Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Sebagai Nabiyyur Rahmah (Nabi Rahmat) (2)

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM SEBAGAI NABIYYUR RAHMAH
(NABI RAHMAT)

Oleh
Al-Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat حَفِظَهُ الله تَعَالَى

Didalam bab : Rahmatil Walad wa Taqbilihi wa Mu’anaqatihi (Bab : Menyayangi Anak dan Menciumnya Serta Memeluknya) Imam al-Bukhari membawakan enam buah hadits yaitu :
Hadits pertama (no: 5994) :

عَنْ ابْنِ أَبِيْ نُعْمٍ قَالَ: كُنْتُ شَاهِدًا ِلابْنِ عُمَرَ وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ دَمِ الْبَعُوْضِ فَقَالَ: مِمَّنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ. قَالَ: انْظُرُوْا إِلَى هَذَا يَسْأَلُنِيْ عَنْ دَمِ الْبَعُوْضِ وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا.

Dari Ibnu Abu Nu’m[18] dia berkata, Saya pernah hadir di sisi Ibnu Umar ketika datang seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang (hukum) darah nyamuk (najis atau tidak)?
Maka beliau bertanya (kepada orang itu), “Engkau orang mana?”.
Laki-laki itu menjawab, “Orang Irak”.
Ibnu Umar berkata, “Lihatlah orang ini yang bertanya tentang (hukum) darah nyamuk, padahal mereka telah membunuh cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[19] , dan saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keduanya (yakni Hasan dan Husain) adalah rizqi yang Allâh telah memberikannya kepadaku dari bagian duniaku.”

Hadits ini dibawakan oleh al-Imam untuk menjelaskan kasih-sayang atau rahmat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian dalam kepada anak-cucu beliau. Sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, bahwa kedua orang cucu beliau ini merupakan rizqi dari bagian dunia beliau. Maka di antara faedah hadits ini dan hadits sebelumnya ialah: Menyayangi dan mencintai anak-cucu sebagaimana perbuatan Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tidak melanggar syari’at.

Hadits kedua (no: 5995):

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِيْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِيْ بَكْرٍ: أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِيْ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِيْ غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا، فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ. فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثْتُهُ فَقَالَ: مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّارِ

Dari Zuhriy, dia berkata, Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Bakar (dia berkata): Bahwasanya Urwah bin Zubair telah mengabarkan kepadanya: Sesungguhnya Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepadanya: “Pernah datang kepadaku seorang wanita bersama kedua anak perempuannya meminta (sesuatu) kepadaku, tetapi aku tidak mempunyai sesuatu selain sebuah korma, maka aku berikan kepadanya. Kemudian dia membagi sebuah korma itu untuk kedua anaknya (sedangkan dia sendiri tidak dapat). Kemudian dia berdiri lalu pergi. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, maka aku menceritakan (kejadian itu) kepada beliau, maka beliau bersabda: “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat ihsan (kebaikan) kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi tabir baginya dari api neraka”[20].

Lafazh ihsân di dalam hadits ini merupakan lafazh yang bersifat umum yang mencakup semua kebaikan:

Pertama: Berbuat ihsân kepada mereka tidak terbatas hanya kepada yang wajib-wajib saja seperti mendidik dan memberi nafkah. Akan tetapi masuk ke dalam ihsân amal-amal yang sunat seperti di dalam hadits ini, wanita itu telah mengutamakan kedua anaknya dari dirinya sendiri.

Kedua: Adapun yang masuk ke dalam ihsân di antaranya ialah:
1. Mendidiknya dengan pendidikan agama.
2. Mengurus dan merawatnya dari kecil.
3. Memberinya nafkah, seperti makan, minum dan pakaian dan lain-lain.
4. Mengajarkan adab dan akhlaq yang mulia kepada mereka.
5. Bersabar dalam mendidik dan mengurus mereka dan bersabar atas gangguan-gangguan mereka.

Ketiga: Tentunya dengan syarat, bahwa perbuatan ihsan itu harus disetujui oleh Syara’ (Agama) dan tidak menyalahinya sebagaimana telah dikatakan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar ketika mensyarahkan hadits ini : “Syarat ihsan itu ialah yang menyetujui Syara’ tidak menyalahinya”.

Hadits ketiga (no: 5996):

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَفَعَهَا

Dari Abu Qatâdah, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami sedangkan Umamah binti Abil ‘Ash berada dipunggungnya, kemudian beliau shalat (mengimami kami), maka apabila beliau ruku’ beliau meletakkan Umamah, kemudian apabila beliau bangkit beliau mengangkatnya (kembali)”.[21]

Dan begitulah seterusnya, apabila beliau sujud beliau meletakkan Umâmah, dan apabila beliau bangkit dari sujud beliau kembali menggendongnya sebagaimana telah dijelaskan dalam riwayat yang lain.[22]

Di antara faedah dari hadits yang mulia ini ialah:
Pertama: Mencurahkan kasih-sayang kepada anak-cucu dan secara umum kepada anak-anak kecil.

Kedua: Selain kita diperintah untuk mendidik mereka dengan pendidikan agama yang benar yang berjalan di atas al-Kitab dan al-Hadits menurut pemahaman Salaful ummah, kita juga diperintah untuk menjaga dan memelihara fisik mereka. Lihatlah kepada perbuatan Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam, alangkah besarnya rahmat atau kasih-sayang beliau dan pemeliharaan beliau secara fisik kepada Umâmah, ketika beliau ruku atau sujud beliau meletakkan Umâmah agar tidak terjatuh ke tanah yang akan merusak fisiknya. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu sedang shalat mengimami manusia dan dalam kekhusyuannya, tetapi semua itu tidak menghalangi beliau untuk tetap menjaga Umâmah.

Itulahlah rahmat yang sangat besar yang beliau tebarkan kepada umatnya !

Sungguh hadits yang mulia ini menjadi sebuah contoh teladan yang sangat berharga sekali bagi kita kaum muslimin dari Nabi yang pada diri beliau terdapat uswatun hasanah, khususnya pada zaman ini, di mana sering terjadi kekerasan pada anak-anak. Kita melihat kekerasan kepada anak-anak terjadi di mana-mana, di keluarga, di masyarakat, di sekolah dan seterusnya.

Maka akan selalu kita katakan kepada manusia pada setiap masalah kehidupan, bahwa Islamlah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar semuanya, di antaranya kasih-sayang kepada anak-anak, dan Islam pun telah melarang melakukan kekerasan kepada mereka yang berakibat merusak kejiwaan dan fisik mereka. Sayang sekali, ajaran yang mulia ini tidak diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin sehingga mereka terbenam ke dalam taqlid buta kepada orang-orang kuffar.

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya orang-orang kuffar di barat dan di timur tidak akan sanggup berbicara tentang kasih-sayang kepada anak-anak dan larangan melakukan kekerasan kepada mereka, kecuali setelah mereka melihat ajaran Islam dalam bab ini seperti kebiasan mereka dalam bab-bab yang lainnya, walaupun mereka tidak mau mengakuinya dengan lisan dan tulisan dan perbuatan mereka. Tetapi sebagaimana kebiasan orang-orang kuffar –karena tidak dilandasi oleh keimanan kepada Allâh dan Rasul-Nya- mereka telah berlebihan dan melampaui batas dari apa yang dikehendaki oleh Islam.

Hadits keempat (no: 5997):

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيْمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِيْ عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا. فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium Hasan bin Ali sedangkan di sisi beliau ada Aqra’ bin Haabis at-Tamimiy lagi duduk, maka berkata Aqra’, “Saya mempunyai sepuluh orang anak tidak pernah saya mencium seorangpun di antara mereka”.
Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada Aqra’ kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak penyayang pasti tidak akan disayang”[23].
Perhatikanlah rahmat Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak! Baru urusan cium-mencium –apalagi yang selainnya-beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak penyayang pasti tidak akan disayang”.

Kemudian perhatikanlah hadits selanjutnya!

Hadits kelima (no: 5998):

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: تُقَبِّلُوْنَ الصِّبْيَانَ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ.

Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Datang seorang a’rabiyyun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, ‘Kamu biasa mencium anak-anak kamu sedangkan kami tidak pernah mencium mereka.”
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa dayaku untuk menolongmu ketika Allâh telah mencabut kasih-sayang dari hatimu”[24].

Hadits keenam (no: 5999):

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِيْ إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ؟ قُلْنَا: لاَ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ فَقَالَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pernah didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang wanita dan anak-anak, maka tiba-tiba ada seorang tawanan wanita yang selalu menyusui (mencari anaknya), apabila dia mendapatkan seorang bayi di dalam tawanan, maka (segera) mengambilnya dan merapatkan keperutnya kemudian menyusuinya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, ‘Apakah kamu mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke api ?’
Kami menjawab, “Tidak, dan dia sanggup untuk tidak melemparkannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh lebih rahim kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya”[25].

Hadits ini dibawakan oleh al Imam sesuai dengan bab yang beliau rahimahullah berikan yaitu kasih-sayang kepada anak. Dalam hadits yang mulia ini terdapat taqrîr (persetujuan) dan qaul (sabda) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kasih-sayang seorang ibu kepada anaknya yang demikian dalamnya. Dia mencarinya kesana-kemari ketika anak itu hilang, dan menyusuinya ketika anak itu membutuhkan asi (air susu ibu), dan tidak mungkin seorang ibu akan mencelakakan anaknya…

Itulah enam buah hadits telah dibawakan oleh al Imam dalam bab (18) rahmatul walad…

Kemudian masih dalam kitab yang sama kitabul adab dari kitab shahih beliau bab (20) dengan judul bab : Bâbu Qatlil Walad Khasyyata an Ta’kula Ma’ahu (Bab: Membunuh anak karena takut makan bersamanya (takut miskin)

Kemudian al Imam membawakan sebuah hadits (no: 6001):

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ قَالَ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ. وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيْقَ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُوْنَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ الآيَةَ.

Dari Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata, “Saya pernah bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh, dosa apakah yang paling besar ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Engkau menjadikan bagi Allâh tandingan padahal Dia yang telah menciptakanmu”.
Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi ?’ Beliau menjawab, ‘Engkau membunuh anakmu karena takut makan bersamamu (karena engkau takut miskin).’
Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi ?’ Beliau menjawab, ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu’.
Kemudian Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat membenarkan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : (Dan mereka yang tidak menyeru (menyembah) tuhan yang lain bersama Allâh…).[26]

Saya tutup bagian kedua ini dengan sebuah hadits yang sangat agung lagi sangat besar dari perintah Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita untuk menyebarkan dan menebarkan rahmat kepada penduduk bumi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوْا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ (رواه أبوداود والترمذي وغيرهما)

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh ar-Rahman, maka sayangilah penduduk bumi, niscaya Allâh yang berada di atas langit akan menyayangi kamu[27] “. (Hadits shahih lighairihi riwayat Abu Dawud (4941) dan Tirmidzi (1924) dan yang selain keduanya.[28]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[18]. Anak beliau Ibrahim bin Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari budak beliau Maria al Qibthiyyah.
[19]. Yang namanya Abdurrahman.
[20]. Yakni Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhuma cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah di bunuh dan mati terzhalimi oleh sebagian penduduk Irak. Yakni, bagaimana mungkin mereka bertanya tentang hukum darah nyamuk najis atau tidak ? Padahal mereka telah membunuh Husain salah seorang kecintaan dan buah hati Nabi yang mulia n yang merupakan rizqi yang Allâh berikan kepada beliau dari bagian dunia beliau. Yang paling tepat, mestinya mereka bertanya tentang dosa pembunuhan yang mereka lakukan secara berjama’ah, kemudian mereka beristighfar dan bertaubat kepada Allâh atas perbuatan yang telah mereka kerjakan. Tetapi hal ini tidak menunjukkan bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan tentang darah nyamuk ! Tidak demikian! Barangkali –wallahu ‘alam- Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma ingin memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada penduduk Irak dan kepada kita sekalian, bahwa yang lebih penting dan sangat diutamakan dalam bertanya ialah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi penanya, untuk dunia dan akheratnya. Kemudian yang di bawahnya dan di bawahnya. Kalau sekiranya orang itu bertanya tentang hukum pembunuhan yang mereka lakukan terhadap Husain Radhiyallahu anhuma, pastilah sangat bermanfaat bagi mereka untuk segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Pertanyaan orang Irak itu sama persis dengan sejumlah pertanyaan dari mereka yang hidup pada zaman kita. Seperti mereka bertanya tentang hukum onani, padahal mereka telah berzina menumpahkan maninya ke farji yang haram!? Dan seterusnya. Maka jawaban Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma merupakan kaidah yang sangat besar sekali dalam bab ini.
[21]. Hadits ini dikeluarkan juga oleh Muslim (2629). Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Bukhari di tempat yang lain (1418). Hadits yang semakna dengan hadits ini cukup banyak sebagiannya telah saya bawakan di kitab saya menanti buah hati dan hadiah untuk yang dinanti pada Pasal ke-11 dengan judul keutamaan mendidik dan berbuat ihsan kepada anak-anak perempuan.
[22]. Hadits ini telah dikeluarkan juga oleh Muslim (543). Al-Imam al-Bukhari juga telah meriwayatkan hadits di kitab shalat (516).
[23]. Silahkan meruju’ ke kitab saya menanti buah hati dan hadiah untuk yang dinanti (Pasal 30 dengan judul hukum membawa anak ketika shalat).
[24]. Hadits ini telah dikeluarkan juga oleh Muslim (2318).
[25]. Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2317).
[26]. Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2754).
[27]. Surat al-Furqân/25:68. Hadits ini telah dikeluarkan juga oleh Muslim (86).
[28]. Di atas langit yakni di atas ‘Asry-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersemayam sesuai dengan Kebesaran-Nya sebagaimana Allâh k beritahukan dalam al-Qur’an di beberapa tempat yang menjadi salah satu sifat fi’liyyah (perbuatan) Allâh k . Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di banyak haditsnya, di antaranya hadits yang sangat besar ini. Inilah aqidah yang sangat agung, yang Allâh telah memfithrahkan mahluk berdasarkan aqidah yang sangat besar ini. Oleh karena itu tidak ada yang mengingkarinya kecuali mereka yang telah rusak fithrahnya seperti Fir’aun bersama para pengikutnya.
Silahkan meruju’ untuk melihat kelengkapan takhrij ilmiyyahnya ke kitab Silsilah Shahîhah oleh al Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani (no: 925). Isnad hadits ini dha’if karena kelemahan salah seorang rawinya yaitu Abu Qâbus maula Abdullah bin Amr bin Ash. Tetapi rawi yang dha’if ini telah ada mutaabi’nya, dan hadits ini pun telah ada syawaahidnya sehingga memungkinkan derajatnya naik menjadi shahih lighairi

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!