Abu Ishaq As-Sabi’i Rahimahullah, Dan Nasehatnya Bagi Para Pemuda

Nasehat Abu Ishaq Al Ilbiri Abu Ishak Dari Kufah Abu Ishaq Basrah Dua Abu Ishak Tasaqafi Abu Ishaq

ABU ISHÂQ AS-SABÎ’I RAHIMAHULLAH, DAN NASEHATNYA BAGI PARA PEMUDA

Oleh

Ustadz Abu Minhal Lc

Profil Singkat Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah

Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah adalah ‘Amr bin Abdillah al-Hamdâni al-Kûfi. Ulama ini lebih populer  dengan panggilan Abu Ishâq as-Sabî’i  rahimahullah. Beliau termasuk Ulama besar dan ahli hadits kota Kufah di negeri Irak pada masanya.

Pada tahun 34 atau 35 H, Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah dilahirkan. Tepatnya, pada kekhilafahan ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu.

Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah pernah menceritakan sendiri tentang hal tersebut, “Aku lahir pada dua tahun sebelum wafatnya Khalifah ‘Utsmân”.

Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah memperoleh kenikmatan besar dengan berjumpa dan berguru dengan generasi terbaik umat Islam, generasi Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah deretan nama-nama guru-guru beliau dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebagian dari mereka  memiliki riwayat yang banyak dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Mu’awiyah bin Abi Sufyân, Adi bin Hâtim, Ibnu ‘Abbâs, al-Bara bin Azib, Zaid bin Arqam, ‘Abdullah bin Amr bin al-Ash, Abu Juhaifah as-Suwâ`i , Sulaimân bin Shurd, ‘Umârah bin Ruwaibah ats-Tsaqafi, Abdullah bin Yazid al-Anshâri, Amr bin Hârits al-Khuza’i, Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhum dan lain-lain. [1]

Bahkan beliau pernah mengatakan, “Aku pernah menyaksikan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu sedang berkhutbah”.

Selain itu, Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah juga berguru kepada tokoh-tokoh besar dari generasi Tâbi’in: ‘Alqamah bin Qais, Masruq bin Ajda’, adh-Dhahhak bin Qais, ‘Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Syuraih al-Qadhi dan masih banyak lagi.

Dalam pembelajaran al-Qur`an, Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah mempelajarinya dari Aswad bin Yazîd dan Abu Abdir Rahman as-Sulami.

Karena tinggal di Kufah, dalam ilmu fiqih, Abu Ishaq mengikuti perguruan fiqih yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dan  Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu. Dan ia menonjol dalam bidang penguasaan fiqih Amirul Mukminîn Ali bin Abi Thâlib, sehingga disebut-sebut, “Siapa saja yang duduk belajar bersama Abu Ishâq, sungguh ia seperti duduk belajar kepada Ali Radhiyallahu anhu “.

Itulah sosok Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah termasuk dari generasi Tâbi’in, generasi yang melihat dan mereguk ilmu dari para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah  menilai Abu Ishâq rahiumahulllah sebagai sosok yang tsiqah (terpercaya).

Imam adz-Dzahabi t mengatakan, “Ia sosok pencari ilmu yang tekun dan dihormati”.

Pujian Imam Ali Ibnul Madini Rahimahullah Terhadap Keilmuan Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah

Imam ‘Ali Ibnul Madini, salah seorang guru besar Imam al-Bukhari rahimahullah pernah mengatakan, “Yang memelihara ilmu bagi umat Islam ada 6 orang: Abu Ishâq dan al-A’masy bagi penduduk Kufah, Qatadah dan Yahya bin Abi Katsir bagi penduduk Basrah dan Az-Zuhri bagi penduduk Madinah, serta Amr bin Dînâr bagi penduduk Makkah”.

Akhlak-Akhlak Mulia Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah

Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah juga dikenal berperangai baik dan berakhlak mulia.

Abu Bakar bin Ayyâsy berkata, “Aku tidak pernah mendengar Abu Ishâq mencela seorang pun. Dan bila berbicara tentang seorang Sahabat Nabi, seolah-olah ia Sahabat Nabi  yang paling utama di matanya”.

Ketika dipuji oleh asy-Sya’bi rahimahullah, “Engkau lebih baik dariku, wahai Abu Ishâq”, Abu Ishâq rahimahullah menjawab, “Bahkan engkaulah yang lebih baik dariku”.

Ibadah Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah

Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah seorang yang ikut serta berjihad beberapa kali untuk melawan kekuatan Romawi pada masa kekuasaan Mu’awiyah bin Abi Sufyân Radhiyallahu anhu, tekun berpuasa, membaca al-Qur`an dan mengerjakan shalat malam.

Setiap tiga hari sekali, Abu Ishâq rahimahullah mengkhatamkan al-Qur`an. Putra beliau, Yunus bi Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah berkata, “Setiap malam, ayahku membaca 1000 ayat”.

Bahkan ketekunan untuk beribadah tetap beliau lakukan, meski tubuh sudah melemah dan usia telah senja.

Pantaslah Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Beliau (Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah) termasuk Ulama yang mengamalkan ilmu dan termasuk orang-orang besar dari generasi Tâbi’in”.

Murid-Murid Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah

Ketika seseorang memiliki ilmu, ketakwaan dan ketekunan ibadah seperti yang diungkap di atas, maka tidak mengherankan jika banyak pencari ilmu datang kepada beliau. Orang-orang yang kemudian menjadi ulama-ulama besar dalam sejarah Islam pun berguru kepada beliau. Di antara nama mereka adalah Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri, Zâidah bin Qudâmah, Jarir bin Hâzim dan lain-lain. Bahkan Hamzah bin Habîb az-Zayyât, salah seorang imam qira`ah juga merupakan salah satu dari murid Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullahkarena beliau terhitung juga sebagai ahli di bidang qira`ah al-Qur`an.

Nasehat Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah Kepada Para Pemuda

Sudah seharusnya, seorang pemuda Muslim memainkan peran strategisnya dan memanfaatkan masa mudanya untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Tidak sebaliknya, justru menjadi bagian dari penyakit masyarakat dan menghabiskan masa penuh energi tersebut dalam kelalaian dan kemungkaran.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara (lainnya). (Salah satunya)…(Manfaatkanlah) masa mudamu sebelum datang masa tuamu”. [2]

 Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah pernah mendorong para pemuda untuk tekun beribadah dan memanfaatkan kesempatan dengan berkata, “Wahai para pemuda, manfaatkanlah kekuatan dan kebugaran kalian. Jarang sekali suatu malam berlalu kecuali aku membaca sebanyak 1000 ayat. Dan sesungguhnya aku membaca surat al-Baqarah dalam satu rakaat. Dan aku berpuasa di bulan-bulan haram, dan tiga hari di setiap bulannya serta puasa Senin dan Kamis”.

Ulama ini mengarahkan para pemuda agar menaruh perhatian terhadap ibadah-ibadah syar’i yang membutuhkan kekuatan fisik yang memang dimiliki oleh kawula muda. Dan beliau menceritakan apa yang sudah biasa beliau kerjakan, bukan untuk mencari pujian manusia in sya Allah, akan tetapi untuk menyemangati orang lain agar bersegera melakukan amal-amal shalat ketika kesempatan masih ada. [3]

Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah Wafat

Abu Ishâq as-Sabî’i wafat pada tahun 127 H dalam usia 93 tahun. Jenazahnya diiring oleh banyak pelayat, sehingga membuat gubernur Kufah yang baru adh-Dhahhâk bin Qais, “Sepertinya orang ini seorang ulama rabbani di tengah mereka”.

Semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati Abu Ishâq as-Sabî’i dengan rahmat yang luas. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Sebagian Ulama menyebutkan bahwa Sahabat Nabi yang menjadi guru Abu Ishâq berjumlah 38 orang. Lihat Siyaru A’lâmin Nubalâ 5/394.
[2]  HR. Al-Hâkim dan al-Baihaqi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jâmi no.1077.
[3]  Manhaju as-Salafi fîl Inâyati bil Qur`anil ‘Azhim , Dr. Badr al-Badr, hlm. 45

Imam Dhahhak Masa Muda