Saat Orang-Orang Kafir Dibacakan Ayat-Ayat Allah

Pernyataan Orang Kafir Saat Mendengar Alquran

SAAT ORANG-ORANG KAFIR DIBACAKAN AYAT-AYAT ALAH

Oleh

Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc. M.A.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ﴿٧١﴾وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan mereka menyembah selain Allâh, sesuatu yang Allâh tidak menurunkan keterangan tentang itu dan apa yang mereka sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Dan orang-orang yang zhalim sekali-kali tidak memiliki seorang penolong pun. Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah, ‘Apakah akan aku kabarkan kepada kalian yang lebih buruk daripada itu?’ Yaitu neraka yang Allâh telah mengancamkan orang-orang yang kafir dengannya. Dan (neraka itu) adalah seburuk-buruknya tempat kembali. [Al-Hajj/22:71-72]

TAFSIR RINGKAS

Dan mereka menyembah selain Allâh, sesuatu yang Allâh tidak menurunkan keterangan tentang itu,” Orang-orang musyrik yang menyelisihi sebagian cara berhaji, menyembah patung-patung yang Allâh Azza wa Jalla tidak pernah menurunkan dalil dan petunjuk akan kebolehan hal tersebut. Mereka tidak memiliki dalil kecuali kabar-kabar yang mereka buat-buat. Mereka tidak memiliki ilmu akan hal itu, begitu pula nenek moyang mereka.

Mereka akan dihisab atas kedustaan ini dan mereka akan dibalas, dan saat itu mereka tidak akan menemukan seorang penolong dan penyelamat pun, karena mereka telah berbuat kezhaliman dengan berbuat syirik kepada Allâh Azza wa Jalla dengan cara menyembah tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.

 “Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang,”

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang orang-orang musyrik yang mendebat dengan cara yang batil bahwa apabila seorang Mukmin membacakan ayat-ayat Allâh kepada mereka dan ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat yang sangat jelas maknanya dan membimbing kearah kebenaran dan kepada jalan yang lurus, “niscaya kamu mengetahui atau melihat” wahai Rasul Kami,  “tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu,” yaitu wajah mereka berubah dan tampak padanya indikasi-indikasi pengingkaran terhadap ayat-ayat Allâh.

“Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka,” padahal mereka menyampaikan ayat-ayat tersebut agar orang-orang yang dibacakan itu mendapatkan hidayah.

Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepada kalian yang lebih buruk daripada itu?’ Yaitu neraka yang Allâh telah mengancamkan orang-orang kafir dengannya. “Dan (neraka itu) adalah seburuk-buruknya tempat kembali,” jika kalian tidak bertaubat dari kesyirikan dan kekafiran kalian.[1]

PENJABARAN AYAT

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا

Dan mereka menyembah selain Allâh, sesuatu yang Allâh tidak menurunkan keterangan tentang itu [Al-Hajj/22:71-72]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang keadaan kaum musyrikin dalam beribadah. Yaitu mereka beribadah tanpa tuntunan dari Allâh Azza wa Jalla . Mereka hanya mendapatkan dari nenek moyang mereka.

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Mereka menyembah selain Allâh yang mana mereka tidak memiliki hujjah (dalil) dari langit dalam salah satu Kitab dari Kitab-kitab yang Allâh turunkan kepada para Rasul-Nya. Tidak ada yang menyatakan bahwa mereka adalah tuhan-tuhan yang pantas untuk diibadahi, kemudian mereka menyembahnya lantaran Allâh telah mengizinkan untuk menyembah mereka. Mereka tidak memiliki ilmu yang menyatakan bahwa mereka adalah tuhan-tuhan yang disembah.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa kata “sulthân” dalam ayat ini bermakna hujjah (dalil) sedangkan kata “burhaan” bermakna (petunjuk).[3]

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allâh, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. [Al-Mukminun/23:117]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ 

Dan apa yang mereka sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. [Al-Hajj/22:71]

Mereka tidak memiliki ilmu dalam beribadah, bahkan apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah hasil tipu daya setan yang terkutuk.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka tidak memiliki ilmu tentang apa yang mereka buat-buat dan yang mereka ubah dari kebaikan menuju keburukan. Sesungguhnya mereka hanya mengambilnya dari bapak-bapak mereka dan pendahulu-pendahulu mereka, tanpa ada dalil dan hujjah. Dan perbuatan tersebut berasal dari apa yang dibujukkan dan dihiasi oleh syaithan untuk mereka.”[4]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Dan orang-orang yang zhalim itu sekali-kali tidak memiliki seorang penolong pun. (QS. Al-Hajj/22:71)

Imam ath-Thabari t mengatakan, “Orang-orang kafir yang menyembah patung-patung ini sama sekali tidak memiliki penolong yang akan menolong mereka di hari kiamat dan menyelamatkan mereka dari adzab (siksa) Allâh dan menolak hukuman-Nya, jika Allâh Azza wa Jalla ingin menghukum mereka.” [5]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ 

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. [Al-Hajj/22:72]

Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengetahui tanda-tanda kebencian dan pengingkaran di wajah orang-orang yang kafir tersebut.

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “ ‘Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang,’ yaitu al-Qur’an, ‘niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu,’ yaitu tampak pengingkaran di wajah-wajah mereka, berupa kebencian dan (wajah yang) merengut.”[6]

Ini dikarenakan mereka sangat benci dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla yang mengingkari apa yang mereka lakukan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allâh (al-Quran) lalu Allâh menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. [Muhammad/47:9]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا

Hampir-hampir mereka yasthuuna (menyerang) orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. [Al-Hajj/22:72]

Karena kebencian mereka yang sangat besar kepada kaum Muslimin, maka mereka sangat marah jika dibacakan al-Qur’an kepada mereka dan mereka hampir saja menyerang orang yang membaca al-Qur’an dengan kemarahan, pukulan atau bahkan ingin membunuhnya.

Imam ath-Thabari t mengatakan, “Hampir saja mereka melakukan penyerangan (dengan keras) terhadap orang-orang yang membaca ayat-ayat dari Kitab Allâh yang dibacakan oleh para Sahabat Nabi n . Hal ini dikarenakan kebencian mereka yang sangat keras apabila mereka mendengar al-Qur’an dan dibacakan kepada mereka.”[7]

Di dalam buku-buku tafsir, kalimat  “sathâ bi” itu memiliki makna  yang tidak jauh dari apa yang telah disebutkan, yaitu: (1) menyerang, (2) mengambil tangannya, (3) ingin memukul atau membunuh dan (4) marah dan ingin mengambil tindakan kepada orang yang dibenci.

Kebencian mereka terhadap orang-orang yang beriman digambarkan di dalam al-Qur’an, di antaranya firman Allâh Azza wa Jalla :

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allâh mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Baqarah/2:109]

Begitu juga firman-Nya:

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allâh menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allâh mempunyai karunia yang besar.” [Al-Baqarah/2:105]

SEBAGIAN ALIRAN SESAT BENCI JIKA DIBACAKAN AL-QUR’AN KEPADA MEREKA

Banyak aliran sesat yang telah keluar dari agama Islam ataupun yang belum keluar dari agama Islam sangat benci jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan kebatilan yang mereka yakini dan yang mereka kerjakan. Banyak sekali catatan sejarah yang menunjukkan hal tersebut dan sebagian terjadi di zaman kita sekarang ini. Bahkan sebagian dari mereka membunuh para Ulama dan menyiksa mereka.

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Alûsi rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya terdapat isyarat tentang celaan terhadap kaum tasawuf yang jika mereka mendengar al-Qur’an yang membantah (keyakinan) mereka, maka tampaklah perlawanan dan kebencian. Dan mereka di zaman  kita ini sangat banyak. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’uûn.”[8]

Beliau menyebutkan salah satu aliran sesat di zaman beliau yang sangat benci dengan para Ulama. Begitu juga asy-Syaukani rahimahullah, beliau mengatakan, “Seperti inilah engkau melihat ahli bid’ah yang sesat. Jika seorang dari mereka mendengar seorang Ulama membacakan kepada mereka ayat-ayat dari al-Kitâb al-‘Azîz (al-Qur’an) atau dari As-Sunnah (hadits) shahiihah yang menyelisihi apa yang dia yakini berupa kebatilan dan kesesatan, maka engkau akan melihat pengingkaran di wajahnya. Seandainya dia bisa menyerang Ulama tersebut, maka dia akan menyerangnya dengan serangan yang tidak dia lakukan kepada orang-orang musyrik. Dan kami telah melihat dan mendengar dari ahli bid’ah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.”[9]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ

Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepada kalian yang lebih buruk daripada itu? [Al-Hajj/22:72]

Jika mereka marah dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, maka tambahlah kemarahan tersebut dengan menyebutkan ancaman Allâh Azza wa Jalla untuk orang-orang kafir. Ancaman tersebut adalah mereka dijamin masuk neraka yang sangat pedih siksanya.

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Firman Allâh Azza wa Jalla (yang artinya-red) ‘Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepada kalian yang lebih buruk daripada itu?’ yaitu apakah akan aku kabarkan kepada kalian wahai orang-orang musyrik sesuatu yang lebih kalian benci daripada kebencian kalian terhadap orang-orang yang membacakan al-Qur’an kepada kalian. Dia adalah (ancaman) neraka yang Allâh janjikan kepada orang-orang yang kafir.”[10]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Yaitu neraka yang Allâh telah mengancamkan dengannya kepada orang-orang yang kafir. Dan (neraka itu) adalah seburuk-buruknya tempat kembali [Al-Hajj/22:72]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yaitu, neraka adalah seburuk-buruk rumah, tempat istirahat, tempat kembali, tempat menetap dan tempat kediaman.”[11]

Sebagaimana difirmankan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an:

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Sesungguhnya neraka Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqân/25:66)

KESIMPULAN

  1. Orang-orang kafir menyembah selain Allâh tanpa ada petunjuk dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Mereka hanya mengikuti apa-apa yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka.
  2. Allâh Azza wa Jalla akan mengadzab orang-orang kafir di akhirat dan mereka tidak akan memiliki satu pun penolong yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa Allâh Azza wa Jalla
  3. Orang-orang kafir yang memiliki kebencian kepada orang-orang Islam, apabila dibacakan ayat-ayat Allâh, maka mereka akan marah dan tampak kemarahan di wajah mereka. Jika mereka memiliki kesempatan untuk menyerang orang yang membacakan ayat-ayat tersebut kepada mereka maka mereka pasti telah melakukannya.
  4. Sebagian kaum Muslimin atau sebagian aliran sesat memiliki sifat seperti sifat orang-orang kafir ketika diperdengarkan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an. Mereka sangat benci para da’i yang mengajak mereka kepada kebenaran.
  5. Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Demikian tulisan ini. Mudahan Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesabaran kepada kita untuk menghadapi seluruh gangguan yang dilakukan oleh orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman. Dan mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafaasiir li kalaam ‘Aliyil-Kabiir wa bihaamisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-Tafaasiir. Jaabir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
  2. Al-Jaami’ Li Ahkaamil-Qur’aan. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.Al-Muwafaqaat. Ibrahim bin Musa bin Muhammad bin Al-Lakhmi Asy-Syathibi. Kairo: Dar Ibni ‘Affan.
  3. Fathul-Qadiir Al-Jaami’ Baina Fannai Ar-Riwaayah Wa Ad-Diraayah Min ‘Ilmit-Tafsiir. Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukaani. Beirut: Darul-Ma’rifah.
  4.  Jaami’ul-bayaan fii ta’wiilil-Qur’aan. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  5. Ma’aalimut-tanziil. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh:Daar Ath-Thaibah.
  6. Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  7. Ruuhul-Ma’aani Fii Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim Wa As-Sab’i Al-Matsaani. Syihaabuddin Mahmuud bin ‘Abdillaah Al-Husaini Al-Aaluusi. Beirut: Darul-Kutub Al-‘Ilmiyah.
  8. Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  9. Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat Aisar at-Tafâsîr,  hlm. 963

[2]Tafsîr ath-Thabari, XVIII/682.

[3] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr V/453.

[4] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr V/453

[5] Tafsîr ath-Thabari XVIII/683.

[6] Tafsîr al-Baghawi V/399.

[7] Tafsîr ath-Thabari, XVIII/683.

[8] Tafsîr Al-آlûsi IX/202.

[9]  Fathul-Qadiir hal. 974.

[10]  Tafsiir Ath-Thabari XVIII/684.

[11]  Tafsiir Ibni Katsiir V/453.