Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  Mengobati Kekecewaan Orang

Hadis Nabi Tentang Kekecewaan

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENGOBATI KEKECEWAAN ORANG

Dalam bermasyarakat, saling memberi hadiah merupakan kebiasaan yang baik yang patut dilestarikan. Umumnya, hadiah akan diberikan seseorang kepada orang lain yang disukai atau dicintainya. Melalui hadiah tersebut,  hubungan akan kian menguat dan rasa cinta akan semakin tumbuh subur dan mendalam antara mereka berdua.

Apa jadinya bila pemberian atau hadiah itu ditolak?. Penolakan akan memantik kekecewaan pada wajah si pemberi dan sekaligus menimbulkan tanda tanya mengenai sebab penolakan. Apakah lantaran ketidaksukaan, kebenciaan atau alasan-alasan lain.

Di sinilah, penting kiranya diketahui dan dipraktekkan, bila seseorang memang menolak hadiah atau sebuah pemberian dikarenakan sesuatu penghalang, hendaknya menyampaikannya dengan terus-terang kepada pemberi. Kekecewaan akan terobati dan ia kemudian akan mengerti dan memaklumi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menolak hadiah dari seseorang. Setelah tampak kekecewaan pada raut pemberi hadiah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan alasan penolakannya.

Dari ash-Sha’b bin Jatstsâmah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia berkata:

أَهْدَيْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ حِمَارًا وَحْشِيًّا, فَرَدَّهُ عَلَيَّ. فَلَمَّا رَأَى مَا فِيْ وَجْهِيْ,  قَالَ: إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ إِلَّا لِأَنَّا حُرُمٌ

Aku hadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor keledai liar. Akan tetapi, Beliau menolaknya. Ketika melihat ekspresi (kekecewaan) pada wajahku, Beliau berkata, “Sesungguhnya kami tidaklah menolak pemberianmu kecuali lantaran kami tengah dalam ihram”.[1]

Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan alasan penolakan Beliau atas hadiah yang diserahkan oleh ash-Sha’b bin Jatstsâmah Radhiyallahu anhu. Imam Al-Bukhâri rahimahullah memberi judul hadits di  atas dengan, “Bab orang yang menolak hadiah karena sebuah alasan”.

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat pengajuan alasan terkait penolakan hadiah untuk menenangkan hati pemberi hadiah”. [2]

Sebelumnya, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dan dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa sesungguhnya dianjurkan bagi orang yang menolak hadiah atau semisalnya agar ia menyampaikan alasan penolakan kepada pemberi hadiah untuk mengobati kekecewaan hatinya”. [3]

Selain mengobati hati yang merasa kecewa, penyampaian alasan akan mempertahankan kesatuan hati keduanya yang tumbuh  di atas rasa saling cinta dan sayang karena Allâh Azza wa Jalla.

Tidak ada kejadian yang lebih menunjukkan manfaat pemberitahuan alasan terkait sebuah sikap yang menurut orang lain tidak benar daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang kekecewaan kaum Anshar terhadap apa yang mereka lihat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat membagikan harta rampasan dari Perang Hunain.

Saat itu, Rasûlullâh membagikan harta rampasan yang banyak kepada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara, kaum Anshar tidak mendapat sedikit pun darinya. Beliau pun memerintahkan Sa’d bin ‘Ubadah  Radhiyallahu anhu untuk mengumpulkan mereka. Ringkasnya, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan alasan dari sikap Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih mengutamakan orang-orang Quraisy dalam pembagian harta rampasan.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kaum Anshar:

أَوَجَدْتُمْ يَا مَعْشَرَ اْلأَنْصَارِ فِيْ أَنْفُسِكُمْ فِي لُعَاعَةٍ مِنَ الدُّنْيَا تَأَلَّفْتُ بِهَا قَوْمًا لِيُسْلِمُوْا، وَوَكَّلْتُكُمْ إِلَى إِسْلَامِكُمْ، أَلَا تَرْضَوْنَ يَا مَعْشَرَ اْلأَنْصَارِ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيْرِ، وَتَرْجِعُوْا بِرَسُوْلِ اللهِ إِلَى رِحَالِكُمْ

Apakah kalian, wahai sekalian Anshar, merasa iri dalam hal remeh dari perkara dunia, yang aku lakukan untuk mengikat hati orang-orang agar mereka masuk Islam dengan kuat, sedangkan aku sudah percaya dengan keislaman kalian. Tidakkah kalian rela, wahai sekalian Anshar, orang-orang pulang dengan membawa kambing dan onta, sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah n ke perkemahan kalian?”

Kaum Anshar kemudian berkata, “Kami ridha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dan jatah kami”.  [4]

Hadits ini merupakan petunjuk yang amat jelas tentang pentingnya menenangkan perasaan orang lain dengan menjelaskan alasan untuk sebuah tindakan yang dilakukan.  Ia pun akan memahami dan mengerti sehingga prasangka buruknya pun akan sirna.

Pelajaran penting ini sepantasnya diikuti oleh seseorang dalam kehidupannya bersama masyarakat yang heterogen. Alasan-alasan, baik itu alasan syar’i atau alasan lain yang bersifat pribadi,  seyogyanya  ia sampaikan ketika tidak mau menerima bingkisan, menolak untuk menghadiri undangan tertentu, atau melakukan satu tindakan yang dipahami orang lain sebagai tindakan yang tidak tepat. Wallahu a’lam.

(Diadaptasi dari Kunûzu Riyâdhis Shâlihîn Daru Kunûzi Isybiliya, Cet.I, Th.1430-2009, 9/77-78.)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Muttafaqun alaih.

[2]  Fathul Bâri 4/41.

[3]  Syarh Shahîh Muslim hlm. 744.

[4]  HR. Ahmad dalam Musnad 3/76-77 no.11730 dengan sanad hasan.