar ash-Shiddiq [4] .
  3. ‘Ali bin Abi Thâlib .
  4. Zaid bin Hâritsah. Empat orang ini, memeluk Islam dalam hari yang sama[5]. Pada hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk mengemban dakwah Islam dan memperingatkan manusia.

Abu Bakar Radhiyallahu anhu tidak hanya bersegera mengimani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga mengambil bagian untuk mendakwahi orang-orang yang ia percaya dan sering berinteraksi dengannya secara sembunyi-sembunyi. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah sejumlah pembesar suku Quraisy. Mereka adalah ‘Utsmân bin ‘Affân, Zubair bin Awwâm, ‘Abdur Rahmân bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillâh, dan Sa’d bin Abi Waqqâsh. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu anhu membawa mereka ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [6]Mereka berdelapan inilah (di luar Khadijah binti Khuwaild Radhiyiallahu anha) yang dikenal sebagai delapan orang yang pertama dan segera memeluk Islam.

  1. Abu ‘Ubaidah bin Jarrâh.
  2. Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzûmi dan istrinya Ummu Salamah.
  3. Al-Arqam bin Abil Arqam bin Asad bin ‘Abdullâh bin ‘Umar Al-Makhzûmi.
  4. ‘Utsmân bin Mazh’ûn Al-Jumahi dan dua saudaranya, Qudâmah dan ‘Abdullâh.
  5. ‘Ubaidah bin Al-Hârits bin Al-Muththalib bin ‘Abdu Manâf al-Muththalibi.
  6. Sa’îd bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi dan istrinya Fâthimah, saudari ‘Umar bin Khaththâb.
  7. Asmâ binti Abi Bakar ash-Shiddîq
  8. Khabbâb bin Al-Arats Al-Khuzâ’i.
  9. ‘Umair bin Abi Waqqâsh, saudara lelaki Sa’d bin Abi Waqqâsh .
  10. Salîth bin ‘Amr bin ‘Abdi Syams al-‘Âmiri dan saudaranya Hâthib .
  11. ‘Ayyâsy bin Abi Rabi’ah bin al-Mughîrah al-Makhzûmi .
  12. Asmâ binti Salâmah at-Tamîmiyyah, istri ‘Ayyâsy bin Abi Rabî’ah .
  13. Khunais bin Hudzâfah as-Sahmi .
  14. Ja’far bin Abi Thâlib dan istrinya Asmâ` binti ‘Umais.
  15. Hâthib bin Harits al-Jumahi dan istrinya Fâthimah binti Mujallal .
  16. Khathtâb bin Harits al-Jumahi dan istrinya Fukaihah binti Yasâr .
  17. Ma’mar bin Hârits .
  18. Sâib bin ‘Utsman bin Mazh’ûn .
  19. Al-Muththallib bin ‘Azhar bin ‘Auf al-‘Adawi az-Zuhri dan istrinya Ramlah binti Abu ‘Auf.
  20. Nu’aim bin ‘Abdillâh bin Asad al-‘Adawi .
  21. Khâlid bin Sa’id bin Al-Ash bin Umayyah dan istrinya Umainah binti Khalaf.
  22. ‘Amr bin Sa’îd bin Al-Ash
  23. Hâthib bin ‘Amr Al-Amiri .
  24. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabî’ah .

Mereka ini (selain Zaid bin Haritsah) berasal dari berbagai marga yang menginduk kepada suku Quraisy.

  1. Dan yang termasuk As-Sâbiqûnal Awwalûn, namun bukan berasal dari suku Quraisy adalah ‘Abdullâh bin Mas’ûd al-Hudzali, Bilâl bin Rabâh budak Umayyah bin Khalaf,  Suhaib bin Sinân an-Namiri, Mas’ûd bin Rabî’ah al-Qâri, ‘Abdullâh bin Jahsy dan saudaranya, Abu Ahmad bin Jahsy, ‘Ammâr bin Yâsir, dan kedua orang tuanya, Yâsir dan Sumayyah, Âmir bin Fuhairah, budak Abu Bakar, ‘Abdullâh bin Qais dari kabilah Asy-‘Ariyyin, ‘Amr bin Abasah dari kabilah Sulaim, Abu Dzar dari Ghifâr, ‘Amir bin Rabî’ah dari ‘Anz bin Wâil.
  2. Ummu Aiman Barakah al-Habsyiah pengasuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  3. Ummul Fadhl Lubâbah al-Kubra bintil Hârits al-Hilâliyyah.
  4. Dan yang pasti, putri-putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena mereka hidup dalam tarbiyah orang tua terbaik yang istiqomah dengan fitrahnya dan jauh dari peribadahan kepada berhala-berhala, minum khamr, zina dan kebiasaan buruk penduduk Jahilyah pada waktu itu. [7]

Itulah nama-nama insan yang Allâh Azza wa Jalla menyegerakan hidayah bagi mereka untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir dan memeluk Islam. Mereka umat minoritas di atas al-haq yang berada di masyarakat yang paganis, dan mengalami degradasi moral dari berbagai aspek. Mereka menjadi manusia-manusia terasing dengan kebenaran yang mereka pegangi dengan teguh di tengah masyarakat yang mengagungkan tradisi leluhur.

Sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk menghormati mereka dan Sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dan mendudukkan mereka pada kedudukan tinggi yang sesuai dengan derajat yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada mereka dan disampaikan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, mereka menjadi teladan terbaik bagi umat Islam masa kini untuk bersegera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya, bersabar dalam ketaatan kepada-Nya dan rela berkorban demi tegaknya Islam. Wallâhu a’lam. (Ustadz Abu Minhal Lc)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Imam ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya 7/10-13 terkait Surat at-Taubah:100 telah mengutip beberapa keterangan Ulama tentang makna as-Sâbiqunal Awwalûn.
[2]  Târîkhul Islâm 1/79-83.
[3]  Dalam as-Sîrah ash-Shahîhah karya Dr. Akram Dhiyâ al-‘Umari,  1/133-140 disebut dengan istilah al-Muslimûnal Awâil (Orang-orang Islam yang pertama-tama). Dan penulis menyebutkan pembahasan tersebut sebelum membahas tentang dakwah jahriyyah.
[4] Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada khilaf bahwa orang pertama dari Muhajirin adalah Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu “( al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân  8/217).
[5] Raudhatul Anwâri fî Sîratin Nabiyyi al-Mukhtâr, Shafiyyur Rahmân al-Mubarakfûri,  hlm. 34
[6] as-Sîrah  an-Nabawiyyah fî Dhaul Kitâbi was Sunnah , Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, 1/286.
[7] Dengan melihat individu-individu yang memeluk Islam pertama-tama dan suku-suku mereka, menjadi jelas bagi kita bahwa sejak awal, agama Islam bukanlah khusus bagi penduduk Makkah dan suku Quraisy. Lihat as-Sîrah ash-Shahîhah 1/133.