Menyambut Kemuliaan Bulan Mulia

MENYAMBUT KEMULIAAN BULAN MULIA  [1]

Ramadhan Bulan Al-Qur’an

Ini adalah bulan (yang di dalamnya diturunkan) Al-Qur’an dan bulan yang penuh keridhoan. Bulan kemurahan dan kebaikan, bulan rahmat dan kasih sayang serta ampunan. Inilah bulan Ramadhan. Sungguh, hari-harinya telah datang menaungi kalian. Berita gembira bulan ini menyeruak dengan membawa kabar berupa kebaikan, digugurkannya dosa-dosa, dan dibebaskan dari neraka, serta mendapatkan kemenangan berupa keridhaan Allâh Azza wa Jalla .

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ؛ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ – تَعَالَى -: إِلَّا الصَّوْمَ ؛ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ؛ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ ؛ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ،

Setiap amal kebaikan (yang dilakukan) anak adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan diganjar 10 kali lipat kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat, Allâh berfirman, ”Kecuali puasa, sesungguhnya (amalan) puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya. Ia meninggalkan syahwat, dan makannya karena Aku. Untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Dan sungguh aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allâh dari wangi minyak kasturi”[2]

Sambutlah Bulan Ramadhan!

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin! Sambutlah bulan Ramadhan (tahun ini) dengan senang dan gembira. Niatkan untuk memperbanyak ketaatan serta lebih mendekatkan diri Kepada Nya. Berusahalah melakukan ibadah-ibadah dan bertaubat dari kejelekan dan dosa. Dan hendaklah kita berpuasa pada bulan Ramadhan karena dasar iman dan dengan mengharap pahala. Niscaya Allâh Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dalam hadits yang shahih, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka Allâh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu [3]

Sungguh, alangkah agungnya kenikmatan ini! Betapa mulianya berita gembira ini.

Di bulan yang berkah ini setan-setan dibelenggu. Pintu-pintu Surga dibuka sedangkan pintu-pintu neraka Jahim ditutup. Para penyeru hidayah pun berseru, wahai kaum Muslimin! Marilah menuju ketaatan kepada Allâh! Marilah kita menggapai keridhaan Allâh! Sambutlah agar dibebaskan dari neraka! Marilah menuju surga!

Dalam sebuah hadits, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ غُلِّقَتِ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ فِي كُلُّ لَيْلَةٍ حَتَّى يَنْقَضِيَ رَمَضَانُ.

Apabila awal malam dari bulan Ramadhan (telah tiba-red) ditutuplah pintu-pintu neraka dan tidak ada satupun pintu yang dibuka, dan dibuka pintu-pintu surga, tidak ada satupun darinya yang ditutup. Penyeru (dari malaikat) pun berseru, ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan! Sambutlah! Wahai orang-orang yang menginginkan keburukan! Tahanlah! Dan Allâh mempunyai orang-orang yang akan dibebaskan dari neraka, dan hal itu ada pada setiap malam sampai bulan Ramadhan berakhir”[4]

Maka penuhilah panggilan para penyeru kebaikan dan ketaatan ini! Jawablah seruan mereka dengan puasa kita. Jawablah seruan mereka dengan jiwa yang bersih yang menginginkan balasan yang ada di sisi Allâh, dan dengan hati yang dipenuhi rasa takut yang tidak menginginkan perkara-perkara yang dimurkai Allâh Azza wa Jalla . Dan berbekallah kalian di bulan kalian ini dengan segala amalan yang dapat menambahkan kedekatan kepada Rabb! Isilah waktu-waktu kalian di bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih, dengan bertasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, membaca Al-Qur’an, juga menjaga shalat wajib lima waktu dengan berjamaah. Jadikanlah malam-malam di bulan Ramadhan ini kalian isi dengan shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir dan berdoa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا واحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa shalat (malam) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka Allâh mengampuni dosa- dosanya yang telah lalu[5]

Perihal Shalat Tarawih

Termasuk qiyam Ramadhan adalah shalat Tarawih. Dahulu, orang-orang pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat berkelompok-kelompok di masjid Beliau. pernah shalat berjamaah bersama mereka selama 3 malam pada bulan Ramadhan, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya dan bersabda :

خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Aku khawatir kalau-kalau shalat malam akan diwajibkan atas kalian.[6]

Setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan syariat telah mapan sempurna, Umar Radhiyallahu anhu mengumpulkan orang-orang atau mereka yang mau shalat untuk shalat dipimpin satu imam di Masjid Nabawi. Dan demikianlah keadaan kaum Muslimin, senantiasa seperti itu hingga sekarang ini.

Shalat malam adalah perkara yang longgar pelaksanaannya. Dahulu, kebanyakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 11 rakaat, dengan memanjangkan bacaan, rukuk, dan sujudnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam salam setiap 2 rakaat serta  shalat witir dengan satu rakaat. Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ، صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Shalat malam 2 rakaat 2 rakaat. Bila salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu Shubuh, hendaklah dia shalat (witir)1 rakaat untuk menngganjilkan (bilangan) shalat yang telah dia kerjakan[7]

Hadits mulia ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam pelaksanaan shalat malam pada bulan Ramadhan dan malam lainnya. Dan perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa shalat malam dengan 11 rakaat yang berdiri, rukuk, dan sujudnya panjang, adalah shalat yang lebih baik dibandingkan shalat dengan jumlah rakaatnya yang banyak tapi dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa. Banyak di antara kaum Muslimin yang shalat pada bulan Ramadhan dengan shalat yang tidak khusyu’ dan tidak tenang (karena terlalu cepat) . Ini tidak diperbolehkan, karena thuma’ninah dalam shalat termasuk kewajiban dan rukun shalat yang paling besar. Dan setiap shalat yang tidak ditunaikan dengan dengan khusyu’ dan thuma’ninah, maka shalatnya batal. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang shalatnya tidak benar dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya:

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

Kembalilah dan shalatlah (lagi) karena sesungguhnya kamu belum shalat

Hingga orang itu melakukannya 3 kali, kemudian dia mengatakan, “Ya Rasûlullâh! Demi Allâh yang telah mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Maka ajarilah aku!” Nabi pun Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا 

Jika kamu (akan melaksanakan) shalat maka (mulailah dengan) bertakbir. kemudian bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian rukuklah sampai tuma’ninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah sampai sempurna berdiri, kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah sampai tuma’ninah dalam duduk, kemudian sujudlah sampai tumakninah dalam sujud, kemudian lakukanlah itu dalam shalatmu seluruhnya” [8] 

Perhatikanlah Masalah Shalat!

Wahai kaum Muslimin! Bertakwalah kepada Allâh Azza wa Jalla dalam shalat kalian. Thuma’ninahlah dalam shalat, dan hadirkan hati kalian di hadapan Allâh! Sesungguhnya shalat adalah penyejuk pandangan mata dan ketenangan bagi hati, serta kenikmatan bagi jiwa. Sungguh, telah sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

Sungguh, jika salah seorang di antara kalian melaksanakan shalat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat kepada Rabbnya[9]

dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Dijadikan penyejuk pandangan mataku dalam (melaksanakan) shalat[10]

Dan engkau wahai Muslim! Sesungguhnya dalam shalatmu (engkau sedang) bermunajat kepada Rabbmu, engkau membaca firman-Nya dan meminta kepada-Nya dengan berbagai macam doa. Maka khusyu’lah dalam shalatmu! Jadikan shalat sebagai penyejuk pandangan matamu, sehingga engkau bisa mendapat ketenangan di dalamnya, khusyu’ untuk Rabbmu, dan menunaikan hak-Nya secara sempurna. Dengan demikian engkau akan mendapatkan kesuksesan berupa diterimanya amal dan ampunan serta kehidupan yang baik. Sungguh telah datang sebuah hadits secara sahih, bahwa beliau bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Tidaklah seorang Muslim kala dia berwudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian berdiri melaksanakan shalat 2 rakaat, dia hadapkan hati dan wajahnya di setiap rakaatnya, kecuali wajib baginya surga”[11]

Telah sah pula dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

Apa pendapat kalian seandainya ada sungai di depan rumah salah seorang dari kalian kemudian dia mandi di dalamnya setiap hari 5 kali. Apakah ada kotoran yang tersisa walaupun sedikit?” Mereka menjawab: “Tidak akan tertinggal (sisa) kotoran sedikitpun”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allâh akan menghapuskan dosa-dosa dengan shalat (tersebut)”[12]

Beliau juga bersabda dalam hadits shahih:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ

Shalat yang lima waktu, dan (dari shalat) Jum’at ke Jum’at,  (dari) Ramadhan ke Ramadhan, mengugurkan dosa-dosa di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi”[13]

Marilah kita memanfaatkanlah kebaikan agung ini, dan jagalah shalat dengan khusyu’ dan thumakninah, terlebih lagi di bulan yang mulia ini. Janganlah mendahului imam ketika shalat. Dalam sebuah hadits yang telah  sah datang dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ اَلْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ, فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا, وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا, وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ, وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا, وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ

Imam itu, tidak lain hanyalah dijadikan untuk diikuti, (karena itu) janganlah menyelisihi imam. Maka apabila dia bertakbir maka bertakbirlah, dan janganlah kalian bertakbir sampai dia bertakbir. Jika dia rukuk maka rukuklah. Janganlah kalian rukuk sampai dia ruku. Dan jika dia sujud, maka sujudlah, dan janganlah kalian sujud sampai dia sujud” [14]

Beliau juga bersabda:

أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

Hendaklah orang yang mengangkat kepalanya sebelum Imam takut, (sekiranya) Allâh akan mengubah kepalanya (menjadi) kepala himar (keledai), atau Allâh akan menjadikan bentuknya seperti bentuk himar[15]

Memperbanyak Amal Shalih

Wahai kaum Muslimin! Di bulan yang agung ini, sungguh amal ketaatan kalian akan dilipatgandakan sebagaimana juga amal kejelekan dianggap besar di dalamnya (sehingga sangat penting untuk dihindari serta ditinggalkan). Akan diangkat derajat orang-orang yang berbuat baik. Maka perbanyaklah amal-amal shalih dan perbanyaklah memberikan makan dan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Karena sesungguhnya Nabi kita adalah (sangat) dermawan dan pemurah. Dan lebih sangat dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan. Jadikanlah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan. Berbuat baiklah kepada para hamba Allâh dengan berbagai macam kebaikan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ

Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya semisal pahala orang yang puasa dengan tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun[16]

Dan setiap Muslim bisa bersedekah dengan (rezeki) apa  saja  yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuknya, sebagaimana di dalam hadits:

اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Takutlah kalian akan neraka, walau (hanya dengan menyedekahkan) separuh kurma! Barang siapa yang tidak memiliki (apa-apa) maka (hendaklah bersedekah) dengan perkataan  yang baik”[17]

Sedangkan yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa ia sedekahkan, maka Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan baginya (pahala-red) sedekah pada setiap tasbîh (yang diucapkannya), pada setiap tahlîl adalah sedekah, setiap takbîr adalah sedekah, memerintahkan yang baik merupakan sedekah, dan mencegah dari  yang mungkar adalah sedekah. Sampaipun dalam hal menyalurkan naluri biologis kepada yang halal dan bersenang-senang dengannya adalah sedekah. Dalam sebuah hadits yang telah sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa ada sekelompok Sahabat Rasûlullâh g yang mengatakan:

يَا رَسُولَ الله ، ذَهَبَ أهلُ الدُّثُور بالأُجُورِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أمْوَالِهِمْ

Wahai Rasûlullâh! Orang-orang kaya telah membawa  banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

أَوَلَيسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ بِهِ : إنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقةً ، وَكُلِّ تَكبيرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَحمِيدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً ، وَأمْرٌ بالمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهيٌ عَنِ المُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وفي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

Bukankah Allâh telah jadikan bagi kalian apa-apa yang kalian bisa bersedekah dengannya; sesungguhnya di setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbîr adalah sedekah, setiap tahmîd sedekah, setiap tahlîl sedekah, perintah kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan pada syahwat kalian ada sedekah.

Lalu mereka bertanya: “Ya Rasûlullâh! Apakah apabila salah satu dari kami menyalurkan syahwatnya lalu ada pahala yang bisa ia dapatkan? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Bagaimana menurut kalian seandainya dia menyalurkan syahwatnya kepada yang haram, bukankah dia mendapatkan dosa? Maka seperti itu juga apabila dia menyalurkannya kepada yang halal, maka dia akan mendapatkan pahala”[18]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

أَحَبُّ اَلْكَلَامِ إِلَى اَللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اَللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Kalimat yang paling dicintai Allâh ada empat: Subhanallâh, Alhamdulillâh, Lâ Ilâha illallâh dan Allâhu Akbar. [19]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلْبَاقِيَاتُ اَلصَّالِحَاتُ: سُبْحَانَ اَللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ

Al-Bâqiyâtush Shâlihât (amal shalih yang pahalanya abadi): Subhânallâh, wal-hamdulilâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar wa lâ haula walâ quwwata illâ billâh”[20]

Perhatikanlah wahai kaum Muslimin! Alangkah besarnya karunia Allâh Azza wa Jalla yang telah Dia berikan kepada kita. Allâh Azza wa Jalla telah memudahkan bagi kita jalan-jalan pahala dan jalan-jalan ketaatan. Dia telah menjadikan lafadz (atau kalimat) yang sedikit (serta mudah diucapkan, tetapi  Dia sediakan pahala yang besar. Maka bersyukurlah kepada Allâh atas fadhilah dan rahmat-Nya terhadap kalian, serta keringanan yang telah Allâh berikan kepada kalian. Berbekallah dengan ketaatan kepada-Nya dengan melakukan apa-apa yang Dia ridhai. Perbanyaklah dzikir- dzikir yang telah dianjurkan oleh Nabi kalian.

Jauhi Perusak Puasa!

Wahai kaum Muslimin! Jauhilah perkara-perkara yang akan merusak puasa kalian atau mengurangi pahala puasa kalian, yaitu segala perkataan buruk dan perbuatan yang mungkar, misalnyanya ghîbah (menggunjing keburukan orang lain-red), namîmah (mengadu domba), dusta, mencela, melaknat, menuduh orang berbuat keji, bersaksi dusta, pengakuan palsu, dan sumpah yang fajir (dusta dan keji), durhaka kepada orang tua dan memutus silaturrahim, memakan riba, memakan harta anak yatim, minum minuman yang memabukkan, menipu ketika bermuamalah dan khianat terhadap amanah dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya yang Allâh larang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا قِيلَ: بِمَ يَخْرِقُهَا؟ قَالَ بِكَذِبٍ أَوْ غِيْبَةٍ

Puasa adalah perisai selama perisai itu belum terkoyak.” Beliau ditanya: “Dengan apa yang bisa membuatnya terkoyak?” Beliau bersabda, ”Dengan berkata dusta dan ghibah”[21]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya, maka Allâh tidak butuh dari (apa yang dia lakukan berupa) meninggalkan makan dan minumnya.”[22]

Dan bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإذَا كَانَ يَومُ صَوْمِ أحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَفْسُقْ. فَإنِ امْرُؤٌ سَابَّهُ أحَدٌ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ

”Puasa adalah perisai. Maka pada hari puasa salah seorang dari kalian, janganlah ia berbuat rafats (kata keji atau tidak senonoh) dan fusuk (berbuat hal fasik).  Dan jika ada salah seorang yang mencelanya, maka hendaklah dia mengatakan: saya sedang berpuasa.”[23]

Wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin! Hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh!

Hati-hatilah! Jangan sampai bagian kita dari puasa hanya mendapatkan lapar dan haus saja, dan dari shalat (tarawih) hanya dapat begadang dan lelah saja.

Beberapa Hikmah Puasa

Puasa telah Allâh Azza wa Jalla syariatkan untuk manusia, karena di dalamnya terdapat banyak hikmah dan rahasia yang agung. Di antaranya: puasa adalah pembersih bagi hamba, mensucikan jiwa, melatih jiwa untuk bersabar dan melawan hawa nafsu. Puasa akan mengingatkan seorang hamba akan keutamaan yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan serta kenikmatan yang begitu banyak yang telah Dia anugerahkan kepadanya. Puasa juga bentuk peringatan untuk orang-orang kaya atas besarnya kenikmatan Allâh atas mereka, dan bahwasanya saudara-saudara mereka yang miskin mempunyai hak atas harta-harta mereka. Karena itu tidak sepantasnya menelantarkan mereka. Maka jadikanlah puasa kita untuk membersihkan badan kita, memsucikan jiwa kita, sebagai penjernih hati kita, perisai kita dari adzab Allâh, sebagai pendorong agar kita tetap di atas ketaatan kepada Allâh, dan penyeru bagi kita agar (semakin) berlemah lembut terhadap orang-orang yang miskin dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Juga sebagai pemutus  syahwat yang diharamkan dari nafsu kita, dan untuk mengekang liarnya nafsu kita dari perkara yang haram. Maka jika kita berpuasa dari hal yang baik yang Allâh halalkan, maka hendaklah anggota badan kita berpuasa dari maksiat dan apa-apa yang Allâh haramkan pada bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Janganlah pandangan kita terlepas memandang apa yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . Kita tidak mengambil dengan tangan kita apa-apa yang tidak halal bagi kita. Kita tidak melangkahkan kaki kita kepada maksiat. Lisan kita tidak mengucapkan apa yang tidak layak dilontarkan. Tidak menggunakan telinga kita untuk mendengarkan perkara yang diharamkan, berupa lagu-lagu yang mungkar dan suara-suara yang keji. Jangan sampai terbersit dalam diri kita, atau jangan sampai anggota badan kita mendekat pada hal yang mengundang murka Allâh. Yang wajib bagi kita adalah memanfaatkan badan kita dalam ketaatan kepada Allâh; di mana Dia telah mewajibkannya atas kita, dan menyibukkan pikiran dan waktu kita dengan perkara yang diridhoi-Nya.

Akhirnya, semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk memanfaatkan momen yang sangat berharga ini dan semoga semua amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan tahun ini dan di bulan-bulan lainnya diterima oleh Allâh Azza wa Jalla

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote

[1] Diangkat dengan sedikit penyesuaian dari Maqâlât Kibâril Ulamâ’ fî Ash-Shuhuf As-Su’ûdiyyah Al-Qadîmah majmu’ah kedua, juz 6/280-286, dari makalah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah. Sub judul penambahan dari redaksi.

[2] HR. Al-Bukhâri no:1904, 5927; Muslim no: 1151, dari hadits Abu Hurairah.

[3] HR. Al-Bukhâri no: 38, 1901; Muslim no: 760, dari hadits Abu Hurairah.

[4] HR. At-Tirmidzi no:682; Ibnu Majah no:1642; Ibnu Khuzaimah no:1883; Ibnu Hibban no:3435 dari hadits Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Al-Albani.

[5] HR. Al-Bukhari no:37, 2009 dan Muslim no:759 dari hadits Abu Hurairah.

[6] HR. Al-Bukhari no:924, 1129 dan Muslim no:761 dari hadits Aisyah.

[7] HR. Al-Bukhâri  no. 990 dan Muslim no. 749 dari hadits Ibnu Umar.

[8] HR.Al-Bukhâri  no: 757, 793 dan muslim no: 397 dari hadits Abu Hurairah.

[9] HR.Al-Bukhâri  no:405, 413,531 dan Muslim no:551 dari hadits Anas

[10] HR. Ahmad 3/285 dan an Nasa’I no:3940 dari hadits Anas dan dishahihkan al Albani

[11] HR. Muslim no:234 dari hadits Uqbah bin ‘amir

[12] HR. Al-Bukhâri  no:528 dan Muslim no:667 dari hadits Abi Hurairah

[13] HR. Muslim no:223 dari hadits Abu Hurairah

[14] HR.Al-Bukhâri  no:722 dan Muslim no:414 dari hadits Abu Hurairah

[15] HR.Al-Bukhâri  no:691 dan Muslim no:427 dari hadits Abu Hurairah

[16] HR. Ahmad 4/116 dan at Tirmidzi no:807 dan Ibnu Majah no:1746 dari hadits Zaid bin Khalid Al Juhaniy dan dishahihkan al Albani

[17] HR. Al-Bukhâri  no:1413, 6023 dan Muslim no: 28, 1016 dari hadits ‘adi bin Hatim

[18] HR. Al-Bukhâri  no. 843, 6329; dan Muslim no. 595 dari hadits Abu Hurairah dan HR.Muslim no. 1006 dari hadits Abu Dzarr.

[19] HR. Muslim no. 2137 dari hadits Samurah Bin Jundab.

[20] HR. Ahmad 4/267 dari hadits Nu’man bin Basyir dan HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubrâ no. 10684.

[21] HR. Ahmad 1/195 dan An-Nasa’i no. 2233 dari hadits Abu Ubaidah bin Jarrah; dan dikeluarkan oleh Ath- Thabrani dalam Al-Aushath no. 4536 dari hadits Abu Hurairah dan Al-Albani mengatakan di dalam adh- Dhoifah no. 1440: Dhoif Jiddan (lemah sekali).

[22] HR.Al-Bukhâri  no. 1903, 6057 dari hadits Abu Hurairah.

[23] HR. Al-Bukhâri  no. 1894, 1904 dan Muslim no. 1151 dari hadits Abu Hurairah.