Balasan Bagi Orang Yang Menjadikan Agama Sebagai Guyonan

Agama Sebagai Guyonan

BALASAN BAGI ORANG YANG MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI GUYONAN

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, MA*

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا ۖ لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung selain Allâh dan tidak pula pemberi syafaat. Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. [Al-An’am/6:70]

TAFSIR RINGKAS
“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau,”

Maksudnya, tinggalkanlah mereka! Urusan mereka tidaklah penting bagimu.

Pada ayat ini terdapat tantangan untuk mereka karena kekafiran, pengejekan dan penghinaan yang mereka lakukan. Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan di dalam surat al-Hijr bahwa Allâh Azza wa Jalla telah memelihara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang menghina. Allâh berfirman:

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

Sesungguhnya Kami memeliharamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” [Al-Hijr/15:95]

 “Dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya,” yaitu dengan Al-Qur’an itu, “agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri,”

maksudnya agar setiap jiwa selamat dari adzab yang diakibatkan oleh kesyirikan dan perbuatan-perbuatan maksiat.

“Tidak akan ada baginya pelindung selain Allâh,” yang bisa melindunginya dari adzab tersebut, “dan tidak pula pemberi syafaat,” yang bisa memberikan syafaat sehingga dia diselamatkan dari adzab neraka. “Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya,”

maksudnya meskipun dia menyerahkan apapun yang dia miliki, bahkan jika dia menebus dengan emas sepenuh bumi, niscaya tidak akan bermanfaat hal tersebut dan tetap tidak bisa selamat dari neraka.

“Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih” yang sangat panas “dan adzab yang pedih” yang sangat menyakitkan, “disebabkan kekafiran mereka dahulu” terhadap Allâh Azza wa Jalla , ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sehingga menyebabkan buruknya ruh-ruh mereka. Dan tidak ada yang cocok dengan sifat mereka tersebut kecuali adzab neraka.[1]

PENJABARAN AYAT
Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Biarkanlah mereka dan berpalinglah dari mereka! Biarkanlah mereka sementara waktu karena sesungguhnya mereka akan mendapatkan adzab yang besar. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَذَكِّرْ بِهِ

Peringatkanlah (mereka) dengannya’

maksudnya adalah peringatkan manusia dengan al-Qur’an ini dan berikanlah mereka peringatan akan balasan Allâh Azza wa Jalla dan adzab-Nya yang sangat pedih di hari kiamat.”[2]

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “yaitu (tinggalkanlah) orang-orang kafir yang jika mereka mendengar ayat-ayat Allâh, mereka mengejeknya dan saling bermain-main ketika menyebutnya. Disebutkan pendapat lain, yaitu: sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan hari raya untuk setiap kaum. Setiap orang menjadikan agama mereka yaitu hari raya mereka sebagai waktu untuk bermain dan bersenda gurau, sedangkan hari raya kaum Muslimin adalah Shalat, bertakbir, melakukan kebaikan-kebaikan, seperti para hari: Jumat, hari raya ‘Idul-Fithr dan ‘Idul-Adhha.”[3]

Ibnu ‘Asyûr rahimahullah mengatakan, “(Kata) ‘dînahum’ bisa bermakna millah (agama) yang mereka beragama, menjadikan jalan hidup dan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengannya … dan bisa bermakna adat (kebiasaan). … dan bisa berarti sebagian dari orang-orang musyrik yang bodoh menjadikan kebiasaan mereka bermain-main dan bersenda gurau.”[4]

Dari ketiga nukilan di atas kita bisa pahami bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk meninggalkan orang-orang kafir tersebut.

Adapun arti ‘dînahum’ pada ayat di atas, terdapat tiga pendapat dalam menafsirkannya, yaitu:

1. Dîn yang berarti millah (agama), maksudnya bermain-main dan bersenda gurau ketika mendengar ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla dibacakan adalah bagian dari agama mereka yang mereka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka dengannya.

2. Dîn yang berarti ‘âdah atau da’b (kebiasaan), maksudnya mereka melakukan hal tersebut karena itulah kebiasaan yang mereka lakukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Dîn yang berarti ‘îd (hari raya), maksudnya mereka menjadikan hari-hari raya mereka untuk bermain-main dan bersenda gurau.

Allâhu a’lam arti yang pertama lebih umum dan banyak disebutkan oleh para ahli tafsir.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

Dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah mereka tidak mengetahui kecuali yang zahir (tampak) dari kehidupan dunia.”[5]

Di dalam ayat lain, mereka juga mengatakan:

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Dan mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.” [Al-An’am/6:29]

Ini menunjukkan kecintaan mereka yang sangat kepada dunia, sehingga melalaikan mereka dari mengingat akhirat. Seperti itulah dunia, dia bisa menipu orang yang mengejarnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allâh adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kalian dalam (mentaati) Allâh.” [Luqmân/31:33]

Allâh Azza wa Jalla memperingatkan kepada kita tentang hakikat dunia agar kita tidak tertipu dengannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kalian serta berbangga-bangga dalam banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allâh serta ke-ridha-an-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al-Hadîd/57:20]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ

Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Quran) itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri.

Para Ulama tafsir sepakat bahwa kata ganti pada kata (وَذَكِّرْ بِهِ) yang berarti ‘peringatkanlah (mereka) dengannya’ kembali kepada al-Qur’an. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menyampaikan al-Qur’an kepada mereka, meskipun orang-orang kafir suka mencela kaum Muslimin dan agama Islam.

Para Ulama tafsir berbeda ungkapan dalam mengartikan (أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ), di antara arti yang disebutkan adalah sebagai berikut:

1. Seorang jiwa menyerahkan dirinya kepada kebinasaan, akibat dari perbuatannya. Ini adalah perkataan Mujahid, ‘Ikrimah dan as-Suddi rahimahullah .
2. Seorang jiwa binasa, akibat dari perbuatannya. Ini adalah perkataan Ibnu ‘AbbasRadhiyallahu anhuma.
3. Seorang jiwa tertahan akibat dari perbuatannya. Ini adalah pendapat Qatadah rahimahullah.
4. Seorang jiwa dibakar. Ini adalah pendapat adh-Dhahhak rahimahullah.
5. Seorang jiwa akan dihukum. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid rahimahullah. Dan disebutkan pendapat yang lainnya.

Melihat perbedaan ungkapan tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Seluruh ungkapan-ungkapan tersebut berdekatan dalam memaknainya. Dan kesimpulan artinya adalah (jiwa tersebut) menyerahkan dirinya untuk mendapatkan kebinasaan, menahan dirinya dari kebaikan dan menggadaikan dirinya untuk mendapatkan yang diinginkannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ﴿٣٨﴾ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ

“ Tiap-tiap diri tergadaikan (bertanggung jawab) atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan.” [Al-Muddatstsir/74:38-39]”[6]

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Maksud dari ayat adalah peringatkanlah mereka agar mereka beriman sehingga seorang jiwa tidak binasa akibat dari perbuatannya.”[7]

Pada potongan ayat yang kita bahas ini, Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan peringatan dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mereka, sehingga jika mereka menaati apa yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an, maka mereka akan beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Jika mereka telah menjadi orang yang beriman, maka ini akan menyelamatkan mereka dari siksa neraka yang sangat pedih. Tetapi jika mereka tetap dalam keadaan seperti itu, maka ini akan mengantarkan diri-diri mereka sendiri kepada kebinasaan di akhirat nanti.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا

Tidak akan ada baginya pelindung selain Allâh dan tidak pula pemberi syafa’at. Meskpun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya.

Ini seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” [Ali ‘Imran/3:91]

Berbeda dengan keadaan mereka di dunia, jika mereka ditawan atau ditahan dan diadzab di dunia, maka mereka masih memiliki kemungkinan untuk membebaskan diri dengan memberikan tebusan agar bisa terlepas dari tawanan, tahanan atau adzab tersebut. Di akhirat tidak akan bisa seperti itu.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا ۖ لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.

Inilah hukuman yang Allâh l berikan untuk mereka, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka karena perbuatan yang mereka lakukan selama hidup di dunia, mereka juga akan disediakan minuman yang sangat panas yang tidak bisa menghilangkan dahaga mereka, tapi justru akan mengadzab mereka dan mereka juga akan mendapatkan adzab yang sangat pedih yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Di dalam ayat lain Allâh Azza wa Jalla menyebutkan hukuman untuk mereka, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka, maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”[Al-A’raf/7:51]

Di dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa mereka akan dilupakan oleh Allâh Azza wa Jalla , sehingga tidak akan ada lagi rasa belas kasihan kepada mereka. Begitu pula Allâh Azza wa Jalla menyebutkan hukuman lain untuk mereka di dalam firman-Nya:

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ ﴿٣٣﴾ وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ ﴿٣٤﴾ ذَٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

“Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (adzab) yang mereka selalu mengolok-ngoloknya. Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kalian sebagaimana kalian telah melupakan pertemuan (dengan) hari kalian ini dan tempat kembali kalian adalah neraka dan kalian sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian telah menjadikan ayat-ayat Allâhsebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak akan dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.” [Jatsiyah/45:33-35]

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa mereka akan mendapatkan hukuman seperti yang telah disebutkan di atas dan mereka juga tidak akan dikeluarkan dari neraka dan tidak pula diberikan kesempatan untuk bertaubat. Sungguh mengerikan ancaman Allâh Azza wa Jalla untuk orang-orang yang memiliki sifat di atas. Mungkin bisa saja mereka selamat di dunia, tetapi mereka tidak akan selamat dari siksaan Allâh Azza wa Jalla di akhirat nanti.

PERINTAH UNTUK BERPALING DARI ORANG-ORANG KAFIR YANG MENCELA AGAMA
Ayat yang sedang kita bahas ini membahas perintah Allâh Azza wa Jalla kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjauhi dan membiarkan orang-orang yang menyibukkan dirinya untuk mencela dan mengejek orang-orang Islam dan agama Islam. Apa yang mereka lakukan tidaklah berbahaya untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak perlu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapinya dengan rasa takut dan was-was yang berlebih. Allâh Azza wa Jalla telah menjaga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akan tetapi, Allâh Azza wa Jalla juga memberikan kewajiban kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahi mereka dengan membacakan al-Qur’an kepada mereka, agar mereka mendapatkan peringatan. Berkaitan dengan ayat ini, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴿٩٤﴾ إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ ﴿٩٥﴾ الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ ﴿٩٦﴾ وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿٩٧﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ﴿٩٨﴾ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memeliharamu daripada (kejahatan) orang-orang yang mengolok-olok(mu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allâh; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” [Al-Hijr/15:94-99]

Inilah yang seharusnya kita lakukan sebagai bentuk peneladanan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila ada orang kafir yang selalu mencela kita dan agama kita -dan itu pasti akan selalu ada-, maka kita diperintahkan untuk berpaling dari mereka, dan tidak mengakibatkan dada kita sesak dan tidak takut akan makar dan kejahatan yang mereka perbuat, karena kita memiliki Allâh Azza wa Jalla yang telah menjamin orang yang beriman dan bertakwa untuk mendapatkan keselamatan dari tipu daya mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

 “Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kalian mendapatkan bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan ke-mudharat-an kepada kalian. Sesungguhnya Allâhmengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran/3:120)

Jadi kita bisa simpulkan, cara untuk menghadapi mereka adalah dengan bersabar dan bertakwa.

KESIMPULAN
1. Kita juga diperintahkan untuk meninggalkan dan tidak menghiraukan orang-orang kafir yang bermain-main dan bersenda gurau ketika mendengar ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla dibacakan, karena mereka menganggap ini adalah bagian dari agama mereka yang mereka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka dengannya.

2. Kecintaan seseorang terhadap dunia akan melalaikan dari akhirat, karena hakikat kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu seseorang.

3. Kita juga diperintahkan untuk membacakan ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla kepada mereka, sebagai peringatan untuk mereka akan adzab yang sangat pedih di akhirat nanti.

4. Orang kafir yang tidak menerima peringatan setelah dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, maka mereka telah mengantarkan dirinya sendiri kepada kebinasaan di neraka nanti.

5. Di akhirat tidak ada yang bisa menjadi penolong kecuali Allâh Azza wa Jalla . Begitu pula syafaat dan tebusan-tebusan tidak akan bermanfaat untuk orang-orang kafir.

6. Hukuman untuk orang-orang kafir yang suka bermain-main dan bersenda gurau ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an dan untuk orang-oraang menghina Islam dan orang Islam di antaranya adalah mereka akan diberikan air yang sangat mendidih, diadzab dengan adzab yang sangat pedih, dilupakan dan tidak dipedulikan oleh Allâh, tidak akan dikeluarkan dari neraka dan tidak pula diberi kesempatan untuk bertaubat.

7. Cara terbaik unuk menghadapi tipu daya dan makar orang-orang kafir adalah dengan cara bersabar dan bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr wa bihâmisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-Tafâsîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm Wal-Hikam.
  2. Al-Jâmi’ Li Ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi. Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyah.
  3. At-Tahrîr Wat-Tanwîr. Muhammad ath-Thahir bin Muhammad bin Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah at-Tarikh al-‘Arabi.
  4. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh: Dâr ath-Thaibah.
  5. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzhîm. Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr ath-Thaibah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
* Pengurus dan Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadist OKU Timur, Sumatera Selatan, dan pengasuh kuncikebaikan.com.
[1] Lihat Aisar at-Tafâsîr hal. 400.
[2] Tafsîr Ibni Katsîr III/279.
[3] Tafsîr al-Baghawi III/155. Pendapat kedua dikatakan oleh al-Kalbi sebagaimana disebutkan dalam Tafsîr al-Qurthubi VII/15.
[4] At-Tahrîr Wa At-Tanwîr VI/158.
[5] Tafsîr al-Qurthubi VII/16.
[6] Tafsîr Ibni Katsiir III/279.
[7] Tafsiir Al-Baghawi III/156.