Berpaling Dari Mengingat Allah

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci
13. Berpaling dari Mengingat Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” [Thaahaa/20: 124].

Diriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“… Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” [Thaahaa/20: 124].

Beliau berkata, “Maknanya adalah siksa kubur.”[1]

Al-Hafizh Ibnul Qayyim berkata, “Al-Ma-isyah ad-Dhank (penghidupan yang sempit) ditafsirkan sebagai siksa kubur, karena tidak diragukan bahwa siksa kubur itu adalah sebuah penghidupan yang sempit, bahkan ayat itu mencakup sesuatu yang lebih umum darinya walaupun diungkapkan dengan lafazh yang nakirah (umum) di dalam sebuah redaksi yang itsbat (kalimat positif), karena keumumannya di-fahami dari segi makna, penghidupan yang sempit itu mesti didapatkan oleh orang-orang yang berpaling dari kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Kesempitan itu akan ia dapatkan di dalam dunia, alam kubur dan pada hari Akhir.”[2]

Dan tidak diragukan bahwa berpaling dari kitab Allah merupakan kesesatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ﴿١٢٣﴾وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“… Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan-nya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa/20: 123-124).

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Allah menjamin orang yang mempelajari al-Qur-an dan mengamalkannya, bahwa dia tidak akan pernah tersesat di dalam dunia dan tidak akan pernah sengsara di akhirat.” Kemudian beliau membacakan ayat ini.[3]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Telah berlalu takhrijnya.
[2] Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 137, 163, 164 dengan sedikit pe
[3] Al-Hakim, kitab al-Mustadrak (II/381). Hadits ini dishahihkan oleh beliau dan disepakati oleh ad-Dzahabi. As-Suyuthi mengatakan hal tersebut juga di dalam kitab ad-Durrul Mantsuur, beliau menisbatkannya pula kepada Ibnu Abi Syaibah, al-Farayani, Sa’id bin Manshur, ‘Abd bin Hamid, Muhammad bin Nashr, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iimaan.