Luasnya Ampunan Allah

LUASNYA AMPUNAN ALLAH

Daftar Isi

  1. Muqadimah
  2. Ayat-Ayat yang Berkaitan Dengan Taubat
  3. Pengertian Taubat Nashuha
  4. Wajibnya Taubat Nashuha
  5. Setiap Anak Adam Alaihissallam Pasti Bersalah
  6. Anjuran Untuk Melakukan Taubat Nashuha
  7. Luasnya Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
  8. Keutamaan-Keutamaan Taubat Nashuha
  9. Syarat-Syarat Taubat Nashuha
  10. Jujur Dalam Taubat
  11. Perkara-Perkara yang Harus Diingat Sebelum Bertaubat
  12. Perkara-Perkara yang Wajib Dihindari
  13. Perkara-Perkara yang Menghalangi Taubat
  14. Para Nabi dan Rasul Bertaubat Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
  15. Penutup

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Muqaddimah
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji, memohon pertolongan, dan beristighfar kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tiada seorang pun yang mampu menyesatkan-nya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada seorang pun yang mampu memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Amma ba’du:

Sesungguhnya taubat adalah tempat pertama yang harus dilalui oleh setiap orang yang ingin mencapai derajat shidiq (kejujuran) di sisi Dzat Yang Maha Memiliki lagi Mahakuasa. Taubat juga merupakan jalan utama yang harus ditempuh oleh mereka yang ingin menuju jalan akhirat.

Walaupun taubat adalah awal dari semuanya, na-mun ia juga merupakan pertengahan dan akhir yang tidak bisa dipisah oleh seorang hamba yang sedang berjalan menuju akhirat sampai ia mati. Jika ia pindah ke suatu tempat yang lain, maka taubat akan pindah juga dan selalu mengiringinya di manapun dia singgah.

Baca Juga  Menyesal dan Berlepas Dari Kemaksiatan

Taubat adalah yang pertama kali dan terakhir kali yang harus dilakukan seorang hamba, kebutuhan dia terhadap taubat di akhir hayatnya sangatlah penting seperti kebutuhan dia kepada taubat saat akan meng-awali kehidupannya.

Taubat selalu diawali dengan penyesalan akan dosa yang kemudian melahirkan keinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi, bermaksud memperbaiki diri, dan mengetahui bahwa perbuatan maksiat adalah penghalang antara manusia dengan Rabb-nya, sehingga kesadaran ini akan mengantarkan dia kepada kesuksesan dan keselamatan dan tidak ada tempat kesela-matan dari (siksa) Allah kecuali kepada-Nya. Dan dari perasaan khauf (takut) dan raja’ (berharap) dia mengeluarkan taubat yang nashuh. Inilah jalan orang-orang mukmin yang bertaubat. Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari mereka.

Risalah yang saat ini berada di tangan Anda wahai saudaraku di jalan Allah, akan membawa Anda menuju kemuliaan Dzat Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang, sehingga jelas dan nampaklah bagi Anda hakikat dari taubat yang nashuha (taubat yang bersih dan jujur). Dan Anda pun akan termasuk menjadi orang-orang yang bertaubat dan bersuci.

Aku memohon kepada Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri agar Dia mene-rima taubat kita dan membersihkan dosa kita serta menjadikan risalah ini sebagai amal shalih yang diterima dengan baik, sehingga risalah ini bisa dijadikan pedoman dan rujukan bagi orang-orang yang bertaubat.

Ditulis oleh
Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali
selama tiga malam dan selesai pada
bulan Sya’ban tahun 1407H

[Disalin dari buku Luasnya Ampunan Allah”  Terjemahan dari kitab at-Taubah an-Nashuuh fii Dhau-il Qur-aan al-Kariim wal Ahaa-diits ash-Shahiihah,  Ditulis oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullaah, Penerjemah Ruslan Nurhadi, Lc. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Baca Juga  Perkara-perkara yang Harus Diingat Sebelum Bertaubat
  1. Home
  2. /
  3. A6. Wajibnya Taubat Nasuha
  4. /
  5. Luasnya Ampunan Allah