‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami Radhiyallahu Anhu Sang Pencari Al-Haq

‘AMR BIN ‘ABASAH AS-SULAMI RADHIYALLAHU ANHU SANG PENCARI AL-HAQ

Oleh

Ustadz Abu Minhal Lc

‘Amr bin ‘Abasah  As-Sulami Radhiyallahu Anhu Nama Dan Nasabnya

‘Amr bin ‘Abasah bin Khâlid bin Hudzaifah as-Sulami al-Bajali [1]. Kunyahnya Abu Najîh atau Abu Syu’aib.   Ia adalah saudara Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu  dari ibu.

Nama ini termasuk orang yang memeluk Islam sejak lama di Makkah. Maka, ia pun tergolong as-Sâbiqûnal awwalîn. Bahkan ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu melihat dirinya adalah orang keempat yang beragama Islam,  sebagaimana akan diungkap dalam kisah keislamannya nanti[2] . Karenanya, dalam sebagian literatur sejarah Islam ia dikenal dengan rubu’ul Islam[3], seperempat Islam, satu dari empat orang yang telah  memeluk agama Allah, lantaran ia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bersama Abu Bakar ash-Shiddîq dan Bilâl Radhiyallahu anhu saja.

Ia pernah mengatakan, “Sungguh, aku melihat diriku seperempat dari Islam”. [4] 

‘Amr bin ‘Abasah  As-Sulami Radhiyallahu Anhu Terjaga Dari Kesyirikan

Sebelum memeluk Islam,  ‘Amr bin ‘Abasah  as-Sulami Radhiyallahu anhu merupakan sosok yang serius dan semangat dalam mencari kebenaran. Fitrahnya menjaganya dari perbuatan syirik kepada Allâh Azza wa Jalla.  Ia menyaksikan berhala-berhala yang disembah dan diagungkan oleh masyarakat pada waktu itu dan menyangsikannya. Hati sanubarinya menolaknya dengan keras.

Imam Muslim rahimahullah[5] meriwayatkan kisah keislaman ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu. Dalam riwayat tersebut, ‘Amr bin Abasah as-Sulami Radhiyallahu anhu mengatakan, “Saat aku di masa Jahiliyah, aku menganggap bahwa orang-orang berada dalam kesesatan dan mereka tidaklah berada di atas sesuatu yang baik. Mereka menyembah berhala-berhala.

Lalu aku mendengar seseorang di Makkah menyampaikan berita-berita. Maka, aku kendarai tunggangi tungganganku hingga aku dapat sampai kepadanya. Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah bersembunyi akibat perlakuan kasar kaumnya kepadanya. Aku berjalan pelan hingga akhirnya dapat menemui Beliau di Makkah.

Lalu aku berkata kepada Beliau, “Siapakah engkau?”

Beliau menjawab, “Aku seorang nabi”.

Aku bertanya, “Apakah nabi itu?”.

Beliau menjawab, “(Orang) yang diutus oleh Allah)”.

Aku bertanya, “Dengan misi apa engkau diutus-Nya?”

Beliau menjawab, “Aku diutus untuk memerintahkan silaturahmi dan menghancurkan patung-patung, dan agar Allâh ditauhidkan, tidak disekutukan dengan apapun”.

Aku bertanya, “Siapakah orang yang bersama di atas keyakinan ini?”.

Beliau n menjawab, “Seorang yang merdeka dan satu hamba sahaya”. Waktu itu, Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Bilal[6] Radhiyallahu anhu yang bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, aku

Aku berkata, “Sesungguhnya aku mengikutimu”.

Pesan Khusus Nabi Kepada ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu Anhu

Setelah bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengungkapkan keislamannya, ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu mendapat pesan khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menandakan sayang Beliau kepadanya . Beliau menasehati, “Sesungguhnya engkau berat untuk bersama kami hari ini. Tidakkah kamu lihat keadaanku dan keadaan orang-orang?”. Akan tetapi, pulanglah kamu ke keluargamu. Apabila engkau telah mendengar aku menang, datanglah kepadaku”.

Maka, ‘Amr bin “Abasah Radhiyallahu anhu pulang terlebih dahulu ke keluarganya, sampai Allâh Azza wa Jalla memenangkan Rasul-Nya dan wali-wali-Nya.

Kembeli Berjumpa Dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu tetap berada di perkampungannya bersama keluarga. Namun, ia selalu mencari-cari tahu berita. Ia mengatakan, “Aku bertanya-tanya orang-orang ketika Beliau sudah pergi ke Madinah”. Sampai akhirnya, ada sejumlah orang dari Yatsrib (Madinah) datang. Aku bertanya kepada mereka, “Apa yang dilakukan orang lelaki yang datang (berhijrah) ke Madinah?”. Mereka menjawab, “Orang-orang bergegas kepadanya. Kaumnya sendiri dahulu ingin menghabisinya. Tapi, mereka tidak berdaya untuk melakukannya”.

Maka, aku pergi ke Madinah dan aku temui Beliau n. Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenaliku?”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, engkau yang menemuiku dahulu di Makkah, bukan?”.

Itulah pertemuan kedua ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu dengan orang yang paling ia cintai dan rindukan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertemuan pertamanya di Madinah dengan Beliau, ia manfaatkan untuk memperoleh ilmu dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat dan wudhu.

Jihad ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu Anhu Fî Sabîlillâh

‘Amr bin ‘Abasah berhijrah ke Madinah setelah kaum Muslimin berhasil menaklukkan Khaibar. Ia melewatkan Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan Perang Khaibar.

Setelah itu, ia turut serta dalam Fathu Makkah dan pengepungan wilayah Thaif bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat lainnya. Selanjutnya, ia senantiasa ikut serta dalam berjihad fî sabîlillâh  dalam masa khalifah-khalifah pengganti Rasuulullaah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan ia ditunjuk sebagai salah seorang amir  (komandan) pasukan kaum Muslimin dalam Perang Yarmuk yang terjadi tahun ke-13 H  .

Orang-Orang Yang Meriwayatkan Dari ‘Amr bin Abasah Radhiyallahu Anhu

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan  bahwa ‘Abdullaah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, Abu Umaamah al-Baahili Radhiyallahu anhu, Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu, Jubair bin Nufair rahimahullah, Sa’daan bin Abi Thalhah rahimahullah, Katsiiir bin Murrah rahimahullah, Dhamrah bin Hubaib  rahimahullah dan lain-lain meriwayatkan hadits-hadits melalui ‘Amr bin Abasah Radhiyallahu anhu .

‘Amr bin Abasah Radhiyallahu Anhu  Wafat

Buku-buku sejarah tidak menyebutkan tahun wafat ‘Amr bin ‘Abasah al-Bajali Radhiyallahu anhu ini. Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah[7] memperkirakan wafatnya pada akhir khilafah ‘Utsmân Radhiyallahu anhu [8], dengan argumentasi namanya tidak disebut-sebut dalam masa fitnah tersebut dan masa khilafah Mu’âwiyah Radhiyallahu anhma . Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[1]  Siyar A’lâmin Nubalâ 2/456.

[2] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dalam Shalâtul Musâfirîn bâb Islâmi ‘Amr bin ‘Abasah no. 832.

[3]  as-Siyaru, 2/456; Usdul Ghâbah, hlm. 945.

[4]  Imam adz-Dzahabi meriwayatkan sanad hadits ini dalam as-Siyar. Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad rahimahullah . Pentahqiq menilainya isnâdnya hasan. Lihat as-Siyar 2/459.

[5]  Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam Shahîhnya dalam Shalâtul Musâfirîn bâb Islâmi ‘Amr bin ‘Abasah no. 832.

[6]  Di sini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban yang mewakili golongan orang yang menyambut dakwah Beliau. Dan manusia secara global pada waktu itu terbagi menjadi dua: orang merdeka dan hamba sahaya.

[7]  Al-Ishaabah hlm. 1116.

[8]  Masa khilafah ‘Utsmaan bin ‘Affan z berakhir pada tahun 35 H.