Keadaan Para Sahabat Radhiyallahu anhum Di Malam Hari (1)

Shalat Malamnya Para Sahabat Nabi

BEBERAPA GAMBARAN MENGENAI QIYAAMUL LAIL

Oleh
Muhammad bin Suud Al-Uraifi

Keadaan Para Sahabat Radhiyallahu anhum Di Malam Hari
Para Sahabat adalah contoh ideal setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam penerapan agama ini, pelaksanaan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan- larangannya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah memuji mereka, firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah …” [At-Taubah: 100]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

“Sebaik-baik manusia adalah generasi pada masaku, kemudian orang-orang yang mengiringi mereka.”[1]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ.

“Janganlah kalian mencaci maki para Sahabatku, demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka infaqnya itu tidak akan mencapai satu mudd (kurang lebih 6,5 ons,-pent.) pun seorang dari mereka, tidak juga separuhnya.”[2]

Dan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati hamba-hamba-Nya. Dia mendapatkan hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah sebaik-baik hati, lalu Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya, kemudian Dia melihat hati hamba-hamba-Nya setelah hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Dia mendapat-kan hati para Sahabatnya adalah sebaik-baik hati, lalu Dia menjadikan mereka sebagai para menteri (pembantu) Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[3]

‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu pernah melakukan shalat Shubuh, tatkala salam, beliau berbaring ke arah kanan kemudian terdiam seakan-akan beliau sedang bersedih hingga ketika matahari telah meninggi, beliau berkata: “Sungguh aku telah melihat jejak para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun aku tidak melihat seorang pun yang menyerupai mereka. Demi Allah, jika mereka memasuki pagi hari, kondisi mereka dengan keadaan rambut yang kusut, penuh debu dan menguning, di antara mata mereka terdapat seperti kendaraan perang, pastilah mereka pada malam harinya itu membaca Kitabullah, mereka naik-turun di antara telapak kaki mereka dan dahi mereka. Ketika Nama Allah disebutkan, mereka bergetar laksana pepohonan yang bergetar ketika angin bertiup dan seakan-akan orang lain yang ada di sekeliling mereka itu bermalam dalam keadaan lalai.”[4]

Alangkah indah sya’ir karya Ibnul Qayyim rahimahullah yang menggambarkan tentang para Sahabat:

اَلْقَانِتُـوْنَ الْمُخْـبِتُوْنَ لِـرَبِّهِمْ
اَلنَّاطِقُـوْنَ بِأَصْـدَقِ اْلأَقْـوَالِ
يَحْيَـوْنَ لَيْـلَهُمْ بِطَاعَـةِ رَبِّهِمْ
بِتِـلاَوَةٍ، وَتَضَـرُّعٍ، وَسُـؤَالِ
وَعُيُوْنُهُمْ تَجْرِي بِفَيْضِ دُمُوْعِهِمْ
مِثْلُ اِنْهِـمَالِ الْوَابِـلِ الْهِـطَالِ
فِي اللَّيْلِ رُهْبَانُ، وَعِنْدَ جِهَادِهِمْ
لِعَـدُوِّهِمْ مِنْ أَشْجَـعِ اْلأَبْطَالِ
وَإِذَا بَـدَا عِلْمُ الرُّهَـانِ رَأَيْتَهُمْ
يَتَسَابَقُـوْنَ بِصَالِـحِ اْلأَعْـمَالِ
بِوُجُوْهِهِمْ أَثَرُ السُّجُـوْدِ لِرَبِّهِمْ
وَبِهَا أَشِعَّـةُ نُـوْرِهِ الْمُـتَلاَلِي
وَلَقَدْ أَبَانَ لَكَ الْكِتَابُ صِفَاتُهُمْ
فِي سُـوْرَةِ الْفَتْحِ الْمُبِيْنِ الْعَالِي
وَبِـرَابِعِ السَّبْعِ الطِّوَالِ صِفَاتُهُمْ
قَـوْمٌ يُحِـبُّـهُـمْ ذَوُوْ إِذْلاَلِ
وَبَـرَاءَةُ وَالْحَشْرُ فِيْهَا وَصْفُهُمْ
وَبِهَلْ أَتَى وَبِسُـوْرَةِ اْلأَنْـفَالِ

Mereka itu orang-orang yang taat, orang-orang yang bersembunyi untuk Rabb mereka, orang-orang yang berbicara dengan sejujur-jujur ucapan.

Mereka menghidupkan malam mereka dengan ketaatan kepada Rabb mereka,
dengan membaca (al-Qur-an), tunduk (ber-ibadah) dan memohon.

Mata mereka mengalirkan limpahan air mata,
laksana hujan yang turun dengan derasnya.

Pada malam hari mereka menjadi ahli ibadah, dan tatkala berjihad
melawan musuh mereka, mereka adalah pahlawan yang paling berani.
Tatkala telah tampak bendera perang, maka engkau akan melihat mereka
berlomba-lomba dengan amalan-amalan shalih.

Pada wajah mereka tampak bekas sujud kepada Rabb mereka,
padanya terdapat kilauan cahaya-Nya yang terang-benderang.

Sungguh al-Qur-an telah menerangkan ke-padamu akan sifat mereka,
di dalam surat al-Fath yang jelas dan luhur.

Dan pada surat keempat dari as-sab’uth thiwaal terdapat keterangan tentang sifat mereka, yaitu kaum yang dicintai oleh-Nya dengan penuh kerendahan.

Dan di dalam surat Bara-ah (al-Taubah) dan al-Hasyr terdapat keterangan sifat mereka, juga pada surat Hal ataa dan surat al-Anfaal.[5]

Gambaran Ibadah Para Sahabat Radhiyallahu anhum
1. Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu
Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah orang pertama yang masuk Islam, yang pertama kali menjadi pe-nolong dan pertama kali berjihad, ia lebih dulu sampai kepada Allah, ia berbicara dengan syari’at-Nya dan selalu jujur dalam pembicaraannya.

Disebutkan dalam sebuah sya’ir:

أَخَلِيْفَةُ الرَّحْمَنِ دَهْـرُكَ قَالَـهَا
وَسِـوَاكَ ياَصِـدِّيْقُ مَا نَالُـهَا

Wahai khalifah ar-Rahman, masamu telah berbicara,
tidak ada yang diperolehnya selain dirimu wahai orang yang jujur.

Beliau adalah seorang laki-laki yang rajin ber-ibadah, rajin berpuasa dan sering menangis. Jika ia membaca al-Qur-an, maka tidak akan dime-ngerti apa yang dibacanya, karena seringnya dia menangis.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia ber-kata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu malam, tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar Radhiyallahu anhu sedang melakukan shalat dengan melirihkan suaranya.” Abu Qatadah berkata, “Dan kemudian beliau bertemu dengan ‘Umar ketika ia sedang shalat dengan mengeraskan suaranya.” Abu Qatadah berkata, “Tatkala keduanya ber-kumpul di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata kepada keduanya, ‘Wahai Abu Bakar, aku telah melewati dirimu ketika engkau sedang melaksanakan shalat dan engkau melirihkan suaramu.’ Abu Bakar berkata, ‘Sungguh aku telah memperdengarkan kepada Rabb yang aku bermunajat kepada-Nya, wahai Rasulullah.'” Abu Qatadah berkata, “Lalu beliau berkata kepada ‘Umar, ‘Aku telah melewati dirimu, ketika itu engkau sedang melaksanakan shalat dengan mengeraskan suaramu.'” Abu Qatadah berkata, “Lalu ‘Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah membangunkan orang-orang yang tidur dan mengusir syaitan.’ Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Bakar, keraskanlah suaramu sedikit dan ‘Umar, lirihkanlah suaramu sedikit.'”[6]

2. ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu.
‘Umar masuk Islam dalam keadaan kuat, dia berhijrah dalam keadaan kuat dan terbunuh juga dalam keadaan kuat. Dia ditakuti oleh syaitan, Hurmuz menjadi gentar ketika melihatnya dan kerajaan Dinasti Sasan menjadi berakhir karena-nya.

Sebuah sya’ir mengungkapkan:

أَيَّا عُمَرَ الْفَارُوْقِ هَلْ لَكَ عَوْدَةٌ
فَإِنَّ جُيُوْشَ الرُّوْمِ تَنْهَي وَتَأْمُـرْ

Wahai ‘Umar al-Faruq, apakah engkau me-miliki kendali,
karena tentara Romawi dapat engkau larang dan engkau perintah.

Al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib berkata, “Aku adalah tetangga ‘Umar bin al-Khaththab, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih utama dari ‘Umar; sesungguhnya malamnya digunakan untuk shalat dan siang harinya digunakan untuk berpuasa dan memenuhi kebutuhan masyarakat.”[7]

Dan diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bahwa ‘Umar bin al-Khaththab melakukan shalat malam dalam waktu yang cukup lama hingga ketika di akhir malam, beliau membangunkan keluarganya agar melakukan shalat, dia berkata kepada mereka, “Shalatlah kalian, shalatlah kalian, kemudian dia membaca ayat ini:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

‘Dan perintahkanlah kepada keluargamu men-dirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki ke-padamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.’ [Thaahaa/20: 132].”[8]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “‘Umar selalu melakukan shalat ‘Isya’ bersama rakyatnya, kemu dian beliau masuk ke rumahnya dan tiada henti-hentinya dia melakukan shalat hingga Shubuh.”[9]

Diungkapkan dalam sebuah sya’ir:

فَمَنْ يُجَارِي أَبَا حَفْصٍ وَسِيْرَتَهُ
أَوْ مَنْ يُحَاوِلُ لِلْفَارُوْقِ تَشْبِيْهًا

Maka siapakah yang akan mengikuti jalan hidup Abu Hafsh

Atau siapakah yang berusaha menyerupai al-Faruq.

3. ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu.
Beliau bergelar dzun nuurain (orang yang memiliki dua cahaya, karena telah menikahi dua puteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum), dia adalah orang yang selalu berbuat baik, bersedekah, selalu membaca al-Qur-an, selalu bersabar dan memiliki keimanan (yang kuat).

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, dia berkata, “Istri ‘Utsman, Nailah berkata ketika beliau terbunuh, ‘Sungguh kalian telah membunuhnya, sesungguhnya dia itu selalu menghidupkan seluruh malam dengan al-Qur-an dalam satu raka’at.'”[10]
‘Abdurrahman at-Taimi berkata, “Sungguh pada malam ini aku akan mengalahkan sekelompok orang untuk meraih Maqam Ibrahim. Tatkala aku melakukan shalat ‘Isya’, aku menyendiri menuju tempat itu hingga aku beribadah di dalamnya.” ‘Abdurrahman berkata, “Ketika aku sedang berdiri, tiba-tiba ada seorang laki-laki meletakkan tangannya di antara kedua pundakku, dia adalah ‘Utsman bin ‘Affan.” ‘Abdurrahman berkata, “Lalu ‘Utsman mulai membaca Ummul Qur-an (al-Faatihah), lalu dia membaca al-Qur-an hingga khatam, lalu dia ruku’ dan sujud, kemudian dia mengambil kedua sandalnya. Maka aku tidak mengetahui apakah sebelumnya dia telah melakukan shalat atau belum.”[11]

Tentang ‘Utsman bin ‘Affan ini digambarkan dalam sebuah sya’ir:

مَارَآهُ النَّـجْـمُ إِلاَّ سَاجِـدًا
أَوْ رَأَتْـهُ الشَّمْـسُ إِلاَّ باَذِلاً

Bintang tidak melihatnya kecuali ketika dia sedang sujud
Atau matahari tidak melihatnya kecuali ketika dia sedang mendermakan harta.

4. ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu
Dia adalah putera paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia adalah pedang beliau yang selalu terhunus dan dia adalah suami dari puteri beliau yang suci.

Dhirar bin Dhamrah al-Kinnani menyifati ‘Ali bin Abi Thalib ketika ia dipanggil oleh Amirul Mukminin, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Beliau tidak merasa senang kepada dunia dan kegemerlapannya dan beliau merasa senang dengan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah melihatnya pada beberapa kesempatan, malam telah menarik penutupnya dan bintang-bintangnya telah terbenam, beliau menuju ke mihrabnya sambil menggenggam jenggotnya, beliau meliuk-liuk seperti liukan orang yang sehat, beliau menangis seperti tangisan orang yang sedih, seakan-akan aku sekarang mendengarkannya ketika beliau berkata, ‘Wahai Rabb kami, wahai Rabb kami (sambil tunduk beribadah kepada-Nya),’ kemudian beliau berkata kepada dunia, ‘Kepadakulah menipu, kepadakulah memandang, sungguh jauh, sungguh jauh, tertipulah orang lain selain diriku, karena usiamu sangat pendek, tempatmu sangat hina, resikomu sangat sedikit. Aduh, aduh, alangkah sedikitnya bekal ini, alangkah jauhnya perjalanan ini, alangkah sepinya jalannya ini.'” Dhirar berkata, “Lalu air mata Mu’awiyah menetes di atas jenggotnya, dia tidak dapat menahannya dan beliau mengelapnya karena banyaknya dan sungguh orang-orang yang ada menjadi tercekik oleh tangisan, lalu Mu’awiyah berkata, ‘Apakah demikian keadaannya Abul Hasan, semoga Allah merahmatinya, bagaimana perasaanmu kepadanya, wahai Dhirar?'” Dhirar berkata, “Seperti perasaan orang yang memiliki anak satu-satunya yang masih dipangkuannya disembelih, air matanya tidak mau berhenti dan kesedihannya tidak mau terhenti.”[12]

5. ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu
Disebutkan dalam hadits:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ رُطَبًا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ.

“Barangsiapa yang senang jika dia dapat membaca al-Qur-an dalam keadaan basah sebagaimana dia diturunkan, maka hendaklah dia membacanya dengan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud).”[13]

‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu ketika mata sedang tampak tenangnya, beliau berdiri, lalu terdengarlah suara seperti suara lebah.[14]

Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Kami pernah bercakap-cakap pada suatu malam di rumah Abu Bakar tentang sebagian kebutuhan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami keluar, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di antaraku dan Abu Bakar. Tatkala kami sampai di masjid, tiba-tiba ada se-orang laki-laki sedang membaca al-Qur-an, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menyimaknya, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankan engkau hendak melakukan shalat ‘Isya’?’ Lalu beliau menyentuhku dengan tangannya, ‘Diamlah.’ ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata, “Lalu orang tersebut membaca al-Qur-an, ruku’ dan sujud, dia duduk berdo’a kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah, maka engkau akan diberi,’ kemudian beliau bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ رُطَبًا كَمَا أُنْزِلَ، فَلْيَقْرَأْ قِرَاءَةَ ابْنِ أُمِّ عَـبْدٍ، فَعَلِمْتُ أَنَا وَصَاحِبِي أَنَّـهُ عَبْدُ اللهِ.

‘Barangsiapa yang senang jika dia dapat membaca al-Qur-an dalam keadaan basah sebagaimana dia diturunkan, maka hendaklah dia membacanya dengan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud). Maka aku dan temanku (Abu Bakar) baru mengetahui bahwa orang tersebut adalah ‘Abdullah.’

Tatkala memasuki waktu pagi, aku pergi menemui ‘Abdullah untuk memberikan kabar gembira kepadanya, lalu ‘Abdullah berkata, ‘Abu Bakar telah mendahuluimu mengabarkan hal itu.’ (‘Umar berkata), ‘Tidaklah aku berlomba dengan Abu Bakar dalam satu kebaikan pun me-lainkan dia (selalu) lebih dahulu dariku.'”[15]

Diriwayatkan dari ‘Alqamah bin Qais, dia berkata, “Aku pernah bermalam bersama ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, lalu ia beribadah di awal malam, kemudian berdiri untuk melakukan shalat, lalu ia membaca al-Qur-an seperti halnya seorang imam membaca al-Qur-an di kampungnya, ia membacanya secara tartil tanpa mengulanginya dan orang yang ada di sekelilingnya dapat mendengarnya hingga gelap tidak tersisa melainkan seperti halnya antara adzan Maghrib hingga selesai darinya, lalu ia melakukan shalat Witir.”[16]

‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah berkata, “(Sudah) sepatutnya seorang penghafal al-Qur-an dikenal dengan malamnya ketika orang-orang sedang tertidur, dikenal dengan siangnya ketika orang-orang sedang tidak berpuasa, dikenal dengan kesedihannya ketika orang-orang bergembira, dikenal dengan tangisannya ketika orang-orang tertawa, dikenal dengan diamnya ketika orang-orang sedang membaur dan dengan kekhusyu’annya ketika orang-orang sedang bersikap sombong.”[17]

[Disalin dari kitab “Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja’uun” karya Muhammad bin Su’ud al-‘Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh ‘Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Manaaqib, bab Fadhaa-ili Ash-haabin Nabiy Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits no. 3650) dan Muslim dalam kitab Fadhaa-ilish Shahaabah, bab Fadhlush Shahaabah Radhiyallahu anhum, (hadits no. 2535).
[2]. HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Manaaqib, bab Fadhlu Abi Bakr, (hadits no. 3673) dan Muslim dalam kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, bab Tahriimu Sabbash Shahaabah Radhiyallahu anhum, (hadits no. 2540).
[3]. HR. Ahmad dalam kitab Musnadnya, (hadits no. 3589).
[4]. Lihat Hilyatul Auliyaa’ (I/76).
[5]. Ighaatsatul Lahafaan min Mashaayidisy Syaithaan, karya Ibnul Qayyim, (I/358).
[6]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Raf’ish Shaut bil Qiraa-ah fii Shalaatil Lail, (hadits no. 1329), at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalaah, bab Maa Jaa-a fii Qiraa-atil Lail, (hadits no. 447) dan Ahmad dalam Musnadnya, (hadits no. 867). Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib.”
[7]. Hilyatul Auliyaa’ (I/54).
[8]. Madaarijus Saalikiin baina Manaazili Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin, karya Ibnul Qayyim, (II/281).
[9]. Al-Bidaayah wan Nihaayah, karya Ibnu Katsir, (VII/149).
[10]. Az-Zuhd, karya Imam Ahmad, (hal. 127).
[11]. Hilyatul Auliyaa’, (I/57).
[12]. Hilyatul Auliyaa’ (I/85).
[13]. HR. Ahmad dalam kitab Musnadnya, (hadits no. 36) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahiihnya (II/186).
[14]. Az-Zuhd, karya Imam Ahmad (hal. 156).
[15]. Telah lalu takhrijnya.
[16]. Hilyatul Auliyaa’, (I/133).
[17]. Ibid, (I/130).