Category Archives: A8. Qur’an Hadits3 Tafsir Al-Qur’an

Balasan Orang-orang yang Kafir dan yang Beriman

MENTADABURI FIRMAN ALLAH TA’ALA (SURAT AN-NISAA AYAT 56-57)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menurunkan al-Qur’an yang agung ini supaya ditadaburi isinya lalu diamalkan kandungannya. Allah ta’ala menegaskan akan hal itu melalui firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ  [ محمد: 24]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?. [Muhammad/47: 24].

Dan dalam rangka mengamalkan ayat mulia ini, maka pada halaqah kali ini kita akan membawakan dua ayat dari kitabullah lalu kita coba mentadaburi maknanya agar kita bisa mengambil pelajaran serta faidah darinya.

Yaitu  sebuah firman Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisaa:

 إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗا ٥٦ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا  [ النساء: 56-57]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”.  [an-Nisaa’/4: 56-57].

Penjelasan ayat:
Didalam ayat pertama Allah ta’ala mengabarkan pada kita tentang balasan api neraka jahanam bagi orang yang mengingkari ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla serta menghalangi jalan-Nya. Allah ta’ala menegaskan dalam ayat -Nya ini:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗ [ النساء: 56]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka”.  [an-Nisaa’/4: 56].

Maksudnya akan kami masukkan mereka kedalam neraka jahanam dalam keadaan terliputi oleh api, tanpa menyisakan celah bagi anggota tubuh mereka sedikitpun yang tidak terkena api neraka, hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam ayat -Nya yang lain:

لَهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ظُلَلٞ مِّنَ ٱلنَّارِ وَمِن تَحۡتِهِمۡ ظُلَلٞۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ  [ الزمر:16]

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba -Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada -Ku hai hamba-hamba -Ku”.  [az-Zumar/39: 16].

Lalu firman-Nya:

كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم  [ النساء:56 ]

“Setiap kali kulit mereka hangus“. [an-Nisaa’: 56].

Maksudnya kulit mereka hangus terbakar secara sempurna tanpa menyisakan secuilpun, kemudian kami ganti dengan kulit yang baru selain kulit yang pertama supaya mereka merasakan betapa pedih dan kekalnya siksa neraka tersebut.

Sebagian ulama mengatakan: “Dan hikmah akan hal tersebut ialah dikarenakan kulit adalah indera perasa yang sangat peka terhadap rasa sakit, oleh karenanya apabila sudah terbakar agar rasa sakitnya tidak berhenti cukup sampai disitu, maka diganti kulit mereka yang sudah terbakar dengan kulit yang lain”.

Ulama tafsir yang lain mengatakan: “Sesungguhnya mereka berganti kulit dalam sehari atau satu jam beberapa kali, tujuannya adalah supaya mereka betul-betul merasakan siksaan tersebut”.[1]

Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضِرْسُ الْكَافِرِ أَوْ نَابُ الْكَافِرِ مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيرَةُ ثَلاَثٍ » [ أخرجه مسلم]

Gigi geraham orang kafir atau taringnya (besarnya) semisal gunung uhud, dan ketebalan kulitnya sejauh perjalanan tiga (hari)”. HR Muslim no: 2851.

Dalam hadits yang lain disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضِرْسُ الْكَافِرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِثْلُ أُحُدٍ وَعَرْضُ جِلْدِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا وَفَخِذُهُ مِثْلُ وَرِقَانَ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ مِثْلُ مَا بَيْنِي وَبَيْنَ الرَّبَذَةِ » [ أخرجه أحمد]

Gigi geraham yang dimiliki orang kafir kelak pada hari kiamat besarnya semisal gunung uhud, sedangkan panjang ketebalan kulitnya sejauh tujuh puluh jengkal, pahanya semisal gunung besar, adapun tempat duduknya dia dineraka luasnya semisal kota Rabdzah“.[2] HR Ahmad dalam musnadnya  14/87 no: 8345. dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Nawawi menerangkan: ‘Ini semua bertujuan agar rasa sakit yang mereka rasakan lebih terasa sakit, dan hal ini bukan suatu yang mustahil, karena Allah ta’ala Maha mampu melakukan hal tersebut, oleh karenanya wajib bagi kita mengimani berita yang disampaikan oleh orang yang paling jujur perkataannya yaitu (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam)”.[3]

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗ [ النساء: 56]

“Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [an-Nisaa’: 56].

Artinya tidak ada yang menghalangi Allah tabaraka wa ta’ala segala sesuatu yang di kehendaki -Nya. Dan Allah Maha Bijaksana terhadap apa yang diputuskan-Nya.

Kemudian manakala Allah ta’ala menyebutkan kisahnya orang-orang yang sengsara maka Allah menyebutkan kebalikan keadaan orang-orang tersebut yaitu orang-orang yang beruntung. Allah ta’ala melanjutnya firman -Nya:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗ  [ النساء: 57]

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya”.   [an-Nisaa’/4: 57].

Makananya bahwa orang-orang yang beriman dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dengan al-Qur’an, serta kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, serta mengimani adanya takdir yang baik maupun yang buruk, dan mentaati Rabbnya, maka kelak mereka akan dimasukan kedalam surga, yaitu kebun yang dipenuhi dengan pepohonan yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, ada sungai khamr, susu, air tawar, dan madu.

Dan firman -Nya: “Kekal mereka di dalamnya“. Artinya mereka tinggal didalam surga tanpa merasakan kematian tidak pula dikeluarkan darinya. Hal itu seperti yang Allah azza wa jalla firmankan dalam ayat -Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ  [ البروج: 11]   

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar”.  [al-Buruuj/85: 11].

Kemudian Allah ta’ala berfirman:

لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ [ النساء: 57]

“Mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci”.   [an-Nisaa’/4: 57].

Sebagian besar ulama tafsir mengatakan akan maksud ayat diatas: ‘Maksudnya seorang istri yang suci, dari haid, buang air kecil dan besar, nifas, ingus, ludah, dan segala sesuatu yang menjijikan dan mengotori seperti yang biasa dialami oleh para wanita yang ada didunia”.[4]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا » [ أخرجه البخاري]

Kalau seandainya wanita penduduk surga melongok ke dunia, tentu akan menerangi dunia dan langit, dan semerbak bau wanginya akan memenuhi keduanya. Dan sungguh penutup kepala yang dipakai olehnya itu lebih baik dari dunia dan seisinya“. HR Bukhari no: 2796.

Dalam hadits lain dijelaskan tentang nikmat ahli surga, sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِى الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا » [ أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya seorang beriman kelak disurga akan mempunyai sebuah kemah, yang terbuat dari intan permata, panjangnya enam puluh mil, dan untuk seorang mukmin dirinya akan mendapat beberapa istri yang setiap harinya dia berkeliling untuk menggilirnya, dan satu sama lain tidak bisa melihat yang lainnya“. HR Bukhari no: 3242 , Muslim no: 2838.

Dalam sunan ad-Darimi disebutkan sebuah hadits dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةِ رَجُلٍ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوَةِ وَالْجِمَاعِ » [ أخرجه الدارمي]

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya. Sesungguhnya seorang dari penduduk surga akan diberi kekuatan seratus orang didalam makan, minum dan berhubungan badan“. HR Darimi 2/431 no: 2825. dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-Misykah 3/1567.

Kemudian Allah ta’ala berfirman:

وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلّٗا ظَلِيلًا  [ النساء: 57]

“Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”.  [an-Nisaa’/4: 57].

Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam ayat yang mulia ini mensifati surga dengan sebuah tempat yang teduh lagi nyaman. Sedangkan dalam ayat yang lain disifati bahwa naungannya tidak pernah terputus,  sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan:

أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ  [ الرعد : 35] 

“Buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula)”.  [ar-Ra’du/13: 35].

Disebutkan pula kalau naungan surga itu terbentang luas, seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla firmankan dalam ayat yang lain:

وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ  [ الواقعة: 30]

“Dan naungan yang terbentang luas”. [al-Waaqi’ah/56: 30].

Dijelaskan pada kesempatan yang lain kalau naungan surga itu sangatlah banyak. Hal itu sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan dalam ayat-Nya:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي ظِلَٰلٖ وَعُيُونٖ  [ المرسلات: 41]   

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air“. [al-Mursalaat/77: 41].

Pada kesempatan yang lain diterangkan bahwa dibawah naungan tersebut mereka tiduran bertelekan diatas dipan-dipan bersama istri-istrinya. Seperti yang digambarkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ مُتَّكِ‍ُٔونَ  [ يس: 56]

“Mereka dan isteri-isterinya berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan”. [Yaasin/36: 56].

Al-Araaik adalah jama’ dari arikah yang bermakna tempat tidur yang dihiasai dengan berbagai macam hiasan yang diperuntukan bagi  pasangan pengantin baru.

Sebaliknya Allah ta’ala menjelaskan bahwa naungan penduduk neraka itu sangat bertolak belakang dan kebalikan dari itu semua, Allah ta’ala berfirman:

ٱنطَلِقُوٓاْ إِلَىٰ مَا كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ٢٩ ٱنطَلِقُوٓاْ إِلَىٰ ظِلّٖ ذِي ثَلَٰثِ شُعَبٖ ٣٠ لَّا ظَلِيلٖ وَلَا يُغۡنِي مِنَ ٱللَّهَبِ  [المرسلات: 29-31]

“(Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): “Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang. Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka”. [al-Mursalaat/77: 29-31].

Dalam ayat yang lain Allah azza wa jalla berfirman:

وَأَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ ٤١ فِي سَمُومٖ وَحَمِيمٖ ٤٢ وَظِلّٖ مِّن يَحۡمُومٖ ٤٣ لَّا بَارِدٖ وَلَا كَرِيمٍ [ الواقعة: 41-44]

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih. Dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan”.  [al-Waaqi’ah/56: 41-44].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} » [ أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya disurga ada sebuah pohon yang naungannya seluas perjalanan seratus tahun ditempuh dengan naik kendaraan dan itu tidak habis, kalau sekirnya kalian mau bacalah firman Allah ta’ala:

وَظِلّٖ مَّمۡدُودٖ  [ الواقعة: 30]

“Dan naungan yang terbentang luas”.  (al-Waaqi’ah/56: 30). HR Bukhari no: 4881, Muslim no: 2827.

Akhirnya kita ucapkan segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari وقفات مع الآيات 56 – 57 من سورة النساء  Penulis : Syaikh  Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir  4/121-122.
[2] Wariqaan adalah sebuah gunung yang sangat besar yang letaknya berada di Tuhamah sebuah daerah antara Makah dan Madinah. Sedangkan ar-Rabdzah adalah kampung dari perkampungan Madinah, disanalah tempat meninggalnya seorang sahabat mulia yang bernama Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
[3] Syarh Shahih Muslim 6/186.
[4] Tafsir Ibnu Katsir  1/63.

Ibadah Haji Keinginan Setiap Muslim

IBADAH HAJI, KEINGINAN SETIAP MUSLIM

Oleh
Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman Lc

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kaharamannya, maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta“. [Al Hajj/22 : 26-30].

Pada ayat-ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keagungan dan kemuliaan al Bait al Haram (rumah yang suci, Ka’bah), juga kemuliaan orang yang membangunnya, yaitu khalilur rahman (Nabi Ibrahim Alaihisallam)[1]. Sebagaimana dalam ayat-ayat ini pula, terdapat celaan terhadap orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’al. Demikian pula celaan terhadap orang-orang yang berbuat syirik dari kaum Quraisy, yang justru mereka berbuat kufur dan syirik di tempat yang pertama kali diserukan tauhidullah (pengesaan Allah) dan pengkhususan ibadah hnaya untuk Allah saja tanpa ada kesyirikan.

Allah pun menyebutkan dalam kitabNya yang mulia ini, bahwa Dia telah menempatkan Ibrahim Alaihissallam di sebuah tempat, yaitu Baitullah. Maksudnya adalah membimbingnya dan menyerahkan kepadanya, serta mengizinkannya untuk membangunnya[2].

Ayat pertama dari kelima ayat di atas mengandung makna, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihissallam dan anaknya, yaitu Nabi Ismail Alaihissallam[3]  agar membangun Ka’bah[4]  atas namaNya Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya dan menyucikannya dari kesyirikan-kesyirikan[5], yang (tujuannya) diperuntukkan bagi orang orang yang thawaf mengelilinginya, yang tinggal padanya[6], dan shalat dengan menghadap kepadanya dari kalangan orang-orang senantiasa melakukan ruku’ dan sujud[7].

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar Nabi Ibrahim Aliahissallam menyerukan kepada segenap manusia di seluruh penjuru bumi, agar manusia melakukan ibadah haji dengan menuju Baitullah (Ka’bah) yang sebelumnya Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangunnya.[8]

Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

(niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh), mengandung janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim Alaihissallam, bahwa segenap manusia dari segala penjuru dunia akan datang berhaji menuju Baitullah, mereka berjalan kaki ataupun berkendaraan[9].

Adapun firmanNya يَأْتُوكَ (mendatangimu), walaupun kenyataannya mereka mendatangi Ka’bah, akan tetapi karena yang diperintah untuk menyerukannya adalah Ibrahim Alaihissallam, maka seolah-olah orang yang mendatangi Ka’bah untuk melakukan ibadah haji telah mendatangi Nabi Ibrahim Alaihissallam, karena ia telah menyambut seruannya tersebut. Ayat ini juga mengandung unsur pemuliaan terhadap Nabi Ibrahim Alaihissallam[10].

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini seperti ayat lainnya ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal NabiNya, (yaitu) Ibrahim Alaihissallam, tatkala ia berkata di dalam doanya:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

(maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka – Ibrahim/14 ayat 37), maka tak ada satu orang Islam pun melainkan ia benar-benar ingin dan rindu melihat Ka’bah dan thawaf mengelilinginya. Oleh karena itu, seluruh manusia (umat Islam) mendatanginya dari segala arah dan penjuru dunia[11].

Pada ayat berikutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa manfaat dari berkunjung ke Baitullah al Haram, baik yang bersifat diniyah ataupun duniawiyah.

Manfaat-manfaat diniyah ialah, seperti dapat mengerjakan ibadah-ibadah yang utama di tempat tersebut[12] sehingga meraih keridhaanNya[13]. Adapun manfaat-manfaat duniawiyah, seperti memperoleh daging-daging hewan kurban dan keuntungan-keuntungan dari hasil berniaga atau yang semisalnya[14]. Kedua jenis manfaat ini dapat diraih sekaligus agar kaum muslimin bersyukur kepadaNya dengan berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mereka menyembelih hewan kurban yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’alapun memerintahkan setelahnya, agar sebagian sembelihan tersebut dimakan oleh mereka yang berkurban, dan sebagian yang lain diberikan kepada para fakir miskin[15].

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kaum muslimin menunaikan seluruh manasik haji dan menghilangkan segala kotoran yang ada pada tubuh mereka dengan cara mencukur rambut kepala, memotong kuku, dan kembali mengenakan pakaian mereka. Semua ini sebagai tanda bahwa ihram mereka telah usai. Kemudian menunaikan nadzar-nadzar mereka[16] dan akhirnya dengan melakukan thawaf[17]. Pada ayat ini, terkandung perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kaum muslimin melakukan thawaf (secara tersendiri, padahal thawaf juga termasuk paket manasik haji) karena keutamaannya. Disamping itu, seluruh manasik haji adalah washilah (perantara) menuju thawaf ini. Mungkin juga, karena ada sebab lainnya, yaitu thawaf disyariatkan di setiap waktu dan kesempatan, dilakukan pada saat haji ataupun waktu lainnya[18].

Adapun ayat terakhir dari lima ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kembali bahwa semua itu merupakan perintah Allah, agar kaum muslimin menunaikan seluruh ibadah manasik haji sebagai perwujudan taat kepadaNya, pengagungan dan penghormatan terhadap hurumatillah[19]. Dan karena hal-hal ini sangat dicintai Allah, maka semuanya itu merupakan kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang melakukannya, sehingga AllahSubhanahu wa Ta’alal menyediakan pahala yang sangat agung dari sisiNya bagi yang menunaikannya[20].

Dan firmanNya:

وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ

(Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kaharamannya), maksudnya adalah, telah dihalalkan seluruh hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing. Kecuali yang telah diharamkan dari hewan-hewan tersebut, sebagaimana yang telah diterangkan di dalam Al Qur`an[21].

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ

(maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu), maksudnya ialah, diwajibkan atas setiap muslim untuk menjauhi peribadatan terhadap berhala-berhala. Dan berhala-berhala dalam ayat ini disifati dengan najis, karena berhala merupakan salah satu jenis najis yang terbesar, yang menyebabkan pelakunya kekal dengan adzab di dalam neraka, karena ia telah berbuat syirik besar -wal ‘iyadzubillah-.

Adapun maksud dari najis di sini ialah, najis secara hukum (maknawi), bukan najis secara dzati (konkrit, nyata). Sehingga najis di sini adalah sifat syar’i yang berhubungan dengan hukum-hukum iman, yang tidak mungkin dihilangkan kecuali dengan iman, sebagaimana (orang yang) bersuci dengan menggunakan air[22].

Berkaitan dengan firman ini, ada sebuah hadits dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَفِيْ عُنُقِيْ صَلِيْبٌ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ: ((ياَ عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذاَ الْوَثَنَ)), وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِيْ سُوْرَةِ بَرَاءَة: اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُوْنِ اللهِ , قاَلَ: ((أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُوْنُوْا يَعْبُدُوْنَهُمْ, وَلَكِنَّهُمْ كَانُوْا إذَا أَحَلُّوْا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوْهُ, وَإذَا حَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوْهُ)).

Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat salib (yang terbuat) dari emas, (lantas) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai ‘Adi, buanglah darimu watsan ini!’. (Lalu) aku mendengar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat dalam surat Bara’ah/At-Taubah/9 ayat 31: اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُوْنِ اللهِ (Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah), beliau bersabda: ‘Ketahuilah sesungguhnya mereka tidak menyembahnya, akan tetapi apabila mereka (orang-orang alim dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu, merekapun (ikut) menghalalkannya, dan apabila mereka mengharamkan sesuatu, merekapun (ikut) mengharamkannya[23].

Dan firmanNya dalam ayat.

وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

(… dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta), maksudnya ialah, menjauhi seluruh kata-kata yang diharamkan, baik berupa kata-kata dusta, batil, ataupun persaksian dusta[24].

Jika kita perhatikan dari firman yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghubungkannya dengan berhala (kesyirikan), yang menunjukkan betapa besar dosa berkata-kata atau bersaksi dusta.

Dalam sebuah hadits Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاَثاً, قاَلُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ, قاَلَ: ((الإشْرَاكُ بِاللهِ, وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ)), وَجَلَسَ, وَكَانَ مُتَّكِئاً, فَقَالَ: ((أَلاَ وَقَوْلَ الزُّوْرِ)), قَالَ: فَماَ زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.

Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” Beliau mengatakannya tiga kali. Para sahabat menjawab.”Tentu, wahai Rasulullah,” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersandar, dan kembali bersabda: “Waspadalah dari berkata dusta”. Abu Bakrah berkata,”Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulang-ulangnya, sampai-sampai kami berkata, seandainya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam“.[25]

Demikianlah tafsir singkat lima ayat dari surat Al Hajj yang mulia ini. Adapun untuk mengetahui secara luas pembahasan haji dan seluruh hukum-hukum syariat yang berkenaan dengannya, kami menyarankan agar membaca kitab-kitab tafsir ataupun kitab-kitab yang membahas secara khusus masalah ibadah haji.

Wallahu a’lam, wa akhiru da’waana ‘anil hamdulillahi rabbil ‘aalamin.

Maraji’ dan Mashadir

  1. Shahih al Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Dar Ibni Katsir, Al Yamamah, Beirut, Cet. III, Th. 1407 H/1987 M.
  2. Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya at Turats, Beirut, tanpa cetakan dan tahun.
  3. Tafsir ath Thabari, tahqiq Mahmud Syakir, Dar Ihya at Turats, Beirut, Cet I, Th. 1421H/ 2001M.
  4. Tafsir al Qurthubi (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, tahqiq Abdur Razzaq al Mahdi, Dar al Kitab al ‘Arabi, Cet II, Th. 1421 H/1999 M.
  5. Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Sami bin Muhammad aS Salamah, Dar ath Thayyibah, Cet I, Th. 1422H/2002M.
  6. Fathul Bari, Ibnu Hajar al Asqalani (773-852 H), tahqiq Muhibbuddin al Khatib, Dar al Ma’rifah, Beirut.
  7. Taisir Karim ar Rahman fi Tafsiri Kalami al Mannan, Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, tahqiq Abdurrahman bin Mu’alla al Luwaihiq, Dar as Salam, Cet I, Th. 1422 H/2001 M.
  8. Adhwaul Bayan, Muhammad al Amin asy Syinqithi (1393H), tahqiq Maktab ad Durus wa ad Dirasat, Dar al Fikr, Beirut, Cet. 1415 H/ 1995M.
  9. Shahih Sunan at Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Taisir al Karim ar Rahman (2/132).
[2] Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/413).
[3] al Baqarah/2 ayat 125. Lihat Adhwa’ al Bayan (4/297).
[4] Para ulama berbeda pendapat dalam masalah yang pertama kali membangun Ka’bah. Apakah Ka’bah sudah ada sebelum masa Nabi Ibrahim ataukah belum? Al-Hafizh Ibnu Katsir membawakan perkataan mereka dalam tafsirnya pada surat al Baqarah/2 ayat 125-128 (1/437-440 dan 5/413). Demikian halnya Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6/408-409). Dan kesimpulan dari seluruh perkataan ulama tersebut mungkin bisa kita ambil dari perkataan Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi di dalam tafsirnya Adhwa’ al Bayan (4/296): “Maksud utama yang ditunjukkan oleh (ayat) al Qur`an ini ialah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Nabi Ibrahim Alaihissallam dengan membimbingnya dan memperkenalkannya (kembali) kepadanya, agar ia membangunnya di tempatnya. (Walaupun) sementara ada sebagian ulama lainnya yang berpendapat, bahwa orang pertama yang mendirikan Ka’bah adalah Ibrahim Alaihissallam, dan tidak ada orang lain sebelumnya yang mendirikannya. Namun, tekstual perkataannya (Ibrahim Alaihissallam) ketika ia meninggalkan Ismail dan Hajar di Mekkah seraya berkata:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
(Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. – QS Ibrahim/14 : 37), menunjukkan bahwa sesungguhnya Ka’bah sudah (ada dan) pernah dibangun, kemudian hilang berangsur-angsur (karena tertimbun tanah dan akhirnya diketahui kembali), sebagaimana telah ditunjukkan oleh ayat ini:
مَكَانَ الْبَيْتِ
(Di tempat Baitullah– Al Hajj/22 ayat 26), karena hal ini menunjukkan bahwa Baitullah telah didahulukan oleh tempat lain sebelumnya yang sudah dikenal, berada di tempat yang sudah dikenal sebelumnya. Wallahu a’lam.”
[5] Yang berupa berhala-berhala dan maksiat-maksiat lain seperti berkata-kata keji, dusta dan yang semakna dengannya.
[6] Baik dengan melakukan shalat ataupun orang-orang yang tinggal bermukim di sekitarnya.
[7] Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (1/423-424 dan 5/413), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/132).
[8] Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414).
[9] Berupa unta-unta yang kurus. Lihat Adhwa’ al Bayan (4/299) dan Taisir al Karim ar Rahman (2/132).
[10] Lihat Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/38). Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi dalam tafsirnya menerangkan secara panjang lebar hal-hal yang berkaitan dengan seluruh hukum ibadah haji dan khilaf ulama serta tarjih yang beliau bawakan. Lihat Adhwa’ al Bayan (4/299 sampai 5/110 dan yang setelahnya).
[11] Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414).
[12] Seperti thawaf, i’tikaf dan ibadah-ibadah lainnya, yang keutamaannya tidak didapatkan kecuali jika dilakukan di Baitullah. Lihat Taisir al Karim ar Rahman (2/132).
[13] Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414).
[14] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Demikianlah yang dikatakan oleh Mujahid dan ulama lainnya, bahwa yang dimaksud dengan manfaat di sini adalah manfaat-manfaat di dunia dan akhirat, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ
Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu. (Al Baqarah : 198). Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414), dan Adhwa’ al Bayan (5/111).
[15] Taisir al Karim ar Rahman (2/133). Yang berkaitan dengan firman Allah فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ (pada hari yang telah ditentukan), para ulama pun berselisih pendapat tentangnya. Di antara mereka ada yang berkata, bahwa hari-hari itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Ada pula yang berkata, bahwa hari-hari itu adalah hari ke sepuluh dan tiga hari setelahnya di bulan Dzul Hijjah. Dan masih ada pendapat-pendapat lainnya juga. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/415-416). Namun Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi mengatakan, bahwa seluruh pendapat ulama yang banyak tersebut tidak ada yang bisa dijadikan dasar dan hujjah, kecuali hanya dua pendapat saja. Pendapat pertama adalah pendapat Imam Malik dan para ulama Kufiyyin (yang berasal dari Kufah), yang mengatakan hari-hari itu adalah hari ‘Idul Adha (hari ke sepuluh di bulan Dzul Hijjah) dan dua hari setelahnya (yaitu hari ke sebelas dan ke dua belas). Pendapat kedua adalah pendapat Imam asy Syafi’i dan para ulama Syamiyyin (yang berasal dari Syam), yang mengatakan, hari-hari itu adalah hari ‘Idul Adha (hari ke sepuluh di bulan Dzul Hijjah) dan tiga hari setelahnya (yaitu hari yang ke sebelas, ke dua belas, dan ke tiga belas). Lihat Adhwa’ al Bayan (5/115-116).
[16] Baik itu nadzar yang berkaitan dengan ibadah haji, ataupun nadzar lainnya secara umun, selama nadzar tersebut bukan maksiat. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/417-418), dan Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/50).
[17] Yaitu thawaf ifadhah yang hukumnya wajib. Imam Ath Thabari berkata: “Tidak ada khilaf di antara ahlul ilmi tentang masalah ini.” Lihat Tafsir ath Thabari (17/179), Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/50), dan Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/417-418)
[18] Taisir al Karim ar Rahman (2/133-134).
[19] Dengan cara menjauhi segala perbuatan maksiat dan hal-hal haram lainnya. Juga bisa ditafsirkan segala sesuatu yang memiliki kehormatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan diperintahkan untuk menghormatinya dengan cara beribadah dengannya. Seperti seluruh praktek manasik haji. Maka semua hal ini seseorang tidak boleh meremehkannya, atau bermalas-malasan dalam menunaikannya. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134)
[20] Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134).
[21] Imam ath Thabari berkata di dalam tafsirnya (17/180): “(Maksudnya adalah), Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan bagi kalian wahai sekalian muslimin, seluruh hewan-hewan ternak seperti unta dan domba…, kecuali yang telah dibacakan atas kalian dalam kitab Allah, seperti:
الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ
Bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (Al Maidah/5 : 3), maka semuanya itu adalah najis (haram)”.
[22] Lihat Al Jami’ li Ahkam Al Qur`an (12/53), Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134).
[23] HR At Tirmidzi (5/278 no. 3095). Dan dihasankan Syaikh al Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi
[24] Lihat Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/54), Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134-135).
[25] HR Al Bukhari (2/939 no. 2511, 5/2229 no. 5631, 5/2314 no. 5918, 6/2535 no. 6521), Muslim (1/91 no. 87), dan lain-lainnya. Dan dari hadits Anas bin Malik, HR Al Bukhari (5/2230 no. 5632, 6/2519 no. 6477), Muslim (1/92 no. 88), dan lain-lainnya

Pengumuman Nabi Ibrahim Untuk Berhaji

PENGUMUMAN NABI IBRAHIM UNTUK BERHAJI

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, MA

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ﴿٢٧﴾لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ﴿٢٨﴾ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan umumkanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji! Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allâh pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allâh telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak, maka makanlah sebahagian darinya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawâf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullâh). [Al-Hajj /22: 27-29]

Tafsir Ringkas
Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Dan umumkanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji!”, maksudnya adalah beritahulah mereka (wahai Ibrahim) kewajiban dan keutamaan berhaji! Panggillah mereka untuk itu dan sampaikan (hal ini) kepada yang dekat maupun yang jauh. Sesungguhnya jika engkau menyeru mereka, “maka mereka akan datang kepadamu” untuk mengerjakan haji dan umrah, “dengan berjalan kaki” karena kerinduan mereka, “dan dengan mengendarai yang kurus” maksudnya adalah unta yang kurus. Dengan unta tersebut mereka bisa melalui hamparan padang pasir dan menyambung perjalanan mereka, sehingga unta tersebut bisa menuju tempat yang paling mulia.

“(yang datang) dari segenap penjuru yang jauh” maksudnya adalah dari seluruh negeri yang jauh. Al-Khalil (kekasih Allâh yakni Ibrahim ‘alaihissalâm) telah melakukan hal tersebut, kemudian setelahnya adalah anak (keturunan) beliau, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berdua menyeru manusia agar berhaji ke rumah Allâh… Dan telah terjadi apa yang Allâh janjikan kepadanya. Manusia datang ke rumah Allâh (Baitullâh) dengan berjalan kaki dan dengan berkendara dari timur dan barat bumi.

Kemudian Allâh menyebutkan faidah-faidah yang didapatkan ketika berziarah ke Baitullâh Al-Harâm, untuk memotivasi manusia, Allâh mengatakan, “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka,” maksudnya adalah agar mereka dengan berziarah ke Baitullâh, mendapatkan manfaat-manfaat diniyyah berupa berbagai ibadah utama dan ibadah-ibadah yang tidak mungkin dilakukan kecuali di sana, begitu pula manfaat duniawiyah yang berupa penghasilan dan mendapatkan keuntungan duniawi. Semua ini disaksikan oleh semua orang yang mengetahuinya.

“Dan supaya mereka menyebut nama Allâh pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allâh telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak,” Ini merupakan manfaat diniyyah dan duniawiyah, yaitu agar mereka menyebut nama Allâh ketika menyembelih hadyu (sembelihan orang yang berhaji) sebagai bentuk syukur kepada Allâh atas apa yang Allâh rezekikan dan mudahkan untuk mereka. Apabila kalian telah menyembelihnya, “maka makanlah sebahagian darinya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir,” maksudnya adalah orang yang sangat miskin.

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka,” maksudnya agar mereka menyelesaikan manasik haji mereka dan menghilangkan kotoran-kotoran dan gangguan-gangguan yang mereka dapatkan ketika mereka ihram.

“Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka,” di mana mereka telah mewajibkan nadzar tersebut bagi diri mereka sendiri, berupa : haji, umrah, hadyu. “Dan hendaklah mereka melakukan thawâf sekeliling rumah yang tua itu,” yaitu rumah Allâh yang sangat tua (baitullâh al-`atîq). Dia adalah masjid yang paling afdhal secara mutlak, yang dibebaskan dari segala penguasa yang ingin menghinakannya.

Alasan penyebutan perintah untuk ber-thawâf ini disebutkan secara khusus setelah perintah untuk menyempurnakan manasik secara umum, adalah untuk menyebutkan keutamaan dan kemuliaan amalan thawâf ini. Dan karena thawâf adalah inti dari yang dimaksudkan. Adapun kalimat-kalimat sebelumnya adalah perantara-perantara untuk menuju perintah untuk ber-thawâf ini. Dan mungkin -wAllâhu a’lam- thawâf juga memiliki faidah yang lain, yaitu: thawâf disyariatkan di setiap waktu, baik dia sebagai pengikut dari manasik (haji dan umrah) atau dia adalah ibadah tersendiri.[1]

Penjabaran Ayat
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ

Dan umumkanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji!

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah : Umumkanlah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk menyeru mereka agar berhaji menuju Baitullâh yang Kami perintahkan kepadamu untuk membangunnya. Dan disebutkan (dalam suatu riwayat) bahwasanya Beliau berkata, ‘Ya Rabb-ku! Bagaimana caraku menyampaikannya kepada manusia sedangkan suaraku tidak sampai kepada mereka?’ Maka dikatakanlah kepadanya, ‘Umumkanlah! Dan kami akan menyampaikannya.’ Kemudian beliau berdiri di tempat berdirinya. Disebutkan (dalam suatu riwayat) bahwa beliau berdiri di atas batu, disebutkan juga (dalam suatu riwayat) beliau berdiri di atas (bukit) Shafa, disebutkan juga (dalam suatu riwayat) beliau berdiri di (gunung) Abu Qubais. Kemudian beliau berkata, ‘Wahai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah membuat suatu rumah, maka berhajilah!’

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwasanya gunung-gunung merendah sehingga suaranya sampai ke seluruh penduduk bumi dan didengar oleh semua yang ada di dalam rahim dan tulang sulbi (tulang rusuk), dan semuanya menjawab panggilannya, baik bebatuan, tanah-tanah lengket, pepohonan dan siapa saja yang Allâh telah catat dia akan berhaji sampai hari kiamat dan mereka berkata, ‘Labbaikallâhumma labbaik.’.” Kemudian Ibnu Katsir mengatakan, “Inilah yang terkandung dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair dan banyak lagi dari kalangan salaf (ulama terdahulu). Allâhu a’lam (Allâh-lah yang lebih mengetahuinya). Ibnu Jarir (Ath-Thabari) dan Ibnu Abi Hatim telah menyebutkan perkataan-perkataan tersebut dengan panjang (di buku tafsir mereka).”[2]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ

Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus

Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Allâh berjanji kepada Nabi Ibrahim Alaihissallam bahwa manusia akan memenuhi panggilannya untuk berhaji ke Baitullâh dengan berjalan kaki atau pun dengan berkendara. Disebutkan pada ayat ini: “mereka akan mendatangimu,” maksudnya mereka akan mendatangi Ka’bah karena yang memanggil adalah Nabi Ibrahim Alaihissallam. Barangsiapa mendatangi Ka’bah, maka seolah-olah dia mendatangi Nabi Ibrahim karena dia telah memenuhi seruannya.”[3]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Terkadang ayat ini digunakan sebagai dalil oleh sebagian Ulama yang menyatakan bahwa berhaji dengan berjalan kaki bagi yang mampu lebih utama daripada berhaji dengan berkendara, karena Allâh Azza wa Jalla mendahulukan berjalan kaki dalam penyebutan. Ini menunjukkan adanya perhatian (yang lebih) terhadap mereka (yang berjalan kaki) dan menunjukkan kuatnya semangat dan tekad mereka. Sedangkan menurut kebanyakan ulama, haji dengan berkendara lebih utama, karena (orang yang berkendara telah) meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau dulu berhaji dengan berkendara padahal beliau memiliki kekuatan yang sempurna.”[4]

Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini bahwa orang yang harus ke Mekah dengan menyeberangi lautan, tidak ada kewajiban baginya untuk berhaji, karena di dalam ayat ini hanya disebutkan dua macam manusia saja, yaitu: yang berkendara dengan unta dan yang berjalan kaki.

Allâhu a’lam pendapat ini lemah, karena penyebutan berkendara dengan unta pada ayat ini bukanlah pembatasan macam-macam kendaraan. Dari zaman dahulu kita mendapatkan orang yang berkendaraan bukan hanya dengan unta. Apalagi untuk saat ini, kita mendapatkan banyak sekali kendaraan yang bisa kita gunakan untuk berhaji, seperti: kereta, mobil, pesawat dll.

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Ayat ini berkaitan dengan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ketika mengabarkan tentang Nabi Ibrahim Alaihissallam dalam doa beliau.

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullâh) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [Ibrâhîm/14: 37]

Dan kita semua bisa menyaksikan hal ini. Seluruh orang yang beriman, ketika dia telah mengetahui ada syariat dan kewajiban berhaji, maka pasti dia akan rindu untuk bisa berhaji atau berumrah. Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Tidak ada satupun orang Islam kecuali dia pasti sangat rindu untuk melihat Ka’bah dan thawâf di sana. Oleh karena itu, manusia bermaksud untuk mengunjunginya dari segala arah dan penjuru.”[5]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka

Para Ulama tafsir berbeda pendapat, apakah manfaat yang dimaksud adalah manfaat yang berhubungan dengan akhirat saja, atau dunia saja, ataukah manfaat dunia dan akhirat? Pendapat yang kuat adalah bahwa manfaat yang dimaksudkan dalam ayat ini bersifat umum, yaitu manfaat dunia dan akhirat.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Yaitu manfaat-manfaat dunia dan akhirat. Adapun yang dimaksud dengan manfaat akhirat adalah mendapatkan ridha Allâh, sedangkan manfaat dunia adalah apa-apa yang mereka dapatkan berupa manfaat hewan sembelihan, keuntungan dan (hasil dari) perdagangan. Seperti inilah yang dikatakan oleh Mujahid rahimahullah dan banyak Ulama lainnya. Jadi yang dimaksud manfaat-manfaat dalam ayat ini adalah manfaat-manfaat dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” [Al-Baqarah 2/: 198][6]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Dan supaya mereka menyebut nama Allâh pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allâh telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak

Apa maksud dari hari-hari yang telah ditentukan (ayyâm ma’lûmât)?

Syu’bah dan Husyaim berkata, “Dari Abu Bisyr dari Sa’id dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma : ‘Hari-hari al-ma’lûmat (yang telah ditentukan) adalah sepuluh hari (pertama di bulan Dzul-Hijjah).”

Dan diriwayatkan juga yang semisalnya dari Abi Musa al-Asy’ari, Mujâhid, ‘Atha’, Said bin Jubair, al-Hasan, Qatâdah, ‘Atha’ Al-Khurasani, Ibrahim An-Nakha’i. Ini adalah madzhab asy-Syafi’i dan madzhab yang masyhur dari Ahmad bin Hanbal. Disebutkan juga pendapat yang lain tentang hal ini, tetapi penulis cukupkan dengan pendapat di atas.[7]

Arti dari “supaya mereka menyebut nama Allâh

Adapun arti dari “supaya mereka menyebut nama Allâh” maksudnya adalah ketika menyembelih hewan ternak. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah menyebut nama Allâh ketika menyembelihnya.

Hewan ternak yang dimaksud adalah unta, sapi dan kambing.”[8]

Disebutkan juga pendapat-pendapat yang lain.

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Maka makanlah sebahagian darinya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir!

Apakah Memakan Daging Qurban Hukumnya Wajib?
Sebagian Ulama berdalil dengan ayat ini untuk mengatakan bahwa memakan daging qurban hukumnya wajib. Namun pendapat ini asing dan lemah. Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan Ulama adalah hukum memakannya dimasukkan ke dalam bab rukhsah (keringanan) atau ke dalam bab istihbâb (sunnah), sehingga memakannya bukanlah suatu kewajiban.

Meskipun bukan suatu kewajiban, sudah sepantasnya kita turut memakan daging qurban kita, sebagaimana terdapat pada kabar yang valid bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih hewan hadyu-nya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk diambilkan sepotong daging dari setiap hewan kemudian dimasak dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dagingnya dan menghirup kuahnya.[9]

Berapa Persenkah Pembagian yang Disunnahkan Ketika Membagi Daging Qurban?
Sebagian Ulama mengatakan bahwa pembagian yang disunnahkan adalah setengah untuk yang berqurban dan setengah lagi untuk disedekahkan kepada orang miskin. Sebagian mereka berdalil dengan ayat di atas.

Menurut pendapat yang lain, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Sepertiga untuk yang berqurban.
  2. Sepertiga untuk dihadiahkan dan
  3. Sepertiga untuk disedekahkan.

Karena terdapat firman Allâh Azza wa Jalla dalam ayat lain.

وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allâh, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allâh ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” [Al-Hajj/22: 36]

Begitu pula Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

Makanlah oleh kalian! Berikanlah makan orang lain dan simpanlah![10]

Siapakah yang Dimaksud Dengan Al-Ba’is Al-Faqir Dalam Ayat Ini?
Para Ulama berselisih dalam mengartikannya, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. ‘Ikrimah rahimahullah berkata, “al-bâ’is adalah orang yang sangat kekurangan lagi sengsara, dan arti al-faqîr adalah al-muta’affif (orang miskin yang tidak meminta-minta).”
  2. Mujâhid rahimahullah mengatakan, “Dia adalah orang yang tidak membentangkan tangannya (tidak meminta-minta).”
  3. Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Dia adalah az-zamin (orang sakit menahun yang tidak diharapkan kesembuhannya).”
  4. Muqâtil bin Hayyân, “Dia adalah orang yang buta.”

Dan disebutkan juga pendapat lain, namun yang kuat adalah pendapat yang disebutkan ‘Ikrimah rahimahullah.[11]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka

‘Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs, beliau mengatakan, “yang dimaksud dengan tafats (تَفَث) pada ayat ini adalah al-manâsik (rangkaian ibadah haji atau umrah).”[12]

Diriwayatkan dari ‘Athâ’ bin as-Sâ’ib dia berkata, “at-Tafats adalah mencukur rambut, memotong kuku, menipiskan kumis, mencukur bulu kemaluan dan seluruh urusan haji.[13]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka

Ayat ini menunjukkan wajibnya menyelesaikan nadzar, baik dia berupa dam[14], hadyu[15] atau selainnya. Dan ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang bernadzar tidak boleh makan darinya untuk memenuhi nadzarnya. Begitu pula dengan kaffarat dari berburu (ketika ihram) atau membayar fidyah karena ada penyakit.

Perintah menunaikan nadzar ini adalah perintah untuk menunaikan semua jenis nadzar, kecuali jika nadzar tersebut mengandung kemaksiatan, maka tidak boleh dipenuhi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allâh maka taatilah Dia (harus dipenuhi nadzarnya); dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada Allâh maka janganlah dia bermaksiat kepada-Nya.”[16]

Di antara perkataan salaf (ulama terdahulu) dalam mengartikan nadzar pada ayat di atas adalah sebagai berikut:

  1. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma , “Maksudnya adalah menyembelih hewan yang dinadzarkan.”
  2. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najîh dari Mujahid rahimahullah, beliau mengatakan, “Nadzar untuk berhaji dan menyembeli hadyu dan apa-apa yang dinadzarkan oleh seseorang ketika dia sedang berhaji.”
  3. Diriwayatkan dari Laits bin Abi Sulaim dari Mujahid rahimahullah , beliau mengatakan, “Segala nadzar yang sudah sampai batas waktunya.”
  4. Diriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah dari Mujahid rahimahullah , beliau mengatakan, “Sembelihan-sembelihan.”[17]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawâf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullâh).

Thawâf ketika berhaji ada tiga jenis, yaitu:

  1. Thawâf al-qudûm (thawâf ketika pertama kali datang ke Baitullâh)
  2. Thawâf al-ifâdhah (ini termasuk rukun haji) dan
  3. Thawâf al-wadâ’ (thawâf perpisahan dengan Baitullâh).

Thawâf yang bagaimana pun keadaannya harus dikerjakan oleh orang yang berhaji adalah thawâf al-ifâdhah atau yang disebut juga dengan thawâf az-ziyârah.

Mujahid rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya ayat di atas adalah) thawâf wajib yang di hari nahr/penyembelihan (tanggal 10 Dzul-Hijjah).”

Diriwayatkan dari Abu Hamzah bahwasanya dia berkata, “Ibnu ‘Abbas c berkata kepadaku, ‘Apakah kamu membaca surat Al-Hajj? Allâh berkata: ‘Hendaklah mereka melakukan thawâf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullâh).’ Sesungguhnya akhir dari manâsik (prosesi haji) adalah berthawâf di sekeliling Baitullâh.”

Mengapa Dinamakan Al-Bait Al-‘Atiq?
Ada beberapa pendapat tentang ini. Beberapa pendapat yang menyebutkan alasan mengapa Baitullâh dinamakan dengan al-bait al-‘atîq adalah sebagai berikut:

1. Al-Qadîm artinya yang lama, artinya Baitullâh adalah masjid yang paling lama dan paling pertama dibangun di muka bumi ini. Inilah pendapat yang banyak didukung oleh dalil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullâh yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” [Ali ‘Imrân/3: 96]

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masjid yang pertama kali dibangun di bumi

قَالَ: الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Al-Masjid Al-Harâm.’[18]

2. Dibebaskan dari penguasa zalim yang ingin menghinakannya
Artinya baitullâh al-atîq adalah rumah Allâh yang tidak pernah dikuasai oleh orang-orang yang ingin menghinakannya dan Allâh selalu melindunginya dari mereka.

Di antara mereka ada yang berdalil dengan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا سُمِّيَ البَيْتَ العَتِيقَ لأَنَّهُ لَمْ يَظْهَرْ عَلَيْهِ جَبَّارٌ

Sesungguhnya dia dinamakan al-Bait al-‘Atîq karena penguasa-penguasa zalim tidak bisa menguasainya[19]

Akan tetapi hadits ini lemah.

3. Tidak ada yang pernah memiliki tanahnya.
4. Karena Allâh membebaskan orang-orang yang berdosa dari adzab di sana.
5. Karena dia dibebaskan dari tenggelam.
6. Dan disebutkan banyak alasan lain.

Allâhu a’lam pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama.

Kesimpulan

  1. Nabi Ibrahim Alaihissallam diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk memanggil manusia agar berhaji ke Baitullâh. Kemudian Allâh Azza wa Jalla memperdengarkan suara seruan Nabi Ibrahim Alaihissallam kepada seluruh manusia agar mereka memenuhi panggilannya.
  2. Orang-orang yang beriman akan mendatangi Ka’bah dari segala penjuru dunia, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara dengan berbagai jenis kendaraan.
  3. Orang yang berhaji akan mendapat berbagai manfaat dunia maupun akhirat.
  4. Orang yang menyembelih hewan qurban harus menyebut nama Allâh ketika menyembelihnya.
  5. Disunnahkan untuk membagikan daging qurban kepada orang miskin dan tidak mengapa disimpan.
  6. Yang dimaksud dengan al-Bait al-‘Atîq adalah Rumah Allâh yang pertama kali dibangun di muka bumi ini.

Demikian tulisan ini. Semoga Allâh memudahkan kita untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm tanpa harus mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Âmîn.

Daftar Pustaka

  1. Aisarut-Tafâsîr li kalâm Al-‘Aliyyil-Kabîr wa bihaamisyihi Nahrul-Khair ‘Alâ Aisarit-Tafâsîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm Wal-Hikam.
  2. Al-Jâmi’ Li Ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
  3. Jâmi’ul-bayân fî Ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jarîr Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  4. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  5. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  6. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân Fi Tafsîr Kalâmil-Mannân. Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  7. Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir as-Sa’di, hlm. 536
[2] Tafsir Ibnu Katsîr, 5/414.
[3] Tafsir al-Qurthubi 12/38.
[4] Tafsir Ibnu Katsîr, 5/414.
[5] Tafsir Ibnu Katsîr, 5/414.
[6] Tafsir Ibnu Katsîr, 5/414.
[7] Tafsir Ibnu Katsîr, 5/414.
[8] Tafsir Ibnu Katsîr, 5/416.
[9] Lihat HR. Muslim, no. 1218
[10] HR. Al-Bukhâri, no. 5569
[11] Lihat Ibnu Katsîr, 5/417.
[12] Lihat Ibnu Katsîr, 5/417.
[13] Lihat Tafsir ath-Thabari 18/614.
[14] Sembelihan karena meninggalkan kewajiban haji atau melakukan hal yang terlarang dalam ihram.
[15] Sembelihan karena terkait manasik haji bagi yang mengerjakan Qirân dan Tamattu’.
[16] HR. Al-Bukhâri, no. 6696
[17] Lihat Tafsir Ibnu Katsîr, 5/417
[18] HR. Muslim no. 520.
[19] HR At-Tirmidzi no. 3170. Hadits ini dinyatakan dha’if oleh Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’îfah, no. 3222.

Masih Adakah Tambahan?

MASIH ADAKAH TAMBAHAN?

Oleh
Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَوْمَ نَقُوْلُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَـْٔتِ وَتَقُوْلُ هَلْ مِنْ مَّزِيْدٍ 

Ingatlah akan hari yang pada hari itu Kami bertanya kepada jahannam, “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab, “Masih adakah tambahan?” [Qâf /50:30]

Arti Kata
امْتَلَأْتِ      : Kamu sudah penuh.
مَزِيدٍ        : Tambahan.

Makna Ayat Secara Umum
Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla telah menakut-nakuti para hamba-Nya seraya berfirman, yang artinya, “Ingatlah akan hari yang pada waktu itu Kami mengatakan kepada neraka jahannam, “Apakah kamu sudah penuh?”. Pertanyaan ini dilontarkan, karena sudah banyak yang telah dilemparkan ke dalamnya. Neraka Jahannam pun menjawab, “Masih adakah tambahan?”; ia meminta tambahan penghuni neraka yakni dari para pelaku dosa dan ahli maksiat. Ia marah terhadap mereka dan kepada orang-orang kafir karena Allâh Azza wa Jalla . Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah berjanji akan memenuhi neraka tersebut dengan jin dan manusia sebagaimana dalam firman-Nya :

لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Sungguh Kami akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia. [Hûd/11:119]

Akan tetapi neraka tersebut masih lapar, sehingga Allâh Azza wa Jalla meletakkan telapak kaki-Nya yang mulia -dan bersih dari tasybih (penyerupaan dengan makhluk-Nya)- ke dalam Neraka Jahannam sehingga neraka tersebut mengkerut dan menyempit seraya berkata, “Cukup, cukup, sungguh aku sudah penuh”.[1]

Sifat-Sifat Neraka
Neraka adalah makhluk ciptaan Allâh Azza wa Jalla sebagaimana makhluk-makhluk lainnya, ia juga memiliki beberapa sifat diantaranya adalah:

Pertama, Dapat berbicara.
Pada ayat di atas telah disebutkan salah satu sifat neraka, yaitu dijadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dapat berbicara. Hal itu disebutkan pula dalam hadits marfu’ hukman[2]dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang diseret dan dimasukkan ke nereka, akan tetapi neraka tersebut mengkerut dan menyempit, kemudian Allâh Azza wa Jalla berkata kepadanya, “Kenapa engkau menyempit?” Neraka menjawab, “Sesungguhnya ia ketika di dunia telah berlindung dari siksaku,” maka Allâh Azza wa Jalla menyuruh neraka tersebut untuk melepaskannya seraya berfirman, “Lepaskanlah dia”. Dan sungguh ada seorang laki-laki yang diseret dan dimasukkan neraka, kemudian ia berkata, “Ya Allâh, prasangkaku kepada-Mu tidaklah seperti ini”. Allâh Azza wa Jalla bertanya kepadanya, “Apa prasangkamu kepada-Ku?”, ia menjawab, “Aku menyangka bahwa Engkau akan merahmatiku,” maka Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Keluarkanlah dia”. Dan sungguh ada seorang laki-laki yang diseret untuk dimasukkan neraka, maka neraka pun berteriak karenanya seperti teriakan kuda bighal terhadap api yang menyala-nyala. Dan neraka tersebut mengeluarkan suara api yang menyala-nyala yang tidak ada seorangpun yang mendengarnya melainkan ia takut kepadanya. [HR ath-Thabari dan sanadnya dihukumi shahîh oleh Ibn Katsir].[3]

Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa neraka dijadikan Allâh Azza wa Jalla dapat berbicara sehingga ia dapat berdialog dengan Allâh Azza wa Jalla dan dapat mengaduh kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ،  فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ

Neraka telah mengaduh kepada Rabbnya, ia berkata: “Wahai Rabbku, sebagianku memakan sebagian lainnya (karena sangat panas dan sangat dingin),” maka Allâh Azza wa Jalla mengijinkannya untuk bernafas dua kali, sekali saat musim dingin dan sekali lagi saat musim panas. Maka kalian mendapati sangat dingin pada waktu musim dingin dan merasakan sangat panas pada waktu musim panas”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].[4]

Kedua, Memiliki dua mata yang dapat melihat, dan dua telinga yang dapat mendengar.
Neraka dijadikan Allâh Azza wa Jalla memiliki dua mata yang dengannya ia dapat melihat dan dua telinga yang dengannya ia dapat mendengar, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ لَهَا عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ وَأُذُنَانِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ، يَقُولُ: إِنِّي وُكِّلْتُ بِثَلَاثَةٍ، بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، وَبِكُلِّ مَنْ دَعَا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ، وَبِالمُصَوِّرِينَ

Sebagian dari neraka keluar pada Hari Kiamat. Dia memiliki dua mata yang dapat melihat dan dua telinga yang dapat mendengar dan satu lisan yang dapat berbicara. Dia mengatakan, “Sesungguhnya diserahkan kepadaku tiga macam orang: (1) Setiap orang yang diktator lagi pembangkang, (2) setiap orang yang menyembah Tuhan lain selain Allâh Ta’ala, (3) para pelukis (makhluk yang bernyawa)”. [HR Tirmidzi dan sanadnya disahîhkan oleh al-Albani].[5]

Allâh Azza wa Jalla juga menjelaskan dalam firman-Nya :

اِذَا رَاَتْهُمْ مِّنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍ سَمِعُوْا لَهَا تَغَيُّظًا وَّزَفِيْرًا

Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara menyala-nyala.  [al-Furqân/25:12].

Ayat ini menjelaskan bahwa neraka dijadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dapat melihat orang-orang yang akan dimasukkan ke dalamnya.

Ketiga, Memiliki tujuh pintu
Neraka adalah tempat kembalinya orang-orang yang akan mendapat siksa, ia memiliki tujuh pintu, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٤٣ لَهَا سَبْعَةُ اَبْوَابٍۗ لِكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُوْمٌ

Dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka. [al-Hijr/15:43-44].

Jadi Neraka Jahannam itu memiliki tujuh pintu. Seperti apakah letak tujuh pintu tersebut ? Hiththan bin Abdillâh al-Raqasyi rahimahullah yang termasuk kibâr tabi’in (generasi tua dari tabi’in), ia meriwayatkan dari Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau pernah bertanya kepadanya dan kepada orang-orang yang hadir bersamanya, “Apakah kalian mengetahui bagaimanakah letak pintu-pintu neraka tersebut?” Mereka pun menjawab, “Letaknya seperti pintu-pintu rumah kita,” lalu beliau berkata, “Tidak, letaknya tidak seperti itu, akan tetapi letaknya seperti ini (dengan meletakkan telapak tangannya yang satu di atas yang lainnya), dengan mengatakan, “Sebagiannya di atas sebagian lainnya.”[6]

Ibnu Juraij rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini ia mengatakan tentang pintu-pintu tersebut.

  • Pertama (yang paling atas), adalah Jahannam.
  • Kedua, Ladzah.
  • Ketiga, Huthamah.
  • Keempat, Sa’ir.
  • Kelima, Saqar.
  • Keenam, Jahim.
  • Ketujuh, Hawiyah.[7]

Dan setiap pintu tersebut mendapatkan bagian jatah dari orang-orang yang akan disiksa di dalamnya.

Adh-Dhahhak rahimahullah berkata, “Dimasukkan ke dalam pintu pertama yang paling atas yaitu orang-orang yang mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla yang melakukan maksiat, mereka akan disiksa sesuai dengan kemaksiatannya setelah itu ia dikeluarkan. Pintu kedua dimasukkan ke dalamnya orang-orang Yahudi. Pintu ketiga orang-orang Nashrani. Pintu keempat Shabi’un. Pintu kelima orang-orang Majusi, dan pintu keenam orang-orang munafik.[8]

Pedihnya Siksa Neraka
Di dalam neraka terdapat bermacam bentuk siksa yang sangat menakutkan, sehingga seseorang ingin menebus siksa tersebut dengan sesuatu yang paling berharga di dunia.[9] Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ  ١١وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ  ١٥نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ ١٦  تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ 

Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan sanak familinya yang melindunginya di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling dari agama. [al-Ma’ârij/70:11-17].

Pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ

Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walau pun ia menebus diri dengan emas sebanyak itu, bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. [Ali Imrân/3:91].

Pada dua ayat di atas disebutkan betapa pedih siksa neraka sehingga orang-orang kafir berusaha untuk melepaskan diri dari siksa tersebut dengan cara menebus diri dengan sesuatu yang paling berharga yang pernah mereka miliki atau dengan cara keluar dari neraka tersebut. Namun usaha mereka sia-sia karena malaikat penjaga neraka mengembalikan mereka ke dalamnya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا

Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.[al-Hajj/22:22].

Pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَوْ تَرٰىٓ اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ رَبَّنَآ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ

Dan alangkah ngerinya, jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya , mereka berkata, “Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin. [as-Sajdah/32:12]

Mereka menyesal dan ingin keluar dari neraka, meminta agar dikembalikan ke dunia padahal dunia sudah tidak ada lagi. Penyesalan yang dalam itu terjadi setelah mereka melihat, mendengar dan merasakan siksa neraka yang amat pedih. Allâh Azza wa Jalla juga berfirman dalam ayat yang lain :

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَآ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَقِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ

Adapun orang-orang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka, setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu dustakan”. [as-Sajdah/32:20]

Ulama tafsir mengatakan bahwa dahsyatnya semburan api neraka tersebut mengangkat mereka sehingga hampir mengeluarkan mereka dari neraka, maka malaikat penjaga neraka pun memukul mereka dengan cambuk-cambuk besi sehingga mereka jatuh dan masuk ke dasar neraka.[10] Mereka berteriak di dalam neraka meminta keluar, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَاۚ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu,“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal shalih tidak seperti yang telah kami kerjakan,”( Allâh Azza wa Jalla menjawab):“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan apakah tidak datang kepada kamu seorang pemberi peringatan ? Maka rasakanlah siksa Kami dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun”. [Fâthir/35:37].

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan pula dalam beberapa ayat sebagian jenis siksa neraka yang diperoleh oleh orang-orang kafir. Diantaranya adalah dikenakan pakaian api kepada mereka dan dituangkan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala mereka sehingga kulit dan semua yang ada di dalam perutnya hancur, dan dipukulkan kepada mereka cambuk-cambuk besi. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ ۚ ١٩ يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُ ۗ ٢٠ وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ

Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka, disiramkan air yang sangat mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka. Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.[al-Hajj/22:19-21].

Pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman pula.

لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُۚ ٢٨لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِۚ 

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Ia adalah pembakar kulit manusia. [al-Mudatstsir/74:28-29].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan kadar panasnya api neraka dalam sabdanya:

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ» ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ: «فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا»

“Api kalian adalah bagian dari tujuh puluh bagian api Neraka Jahannam”. Dikatakan kepada Rasûlullâh, “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya api dunia sudah cukup untuk menyiksa mereka,” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Panas api neraka itu dilebihkan atas api dunia hingga enam puluh sembilan kali lipat”.[11]

Betapa pedih siksa neraka, dan betapa sengsara orang yang disiksa di dalamnya. Kami berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla dari siksa neraka dan dari setiap ucapan atau perbuatan yang mendekatkan kepada neraka, amin!

Amalan Apakah Yang Dapat Membentengi Manusia dari Neraka ?
Orang-orang yang masuk ke dalam neraka adalah orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat. Dan orang yang terselamatkan dari siksa neraka adalah orang-orang yang beriman dan melakukan amal shalih. Disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya firman Allâh Azza wa Jalla :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. [al-Baqarah/2:25].

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla memberi kabar gembira berupa surga bagi mereka yang beriman dan melakukan amal shalih. Dan pada ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla juga berfirman.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [al-Baqarah/2:277].

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang yang selamat dari siksa neraka adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Diantara amal shalih yang dapat membentengi seseorang dari siksa neraka adalah shalat dan zakat. Mereka tidak perlu khawatir, cemas dan takut; karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang akan diselamatkan oleh Allâh Azza wa Jalla dari siksa neraka.

Diantara amal shalih lainnya yang dapat membentengi dari api neraka adalah mencintai Allâh Azza wa Jalla . Seseorang tidak dapat dikatakan mencintai Allâh Azza wa Jalla melainkan jika ia telah mengikuti ajaran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga Allâh Azza wa Jalla juga akan mencintainya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Katakanlah, jika kalian mencintai Allâh maka ikutilah aku niscaya Allâh akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imrân/3:31].

Jika seseorang telah dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla maka ia akan diselamatkan oleh-Nya dari siksa neraka dan tidak akan dilemparkan ke dalam neraka, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ لَا يُلْقِي اللَّهُ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ

Demi Allâh, Allâh Azza wa Jalla tidak akan melemparkan kekasihnya ke dalam neraka. [HR al-Hakim dan Ahmad, dan dihukumi shahîh oleh al-Albani].[12]

Pada hadits ini disebutkan, orang yang mencintai Allâh Azza wa Jalla dengan cara mengikuti ajaran Rasul-Nya, maka ia akan dicintai Allâh Azza wa Jalla dan diselamatkan dari api neraka. Demikian pula halnya dengan puasa, ia juga termasuk amal shalih. Dengan puasa maka seseorang akan diselamatkan oleh Allâh Azza wa Jalla dari neraka, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi dirinya dari siksa neraka, dan puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. [HR Ahmad dan al-Baihaqi, dan dihukumi hasan oleh al-Albani].[13]

Masih banyak lagi amal shalih lainnya yang dapat membentengi seseorang dari siksa neraka. Penulis tidak menyebutkan semuanya disini karena terbatasnya halaman. Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufiq serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat senantiasa beramal shalih dan kelak diselamatkan oleh Allâh Azza wa Jalla dari siksa neraka. Amin.

Pelajaran Dari Ayat

  1. Neraka masih lapar dan masih membutuhkan bahan bakar dari bangsa jin dan manusia.
  2. Neraka dapat berbicara sehingga ia dapat meminta tambahan isi.
  3. Neraka tidak akan penuh kecuali jika Allâh Azza wa Jalla telah meletakkan telapak kaki-Nya yang mulia ke dalamnya.
  4. Neraka adalah makhluk ciptaan Allâh Azza wa Jalla , maka kita meminta perlindungan kepada Dzat yang menciptakannya dari siksanya.
  5. Iman, amal shalih dan rahmat Allâh Azza wa Jalla -lah yang dapat menjadi benteng dari siksa neraka.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Taisîrul Karîmir Rahmân fi Tafsîr Kalâmil Mannân, Abdurrahmân bin Nasir bin Abdullâh as-Sa’di, Muassasah ar-Risalah, Beirut, Cetakan Pertama, tahun 1420 H/ 2000 M, hlm. 806.
[2] Yaitu perkataan atau perbuatan sahabat Radhiyallahu anhum yang dihukumi sebagai hadis marfu’ (yang mereka ambil dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
[3] Jâmi’ul Bayân fi Ta’wîl Qur`ân, Muhammad Ibn Jarir ath-Thabari, Muassasah ar-Risalah, Beirut, cetakan tahun 1420 H/ 2000 M, juz. 19, hlm. 244. Lihat al-Bidâyah wan-Nihâyah, Dar Hajar – tanpa nama tempat, cetakan pertama, tahun 1418 H/ 1999 M, juz 19, hlm. 497.
[4] Sahîh al-Bukhâri, Muhammad bin Ismail al-Bukhâri, Dar Thauq an-Najah – tanpa nama tempat, cetakan pertama, tahun 1422 H. juz 4,  hlm. 120, hadits no. 3260. Lihat Sahîh Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi – Bairut, tanpa tahun cetakan, juz 1, hlm. 431, hadits no. 617.
[5] Sunan Tirmidzi, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Syarikah Maktabah wa Mathba’ah al-Babi al-Halabi – Mesir, cetakan kelima, tahun 1395 H/ 1975 M, juz 4, hlm. 701, hadits no. 2574. Lihat Silsilah Sahîhah, hadits no. 512.
[6] Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur`ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Dar al-Kutub al-Mishriyah – Cairo, cetakan kedua, tahun 1384 H/ 1964 M, juz 10, hlm. 30. Lihat Tafsir al-Khazin (Lubab at-Takwil fi ma’ani at-Tanzil, Ali bin Muhammad yang dikenal dengan al-Kahzin, Dar al-Kutub al-Ilmiyah – Beirut, cetakan pertama tahun 1415 H, juz 3, hlm. 57.
[7] At-Tafsîr al-Kabîr, Muhammad bin ‘Umar ar-Razi (Fakhruddin ar-Razi), Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi – Beirut, cetakan ketiga, tahun 1420 H, juz 19, hlm. 146.
[8] Ibid.
[9] Al-Jannah wa an-Nar, Umar bin Sulaiman al-Asyqar, Dar an-Nafais, Yordan, cetakan ketujuh, tahun 1418 H/ 1998 M, hlm. 93.
[10] Adhwâ-ul Bayân fi Idhâhil Qur`ân bil-Qur`ân, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi, Dar al-Fikr- Lebanon, tanpa nomor cetakan, tahun 1415 H/ 1995 M, juz 4, hlm. 292.
[11] Sahîh al-Bukhâri, juz 4, hlm. 121.
[12] Al-Mustadrak, Muhammad bin Abdillâh Abu Abdillah al-Hakim, Dar al-Kutub al-Ilmiyah – Beirut, cetakan pertama, tahun 1411 H/ 1990 M, juz 4, hlm. 195, hadits no. 7347. Lihat Al-Musnad, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Muassasah ar-Risalah – Beirut, cetakan pertama, tahun 1421 H/ 2001 M, juz. 21, hlm. 128-129, hadits no. 13467. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktabah al-Ma’arif, cetakan pertama, tanpa tahun, juz. 5, hlm. 531, hadits no. 2407.
[13] Al-Musnad, juz. 23, hlm. 33, hadits no. 14669. Lihat Syu’ab al-Iman, Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Maktabah ar-Rusyd-Riyadh, cetakan pertama, tahun 1423 H/ 2003 M, juz. 5, hlm. 193, hadits no. 3292. Lihat Sahîh al-Jami’ ash-Shaghir, Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Maktab al-Islami-Beirut, tanpa nomor dan tahun cetakan, juz 2, hlm. 794, hadits no. 4308.

50 Faidah dari Kisah Luqmân Al-Hakim(1)

50 FAIDAH DARI KISAH LUQMAN AL-HAKIM[1]

Oleh
Prof. Dr. ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbaad

Sesungguhnya wasiat-wasiat yang terdapat dalam kisah Luqmân mengandung faidah-faidah yang agung, nasehat-nasehat luhur, penuh berkah; Mengandung manhaj (metode) yang benar dalam berdakwah (ad-da’wah Ilallâh), dalam mendidik anak-anak dan membina generasi kaum Muslimin. Dalam kisah tersebut ada penjelasan tentang sarana-sarana dan cara-cara jitu dalam berdakwah dan mengajarkan kebaikan.

Oleh karena itu, para pendidik, orang tua dan guru seharusnya memperhatikan wasiat-wasiat tersebut satu persatu dan menjadikannya panduan dalam berdakwah dan mengajar.

Ini semua menuntut kita untuk bisa men-tadabbur-i, memahami dan mempelajari wasiat-wasiat Luqmân[2] yang Allâh sebutkan dalam kitab-Nya, yaitu al-Qur’an al-Karim, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ ١٢ وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣ وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ١٤ وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ١٦يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٧وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ١٨وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ١٩

  1. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Luqmân, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allâh ! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allâh ), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
  2. Dan (Ingatlah) ketika Luqmân berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allâh ! Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.
  3. Dan kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun, (Oleh karena itu) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku kamu kembali.
  4. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya! Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik! Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku! Kemudian hanya kepada-Ku-lah tempat kembali kalian, maka kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.
  5. (Luqmân berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allâh akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allâh Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
  6. Hai anakku! Dirikanlah shalat ! Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik ! Cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar ! Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ).
  7. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) ! Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh ! Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
  8. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu ! Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. [Luqmân/31:12-19]

Pembahasan tentang ayat-ayat yang penuh berkah ini yaitu dengan menyebutkan sejumlah faidah yang tersimpulkan dari ayat-ayat yang mulia tersebut. Dalam waktu singkat, saya telah berhasil mengumpulkan 50 faidah. Saya sangat mengharapkan semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan manfaat kepada kita dari faidah-faidah tersebut dan memberikan taufik-Nya kepada kita untuk dapat benar-benar mengambil faidah dari wasiat-wasiat yang penuh hikmah dan berkah ini.

Faidah Pertama :
Sesungguhnya hikmah itu adalah pemberian dan anugerah dari Rabb yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba yang dikehendaki-Nya. Ini terfahami dari firman-Nya Azza wa Jalla :

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Luqmân

Jadi, hikmah itu adalah karunia Allâh yang diberikan kepada para hamba yang dikehendaki-Nya saja, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا

Allâh menganugerahkan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa dianugerahi hikmah, maka dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. [al-Baqarah/2:269]

Oleh karena itu, barangsiapa ingin diberi taufîq untuk mendapatkan al-hikmah itu dan ingin diberikan kebaikan, maka hendaklah dia memintanya kepada Allâh Azza wa Jalla . Karena semua kebaikan dan keutamaan berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Dia Subhanahu wa Ta’ala memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya

Kebaikan itu tidak akan didapatkan kecuali dengan bersikap jujur kepada Allâh Azza wa Jalla , menghadap kepada-Nya dengan baik, mengerjakan ketaatan kepada-Nya dan memohon taufîq kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya dalam usahanya untuk mendapatkan kebaikan tersebut. Sesungguhnya hidayah dan taufiiq tersebut berada di tangan-Nya dan tidak ada serikat bagi-Nya.

Faidah Kedua :
Sesungguhnya untuk bisa mendapatkan al-hikmah, ada sebab-sebab yang harus dilakukan oleh seorang hamba. Barangsiapa memperhatikan kisah Luqmân dan kehidupannya, niscaya dia akan dapati bahwa Luqmân itu seorang hamba yang shaleh. Dia beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , taat kepada-Nya dan memiliki hubungan yang baik dengan Rabb-nya.

Disebutkan dalam biografinya, sebagaimana disebutkan oleh al-hâfidzh Ibnu Katsîr rahimahullah dan para Ulama lainnya[3], bahwa dia adalah orang yang rajin beribadah, taat kepada Allâh dan jujur. Dia sedikit berbicara, banyak berpikir dan bertadabbur. Dia mengambil faidah dari majlis-majlis kebaikan dan dia menganjurkan (orang lain) untuk mengambil faidah dari majlis-majlis kebaikan tersebut. Dia sering meminta pendapat ahli ilmu dan mengambil faidah dari mereka.

Yang terpenting adalah pengorbanan seorang hamba untuk mengerjakan sebab-sebab yang bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla bisa menjadi sarana untuk meraih kebaikan dan keberuntungan serta akan mendatangkan hikmah. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Bersemangatlah untuk mengerjakan yang bermanfaat untukmu dan mintalah pertolongan kepada Allâh[4]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، ومَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّ يُوْقَهُ

Sesungguhnya (untuk mendapatkan) ilmu harus dengan belajar dan (untuk mendapatkan) kesabaran harus dengan melatihnya. Barangsiapa berusaha mendapatkan kebaikan, maka akan diberikan kepadanya. Barangsiapa berusaha mengindari keburukan, maka akan dijauhkan darinya. [5]

Oleh karena itu, seorang hamba harus mengerjakan sebab untuk mraih al-hikmah dan tidak hanya berkata, “Ya Allâh ! Berikanlah kepadaku hikmah!” atau berkata, “Ya Allâh ! Sesungguhnya saya memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shaleh” tanpa mengerjakan sebab-sebab (untuk memperolehnya). Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ

Maka ibadahilah Dia dan bertawakkallâh kepada-Nya [Hûd/11:123]

Dan firman-Nya, yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” [al-Fatihah/1:5]

Faidah Ketiga :
Pentingnya mensyukuri nikmat Allâh Azza wa Jalla dan besarnya pengaruh syukur terhadap kelanggengan dan perkembangan suatu kenikmatan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-hikmah kepada Luqmân, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allâh”

Sebuah kenikmatan jika disyukuri maka dia akan langgeng, apabila tidak disyukuri maka dia akan lenyap. Oleh karena itu, sebagian Ulama menamai syukur dengan al-hâfidzh (penjaga) dan al-jâlib (pencari/penarik), karena syukur dapat menjaga kenikmatan yang ada dan mencari kenikmatan yang hilang. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu’ [Ibrahim/14:7]

Pada ayat di atas Allâh berfirman, (أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ) “Bersyukurlah kepada Allâh !” maksudnya adalah bersyukur atas kenikmatan, pemberian dan kedermawanan-Nya kepadamu. Diantara bentuk kedermawaan Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya yang shaleh ini (Luqman) adalah dengan memberikan kepadanya al-hikmah dan memberinya taufîq untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shaleh. Ayat itu juga menunjukkan bahwa seorang hamba yang diberi taufîq untuk mendapatkan ilmu, bisa beramal dan menjalankan kebaikan, dia wajib selalu dan selamanya bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dia wajib mengakui dan menyadari kenikmatan, keutamaan, hidayah (petunjuk) dan taufîq Allâh yang telah diberikan kepadanya.

Faidah Keempat
Sesungguhnya mensyukuri nikmat dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan kita. Ketiganya digabungkan dalam Firman Allâh Azza wa Jalla : (أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ) “Bersyukurlah kepada Allâh !”

Barangsiapa diberikan hikmah, ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shaleh, maka cara bersyukur dengan hatinya yaitu dengan mengakui kenikmatan al-Mun’im (Yang Maha Pemberi Kenikmatan); kemudian dengan lisannya, dia menyanjung, memuji dan bersyukur kepada Allâh; Lalu bersyukur dengan perbuatannya yaitu dengan mentaati-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا

Beramallâh Hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allâh ). [Saba’/34:13]

Oleh karena itu, seorang hamba harus mengerjakan amalan-amalan shaleh, bersemangat untuk mengerjakan ketaatan dan menggunakan kenikmatan tersebut pada jalan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Faidah Kelima :
Sesungguhnya, perbuatan syukur yang dilakukan oleh orang-orang yang bersyukur kepada Allâh tidak bisa memberikan manfaat kepada Allah Azza wa Jalla , begitu pula perbuatan kufur orang-orang yang kafir tidak bisa me-mudharat-kan (membahayakan) Allâh . Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla :

وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ 

Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allâh ), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [Luqmân/31: 12]

Jadi, perbuatan syukur orang yang bersyukur tidak dapat memberikan manfaat kepada Allâh, perbuatan kufur orang yang kafir tidak dapat membahayakan-Nya, perbuatan taat orang yang taat tidak bisa memberikan manfaat kepada Allâh , perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang yang bermaksiat tidak bisa membahayakan-Nya. Perhatikan firman Allâh pada hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Radhiyallahu anhu dalam Shahîh Muslim[6] :

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

Wahai hamba-hambaku! Seandainya orang-orang yang paling awal sampai yang paling akhir dari kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, semuanya menjadi seperti orang yang memiliki hati yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal tersebut tidak dapat menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hambaku! Seandainya orang-orang yang paling awal sampai yang paling akhir dari kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, semuanya menjadi seperti orang yang memiliki hati yang paling berdosa di antara kalian, maka hal tersebut tidak dapat mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun

Oleh karena itu, ketaatan orang yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla tidak dapat memberikan manfaat kepada Allâh dan perbuatan dosa orang yang berbuat maksiat tidak bisa membahayakan-Nya. Bahkan (Allâh Azza wa Jalla berfirman):

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ

Barangsiapa berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. [al-Isrâ’/17:15]

Sedangkan Allâh Azza wa Jalla , Dia-lah al-Ghaniy (Yang Maha Kaya) dan al-Hamîd (Yang Maha Terpuji). Diantara dalil yang menyebutkan hal ini adalah :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ

Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allâh ; dan Allâh, Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika dia menghendaki, niscaya dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru [Fîthir/35:15-16]

Faidah Keenam :
Sesungguhnya dampak dan manfaat perbuatan syukur yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap nikmat Allâh Azza wa Jalla akan kembali kepada hamba itu sendiri. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ

Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri [Luqmân/31:12]

Apabila seorang hamba bersyukur, maka buah syukur tersebut akan kembali kepadanya, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, nikmat yang telah diberikan akan langgeng dan juga akan mendatangkan nikmat lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Di akhirat, dia akan mendapatkan pahala, ganjaran dan akhir yang baik.

Seorang hamba apabila dia bersyukur, maka syukurnya tersebut akan kembali kepada dan dia akan mendapatkan manfaat dengannya. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut yaitu firman Allâh Azza wa Jalla:

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ 

Barangsiapa berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa sesat maka sesungguhnya dia tersesat untuk dirinya sendiri. [al-Isrâ’/17:15]

Sebaliknya, apabila seorang hamba tidak mensyukuri nikmat Allah – wal ‘iyâdzu billâh – maka perbuatannya itu akan mendatangkan penderitaan, kerugian dan penyesalan di dunia dan akhirat. Ini harus menjadi perhatian seorang hamba, karena dia perlu bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla sementara Allâh Azza wa Jalla Maha Kaya (tidak butuh) syukur hamba tersebut.

Faidah Ketujuh
Kita beriman kepada kesempurnaan kekayaan Allâh dari segala sisi dan butuhnya para hamba-Nya kepada-Nya dari segala sisi.

وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Dan barangsiapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya lagi Maha Terpuji [Luqman/31:12]

Kita beriman bahwa Allâh itu Ghaniy (Maha Kaya). al-Ghaniy adalah salah satu di antara nama-nama Allâh yang terbagus (al-Asmâul-Husnâ). Nama tersebut mengandung sifat-Nya yang memiliki kekayaan dan Allâh Azza wa Jalla tidak membutuhkan hamba-hamba dan seluruh makhluk-Nya dari segala sisi, sementara para hamba dan seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan Allâh dari segala sisi.

Kita beriman bahwa Rabb kita al-Ghaniy (Yang Maha Kaya) bersemayam di atas ‘Arsy-Nya dan terpisah dengan makhluk-Nya sebagaimana Allâh beritahukan dalam kitab-Nya :

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy. [Thâhâ/20:5]

ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ

Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.  [al-A’râf/7:54]

Pada waktu yang bersamaan, kita juga mengimani bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak membutuhkan ‘Arsy-Nya dan seluruh makhluk di bawahnya, sebaliknya seluruh makhluk-makhluk tersebut, yaitu ‘Arsy dan apa-apa yang ada di bawahnya sangat membutuhkan Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اِنَّ اللّٰهَ يُمْسِكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ اَنْ تَزُوْلَا ەۚ وَلَىِٕنْ زَالَتَآ اِنْ اَمْسَكَهُمَا مِنْ اَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗاِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا 

Sesungguhnya Allâh menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap. Dan sungguh jika keduanya lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allâh. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. [Fathir/35:41]

Allah-lah yang menahan ‘Arsy, menahan langit-langit dan menahan bumi. Seluruh makhluknya berdiri atas usaha-Nya Azza wa Jalla. Seluruhnya tidak bisa merasakan tidak butuh kepada Allâh meskipun hanya sekejap mata.

Faidah Kedelapan
Penetapan kesempurnaan sifat terpujinya Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Bagi-Nya segala pujian atas pemberian-pemberian-Nya dan keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Dan barangsiapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya lagi Maha Terpuji [Luqman/31:12]

al-Hamîd adalah salah satu nama di antara nama-nama Allâh yang terindah. Nama tersebut menunjukkan pujian yang diberikan kepada Allâh Azza wa Jalla . Dia-lah yang memiliki pujian yang mutlak dan sempurna dalam keadaan apapun dan kapanpun.

Dia Azza wa Jalla dipuji karena nama-nama dan sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Dia k dipuji karena kenikmatan-kenikmatan, karunia-karunia dan pemberian-pemberian-Nya. Dialah al-Hamîd (Yang Maha Terpuji) Azza wa Jalla yang memiliki semua pujian. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَهُ الْحَمْدُ فِى الْاُوْلٰى وَالْاٰخِرَةِ

Bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat. [al-Qashash/28:70]

Dia-lah yang memiliki pujian di awal maupun di akhir. Dia-lah k yang memiliki semua pujian baik yang tampak maupun yang tidak. Seluruh pujian adalah milik Allâh Azza wa Jalla . Seluruh kenikmatan berasal dari Allâh . Semua kenikmatan yang didapatkan oleh para hamba-Nya berasal dari Allâh dan Dia-lah yang memberikannya.

Sudah sepantasnya, seluruh pujian tersebut hanya dikhususkan untuk al-Mun’im (Yang Maha Pemberi Kenikmatan). Oleh karena itu, orang-orang yang sedang ber-talbiyah mengatakan dalam talbiyah-nya :

إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Faidah Kesembilan
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) kedudukan hikmah dan manfaatnya yang besar pada diri orang yang Allâh Azza wa Jalla berikan hikmah itu kepadanya. Ini sangat nampak pada konteks ayat yang penuh berkah ini. Di dalamnya ada pujian dan sanjungan Allâh terhadap Luqmân dengan sebab al-hikmah yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepadanya.

Ini tentu dapat menjadikan seorang hamba (semakin) bersemangat untuk mengenal al-hikmah, seperti apakah al-hikmah itu ?  Dan juga mendorong orang bersemangat untuk memiliki sifat tersebut.

Di antara makna al-hikmah yang disebutkan (oleh para Ulama) adalah sebagai berikut :

  1. al-Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat yang diiringi dengan amalan shaleh.
  2. al-Hikmah adalah meletakkan berbagai perkara sesuai pada tempatnya.
  3. al-Hikmah adalah ilmu, pemahaman, lurus dan (memiliki) cara pandang yang baik.

Dan masih ada makna-makna lain yang disebutkan oleh para Ulama.

Yang menjadi poin penting adalah al-hikmah tersebut memiliki kedudukan yang agung. Sudah sepantasnya setiap hamba bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkannya, serta menempuh segala cara yang disyariatkan dan segala jalan untuk mendapatkannya dan mengantarkannya dengan cara-cara dan jalan-jalan tersebut kepada hikmah yang dimaksud.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Diterjemahkan dari buku beliau yang berjudul ‘Fawaaidu Mustanbathah min Qishshati Luqman Al-Hakiim’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek Al-Haramain Asy-Syariifain, kota Haail, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufiiq.
[2]  Dia adalah seorang hamba yang soleh dan bukan seorang nabi. Tidak ada dalil di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Nabi. Al-Imam Al-Baghawi mengatakan di dalam tafsirnya bahwa hal tersebut adalah kesepakatan (para ulama). Beliau berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa dia adalah seorang yang hakiim (memiliki hikmah) dan bukan nabi. Kecuali ‘Ikrimah, beliau berkata, ‘Dia adalah seorang nabi.’ Akan tetapi, beliau menyendiri dalam pendapatnya tersebut.” (Ma’aalimut-Tanziil III/490)
[3] Lihat biografinya di ‘Al-Bidaayah wa An-Nihaayah (II/146-153).
[4] HR Muslim no. 2664.
[5] HR Al-Khathiib di ‘At-Tariikh’ (IX/127) dari hadiits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Syaikh Al-Albani meng-hasan-kan sanadnya di dalam Ash-Shahiihah no. 342.
[6] No. 2577.

50 Faidah dari Kisah Luqmân Al-Hakim(2)

50 FAIDAH DARI KISAH LUQMAN AL-HAKIM[1]

Oleh
Prof. Dr. ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbaad

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣ وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Dan (Ingatlah) ketika Luqmân berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku ! Janganlah kamu mempersekutukan Allâh ! Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh) adalah benar-benar kezaliman yang besar. 
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. [Luqmân/31:13-14]

Faidah Kesepuluh
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya cara menyampaikan pelajaran (al-wa’dzh) dalam mendidik dan mengajar. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ 

Dan (Ingatlah) ketika Luqmân berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya

Cara menyampaikan nasihat memiliki pengaruh besar dalam mendidik manusia dan para pemuda. al-Wa’dzh, sebagaimana dikatakan oleh para Ulama, (artinya penyampaian) ilmu yang diajarkan kepada manusia agar diraih dan diamalkan itu harus disertai dengan targhîb (motivasi) dan tarhîb (ancaman). Artinya, seorang da’i  (saat) menyebutkan perintah agar menusia melakukan kebaikan (maka ini harus) disertai dengan penyebutan hal-hal yang memotivasi manusia untuk melakukannya dan (saat) menyebutkan  larangan (maka ini harus) disertai dengan (penyebutan) hal-hal yang bisa menimbulkan rasa takut (untuk melaksanakannya). Jadi yang dinamakan dengan al-wa’dzh adalah memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan disertai dengan targhîb dan tarhîb.

at-Targhîb dilakukan dengan cara menyebutkan faidah-faidah, hasil-hasil dan pengaruh-pengaruh (baik) yang akan diraih oleh seorang apabila mengamalkan perintah tersebut. Adapun at-tarhîb dapat dilakukan dengan menyebutkan keburukan-keburukan dan bahaya-bahaya yang akan menimpa orang yang mengerjakan suatu yang terlarang.

Itulah yang dilakukan oleh Luqmân al-Hakîm, nasihat-nasihatnya berisi targhîb yang bermanfaat yang bisa memotivasi orang yang didakwahi agar bersedia melakukan apa yang didakwahkan dengan cara terbaik, dan juga berisi tarhîb yang dapat membentengi orang yang didakwahi dari mengerjakan dosa dan kesalahan.

Faidah Kesebelas
Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya perbuatan ramah dan besarnya pengaruh perbuatan ramah tersebut kepada orang yang mengambil ilmu dan belajar dengannya.

Ketika Anda ingin memberikan pelajaran dan memberikan nasihat kepada seseorang, sudah sepantasnya Anda berbuat ramah kepadanya. Sebutkanlah ungkapan-ungkapan yang lembut dan perkataan yang indah yang dapat memasukkan perkataan Anda ke dalam hatinya dan dapat membuka hatinya untuk menerima perkataan Anda.

Perhatikanlah Luqmân ketika beliau memberi pelajaran kepada anaknya, beliau mengungkapkan perkataan yang indah, menggunakan cara yang berpengaruh dan menyampaikan kata-kata yang masuk ke hati.

Lihatlah kelembutan perkataannya kepada anaknya ketika dia memberikan pelajaran, “Ya bunayya[2] (Wahai anak kecilku)!” Perkataan tersebut berulang-ulang disebutkan, karena perkataan tersebut memiliki arti penting di dalam hati sang Anak. Perkataan tersebut memiliki pengaruh pada diri anaknya dan sangat membantunya untuk mendengarkan pelajaran tersebut dengan baik, sehingga dia dapat benar-benar mengambil faidah dari pelajaran tersebut. Betapa besar pengaruh suatu perkataan apabila disampaikan dengan cara yang ramah.

Apabila pelajaran disampaikan dengan cara tidak ramah, seperti yang dikatakan oleh seseorang ketika dia menasihati atau melarang, “Ya walad[3] (Wahai anak)!” atau sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang ketika berbicara dengan anaknya atau ketika melarangnya untuk melakukan sesuatu, mereka memanggilnya dengan nama-nama hewan. Bagaimana mungkin hati orang yang dinasihati akan terbuka untuk menerima nasehat dengan cara yang dibenci ini. Tidak diragukan bahwa ini akan menutup pikiran dan menjadikannya tidak bersemangat (untuk menerimanya).

Ada perbedaan yang mencolok antara cara penyampaian tersebut dengan cara pemberi nasehat dengan cara ramah, penuh rasa cinta. Sebagaimana ucapan Luqmân kepada anaknya, “Ya Bunayya (Wahai anak kecilku)!”, (sebuah panggilan) dengan disertai kasih sayang, sifat kebapakan, lembut dan cinta, sehingga hati anaknya pun terbuka dan siap menerima nasehat.

Perhatikan juga perbuatan ramah yang baik yang terdapat dalam hadits Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu. Pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan berkata, “Ya Mu’âdz! Sesungguhnya aku menyayangimu.” Mu’âdz pun mengatakan, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah! Saya juga menyayangimu.” Beliau pun berkata, “Saya wasiatkan kepadamu ya Mu’âdz, setelah engkau shalat, janganlah pernah engkau tidak membaca :

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allâh ! Bantulah diriku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan dapat beribadah dengan baik[4]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai perkataannya dengan ramah dan lembut, sehingga Mu’âdz Radhiyallahu anhu dapat menerima faidah, terbukalah hatinya. Cara seperti ini harus digunakan ketika berdakwah menuju jalan Allâh Azza wa Jalla dan ketika mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Faidah Kedua Belas
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya memperhatikan prioritas dalam berdakwah menuju jalan Allâh Azza wa Jalla . Ini sudah sepantasnya diperhatikan oleh para orang tua, para pendidik dan para da’i, ketika ingin mengajak orang kepada kebaikan, maka mulailah dengan hal yang paling penting, kemudian yang penting, kemudian baru kepada yang kurang penting.

Begitu pula pada pendidikan anak-anak dan pengkaderan generasi-generasi muda. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menanamkan aqidah yang benar dan keimanan, setelah itu, kita lanjutkan dengan mengajarkan ibadah, adab dan akhlak. Oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu ke Yaman, beliau berkata kepadanya :

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى

Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab. Jadikanlah hal pertama yang engkau serukan kepada mereka agar mereka mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla [5]

Inilah yang dilakukan oleh Luqmân al-Hakîm ketika hendak berwasiat kepada anaknya dengan beberapa wasiat penuh manfaat yang perlu diwasiatkan dan didakwahkan. Beliau memulainya dengan berkata :

يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗ

Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allâh !

Karena beliau memperhatikan prioritas (dalam berdakwah).

Faidah Ketiga Belas
Sesungguhnya kesyirikan adalah dosa yang terbesar dan paling berbahaya. Syirik adalah larangan Allâh Azza wa Jalla yang paling besar. Kita mengetahui hal ini dengan (melihat) apa yang dilakukan oleh Luqmân al-Hakiim, beliau memulainya dengan memperingatkan hal yang paling berbahaya. Inilah jalan yang ditempuh oleh para pemberi nasihat ketika mereka melarang dari beberapa hal yang berbahaya. Mereka mulai dari hal yang paling berbahaya.

Oleh karena itu, Luqmân al-Hakîm melarang anaknya untuk berbuat syirik. Kalau diperhatikan dalam ayat-ayat yang penuh berkah ini, beliau melarang dari berbagai hal, seperti : sombong, menipu dan congkak; Akan tetapi, larangan yang pertama kali diucapkan adalah larangan untuk berbuat syirik kepada Allâh Azza wa Jalla . Ini menunjukkan bahwa kesyirikan adalah hal yang paling berbahaya dan yang paling besar keburukannya.

Faidah Keempat Belas
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya menanamkan pada anak-anak sejak dini prihal tauhid, ikhlas dan (kewajiban) menjauhi perbuatan syirik. Faidah ini juga didapatkan pada wasiat ini :

يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗ

Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allâh !

Anak-anak perlu diingatkan sejak dini akan bahaya syirik dan perlu diajak untuk bertauhid dan ikhlas. Apabila seorang anak diajarkan tauhid sejak dini, maka kelak -dengan izin Allâh – itu akan sangat manfaat baginya.

Oleh karena itu, di antara hikmah yang terkandung pada pemberian nama anak dengan nama ‘Abdullaah dan ‘Abdurrahmân, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

خَيْرُ الأَسْمَاءِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sebaik-baik nama adalah ‘Abdullâh dan ‘Abdurrahmân[6]

adalah agar anak tersebut tumbuh di atas tauhid, dan berkembang dalam keadaan dia mengetahui bahwa dia adalah hamba Allâh, bukan hamba hawa nafsu, bukan pula hamba dunia, bukan hamba setan dan bukan hamba untuk kepentingan-kepentingan dirinya sendiri. Tetapi, dia adalah hamba Allâh Azza wa Jalla .

Dia berkembang di atas landasan keimanan dan aqidah, yang merupakan pondasi agama, keyakinan dan kepercayaan. Agama tidak akan bisa berdiri dan berjalan lurus kecuali berlandaskan tauhid dan ikhlas kepada Allâh Azza wa Jalla .

Faidah Kelima Belas
Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman dan pelanggaran yang paling besar. Hal ini dapat kita petik dari firman Allâh Azza wa Jalla :

 ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ 

Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh ) adalah benar-benar kezaliman yang besar

Zhalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Adakah kezhaliman yang lebih besar daripada kezhaliman meletakkan peribadatan tidak pada tempatnya ? Bagaimana mungkin peribadatan diserahkan kepada makhluk yang lemah, penuh kekurangan, tidak mampu memberikan manfaat untuk dirinya dan juga tidak mengindarkan dirinya dari bahaya dan tidak bisa menghidupkan dan juga membangkitkan.

Dosa manakah yang lebih besar daripada dosa ini ? Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan manusia, tetapi ternyata manusia memalingkan ibadah kepada selain-Nya.  Allâh Azza wa Jalla telah memberinya rezeki, tetapi ternyata dia meminta rezeki kepada selain-Nya. Allâh telah menyembuhkannya, tetapi dia memohon kesembuhan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . Kezhaliman manakah yang lebih besar daripada kezhaliman ini?

Faidah Keenam Belas
Orang yang sedang belajar atau orang yang didakwahi perlu mengetahui buah atau hasil (yang akan dipetik) dari perintah-perintah (jika dilaksanakan) dan bahaya (yang akan menimpanya jika dia menerjang) larangan-larangan, agar dia memiliki kemampuan untuk menjalankannya.

Jika mereka ini diberitahu tentang suatu perintah, maka perlu juga disebutkan faidah dan hasil dari perintah tersebut. Jika mereka diingatkan tentang suatu larangan, maka peringatan ini perlu disertai dengan penyebutan kejelekan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang menerjang larangan-larangan ersebut.

Pelajaran ini dipetik dari kisah Luqmân al-Hakîm di beberapa tempat.

Faidah Ketujuh Belas
Pada ayat ini terdapat wasiat untuk berbakti, berbuat baik, berlaku mulia kepada kedua orang tua dan memperhatikan hak-hak mereka. Ini terdapat pada firman Allâh Azza wa Jalla :

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Oleh karena itu) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kamu kembali. [Luqmân/31:14]

Wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua memliki kedudukan yang sangat agung. Dan yang menjadi wasiat itu hanyalah hal-hal yang besar.Jika kita lihat, wasiat di sini berasal dari Rabb semesta alam Azza wa Jalla. Oleh karena itu, beberapa Ulama tafsir mengatakan bahwa perkataan :

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.

Yang disebutkan saat menceritakan wasiat Luqmân itu merupakan wasiat dari Allâh Azza wa Jalla agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Oleh karena itu dalam ayat ini terdapat beberapa faidah yang agung dan penuh dengan berkah yaitu wasiat tentang kedua orang tua agar kita mengenal hak-hak mereka, berbuat baik dan berbakti kepada keduanya serta memenuhi segala hak keduanya.

Faidah Kedelapan Belas
Sesungguhnya diantara yang paling bisa membangkitkan semangat untuk bakti kepada kedua orang tua adalah dengan mengingat keindahan masa lalu dan kebaikan yang tidak pernah putus. Ingatan seperti ini dapat membantu seseorang untuk berbakti (kepada kedua orang tuanya) sehingga dia terjauhkan dari sikap durhaka dan memutuskan hubungan kekeluargaan.

Perhatikanlah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.

Yaitu, ingatlah wahai anak manusia ! Apa yang telah terjadi pada diri ibumu, seperti: kasing sayangnya, saat-saat dia mengandung, menyusui dan mendidikmu ! Ingatlah ketika beliau hamil dan merasakan berbagai macam kesakitan dan kelelahan ! Saat engkau berada dalam rahim ibu dalam waktu yang tidak singkat, engkau adalah beban berat yang terus dibawa dalam perutnya selama sembilan bulan. Engkau menyebabkan dia merasakan kesulitan saat beliau hendak berdiri, duduk dan tidur.

Kemudian ingatlah, ketika ibumu melahirkanmu. ! Betapa berat penderitaan yang dirasakan oleh ibumu sampai engkau keluar menuju kehidupan ini.

Kemudian ingatlah ketika ibumu menyusuimu ! Ingatlah apa yang dirasakannya berupa kelelahan, rasa sakit dan penat dan kurang tidur.

Ini semuanya adalah kebaikan yang tidak sepantasnya terlupakan atau hilang dari ingatan.

Faidah Kesembilan Belas
Di antara yang juga dapat membantu untuk mewujudkan bakti (kepada kedua orang tua) adalah dengan mengingat tempat kembali kita disisi Allâh Azza wa Jalla . Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dia akan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla . Dia akan mendapatkan balasan perbuatan baik dan baktinya itu. Dengan demikian, dia akan semakin berbakti dan berbuat baik (kepada kedua orang tuanya).

Sedangkan orang yang durhaka (kepada kedua orang tuanya), maka dia akan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla dan akan mendapatkan hukuman akibat kedurhakaannya itu, sehingga dia akan merasa ngeri untuk berbuat durhaka kepada keduanya. Faidah ini dipetik dari firman-Nya :

اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Hanya kepada-Ku-lah kamu kembali

Faidah Kedua Puluh
(Di dalam ayat ini dijelaskan tentang) besarnya hak seorang ibu. Sesungguhnya ibu adalah manusia yang paling utama untuk mendapatkan bakti dari anaknya dan dia merupakan wanita yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari anaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dia berkata:

( يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: (أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (ثُمَّ أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (ثُمَّ أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَبُوكَ).

Ya Rasûlullâh, siapakah orang yang paling berhak untuk saya perlakukan dengan baik ?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Dia pun bertanya, ‘Kemudian siapa ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu’ Dia pun bertanya lagi, ‘Kemudian siapa ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu.’ Dia pun bertanya lagi, ‘Kemudian siapa ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’[7]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut ibu sebanyak tiga kali, karena dia adalah orang yang paling berhak dan paling utama untuk mendapatkan perlakuan yang baik. Ditambah lagi, kebaikan yang didapatkan oleh sang anak dari ibunya tidak akan ada yang bisa menyamainya atau bahkan mendekatinya.

Oleh karena itu, sebagian Ulama mengatakan, “Sesungguhnya pada ayat ini terdapat dalil dan pendukung terhadap perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya : Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu

Kenapa demikian ? Karena dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tiga tingkatan kebaikan yang diberikan oleh sang ibu kepada anaknya :

  • Pertama : kebaikannya sebagai seorang ibu  (وأُمُّهُ) 
  • Kedua    : Kebaikannya saat mengandung   (حَمَلَتْهُ) 
  • Ketiga    : Kebaikannya saat menyusui   (وَفِصَالُهُ) 

Inilah tiga tingkatan kebaikan yang berasal dari seorang ibu yang tidak bisa didapatkan (dari selainnya), tidak bisa didapatkan dari seorang ayah, juga dari semua orang yang pernah berbuat baik kepada anak tersebut.

Kondisi ini menuntut seorang anak agar berusaha membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan juga. Ini pulalah yang menyebabkan sang ibu menjadi orang yang paling berhak untuk menerima perlakukan yang baik.

Namun sangat disayangkan dan ini adalah musibah besar, kita dapati sebagian orang yang telah mendapatkan berbagai kebaikan yang tak pernah terputus dari sang ibu, namun ia memberikan bakti, kelemahlembutan dan perbuatan baiknya kepada orang-orang yang belum tentu pernah memberikan sepersepuluh dari kebaikan yang diberikan oleh sang ibu, akan tetapi, berbagai kebaikan kepada orang itu tidak berlaku sedikit pun kepada sang ibu. Kalaupun dia memberikan kebaikan kepada sang ibu, maka kebaikan itu hanya limpahan saja dan itu pun sedikit dan jarang.

Inikah cara membalas jasa dan kebaikan serta berterima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik ?

Oleh karena itu, durhaka kepada sang ibu termasuk dosa yang paling besar dan perbuatan yang paling hina. Bagaimana mungkin seseorang akan durhaka kepada ibunya, sedangkan ibunya adalah orang yang paling banyak memberikan kebaikan dan kedermawanan kepadanya ?!

Faidah Kedua Puluh Satu
Sesungguhnya apa yang pernah dirasakan oleh seorang ibu, berupa: kesusahan dan kelelahan ketika hamil dan melahirkan adalah hal yang tidak akan pernah bisa dibalas oleh si anak meskipun dia berusaha untuk berbakti dan bersungguh-sungguh (untuk membalasnya).

Faidah Kedua Puluh Dua
Sesungguhnya didampingkannya hak kedua orang tua dengan hak Allâh (pada ayat ini) menunjukkan betapa tinggi kedudukan hak mereka berdua. Hak mereka termasuk hak yang paling wajib untuk dipenuhi setelah hak Allâh Azza wa Jalla .

Penyebutan hak kedua orang yang didampingkan dengan hak Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’an banyak ditemukan.

Faidah Kedua Puluh Tiga
Sesungguhnya bersyukur kepada kedua orang tua dapat dilakukan dengan mencintai, mendo’akan, manyambung silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka berdua.

Faidah Kedua Puluh Empat
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) bahaya durhaka kepada kedua orang tua. Kedurhakaan tersebut termasuk dosa yang paling besar dan paling tercela.

Dalam Shahîhain dari hadits Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟) –ثَلاَثًا- قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ) -وَجَلَسَ ، وَكَانَ مُتَّكِئًا- فَقَالَ: (أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ) قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ.

‘Maukah kalian saya kabarkan tentang dosa-dosa besar yang paling besar?’ Para Sahabat pun berkata, ‘Ya.’ Beliau n sabda, “Berbuat syirik kepada Allâh, durhaka kepada orang tua.” Kemudian beliau pun duduk setelah tadinya berbaring, beliau mengatakan, “Ketahuilah, dan juga perkataan dusta.” Abu Bakrah mengatakan, “Beliau terus-menerus mengulang. [HR al-Bukhâri no. 2654 dan Muslim no. 87]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Diterjemahkan dari buku beliau yang berjudul ‘Fawâidu Mustanbathah min Qishshati Luqman al-Hakîm’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek al-Haramain Asy-Syariifain, kota Hâil, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufiiq.”
[2] (Yaitu panggilan yang sangat halus ketika memanggil seorang anak dalam bahasa Arab dari dulu sampai saat ini-Pent.)
[3] (Yaitu panggilan yang sangat kasar ketika memanggil seorang anak dalam bahasa Arab saat ini-Pent.)
[4] Diriwayatkan oleh Ahmad no. 22119, Abu Dawud no. 1522 dan an-Nasâi dalam al-Kubrâ no. 9937. Syaikh al-Albâni menshahîhkannya dalam Shahîhul Jâmi’ no. 7969.
[5] HR al-Bukhâri no. 1389 dan 6937 dan Muslim no. 19 dari hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallauh anhuma
[6] HR Ahmad no. 17606 dan al-Hâkim (IV/276), al-Hâkim menshahîhkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi rahimahullah. Lihat ash-Shahîhah no. 904.
[7] HR al-Bukhâri no. 5971 dan Muslim no. 2548 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

50 Faidah dari Kisah Luqman Al-Hakîm(3)

50 FAIDAH DARI KISAH LUQMAN AL-HAKIM[1]

Oleh
Prof. Dr. ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdil-Muhsin Al-‘Abbâd

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ١٦يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٧وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ١٨وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ  ١٩

  1. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembali kalian, maka Ku-beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.
  2. (Luqmân berkata), “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, di langit atau di dalam bumi, niscaya Allâh akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allâh Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
  3. “Hai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu! Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ).
  4. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
  5. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai [Luqmân/31:15-19]

Faidah Kedua Puluh Lima
(Pada kisah Luqmân terdapat penjelasan tentang) cara bermuamalah dengan ayah dan ibu jika keduanya orang musyrik atau fasiq. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla :

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik [Luqmân/31:15]

Keduanya tidak boleh ditaati, apabila mereka meminta anaknya untuk berbuat syirik atau melakukan perbuatan maksiat. Namun, pada saat yang bersamaan dia harus tetap memperlakukan mereka dengan baik.

Faidah Kedua Puluh Enam
(Pada kisah Luqmân terdapat penjelasan tentang) kesempurnaan syariat dalam seruannya untuk menjaga perbuatan baik dan akhlak mulia. Ini sangat jelas, meskipun sang ayah dan ibu seorang musyrik, kemudian mereka mengajak anaknya untuk berbuat syirik, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ

Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik

Perlakuan seperti ini diberikan kepada kedua orang tua yang musyrik. Lalu bagaimana dengan perlakuan (anak) kepada kedua orang tuanya yang beriman, tidak menyuruh anaknya kecuali kebaikan dan tidak pernah mengajak kecuali kepada ketakwaan dan kebaikan ? (Tentu perlakuan baik itu lebih diwajibkan lagi-red).

Faidah Kedua Puluh Tujuh
Tidak ada kewajiban taat (tidak boleh taat) kepada seorang makhluk pun dalam hal bermaksiat kepada al-Khâliq (Sang Pencipta). Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.

Faidah Kedua Puluh Delapan
Terkarang orang-orang sesat dan pengikut kebatilan itu bersungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk menyebarkan kebatilan dan menyerukan kesesatan mereka. Ini nampak jelas pada potongan ayat :

وَاِنْ جَاهَدٰكَ 

 Dan jika keduanya memaksamu.

Sebaliknya, terkadang sebagian orang-orang yang berada dalam haq atau kebenaran bermalas-malas dan bahkan terkadang merasa putus asa dalam mendakwahkan kebenaran yang mereka miliki.

Faidah Kedua Puluh Sembilan
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) perbedaan antara tidak taat dengan perbuatan durhaka. Sebagian orang mencampuradukkan dua hal ini lalu menganggapnya sama. Padahal yang benar, keduanya berbeda. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَلَا تُطِعْهُمَا

Maka janganlah kamu mengikuti (menaati) keduanya.

Allâh tidak berkata, “Durhakalah kepada keduanya!’

Faidah Ketiga Puluh
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) keutamaan para sahabat dan orang-orang terbaik umat ini. Ini bisa dipetik dari firman Allâh Azza wa Jalla :

وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ

 Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.

Apabila kita memperhatikan keadaan para sahabat dan orang-orang terbaik umat ini, kita akan dapati mereka adalah orang-orang yang selalu kembali kepada Allâh Azza wa Jalla .

Oleh karena itu, kita dapati sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya  “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” dengan  Abu Bakr. Sebagian lagi menafsirkannya dengan para sahabat. Semua penafsiran ini adalah penafsiran dengan menyebutkan sebagian saja dari yang termasuk di dalamnya atau menyebutkan yang paling utama saja.

Ini menunjukkan kepada kita keutamaan para sahabat dan orang-orang terbaik umat ini.Sudah sepantasnya, kita mengenal dan mengikuti jalan orang-orang terbaik dan bisa dijadikan suri tauladan itu, serta berhati-hati dari mengikuti jalan selain jalan kaum Mukminin.

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. [an-Nisâ’/4 : 115]

Faidah Ketiga Puluh Satu
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya memilih teman. Seorang Mukmin tidaklah pantas untuk berteman dengan semua yang dia inginkan. Betapa banyak keburukan yang menimpa seseorang akibat teman dekatnya.  Seorang Mukmin dituntut untuk tidak berteman dengan semua orang. Dia hanya bergaul dengan orang baik, memiliki keutamaan dan kecerdasan. Ini terpahami dari firman Allâh Azza wa Jalla :

وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ

Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.

Faidah Ketiga Puluh Dua
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) keutamaan inâbah (kembali atau taubat) kepada Allâh Azza wa Jalla dan kedudukan orang-orang yang melakukannya. Ini tampak pada firman Allâh Azza wa Jalla :

وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ

Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku

Allâh menjadikan jalan orang-orang yang kembali kepada-Nya itu sebagai jalan yang (harus) diikuti.

Inâbah (kembali) kepada Allâh mencakup empat hal, yaitu: cinta, tunduk, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya.

Ibnul-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak berhak dikatakan al-munîb (orang yang kembali), kecuali setelah terkumpul padanya empat hal ini. Penafsiran para salaf untuk lafaz ini tidak lepas dari makna-makna tersebut.”[2]

Faidah Ketiga Puluh Tiga
Sesungguhnya semua amalan para hamba itu tercatat dan mereka akan mengetahuinya di hari kiamat.

ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Kemudian hanya kepada-Kulah kembali kalian, maka Ku-beritakan kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan

Faidah Ketiga Puluh Empat
Sesungguhnya kesyirikan itu tidak ada dalil yang mendukungnya dan para pelakunya tidak memiliki hujjah dalam perbuatan syirik mereka. Faidah ini diambil dari firman Allâh :

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ 

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu.

Ini serupa dengan  firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَنْ يَّدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهٗ بِهٖۙ 

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allâh , padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu.” [al-Mu’minûn/23: 117]

Kesyirikan seperti apapun jenis dan sifatnya, maka tidak ada dalil atau hujjah untuknya. Inilah sifat yang melekat pada perbuatan syirik, pada setiap keadaan dan dalam semua bentuknya.

Faidah Ketiga Puluh Lima
(Pada ayat ini terdapat penjelasan) bahwa dalam mendakwahi atau mengajak manusia menuju kebaikan dan dalam melarang manusia perbuatan buruk perlu ada penekanan dan pengulangan agar kembali kepada Allâh juga pentingnya mengingatkan manusia agar menyadari bahwa Allâh akan membalas semua yang mereka lakukan dalam kehidupan ini. Seyogyanya, para dâ’i memperhatikan hal ini ketika berdakwah.

Karena pentingnya penekanan ini, maka dalam kisah Luqmân terdapat pengulangan (sebanyak dua kali), yaitu pada firman Allâh Azza wa Jalla : (إَلَيَّ الْمَصِيْرُ)

“Kepada-Kulah tempat kembali (kalian).”

Dan firman-Nya setelah itu: { إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ }

(Kepada-Kulah kembali kalian)

Perkara ini perlu diulang berkali-kali, supaya benar-benar tertanam dalam pikiran manusia, bahwa mereka akan menghadap Allâh Azza wa Jalla dan Allâh Azza wa Jalla akan membalas amalan-amalan yang telah mereka kerjakan di kehidupan ini. Ini penting agar mereka benar-benar melakukan persiapannya dan siap menghadapi yaumul-ma’âd.

Faidah Ketiga Puluh Enam
(Pada ayat selanjutnya terdapat penjelasan tentang) ilmu atau pengetahuan Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla , baik yang berada di bumi maupun yang ada di langit. (Allâh Azza wa Jalla berfirman) :

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

 (Luqmân berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, di langit atau di dalam bumi, niscaya Allâh akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allâh Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Luqmân/31:16]

Faidah Ketiga Puluh Tujuh
(Pada ayat di atas terdapat penjelasan tentang) pengaruh keimanan kepada nama-nama Allâh dan sifat-sifat-Nya terhadap keshalehan hamba dan kesucian amalan-amalannya. Seorang hamba yang lebih mengenal Rabb-nya, maka dia akan semakin giat beribadah dan semakin jauh dari perbuatan maksiat. Dan Luqmân mengulang-ulang penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Faidah Ketiga Puluh Delapan
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) pentingnya mendidik anak agar merasa selalu diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla . Apabila kita mengatakan kepada anak, “Janganlah kamu lakukan ini!”, maka janganlah kita jadikan dirinya merasa diawasi oleh kita. Tetapi arahkanlah, agar dia merasa selalu diawasi oleh Allâh dalam amalan-amalannya. Misalnya, kita mengatakan, “Wahai anakku ! Shalat-lah dan jauhilah perbuatan haram! Sesungguhnya Allâh melihat dan mengawasimu. Tidak ada satu pun perbuatanmu yang tidak diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla . Wahai anakku, seandainya engkau melakukan kesalahan kecil, dan kesalahan ini berada dalam batu yang bisu, di langit atau di dasar bumi yang terdalam, maka Allâh akan mendatangkan balasannya di hari kiamat. Hati-hatilah wahai anakku! Hendaklah kamu merasalah selalu dalam pengawasan Allâh Azza wa Jalla .”

Betapa besar manfaat ucapan ini dalam mendidik anak-anak.

Faidah Ketiga Puluh Sembilan
Sesungguhnnya timbangan di hari kiamat menggunakan timbangan yang dapat mengukur berat dzarrah (atom/bagian terkecil dari benda).

(Allâh Azza wa Jalla berfirman) :

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ  ٨  

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula  [az-Zalzalah/99:7-8]

Ini dipetik dari firman Allâh Azza wa Jalla :

اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ

Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi.”

Faidah Keempat Puluh
Sesungguhnya kezhaliman tidak akan lenyap meskipun hanya sedikit. Setiap kezhaliman akan didatangkan balasannya di hari kiamat, meskipun perkara yang sedikit dan yang remeh. Oleh karena itu, sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla :

اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ

Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi

dengan kezhaliman meskipun kecil sekali, maka Allâh Azza wa Jalla akan mendatangkan balasannya.

Faidah Keempat Puluh Satu
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) iman kepada dua nama Allâh , yaitu: al-Lathîf dan al-Khabîr. Kedua nama ini berulang kali digabungkan dalam beberapa ayat al-Qur’ân al-Karîm.

Nama al-Khabîr , kandungan maknanya kembali kepada ilmu atau pengetahuan terhadap hal-hal samar atau tersembunyi, yang paling halus dan sangat kecil serta sangat tersembunyi. Tentunya, untuk hal-hal yang lebih terlihat dan lebih jelas pasti Allâh lebih mengetahuinya.

Adapun nama al-Lathîf, dia memiliki dua makna:

  • Pertama, semakna dengan al-Khabîr.
  • Kedua, artinya Yang memberikan kemaslahatan dan kebaikan kepada para hamba dan  para wali-Nya dengan jalan-jalan yang tidak mereka rasakan.

Faidah Keempat Puluh Dua
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) tingginya kedudukan shalat dan urgensi mengerjakannya, dan (perlunya) mendidik anak kecil agar menjaga shalat.

Shalat termasuk kewajiban yang paling agung dan fardhu yang paling besar yang diwajibkan oleh Allâh kepada para hamba-Nya.

Shalat adalah tiang agama dan rukun terpenting setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Shalat adalah penghubung antara hamba dan Rabb-nya. Shalat adalah amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Apabila shalat-nya bagus, maka seluruh amalannya bagus. Apabila shalat-nya buruk, maka seluruh amalannya menjadi buruk.

Shalat adalah pembeda antara seorang Muslim dengan kafir. Mendirikan shalat adalah tanda keimanan, sedangkan meninggalkannya adalah perbuatan kufur dan melampaui batas.

Tidak dianggap beragama (Islam) orang yang tidak mengerjakan shalat. Dan tidak ada bagian sedikitpun dalam Islam untuk orang yang meninggalkan shalat.

Barangsiapa menjaga shalatnya, maka dia akan memiliki cahaya di hati, wajah, kuburnya dan di hari hasyr (dikumpulkannya semua manusia). Dia akan mendapatkan keselamatan di hari kiamat dan dikumpulkan bersama orang-orang yang diberi kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, para shiddîq (orang yang sangat membenarkan), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Barangsiapa tidak menjaganya, maka dia tidak akan memiliki cahaya, petunjuk dan keselamatan di hari kiamat. Dan dia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Hâmân, Qârûn dan Ubay bin Khalaf. Wal-‘iyâdzu billâh.

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ 

Hai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu! Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ). [Luqmân/31: 17]

Faidah Keempat Puluh Tiga
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang upaya) melatih anak-anak untuk ber-amr bil-ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan ber-nahy ‘anil-munkar (melarang dari kemungkaran) sejak kecil. Ini akan bermanfaat untuk mereka dan juga orang lain. Karena seorang anak, jika sejak kecil tumbuh sebagai seorang dâ’i (juru dakwah) yang mengajak kepada kebaikan, maka dia sendiri akan mendapatkan manfaatnya, begitu juga orang lain. Faidah yang akan dipetik si anak dari dakwahnya yaitu dia akan terbentengi dari ajakan orang lain untuk melakukan kemungkaran. Orang dahulu mengatakan, “Jika engkau tidak mendakwahi (orang lain), maka kamulah yang akan didakwahi.”

Apabila seorang anak sudah menjadi seorang  dâ’i menuju kepada kebaikan, maka ini sekaligus menjadi perisai dirinya dari para dâ’i yang mengajak kepada keburukan. Karena orang-orang yang mengajak kepada keburukan itu menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menaklukkan para da’i yang bersungguh-sungguh mengajak manusia kepada kebaikan.

Sedangkan manfaat yang dirasakan oleh lain yaitu mereka mungkin bisa mendapatkan petunjuk karenanya dan tentu akan menambah timbangan kebaikannya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Seandainya Allâh memberi petunjuk kepada seseorang karena usahamu, maka itu lebih baik bagimu, daripada engkau memiliki onta merah.”[3]

Faidah Keempat Puluh Empat
(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) wasiat untuk bersabar, terutama untuk para dâ’i (juru dakwah) ilallâh dan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Posisi mereka yang seperti itu membutuhkan kesabaran yang besar.

وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ 

Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu! Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh )  [Luqmân/31: 17]

Faidah Keempat Puluh Lima
Sesungguhnya tidak ada yang tergerak hatinya untuk mengerjakan hal-hal yang wajib kecuali orang-orang yang berjiwa besar.

Faidah Keempat Puluh Enam

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

 Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. [Luqmân /31: 18]

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) larangan bangga dan sombong. Tentang firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ 

Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ibnu Katsir mengatakan, “Mukhtâl artinya kagum terhadap diri sendiri, sedangkan fakhûr artinya kagum terhadap diri dan  merasa lebih dari orang lain.”[4]

Faidah Keempat Puluh Tujuh

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ

 Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [Luqmân/31: 19]

(Pada ayat ini terdapat penjelasan tentang) dakwah agar bersikap pertengahan dan lurus.

Faidah Keempat Puluh Delapan
(Pada ayat kedelapan belas terdapat) penetapan adanya sifat mahabbah (cinta) untuk Allâh . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ 

Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Faidah Keempat Puluh Sembilan
Islam menyerukan untuk berakhlak mulia dan melarang dari akhlak yang buruk dan tercela.

Faidah Kelima Puluh
Pentingnya membuat permisalan ketika mengajar. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ

Lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. [Luqmân/31: 19]

Firman Allâh Azza wa Jalla di atas mengandung permisalan yang sangat tinggi. Seandainya meninggikan suara pada hal-hal yang tidak diperlukan itu mengandung faidah, tentulah suara keras dan terburuk itu tidak dikhususkan pada hewan yang terkenal buruk dan bodoh. (Namun karena tidak ada faidahnya dan tidak disukai manusia, maka disamakan dengan suara keledai yang merupakan suara terburuk dan tidak disukai manusia-red)

Ini adalah sebagian faidah yang bisa dipetik dari beberapa ayat yang penuh berkah ini. Ringkas kata, sesungguhnya wasiat-wasiat yang disampaikan Luqmân kepada anaknya mengandung beberapa induk hikmah, dan masing-masing manarik hikmah lain yang belum disebutkan.

Setiap wasiat disertai dengan sesuatu yang bisa memotivasi untuk melakukannya, jika wasiat itu berisi perintah; Serta bisa memotivasi untuk meninggalkannya, jika wasiat itu berupa larangan.

Ini semua menunjukkan atas apa-apa yang telah kami sebutkan ketika menafsirkan arti ‘hikmah’. Sesungguhnya dia adalah ilmu tentang hukum, hikmah-hikmah dan keselarasannya.

  1. Beliau memerintahkan anaknya untuk menjaga pondasi agama yaitu tauhid dan melarangnya dari perbuatan syirik dan beliau menjelaskan tentang kenapa syirik harus ditinggalkan.
  2. Beliau rahimahullah juga memerintahkan anaknya agar berbakti kepada kedua orang tua dan menjelaskan sebab-sebab yang mengharuskannya untuk berbakti. Beliau juga memerintahkan anaknya untuk bersyukur kepada Allâh dan bersyukur kepada kedua orang tuanya. Kemudian beliau menyebutkan batasan kewajiban taat kepada kedua orang tua yaitu selama mereka tidak menyuruh untuk melakukan perbuatan maksiat. Meskipun demikian, sang anak tetap tidak boleh durhaka kepada mereka, tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka berdua, meskipun sang anak tidak mematuhi mereka jika mereka memaksa untuk berbuat syirik.
  3. Beliau memerintahkan anaknya agar terus merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla dan menakut-nakutinya dengan mengingatkannya tentang saat harus menghadap-Nya, karena tidak perbuatan baik atau buruk, kecil atau besar yang tertinggal, semuanya akan Allâh datangkan balasannya.
  4. Beliau melarang anaknya untuk berlaku sombong dan memerintahkannya untuk ber-tawâdhu’ (rendah hati). Beliau melarangnya dari perbuatan angkuh, congkak dan sombong.
  5. Beliau memerintahkan anaknya untuk tenang dalam bergerak dan bersuara serta melarangnya untuk melakukan sebaliknya.
  6. Beliau memerintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, mengerjakan shalat dan bersabar, yang keduanya menyebabkan segala perkara menjadi mudah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Sungguh, orang yang mewasiatkan wasiat-wasiat ini adalah orang yang diberi kekhususan dalam hikmah dan beliau terkenal dengan hikmah tersebut. Oleh karena itu, di antara karunia Allâh Azza wa Jalla kepada seluruh hambanya, Allâh menceritakan kepada mereka sebagian hikmah Luqmân, sehingga hal ini menjadi teladan yang baik untuk mereka.[5]

Saya memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan semua semua nama-Nya yang maha indah dan semua sifat-Nya yang maha tinggi agar agar Allâh Azza wa Jalla memberikan manfaat dengan ilmu yang telah Allâh Azza wa Jalla ajarkan kepada kita. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan apa yang telah kita pelajari sebagai penolong untuk kita dan justru bukan menjadi pencelaka kita. Dan mudah-mudahan Allâh memberikan anugerah kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh.

Saya memohon kepada Allâh agar membalas Luqmân Al-Hakîm sebaik-baik balasan dan memberikan  maghfirah buat kita dan dia, begitu pula kaum Muslimin dan Muslimat, kaum Mukminin dan Mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.

Wallâhu ta’âla a’lam washallallâhu wa sallama ‘alâ nabiyyinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihî ajma’în.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari buku beliau ‘Fawâidu Mustanbathah min Qishshati Luqmân al-Hakîm’ oleh Abu Ahmad Said Yai. Di akhir buku ini beliau berkata, “Asal dari tulisan ini adalah sebuah ceramah yang saya sampaikan di Komplek al-Haramain asy-Syarîfain, kota Hâil, pada hari Rabu, tanggal 28 Muharram 1426 H. Ceramah ini kemudian diketik dari kaset dan saya lakukan sedikit pengeditan. Saya lebih memilih penulisannya tetap seperti ceramah tersebut. Hanya Allah-lah yang memberi taufîq.”
[2] Madârijus-Sâlikîn I/434.
[3] HR al-Bukhâri no. 3009, 3701 dan 4210 dari hadîts Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu .
[4] Tafsîr Ibni Katsîr (VI/339).
[5] Tafsîr Ibni Sa’di hlm. 762.

Tafsir Surat al Qari’ah

TAFSIR SURAT AL-QARIA’AH

Oleh
Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman Lc

اَلْقَارِعَةُۙ ١ مَا الْقَارِعَةُ ۚ ٢ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ ٣ يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ ٤ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ ٥ فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ ٦ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ ٧ وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ ٨ فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ ٩ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ ١٠ نَارٌ حَامِيَةٌ
 

  1. Hari Kiamat.
  2. Apakah hari Kiamat itu?
  3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
  4. Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran.
  5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
  6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
  7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
  9. maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.
  10. Tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?
  11. (Yaitu) api yang sangat panas.

Surat yang mulia ini adalah makkiyah, dan ayat-ayatnya berjumlah sebelas ayat.[1]

Pada ayat yang pertama sampai ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengulang-ulang kata al Qari’ah (القَارِعَةُ). Diawali dengan kalimat pernyataan atau berita, kemudian dilanjutkan dengan dua kali kalimat pertanyaan. Sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama, hal ini merupakan pengagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap betapa besar dan dahsyatnya hari Kiamat, yang membinasakan dan menghancurkan segala sesuatu.[2]

Banyak penjelasan para ulama terhadap penafsiran makna al Qari’ah (القَارِعَةُ), yang seluruhnya kembali kepada satu makna, yaitu as-Sa’ah (hari Kiamat).[3] Secara lebih luas, Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim t mengatakan:

Telah berlalu penjelasan Syaikh[4] -semoga Allah merahmati kami dan beliau- pada awal surat al Waqi’ah (الوَاقِعَة),[5] bahwa (al Waqi’ah) bermakna seperti ath Thammah (الطَّامَّة),[6] ash Shakh-khah (الصَّاخَّة),[7] al Azifah (الآزِفَة),[8] dan al Qari’ah (القَارِعَةُ)[9]… dan telah diketahui bahwa sesuatu apabila besar (dahsyat) keadaannya, ia memiliki banyak nama.

Atau sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu anhu (ia berkata), banyaknya nama (pada sesuatu) menunjukkan agungnya perkara tersebut. Juga telah diketahui, bahwa nama-nama tersebut bukanlah sinonim, karena sesungguhnya setiap nama memiliki makna tersendiri. Hari Kiamat dinamakan al Waqi’ah (الوَاقِعَة), karena hari itu pasti kejadiannya. Juga dinamakan al Haqqah (الحَاقَّة)[10] karena hari itu nyata dan benar adanya. Juga dinamakan ath Thammah (الطَّامَّة), karena bencana, malapetaka dan kehancuran pada hari itu sangat umum dan menyeluruh. Juga dinamakan al Azifah (الآزِفَة), karena kejadian hari itu sudah dekat, (hal ini) seperti iqtarabatis sa’ah (اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ).[11] Demikian pula surat ini (al Qari’ah, pen)… Dan lafazh al Qari’ah (القَارِعَةُ), berasal dari al Qar’u (القَرْعُ) yang bermakna adh Dharb (الضَّرْبُ), yakni pukulan. (Sehingga, penamaan hari Kiamat dengan nama ini) sesuai dengan penjelasan pada ayat berikutnya yang menerangkan, bahwa hari itu melemahkan seluruh kekuatan manusia, hingga manusia bagaikan kupu-kupu yang bertebaran, juga melumpuhkan kekuatan gunung-gunung, hingga gunung-gunung itu bagaikan bulu yang berhamburan.[12]

Dari penjelasan di atas, menjadi jelaslah bahwa makna al Qari’ah (القَارِعَةُ) adalah hari Kiamat, yang pada saat itu terjadi kehancuran, bencana, dan malapetaka yang amat besar. Makna ini, seperti ditunjukkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا تُصِيْبُهُمْ بِمَا صَنَعُوْا قَارِعَةٌ

… dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri…  [ar-Ra’d/13:31].

Pada ayat keempat surat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ ٤

(Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran).

Terdapat tiga pendapat di kalangan ulama dalam menafsirkan makna al Farasy (الفَرَاش) pada ayat ini.

Pertama, maknanya ialah belalang-belalang kecil yang beterbangan dan saling bercampur-baur antara satu dengan lainnya.[13] Makna ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

كَاَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌۙ

…seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. [al-Qamar/54:7].

Kedua, maknanya ialah sejenis burung kecil atau serangga kecil, bukan nyamuk dan bukan pula lalat.[14]

Ketiga, maknanya ialah sesuatu yang berjatuhan dan bertebaran di sekitar api,[15] baik berupa nyamuk ataupun serangga-serangga kecil lainnya.[16]

Terdapat sebuah hadits shahih yang menunjukkan makna yang ketiga ini. Yaitu hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma , beliau berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَثَلِيْ وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَاراً، فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيْهَا، وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُوْنَ مِنْ يَدِيْ)).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah belalang-belalang dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku”.[17]

Pada ayat kelima, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ ٥

(Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan).

Sebagian besar ulama menafsirkan lafazh al ‘Ihn (العِهْن) dengan makna ash Shuf (الصُّوْف). Yaitu bulu atau kapas.[18]

Berdasarkan penjelasan ayat keempat dan kelima di atas, dapat kita pahami, salah satu kejadian yang dahsyat pada hari Kiamat adalah berubahnya keadaan manusia, sehingga ia bagaikan kupu-kupu atau belalang yang beterbangan, bertebaran dengan bercampur-baur dan tidak tentu arahnya. Demikian pula dengan gunung-gunung yang sebelumnya berdiri tegak dan kokoh, maka pada hari itu, gunung-gunung bagaikan bulu berhamburan. Seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kuat dan kokoh, pada saat itu kehilangan seluruh kekuatannya, karena demikian dahsyatnya hari Kiamat.[19]

Bentuk lain dahsyatnya hari Kiamat, disebutkan pula dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat al Hajj/22 ayat 1-2:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ ١ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu! Sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).  (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.

Hari Kiamat itu, juga merendahkan satu golongan dan meninggikan yang lainnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ 

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).  [al Waqi’ah/56:3].

Pada hari itu, membuat seluruh manusia teringat segala yang pernah dilakukannya selama hidupnya di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  :

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ 

Pada hri (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. [an-Nazi’at/79:35].

Pada hari itu, seluruh manusia sibuk dengan urusannya, sampai-sampai ada yang lupa terhadap sanak familinya. Di antara manusia ada yang senang dan berseri-seri dengan sebab amal shalih yang mereka lakukan saat di dunia, yang akhirnya mengantarkannya ke surga. Tetapi sebagian lagi berwajah muram dan bersedih, disebabkan oleh amal-amal buruk yang telah mereka lakukan. Manusia pun mengetahui tempat mereka tinggal nantinya.[20]

Ditunjukkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat ‘Abasa/80 ayat 34-42:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ ٣٨ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ ٣٩  وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ ٤٠ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ ٤١ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,  dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.  Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria.  Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,  dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

Demikianlah keadaan manusia pada hari Kiamat.

Adapun keadaan gunung-gunung secara khusus pada hari itu, sebagaimana dijelaskan para ulama,[21] mula-mulanya gunung-gunung digerakkan dan dipindahkan dari tempatnya, kemudian benar-benar diluluhlantahkan bagaikan bulu-bulu yang bertebaran, sebagaimana diterangkan pada ayat lima surat al Waqi’ah ini, hingga akhirnya gunung-gnung itu menjadi debu yang bertebaran dan bahkan menjadi fatamorgana.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۗ

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan, … [an-Naml/27:88].

يَوْمَ تَرْجُفُ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيْبًا مَّهِيْلًا

Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan. [al Muzzammil/73:14].

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ

Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia. [an Naba`/78:20].

Maka, sudah seharusnya kita senantiasa bertakwa dan takut kepada Allah Azza wa Jalla, Yang Maha Perkasa dan Berkuasa atas segala sesuatu.

Pada ayat keenam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ ٦

(Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya).

Ayat ini menunjukkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berkaitan dengan rukun iman kelima. Bahwa salah satu perwujudan beriman kepada hari akhir adalah meyakini adanya mizan (timbangan) pada hari Kiamat kelak. Barangsiapa yang berat amalan kebaikannya, maka akan mendapatkan kehidupan yang baik, dan demikian sebaliknya.[22]

Di antara dalil lainnya dari al Qur`an yang menunjukkan adanya mizan (timbangan) pada hari Akhir, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔاۗ وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفٰى بِنَا حٰسِبِيْنَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [al Anbiya`/21:47].

Begitu pula banyak hadits shahih yang menunjukkan adanya mizan (timbangan) pada hari Akhir, sebagaimana hadits-hadits berikut ini.

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحْانَ اللهِ الْعَظِيْمِ)).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ada) dua perkataan yang ringan, (namun) berat dalam mizan (timbangan) dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Subhanahu wa Ta’ala ), (yaitu) Subhanallahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya), Subhanallahil ‘Azhim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)”.[23]

Hadits Abu ad Darda’ Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

((مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ)).

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam mizan (timbangan) dari akhlak yang baik.[24]

Pada ayat ketujuh, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ ٧

(Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan).

Para ulama menjelaskan, yang dimaksud dengan kehidupan yang memuaskan adalah kehidupan di surga[25]

Banyak ayat yang menerangkan kehidupan yang penuh kenikmatan bagi para penghuni surga, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al Insan/76 ayat 10-22, yang artinya: Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (berupa) surga dan (pakaian) sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu, mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe, (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.  Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan.  Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih.  Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).

Dan masih banyak ayat lain yang menerangkan beragam kenikmatan yang diperoleh para penghuni surga. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk para penghuni surga-Nya. Amin.

Kemudian, pada ayat kedelapan sampai ayat terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ ٨ فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ ٩ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ ١٠ نَارٌ حَامِيَةٌ

Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?  (Yaitu) api yang sangat panas.

Terdapat tiga penafsiran di kalangan para ulama terhadap makna ayat kesembilan (فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ).

  • Pertama, maknanya adalah, ia jatuh dan masuk ke dalam neraka dengan ujung kepalanya lebih dahulu.[26]
  • Kedua, ayat tersebut merupakan ungkapan dalam bahasa Arab, dilontarkan bagi orang yang terjatuh ke dalam permasalahan yang berat dan menyulitkan.[27]
  • Ketiga, maknanya, tempat tinggal dan kembalinya adalah neraka.[28] Sehingga, menurut penafsiran yang ketiga ini, hawiyah (هَاوِيَة) merupakan salah satu dari nama-nama neraka.[29] Adapun sebab penamaan neraka ini dengan ummuhu (أُمُّهُ), yakni ibunya, karena neraka tersebut sebagai satu-satunya tempat kembalinya. Seolah-olah neraka tersebut adalah ibunya yang merupakan tempat kembalinya seorang anak.[30]

Tiga penafsiran para ulama di atas tidaklah saling bertentangan, bahkan saling mendukung dan menjelaskan makna lainnya.[31] Terdapat sebuah hadits mauquf[32] yang menunjukkan tentang tiga penafsiran di atas, yaitu hadits Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu anhu, beliau berkata :

إِذَا قُبِضَتْ نَفْسُ الْعَبْدِ، تَلَقَّاهُ أَهْلُ الرَّحْمَةِ مِنْ عِبَادِ اللهِ كَمَا يَلْقَوْنَ الْبَشِيْرَ فِي الدُّنْيَا، فَيُقْبِلُوْنَ عَلَيْهِ لِيَسْأَلُوْهُ، فَيَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: أَنْظِرُوا أَخَاكُمْ حَتَّى يَسْتَرِيْحَ، فَإِنَّهُ كَانَ فِي كَرْبٍ، فَيُقْبِلُوْنَ عَلَيْهِ فَيَسْأَلُوْنَهُ: مَا فَعَلَ فُلاَنٌ؟ مَا فَعَلَتْ فُلاَنَةٌ؟ هَلْ تَزَوَّجَتْ؟ فَإِذَا سَأَلُوا عَنِ الرَّجُلِ قَدْ مَاتَ قَبْلَهُ، قَالَ لَهُمْ: إِنَّهُ قَدْ هَلَكَ، فَيَقُوْلُوْنَ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، ذَهَبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ، فَبِئْسَتِ الأُمُّ، وَبِئْسَتِ الْمُرَبِّيَةُ، قَالَ: فَيُعْرَضُ عَلَيْهِمْ أَعْمَالُهُمْ، فَإِذَا رَأَوْا حَسَناً فَرِحُوْا وَاسْتَبْشَرُوْا وَقَالُوْا: هَذِهِ نِعْمَتُكَ عَلَى عَبْدِكَ، فَأَتِمَّهَا، وَإِنْ رَأَوْا سُوْءاً، قَالُوْا: اَللَّهُمَّ رَاجِعْ بِعَبْدِكَ.

Apabila seorang hamba telah mati, ahlurrahmah (hamba-hamba Allah yang penuh kasih sayang) menemuinya seperti orang-orang di dunia menemui pembawa berita gembira. Mereka menghampirinya untuk menanyainya. Lalu sebagian mereka berkata, “Tunggulah saudara kalian ini, biarkan ia beristirahat, karena ia masih lelah”. Lalu mereka pun menghampirinya dan bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si Fulanah? Apakah ia sudah menikah?”. Lalu tiba-tiba mereka bertanya tentang seseorang yang telah mati sebelumnya, ia menjawab, “Ia telah binasa”. Mereka berkata, “Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya), ia telah kembali kepada ibunya (neraka), sungguh itu seburuk-buruk ibu dan seburuk-buruk pendidik”. Lalu ditunjukkanlah seluruh perbuatan mereka. Jika mereka melihat amal mereka baik, mereka gembira dan senang, lantas berkata, “Inilah kenikmatan-Mu atas hamba-Mu, maka sempurnakanlah”. Dan jika mereka melihat amal mereka buruk, mereka berkata, “Ya Allah, lihatlah (periksalah) kembali hamba-Mu”.[33]

Ayat terakhir (kesebelas) surat yang agung ini, diterangkan oleh para ulama, juga merupakan penafsiran dari lafazh hawiyah (هَاوِيَة) pada ayat sebelumnya.[34] Ada beberapa hadits shahih yang maknanya berkaitan erat dengan ayat terakhir ini, di antaranya sebagai berikut.

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِيْ يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءاً مِن حَرِّ جَهَنَّم))، قَالُوْا: وَاللهِ، إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: ((فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّيْنَ جُزْءاً، كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا)).

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Api kalian ini, yang dinyalakan manusia hanyalah sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahannam”. Mereka berkata: “Demi Allah, api ini sudah cukup (panas), wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda,“Sesungguhnya api neraka Jahannam lebih (panas) sebanyak enam puluh sembilan kali (dari api di dunia). Tiap-tiap bagiannya sama panasnya”.[35]

Hadits an Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ((إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوْضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ، يَغْلِيْ مِنْهُمَا دِمَاغُهُ)).

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya adzab penghuni neraka yang paling ringan pada hari Kiamat adalah, seseorang diletakkan dua buah bara di tengah-tengah kedua telapak kakinya, (lalu) mendidihlah otaknya”.[36]

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

ِإنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوْا بِالصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ)).

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Apabila panas menyengat, maka segeralah shalat di awal waktunya, karena sesungguhnya panas yang menyengat berasal dari hawa Jahannam”.[37]

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melindungi dan menjauhkan kita dari segala hal yang dapat mengantarkan kepada panasnya api neraka Jahannam.

Demikianlah tafsir surat al Qari’ah, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menambah iman, ilmu dan amal shalih kita. Wallahu A’lam bish-Shawab.

Maraji’ & Mashadir:

  1. Shahih al Bukhari, al Imam al Bukhari tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Daar Ibni Katsir, al Yamamah, Beirut, cet III, th 1407 H/1987 M.
  2. Shahih Muslim, al Imam Muslim tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut.
  3. Sunan Abi Daud, al Imam Abu Daud tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Daar al Fikr.
  4. Jami’ at Tirmidzi, al Imam tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dkk, Daar Ihya at Turats, Beirut.
  5. Musnad al Imam Ahmad, al Imam Ahmad Mu’assasah Qurthubah, Mesir.
  6. Tafsir ath Thabari (Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil- Qur`an), Abu Ja’far Thabari tahqiq Mahmud Syakir, Daar Ihya at Turats, Beirut, Cet. I, Th. 1421 H/ 2001 M.
  7. Tafsir al Qurthubi (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an), al Imam al Qurthubi, tahqiq Abdur Razzaq al Mahdi, Daar al Kitab al ‘Arabi, Cet. II, Th. 1421 H/1999 M.
  8. Zaad al Masir, al Imam Ibnul Jauzi al Maktab al Islami, Beirut, Cet. III, Th. 1404 H/ 1984 M.
  9. Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim), al Imam Ibnu Katsir (700-774 H), tahqiq Sami bin Muhammad as Salamah, Daar ath Thayibah, Riyadh, cet I, th 1422 H/2002 M.
  10. Taisir al Karim ar Rahman fi Tafsiri Kalami al Mannan, Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, tahqiq Abdurrahman bin Mu’alla al Luwaihiq, Daar as Salam, Riyadh, KSA, cet I, th 1422 H/2001 M.
  11. Adhwa’ al Bayan, Muhammad al Amin Asy Syinqithi (1393H), tahqiq Maktab ad Durus wa ad Dirasat, Daar al Fikr, Beirut, th 1415 H/ 1995M..
  12. Shahih Sunan Abi Daud, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), Maktabah Al Ma’arif, Riyadh, cet II, th 1421 H/ 2000 M.
  13. Silsilah al Ahadits ash Shahihah, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh, KSA, th 1415 H/ 1995 M.
  14. Kitab at Tadzkirah bi Ahwali al Mawta wa Umuri al Akhirah, al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah al Anshari al Khazraji al Andalusi al Qurthubi, tahqiq DR. Ash Shadiq bin Muhammad bin Ibrahim, Maktabah Daar al Minhaj, Riyadh, KSA, cet I, th 1425 H.
  15. Syarh al ‘Aqidah ath Thahawiyah, al Imam al Qadhi Ali bin Ali bin Muhammad bin Abi al ‘Izz ad Dimasyqi (792 H), tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin at Turki & Syu’aib al Arna-uth, Muassasah ar Risalah, Beirut-Libanon, cet II, th 1422 H/ 2001 M.
  16. Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, al ‘Allamah Muhammad Khalil Harras, takhrij ‘Alawi bin Abdul Qadir as Saqqaf, Daar al Hijrah, Riyadh, KSA, cet IV, th 1422 H/ 2001 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/340), al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/152), Zadul Masir (9/213), Tafsir Ibnu Katsir (8/468),
[2] Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/340), al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/152-153), Zadul Masir (8/345-346), Tafsir Ibnu Katsir (8/468).
[3] Di antaranya adalah al Imam ath-Thabari di dalam tafsirnya (30/340), beliau membawakan beberapa riwayat dengan sanad-sanadnya dari Ibnu Abbas c , Qatadah, dan Waki’. Mereka semua mengatakan bahwa makna al Qari’ah (القَارِعَةُ) adalah as-Sa’ah (السَّاعَة), yakni hari Kiamat.
[4] Maksudnya adalah Syaikh Muhammad al Amin asy-Syinqithi v (1320-1393 H).
[5] Surat al Waqi’ah/56 ayat 1.
[6] Surat an Nazi’at /79 ayat 34.
[7] Surat ‘Abasa/80 ayat 33.
[8] Surat an Najm/53 ayat 57.
[9] Surat al Qari’ah/101 ayat 1-3.
[10] Surat al Haqqah/69 ayat 1-3.
[11] Surat al Qamar/54 ayat 1. Yang artinya, telah dekat saat itu (yakni, hari Kiamat).
[12] Adhwa’ul-Bayan (9/70).
[13] Lihat al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/152), Tafsir Ibnu Katsir (8/468).
[14] Lihat Adhwa’ul-Bayan (9/71).
[15] Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/341). Al Imam ath-Thabari berkata dengan pendapat ini.
[16] Lihat Zadul Masir (9/214).
[17] HR Muslim (4/1790 no. 2285), dan lain-lain. Hadits ini dibawakan pula oleh al Imam al Qurthubi t di dalam tafsirnya (20/153). Lihat pula Adhwa’ul-Bayan (9/71-72).
[18] Lihat Tafsir ath-Thabari, Jami’ al Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/341), al Jami’ li Ahkamil- Qur`an (20/153), Zadul Masir (9/214), Tafsir Ibnu Katsir (8/468), Adhwa’ul-Bayan (9/71).
[19] Lihat Adhwa’ul-Bayan (9/71).
[20] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/325-327), surat ‘Abasa/80 ayat 34-42.
[21] Lihat Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/341), Zadul-Masir (9/214), Tafsir Ibnu Katsir (8/468), Adhwa’ul-Bayan (9/71), Taisir al Karimir-Rahman (2/1192).
[22] Lihat contohnya dalam Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, halaman (240), dan Syarh al ‘Aqidah ath- Thahawiyah (2/636-640) untuk pembahasan lebih luas dalam masalah ini.
[23] HR al Bukhari (5/2352, 6/2459, 2749), Muslim (4/2072 no. 2694), dan lain-lain.
[24] HR Abu Dawud (4/253 no. 4799), at-Tirmidzi (4/362-363 no. 2002, 2003) dan lain-lain. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani. Lihat  as-Silsilah ash-Shahihah (2/535 no. 876).
[25] Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an (30/342), Tafsir Ibnu Katsir (8/468) dan Taisir al Karimir-Rahman (2/1192).
[26] Demikian pendapat Abu Shalih, Qatadah, dan Ikrimah. Lihat pula Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil- Qur`an (30/342), al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/154), Tafsir Ibnu Katsir (8/468).
[27] Ini juga pendapat Qatadah. Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil- Qur`an (30/342).
[28] Ini pendapat Ibnu Zaid, al Farra’, Ibnu Qutaibah, dan az-Zajjaj. Pendapat ini didukung oleh al Imam Ibnul Jauzi di dalam tafsirnya, Zadul-Masir (9/215).
[29] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/468) dan Adhwa’ul-Bayan (9/74).
[30] Lihat Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil Ayil- Qur`an (30/342) dan al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/154).
[31] Lihat Adhwa’ul-Bayan (9/74).
[32] Yaitu hadits yang hanya sampai pada sahabat, tidak sampai pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
[33] Syaikh al Albani rahimahullah di dalam as-Silsilah ash-Shahihah (6/604-607 no. 2758) berkata, “(Hadits ini) dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd (149/443) . . ., ath-Thabrani dalam al Mu’jamul-Kabir (4/153-154/3887-3888) . . ., al Hakim (2/533) . . .”.
[34] Lihat Adhwa’ul-Bayan (9/74).
[35] HR al Bukhari (3/1191), Muslim (4/2184 no. 2843), dan lain-lain. Dan ini lafazh Shahih Muslim.
[36] HR al Bukhari (5/2400), Muslim (1/196 no. 213), dan lain-lain. Dan ini lafazh Shahih Muslim.
[37] HR al Bukhari (1/198, 199), Muslim (1/430 no. 615), dan lain-lain. Dan ini lafazh Shahih Muslim.

Sifat Seorang Mukmin

SIFAT SEORANG MUKMIN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Dalam al-Qur’an,  Allah ta’ala banyak sekali memberi petunjuk untuk kita semua, diantara sekian banyak penerang jalan kehidupan kita ialah firman Allah azza wa jalla:

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ  [ التوبة: 71-72]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul -Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. [at-Taubah/9: 71-72].

Penjabaran Ayat.
Berkata Syaikh Abdurhman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat diatas: “Firman -Nya: “Dan orang-orang yang beriman“. Maksudnya baik dari kalangan kaum lelakinya maupun perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lainnya. Baik dalam masalah kecintaan, loyalitas, kebersamaan serta tolong menolong.

Lalu Allah ta’ala mensifati mereka: “Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf“. Yaitu sebuah nama yang mencakup bagi setiap perkara yang diketahui kebaikannya, mulai dari perkara akidah yang selamat dan amal sholeh serta akhlak mulia. Dan orang terdepan yang menyematkan sifat mulia ini adalah diri mereka sendiri.

Sifat berikutnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan: “Mencegah dari yang munkar”. Yaitu setiap hal yang bertabrakan dengan kebaikan serta lawan dari kebajikan, mulai dari keyakinan yang bathil, perbuatan jelek, serta akhlak yang buruk.

Kemudian sifat mereka selanjutnya adalah: ““Mereka taat pada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul-Nya“. Artinya mereka senantiasa memegangi ketaatannya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya.

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan akhir dari perbuatan mereka ialah: “mereka itu akan diberi rahmat oleh  Allah“. Mereka akan dimasukan ke dalam barisan orang yang mendapat rahmat -Nya serta diliputi dengan karunia -Nya. Karena Allah Shubhanahu wa ta’alla: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. Maksudnya Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dimana -Dia meletakan segala sesuatu sesuai pada tempatnya yang layak. Sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla pantas untuk dipuji oleh makhluk -Nya.

Selanjutnya Allah ta’ala menyebut balasan bagi mereka: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya “. surga ini adalah tempatnya segala macam bentuk kenikmatan dan kesenangan, mulai dari istananya, rumah, pepohonan, serta sungai-sungainya yang deras, terus mengalir mengairi kebun-kebunnya yang indah, yang tidak ada yang mengetahui hakekatnya secara pasti dari kenikmatan serta berkahnya melainkan Allah azza wa jalla.

Kemudian Allah ta’ala menegaskan: “Kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘adn“. Dimana telah dihiasi dan diperbagusi untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Sungguh hal itu sangat menyejukan bagi orang yang melihatnya, tempat tinggal serta untuk istirahat yang indah, disatukan pada istana mereka yang tinggi, yang tidak iri bagi satu dengan yang lainnya.

Sampai kiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyiapkan untuk mereka kamar yang sangat bersih lagi indah yang bisa terlihat dalamnya dari luar, dan kebalikannya. Dan tempat tinggal ini sangat menyejukan sehingga setiap orang akan merasa nyaman menempatinya, menentramkan hati, serta dirindukan oleh tiap ruh dikarenakan itulah surga Adn.

Mereka akan tinggal di dalamnya kekal selama-lamanya, keridhoan Allah Shubhanahu wa ta’alla meliputi seluruh penghuni surga, keridhoan yang lebih besar dari apa yang pernah mereka rasakan sebelumnya, maka kenikmatan terbesar yang belum mereka rasakan ialah melihat Rabbnya serta mendapat ridhonya azza wa jalla.

Inilah yang dinamaka keberuntungan yang besar dimana dirinya bisa mendapatkan segala apa yang menjadi keinginannya serta hilang segala perkara yang menyusahkan. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kita dikalangan penghuni surga”. [1]  

Pelajaran yang bisa kita petik:

  1. Diantara salah satu sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman bahwasannya mereka itu mau saling tolong menolong, serta saling membantu dikalangan mereka.

Dijelaskan dalam sebuah hadits, sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى » [أخرجه البخاري و مسلم]

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kasih sayang, mencintai dan belas kasih (diantara mereka) semisal satu tubuh, yang apa bila ada anggota tubuh yang merasa sakit maka akan menjadikan seluruh tubuhnya merasakan sakitnya“. HR Bukhari no: 6011. Muslim no: 2586.

  1. Pentingnya perkara menyuruh pada yang ma’ruf serta mencegah dari perbuatan mungkar.

Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya bahwa kita adalah umat terbaik jika terpenuhi sifat diatas, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ  [ ال همران: 110]

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”.  [al-Imran/3: 110].

Dalam hadits sendiri disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka hendaknya ia mengingkari dalam hatinya, itulah keimanan yang paling rendah“. HR Muslim no: 49. Dari sahabat Abu Hurairah.

  1. Agungnya urusan sholat dan zakat serta kedudukan keduanya yang begitu tinggi dalam agama Islam.

Hal itu, juga dipertegas oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Agama Islam dibangun diatas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Mengerjakan sholat, mengeluarkan zakat, berhaji dan berpuasa ramadhan“.HR Bukhari no: 8. Muslim no: 16.

  1. Bahwa ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul   -Nya merupakan faktor untuk bisa meraih rahmatnya -Nya. Di tambah memperoleh keberuntungan serta kebahagian didunia dan akhirat.

Hal tersebut, juga Allah Shubhanahu wa ta’alla nyatakan dalam firman -Nya yang lain, yaitu:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقۡهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ  [ النور: 52]  

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul -Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan”. [an-Nuur/24: 52].

  1. Tempat tinggal yang disebutkan dalam surga Adn sangatlah indah serta bagus bangunannya, dan surga itu bertingkat-tingkat.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari  Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Dua surga yang bejananya serta segala isinya terbuat dari perak, serta dua surga yang bejana serta segala isinya terbuat dari emas. Dan tidaklah ada penghalang antara penduduk surga dengan melihat Rabbnya melaikan jubah kesombongan yang berada diatas wajahnya, itu semua berada didalam surga Adn“.  HR Bukhari no: 7444. Muslim no: 180.

Dalam hadits lain disebutkan, sebagaimana dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الجنة مائة درجة . كل درجة منها ما بين السماء والأرض . وإن أعلاها الفردوس . وإن أوسطها الفردوس . وإن العرش على الفردوس . منها تفجر أنهار الجنة . فإذا ما سألتم الله فسلوه الفردوس » [أخرجه ابن ماجه ]

Surga itu ada seratus tingkat, pada setiap tingkatnya sejauh langit dan bumi. Dan yang tertinggi adalah surga Firdaus, dan tengah-tengahnya juga surga Firdaus. Sesungguhnya Arsy berada diatas Firdaus, dari sanalah memancar sungai-sungai surga, maka apabila kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus“. HR Ibnu Majah no: 4331. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah 2/346 no: 3496.

Dalam redaksi Imam Ahmad disebutkan dari haditsnya Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْجَنَّةُ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ » [أخرجه أحمد ]

Surga itu ada seratus tingkat, jarak antara satu surga dengan yang lainya sejauh perjalanan seratus tahun“. HR Ahmad 37/369 no: 22695.

  1. Didalam ayat menjelaskan bahwa ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla atas mereka sangatlah besar, lebih mulia dan agung dari pada apa yang pernah mereka rasakan dari kenikmatan.

Sebagaimana didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا » [أخرجه البخاري و مسلم]

Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepada penduduk surga: ‘Wahai penduduk surga’. Mereka menjawab: ‘Kami penuhi panggilanMu wahai Rabb’. Allah bertanya: ‘Apakah kalian ridho dengan ini? apa yang menyebabkan kami tidak ridho, sedangkan Engkau telah memberi sesuatu yang belum pernah Engkau berikan pada makhlukMu. Jawab mereka. Allah lalu mengatakan: “Dan Aku akan memberi kalian sesuatu yang lebih baik dari itu”. Mereka penasaran: “Wahai Rabb, apakah ada yang lebih baik dari ini semua? Allah berfirman: “Aku halalkan atas kalian keridhoanKu sehingga Aku tidak akan murka atas kalian selama-lamanya“.  HR Bukhari no: 6549. Muslim no: 2829.

  1. Dimasukannya orang beriman ke dalam surga, serta kekalnya mereka, plus ditambah keridhoan Allah Shubhanahu wa ta’alla atas mereka adalah kemenangan yang sangat besar. Bukan seperti persangkaan orang yang mengartikan dengan kemenangan seperti yang ada didunia, karena hal tersebut cepat sekali hilang dan sirnanya.

Sebagaimana yang Allah ta’ala sebutkan dalam salah satu firman -Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ [ البروج: 11]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar”.  [al-Buruj/85: 11].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Anas bahwasaannya dia mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Tatkala Haram bin Milhan tertusuk, beliau adalah pamannya, pada peperangan Bi’ir Ma’unah. Dirinya mengusap darah yang mengalir pada wajah dan kepalanya, kemudian mengatakan: “Aku telah menang, demi Allah, Rabb pemilik Ka’bah”. HR Bukhari no: 4092.

Dalam redaksi lain, Anas bin Malik menceritakan: “Allah ta’ala menurunkan ayat yang berkaitan dengan orang-orang yang terbunuh pada peperangan Bi’ir Ma’unah yang kami baca hingga dihapus setelahnya. ‘Bahwa telah sampai kaum kepada Kami, dan bertemu dengan Rabb kami, Dirinya ridho kepada kami dan kami pun ridho kepadaNya”. HR Bukhari no: 4091. Muslim no: 677.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari تأملات في الآيات (71-72) من سورة التوبة Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1435]
______
Footnote
[1] . Tafsir Syaikh as-Sa’di hal: 343-344.

Dua Syarat Untuk Menjadi Pemimpin Agama

DUA SYARAT UNTUK MENJADI PEMIMPIN AGAMA

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, MA

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ ۖ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ﴿٢٣﴾وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴿٢٤﴾إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa al-Kitab, maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya. Dan Kami menjadikannya itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka itu meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. [As-Sajdah/: 23-25]

Tafsir Ringkas
Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa al-Kitab,” Kami telah memberikan kepada Nabi Musa Alaihissallam , salah satu nabi Bani Israil, sebuah kitab yang agung, yaitu Taurat. Sebenarnya orang-orang musyrik tidak mengingkari bahwa Rabb-mu telah memberikanmu al-Qur’an sebagaimana Rabb-mu telah memberikan Taurat kepada Musa Alaihissallam. Pada ayat ini terdapat penetapan salah satu pokok di antara pokok-pokok aqidah, yaitu adanya wahyu dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya,” Janganlah kamu ragu wahai Muhammad ketika bertemu dengan Musa Alaihissallam di malam isrâ’ dan mi’râj. Kamu benar-benar telah bertemu dengannya dan dia telah memintamu kembali ke hadapan Rabb-mu untuk meminta keringanan dalam masalah shalat, sehingga pada akhirnya hanya menjadi lima kali, yang sebelumnya diperintahkan sebanyak lima puluh kali.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Dan Kami menjadikannya itu petunjuk bagi Bani Israil, menjadikan al-Kitab atau Musa Alaihissallam sebagai petunjuk untuk Bani Israil agar dapat menuju jalan keselamatan dan jalan yang lurus.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yaitu pemimpin-pemimpin yang bisa membimbing manusia menuju Rabb mereka, sehingga mereka bisa beriman kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, menyempurnakan ibadah mereka dengan petunjuk tersebut dan berbahagia. Ini semua dilakukan dengan perintah Allâh kepada mereka.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Ketika mereka sabar”, yaitu kesabaran dari gangguan kaum-kaumnya. Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami yang mengandung perintah, larangan, kabar gembira dan ancaman. Dan mereka mengemban tugas dakwah dengan dua hal: sabar terhadap gangguan dan benar-benar yakin terhadap apa yang mereka dakwahkan.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya,Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Allâh Azza wa Jalla yang akan menyelesaikan perselisihan antara para Nabi dengan kaumnya, antara orang-orang yang bertauhid dengan orang-orang musyrik dan antara ahli sunnah dengan ahli bid’ah. Allâh Azza wa Jalla memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang haq dan menyengsarakan orang-orang yang batil.

Ayat ini adalah ayat untuk menghibur Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meringankan kesusahan hatinya karena kaumnya telah menyelisihinya.[1]

Penjabaran Ayat
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ

Maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dan Qatâdah rahimahullah  menyatakan bahwa makna bertemu dengannya adalah bertemu dengan Nabi Musa q ketika malam isrâ’ dan mi’râj, sebagaimana disebutkan dalam hadîts-hadîts yang shahîh tentang peristiwa isrâ’ dan mi’râj.

As-Suddi rahimahullah menyatakan bahwa makna “maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya” adalah janganlah kamu ragu dengan keridlaan dan penerimaan Musa q terhadap kitab Allâh Azza wa Jalla.[2]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

Dan Kami menjadikannya itu petunjuk bagi Bani Israil

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa kata ganti “nya” dalam ayat di atas maksudnya adalah al-Kitab (Taurat), sementara Qatâdah mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah Musa Alaihissallam [3]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu yaitu dari Bani Israil ‘pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami’, yaitu para Ulama yang paham terhadap syariat dan jalan menuju hidayah. Mereka telah diberikan petunjuk dan juga memberikan petunjuk kepada selain mereka. Ini karena adanya petunjuk (dari Allâh). Dan al-Kitab yang diturunkan kepada mereka adalah petunjuk.

Orang-orang yang beriman di antara mereka ada dua kelompok, yaitu: para pemimpin yang memberikan petunjuk sesuai perintah Allâh Azza wa Jalla dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk karena sebab pemimpin-pemimpin tersebut.

Kelompok pertama adalah kelompok yang lebih tinggi derajatnya setelah derajat kenabian dan kerasulan. Derajat ini adalah derajat orang-orang yang shiddîq (membenarkan). Mereka mendapatkan derajat yang tinggi ini karena kesabaran mereka ketika belajar, mengajarkan, berdakwah menuju Allâh Azza wa Jalla dan ketika diganggu saat berdakwah. Mereka menahan diri mereka dari perbuatan maksiat dan terjatuh kepada syahwat-syahwat.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, ‘Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami’, mereka telah sampai kepada derajat yakin dalam keimanan terhadap ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla . Dia adalah ilmu yang sempurna yang menuntut seseorang untuk beramal. Mereka sampai ke derajat yakin karena mereka telah belajar dengan cara yang benar dan menyelesaikan permasalah-permasalah dengan dalil-dalinya yang dapat mendatangkan keyakinan.

Mereka senantiasa mempelajari permasalahan-permasalahan dan berdalil dengan banyak dalil, sampai mereka mendapatkan keyakinan. Oleh karena itu, dengan kesabaran dan keyakinan, maka akan diraih kepemimpinan dalam agama.[4]

Ada sebuah kaidah :

بِالصَّبْرِ وَاْليَقِيْنِ، تُنَالُ الإمَامَةُ فِي الدّيْنِ

Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama akan bisa diraih

Kaidah ini memiliki landasan di dalam syariat. Banyak Ulama yang menjadikan dua syarat ini sebagai syarat untuk bisa menjadi pemimpin di dalam agama. Pemimpin yang dapat mengajak orang-orang yang bertakwa untuk melakukan perbuataan-perbuatan taat dan melarang mereka dari berbuat yang mungkar. Pemimpin-pemimpin yang diteladani, diikuti dan diambil ilmu, akhlak, adab dan amalannya oleh orang-orang yang bertakwa di sekitarnya.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata:

فَمَنْ أُعْطِيَ الصَّبْرَ وَالْيَقِينَ: جَعَلَهُ اللَّهُ إمَامًا فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang diberikan kesabaran dan keyakinan maka Allâh akan menjadikannya pemimpin di dalam agama[5]

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “… Bahwasanya pemimpin-pemimpin agama yang mereka dijadikan teladan adalah orang-orang yang menggabungkan antara kesabaran, keyakinan dan juga berdakwah menuju Allâh Azza wa Jalla dengan sunnah dan wahyu, bukan dengan pendapat-pendapat atau bid’ah-bid’ah. Mereka adalah pengganti-pengganti atau penerus-penerus Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam umatnya. Mereka adalah orang-orang khusus baginya dan juga wali-walinya. Barangsiapa yang memusuhi dan memerangi mereka maka sesungguhnya dia telah memusuhi Allâh Azza wa Jalla . Dan  Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengumumkan peperangan kepadanya.”[6]

Urgensi  Kesabaran
Ibnu Katsir rahimahullah  mengatakan, “Dan berkata Ibnu Binti asy-Syâfi’i, ‘Bapakku membaca hadits di hadapan pamanku atau pamanku membaca hadits di hadapan bapakku, Sufyân ditanya tentang perkataan ‘Ali Radhiyallahu anhu :

الصَّبْرُ مِنَ الْإيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ

Kedudukan sabar dalam keimanan seperti kedudukan kepala terhadap badan.

Sufyân Radhiyallahu anhu berkata, “Tidakkah engkau mendengar perkataan Allâh Azza wa Jalla :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar?

Kemudian Sufyân mengatakan :

لَمَّا أَخَذُوْا بِرَأْسِ الْأَمْرِ صَارْوُا رُؤُوْسًا

Ketika mereka mengambil inti dari segala urusan maka mereka menjadi pemimpin-pemimpin.[7]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga telah menyempurnakan kalimat-kalimatnya untuk Bani Israil karena kesabaran yang mereka miliki.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا

Dan telah sempurnalah perkataan Rabb-mu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. [Al-A’râf/7:137]

Allâh Azza wa Jalla juga senantiasa membantu dan menolong orang-orang yang bersabar.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu! Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. [Al-Baqarah/2:153]

Begitu pula Allâh telah menjadikan mereka pemimpin-pemimpin karena mereka sabar dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla.
Allâh berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Dan Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu beribadah.” [Al-Anbiyâ’/21 : 73]

Perbedaan antara mengharapkan kepemimpinan di dunia dan kepemimpinan agama untuk berdakwah
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Wahai ‘Abdurrahmân bin Samurah! Janganlah kamu meminta kepemimpinan! Sesungguhnya jika itu diberikan kepadamu dengan cara kamu memintanya, maka kamu akan dibiarkan untuk mengurusnya sendiri. Tetapi jika itu diberikan kepadamu tanpa engkau memintanya, maka engkau akan dibantu untuk mengurusnya.[8]

Hadits ini menunjukkan tercelanya meminta jabatan atau kepemimpinan. Tetapi kepemimpinan yang dimaksud dalam hadits ini adalah kepemimpinan dalam urusan duniawi. Adapun menjadi pemimpin-pemimpin orang yang bertakwa, maka itu adalah kedudukan yang tinggi di hadapan Allâh Azza wa Jalla dan tidak ada cela sedikit pun padanya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba yang berdakwah menuju Allâh Azza wa Jalla menginginkan untuk menjadi orang yang besar di mata-mata pengikutnya, disegani di hati-hati mereka, dicintai oleh mereka dan menjadi orang yang ditaati di antara mereka agar mereka mengikuti dan menjalankan peninggalan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bimbingan darinya, maka hal tersebut tidak berbahaya bagi dirinya. Bahkan,  dia dipuji atas apa yang dilakukannya… Oleh karena itu,  Allâh Azza wa Jalla menyebutkan para hamba-Nya yang memiliki kedekatan secara khusus kepada-Nya dan memuji mereka dalam al-Qur’an serta membalas mereka dengan balasan yang paling baik di hari pertemuan dengan-Nya. Allâh menyebutkan amalan-amalan terbaik yang mereka lakukan dan sifat-sifat mereka (yaitu di bagian akhir surat al-Furqan-pen). Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengatakan:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata, “Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata-mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”  [Al-Furqan/25:74]

Mereka meminta kepada Allâh Azza wa Jalla agar Allâh Azza wa Jalla menyejukkan pandangan-pandangan mereka dengan ketaatan kepada Allâh yang dilakukan oleh istri-istri dan anak keturunannya dan bisa membuat hati-hati mereka senang dengan ikutnya orang-orang yang bertakwa kepadanya di dalam ketaatan dan ibadah. Sesungguhnya imam dan pengikutnya saling membantu di dalam ketaatan. Mereka meminta hal tersebut dan membimbing orang-orang yang bertakwa untuk melakukan hal-hal yang diridai Allâh Azza wa Jalla dan melakukan ketakwaan kepada-Nya. Doalah yang mereka ucapkan kepada Allâh Azza wa Jalla untuk mendapatkan kepemimpinan di dalam agama, yang mana pondasinya adalah kesabaran dan keyakinan.

Hal ini berbeda dengan ambisi untuk meraih kepemimpinan (dunia). Sesungguhnya orang-orang yang mencarinya akan berusaha keras untuk mendapatkannya, agar mendapatkan tujuan-tujuan mereka yang berupa kedudukan tinggi di dunia… Dampak dari ambisi ini adalah munculnya kerusakan-kerusakan yang hanya diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla , baik berupa: perampasan hak orang lain, hasad, melampai batas, dengki, kezaliman, fitnah, melindungi diri sendiri tanpa memperhatikan hak Allâh Azza wa Jalla ,  mengagungkan orang-orang yang dihinakan oleh Allâh Azza wa Jalla , menghinakan orang-orang yang dimuliakan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan tidak akan sempurna kepemimpinan duniawi kecuali dengan melakukan hal-hal tersebut.”[9]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Sesungguhnya Rabbmu-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Rabb kamu wahai Muhammad, yang menjelaskan segala hal di antara makhluknya di hari kiamat atas apa-apa yang mereka berselisih di dunia, baik dalam urusan: agama, kebangkitan, balasan baik, hukuman dan yang lainnya… Kemudian Dia akan membedakan di antara mereka dengan keputusannya yang adil, Dia akan membalas orang-orang yang haq dengan surga dan orang-orang yang batil dengan neraka.”[10]

Demikianlah penjelasan tentang ayat-ayat di atas. Dan kita bisa menarik kesimpulan bahwasanya menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa tidak mungkin diraih kecuali dengan kesabaran dan keyakinan.

Mudah-mudahan penulis dan pembaca dijadikan oleh Allâh sebagai pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allâh. Amin.

Mudahan bermanfaat.

Daftar Pustaka

  1. Adhwâul-Bayân fi Îdhâhil-Qur’ân bil-Qur’ân. Muhammad Al-Amîn Asy-Syinqîthi. 1415 H/1995 M. Libanon: Dârul-Fikr.
  2. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
  3. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sahnûn.
  4. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
  5. Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Adzhîm. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.
  6. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurrahmân bin Nâshir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
  7. Risâlah Ibnil-Qayyim Ilâ Ahadi ikhwâni. Muhammad bin Abî Bakr bin Qayyim Al-Jauziyah. 1420 H. Riyadh: Fahrisah Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniyah.
  8. Ar-Rûh. Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim Al-Jauziyah. 1395 H/1975. Beirut: Dâr Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.
  9. Majmû’ Al-Fatâwâ. Taqiyuddin Abul-‘Abbâs Ahmad bin Abdil-Halîm bin Taimiyah. 1426 H/2005. Mesir: Dârul-Wafâ’.
  10. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar sudah tercantum di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Aisarut-Tafâsîr III/267.
[2] Lihat Ma’âlimut-Tanzîl VI/308 dan Tafsîr Ibni Katsîr VI/371.
[3] Ma’âlimut-Tanzîl VI/309.
[4] Tafsîr As-Sa’di hal. 656-657.
[5] Majmû’ Al-Fatâwâ VI/215.
[6] Risalah Ibnil-Qayyim Ila Ahadi ikhwâni hal. 24
[7] Tafsîr Ibni Katsîr VI/371.
[8] HR Al-Bukhari no. 6622 dan Muslim no. 1652
[9] Ar-Rûh hal. 252-253.
[10] Tafsîr Ath-Thabari 18/639.