Bukti Kenabian Dalam Perang Khandaq

BUKTI KENABIAN DALAM PERANG KHANDAQ

Pada edisi sebelumnya disebutkan keputusan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menggali khandaq (parit) untuk menghambat gerakan musuh. Di saat pengagalian parit inilah terlihat beberapa mu’jizat Rasûlullâh yang menguatkan dan membuktikan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allâh sebagai nabi dan rasul. Diantara bukti-bukti tersebut :

1. HIDANGAN JABIR RADHIYALLAHU ANHU
Jabir Radhiyallahu anhu bercerita, “Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, ‘Batu yang sangat keras ini menghalangi kami menggali parit,’ Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri yang akan turun.” Kemudian beliau berdiri (dalam parit), sementara perut beliau diganjal dengan batu (karena lapar). Tiga hari (terakhir) kami (para shahabat) belum merasakan makanan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kampak dan memukul batu tersebut hingga pecah berkeping-keping. Lalu aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, izinkanlah aku pulang ke rumah.” Sesampaiku di rumah, aku bercerita kepada isteriku, “Aku tidak tega melihat kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apakah kamu memiliki sesuatu (makanan) ?” Isteriku menjawab, “Aku memiliki gandum dan anak kambing.” Kemudian ia meyembelih anak kambing tersebut dan membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika adonan makanan tersebut hampir matang dalam bejana yang masih di atas tungku, aku menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, aku memiliki sedikit makanan. Datanglah ke rumahku dan ajaklah satu atau dua orang saja.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Untuk berapa orang ?” Lalu aku beritahukan kepada beliau. Beliau bersabda, “lebih banyak yang datang lebih baik.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Katakan kepada isterimu, jangan ia angkat bejananya dan adonan roti dari tungku api sampai aku datang.” Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bangunlah kalian semua.” Kaum Muhâjirin dan Anshâr yang mendengar perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu langsung berdiri dan berangkat. Jabir Radhiyallahu anhu menemui isterinya (dengan cemas), dia mengatakan, “Celaka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama kaum Muhâjirîn dan Anshâr serta orang-orang yang bersama mereka.” Isteri Jabir bertanya, “Apa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertanya (tentang jumlah makanan kita) ?” Jâbir z menjawab, “Ya. ” Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.” Kemudian Rasûlullâh mencuil-cuil roti dan ia tambahkan dengan daging, dan ia tutup bejana dan tungku api. Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mendekatkannya kepada para sahabatnya. Lantas beliau mengambil kembali bejana itu dan terus-menerus beliau lakukan itu hingga semua sahabat merasa kenyang dan makanan masih tersisa. Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada istri Jabir Radhiyallahu anhu), “Sekarang kamu makanlah ! Dan hadiahkanlah kepada orang lain, karena masih banyak orang yang kelaparan.”[1]

KABAR PENAKLUKAN KERAJAAN-KERAJAAN BESAR
Ketika para sahabat mendapatkan batu besar yang tidak bisa dipecahkan, maka Rasûlullâh mulai memukul batu tersebut. Beliau memulainya dengan membaca, “Bismillah.” Lalu memukul dan berhasil menghancurkan sepertiganya dan beliu n mengucapkan, “Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Syam. Demi Allâh, sekarang saya melihat istana yang merah.” Beliau melanjutkan dengan pukulan kedua. Kali ini, , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berhasil menghancurkan sepertiga berikutnya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Paris. Demi Allâh ! Saya melihat istananya yang putih.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan pukulan ketiga dan akhirnya batu yang tersisa berhasil dipecahkan. Setelah pukulan ketiga, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Allâhu akbar ! aku telah di beri kunci-kunci Yaman. Demi Allâh aku melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini.”[2]

SIKAP KAUM MUNAFIQIN
1. Mengingkari janji Allâh dan Rasul-nya
Kaum Muslimin mengimani dan membenarkan berita Rasûlullâh yang mengabarkan tentang hal-hal yang akan terjadi, termasuk kabar tentang beberapa penaklukan. Sikap kaum Muslimin ini sesuai dengan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’ân.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala kaum Mukminin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allâh dan Rasûl-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allâh dan Rasûl-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. [al-Ahzâb/33:22]

Sikap ini bertolak belakang dengan sikap orang-orang munafiq yang menganggap janji itu sebagai tipu daya belaka. Allah wa Jalla berfirman :

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allâh dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” [al-Ahzâb/33:22]

2. Mencari-cari alasan supaya bisa tidak ikut berperang dan memendam keinginan untuk mengacaukan barisan kaum Muslimin
Inilah diantara sikap orang-orang munafiq saat kaum Muslimin berhadapan dengan musuh yang berlipat ganda jumlah dan kekuatannya. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha melemahkan semangat kaum Muslimin dari dalam.Namun, Allâh k menyelamatkan kaum Muslimin dari akibat buruk ulah mereka dengan menyebutkan niat buruk mereka dalam al-Qur’ân.[3]

KEINGINAN RASULULLAH BERDAMAI DENGAN KABILAH GATHAFAN
Setelah penggalian parit tuntas, tidak lama setelah itu, pasukan gabungan yang berjumlah sepuluh ribu pasukan tiba di kota Madinah, sementara kaum Muslimin sudah bersiap di seberang parit.

Melihat pasukan musuh dalam jumlah yang sangat besar dan kuat, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk memperkecil kekuatan musuh agar bisa mengurangi beban kaum Muslimin akibat perang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat mengadakan perdamaian dengan kabilah Gathafan dengan syarat sebagai berikut :

1. Qabilah Gathafan harus menarik kembali pasukannya dari medan perang

2. Sebagai imbalannya, Rasûlullâh menyerahkan sepertiga hasil panen kaum Anshâr.

Namun keinginan ini dibatalkan setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar pendapat dua tokoh Anshâr yaitu Sa’ad bin Muâ’z dan Sa’ad bin Ubâdah yang tidak menyetujuinya. Keduanya menolak setelah tahu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa niat perdamaian ini semata mata keinginan Rasûlullâh dan bukan wahyu dari Allâh Azza wa Jalla.[4]

PENGKHIANATAN BANI QURAIZHAH
Beban yang dirasakan oleh kaum Muslimin semakin bertambah berat setelah mendengar bani Quraizhah melanggar perjanjian damai. Dan yang sangat mengkhawatirkan kaum Muslimin adalah kemungkinan mereka akan menyerang dari belakang, karena pemukiman bani Quraizhah terletak di sebelah timur daya Madinah. Kondisi genting ini di abadikan dalam al-Qur’ân.

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ

“Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka yang bukan-bukan terhadap Allâh.[al-Ahzaab/33:10]

Untuk memastikan berita tersebut, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada para shahabat untuk mencari kabar tentang bani Quraizhah. Tawaran Rasûlullâh ini direspon oleh Zubair bin Awwam. Setelah mendapatkan kabar yang pasti dari Zubair tentang pengkhiatan bani Quraizhah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh setiap nabi memiliki penolong dan penolongku adalah Zubair.”[5]

Pengkhianatan bani Quraizhah ini tidak lepas dari bujukan seorang Yahudi bernama Hayyi bin Akhtab yang berhasil meyaqinkan Ka’ab bin As’ad untuk membatalkan perjanjian dengan kaum Muslimin.[6]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1431H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. HR. Bukhari, no.(Fathul Bâri, ta’liq Syekh bin Baz, Bâb Ghazwatil Khandaq, 7/395).
[2]. Musnad Imam Ahmad:(30/626), Fathul Bâri, ta’liq Syekh bin Baz, Bâb Ghazwatil Khandaq, 7/397.
[3]. Baca al-Qur’an Surat al-Ahzâb/33 ayat ke-13 sampai 20.
[4]. Lihat As-Sîratun Nabawiyah fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 450 dan as-Sîratun Nabawiyyah as-Shahîhah, 427
[5]. Fathul Bâri, ta’liq Syekh bin Baz, Bâb Ghazwatil Khandaq, 7/406 dan Shahîh Muslim, 7/127.
[6]. As-Sîratun Nabawiyah, Ibnu Hisyâm, 2/220; As-Sîratun Nabawiyah fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 451; as-Sîratun Nabawiyyah as-Shahîhah, 427).