Mu’âwiyah bin Abi Sufyân Radhiyallahu Anhuma Tabir Para Sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN RADHIYALLAHU ANHUMA TABIR PARA SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Mu’âwiyah bin Abi Sufyân Radhiyallahu anhuma adalah salah seorang hamba Allâh Azza wa Jalla  yang dimuliakan Allâh Azza wa Jalla dengan diberi kesempatan untuk menemani Rasul-Nya dalam berbagai aktivitas sehingga beliau Radhiyallahu anhu berhak menyandang gelar sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .  Karena beliau Radhiyallahu anhu salah satu sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka semua keutamaan para sahabat  secara umum, juga diraih oleh Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , disamping juga  memiliki keutamaan yang tidak dipunyai oleh sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Salah seorang Ulama salaf yang bernama Abu Taubah al-Halabi rahimahullah mengatakan, sesungguhnya Mu’âwiyah adalah satr (penutup atau tabir) bagi para sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Barangsiapa berani menyingkap tabir ini, maka ia akan lancang kepada semua yang berada disebalik tabir itu.

Artinya, seseorang yang berani mencela Mu’âwiyah bin Abi Sufyân Radhiyallahu anhuma , maka ia dengan ringannya juga akan menggunjing sahabat lainnya. Celaan ini tidak hanya akan terhenti sampai Mu’âwiyah saja, namun juga akan mengular hingga para sahabat lain. Bahkan para sahabat yang lebih baik dari Mu’âwiyah dan merupakan manusia terbaik setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khatthâb, Utsmân bin Affân dan Ali bin Thâlib g juga tidak selamat dari celaan.

Sejatinya, ucapan baik atau layak yang ditujukan untuk para Sahabat, disamping memang mereka sebagai orang-orang yang berhak menerimanya, ucapan itu juga akan membuahkan kebaikan bagi si pengucap. Lihatlah para pendahulu kita yang membicarakan kebaikan dan jasa para Sahabat. Nama-nama mereka senantiasa disebut beserta ucapan baiknya, selalu dido’akan agar mendapatkan rahmat dari Allâh Azza wa Jalla ; Mereka juga selalu dipuji karena telah menunaikan kewajiban yang berhubungan para Sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sebaliknya, orang-orang yang lancang mengghibah para Sahabat dengan berbagai dalih, sejatinya sebagai celaan bagi si pengucap itu sendiri. Perkataan buruknya sama sekali tidak mencelakai para Sahabat. Para pencela itu seperti menggali kubur sendiri. Para Sahabat  telah mempersembahkan berbagai kebaikan dan jasa untuk Islam dan kaum Muslimin. Mereka telah menunaikan berbagai tugas mulia bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sampai akhirnya Allâh Azza wa Jalla meridhai mereka. Lalu bagaimana dengan para pencela Sahabat?

Celaannya itu tidak mendatangkan efek buruk terhadap para sahabat, tetapi sebaliknya justru mendatangkan tambahan kebaikan. Derajat mereka semakin tinggi, karena setiap kali dicela, maka mereka diberitambahan kebaikan yang diambilkan dari kebaikan si pencela.

Muawiyah bin Abi Sufyan termasuk diantara deretan para sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki banyak keutamaan, namun bukan berarti tidak memiliki kesalahan. Karena secara individu, tidak ada seorang pun yang ma’shûm selain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Namun kesalahan yang dilakukan oleh para sahabat  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila dibandingkan kebaikan mereka yang menggunung, itu sangat sedikit. Terlebih bila mengingat Rabb kita yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun, maka seakan semua kesalahan para sahabat itu sudah terampuni, termasuk Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu penulis wahyu.

Tidakkah kita malu kepada diri kita yang serba berkekurangan dari berbagai segi namun lancang mengomentari Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , orang yang pernah shalat di belakang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?! Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ (وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ) أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ.

Janganlah kalian mencaci para Sahabatku! Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian (dalam salah satu riwayat Muslim: Demi Allâh, yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya jika seseorang di antara kalian) berinfak dengan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan bisa menandingi satu mud kebaikan satu orang di antara Sahabatku, bahkan separoh mudpun tidak. [HR Bukhâri dan Muslim].

Mestinya kita mengikuti firman Allâh dan mengatakan:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. [al-Hasyr/59:10]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]