Mengenal Pribadi Nabi Ibrahim Alaihissalam Dalam Al-Qur’an Dan Hadits

MENGENAL PRIBADI NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS [1]

Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah nabi yang namanya selalu kita sebut dalam shalat kita; Seorang nabi yang Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam termasuk kita disuruh untuk meneladani beliau Alaihissalam. Siapakah dan Bagaimanakah pribadi beliau Alaihissalam ?

Berikut kami bawakan beberapa hal terkait pribadi beliau Alaihissalam yang kami sajikan dalam poin-poin.

1Beliau Alaihissalam termasuk para Nabi yang mendapatkan wahyu dari Allâh Azza wa Jalla.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud..[An-Nisa’/4:163]

Bahkan beliau Alaihissalam termasuk para rasul yang mendapat gelar ulul azmi. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Dan (Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh..[Al-Ahzâb/33:7]

Juga firman Allâh Azza wa Jalla :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. [Al-Ahqâb/46:35]

Ulul azmi Yaitu para rasul yang super sabar dalam menghadapi penentangan dan pembangkangan kaum mereka.

2. Allâh Azza wa Jalla menakdirkan kenabian dari anak keturunan beliau Alaihissalam , sebagaimana keutamaan ini juga Allâh Azza wa Jalla anugerahkan untuk nabi Nuh Alaihissalam.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan Kami anugrahkan Ishak dan Ya’qub kepada Ibrahim, dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan Sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh. [Al-Ankabût/29:27]

Juga firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ ۖ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik. [Al-Hadid/57:26]

Saat menjelaskan ayat ke-27 dari Surat al-Ankabut di atas, Syaikh Abdurrahman Nashir as-sa’di rahimahullah mengatakan, “Tidak ada seorang nabi pun setelah Nabi Ibrahim kecuali berasal dari anak keturunan beliau Alaihissalam dan tidak satu kitab pun yang diturunkan kecuali kepada anak keturunan beliau Alaihissalam, termasuk kepada penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam .

Dan ini termasuk kedudukan tertinggi dan paling membanggakan, dimana materi sumber hidayah, kasih sayang, kebahagian dan keberuntungan berada pada anak keturunan beliau Alaihissalam . Melalui tangan-tangan anak keturunan beliau Alaihissalam orang-orang mendapatkan petunjuk, menjadi beriman dan menjadi orang-orang shalih.”

Abul Fida’ Ismail ibni Katsir dalam kitab tafsir beliau rahimahullah mengatakan, “Tidak ada seorang nabi pun setelah Nabi Ibrahim Alaihissalam kecuali berasal dari anak keturunan beliau Alaihissalam . Semua nabi bani Israil berasal dari anak keturunan Nabi Ya’qub putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim, sampai nabi terakhir dari bani Israil yaitu Nabi Isa Alaihissalam bin Maryam yang menyampaikan kabar gembira kepada khalayak ramai akan kedatangan seorang nabi dari orang arab quraisy al-hasyimi, penutup para Nabi secara mutlak, pemimpin bani Adam di dunia dan akhirat, yang Allâh Azza wa Jalla pilih dari orang arab pilihan yang berasal dari garis keturunan Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim alahimussalam. Tidak ada seorang nabi pun yang berasal dari anak keturunan Nabi Ismail Alaihissalam kecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam .”

3. Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah khalîlurrahman (kekasih Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Pengasih), sebagaimana juga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam juga menjadi khalîlurrahman setelah Nabi Ibrahim Alaihissalam
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allâh, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allâh mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. [An-Nisa’/4:125]

Kata khalîl itu berasal dari kata al-khullah yang bermakna puncak kecintaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:

وَإِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا

Saya berlepas diri kepada Allâh Azza wa Jalla dari menjadikan salah seorang diantara kalian sebagai khalîl (kesayangan atau kekasih), karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menjadikanku sebagai khalîl-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalîl (kesayangan). Seandainya aku boleh menjadikan salah seorang dari umatku sebagai khalîl, maka tentu aku telah menjadikan Abu Bakr Radhiyallahu anhu sebagai khalîlku. [HR. Muslim, no. 532 dari hadits Jundub bin Abdillah Radhiyallahu anhu]

4. Nabi Ibrahim Alaihissalam akan menjadi orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا َ

Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan dalam keadaan belum disunat.

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat:

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

(yaitu) pada hari kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya. [Al-Anbiya’/21:104]

وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Dan orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim. (HR. Al-Bukhâri, no. 3349 dari hadits Ibnu Abbâs z )

5. Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah orang pertama yang kedatangan dan menjamu tamu.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ﴿٢٤﴾ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ﴿٢٥﴾فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ﴿٢٦﴾فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ﴿٢٧﴾فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu para malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salâmun”. Ibrahim menjawab, “Salâmun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silahkan anda makan.”

(Tetapi mereka tidak mau makan), Karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq).[Adz-Dzâriyât/51:24-28]

6. Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah imamnya orang-orang yang mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla .
Allâh Azza wa Jalla memberikan pujian kepadanya dalam kitab-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 (Nabi) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allâh) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. [Ali Imran/3:67]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allâh dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allâh) [An-Nahl/16:120]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allâh berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allâh berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zhalim”. [Al-Baqarah/2:124]

Beliau Alaihissalam memusuhi segala bentuk kesyirikan dan menghancurkan berhala dengan tangan beliau sendiri. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ﴿٥١﴾إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan hidayah kebenaran kepada Ibrahim sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (ingatlah), ketika Ibrahim Berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” [Al-Anbiya’/21:51-52]

Nabi Ibrahim bersumpah dengan nama Allâh Azza wa Jalla akan menghancurkan berhala-berhala tersebut.

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ ﴿٥٧﴾ فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

Demi Allâh! Sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Lalu Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. [Al-Anbiya’/21:57-58]

Tidak hanya itu, Nabi Ibrahim Alaihissalam juga mencela kaumnya yang menjadikan berhala-berhala itu sebagai sesembahan. Nabi Ibrahim Alaihissalam mengatakan:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ﴿٦٦﴾أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Ibrahim berkata, “Mengapakah kamu menyembah selain Allâh sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allâh. Maka apakah kamu tidak memahami?” [Al-Anbiya’/21:66-67]

7. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim Alaihissalam .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allâh.” [An-Nahl/16:123]

Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan kepada umat Islam untuk mengikuti millah (agama) Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Jadi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam dan umatnya mengikuti millah Nabi Ibrahim. Adapun orang-orang yang membenci millah Nabi Ibrahim, berarti dia termasuk orang-orang yang membodohi dirinya sendiri, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnyadi dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh. [Al-Baqarah/2:130]

8. Nabi Ibrahim Alaihissalam telah memberikan contoh terbaik dalam masalah al-wala’ wal bara’.
Oleh karena itu Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mencontoh beliau Alaihissalam .
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dari dari apa yang kamu sembah selain Allâh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allâh saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allâh.” [Al-Mumtahanah/60:4]

Ketika menjelaskan tentang Nabi Ibrahim Alaihissalam yang memintakan ampun untuk ayahnya yang masih musyrik pada ayat di atas, Syaikh Abdurrahman Nashir as-sa’di t mengatakan, “Kalian tidak boleh mengikuti Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam permohonan ampunnya kepada Allâh Azza wa Jalla untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh memohonkan ampun untuk orang musyrik sambil kalian mengatakan, ‘Kami mengikuti Nabi Ibrahim.’ Karena Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan alasan atau uzur Nabi Ibrahim dalam masalah ini, dengan firman-Nya:

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allâh) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala tampak jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allâh, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.[At-Taubah/9:114][2]

9. Nabi Ibrahim Alaihissalam telah memberikan contoh terbaik dalam ketundukan terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla .
Diantara yang menggambarkan ketundukan beliau Alaihissalam terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla yaitu:

a. Ketika Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepadanya untuk membawa istrinya Hajar dan anaknya Ismail ke sebuah lembah gersang tanpa tumbuhan dan tidak berpenghuni di dekat baitullah al-haram. Setibanya disana, beliau Alaihissalam diperintahkan untuk meninggalkan keluarganya di sana dengan perbekalan yang sangat minim. Ketika beranjak meninggalkan istri dan anaknya, sang istrinya mengerjar dan bertanya, “Apakah Allâh Azza wa Jalla yang menyuruhmu melakukan ini?” Beliau Alaihissalam menjawab, “Ya.” Mendengar jawab yang begitu menyakinkan dari suami tercinta, istrinya mengatakan, “Kalau begitu, Allâh Azza wa Jalla tidak menyia-nyiakan kita.”

Perhatikanlah! Bagaimana beliau tunduk dan pasrah terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla .

b. Ketika Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih anak semata wayang saat usianya mulai sanggup untuk bekerja. Ketika itu, Nabi Ibrahim Alaihissalam bergegas hendak melaksanakan perintah tersebut. Kisah ini dibawakan dalam firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim! Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. [Ash-Shaffaat/37:102-111]

10. Nabi Ibrahim Alaihissalam memberikan gambaran terbaik dalam realisasi tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla .
Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam sudah menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya, mereka menjadi murka. Saat tahu dan melihat orang yang melakukannya, kemurkaan mereka sudah memuncak dan menyuarakan agar Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup. Itulah yang akan terjadi. Ketika hari ekskusi, Nabi Ibrahim Alaihissalam membaca doa:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ 

Cukuplah Allâh menjadi penolong kami dan Allâh adalah sebaik-baik Pelindung

Setelah itu, datanglah perintah Allâh Azza wa Jalla kepada api yang sedang berkobar-kobar agar tidak membakar jasad Nabi Ibrahim Alaihissalam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ﴿٦٩﴾ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Kami berfirman, “Wahai api! Menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”,

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. [Al-Anbiya’/21:69-70]

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ  قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا : إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Doa Hasbunallâhu wa ni’mal wakîl diucapkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam ketika dilemparkan kedalam api dan doa ini juga diucapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam ketika banyak orang yang mengatakan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam , “Sesungguhnya manusia (kafir Quraiys) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allâh menjadi penolong kami dan Allâh adalah sebaik-baik Pelindung.” [Ali Imran/3:173][3]

11. Nabi Ibrahim Alaihissalam dibantu oleh Nabi Ismail Alaihissalam yang meninggikan tembok Ka’bah.
Adalah Nabi Ibrahim Alaihissalam , setelah sekian lama meninggalkan istrinya yang bernama Hajar di lembah gersang yang tak berpenghuni beserta bayinya, beliau Alaihissalam akhirnya kembali lagi kepada keduanya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma menceritakan:

ثُمَّ لَبِثَ عَنْهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلًا لَهُ تَحْتَ دَوْحَةٍ قَرِيبًا مِنْ زَمْزَمَ فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيْهِ فَصَنَعَا كَمَا يَصْنَعُ الْوَالِدُ بِالْوَلَدِ وَالْوَلَدُ بِالْوَالِدِ ثُمَّ قَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ قَالَ فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ قَالَ وَتُعِينُنِي قَالَ وَأُعِينُكَ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا قَالَ فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا الْقَوَاعِدَ مِنْ الْبَيْتِ فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ وَهُمَا يَقُولَانِ {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

Kemudian Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dalam waktu yang telah dikehendaki oleh Allâh kemudiann beliau Alaihissalam mendatangi mereka kembali sementara Ismail sedang meruncingkan anak panahnya dibawah pohon besar dekat air Zam zam. Ketika dia melihat Nabi Ibrahim, dia bangun dan menghampirinya lalu kedua melakukan sebagaimana yang dilakukan orang tua terhadap anak dan sebagaimana yang dilakukan anak terhadap orang tua. Nabi Ibrahim mengatakan, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla memerintahkanku untuk melakukan suatu perintah.” Ismail mengatakan, “Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu!” Nabi Ibrahim Alaihissalam mengatakan, “Dan engkau akan membantuku?” Nabi Ismail menjawab, “Saya akan menolong.” Nabi Ibrahim Alaihissalam mengatakan, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menyuruhku untuk membangun rumah (Allah yaitu Ka’bah-red) di sini.” Beliau Alaihissalam menunjuk suatu tempat sekitar suatu tempat yang agak tinggi.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Ketika itulah mereka berdua mulai meninggikan pondasi tembok Ka’bah. Nabi Ismail datang membawa batu-batu sementara bapaknya yaitu Nabi Ibrahim yeng bertugas membangun Ka’bah. Ketika bangunan semakin bertambah tinggi, Nabi Ismail datang membawa batu dan menaruhnya sebagai tempat berdiri atau berpijak[4] sementara Nabi Ismail terus mencari dan mendatangkan batu-batu kepada Nabi Ibrahim. Keduanya mengatakan:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Wahai Rabb kami! Terimalah dari kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui[5]

Kemudian, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk membersihkan Ka’bah dari semua najis, baik najis hissiyah (najis yang berwujud benda atau dzat) ataupun najis maknawiyah atau hukmiyah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku Ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. [Al-Hajj/22:26]

Selanjutnya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji di Baitullah. Dan akhirnya, sampai sekarang dan selanjutnya, kaum Muslimin akan terus berduyun mendatangi Ka’bah untuk menunaikan rangkaian ibadah haji.

Itulah sekelumit tentang Nabi Ibrahim Alaihissalam , khalîlurrâhman (kesayangan Allah) dan imamnya orang yang mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla .

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua untuk terus meneladani beliau Alaihissalam sampai akhir hayat kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Kami angkat dari kitab al-Burhan min Qashashil Qur’an karya Abu Islam Shalih bin Thoha Abdulwâhid dengan sedikit penambahan dari kitab tafsir.
[2] Lihat Tafsir Taisir karimirrahman
[3] HR. Al-Bukhâri, no. 4564
[4] Itulah maqam Ibrahim, yaitu batu yang berada di dekat Ka’bah dengan bekas dua telapak kaki di atasnya-red
[5] HR. Al-Bukhâri, no. 3364