Sabar Dan Kemenangan Dua Sisi Yang Tak Terpisahkan

SABAR DAN KEMENANGAN DUA SISI YANG TAK TERPISAHKAN

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahw Allâh Azza wa Jalla menjadikan sikap sabar itu ibarat kuda pacu yang tak pernah terperosok, bagaikan pedang tajam yang tak pernah tumpul, seperti bala tentara yang selalu menorehkan kemenangan lagi tak terkalahkan. Ia tak ubahnya seperti benteng kokoh yang tidak bisa dihancurkan ataupun retak. Sabar dan kemenangan adalah dua saudara kembar (yang selalu bersanding tak terpisahkan).

Jadi, pertolongan itu ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesusahan serta kemudahan itu beriringan dengan kesulitan. Kesabaran itu lebih bisa menolong pelaku kesabaran itu secara signifikan daripada bala bantuan manusia, tanpa harus disertai perangkat perang tidak pula jumlah. Posisi sabar terkait dengan kemenangan itu, seperti kepala bagi badan.

Dalam al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla menjamin akan memberikan pahala kepada orang-orang yang bersabar secara sempurna, tanpa hitungan. Allâh Azza wa Jalla juga memberitakan bahwa Dia Azza wa Jalla bersama mereka dengan bimbingan hidayah-Nya, dengan kemenangan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. [Al-Anfâl/ 8: 46]

Dengan demikian, orang-orang yang sabar telah menggenggam ma’iyyah ini dengan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Mereka telah jaya mendapatkan ma’iyyah ini dengan berbagai nikmat-Nya baik yang batin maupun yang lahir.

Allâh juga menjadikan kepemimpinan dalam agama ini digantungkan pada kesabaran dan keyakinan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As-Sajdah 32: 24) [Lihat Uddatus Shâbirîn wa Dzakhîratus Syâkirîn]

Janji Allâh Azza wa Jalla buat orang-orang yang bersabar itu begitu banyak dan mulia dan Allâh Azza wa Jalla pasti akan menepati janji-Nya. Lalu, mengapa kita masih berat dan susah untuk bersabar?

Ketidaktahuan terhadap keutamaan sering menjadi sebab utama dalam hal ini, juga salah persepsi tentang kesabaran itu sendiri. Banyak orang yang menyangka bahwa bersabar itu menyebabkan kehinaan. Sabar atau memberi maaf itu identikkan dengan ketidakmampuan dalam melakukan pembalasan, padahal Rasûlullâh n bersabda:

مَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

Dan tidaklah seorang hamba memberikan maaf, melainkan Allâh akan menambahkan kemuliaan padanya.

Ada juga yang mengira, jika kaum Muslimin terus bersabar, maka mereka akan menjadi sasaran empuk musuh-musuh mereka. Untuk menjawabnya, bacalah firman Allâh Azza wa Jalla,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [Ali Imran/3:120]

Alangkah gamblang Allâh Azza wa Jalla menjelaskannya dalam ayat ini. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk para hamba yang bisa bersabar dalam berbagai keadaan dan disetiap waktu.

Ada juga yang berkata dengan nada sinis, “Sabar terus sampai akhirnya kita hancur.” Ini jelas sebuah kesalahan fatal. Karena orang yang bersabar itu akan tetap berbuat, bukan diam. Dia tetap berbuat, akan tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan senantiasa menjauhi semua yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla.

Dan yang perlu kita ingat bahwa kesabaran itu termasuk nikmat teragung. Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Barangsiapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allâh akan memudahkan kesabaran baginya. Dan tidaklah sesorang dianugerahkan (oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) pemberian yang lebih baik dan lebih luas (keutamaannya) dari pada (sifat) sabar[1]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HSR. Al-Bukhâri, 6105 dan Muslim, 1053