Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Melihat

Dalil Allah Melihat Semut Hitam Maryam

ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MAHA MELIHAT

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Allâh Maha Sempurna dalam semua sifat-Nya. Diantara kesempurnaan sifat-sifat Allâh adalah Allâh Maha melihat; Allâh Azza wa Jalla memiliki asmâul husna, yaitu nama-nama yang paling indah. Setiap nama Allâh memuat sifat. Dan sifat melihat bagi Allâh adalah sifat dzatiyah, yaitu sifat yang selalu ada pada diri Allâh Azza wa Jalla .

DALIL-DALIL AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH
Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla memiliki sifat melihat. Di dalam al-Qur’an disebutkan beberapa lafazh, yaitu:

1. Ru’yah (Melihat)
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Allâh berfirman, “Janganlah kamu berdua (Musa dan Harun) khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” [Thaha/20:46]

2.  Bashar (Melihat)
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allâh telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allâh. Dan Allâh mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Al-Mujadilah/58: 1]

Maha Melihat di dalam ayat ini adalah terjemah dari Bashîr.

Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata, “Al-Bashîr adalah bentuk mubâlaghah (bentuk kata dalam bahasa arab yang menunjukkan kesempurnaan) dari al-mubshir (yang melihat). Al-Bashîr artinya yang pandangannya bisa melihat segala sesuatu. Dia bisa mengetahui dan melihat semut hitam yang merayap di kegelapan malam di atas batu hitam. Bahkan Dia melihat urat-urat semut, makanan yang mengalir di dalam tubuhnya. Sebagaimana imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allâh melihat urat-uratnya” Maha Suci Allâh dan Maha Tinggi. Dengan demikian, berarti penglihatan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengenai (menimpa) semua yang dilihat”. [Syarh al-Aqîdah al-Wasîthiyah, 1/162]

3. Nazhara ilaa (Melihat)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, ‘Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Sesungguhnya Allâh tidak melihat kepada wajah kamu dan harta kamu, akan tetapi Dia melihat hati kamu dan amal kalian.” [HR. Muslim, no. 2564]

Dan tentu sifat melihat Allâh Azza wa Jalla berbeda dengan sifat melihat makhluk, karena sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu sempurna, sedangkan sifat makhluk terbatas. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [Asy-Syura/42: 11]

Ayat ini menunjukkan wajibnya menolak tamtsîl (perbuatan orang yang menyerupakan Allâh dengan makhluk) dan wajibnya menetapkan adanya nama dan sifat bagi Allâh Azza wa Jalla .

PENJELASAN ULAMA
Sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahlus Sunnah tentang wajibnya meyakini sifat melihat bagi Allâh Azza wa Jalla .

Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah (wafat 324 H) berkata:
Mereka (para Ulama) bersepakat bahwa Allâh Azza wa Jalla itu mendengar dan melihat. [Risâlah ilâ Ahlits Tsaghar, hal. 225]

Imam al-Ashbahani rahimahullah (wafat 535 H) berkata:
Wajib atas semua kaum Mukminin untuk menetapkan sifat-sifat yang Allâh telah tetapkan untuk diri-Nya. Bukanlah seorang Mukmin, orang yang menolak (menafikan) apa yang Allâh telah tetapkan untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya. Maka, penglihatan Sang Pencipta tidak seperti penglihatan makhluk, dan pendengaran Sang Pencipta tidak seperti pendengaran makhluk. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Dan Katakanlah, “Bekerjalah kamu! Maka Allâh dan rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,” [At-Taubah/9: 105]

Penglihatan Allâh Azza wa Jalla kepada umat manusia tidaklah seperti penglihatan Rasûlullâh dan orang-orang Mukmin, walaupun kata “melihat” dipakai untuk semuanya.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Ingatlah ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku! Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? [Maryam/19: 42]

Allâh Maha Agung dan Maha Tinggi dari menyamai sifat apapun dari makhluk-Nya dengan sifat-Nya, atau persamaan perbuatan siapapun dari makhluk-Nya dengan perbuatan-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang di bawah tanah dan apa yang di bawah bumi yang ketujuh, serta apa yang di langit-langit yang tinggi. Tidak ada sesuatupun yang luput atau tersembunyi dari pandangan-Nya. Dia melihat apa yang berada di dalam lautan dan luasnya, sebagaimana Dia melihat apa yang di langit. Sedangkan manusia hanya melihat apa yang dekat dengan pandangannya, adapun yang jauh tidak mampu mereka lihat. Dan manusia tidak mampu melihat sesuatu yang ada di balik hijab (penghalang).

Terkadang nama itu sama, akan tetapi maknanya berbeda.” [Al-Hujjah fî Bayânil Mahajjah, 1/196-197]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat 751 H) berkata:
Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat, Dia memiliki pendengaran dan penglihatan, Dia bisa mendengar dan dan melihat. Tidak ada sesuatupun yang menyamainya dalam pendengaran-Nya dan penglihatan-Nya. [Shawâ’iqul Mursalah, 3/1020]

PENGARUH MENGIMANI SIFAT MELIHAT BAGI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
Sesungguhnya keimanan kepada sifat mendengar yang dimiliki oleh Allâh Azza wa Jalla banyak pengaruhnya pada diri manusia. Diantaranya:

1. Mengetahui kesempurnaan Allâh Azza wa Jalla.
Dengan mengimani sifat melihat bagi Allâh Azza wa Jalla , maka itu menunjukkan kesempurnaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna menunjukkan bahwa Dia berhak diibadahi. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim Alaihissallam menjelaskan ketidaksempurnaan tuhan yang disembah oleh bapaknya, dengan keadaannya yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat, serta tidak memberi manfaat sedikitpun. [Lihat: Rasâ-il Syaikh al-Hamd fil ‘Aqîdah, 2/12, dengan penomoran Syamilah]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Ingatlah ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku! Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? [Maryam/19: 42]

2. Beribadah dengan sebaik-baiknya
Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Rabbnya itu selalu melihatnya, maka  dia bersemangat untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ﴿٢١٧﴾ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ ﴿٢١٨﴾ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ﴿٢١٩﴾ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan bertawakkAllâh kepada (Allâh) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat-mu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Asy-Syu’arâ/26: 217-220]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan derajat ihsan kepada Malaikat Jibril Alaihissallam dengan mengatakan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allâh seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu”. [HR. Muslim, no. 8]

3. Takut Berbuat Kezhaliman dan Melanggar Larangan Allâh.
Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Rabbnya itu Maha Melihat, maka dia akan selalu menjaga diri jangan sampai berbuat zhalim kepada orang lain atau melanggar larangan Allâh. Karena setiap saat Allâh Subhanahu wa Ta’ala melihatnya dan setiap saat berkuasa mendatangkan siksa-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ ﴿٩﴾ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ ﴿١٠﴾ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ ﴿١١﴾ أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ ﴿١٢﴾ أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ﴿١٣﴾ أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ ﴿١٤﴾ كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allâh)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allâh melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya! [Al-‘Alaq/96: 9-15]

Inilah sedikit penjelasan tentang sifat melihat bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Semoga bermnafaat bagi kita semua

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]