Menyikapi Wafatnya Ahlul Bida’ dan Kesesatan Secara Hukum Syar’i

MENYIKAPI WAFATNYA AHLUL BIDA’ DAN KESESATAN SECARA HUKUM SYAR’I

Oleh
asy-Syaikh Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf –hafidhahullah[1]

Bahwasanya seorang muslim yang hakiki -sebagaimana dia merasa sedih dengan wafatnya para Ulama dan para da’i penyeru manusia kepada Allah Ta’ala, yang mengikuti sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka dia-pun bergembira dengan wafatnya tokoh/pemuka bid’ah dan kesesatan yang menyeru kepada kebatilan. Lebih khusus lagi, jika yang wafat tersebut adalah para pemimpin bida’ dan kesesatan, para icon dan para pemrakarsa. Seorang muslim bergembira karena dengan kematian mereka, patah dan terputuslah pena-pena (yang menggores kesesatan) mereka, lenyaplah pemikiran-pemikiran sesat mereka, yang dengan itu semua mereka mengelabui manusia.

Para Salaf (pendahulu umat ini) yang shalih, tidak hanya mentahdzir (mengingatkan umat agar mewaspadai) mereka di saat mereka masih hidup, -kemudian setelah mereka wafat, mereka didoakan rahmat atas mereka dan menangisi mereka-, tidak demikian, akan tetapi para Salaf Shalih juga menjelaskan perihal mereka setelah mereka wafat. Para Salaf menampakkan kegembiraan mereka dengan wafatnya orang-orang tersebut, dan sebagian mereka memberi berita gembira kepada sebagian lainnya akan berita wafat tersebut. Di dalam kitab ‘Shahih Bukhari dan Shahih Muslim’ dari Abu Qatadah al-Anshari – Radhiyallahu ‘anhu- berkata ; bahwasanya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda tentang wafatnya orang-orang sejenis mereka:

يَستريحُ منه العبادُ والبِلادُ والشَّجرُ والدَّوابُّ

Para hamba Allah merasa nyaman (dengan kematiannya) demikian pula negeri, pohon-pohon dan binatang-binatang melata”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Bagaimana mungkin seorang muslim tidak bergembira dengan kematian orang yang telah menyakiti para hamba Allah dan membuat kerusakan di dalam negeri?!.

Tatkala sampai berita kematian al-Mirisi[2] yang sesat itu, sementara pada saat itu Bisyir bin al-Harits sedang berada di pasar maka beliau berkata:

لولا أنَّه كان موضِعَ شُهرةٍ لكانَ موضِعَ شُكرٍ وسُجودٍ، والحمدُ للهِ الذي أماتَه

“Kalau saja (pasar ini) bukan tempat yang menjadikan sesuatu tersohor/masyhur, maka inilah tempat atau saat untuk bersyukur dan sujud, dan segala puji hanya milik Allah yang telah mewafatkannya”. [Tarikh al-Baghdadi: 7/66, Lisan al-Mizan; 2/308].

Pada suatu ketika, Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

الرَّجُلُ يَفرَحُ بما يَنزِلُ بأصحابِ ابنِ أبي دُؤاد؛ عليه في ذلك إثمٌ؟ قال: (ومَن لا يَفرَحُ بهذا)؟!

“Seseorang bergembira dengan musibah yang menimpa pengikut ibnu Abi Duad; apakah dia berdosa dengan perbuatan tersebut?! Imam Ahmad berkata: “Siapakah yang tidak bergembira dengan hal tersebut?! [as Sunnah karya al-Khallal ; 5/121].

Salamah bin Syabib berkata: “Pernah -pada suatu saat- aku berada bersama Abdur Razzaq ash-Shan’ani, tiba-tiba datang berita kematian Abdul Majid, maka beliau berkata: ”

الحمدُ للهِ الذي أراحَ أُمَّةَ محمَّدٍ مِن عَبدِ المجيدِ

“Segala puji hanya milik Allah yang telah memberikan kenyamanan kepada umat Muhammad dari (keburukan) Abdul Majid”. [Siyar A’laam an-Nubala’ : 9/435].

Dan Abul Majid ini adalah Abdul Majid bin Abdul ‘Aziz bin Abi Ruwwad – dia adalah seorang pembesar pemikiran murji-ah.

Ketika berita wafatnya Wahab al-Qurasyi -dan dia adalah seorang yang sesat dan menyesatkan- sampai kepada Abdurrahman bin al-Mahdi, maka dengan spontan beliau berkata: ”

الحمدُ للهِ الذي أراحَ المُسلِمينَ منه

“Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kenyamanan kepada kaum muslimin dari (keburukan) orang ini”. [‘Lisan al-Mizan’ karya Ibnu Hajar (al-Asqalani) ; 8/402)].

Dan dalam kitab ‘al-Bidayah wa an-Nihayah’: 12/338, Al-Hafidh Ibnu Katsir berkata tentang salah seorang pemimpin ahlul bida’:

أراحَ اللهُ المُسلِمينَ منه في هذِه السَّنةِ في ذِي الحِجَّةِ منها، ودُفِن بدارِه، ثم نُقِل إلى مَقابرِ قُرَيشٍ؛ فللهِ الحمدُ والمِنَّةِ. وحين ماتَ فرِحَ أهلُ السَّنَّة بموتِه فرحًا شديدًا، وأظْهَروا الشُّكرَ لله؛ فلا تَجِدُ أحدًا منهم إلَّا يَحمَدُ الله

Baca Juga  Mengikuti Ulama Dan Umara

“Allah telah memberikan kenyamanan kepada kaum Muslimin dari orang tersebut di bulan Dzulhijjah pada tahun ini, dia dikuburkan di rumahnya, kemudian dipindahkan ke pemakaman orang-orang Quraisy, maka segala puji dan karunia hanya milik Allah. tatkala orang ini wafat, maka Ahlus Sunnah sangat bergembira dan mereka menampakkan kesyukuran mereka kepada Allah; sehingga kamu tidak menjumpai seorangpun dari mereka (Ahlus Sunnah) melainkan dia memuji Allah!

Inilah sikap para Salaf Shalih -rahimahumullah- ketika mendengar berita wafatnya salah seorang pemimpin Ahlil bida’ dan kesesatan.

Namun terkadang, ada sebagian orang yang berhujjah/beralasan ketika bersikap dengan sikap yang sebaliknya, -mereka berhujjahdengan membawa perkataan al-Hafidh Ibnul Qayyim dalam kitab (beliau) ‘Madarij as-Salikiin’: 2/345, tentang sikap guru beliau – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- terhadap lawannya, yang mana beliau (Ibnul Qayyim) berkata: “Pernah pada suatu hari, aku mendatangi beliau (Ibnu Taimiyyah), memberi berita gembira akan wafatnya musuh beliau yang terbesar dan yang paling memusuhi dan menyakiti beliau, maka beliau-pun membentak aku dan mengingkari sikap/prilaku aku, dan beliaupun mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…”.

Namun orang yang mencermati kejadian ini, akan mendapatkan bahwa dua sikap tersebut tidak bertolak belakang. Karena sifat pemaaf Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang mana beliau tidak menyimpan dendam pribadi ; oleh karena itu, tatkala beliau didatangi oleh murid beliau yang memberi berita gembira kepada beliau dengan kematian salah seorang lawannya, dan yang paling keras memusuhi dan menyakiti beliau, maka beliaupun membentak dan mengingkari perbuatan muridnya tersebut. Maka sebagai seorang murid, beliau hanya menampakkan kepada Syaikhnya ; kegembiraannya berkenaan dengan kematian salah seorang lawan gurunya, dan bukan (menampakkan) kegembiraan beliau atas kematiannya sebagai seorang ahlul bid’ah, (maka dari itu Ibnul Qayyim dibentak oleh Ibnu Taimiyyah).

Yang sangat disayangkan – di tengah kegembiraan tersebut, justru sebagian Ahlus Sunnah bersedih dan menangis karena sedih, jika ada di antara Ahlul bida’ yang wafat. Bahkan memohon kepada Allah agar menggantikan -untuk kaum muslimin- orang yang semisal dengan yang mati tersebut. -semoga Allah tidak memperkenankan do’a/permohonan mereka.

Orang-orang yang besikap demikian, dikhawatirkan atas agama mereka, jika mereka mengetahui kesesatan orang tersebut; kerena tidak ada seorang muslimpun yang takut kepada Allah dan memiliki kecemburuan terhadap agama Allah, melainkan dia bergembira dengan wafatnya seorang yang diketahuinya ; bahwa dengan hidupnya orang tersebut merupakan kerusakan bagi Islam, dan dengan kematiannya, patahlah salah satu sarana perusak agama ini.

نسألُ اللهَ عزَّ وجلَّ أنْ يُفرِحَنا بهلاكِ كلِّ داعيةٍ إلى ضلال، وأنْ يُرِيَنا الحقَّ حقًّا ويَرزُقَنا اتِّباعَه، وأنْ يُرِيَنا الباطِلَ باطلًا ويَرزُقَنا اجتِنابَه، وأنْ يُثبِّتَنا على دِينِه وعلى التَّمسُّكِ بكِتابِه وسُنَّةِ نبيِّه صلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّمَ

Kami mohon kepada Allah –‘Azza wa Jalla- agar Dia memberi rasa gembira kepada kami dengan wafatnya setiap da’i (penyeru) kepada kesesatan, dan menampakkan kepada kami (bahwa) yang hak itulah yang hak (kebenaran) dan menganugerahkan kami untuk mengikutinya, serta menampakkan kepada kami bahwa yang batil itu batil dan menganugerahkan kami untuk menjauhinya, serta meneguhkan kami di atas agama-Nya dan berpegang teguh pada Kitab-Nya dan Sunnah NabiNya -Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wa sallam-.

Surabaya, 16/02/2021
Dialihbahasakan oleh Mubarak bin Mahfudh
Semoga bermanfaat.
_______
[1] https://dorar.net/article/1521/
[2] Bisyr bin Ghiyats al-Marisi, seorang mubtadi’ yang sesat, mengambil pendapatnya yang sesat dari al-Jahm bin Sofwan meskipun dia tidak pernah bertemu al-Jahm bin Sofwan. Abu Zur’ah ar-Razi -rahimahullah- berkata; Bisyr al-Marisi zindiq, Bisy al-Marisi wafat pada tahun 218 H. (pent.).

Baca Juga  Antara Adat Dan Ibadah

الموقف الشرعي من وفاة أهل البدع والضلال
علوي بن عبدالقادر السَّقَّاف

إنَّ المُسلِمَ الحقَّ كما يَحزَنُ لموتِ العُلماءِ والدُّعاةِ إلى اللهِ تعالى المتَّبِعين لسُنَّةِ النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، يَفرَحُ بهَلاكِ أهلِ البِدعِ والضَّلالِ والدُّعاةِ إلى الباطِلِ، خاصَّةً إذا كانوا رُؤوسًا ورُموزًا ومُنظِّرين؛ يَفرَحُ لأنَّ بهَلاكِهم تُكسَرُ أقلامُهم، وتُحسَرُ أفكارُهم التي يُلبِّسون بها على النَّاسِ.

ولم يَكُن السَّلفُ الصَّالِحُ يَقتصِرونَ على التَّحذيرِ مِن أمثالِ هؤلاءِ وهم أحياءٌ فقط، فإذا ماتوا تَرَّحموا عليهم وبَكَوْا على فِراقِهم، بل كانوا يُبيِّنون حالَهم بعدَ مَوتِهم، ويُظهرونَ الفَرحَ بهَلاكِهم، ويُبشِّرُ بعضُهم بعضًا بذلك.

ففي الصَّحيحَينِ من حَديثِ أبي قَتادَةَ الأنصاريِّ رضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قال عن موتِ أمثالِ هؤلاءِ: ((يَستريحُ منه العبادُ والبِلادُ والشَّجرُ والدَّوابُّ))؛ فكيف لا يَفرَحُ المسلمُ بموتِ مَن آذَى العِبادَ وأفْسَدَ في البلاد؟!

ولَمَّا جاء خَبرُ موتِ المِرِّيسيِّ الضالِّ وبِشرُ بنُ الحارثِ في السوقِ، قال: (لولا أنَّه كان موضِعَ شُهرةٍ لكانَ موضِعَ شُكرٍ وسُجودٍ، والحمدُ للهِ الذي أماتَه).[تاريخ بغداد: 7/66] [لسان الميزان: 2/308].

وقيل للإمامِ أحمدَ بنِ حَنبلٍ: الرَّجُلُ يَفرَحُ بما يَنزِلُ بأصحابِ ابنِ أبي دُؤاد؛ عليه في ذلك إثمٌ؟ قال: (ومَن لا يَفرَحُ بهذا)؟! [السنة للخلال: 5/121]

وقال سَلَمةُ بنُ شَبيبٍ: كنتُ عند عبد الرَّزَّاقِ- يعني الصَّنعانيَّ-، فجاءَنا موتُ عبد المجيدِ، فقال: (الحمدُ للهِ الذي أراحَ أُمَّةَ محمَّدٍ مِن عَبدِ المجيدِ). [سير أعلام النبلاء: 9/435]، وعبدُ المجيدِ هذا هو ابنُ عبد العَزيزِ بنِ أبي رَوَّاد، وكان رأسًا في الإرجاءِ.

ولَمّا جاءَ نعيُ وَهبٍ القُرشيِّ- وكان ضالًّا مُضِلًّا- لعبدِ الرَّحمنِ بنِ مَهديٍّ، قال: (الحمدُ للهِ الذي أراحَ المُسلِمينَ منه). [لسان الميزان لابن حجر: 8/402].

وقال الحافظُ ابنُ كثيرٍ في [البداية والنهاية 12/338] عن أحدِ رُؤوسِ أهلِ البِدعِ: (أراحَ اللهُ المُسلِمينَ منه في هذِه السَّنةِ في ذِي الحِجَّةِ منها، ودُفِن بدارِه، ثم نُقِل إلى مَقابرِ قُرَيشٍ؛ فللهِ الحمدُ والمِنَّةِ. وحين ماتَ فرِحَ أهلُ السَّنَّة بموتِه فرحًا شديدًا، وأظْهَروا الشُّكرَ لله؛ فلا تَجِدُ أحدًا منهم إلَّا يَحمَدُ الله)!

هكذا كان موقِفُ السَّلفِ الصَّالِحِ رحِمهم اللهُ عندَما يَسمَعون بموتِ رأسٍ مِن رُؤوسِ أهلِ البِدعِ والضَّلالِ.

وقد يَحتجُّ بَعضُ النَّاس على ضدِّ هذا الموقف بما نقلَه الحافظُ ابنُ القيِّم في [مدارج السالكين: 2/345] عن موقِف شيخِه شيخِ الإسلامِ ابنِ تَيميَّةَ من خُصومِه، حيث قال: (وجئتُ يومًا مُبشِّرًا له بموتِ أكبرِ أعدائِه وأشدِّهم عَداوةً وأذًى له، فنَهرَني وتَنكَّر لي واسترجَع،…).

ولكن مَن تأمَّلَ ذلك وجَدَ أنَّه لا تَعارُضَ بين الأَمرينِ؛ فمِن سَماحةِ شيخِ الإسلامِ ابنِ تَيميَّةَ أنَّه لا يَنتقِمُ لنَفْسِه؛ ولذلك عندما أتاه تلميذُه يُبشِّرُه بموتِ أحدِ خُصومِه وأشدِّهم عَداوةً وأذًى له= نَهَره وأَنكَر عليه؛ فالتلميذُ إنَّما أبْدَى لشَيخِه فَرحَه بموتِ خَصمٍ من خُصومِه، لا فَرحَه بموتِه؛ لكونِه أحدَ رُؤوسِ البِدعِ والضَّلالِ

وفي مُقابِلِ هذا الفَرحِ- مع الأسفِ- يحزنُ آخَرون ويبكون أَسَفًا وحُزنًا إذا مات أحَدُ هؤلاء، ويدعُون اللهَ أنْ يُخلِفَ على المُسلِمينَ مِثلَه!- لا أجابَ اللهُ دُعاءَهم-؛ فأمثالُ هؤلاء يُخشَى على دِينِهم إذا كانوا يَعْلَمون ضَلالَهم؛ لأنَّه ما مِن مُسلمٍ يَخشَى اللهَ ويَغارُ على هذا الدِّينِ إلَّا ويَفرَحُ بهلاكِ مَن يَعلَمُ أنَّ ببَقائِه هَدْمَ الإسلامِ، ومَن بمَوتِه يَنكسِرُ مِعوَلٌ مِن مَعاولِ هذا الهدْمِ.

نسألُ اللهَ عزَّ وجلَّ أنْ يُفرِحَنا بهلاكِ كلِّ داعيةٍ إلى ضلال، وأنْ يُرِيَنا الحقَّ حقًّا ويَرزُقَنا اتِّباعَه، وأنْ يُرِيَنا الباطِلَ باطلًا ويَرزُقَنا اجتِنابَه، وأنْ يُثبِّتَنا على دِينِه وعلى التَّمسُّكِ بكِتابِه وسُنَّةِ نبيِّه صلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّمَ.