Semangat Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dalam Shalat Berjamaah

SEMANGAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM SHALAT BERJAMAAH

Shalat fardhu merupakan kewajiban yang paling mendesak dibandingkan kewajiban-kewajiban lain setelah dua kalimat syahadat. Dalam pelaksanaannya, selain harus memperhatikan syarat-syarat shalat dan rukun-rukunnya yang telah disebutkan Ulama, pelaksanaannya secara berjamaah pun tidak boleh diabaikan, mengingat keutamaannya amat besar.

Syaikh al-‘Utsaimîn rahimahullah menyatakan bahwa para Ulama telah bersepakat bahwa shalat berjamaah termasuk ibadah yang paling utama dan amal ketaatan yang paling agung. [1]

Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan sendiri dengan perhatian besar Beliau terhadap syiar Islam yang menonjol ini. Dua peristiwa berikut, sudah cukup menunjukkan perhatian besar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shalat berjamaah.

1. Saat sakit parah menjelang kematian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan shalat berjamaah.

Imam al-Bukhâri rahimahullah meriwayatkan dari ‘Ubaidullâh bin ‘Abdillâh bin ‘Utbah, “Aku masuk menemui ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Lalu aku bertanya kepadanya, “Maukah engkau menceritakan kepadaku sakitnya Rasûlullâh?”. ‘Aisyah menjawab, “Ya. Sakit Beliau kian parah, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?”. Kami menjawab, “Belum. Mereka menunggu engkau”. Beliau bersabda, “Letakkan buat aku air di bejana”. Kami pun melakukannya. Kemudian Beliau mandi dan hendak bangkit. Tiba-tiba Beliau tak sadarkan diri. Kemudian Beliau siuman, lalu bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?”. Kami menjawab, “Belum. Mereka menunggu engkau, wahai Rasûlullâh”. Beliau meminta, “Letakkah buatku air dalam bejana”.  ‘Aisyah mengatakan, “Kemudian Beliau duduk dan mandi. Kemudian hendak bangkit, tapi Beliau tak sadarkan diri kembali. Kemudian Beliau siuman, dan bertanya,”Apakah orang-orang sudah mengerjakan shalat?”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rasûlullâh”. Beliau meminta kembali, “Letakkan buat aku air dalam bejana”. Kemudian Beliau duduk dan mandi. Ketika akan bangkit, Beliau tak sadarkan diri kembali, lalu siuman, dan bertanya, “Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rasûlullâh?”. Sedangkan orang-orang telah duduk di masjid, menunggu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat Isya. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang ke Abu Bakar agar memimpin shalat orang-orang. Utusan datang kepadanya, seraya berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan engkau untuk memimpin shalat”. Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai ‘Umar, jadilah engkau imam shalat bagi orang-orang”. ‘Umar menjawab, “Engkau lebih berhak untuk itu”. Maka, Abu Bakar Radhiyallahu anhu  menjadi imam shalat untuk beberapa hari…”.

Allâhu Akbar!. Betapa semangat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadiri shalat berjamaah!. Sakit Beliau sudah bertambah parah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan, lalu sadarkan diri. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi untuk kedua kalinya dan kemudian mengalami pingsan kembali. Setelah sadarkan diri, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi untuk ketiga kalinya. Semua itu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan agar badan terasa segar, sehingga memungkinkan Beliau untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Namun, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan kembali, dan tidak mampu untuk pergi ke masjid. Akhirnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakar Radhiyallahu anhu untuk menjadi imam.

2. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat sangat memperhatikan urusan shalat berjamaah walaupun mereka berada dalam medan peperangan yang sengat dan menghadapi musuh.

Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallahu anhu mengisahkan, “Kami pernah memerangi kaum Juhainah bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menghadapi kami dengan perlawanan yang sangat sengit. Tatkala kami mengerjakan shalat Zhuhur, orang-orang musyrikin berkata, “Bila kita bisa menyergap mereka sekaligus, pastilah kita dapat menghabisi mereka”. Maka, Jibril mengabarkan hal itu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan itu kepada kami. Beliau menyampaikan,  orang-orang musyrikin berkata, “Akan tiba kepada mereka shalat yang lebih mereka cintai daripada anak-anak mereka. Tatkala datang waktu shalat Ashar, kami berbaris dalam dua barisan. Sementara kaum musyrikin ada di antara kami dan arah kiblat. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kami pun bertakbir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melakukan rukuk dan kami pun ruku (mengikuti Beliau). Kemudian Beliau  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud, dan bersujudlah barisan pertama bersama Beliau. Ketika mereka semua telah berdiri (kembali), barisan kedua bersujud. Lalu barisan pertama mundur ke belakang. Sementara barisan kedua maju menggantikan posisi barisan pertama. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir, dan kami pun bertakbir. Beliau rukuk dan kami pun mengikuti rukuk. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud. Dan barisan pertama ikut bersujud bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sementara barisan kedua tetap berdiri. Ketika barisan kedua telah bersujud, mereka semua duduk dan kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam bersama mereka semua. [2]

Dalam hadits mulia ini, tampak atensi besar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shalat berjamaah melalui beberapa sisi:

  1. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Zhuhur secara berjamaah di tengah peperangan melawan orang-orang dari suku Juhainah, dan mereka waktu itu melancarkan perlawanan sengit terhadap kaum Muslimin
  2. Diketahuinya rencana busuk  kaum musyrikin dari Malaikat Jibril untuk menyerang kaum Muslimin sekaligus saat mereka mengerjakan shalat Ashar berjamaah tidak mengurangi perhatian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakannya secara berjamaah.

Demikian pelajaran penting yang dapat dipetik melalui hadits di atas. Dan jangan sampai ada yang mengira bahwa Nabi mengerjakan shalat secara berjamaah dalam peperangan sekali saja. Sebab Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya beberapa kali di tempat-tempat yang berbeda-beda.

Imam Abu Sulaimân al-Khaththâbi rahimahullah mengatakan, “Shalat khauf caranya bermacam-macam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya dalam beberapa hari yang berbeda dengan cara-cara yang berbeda-beda pula”. [3]

Demikianlah sekilas tentang perhatian besar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perkara shalat berjamaah. Semoga Allâh Azza wa Jalla menanamkan kecintaan terhadap petunjuk Beliau pada hati seluruh Muslimin. Amin.

Diadaptasi dari Kunûzu Riyâdhi ash-Shâlihîn 13/361-364.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[1] Syarhu Riyâdhus Shâlihîn, Syaikh al-‘Utsaimîn 2/1297.

[2] HR. Muslim no.840.

[3] Ma’âlimus Sunan 1/269.