Istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

MUHAMMAD RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ummahatul Mu’minin (Ibu-ibu kaum mukminin) adalah istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Semuanya adalah muslimah, baik, bersih, suci, bebas dari keburukan yang mencemari kehormatan mereka. Mereka adalah:

خديجة بنت خويلد، وعائشة بنت أبي بكر، وسَودة بنت زَمْعة، وحفصة بنت عمر، وزينب بنت خزيمة، وأم سلمة، وزينب بنت جحش، وجويرية بنت الحارث، وأم حبيبة بنت أبي سفيان، وصفية بنت حيي، وميمونة بنت الحارث رضي الله عنهن أجمعين

Khadijah binti Khuwailid, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Saudah binti Zam’ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anhunna ajma’in (semoga Allah meridhai mereka semuanya).

مات قبله منهن خديجة، وزينب بنت خزيمة، وتوفيت الباقيات بعده

Yang meninggal sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mereka adalah Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah dan yang lainnya meninggal setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وأفضل أزواجه- صلى الله عليه وسلم- خديجة وعائشة رضي الله عنهن أجمعين

Istri-istrinya yang paling utama adalah Khadijah Radhiyallahu anha dan ‘Aisyah Radhiyallahu anha.

Anak-anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
1, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai tiga orang anak laki-laki: ( القاسم، وعبد الله، من خديجة، وإبراهيم من سُرِّيَّته مارية القبطية  =al-Qasim dan Abdullah dari Khadijah, serta Ibrahim dari jariyahnya Mariyah al-Qibthiyah). Semuanya meninggal dunia saat masih kecil.

2, Adapun anak perempuan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai empat orang putri: ( زينب ورقية وأم كلثوم وفاطمة وكلهن وُلدن من خديجة  = Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Semuanya dilahirkan dari Khadijah) Semuanya sempat menikah dan meninggal dunia sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali Fathimah, ia meninggal setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya adalah muslimah, baik, dan suci radhiyAllahu ‘anhunn ajma’in.

Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik. Mereka mempunyai keutamaan besar di atas semua umat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam-Nya. Mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka berdiri membela dan menolong Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Berhijrah karena agama. Memberikan tempat kediaman dan pertolongan karena agama. Berjihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa mereka. Hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Yang paling mulia dari mereka adalah kaum Muhajirin kemudian kaum Anshar.

Baca Juga  Keputusan Pemisah

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ، وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ». متفق عليه

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengiringi mereka, kemudian yang mengiringi mereka. Kemudian datang beberapa kaum yang persaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.’Muttafaqun ‘alaih.[1]

Mencintai Sahabat-sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Wajib kepada setiap orang muslim mencintai mereka semua dengan hati, memuji mereka dengan lisan, mendoakan rahmat atas mereka, memintakan ampun untuk mereka, menahan diri tentang pertentangan di antara mereka, dan tidak mencela mereka. Hal itu karena mereka mempunyai kebaikan dan keutamaan, ma’ruf dan ihsan, membela Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dengan taat dan jihad fi sabilillah, berdakwah kepada-Nya, berhijrah dan membela, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka semua.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [التوبة/100].

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:100]

Baca Juga  Karasteristik Wanita Penghuni Surga

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ  [الأنفال/74]

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. [Al-Anfal/8:74]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَباً مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلا نَصِيفَهُ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kamu mencela sahabatku, janganlah kamu mencela sahabatku. Demi (Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang diriku berada di Tangan-Nya, jikalau sesungguhnya seseorang di antara kamu memberi nafkah emas seperti bukit Uhud (banyaknya), niscaya ia tidak bisa menyamai satu mud atau setengah mud salah seorang dari mereka.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no 2652 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2533.
[2]  HR. al-Bukhari no 3673 dan Muslim no. 2540 dan ini adalah lafazhnya.

  1. Home
  2. /
  3. A8. Ringkasan Fiqih Islam...
  4. /
  5. Istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi...