Perintah Menyembelih Ujian Nabi Ibrahim Alaihissallam

Allah Ibrahim Dan Ismail Dalil Perintah Menyembelih Dalil Yg Memuat Mimpi Nabi Ibrahim Utk Menyembelih Putranya Firman Allah Ketika Nabi Ibrahim Menyemblih Anaknya Layar Belakang Nabi Ibrahim Di Uji Untuk Menyembeleh Putranya

PERINTAH MENYEMBELIH UJIAN NABI IBRAHIM ALAIHISSALLAM

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.[1]

Pada kesempatan ini, kita akan lihat bagaimana Nabi Ibrahim –imamnya ahli tauhid dan kekasih Allâh- memberi contoh kepada kita cara bersabar menghadapi cobaan.

1. Ketika diperintah untuk membawa istri dan putranya (Isma’il) ke lembah tak bertuan lagi tandus. Beliau laksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allâh, sehingga Allâh menunjukkan jalan keluar bagi keduanya, dan menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

2. Selang beberapa tahun, Allâh perintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya (Isma’il), yang dikaruniakan padanya setelah berusia 80 tahun. Beliau pun tunduk terhadap perintah Rabbnya. Dan sungguh ini adalah cobaan yang teramat berat, sebagaimana Allâh firmankan:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [As-shâffât /37: 106]

Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya ini termaktub dalam firman Allâh yang artinya:
Dan Ibrahim berkata,”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [As-shâffât /37: 99-113]

Dari ayat-ayat yag mulia di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran berikut:

PELAJARAN PERTAMA:
Doa memohon keturunan yang baik menjadi perhatian khusus para nabi dan orang shalih
Dalam banyak ayat Allâh menerangkan kepada kita bahwa para nabi dan orang-orang shaleh terdahulu tekun memanjatkan doa, memohon keturunan yang baik. Perhatikanlah para nabi berikut:

1. Ketika Nabi Ibarahim meninggalkan kota asalnya, beliau berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikarunia putra yang shaleh, lalu Allâh Azza wa Jalla kabulkan permohonannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Ya Rabbku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. [As-shafat/37:100-101].

2. Nabi Zakaria yang tekun memanjatkan doa agar dikaruniai keturunan yang baik. Allâh berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” [Âli ‘Imrân/3:38]

3. Para hamba Allah yang shaleh, mereka juga memanjatkan doa:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al-Furqân /25: 74]

Selain memohon dikarunia keturunan yang baik, para nabi dan orang-orang shaleh juga memohon agar Allâh menjaga dan menjadikan ketururan mereka sebagai para hamba yang berserah diri kepada-Nya. Mereka melakukan ini dengan beberapa alasan:

1. Karena jika sang anak meninggal di usia belia, kelak pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ الْجَنَّةَ قَالَ يُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا فَيُقَالُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ

Tidaklah dua orang muslim (suami dan istri) yang meninggal tiga orang anaknya sebelum baligh, melainkan Allâh akan memasukkan keduanya kedalam surga disebabkan kasih sayang Allâh kepada anak-anaknya, ketika mereka diseur, “Masuklah kalian kedalam surga!”, Mereka menjawab, “Orang tua kami terlebih dahulu”, Maka diseur, “Masuklah kalian beserta orang tua kalian kedalam surga.[2]

2. Karena anak yang shaleh senantiasa mendo’akan serta membuat hati orang tua menjadi sejuk dan tentram.

3. Karena kebaikan anak yang shaleh terus mengalir bagi orang tuanya, meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah (yang terus mengalir), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.[3]

PELAJARAN KEDUA:
Allâh selalu memberi jalan keluar dari setiap cobaan
Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam meninggalkan kota asal dan kaumnya dikarenakan mereka menolak dakwahnya, beliau memohon kepada Allâh agar dikaruniai keturunan yang shaleh. Permohonan beliau q ini dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan putra yang sangat bijak yang diberi nama Ismail. Putra pertama beliau, sebelum kelahiran Ishaq. Ini kesepakatan kaum Muslimin juga ahlul kitab.

Belum lama sejak kelahiran putera kesayangannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar membawa anak beserta ibunya ke lembah gersang yang tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana tanpa bekal makan dan minum yang cukup. Dengan sebab tawakkal keduanya, Allâh Azza wa Jalla memberikan jalan keluar dan menganugerahkan rezeki.

Dalam firman Allâh, yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (As-Shâffât/37:102), artinya: ia dalam masa tumbuh kembang, di mana ia bisa pergi dan berjalan bersama ayahnya. Nabi Ibrahim kerap mengunjungi anak dan istrinya yang berada di lembah tak berpenghuni, dekat dengan calon Ka’bah untuk menengok keduanya. Diriwayatkan bahwa beliau mengendarai buraq.[4]

Firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Ibrahim berkata, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (As-Shâffât/37:102)

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim Alaihissallam memberitahukan mimpi tersebut kepada putranya adalah agar ujian tersebut terasa lebih ringan (saat dijalani-red),  juga untuk menjajaki seberapa dalam kesabaran dan kepatuhan sang anak kepada Allâh serta orang tuanya.

Firman Allâh Azza wa Jalla berikutnya menyebutkan jawaban anak yang shaleh tersebut, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

Artinya aku akan bersabar dan mengharap pahala dari-Nya. Dan Nabi Isma’il benar-benar memenuhi janjinya.

Kejadian selanjutnya, diabadikan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), [As-Shâffat/37:103]

Artinya, keduanya berserah dan patuh, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allâh dan Nabi Ismail menaati Allâh dan ayahnya. Nabi Ibrahim membaringkan anaknya dengan ditengkurapkan dan akan disembelih di tengkuknya, agar tidak melihat wajahnya, agar lebih ringan bebannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, syaitan datang menghalangi jalan, namun beliau berhasil mendahuluinya. Lalu Malaikat Jibril membawanya ke jumrah ‘Aqabah, syaitan kembali menghalangi sehingga beliau melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil sampai pergi. Lalu syaitan kembali menghalangi beliau di jumrah Wustha dan Nabi Ibrahim melemparinya lagi dengan tujuh biji batu (sampai ia pergi). Setelah itu Nabi Ibrahim menengkurapkan Ismail yang mengenakan pakaian serba putih, Dia berkata, “Ayahku, tidak ada kain lain yang nanti bisa engkau jadikan kafanku selain yang aku kenakan ini, maka lepaslah baju ini dan jadikan sebagai kafanku.” Saat Nabi Ibrahim Alaihissallam hendak melepaskan baju Ismail, terdengar suara dari belakangnya, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (As-shaffât/37:104-105), Nabi Ibrahim menoleh dan ternyata telah ada seekor domba putih bertanduk yang bermata hitam lebar.[5]

Oleh karena itu, Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Syaitanlah yang kalian lempar, agama Nabi Ibrahim yang kalian ikuti.”[6]

Firman-Nya: Dan Kami gantikan untuknya dengan sembelihan yang agung [Ash-Shaffât/37:107]

Yaitu, kami ganti dengan kambing putih yang bertanduk dan bagus matanya.

Perhatikanlah! Ujian yang berat, diakhiri dengan jalan keluar dari Rabb semesta alam.

PELAJARAN KETIGA:
Berbakti kepada ayah merupakan akhlaq para nabi
Dalam masalah berbakti kepada orang tua, Nabi Ismail Alaihissalam memberikan contoh terbaik.

1. Ketika ayahnya berkata kepadanya, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” [As-Shâffât/37:102].

Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail Alaihissallam menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

2. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam datang menjenguk Nabi Ismail, namun beliau Alaihissallam tidak bertemu dengannya, lalu berpesan kepada istrinya, “Sampaikan salamku untuknya dan katakan kepadanya agar mengganti kayu palang pintunya!” maka saat Nabi Ismail Alaihissallam menanyakan prihal lelaki itu dan pesannya. Istrinya menjawab, “Dia menitipkan salam dan menyuruhmu mengganti kayu palang pintumu.” Ismail berkata lagi, “Itu ayahku, dan ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Sekarang, pulanglah ke keluargamu!”

Nabi Ismail menceraikan istrinya. Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ayah.

3. Ketika Nabi Ibrahim datang menjenguknya lagi dan tidak menemukannya juga. Sepulangnya, Nabi Ismail menanyakan lagi pesannya dan melaksanakan pesan itu sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Pesan itu berisi agar tidak menceraikan istrinya itu.

4. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam mendatanginya sementara Nabi Ismail sedang meraut anak-anak panah di bawah naungan pohon besar dekat dengan sumur Zamzam. Ketika melihat ayahnya ia berdiri menyambutnya, bersikap selayaknya seorang anak kepada bapaknya, dan sebaliknya. Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allâh memerintahkanku untuk melakukan sesuatu.” Nabi Ismail Alaihissallam berkata, “Laksanakanlah apa yang Rabbmu perintahkan!” Nabi Ibrahim berkata, “Engkau akan membantuku?” Kata Nabi Ismail, “Ya, aku akan membantumu.” Nabi Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allâh memerintahkan kepadaku untuk membangun Rumah-Nya di sini.”

Lalu Nabi Ismail mulai membawakan batu dan Nabi Ibrahim mulai membangun, sampai bangunan selesai.

Ini juga di antara bentuk bakti Ismail kepada bapaknya.

Jadi, bakti kepada orang tua merupakan akhlak para nabi, karena itu termasuk amalan yang paling Allâh cintai. Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam masalah kedua orang tuanya karena Allâh Azza wa Jalla telah berwasiat agar berbuat baik kepada keduanya.

KESIMPULAN
Nabi Ibrahim Alaihissallam telah menunjukan contoh yang paling baik dalam melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala meskipun perintah tersebut sangat berat yaitu meninggalkan anak semata wayang dan ibunya di daerah tandus dan tanpa penghuni dilanjutkan dengan perintah menyembelih anak semata wayangnya. Meski sangat berat, beliau Alaihissallam tetap tunduk dan melaksanakannya.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita semua kesiapan untuk senantiasa tunduk terhadap segala perintah Allâh Azza wa Jalla , baik yang kita ketahui hikmahnya ataupun yang tidak diketahui.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih; HR. at-Turmudzi no 2398, an-Nasa’i 7481, Ibnu Majah 4023, dan dishahihkan Ibnu Hibban 2909 dan al-Hâkim 1/ 40. Lihat Ash-Shahîhah 143.
[2] Shahih; HR. an-Nasa’i 1876, al-Baihaqi 4/68 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . [al-Albani dalam Ahkâm al-Janâ’iz 23 berkata: sanadnya shahih sesuai denga syarat Bukhâri dan Muslim]. Asal hadits ada dalam Shahih al-Bukhâri 102 dan Muslim 2632.
[3] Shahih; HR. Muslim 1631.
[4] Tafsir Ibnu Katsir 5/ 351.
[5] HR. Ahmad 1/297, al-Baihaqi 5/154, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 1-628. Lihat Shahih At-Targhib 1156.
[6] HR. Al-Baihaqi dalam As-sunan 5/ 153, al-Hakim1/466, dan beliau mensahihkannya sesuai

Nabi Ibrahim Tidak Menoleh Ketika Ditanya