Cara Meraih Cinta Allâh : Mendahulukan Kecintaan-Nya Daripada Kecintaanmu Saat Hawa Nafsu Mendominasi, Dan Mendaki Menuju Kecintaan

CARA MERAIH CINTA : MENDAHULUKAN KECINTAAN-NYA DARIPADA KECINTAANMU SAAT HAWA NAFSU MENDOMINASI. DAN MENDAKI MENUJU KECINTAAN

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madârij as-Sâlikîn memaparkan tingkatan kedua dari berbagai tingkatan îtsâr yaitu: lebih mendahulukan ridha Allâh daripada ridha selain-nya; meskipun harus menghadapi ujian yang dahsyat, beban yang berat, serta meski fisik begitu lemah.

Pengaruh dari perbuatan yang lebih mendahulukan apa yang dicinta Allâh Azza wa Jalla daripada yang lainnya bisa terlihat jelas dalam tiga hal.

1. Menundukkan Hawa Nafsu
Tak ada yang bisa mendaki menuju kecintaan Allâh Azza wa Jalla kecuali orang yang bisa menundukkan dan mengekang hawa nafsunya yang terlarang. Hawa nafsu yang terlarang adalah ketika seseorang cenderung pada setiap yang batil dan haram.

Syaikh Muhammad as-Saffarini rahimahullah dalam Manzhûmat al-Âdâb berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa ketika jiwa seorang melawan hawa nafsunya; di sanalah letak kemuliaan dan kekuatan jiwanya dalam menghadapi syetan dan bala tentaranya; dan jiwanya tidak hina. Ketika ia dera hawa nafsunya dengan cambuk mutaba’ah dan iqtida’ (mengikuti dan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam), serta mengarahkannya dengan kendali takwa, maka terwujudlah bagi jiwanya kemuliaan, kekuatan dan keluhuran karena ia menerapkan ittiba’ kepada Nabi dan menyelisihi bid’ah.[1]

Mengapa melawan hawa nafsu bisa mendatangkan kecintaan Allâh?

Jawabnya, karena saat hawa nafsu mendominasi, seseorang harus memilih satu dari dua pilihan: memilih ucapan atau perbuatan yang membuat Allâh ridha, ataukah memilih hal yang memuaskan hawa nafsunya.

Oleh sebab itulah melawan hawa nafsu dan bersabar dalam menghadapinya termasuk dalam kategori jihad; bahkan termasuk tingkatan jihad tertinggi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Seorang Muslim harus takut kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mencegah diri dari hawa nafsunya. keberadaan nafsu dan syahwat itu sendiri tidak menjadi sebab seseorang dihukum, namun ia dihukum dan disiksa karena ia memperturutkan nafsu dan syahwatnya. Bila seseorang ingin (mengerjakan yang terlarang), namun ia menahan dirinya, berarti ia telah mencegah nafsunya, sebagai bentuk ibadah kepada Allâh dan bentuk amal shalih.”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ  فيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Orang yang berjihad adalah orang yang berperang melawan (hawa nafsu) dirinya karena Allâh Azza wa Jalla .[2]

Jadi, semua orang diperintahkan untuk melawan (nafsunya) sebagaimana ia diperintahkan untuk melawan orang yang memerintahkan dan menyerukan maksiat.

2. Menyelisihi Hawa Nafsu Orang Lain
Maksudnya, tidak ikut-ikutan ketika orang-orang di sekitarnya menyimpang atau menyelisihi kebenaran. Seorang Mukmin harus mengedepankan apa yang Allâh Azza wa Jalla cintai daripada apa yang disukai manusia. Konsekuensinya adalah dia harus menyeru kepada kebenaran dan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta siap menanggung resiko dakwahnya.

3. Melawan Syaitan dan Memerangi Para Walinya
Cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan tunduk kepada syaitan adalah dua kutub yang tidak akan pernah bertemu. Sang musuh terlaknat senantiasa mengintai iman hamba hingga ia berhasil melenyapkannya dari hati para hamba. Lalu bagaimana mungkin seseorang akan menang, bila ia sadar bahwa hatinya sedang diserang syaitan dan bala tentaranya namun dia tidak melakukan perlawanan?

Sebagian Ulama membuat permisalan untuk hal tersebut. Iman diumpamakan sebagai sebuah negeri yang punya 5 benteng. Benteng pertama dari emas, kedua dari perak, ketiga dari besi, keempat dari batu bata, dan kelima dari batu bata mentah. Selama para penjaga benteng menjaga dengan baik benteng dari bata mentah, maka musuh pun tidak akan tamak untuk bisa menghancurkan benteng selanjutnya. Namun bila mereka teledor, musuh akan bertekad kuat merobohkan benteng yang selanjutnya, lalu berikutnya, dan begitu seterusnya; hingga akhirnya semuanya luluh lantak. Demikian pula iman, ada lima benteng yaitu keyakinan, lalu keikhlasan, lalu menunaikan yang wajib, kemudian menunaikan yang sunnah, selanjutnya menjaga adab-adab. Selama hamba menjaga adab-adab dengan baik, syaitan pun tak akan tamak untuk bisa merobohkannya. Namun bila ia meninggalkan adab, syaitan akan rakus untuk merongrong yang sunnah, lalu yang wajib, kemudian merongrong keikhlasan, dan akhirnya menghancurkan keyakinan.[3]

Mengenai berperang melawan syaitan dan para tentaranya, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allâh, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. [An-Nisa’ / 4: 76]

Di antara tanda kecintaan kepada Allâh adalah mencintai syariat Allâh, sehingga seorang hamba komitmen dengannya dan mendakwahkannya. Ia akan memerangi musuh-musuh syariat Islam, tak gentar dengan apapun jua. Maka seorang mujahid muslim yang rela mengorbankan ruhnya agar manusia mau masuk ke agama Allâh, maka amalnya ini patutlah untuk menjadi puncak Islam.

Allâh pun mencintai para mujahidin yang berjuang demi tegaknya kalimat Allâh. Dia Azza wa Jalla berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allâh akan mendatangkan suatu kaum yang Allâh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allâh Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al-Maidah/ 5: 54]

Dan jihad punya cakupan yang luas karena jihad merupakan upaya mengerahkan segala daya untuk menolak segala hal yang menjauhkan diri dan manusia dari agama Allâh. Dalam al-Quran jihad ditautkan dengan hidayah; petunjuk; baik untuk diri sendiri maupun manusia secara umumnya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. [Al-Ankabut/ 29: 69]

Maka yang paling sempurna petunjuknya adalah yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling wajib adalah jihad melawan diri, melawan hawa nafsu, melawan syaitan dan melawan dunia (hal-hal duniawi). Maka barangsiapa yang berjihad melawan empat hal ini di jalan Allâh, Allâh pun akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan menambatkannya ke surga Allâh. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad, maka luput darinya petunjuk sesuai dengan jihad yang ia tinggalkan.[4]

Kecintaan kepada Allâh berkonsekuensi pada jihad. Karena seorang pecinta akan mencinta apa yang dicinta oleh kekasihnya, dan membenci apa yang dibenci kekasihnya; Mereka inilah orang yang Allâh ridha dengan apa yang mereka ridha, yang Allâh murka karena marah mereka. Karena, mereka ini sejatinya tidaklah ridha kecuali pada yang diridhai-Nya, dan tidak marah selain pada hal yang Dia k murkai.[5]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Ghidzâ’ al-Albâb 2/ 455.
[2] HR. At-Turmudzi 1621 (5/345) dan ia berkata: hadits hasan shahih; juga Ahmad dalam Musnadnya 6/20, 22; dan ini lafaz Imam Ahmad.
[3] Ghidzâ’ al-Albâb Syarh Manzhûmat al-Âdâb Syaikh Muhammad As-Saffarini al-Hanbali 1/37.
[4] Al-Fawâ’id oleh Ibnul Qayyim rahimahullah hlm. 59.
[5] Majmû’ al-Fatâwâ 10/57, 58.