Syaitan dan Jiwa Orang Waswas Setelah Buang Air Kecil

SYAITAN DAN JIWA DALAM AL-QUR-AN DAN AS-SUNNAH

Oleh
Syaikh Ahmad bin Salim Ba Duwailan

Orang yang mengamati al-Qur-an dan as-Sunnah akan mendapati, bahwa perhatian keduanya lebih banyak mengenai syaitan, tipu daya dan permusuhannya, dibandingkan dari penyebutan jiwa.

Jiwa yang tercela disebutkan dalam al-Qur-an pada:

اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ

“…Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejaha-tan… .” [Yuusuf/12: 53]

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ 

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” [Al-Qiyaamah/75: 2]

وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

“…Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.”  [An-Naazi‘aat/79: 40]

Adapun mengenai penyebutan syaitan, banyak disebutkan di beberapa ayat, bahkan ada satu surat penuh yang membahas tentangnya. Maka, peringatan Allah kepada hamba-hamba-Nya terhadap syaitan adalah lebih daripada peringatan-Nya terhadap jiwa. Hal ini menunjukkan, bahwa seorang hamba harus lebih mewaspadainya daripada jiwa. Karena kerusakan dan kejelekan jiwa itu timbul dari bisikan syaitan. Jiwa itu pun merupakan ladang dan sasaran kejelekannya juga tempat untuk mentaatinya.

Allah telah memerintahkan untuk beristi‘aadzah (meminta perlindungan) dari kejahatan syaitan tatkala hendak membaca al-Qur-an atau yang lainnya. Ini disebabkan berlindung dari syaitan sangatlah diperlukan. Tetapi tidak ada satu  ayat pun yang memerintahkan untuk berlindung dari jiwa. Berlindung dari jiwa hanyalah terdapat dalam dalam satu hadits mengenai khutbatul haajah, yaitu dalam sabda beliau:

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

Dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kami dan dari kejahatan perbuatan kami.”[1]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah menggabung untuk berlindung dari kedua hal tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dishahiihkan olehnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu  berkata, “Ya Rasulullah, ajarkan saya sesuatu yang bisa saya ucapkan pada waktu pagi dan petang?” Beliau bersabda:

قُلْ: اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ومَلِيْكَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلىَ نَفْسِيْ سُوْءاً أَوْ أَجُرَّهُ إِلىَ مُسْلِـمٍ قُلْهُ إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ.

“Katakanlah, ‘Ya Allah, Yang mengetahui hal-hal yang ghaib dan hal-hal yang nyata, Pencipta langit dan bumi, Yang mengatur segala sesuatu dan Yang memilikinya. Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Engkau, aku berlindung dari kejahatan diriku dan dari kejahatan syaitan dan sekutunya, dan aku berlindung dari melakukan kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’ Ucapkanlah olehmu ketika waktu pagi dan waktu petang, dan ketika hendak tidur.”[2]

Baca Juga  Orang yang Waswas dan Ketaatan Terhadap Syaitan

Hadits yang mulia di atas mengandung do’a perlindungan dari kejelekan, sebab-sebabnya dan tujuannya. Sebenarnya kejelekan itu semuanya bersumber, entah dari jiwa ataupun dari syaitan, dan tujuannya, bisa kembali pada si pelakunya ataupun pada saudaranya semuslim. Maka hadits di atas mengandung keterangan bahwa dua sumber kejelekan itu bersumber dari keduanya, dan semua tujuan kejelekan pun bersumber dari keduanya.

APA YANG DILAKUKAN ORANG WASWAS SETELAH BUANG AIR KECIL
Yang banyak dilakukan oleh orang yang waswas setelah buang air kecil ada sepuluh macam, as-salt, an-natr, an-nahnahah, al-masy, al-qafz, al-habl, at-tafaqqud, al-wujuur, al-hasywu, al-‘ashaabah,dan ad-darajah.

Adapun as-salt adalah, menarik dari pangkal kemaluannya sampai ujungnya. Atas dasar hadits gharib yang tidak tsubut, dalam Musnad dan Sunan Ibni Maajah, dari ’Isa bin Yazdad al-Yamaniy dari bapaknya, dia berkata, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَنْـتُرْ ذَكَرَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ!

Bila salah seorang dari kalian buang air kecil, maka tariklah/ urutlah kemaluannya tiga kali!

Jabir bin Zaid berkata, “Apabila engkau buang air kecil, maka usaplah bagian bawah dari kemaluanmu, maka (air kencing pun) akan berhenti!” Diriwayatkan oleh Sa‘id darinya.

Mereka mengatakan, “Sebab dengan as-salt dan an-natr bisa mengeluarkan sesuatu yang dikhawatirkan kembali setelah istinja.’”

Mereka mengatakan, “Dan bila membutuhkan untuk al-masy, (yaitu) berjalan beberapa langkah untuk itu dan dia melakukannya maka dia telah berbuat ihsan (kebaikan). Adapun an-nahnahah (berdehem) adalah untuk mengeluarkan kelebihan yang tersisa, demikian juga al-qafz (meloncat) yaitu meninggi sedikit dari tanah kemudian duduk dengan cepat. Adapun al-habl (tali): (yaitu dengan cara), sebagian mereka ada yang mengambil tali dan bergantung padanya hingga naik ke atas, kemudian turun darinya hingga duduk. Makna at-tafaqqud (memeriksa) adalah memegang kemaluannya, kemudian melihat ke bagian tempat keluarnya, apakah masih tersisa sesuatu atau tidak. Al-wujuur (memasukkan) adalah memegangi kemaluannya kemudian membuka lubangnya lalu menuangkan air padanya. Al-hasywu (mengisi/menyumpal) adalah, membawa kapas untuk mengusapnya, seperti mengusap bisul setelah terpecah. Al-‘ishaabah adalah, membalutnya dengan kain. Ad-darajah adalah, naik sedikit ke tangga, kemudian turun dengan cepat, sedangkan al-masy adalah: berjalan beberapa langkah, kemudian melakukan istijmar lagi.

Baca Juga  Adab-Adab Menguap Dan Bersin

Syaikh kami (Ibnu Taimiyyah) mengatakan, “Semua itu adalah waswas dan bid‘ah” maka aku kembali menanyakan tentang as-salt dan an-natr, maka dia tidak menganggap hal itu, dan mengatakan, “Haditsnya tidak shahiih,” beliau berkata, “Air kencing adalah seperti susu dalam puting, bila engkau tinggalkan maka akan berhenti, bila engkau peras maka ia akan keluar.” Beliau juga berkata, “Barangsiapa membiasakan hal itu maka dia akan terkena ujian (dalam masalah ini), yang mana telah terbebas darinya orang yang tidak menghiraukannya.”

Beliau berkata, “Kalau seandainya ini sunnah, tentu saja yang yang paling berhak dengannya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya. Seorang Yahudi telah berkata kepada Salman, ‘Sesungguhnya Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) masuk jamban’ Salman mengatakan, ‘Ya.’[3] Nabi kami Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kami segala sesuatu. Juga mengajarkan kepada orang yang terkena mustahadhah untuk menyumbatnya, yang kemudian diqiaskan dengannya orang yang menderita kencing terus-menerus, untuk membalutnya, dan membalutkan kain padanya.”

[Disalin dari Kitab Kaifa Tatakhallashu Minal Waswasati wa Makaayidisy Syaithaan Penulis Ahmad bin Salim Ba Duwailan, Judul dalam Bahasa Indonesia Bagaimana Terbebas Dari Waswas Penerjemah Nafi’, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Muharram 1426 H – Februari 2005 M]
______
Footnote
[1] Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab an-Nikaah, bab Khutbatun Nikaah (no. 2118), juga dikeluarkan oleh an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah bab Yustahabbul Kalaam ‘Indal Haajah  (no. 491, 492) dan dalam as-Sunanul Kubra kitab Kaifal Khutbah (no. 61), dalam Tuhfatul Asyraaf (no. 9618)
[2] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 5067) dalam bab al-Adab” at-Tirmidzi (no.3389) dalam ad-Da‘awaat, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 1202) dan oleh ad-Darimi (no. 2292), Ahmad dalam al-Musnad, II/297, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 11, 567, dan 795) dan oleh Ibnus Sunny (no. 45 dan 724) dan Ibnu Hibban men-shahiih-kannya (no: 2349)
[3] Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah

  1. Home
  2. /
  3. Adab dan Perilaku
  4. /
  5. Syaitan dan Jiwa Orang...