Diantara Sebab Meraih Harta Adalah Do’a

DIANTARA SEBAB MERAIH HARTA ADALAH DO’A

Doa mempunyai kedudukan yang tinggi. Allâh Azza wa Jalla  memerintahkan para hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya, karena doa merupakan ibadah. Dia Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Nya.

Doa sendiri merupakan salah satu sebab yang bisa mendatangkan rezeki. Mengingat doa adalah bentuk tawajjuh (menghadapkan diri) dan permohonan kepada Allâh Azza wa Jalla  Yang Maha memberi rezeki, di mana di tangan-Nya lah semua kendali rezeki. Maka sudah semestinya kita memohonkan kepada-Nya dengan ibadah nan agung ini. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ، ثُمَّ تَلا : {وَقَالَ رَبُّكُمَ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} … الآيَة

Doa, dia itulah ibadah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat yang artinya:  Dan Rabb mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan permintaanmu.[1]

Artinya doa adalah ibadah yang memang pantas untuk disebut ibadah. Mengingat hal tersebut menunjukkan sikap menghadap pada Allâh Azza wa Jalla  dan berpaling dari semua selain Dia Subhanahu wa Ta’ala . Maka bila seseorang meminta rezeki, maka tidaklah ia memohon dan meminta kecuali kepada Allâh Azza wa Jalla  semata.

Allâh Azza wa Jalla  pun menegaskan bahwa Dia malu bila seorang hamba bersimpuh kepada-Nya dengan menengadahkan kedua tangannya tanpa mendapatkan hasil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ, يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفَرًا

Sesungguhnya Rabb kalian Maha Malu lagi Maha Pemurah. Dia malu kepada hamba-Nya, bila ia mengangkat kedua tangan memohon kepada-Nya lalu ia balikkan keduanya kosong tanpa hasil.[2]

Bahkan Allâh Azza wa Jalla  murka kala hamba tak meminta dan memohon-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di hadapan Allâh Azza wa Jalla  daripada doa.  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اَللَّهِ مِنَ الدُّعَاءِ

Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di hadapan Allâh Azza wa Jalla  daripada doa.[3]

Karena dengan berdoa, seorang hamba menampakkan kelemahan, kefakiran, kehinaan dan pengakuan akan kekuatan dan kekuasaan Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan ibadah disyariatkan tidak lain adalah sebagai wujud ketundukan dan menampakkan kefakiran di hadapan Allâh Azza wa Jalla  Sang Pencipta. Dan kala seorang hamba meninggalkan doa, tidak mau memohon kepada Allâh Azza wa Jalla , sejatinya itu adalah bentuk kesombongan dan kecongkakan, merasa tidak butuh kepada pemberian dan rahmat Allâh Azza wa Jalla . Dan ini bentuk kelancangan hamba terhadap Rabbnya.

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa dan meminta kepada Allâh Azza wa Jalla  agar dikaruniai rezeki yang baik dan meminta perlindungan dari kemlaratan. Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila telah salam dari shalat Shubuh, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allâh Azza wa Jalla , sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang  diterima[4]

Beliau juga memanjatkan doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ

Ya Allâh Azza wa Jalla , sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan.[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan suatu resep bagi orang terhimpit ekonomi hingga terlilit hutang. Pernah suatu ketika, datang seorang mukâtab kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu (mukâtab adalah seorang budak yang hendak menebus dirinya dari tuannya, dengan membayar sejumlah tertentu sehingga ia bisa bebas dari perbudakan). Ia berkata, “Aku tidak mampu membayar diriku agar aku terbebas dari perbudakkan. Karena itu tolonglah aku!” Ali Radhiyallahu anhu berkata, “Maukah engkau aku ajarkan kepadamu suatu kalimat yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepadaku? Sekiranya engkau mempunyai hutang walau sebesar gunung Shir, Allâh Azza wa Jalla  akan menunaikannya untukmu!” Beliau berkata, “Katakanlah (doa berikut):

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allâh Azza wa Jalla , cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu daripada apa haram. Dan berilah aku kecukupan dengan anugerah-Mu sehingga tidak memerlukan selain Engkau.[6]

Bila ada seseorang yang berdoa, namun tidak  juga dikabulkan, bisa saja itu dikarenakan faktor intern si pendoa; atau karena ada syarat doa yang tidak terpenuhi. Bila seorang hamba berdoa, sedangkan dalam doanya tidak ada hal yang menghalangi dikabulkannya doa, seperti tiga hal yang disebutkan dalam hadits berikut, maka doa tersebut pun akan dikabulkan dengan salah satu dari tiga hal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدُعَاءٍ إِلَّا اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ فِي الدُّنْيَا، وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ فِي الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يُكَفَّرَ عَنْهُ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدْرِ مَا دَعَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ أَوْ يَسْتَعْجِلْ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْجِلُ؟ قَالَ: ” يَقُولُ: دَعَوْتُ رَبِّي فَمَا اسْتَجَابَ لِي

“Tidaklah seseorang berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla , melainkan doanya pun akan dikabulkan. Bisa saja dengan disegerakan di dunia, atau disimpan untuk nanti pada hari akhirat, atau Allâh Azza wa Jalla  akan menghapuskan dosa-dosanya sesuai dengan kadar doanya. Itu selama ia tidak berdoa meminta suatu hal berdosa, atau memutus tali silaturahim, atau ia berlaku tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh, bagaimana maksud ia tergesa-gesa?” beliau menjawab, ”ia berkata, ‘Aku sudah berdoa kepada Rabb ku, namun Dia tidak mengabulkan doaku.”[7]

Ketika ia berkata, ‘Aku sudah berdoa, namun Dia tidak mengabulkan doaku’ si pendoa misalnya menganggap betapa doanya tidak kunjung dikabulkan, atau juga merupakan bentuk keputusasaan. Dan dua hal ini sama-sama tercela.

Adapun keadaan pertama, bahwa orang yang berdoa telah lama berdoa, namun tak kunjung dikabulkan, maka perlu diketahui bahwa dikabulkannya doa pun ada waktunya. Seperti disebutkan bahwa jeda antara doa Nabi Musa Alaihissalam dan Harun Alaihissalam atas Firaun dengan terkabulnya doa tersebut adalah selama rentang waktu 40 tahun!

Adapun keadaan kedua, yaitu si pendoa merasa putus asa dan pesimis, maka tidak ada yang berputus asa melainkan orang-orang kafir. Ditambah lagi, bahwa dikabulkannya doa bisa terwujud dalam berbagai bentuk.

Misalnya, dengan terwujudnya apa yang memang diminta pada waktu yang diinginkan. Atau terwujud namun di waktu yang lain, karena ada suatu hikmah. Atau bisa juga, wujud pengabulannya yaitu dengan ditolaknya suatu keburukan sebagai ganti dari dikabulkannya doa tersebut. Atau juga ia diberikan pemberian lain yang itu lebih baik daripada apa yang ia minta. Bisa juga itu menjadi simpanannya pada hari di mana ia lebih membutuhkan pahala dari apa yang ia minta, atau sebagai penghapus dosa yang sekadar dengan apa yang ia doakan.

Yang harus dilakukan pendoa adalah agar ia tidak merasa jemu dalam berdoa. Juga agar berdoa dengan niat tulus dan hati yang turut meresapinya, serta yakin doanya akan dikabulkan. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Berdoalah kepada Allâh Azza wa Jalla  sedangkan kalian yakin akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allâh Azza wa Jalla  tidak akan mengabulkan doa orang yang berdoa dengan hati lalai dan terlena.[8]

Juga agar menghindari hal-hal yang bisa menghalangi terkabulnya doa, seperti tiga hal yang disebutkan dalam hadits sebelumnya; yaitu meminta hal yang berbau dosa, atau memutus tali silaturahim, atau tergesa-gesa. Masuk dalam cakupan dosa yaitu semua yang nenyebabkan dosa. Sedangkan memutus tali silaturahim, masuk ke dalamnya semua hak kaum Muslimin dan tindakan menzhalimi mereka. Dan di antara hal yang menghalangi terkabulnya doa adalah memakan harta yang haram.

Pernah ada seseorang mengeluh kepada Ibrahim bin Adham, “Ada apa dengan kita ini?! Kita memanjatkan doa namun tidak kunjung dikabulkan?!”

Ibrahim bin Adham berkata, “Karena kalian ini mengenal Allâh Azza wa Jalla , namun tidak menaati-Nya. Kalian mengenal Rasul namun tidak mau mengikuti sunnahnya. Mengetahui al-Quran namun tidak mengamalkannya. Memakan nikmat Allâh Azza wa Jalla  namun tidak menunaikan syukur. Tahu surga namun tidak memburunya. Tahu neraka namun tidak lari darinya. Mengenal syaitan namun tidak memeranginya, justru menyepakatinya. Tahu kematian namun tidak mempersiapkannya. Memakamkan orang mati namun tidak juga mengambil pelajaran. Kalian melupakan aib kalian, justru menyibukkan diri dengan aib orang lain.”

Dalam berdoa, jangan pula berlaku melampaui batas, dengan menyebut kalimat-kalimat yang tidak diperkenankan. Misalnya dengan mengatakan, “Ya Allâh Azza wa Jalla ! aku memohon kepada-Mu bila Engkau berkenan.”

Juga hendaknya orang yang berdoa bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan mengharapkan doanya akan dikabulkan, tidak berputus asa dari rahmat Allâh Azza wa Jalla . Ibnu Uyainah berkata, “Janganlah apa yang didapatkan seseorang dalam dirinya  (kealpaan dan ketelodorannya) mencegah seseorang dari memanjatkan doa. Sungguh Allâh Azza wa Jalla  pun telah mengabulkan doa makhluk terjahat yaitu iblis, yaitu tatkala ia berkata, “Wahai Rabb ku, berilah aku tangguh hingga hari manusia dibangkitan.” Allâh Azza wa Jalla  pun menerima permintaannya dengan berfirman, “Sesungguhnya engkau termasuk orang yang diberi tangguh.” [Al-A’raf/ 7: 15]

Perlu juga diperhatikan waktu-waktu utama untuk berdoa, dan keadaan-keadaan yang biasanya akan mendapatkan ijabah. Seperti sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, ketika sujud dalam shalat, pada hari Jumat, waktu-waktu terdesak kesusahan, ketika safar, sakit dan lainnya. Juga agar meminta dengan sangat dalam berdoa. Sebagaimana Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka untuk mengulang doa tiga kali. Dan jangan dilupakan pula, bahwa paling tidak dengan berdoa kita berupaya mendapatkan pahala dari-Nya, karena kita telah menunaikan perintah berdoa yang itu adalah ibadah.

Dan termasuk rahmat Allâh Azza wa Jalla  untuk hamba-Nya, bahwa Dia mengabulkan doa orang yang dalam keadaan terdesak kesulitan. Seperti  halnya yang Allâh Azza wa Jalla  firmankan,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan… [An-Naml/ 27: 62]

Tidak ada tempat mengadu dan bersandar kala seseorang terdesak kesulitan, kecuali kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Siapakah yang dapat menghilangkan kesusahan dan mara bahaya selain Dia Subhanahu wa Ta’ala ? Allâh Azza wa Jalla  yang menjadi tempat memanjat doa ketika berbagai kesulitan mendera, yang dijadikan harapan kala bala menimpa. Dialah yang mengabulkan doa orang yang terdesak kesusahan, baik itu orang Mukmin maupun orang kafir. Allâh Azza wa Jalla  lah yang mengabulkan, kala ia berdoa dari lubuk hatinya yang paling dalam penuh keikhlasan. Pernah datang seseorang kepada Rasûlullâh seraya berkata, “Wahai Rasûlullâh! Kepada siapakah engkau ini menyeru?” Beliau pun menjawab,

أَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَحْدَهُ الَّذِي إِنْ مَسَّكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَ عَنْكَ وَالَّذِي إِنْ ضَلَلْتَ بِأَرْضٍ قَفْرٍ دَعَوْتَهُ رَدَّ عَلَيْكَ وَالَّذِي إِنْ أَصَابَتْكَ سَنَةٌ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَ عَلَيْكَ

Aku menyeru kepada Allâh Azza wa Jalla  semata. Yang bila ada mara bahaya mengenaimu lalu engkau berdoa kepada-Nya, Dia pun akan menghilangkan mara bahaya tersebut darimu. Yang bila engkau tersesat di suatu padang lengang tak ada tanda kehidupan, lalu engkau berdoa kepada-Nya, Dia pun akan mengembalikanmu. Yang bila ada paceklik yang menimpamu lalu engkau berdoa kepada-Nya, Dia pun akan menumbuhkan tanamanmu.[9]

Inilah diantara beberapa sebab meraih harta yang mungkin banyak diabaikan orang, padahal ia sangat menentukan. Semoga Allah k senantiasa memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa melakukan segala yang terbaik dan sejalan dengan syari’at-Nya.

(Diangkat dari kitab Anta wal Mal karya Adnan ath-Tharsyah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Surat Ghâfir/ 40: 60. Shahîh Sunan Abî Dâwud, no. 1312.
[2] Shahîh Sunan Abî Dâwud, no. 1320.
[3] Shahîh Sunan At-Tirmidzi, no. 2684.
[4] Shahîh Sunan Ibni Majah,  no.753.
[5] Shahîh al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 1287.
[6] Shahîh Sunan At-Turmudzi, no. 2822.
[7] Shahîh Sunan At-Turmudzi, no. 2652.
[8] Shahîh Sunan At-Turmudzi, no. 2766.
[9] HR. Ahmad no 20514.