Imam Ibnu Mandah Rahimahullah, Sang Petualang Dalam Thalabil Ilmi

IMAM IBNU MANDAH RAHIMAHULLAH, SANG PETUALANG DALAM THALABIL ILMI

Oleh

Ustadz Ashim bin Musthofa Lc

Nama Dan Nasab Imam Ibnu Mandah Rahimahullah

Muhammad bin Ishâq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah Abu ‘Abdillâh al-‘Abdi al-Ashbahâni al-Hâfizh. Lebih populer dengan panggilan Ibnu Mandah.

Imam Ibnu Mandah rahimahullah lahir dari keluarga ilmu. Sang ayah berjuluk al-muhaddits (ahli hadits), sementara sang kakek Muhammad bin Yahya bergelar al-hâfizh. Maka, tidak salah bila disebut Imam Ibnu Mandah sosok ahli hadits dari putra ahli hadits dari keturunan ahli hadits.

Mandah adalah sebutan bagi Ibrâhîm bin al-Walîd bin Sandah bin Buththah bin Ustandâr. Dan nama Ustandar ialah Fairuzân, memeluk Islam saat para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka Ashbahân. Dan wala`-nya kepada ‘Abdul Qais.

Lahir Di Negeri Para Ulama

Selain berasal dari keluarga ahli ilmu, Imam Ibnu Mandah rahimahullah juga terlahir di negeri yang banyak melahirkan Ulama pada waktu itu, Asbahân pada tahun 311 H.

Peran Keluarga dalam Keilmuan Ibnu Mandah

Imam Ibnu Mandah rahimahullah berguru dahulu kepada sang ayah dan paman ayahnya, ‘Abdur Rahmân bin Yahya bin Mandah rahimahullah .

Keluarga banyak berperan dalam pembentukan karakter Ibnu Mandah sebagai orang yang mencintai ilmu. Atas perhatian sang ayah dan keluarga,  Imam Ibnu Mandah juga meriwayatkan hadits-hadits dari beberapa guru dari jalur ijâzah dari Imam ‘Abdur Rahmân bin Abi Hâtim, Abul ‘Abbâs bin ‘Uqdah, Al-Fadhl  bin Al-Hashîb dan sejumlah Ulama lainnya.

Bergelar Al-Jawwâl

Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyarnya[1]memberinya julukan al-jawwâl di belakang namanya. Maksud julukan tersebut adalah seseorang yang banyak melakukan perjalanan jauh menuju negeri-negeri yang berbeda-beda. Dalam hal ini, Imam Ibnu Mandah rahimahullah menempuh perjalanan jauh tersebut menuju berbagai kota dalam rangka mencari ilmu.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Beliau (Ibnu Mandah) telah bepergian ke tempat-tempat yang banyak (untuk thalabil ilmi).[2]

Jumlah guru sebanyak itu beliau temui dalam rihlah yang beliau tempuh menuju berbagai kota Islam masa itu menjadi bukti betapa banyak kota yang beliau kunjungi untuk tujuan mulia tersebut, thalabul ‘ilmi. Tidak ada orang yang menandingi Imam Ibnu Mandah dalam masalah ini.

Imam Ibnu Mandah rahimahullah yang dilahirkan di Ashbahan, dalam thalabil ilmi, menempuh perjalanan ke berbagai kota. Naisabur adalah kota pertama yang beliau datangi saat masih berusia 19 tahun. Kota-kota lainnya, Makkah, Madinah di Hijaz, Gazza, Homs, Damaskus, Baitul Maqdis, Tinnis, Sarkhas, Mesir, Bukhara, Baghdad dan lainnya.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Saya tidak mengetahui seseorang melalukan rihlah (perjalanan) dengan sangat banyak daripada Ibnu Mandah rahimahullah , dan tidak ada yang lebih banyak haditsnya disertai hafalan kuat dan ketsiqahannya melebihi Ibnu Mandah. Telah sampai kepada kami berita bahwa jumlah gurunya seribu tujuh orang”. [3]

Petualangan ke berbagai kota tersebut, membutuhkan 30 tahun lebih dari usia Imam Ibnu Mandah rahimahullah. Waktu yang sangat lama untuk thalabil ‘ilmi. Maka, sangat logis bila jumlah guru Imam Ibnu Mandah rahimahullah sebanyak seribu tujuh ratus orang, sebagaimana yang beliau katakan sendiri.

Guru-Guru Besar Imam Ibnu Mandah

Dari seribu tujuh ratus guru, ada sejumlah guru Imam Ibnu Mandah rahimahullah yang memiliki kedudukan tinggi dalam keilmuan mereka. Imam Ibnu Mandah  rahimahullah  telah memperoleh kesempatan mengambil ilmu dari imam-imam para huffâzh, seperti Imam Abu Hâtim Ibnu Hibbân, Abu Ali An-Naisâburi, Ath-Thabrâni dan lain-lain.

Murid-Murid Imam Ibnu Mandah Rahimahullah

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan banyak nama yang berguru kepada Imam Ibnu Mandah rahimahullah. Di antara nama-nama itu adalah Abu asy-Syaikh, Abu ‘Abdillâh al-Hâkim, Abu Nu’aim Al-Ashbahâni, Abu ‘Abdillâh Ghunjâr, Abu Sa’d al-Idrîsi, Tamâm ar-Râzi, Ahmad bin Al-Fadhl al-Bathirqâni dan lain-lain.

Prinsip Tegas Imam Ibnu Mandah Rahimahullah Dalam Mengambil Ilmu

“Aku telah menulis (hadits) dari seribu tujuh ratus syaikh. Dan aku telah berkeliling ke Timur dan Barat dua kali, namun aku tidak pernah mendekat ke orang yang punya keyakinan meragukan dan aku tidak mau mendengar dari ahli bid’ah, walau satu hadits pun”.

Prinsip di atas prinsip yang sangat penting bagi umat Islam untuk menjaga keselamatan aqidah dan pandangan agamanya, sehingga tetap berada di atas mahajjah baidhâ (jalan yang lurus lagi terang) dalam memahami dan menjalankan Islam.

Imam Ibnu Mandah Rahimahullah Menyanggah Golongan Dan Pemikiran Sesat

Dalam bidang ini, Imam Ibnu Mandah rahimahullahelah mewariskan karya-karya ilmiyah sebagai pegangan dan rujukan umat dalam menjaga aqidah Islam dan mengkoreksi penyimpangan-penyimpangan.

Beliau menulis kitab at-Tauhîd, ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah dan ar-Raddhu ‘alal Lafhzhiyyah. Selain itu, Imam Ibnu Mandah rahimahullah dan kitab al-Îmânuntuk menyanggah ideologi Murji`ah dan Khawarij.

Imam Ibnu Mandah Rahimahullah Wafat

Imam Ibnu Mandah al-Hâfih wafat pada usia 84 tahun pada tahun 395 H. Semoga Allâh Azza wa Jalla merihmati beliau dengan rahmat yang luas dan menjadikan semangat Ibnu Mandah dalam thalabul ilmi sebagai inspirasi umat Islam sekarang. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]Siyaru A’lâmin Nubalâ 17/28.

[2]Al-Bidâyatu wan Nihâyah 11/295.

[3]Siyaru A’lâmin Nubalâ17/30.