Mengganti Puasa Orang Yang Sudah Meninggal?

MENGGANTI PUASA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL?

Pertanyaan.
Saya mau bertanya tentang hadist, “Mengganti puasa atas orang yang sudah meninggal dunia” Karena saya pernah baca di kitab Ash Shahabi Yas’al Wa an-Nabi Yujib oleh Salman Nashif ad-Duhduh penerbit Dâr al-Basya’ir al-Islamyah, hal tersebut di bolehkan. Mohon penjelasannya karena hadist ini diriwayatkan oleh lima perawi dari Ibn Abbâs Radhiyallahu anhu. apakah riwayat itu termasuk hadist shahîh ? Jazâkallâh

Jawaban.
Demikian pula dengan hadits  Abdullah bin Abbâs dengan beberapa  lafadznya yang juga dikeluarkan oleh Bukhari, no 1953 dan Muslim diantaranya

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ n ، فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيْهِ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ، قَالَ: فَدَيْنُ اللهِ أحقُّ أن يُقْضَى

Seseorang mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ibuku meninggal dunia  sementara beliau masih memiliki tanggungan puasa satu bulan. Bolehkah aku membayarkannya ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,  “Ya,  hutang kepada Allâh lebih berhak untuk dilunasi.”

Kemudian berkenaan dengan masalah, bolehkah seseorang mengganti   puasa orang lain ? Penyusun kitab  al-mausu’ah al-fiqhiyyah al-muyassarah[1] membawakan perkatan ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tahdzibus sunan, 7/27 yang berbunyi, “Para ahli ilmu berbeda pendapat dalam masalah orang yang meninggal dunia sementara dia masih memiliki tanggungan puasa, bolehkah puasanya itu ditunaikan (oleh orang lain-red) ? (Mereka terbagi) menjadi tiga pendapat :

Pendapat pertama, tidak boleh seseorang menggantikan puasa orang lain secara mutlak baik puasa nadzar maupun puasa yang hukum asalnya wajib (puasa Ramadhan-red). Ini adalah  madzhab Imam Syafii Imam Malik dan Imam abu Hanifah beserta pengikutnya

Pendapat kedua, boleh menggantikan puasa orang lain secara mutlak baik puasa nadzar ataupun maupun puasa yang hukum asalnya wajib (puasa Ramadhan-red). Ini adalah pendapat Abu Tsaur dan salah satu riwayat dari  pendapat Imam  Syâfi’i

Pendapat ketiga, boleh menggantikan puasa orang lain tetapi hanya untuk puasa nadzar bukan yang lainnya. Ini merupakan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Ubaid, al-Laits bin Sa’ad. Ini juga pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu .

Dari tiga pendapat ini yang rajih wallahu a’lam adalah pendapat yang ketiga yaitu boleh bagi wali mengganti puasa  tetapi hanya pada puasa nadzar berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Baca Juga  Menentukan Ramadhan

Pertama, hadits dari Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Ada sorang wanita yang tengah menaiki kapal laut lalu dia bernadzar apabila Allâh  Azza wa Jalla menyelamatkannya maka dia akan berpuasa selama satu bulan. Lalu Allâh  Azza wa Jalla menyelamatkannya akan tetapi dia belum melaksanakan nadzarnya tersebut sampai akhirnya wafat. Kemudian salah seorang kerabatnya (putri atau saudarinya) mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian yang dialami wanita tersebut. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَرَأَيْتُك ِلَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ  كُنْتِ تَقْضِيْنَهُ ؟ فَقَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ : فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى) (فَاقْضِ عَنْ أُمِّكِ)

(Bagaimana pendapatmu, jika ibumu memiliki hutang (apakah) akan melunasinya ?’ Wanita itu menjawab, “Tentu.”) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Sungguh hutangnya kepada Allâh Azza wa Jalla lebih berhak untuk dibayarkan.  maka lunasilah (tunaikanlah-red) kewajiban itu atas nama ibumu[2]

Kedua hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu yang lain :

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، اسْتَفْتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ، فَقَالَ: اقْضِهِ عَنْهَا

Sesungguhnya Sa’ad bin Ubâdah Radhiyallahu anhu meminta fatwa kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia sementara dia masih memiliki tanggungan puasa nadzar,” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah nadzar itu untuknya !”[3]

Ketiga, atsar dari Aisyah Radhiyallahu anha ketika ditanya oleh seorang wanita yang bernama Amrah, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia sementara dia masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan,  bolehkah aku menunaikannya untuknya ?’ Beliau Radhiyallahu anha menjawab, ‘Tidak , akan tetapi bersedekahlah untuknya kepada orang miskin setengah sha’ (sebagai ganti) tiap satu hari puasa. (Dikeluarkan ole hath-Thahawi t 3/142 dan Ibnu Hazm, 7/4 dan lafazh ini adalah lafazh miliknya dan dia memiliki sanad. Ibnu at-Turkumani rahimahullah mengatakan, “Shahih.”

Keempat, atsar dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Said bin Jubair Radhiyallahu anhu. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Apabila ada seseorang sakit pada bulan Ramadhan kemudian dia meninggal dunia sementara dia belum sempat melaksanakan ibadah puasa, maka gantilah untuknya dengan memberi makan orang miskin dan dia tidak memiliki kewajiban mengganti puasannya. Dan apabila dia memiliki kewajiban puasa nadzar maka walinya (disyari’atkan) untuk menggantikannya (dalam menunaikan puasa ini-red). (Dikeluarkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. Atsar ini juga memiliki jalur periwayatan yang sama disisi Ibnu Hazm, 7/7 dan beliau rahimahullah menilai sanadnya shahih)

Baca Juga  Apakah Lailatul Qadr Merupakan Salah Satu Kekhususan Umat Islam?

Penyusun kitab al-Mausu’ah fiqhiyyah al-muyassarah juga menukil perkataan syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Ahkâmul Janâ‘iz, “Pendapat yang  benar dalam masalah ini adalah pendapat yang mentafshil (menjelaskan secara terperinci bahwa disyari’atkan menggantikan puasa orang lain dalam puasa nadzar) yang merupakan pendapat Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha dan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma yang diikuti oleh Imam Ahmad rahimahullah. Pendapat inilah yang memberikan ketenangan pada jiwa dan membuat dada menjadi lapang. Dan ini adalah pendapat yang paling adil dan paling tengah.

Pendapat ini merupakan pengamalan dari semua hadits tanpa ada penolakan terhadap hadits yang lain dengan disertai pemahaman yang benar terhadap hadits-hadits itu, khususnya hadits pertama[4] yang diriwayatkan dari beliau Aisyah Radhiyallahu anha. ummul Mukminin Radhiyallahu anha tidak memahami adanya keumuman yang mencakup puasa Ramadhan dalam hadits ini padahal ini adalah hadits riwayat beliau Radhiyallahu anha .

Dan sebagaimana sudah menjadi sebuah ketetapan bahwa perawi hadits lebih tahu (daripada orang lain) terhadap makna hadits yang diriwayatkannya, terutama jika pemahamannya itu sejalan dengan kaidah-kaidah syari’at dan dasar-dasarnya.

Jawaban ini kami ringkaskan dari al-mausu’ah al-fiqhiyyah al-muyassarah, karya Husain bin ‘Audah al-Awaisyah, hlm. 327-332.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XV/1433H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Hlm. 332
[2] Dikeluarkan oleh Abu Daud, an-Nasa’I, ath-Thahawi, ath-Thayaalisi, Ahmad (kisah dan tambahannya adalah riwayat dari beliau rahimahullah . Isnad riwayat ini sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim.
[3] HR. al-Bukhari, no. 2761 dan Muslim, no. 1638
[4] Hadits yang dimaksudkan adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
Barangsiapa meninggal dunia dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya menunaikan puasa tersebut. (HR. al-Bukhari, no 1952 dan Muslim, no. 1147 dari Aisyah Radhiyallahu anha )