Category Archives: A9. Fiqih Dakwah Tazkiyah Nufus

Kepribadian Ganda

KEPRIBADIAN GANDA

Kebanyakan orang pada hari ini seringkali mengadukan adanya perubahan, dan susah menebak, pada kepribadian seseorang. Seperti halnya seorang istri, yang hakekatnya ia mengetahui akhlak suaminya, dari mulai penyabar, lapang dada, senyumnya, dan kelembutannya, namun, dirinya tidak pernah melihat itu semua, karena kalau dirumah yang nampak, justru akhlaknya yang buruk, gampang marah, emosian, mukanya kecut, sering mengata-ngatai, bakhil, suka mengungkit-ungkit dan lain sebagainya. Sehingga, untuk suami semacam ini, kita katakan dimana ia dan orang yang semisal dengannya, akan memposisikan dirinya, dengan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan:

قال النبي -صلى الله عليه وسلم- : « خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى » [ رواه الترمذي وإبن ماجه والحاكم]

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, sedangkan aku adalah orang yang paling baik pada keluargaku“. HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim.

Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُهُمْ خِيَارُهُمْ لِنِسَائِهِمْ » [رواه أبو داود والترمذي وأحمد]

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada istrinya“. HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad yang shahih.

Salamah bin Dinar pernah mengatakan: “Akhlak yang buruk akan menjadikan pemiliknya orang yang paling menyengsarakan teman duduk yang ada disampingnya, akan membawa segudang bencana. Maka yang paling awal kena dampaknya adalah istrinya, kemudian anak-anaknya. Sampai sekiranya ketika dia masuk rumah, sedangkan mereka yang tadinya dalam keadaan senang, begitu mendengar suaranya, langsung berubah suasananya, semua lari menjauh darinya, karena merasa takut akan kena getahnya, sampai-sampai hewan tunggangannya juga merasakan kejelekannya, kalau anjing melihat dirinya, ia langsung berlindung ketembok, demikian juga kucing juga akan lari takut dari perangainya yang buruk”.

Dan masuk dalam kategori kepribadian ganda, tatkala berhadapan dengan kedua orang tuanya. Berapa banyak dari mereka yang seringkali kita dengar tentang kebaikan akhlaknya, terkenal dermawan, murah senyum, serta baik di dalam bergaul bersama orang lain. Namun, ketika bersama dengan orang yang paling dekat dan paling besar kewajiban yang harus mereka berikan padanya, yaitu kedua orang tuanya. Dia justru berbuat kasar, dan jauh darinya, maka cukup sebuah ayat yang tegas menyindir perbuatan semacam itu, di mana Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا﴾ [الإسراء: 23]

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia“. [al-Israa’/17: 23].

Barangsiapa melihat kenyataan yang ada pada diri kita, ketika bersama dengan anak-anak dan orang tua kita maka kita baru sadar betapa lemahnya keimanan kita, serta kurangnya didalam menunaikan kewajiban terbesar yang kita miliki, setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Allahu musta’an.

Diantara bentuk mendua dalam bersikap, adakalanya kamu pernah melihat penampilan seorang perempuan yang kelihatannya terpelajar, berpendidikan serta bagus, bahkan dirinya tak segan-segan untuk mengeluarkan uang banyak, yang penting bisa menambah percaya diri didalam penampilan, wajah dipoles, gigi dibersihkan. Akan tetapi, bila kamu mengetahui secara dekat, kamu baru mengerti, kalau dirinya mempunyai perangai yang buruk, emosian, gampang marah, berani melawan kepada suaminya, bermuka masam terhadap saudaranya dan lain sebagainya.

Duhai seandainya para Hawa memperhatikan akhlaknya secara teliti sama persis dengan perhatiannya terhadap penampilan fisiknya, tentu ia akan menjadi wanita sejati. Seorang pepatah Arab mengatakan: ‘Kecantikan bukan diukur dengan pakaian yang indah, namun kecantikan ada pada ilmu dan akhlaknya’.

Ketahuilah duhai saudariku yang aku cintai karena Allah, kecantikan sejati ada pada kecantikan akhlak serta adabnya, sangat naif sekali kalau menilai kecantikan hanya pada pakai serta penampilan fisiknya saja, akan tetapi, rasa malunya sangat kurang, sehingga tanpa segan membuka auratnya, melepas prinsip ajaran agama serta kepribadian asalnya. Seorang penyair mengatakan:

Aku melewati muru’ah sedangkan dirinya menangis
Saya tanyakan, kenapa engkau menangis
Dirinya menjawab, bagaimana aku tidak menangis
Karena semua orang sudah tidak mengenaliku lagi

Saudariku
Sesungguhnya Allah Azza wa jalla telah menjadikan bagi tiap orang dua aurat, aurat tubuh dan aurat jiwa. Allah menjadikan alat untuk menutupi aurat yang pertama yaitu dengan pakaian, sedangkan yang kedua yaitu dengan akhlak. Dan perlu diperhatikan, yang terpenting dari keduanya adalah yang kedua, karena pakaian seseorang tidak mungkin bisa lepas dari yang namanya akhlak sang pemakainya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah Tabaraka wa ta’ala dalam firmanNya:

قال الله تعالى: ﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ﴾ [الأعراف: 26]

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik“. [al-‘Araaf/7: 26].

Saudariku
Sungguh seorang wanita yang berakal, tatkala berbicara, dia akan berbicara dengan baik, tatkala diam, dia juga diam dengan manis. Bertakwalah kepada Allah, wahai para wanita, tutupi aurat jiwamu dengan pakaian takwa, rasa malu dan budi pekerti yang luhur.

Salah satu sikap mendua yang lainnya dalam berakhlak, sebagaimana yang kita lihat, ada sebagian orang yang bila berkata, ucapannya begitu manis, penyabar, menebar senyum, namun apabila datang waktunya jual beli dan atribut yang berisikan uang dan dirham, maka dirinya berubah menjadi senang mengulur waktu pembayaran, sangat kuat memegang uang, akan berargumen, mendebat lawan bisninya, bahkan bisa jadi gambaran makna ukhuwah persaudaraan beserta hak-haknya untuk sementara terhapus dalam benaknya.

Pernah dikatakan kepada Muhammad bin Hasan, kenapa engkau tidak menulis buku yang berkaitan dengan kezuhudan. Maka beliau menjawab: ‘Aku telah menulis sebuah buku yang berkaitan dengan jual beli’.

Maksud yang ingin disampaikan oleh beliau kepada kita adalah, bahwa zuhud itu ada pada orang yang berlepas diri dari perkara syubhat dan makruh dalam transaksi jual belinya serta seluruh interaksi perdagangan. Inilah pesan yang ingin beliau sampaikan, dan ini menunjukan kecerdasaan fikih yang beliau miliki, semoga Allah merahmatinya.

Diriwayatkan, bahwa Masruq mempunyai hutang, demikian pula saudaranya Khaitsamah juga mempunyai tanggungan hutang. Maka Masruq pergi membayar hutang saudaranya, sedangkan ia tidak mengetahuinya, begitu juga sebaliknya, saudaranya Khaitsamah juga pergi membayar hutang saudaranya, dan ia juga tidak mengetahuinya.

Mutharif bin Abdullah pernah mengatakan kepada sebagian saudaranya: ‘Wahai Abu Fulan, apabila engkau mempunyai keperluan maka jangan berbicara padaku, akan tetpai tulislah disebuah kertas. Sungguh aku malu kalau melihat wajahmu memelas dihadapanku’.

Seorang penyair mengatakan:
Jika aku lapang, tidak akan tahu karibku
Ketika aku mencukupkan, temanku pun merasa cukup
Rasa maluku menjaga air muka yang ada pada wajah
Temanku, dalam permintaanmu ada kekariban
Kalau aku biarkan air muka mengalir padamu
Betapa cepatnya aku bisa naik keatas

Dikisahkan dari Rabah bin al-Jarah, beliau berkata: ‘Fath al-Mushili pernah berkunjung kerumah karibnya yang bernam Isa at-Tamar, namun sayang ia tidak menjumpainya. Maka ia mengatakan pada pembantunya; ‘Ambilkan aku kantong majikanmu’. Pembantu tersebut lalu mengambilkan kantong untuknya, lantas sang tamu memasukan uang dua dirham. Begitu Isa datang, maka sang pembantu mengabarkan perihal tamunya tadi, Isa lalu berkata padanya: ‘Jika omonganmu benar, kamu bebas’. Kemudian ia melihat pada kantong yang berisi uang tersebut, lalu iapun membebaskan pembantunya tadi’.

Dalam kisah yang lain, diriwayatkan dari Jamil bin Murah, beliau berkata: ‘Kami pernah mengalami masa paceklik yang sangat, dan ketika itu Muriq al-Ajli berkunjung kerumah sambil membawa sekantong bungkusan, lalu mengatakan; ‘Ambillah ini buat kalian’. Setelah itu dia minta izin pergi, namun tidak berapa lama sebelum jauh dia mengatakan kembali: ‘Jika kalian memerlukan kantong tadi, ambilah untuk belanja kebutuhan’.

Berkata Sufyan bin Uyainah; ‘Aku pernah mendengar Musawir al-Wariq mengatakan: ‘Tidaklah aku mengucapkan pada seseorang ‘Sungguh aku mencintaimu karena Allah’ melainkan tidak pernah aku mencegah harta untuknya’.

Sebuah kisah yang banyak ibroh, seakan jauh dari alam khayal kita, namun akhlak yang luhur dari para pendahulu kita Salafus sholeh telah mampu merubahnya menjadi kecintaan dan ukhuwah yang tulus karena Allah semata, semoga Allah meridhoi mereka semua. Kita mohon keutamaan kepada Allah yang Maha Penyayang, dan memohon kepadaNya agar kita bisa meneladani mereka dengan sebaik-baiknya.

Diantara sikap mendua yang telah nampak yaitu manakala kamu melihat sebagian pemuda yang menakjubkanmu dari segi penampilannya, bau wangi membuaimu, sisiran rambutnya mengkilap. Kalau bukan karena malu tentu aku terlalu berlebihan didalam mensifati keadaan sebagian generasi muda kita pada hari ini, dalam semangatnya memperhatikan gaya dan penampilan. Akan tetapi bersamaan dengan itu mereka tidak memperhatikan tingkah dan akhlaknya yang terkadang melenceng, karena mereka punya prinsip tidak apa kalau hanya sekedar berdusta, atau melaknat, mencela, bahkan adakalanya berzina, dan mencuri, atau menipu dan melakukan tipu daya.

Dalam benak mereka, tidak mengapa mengorbankan agama dan akhlaknya demi tercapainya syahwat, sehingga penampilan fisiknya telah rusak sebelum rusaknya penampilan hati.

Wahai para pemuda, manusia bukan hanya terbatas pada penampilan badan dan rupanya saja, tidak pula pada gaya pakaian dan modenya, akan tetapi, manusia sejati adalah yang memiliki ruh, akal, akhlak dan penampilan.

Seorang penyair mengatakan dalam qasidahnya:
Duhai para pengabdi jasad, betapa dirimu telah sengsara
Jiwamu lelah, lalu kerugian yang engkau dapat
Kembalikan jiwamu, sempurnakan dengan kebaikan
Duhai insan, engkau hidup dengan jiwa bukan jasadmu

Duhai para pemuda..
Tidaklah rupa yang elok akan menguatkan hati apabila akhlaknya tidak elok, sesungguhnya didalam hatimu masih ada relung kebaikan, periksalah lalu bakar semangatmu untuk memacu kebaikan tersebut.

Benar, termasuk puncak kebahagian adalah menikmati segala kesenangan dunia dan syahwatnya, namun itu semua harus berada dalam koridor syari’at kita, karena Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾ [القصص: 77]

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu“. [al-Qashash/28: 77].

Jadilah seorang laki-laki yang mempunyai semangat yang tinggi, berhias dengan budi pekerti yang luhur dan adab karena sesungguhnya itulah perhiasan seorang laki-laki sejati.

Dari contoh mendua dalam bersikap yaitu, orang-orang yang manakala kamu melihatnya, nampak padanya tanda keshalehan dan kebajikan, kemudian pada sisi lain kamu melihat dalam tindak tanduknya serta perbutannya berbalik sembilan puluh derajat dari penampilan yang pertama, sampai-sampai mereka menipu orang lain disebabkan oleh penampilannya.

Maka pada kenyataannya, wahai orang yang seperti itu, engkau bukan saja telah menodai dirimu akan tetapi, telah menodai orang lain, bahkan bisa jadi agamamu juga ikut terbawa. Karena bisa jadi orang yang sudah kadung melihat engkau berbuat jelek akan mengira ini termasuk bagian dari akhlaknya orang shaleh, karena mereka mengira kamu termasuk orang yang shaleh.

Oleh karena itu, bagi orang yang seperti ini dan yang semisalnya, untuk mengoreksi kembali tingkat keshalehannya, karena tidak menutup kemungkinan yang ada pada mereka hanya keshalehan dalam bentuk nama dan gambar.

Ada beberapa orang yang menyanjung seseorang dihadapan al-Qilu ibn Iyadh, mereka memuji orang tersebut kalau dia tidak makan kue (puding). Maka beliau berkata: ‘Kalian jangan tertipu, hanya sekedar melihat dia meninggalkan makanan tersebut, akan tetapi, lihatlah bagaimana sikap dirinya didalam menyambung tali silaturahim, menahan emosi, hubungannya bersama tetangga, dan para janda serta orang miskin, lihatlah bagaimana akhlak serta adab pergaulan bersama saudara dan karibnya’.

Katakan pada saya, duhai orang yang dijadikan teladan, apakah istiqomah itu hanya sekedar penampilan luar? Ataukah hanya hubungan manis bersama segelintir orang saja? Atau istiqomah itu mengharuskan dirimu mempergauli orang lain dengan cara yang baik, pada tiap keadaan dan waktu? Di dalam sebuah hadits yang shahih, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : « أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ» [ أخرجه الترمذي وابن ماجة]

Perkara terbesar yang akan memasukan seseorang kedalam surga adalah bertakwa dan berakhlak mulia”. HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Imam Ibnu Qoyim mengatakan didalam kitabnya al-Fawaid, ketika mengomentari hadits diatas: ‘Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan didalam hadits ini, antara ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia, karena ketakwaan kepada Allah akan memperbaiki hubungan seorang hamba bersama Rabbnya. Sedangkan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan seorang hamba bersama makhlukNya. Maka takwa kepada Allah mengharuskan dirinya mencintai Allah, adapun akhlak yang mulia menjadikan orang lain menyukai dirinya’.

Maka harus dicatat, karena disini ada perkara yang tercampur pemahamannya oleh kebanyakan orang, mungkin karena memang tidak tahu, dan ini kebanyakan mereka. Atau dirinya mempunyai tujuan jelek yang tersimpan didalam hati, dan jenis ini jumlahnya sedikit, insya Allah.

Para pembaca yang budiman, kalau sebagian kaum muslimin ada yang menanggalkan akhlaknya dan prinsip dasar ajarannya maka bukan berarti kita menuduh agama Islam, atau mulai ragu untuk berpegang dengan ajaran dan syari’atnya. Kalau demikian apa maknanya kita menghukumi orang sebagai muslim dan membenarkan ajaran Islam, sedangkan mereka mempunyai sifat berlebihan, menyeleweng, kasar, kurang ajar, dan berperangai buruk, hanya karena sekedar menisbatkan ke Islam akan tetapi mereka salah didalam tingkah laku, dan ucapannya atau dirinya hanya menyematkan pakaian kejujuran.

Sesungguhnya termasuk jenis kedhaliman yang paling jelek adalah seseorang mengambil kesalahan orang lain sebagai senjata, sedangkan Allah Azza wa jalla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ [الإسراء: 15]

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain“. [al-Israa’/17: 15].

Dimana sikap inshaf dan adil? Sedangkan Allah Azza wa jalla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ٨﴾ [المائدة: 8]

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. [al-Maa’idah/5: 8].

Kenapa kita terlalu cepat menghukumi semua orang serta mengatakan kesalahan secara umum pada mereka hanya sekedar kesalahan yang dilakukan oleh individu? Lantas dimana mereka-mereka, barangkali ratusan atau ribuan dari kalangan kaum muslimin dan muslimat, yang tetap teguh dan mulia bersama akhlak dan jiwanya.

Kita semua tidak bisa memungkiri adanya jumlah yang sangat banyak, orang-orang yang masih mempunyai hati nurani yang bersih dan indah, yang tergambar dalam ucapan mereka, sanubari yang tenang dengan tingkah laku yang luhur, hati yang suci, tangan yang bersih dan lisan yang terjaga, mereka barengi ilmu yang diiringi bersama amalan, karena cinta agama dan negerinya.

Kenapa seringkali kita menutup mata terhadap mereka, tidak menyebut dan mencuatkan dalam publik tentang kemulian mereka? Kenapa hanya memandang dengan sebelah mata tentang keberadaan mereka, lalu menyoroti kesalahan yang ada dan membesar-besarkanya yang ada pada sebagaian orang?

Lihat pada dirimu, engkau seringkali mengadu keberadaan mereka, bukankah engkau juga seorang muslim? Tidakkah engkau juga pernah berbuat kesalahan? Berbuat kekeliruan? Maka bisa jadi orang lain juga mengeluhkan dirimu, engkau mengeluh mereka juga mengeluhkanmu.

Akan tetapi, betapa indahnya kalau sekiranya kita bisa saling memberi udzur satu sama lain, memberi ma’af atas kesalahan dan kekeliruan orang lain lalu menutupinya dan mencuatkan kebaikannya. Dengan adanya saling menasehati dan mema’afkan bisa memadamkan api permusuhan dan perselisihan.

Perlakukan orang lain, sebagai insan yang mempunyai kesalahan dan kebenaran, tutup matamu dan berlaku wajar lalu sabarlah. Bukan orang yang pandir yang tidak tahu siapa pemimpin kaumnya, namun pemimpin itu yang pura-pura tidak mengetahui.

Engkau bisa bayangkan kalau seandainya dirimu melihat lingkungan berada dalam makna yang indah ini, dan itu merupakan budi pekerti yang paling mulia, jika dirimu enggan untuk itu, maka tuduhlah orang yang melakukan kesalahan tersebut jangan kamu hukumi secara umum, lalu bertakwalah kepada Allah, karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan, dan sebagaimana engkau beragama maka itulah agama.

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]

Ujian Duniawi

UJIAN DUNIAWI

Segala  puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Tuhan semesta alam, Yang Maha Esa lagi Tunggal, dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla yang tiada sekutu bagi-Nya,

قال الله تعالى: ﴿ هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴾ [ الحشر : 22]

”Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ”. [Al-Hasyr/59: 22]

Dan aku bersaksi bahwa peminpin kami Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang di utus sebagai pembawa rahmat bagi Alam semesta, sebagai pembawa petunjuk dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Ya Allah sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu Nabi Muhamad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan seluruh sahabat beliau serta semua orang yang mulia dan bertaqwa dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan kebaikan sampai hari kiamat. Amma Ba’du

Sesungguhnya di antara nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang paling besar bagi orang-orang yang beriman, dan karunia -Nya yang paling agung bagi seluruh mahluk adalah satu karunia yang tidak ada bandingan nya, nikmat yang tidak ada satupun yang bisa menandinginya yaitu risalah penutup para Nabi yang diturunkan bagi manusia. Maka syukurilah nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla tersebut, tunaikanlah hak-haknya dengan mentauladani cara hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti sunah-sunah beliau.

قال الله تعالى: ﴿ يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴾ [ الحجرات: 17]

”Mereka merasa Telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa Telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, Sebenarnya Allah, dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar” [Al Hujurat/49: 17]

Seandainya seorang muslim merenungkan keagungan nikmat ini, yaitu nikmat Islam, niscaya hatinya akan bergetar dan dia pasti menyadari keagungan dan manfaat nikmat yang agung ini. Dengannya Allah Shubhanahu wa ta’alla membuka hati yang terkunci, telinga yang tuli, mata yang buta, dan denganya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengelurkan manusia dari kegalapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kebodoahan menuju pengetahuan, dari kehinaan menuju kemuliaan dan dari dunia kezaliman menuju keadilan.

Risalah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam diturunkan  dari langit  pada masa kejahiliayahan merajalela, syhawat menjadi barometer, hawa nafsu menjadi tuntunan. Manusia menyembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, padahal Dia lah Pemberi rizki namun masyarakat justru meminta kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla Yang Maha Kuasa:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ﴾ [ الحشر : 19]

Hai orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. [Al-Hasyr/59: 19].

Maka datanglah risalah Nabi Muhamad Shallallahu alaihi wa sallam dengan kepastian yang hakiki, keadilan dan kebenaran sehingga hati menjadi lunak, jiwa menjadi suci, budi pekerti menjadi lurus dan membuka bagi manusia sebuah paradigma baru tentang akibat, kemaslahatan dan menolak kerusakan. Sehingga terbentuklah sebuah umat yang bersatu, saling bahu membahu, saling tolong menolong dan saling memaafkan sama seperti sebuah bangunan yang saling mendukung satu sama lainnya, dan seperti tubuh yang satu, yang apabila salah satu anggota tubuh tersebut tertimpa penyakit maka anggota tubuh yang lain ikut  merasakan rasa sakit.

قال الله تعالى: ﴿ لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴾ [ آل عمران : 164 ]

”Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. [Ali Imran/3: 164].

Wahai sekalian orang yang beriman…. setelah itu, setelah beriman dan mendapat petunjuk serta ber-istiqomah dalam petunjuk tersebut akan terjadi fitnah yang akan menghampiri seorang muslim, dia adalah ujian dan cobaan untuk menguji kekuatan iman seorang muslim dan komitmennya terhadap agamanya serta tingkat kesabarannya dalam berpegang teguh dengannya. Ujian ini sebagai cobaan terhadap kekuatan keimanan seseorang. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ﴾ [ العنكبوت: 1-2 ]

”Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” [Al-Ankabut/29: 1-2].

Ujian tersebut dipertegas di dalam firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴾ [ البقرة : 155 ]

”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [Al-Baqarah/2: 155].

قال الله تعالى: ﴿ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ﴾ [ الأنبياء: 35 ]

”kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya/21: 35].

Allah Ta’ala menegaskan bahwa sebelum terjadinya fitnah tersebut dia sebagai cobaan dan ujian. Adapun faktor-faktor yang bisa membawa keselamatan, kesuksesan dan kemenangan disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴾ [ البقرة : 153]

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. [Al-Baqarah/2: 153].

Allah berfirman:

قال الله تعالى: ( وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ﴾ [ البقرة : 155-156 ]

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

Maka bersabar, mendirikan sholat dan menyerahkan segala urusan kepada Allah serTa mensyukuri nikmat adalah faKtor penting yang mengarahkan kepada kemenangan dan kesuksesa dan balasan bagi kesuksesan ini adalah firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ﴾ [ البقرة : 157]

”Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Al-Baqarah/2: 157].

Amirul mu’minin Umar bin Al Khattab Radhiallahu anhu berkata: “Sungguh baik sikap tersebut dan sungguh baik balasannya”.

Manfaat ujian ini adalah sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴾ [العكبوت : 11]

”Dan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang munafik”. [Al-Ankabut/29: 11]

Yaitu untuk mengetahui hati yang bersih lagi bersinar dengan cahaya keimanan,  hati yang pantas membawa amanah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan menegakkan amanah tersebut serta menyampaikan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan berdak’wah kepadanya.

Buah ujian yang menghampiri orang yang beriman adalah derajat yang tinggi dalam keimanan dan ketaqwaan, selalu terdorong untuk mensucikan jiwa, membersihkan diri dari dosa, menguatkan semangat, melurusakan aqidah, memperkuat hubungan diri dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla, sehingga seorang yang beriman menjadi bersih, suci dan siap untuk menghadap Allah Shubhanahu wa ta’alla. Maka barangsiapa yang bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla, bersabar atas segala ujian yang datang dari -Nya dan bersyukur terhadap nikmat-Nya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla pasti bersamanya, diberikan baginya taufiq dan juga segala langkah-langkahnya dan dipelihara oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dari keburukan, ditunjuki jalan kebaikan dan dihindarkan dari segala keburukan. Inilah keadaan orang-orang beriman yang sebenarnya.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengherankan perkara orang-orang yang beriman, sebab semua perkaranya pasti baik, dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang-orang yang beriman, jika mendapat kebaikan maka dia bersyukur dan hal itu adalah terbaik baginya, dan jika mendapat keburukan maka dia bersabar dan hal itu lebih baik baginya”.

Inilah balasannya di dunia, sementara balasan yang akan didapatkannya di akherat kelak adalah disebutkan di dalam firaman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ﴾ [ الزمر: 10 ]

”Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [Az-Zumar/39: 10].

Balasannya tidak terukur, tidak ada bandingnya hal itu karena balasan tersebut datang dari karunia Allah Shubhanahu wa ta’alla Yang Maha Mulia dan Pemurah.

Disebutkan di dalam tafsir Ibnu Katsir dari Ali bin Al-Husain Radhiallahu anhuma berkata: Apabila Allah Shubhanahu wa ta’alla mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terakhir pada sebuah padang yang luas, maka terdengarlah suara penyeru : Di manakah orang-orang yang selalu bersabar? Hendaklah mereka masuk surga sebelum dihisab. Perawi berkata : Maka berdirilah sekelompok orang yang disambut oleh para malaikat dan mereka berkata : Kemanakah kalian pergi wahai Bani Adam. Mereka menjawab: Menuju surga”. Sebelum dihisab?. Kata malaikat. “Ya”. Jawab mereka. Para malaikat bertanya kembali: Siapa kalian? “Kami orang-orang yang bersabar”. Jawab mereka. “Apakah bentuk kesabaran kalian”. Tanya malaikat kembali. “Kami bersabar dalam ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan bersabar untuk tidak bermaksiat kepada-Nya sampai kami meninggal dunia”. Para malaikat menjawab: Kalian seperti apa yang kalian katakan, masuklah ke surga, sungguh balasan yang baik bagi orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Wahai saudaraku seiman, sesungguhnya sebaik-baik kalam adalah kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhamad Shallallahu alaihi wa sallam. Wahai saudaraku seiman, di antara bentuk ujian yang menimpa kaum muslimin selama hidupnya di dunia adalah fitnah harta. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan :

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ  

“Sesunggunya dunia ini sangat manis dan hijau, sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah padanya, dan Dia akan melihat apakah yang kalian perbuat padanya. Maka takutlah terhadap dunia dan waspadalah terhadap wanita”.

Bagaimana harta bisa menjadi fitnah? Sebab terkadang seseorang mendapatkannya dengan cara yang haram, atau membelanjakan dan mengeluarkannya pada perkara yang diharamkan, atau terkadang seseorang dilalaikan menunaikan kewajiban syar’inya oleh perkara menumpuk-numpuk harta.

عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Dari Ka’ab bin Malik al Anshori Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dua serigala lapar yang dilepas menyerang sekawanan kambing, pengrusakannya tidak melebihi ambisi seseorang untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang merusak agamanya.”

Ini adalah perumpamaan yang sangat agung di mana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan di dalam perumpamaan ini tentang rusaknya agama seseorang karena terlalu diperbudak harta dan kemegahan, yaitu sebuah kedudukan di dunia. Dan rusaknya agama seseorang oleh dua perkara tersebut tidaklah lebih kecil dibanding dengan kerusakan yang terjadi pada sekelompok kambing yang ditinggalkan oleh penggembalanya setelah didatangi oleh dua ekor serigala yang memakan sebagian dan mencakar bagian yang lain.

Salah seorang yang arif dan bijaksana pernah berkata : Ketamakan itu ada dua macam : Ketamakan yang bermanfaat dan ketamakan yang membawa petaka. Adapun ketamakan yang membawa manfaat adalah kesungguhan dalam taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan ketamakan yang membawa bencana adalah ketamakan terhadap dunia. Dia disibukkan oleh duniawi, tersiksa, tidak merasakan kesenangan dan tidak pula mendapatkan ketenangan karena sibuk mengumpulkan harta duniawi, maka dia tidak bisa melepaskan kecintaannya terhadap dunia guna membangun rasa cinta terhadap akherat.

Seperti itulah gambaran tentang harta dunia, dan maksud dari penjelasan ini adalah bahwa keindahan harta duniawi tidak perlu dicela, dia adalah perwujudan nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang mesti dicela orang yang tidak menghiraukan cara untuk mendapatkan harta tersebut apakah didapatkannya dengan jalan yang dihalalkan atau diharamkan, lalu usahanya untuk menumpuk-numpuk harta tersebut membuatnya lalai untuk taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Seseorang terkadang terlihat begitu rakus mengumpulkan dan menambah harta benda lalu dia tidak menunaikan hak-hak Allah Shubhanahu wa ta’alla pada hartanya, seprti zakat, shadaqah dan memanfaatkan harta untuk membangun hubungan silaturrahmi. Hal inilah yang dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di dalam firman-Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴾ [ الحشر : 9 ]

”dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. [Al Hasyr/59: 09].

Di dalam sunan Abu Dawud disebutkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhum bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Hindarilah sifat kikir, karena sesungguhnya kekikiran tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, Mereka disuruh untuk memutuskan hubungan silaturahmi maka merekapun memutuskannya, mereka disuruh untuk kikir maka merekapun berlaku kikir dan merekapun diperintahkan untuk berlaku aniaya maka mereka melakukan aniaya”.

Di dalam shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak!  Hindarilah perilaku kikir, sebab kekikiran tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sebab, kekirian tersebut telah membawa mereka untuk saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang menjadi bagian mereka”.

[Disalin dari امتحان الدنيا   (Ujian Duniawi) Penulis : Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir , Penerjemah Muzaffar Sahidu. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Permusuhan Setan Terhadap Manusia

PERMUSUHAN SETAN TERHADAP MANUSIA

Ketika iblis menolak bersujud kepada Adam, maka Allah mengusir dari langit. Dan dia berhak mendapatkan laknat Allah sampai dhari kiamat. Maka Allah berfirman terkait dengannya:

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَاِنَّكَ رَجِيْمٌۖ، وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْٓ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ 

“Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”  [Shaad/38: 77-78]

Kemudian dia meminta kepada Allah untuk ditangguhkan sampai hari kebangkitan, maka Allah telah memberikan tangguh dalam firman-Nya:

قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ قَالَ اِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ

Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.‘ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” [Al-A’raf/7: 14-15]

Ketika iblis telah merasa aman dari kebinasaan, maka dia membangkang:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” [Al-A’raf/7: 16-17]

Ketika iblis mengatakan seperti itu, maka Allah berfirman kepadanya.

قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَاِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاۤؤُكُمْ جَزَاۤءً مَّوْفُوْرًا وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَاَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا

Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” [Al-Isra/17: 62-64]

Dari sini setan telah mengumumkan permusuhaan busuk kepada anak Adam. Maka dia memulai dengan menghias kemaksiatan dan menggoda dengan mereka untuk melakukan perkara haram dan kemunkaran. Sehingga banyak orang terpedaya, sehingga terjerumus dalam kemaksiatan dan kemunkaran.

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.” [Saba/34: 20]

Semua prilaku anak adam, seperti kekufuran, pembunuhan, permusuhan, kebencian, merebaknya kejelekan dan perzinaan, para wanita yang bersolek di muka mumum, meminum khamar, menyembah berhala dan melakukan dosa besar, itu semua adalah jalan setan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah dan merusak orang-orang agar terjerumus bersamanya ke dalam neraka Jahanam.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan seitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Maidah/5: 90-91]

Allah telah memperingatkan kepada kita berjalan di belakang setan dan mengikuti langkah-langkah setan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” [An-Nur/24: 21]

Kalau seseorang berpaling dari Allah, maka setan akan menguasainya dan mengajaknya kepada kerusakan dan kecongkakan.

اَلَمْ تَرَ اَنَّآ اَرْسَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ تَؤُزُّهُمْ اَزًّا ۙ

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?,” [Maryam/19: 83]

Setiap orang yang berpaling dari Allah dan berjalan di belakang setan, maka dia telah merusak diri dan rugi dunia akhirat.

وَمَنْ يَّتَّخِذِ الشَّيْطٰنَ وَلِيًّا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِيْنًا

Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” [An-Nisa/4: 119]

Setan telah menempuh cara yang menarik perhatian, sehingga kebanyakan orang tertipu dan terbuai untuk melakukan amalan-amalan buruk, sehingga menyeret mereka ke neraka jahanam, dan itu adalah tempat yang paling jelek.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا اُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۖ وَلَا يَجِدُوْنَ عَنْهَا مَحِيْصًا 

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.” [An-Nisaa/4: 120-121]

Permusuhan setan dengan Adam dan keturunannya adalah permusuhan lama. Ketika Allah mempersilahkan Adam bersama istrinya untuk tinggal di surge, setan setan mendatangi Adam dan menggodanya melakukan kemaksiatan. Adam mengikutinya dengan perkiraan dia bersikap jujur (dalam memberikan nasehat). Sehingga Adam berbuat maksiat kepda Allah dan akhirnya dikeluarkan dari surge, namun kemudian dia bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Allah telah memperingatkan kepada kita agar jangan taat kepada setan dalam firman-Nya:

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” [Al-A’raf/7: 27]

Ketika permusuhan setan kepada manusia Nampak dengan jelas, maka Allah memerintahkan kepada kita untuk berhati-hati dengannya. Dan mengumumkan peperangan dengannya dan serta permusuhan dengannya.

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” [Fatir/35: 6]

Allah telah memberikan kepada kita petunjuk dengan memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk setiap kali kita ada keinginan untuk berbuat kemaksiatan dalam firman-Nya:

وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Fushilat/41: 36]

Pada hari kiamat, hari kejujuran dan keadilan. Maka setan mengaku akan kejahatannya dan mengumumkan di hadapan para makhluk bahwa Allah adalah benar sementara dia adalah pembohong. Tidak ada celaan baginya, akan tetapi celaan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikutinya. Setiap orang yang mengikutinya akan menyesal, akan tetapi waktu itu tidak bermanfaat lagi penyesalan itu.

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” [Ibrahim/14: 22] .

[Disalin dari عداوة الشيطان للإنسان Penulis : Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri, Penerjemah www. islamqa.info, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Jauhi Sumber Kesalahan

JAUHI SUMBER KESALAHAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Allah  Shubhanahu wa ta’alla menciptakan makhluk-Nya untuk selalu taat kepada-Nya, dalam keadaan -Dia tidak butuh kepada apa pun dan siapa pun, baik itu makhluk yang disebut malaikat, jin, maupun manusia. Dari tiga jenis makhluk yang disebutkan ini, jenis malaikat tidaklah diberi bagian untuk durhaka kepada-Nya, karena malaikat adalah makhluk yang diciptakan untuk senantiasa taat, tunduk, patuh, dan selalu beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah  Shubhanahu wa ta’alla sifatkan mereka dalam al-Qur’an,

قال الله تعالى:  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ  [التحريم :6] 

“Mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [at-Tahrim/66: 6].

Tertinggal dua jenis makhluk yang dari keduanyalah terjadi kedurhakaan dan kemaksiatan kepada Rabbul Alamin, manusia dan jin. Memang kepada keduanyalah dibebankan taklif, beban-beban syariat, yang bila keduanya mau menjalankannya dengan baik selama hidup di dunia, kelak akan mendapatkan kenikmatan abadi yang tiada tara. Sebaliknya, apabila keduanya enggan menjalankannya, niscaya  kesengsaraan dan derita tiada terkira telah menanti.

Allah Shubhanahu wa ta’alla ciptakan manusia dan jin, secara syar’i untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam Tanzil-Nya yang agung,

قال الله تعالى: وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ  [الذاريات  56] 

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” [adz-Dzariyat/51: 56].

Di antara manusia dan jin ada yang menjadi hamba Allah  Shubhanahu wa ta’alla yang taat, namun lebih banyak lagi yang durhaka dengan kehendak dan hikmah Allah  Shubhanahu wa ta’alla yang agung serta keadilan-Nya.

Kedurhakaan dan kemaksiatan yang diperbuat dua makhluk yang diistilahkan tsaqalain (dua yang berat) ini terus saja terjadi di muka bumi. Banyak dan tiada terhitung pelanggaran yang mereka lakukan. Namun disebutkan pokok atau awal dari kesalahan makhluk itu ada tiga: ambisi, hasad/iri dengki, dan kibr/sombong.

1. Ambisi
Merasa tidak puas dengan apa yang telah diperoleh dan terus ingin menambah dan menambah.
Karena sifat inilah, dengan kehendak Allah  Shubhanahu wa ta’alla dan hikmah-Nya, bapak kita Adam Alaihissalam dikeluarkan dari jannah (surga) untuk kemudian turun ke bumi sebagai negeri yang memang telah dipersiapkan untuk dihuni bangsa manusia.

Iblis yang menyimpan dendam kesumat kepada Adam Alaihissalam  berusaha menggelincirkan Adam dan Hawa dengan tipu muslihatnya, tatkala ia melihat ambisi Adam Alaihissalam untuk tetap abadi di surga guna terus merasakan kenikmatan tiada tara. Sebelumnya Allah  Shubhanahu wa ta’alla telah bertitah kepada nya,

قال الله تعالى:  وَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ  [البقرة:35] 

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian berdua sukai, namun janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, yang menyebabkan kalian berdua termasuk orang-orang yang zalim.” [al-Baqarah/2: 35]

قال الله تعالى:  فَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوّٞ لَّكَ وَلِزَوۡجِكَ فَلَا يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ ١١٧ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ  [طه:118 -117] 

Maka Kami berkata, “Wahai Adam, sesungguhnya Iblis ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. Sungguh di dalam surga ini kamu tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang.” [Thaha/20: 117—118]

Iblis, nenek moyang para setan, pun melancarkan makar busuknya terhadap kedua bapak dan ibunya manusia ini.

Maka setan membisikkan pikiran jelek kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu aurat keduanya.

قال الله تعالى:  وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ  [الأعراف:20] 

Allah berfirman: “Dan setan berkata: Rabb kalian berdua tidaklah melarang kalian dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di dalam surga. “ [al-A’raf/7: 20]

قال الله تعالى:  فَوَسۡوَسَ إِلَيۡهِ ٱلشَّيۡطَٰنُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ  [طه:120 ]

Kemudian setan membisikkan pikiran jelek kepada Adam, dengan berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi5 (pohon kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” [Thaha/20: 120].

Pada akhirnya, karena ingin kekal di dalam surga jatuhlah Adam dalam tipu daya setan.

Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasa buah dari pohon terlarang itu, tampaklah bagi keduanya aurat keduanya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb keduanya menyeru.

قال الله تعالى:  فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ لِيُبۡدِيَ لَهُمَا مَا وُۥرِيَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ  [الأعراف:22] 

“Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepada kalian berdua, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’.” [al-A’raf/7: 22]

Karena kesalahan tersebut, Adam dan Hawa akhirnya diturunkan ke bumi, tidak lagi menghuni surga nan bergelimang kenikmatan, setelah Allah  Shubhanahu wa ta’allamenerima taubat keduanya.

2. Hasad atau Dengki
Hasad adalah tidak suka terhadap nikmat yang Allah  Shubhanahu wa ta’alla berikan kepada orang lain, sama saja apakah disertai keinginan hilangnya nikmat tersebut dari orang yang didengki ataupun tidak, demikian disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Karena sifat buruk ini, terjadilah permusuhan di antara dua putra Adam. Tatkala keduanya mempersembahkan kurban sebagai amalan taqarrub kepada Rabbul Alamin, hanya kurban salah satunya yang diterima, sementara itu yang satu lagi ditolak. Irilah anak Adam yang ditolak kurbannya terhadap saudaranya sehingga akhirnya ia tega membunuhnya. Terjadilah pembunuhan pertama di muka bumi. Akibat sifat apa? Ya, iri dengki atau hasad.

Allah  Shubhanahu wa ta’alla mengabadikan kisah pembunuhan tersebut dalam Tanzil-Nya,
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka dan tidak diterima dari yang lain. Yang tidak diterima berkata, “Aku pasti akan membunuhmu!” Berkata yang diterima kurbannya,

قال الله تعالى:  لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٨ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٩ فَطَوَّعَتۡ لَهُۥ نَفۡسُهُۥ قَتۡلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ  [المائدة:30-27] 

“Sungguh Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. Sungguh aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” Maka hawa nafsu yang tidak diterima kurbannya menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah saudaranya maka jadilah dia seorang di antara orang-orang yang merugi. [al-Maidah/5: 27-30].

Hasad juga merupakan perangai musuh kita al-maghdhubi ‘alaihim, yaitu orang-orang Yahudi, yang dalam shalat saat membaca al-Fatihah kita selalu berlindung dari mengikuti jalan mereka. Allah  Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang Yahudi,

قال الله تعالى:  أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا  [النساء:54] 

Apakah mereka hasad terhadap manusia atas nikmat keutamaan yang Allah berikan kepadanya?” [an-Nisa/4: 54].

Ketika kita dapati perasaan hasad ini dalam hati kita maka tahanlah lisan dan perbuatan kita, jangan kita munculkan apa yang tersimpan dalam dada. Berusahalah menghilangkan rasa tidak suka tersebut. Berdoalah agar Allah Shubhanahu wa ta’alla menambahkan keutamaan-Nya kepadanya (orang yang didengki) dan Dia memberimu sesuatu yang lebih utama darinya.

3. Sombong
Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam menerangkan tentang kibr atau sombong dengan sabdanya,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ » [رواه مسلم]

“Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim).

Karena kesombongan, Iblis jatuh dalam kekafiran. Kisahnya, tatkala Allah  Shubhanahu wa ta’alla memerintahkan para malaikat dan ikut bergabung bersama mereka si Iblis, untuk sujud penghormatan kepada Adam, maka seluruh malaikat sujud sebagai kepatuhan terhadap perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla. Namun Iblis enggan, dengan congkaknya ia menolak, beralasan ia lebih baik daripada Adam karena ia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Murkalah Rabbul Alamin kepadanya dan diusirlah dia dari surga. Allah  Shubhanahu wa ta’alla berfirman menceritakan kesombongan Iblis, dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada para malaikat,

قال الله تعالى:  وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ  [البقرة:34] 

“Sujudlah kalian sebagai penghormatan kepada Adam!” Maka mereka semua sujud, kecuali Iblis, dia enggan dan sombong, dan jadilah dia termasuk orang-orang kafir. [al-Baqarah/2: 34].

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa Iblis musuh Allah  Shubhanahu wa ta’alla hasad kepada Adam Alaihissalam  dengan kemuliaan yang Allah  Shubhanahu wa ta’alla berikan kepada Adam. Ia mengatakan dirinya dari api lebih baik daripada Adam yang diciptakan dari tanah. Jadilah kesombongan sebagai awal dosa yang diperbuat oleh makhluk. Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam telah mengancam orang yang sombong dalam sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ » [رواه مسلم]

“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan walau seberat semut yang kecil.” (HR. Muslim).

Maka hendaklah kita membuang rasa sombong ini dari hati kita dengan cepat menerima kebenaran, sesuai ataupun tidak dengan hawa nafsu kita, dan hargailah hamba-hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla, jangan mengangkat diri di hadapan mereka, namun tawadhu’lah.

Demikianlah keburukan sifat terlalu ambisi, hasad, dan sombong. Semuanya akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam jurang kesengsaraan, maka berhati-hatilah darinya!

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Referensi

  1. al-Qur’anul Karim
  2. al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, al-Imam an Nawawi, cet. Darul Ma’rifah, Bairut.
  3. at-Ta’shil fi Thalabil ‘Ilm, asy-Syaikh Muhammad ibn Umar ibn Salim Bazmul, cet. Dar al-Imam Ahmad, Kairo.
  4. Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, cet. Dar ‘Alamil Kutub, Riyadh.
  5. Kitabul ‘Ilm, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, cet. Dar ats-Tsurayya lin Nasyr, Riyadh.
  6. Syarhus Sunnah lil Muzani, Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, cet. Darul Minhaj, Kairo.
  7. Tafsir al-Qur’anil azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir, cet. al-Maktabah at-Tauqifiyyah, Kairo.

[Disalin dari احذر مواقع الزلات Penulis : Ummu Ishaq al-Atsariyah (www.asysyariah.com)  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Inabah (Kembali Kepada Allah)

INABAH (KEMBALI KEPADA ALLAH)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya al-Inabah merupakan inti dari ibadah yang sangat agung,  yang mana Allah Shubhanahu wa ta’alla telah banyak mensifati para nabi -Nya serta hamba yang beriman kepada -Nya dengan inabah ini. Diantaranya:

Allah ta’ala mengabarkan tentang nabi-Nya Daud:

 وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ وَأَنَابَ [ ص: 24]

“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”. [Shaad/38: 24].

Allah ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Sulaiman:

 وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ثُمَّ أَنَابَ  [ ص: 34]

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.  [Shaad/38: 34].

Allah ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Syu’aib:

وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ  [ هود: 88]

“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada –Nya lah aku kembali”. [Huud/11: 34].

Kemudian Allah ta’ala menjelaskan tentang nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

 ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ  [ الشورى: 10]

“Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepadaNya lah aku kembali”. [asy-Syuura/42: 10].

Dan Allah ta’ala memuji kekasihnya Ibrahim ‘alaihi sallam karena sifat yang dimilikinya yaitu inabah kepada -Nya serta kembali pada tiap urusan kepada Allah ta’ala. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang Ibrahim:

 إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّٰهٞ مُّنِيبٞ  [ هود: 75]

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah”. [Huud/11: 75].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyuruh para hamba-Nya untuk berinabah kepada-Nya:

 وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ  [ الزمر: 54]

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya”. [az-Zumar/39: 54].

Dan orang-orang sholeh dari kalangan para hamba mengatakan dalam do’anya:

رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ  [ الممتحنة: 4]

“(Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. [al-Mumthanah/60: 4].

Makna Inabah.
Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, “al-Inabah adalah kembali menggapai ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan dibarengi kembali (bertaubat) pada-Nya pada setiap waktu sambil mengikhlaskan niat. Lebih lanjut beliau mengatakan, “al-Inabah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ada dua tingkatan, pertama inabah pada rububiyah -Nya, dan jenis inabah ini termasuk inabahnya seluruh makhluk baik mukmin maupun kafir, orang sholeh maupun tholeh. Allah ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya:

 وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرّٞ دَعَوۡاْ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيۡهِ  [ الروم: 33]

“Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada -Nya”. [Ruum/30: 33].

Kedua dari jenis inabah, inabahnya para wali-wali Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dan inabah ini yaitu inabah pada uluhiyah -Nya, dengan dibarengi peribadahan serta kecintaan pada-Nya. Dan ini harus terkumpul padanya empat unsur; mencintai dan tunduk pada -Nya, kembali dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah Shubhanahu wa ta’alla “.[1]

Keutamaan Inabah:

  1. Inabah kepada Allah ta’ala merupakan pintu kebahagian dan memperoleh hidayah.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

 قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ  [ الرعد: 27]

“Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada -Nya”. [ar-Ra’du/13: 27].

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطْلَعِ شَدِيدٌ وَإِنَّ مِنْ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ » [أخرجه أحمد]

Janganlah kalian berangan-angan untuk segera mati. Sesungguhnya sakaratul maut sangatlah keras[2]. Dan sungguh merupakan kebahagian seorang hamba yang panjang umur lalu dikaruniai oleh Allah berinabah (padaNya)”. HR Ahmad 22/426 no: 14564.

  1. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan bahwa surga dan ganjaran -Nya diberikan bagi orang-orang yang takut dan berinabah.

Allah ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam firmannya:

وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ لِلۡمُتَّقِينَ غَيۡرَ بَعِيدٍ ٣١ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ٣٢ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ  [ ق: 31-33]

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan -Nya). (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat”. [Qaaf/50: 31-33].

  1. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan kabar gembira bagi orang yang berinabah.

Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

 وَٱلَّذِينَ ٱجۡتَنَبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ أَن يَعۡبُدُوهَا وَأَنَابُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰۚ   [ الزمر: 17]

“Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira”. [az-Zumar/39: 17].

Dan diantara sifat-sifat yang dimiliki oleh hamba yang berinabah ialah mengambil pelajaran dari semua ayat yang menunjukan akan keagungan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Kuasa, sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan dalam ayat-Nya:

 أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا وَزَيَّنَّٰهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٖ ٦ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٧ تَبۡصِرَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ  [ ق: 6-8]

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)”. [Qaaf/50: 6-8].

Dalam kesempatan lain Allah azza wa jalla mengatakan:

 وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ رِزۡقٗاۚ وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ [ غافر: 13]

“Dan menurunkan untukmu rizki dari langit. dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)”. [Ghaafir/40: 13].

  1. Dengan berinabah akan mencegah dirinya dari siksa dan adzab.

Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam firman-Nya:

 وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ [ الزمر: 54]

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”.[az-Zumar/39: 54].

  1. Dan Allah ta’ala telah menyuruh seluruh makhluknya untuk kembali dan berinabah kepada –

Sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla terangkan hal tersebut melalui firman-Nya:

 فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠ ۞مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ  [ الروم: 30-31]

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada   -Nya dan bertakwalah kepada -Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. [ar-Ruum/30: 30-31].

Dan diantara do’a yang biasa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah memohon dikaruniai inabah ini. sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan Ahmad dari haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau biasa membaca do’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ الْهُدَى إِلَيَّ وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا لَكَ ذَكَّارًا لَكَ رَهَّابًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا لَكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي » [أخرجه أبو داود و أحمد]

“Ya Allah, berilah hamba kemudahan jangan Engkau biarkan, berilah pertolongan jangan Engkau tolong musuhku, jadikan tipu daya untukku bukan atasku, berilah petunjuk, dan mudahkan untukku, tolonglah hamba terhadap orang yang memusuhiku. Ya Allah jadikanlah diriku hamba yang pandai bersyukur, banyak berdzikir, beribadah, serta yang taat pada-Mu, banyak berdo’a dan berinabah kepada-Mu. Ya Rabb terimalah taubatku, cucilah dosa-dosaku, kabulkan do’aku, teguhkan hujahku, berilah hatiku petunjuk, luruskan lisanku, hilangkan kebencian dalam hatiku pada orang lain”. HR Abu Dawud no: 1510. Ahmad 3/452 no: 1997.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Buraidah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, menceritakan tentang dirinya, “Pada suatu malam Buraidah keluar rumah, ditengah jalan dirinya bertemu bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas beliau mengandeng tangannya lalu membawanya masuk ke dalam masjid. Ketika didalam masjid terdengar suara orang yang sedang membaca al-Qur’an, maka Nabi bertanya, “Apakah dia membaca karena ingin riya’? Buraidah bertanya balik, “Apakah dia membaca karena ingin supaya dipuji ya Rasulallah? Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, dia adalah seorang mukmin yang berinabah, tidak, dia adalah seorang mukmin yang berinabah”.

Maka kami dapati orang tersebut adalah al-Asy’ari yang sedang membaca dengan suara yang terdengar ditelinga kami disisi masjid. Kemudian Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya al-Asy’ari –atau Abdullah bin Qois- telah dikaruniai oleh Allah suara indah dari sedikit yang dimiliki oleh nabi Daud“. HR Ahmad 38/46 no: 22952.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk manusia terbanyak yang berinabah kepada Rabbnya, dan termasuk do’a yang beliau panjatkan ialah tentang hal ini, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata, “Adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau bangun malam dan mengerjakan sholat malam beliau membaca do’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Ya Allah, segala puji bagiMu, Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta segala isinya. Segala puji bagiMu, Engkau adalah penegak langit dan bumi serta isi yang ada dalam keduanya. Segala puji bagiMu, Engkau Rabb langit dan bumi serta segala isinya. Segala puji bagiMu, milikMu lah segala kerajaan langit dan bumi dengan segala isinya. Segala puji bagiMu, Engkau adalah penguasa langit dan bumi. Segala puji bagiMu, Engkau adalah al-Haq, janjiMu adalah benar adanya, dan ucapanMu adalah benar adanya, pertemuan denganMu adalah benar adanya, surga itu adalah benar adanya, neraka itu adalah benar adanya, para nabi adalah benar adanya, Muhammad adalah benar adanya, dan hari kiamat adalah benar adanya. Ya Allah, kepadaMu lah aku berserah diri, kepadaMu pula aku bertawakal, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berinabah, dengan pertolonganMu aku berdebat dan kepadaMu juga aku mengambil keputusan hukum. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang ku lakukan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Engkau yang berhak menangguhkan dan mempercepat segala sesuatu. Tidak ada yang berhak di ibadahi secara benar melainkan Engkau, Engkau adalah illahku tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau“. HR Bukhari no: 6317. Muslim no: 769.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  الإنابة  Penyusun : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah :  Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah  IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1]  Madarijus Saalikiin 1/434.
[2]  Berkata as-Sindi manakala menjelaskan makna hadits, “Artinya ialah tempat untuk mengintai ditempat yang agak tinggi dari dataran. Seperti dikatakan, “Orang yang memperhatikan gunung ini pada tempat ini, maksudnya, orang yang mendatangi serta mendakinya. Sedang yang dimaksud dalam hadits ialah kesulitan yang akan dialaminya ketika sakaratul maut datang, beliau menyerupakan dengan orang yang mendaki gunung, serta memberi penjelasan akan larangan tersebut dalam hadits. Karena biasanya orang yang berangan-angan untuk segara mati hanyalah orang yang sedikit punya kesabaran serta sering berkeluh kesah, dan apabila benar datang apa yang di inginkannya yakni kematian tentu keluh kesah serta kesempitannya akan bertambah. Sehingga dengan sebab itu dirinya berhak untuk mendapatkan murka Allah. Sebab kebahagian itu berada pada umur panjang, karena seorang manusia hanyalah diciptakan untuk menggapai kebahagian abadi yakni didalam surga, sedangkan modal utama untuk menggapai hal tersebut adalah umurnya. Apakah kiranya engkau pernah melihat ada seorang pedagang yang menyia-yiakan modal yang dimilikinya?! Musnad Imam Ahmad 22/427.

Mewaspadai Kelalaian Dalam Mengingat Allah

MEWASPADAI KELALAIAN DALAM MENGINGAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA 

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala yang mana semua penguasa perkasa tunduk kepada -Nya, langit dan bumi tunduk dengan penuh kepatuhan dan keikhlasan kepada –Nya. Ilmu -Nya meliputi jin dan manusia. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala yang rahmat dan ilmu -Nya meliputi segala sesuatu, Dialah Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Suci Tuhan yang setiap harinya dalam urusan tertentu.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wa ta’ala, Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, Tuhan Yang Esa, Yang Maha Penyayang, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tiada seorangpun setara dengan -Nya.

Aku bersaksi bahwa  Muhammad Shalalalhu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya, yang telah diturunkan kepada-Nya Al-Furqan, sebagai pemberi peringatan bagi alam semeseta, sebagai penjelas bagi segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi kaum muslimin.

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam yang banyak dan besar kepada hamba dan Rasul -Mu Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, dan kepada para keluarga serta para shahabat beliau sepanjang zaman. Amma Ba’du.

Wahai sekalian manusia takutlah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ketahuilah bahwa kalian semua telah melalui dua alam yang fana dan akan kembali menuju alam kehidupan abadi:

قال الله تعالى: {وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ} [العنكبوت: 64]

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. [Al-Ankabut/29: 64].

Wahai sekalian kaum muslimin! Ketahuilah bahwa bencana yang paling buruk yang menggerogoti jiwa adalah lalai dari petunjuk-Nya, berpaling dari jalan yang benar dan mengikuti hawa nafsu. Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mensifati orang yang lalai dengan sifat yang sangat buruk, Allah Subhanahu wa ta’ala mengancam mereka dengan firman-Nya:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [الأعراف: 179]

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dengan cara istidraj. [Al-A’raf/7: 179]

Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mereka sebagai makhluk yang paling buruk, dan Allah Subhanahu wa ta’ala menyerupakan para manusia tersebut lebih buruk dari binatang melata. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ٢٢ وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيهِمۡ خَيۡرٗا لَّأَسۡمَعَهُمۡۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ [الأنفال: 22-23]

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah Subhanahu wa ta’ala ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). [Al Anfal/8: 22-23].

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [الجاثية: 23]

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah Subhanahu wa ta’ala membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah Shubhanahu wa ta’alla (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?. [Al-Jatsiyah/45: 23].

Kekhilafan apakah yang menimpa kalian wahai kaum muslimin dan mengapa kalian tuli mendengar kebenaran?. Atau kenapa kalian  berlaku bodoh  terhadap  Al-Qur’an yang terang atau menolak untuk berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala?. Atau justru kalian lebih rela menjadi seperti binatang atau lebih sesat dari binatang?. Perhiasan dunia yang mempesona ini telah melalaikan kalian, dan kalian telah terpedaya oleh kemegahan dunia yang memukau? Manakah  benteng-benteng dan rumah-rumah yang megah tersebut?. Di manakah Qobil dan Habil yang telah mempersembahkan kurban bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, Tuhan mereka berdua?. Di manakah para penguasa perkasa dari Gasan dan Namrud bin Kan’an dan dimanakan Ibrahim kekasih Allah Subhanahu wa ta’ala yang Maha Penyayang?. Di manakan Dzul Qornain?. Di manakah kerajaan Sulaiman?. Dimanakah bapak-bapak kalian yang  terdahulu atau orang-orang yang telah engkau kenal dengan baik?. Ketahuilah bahwa mereka semua telah binasa oleh siang dan malam, telah merasakan sakratul maut yang memisahkan mereka dengan sanak saudara mereka. Hanya Allah Subhanahu wa ta’ala tempat kita meminta pertolongan yang menghancurkan gunung-gunung sehingga berubah bagai debu-debu yang berterbangan, langit-langit terbelah bagai bunga mawar seperti kilapan minyak. Para saksi dihadirkan dan timbangan amal diletakkan:

قال الله تعالى: فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْأَلُ عَن ذَنبِهِ إِنسٌ وَلَا جَانٌّ [الرحمن: 39]

Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. [Ar-Rahman/55: 39].

Dan hukum Allah Subhanahu wa ta’ala telah membuat ketetapan di dalam firman-Nya:

قال الله تعالى: كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ [الرحمن: 26- 27]

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. [Ar-Rahman/55: 26-27]

Lalu suara penyeru terdengar memanggil dimanakah si fulan bin fulan?. Di manakah para saksi bohong dan palsu?. Di manakah para peneguk khamar?. Di manakah orang yang memakan harta anak yatim secara zalim dan dusta?. Di manakah orang yang mengambil amanah secara lalim dan membangkang?. Di manakah orang yang meninggalkan shalat, dan penyembah berhala?. Wahai para malaikat-Ku seretlah mereka pada wajah mereka ke dalam api neraka!. Mereka berteriak dan meronta-ronta baik mereka yang berusia muda belia atau sudah dewasa, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari kehinaan dan memperbaiki hati-hati kita, menutupi aurat kita semua, sesungguhnya Dia Maha pengasih lagi Maha Penyayang.

قال الله تعالى: كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ [الرحمن: 26، 27]

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?  [Ar-Rahman/55: 26-27]

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan ayat-ayat-Nya Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yang bisa saya sampaikan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepada-Nya dan bertaubatlah kepada-Nya, sebab Dia adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, pujian yang baik lagi berkah sebagaimana yang disenangi dan diridhai oleh Tuhan kita, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wa ta’ala, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi Allahlah segala kekuasaan dan pujian, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah serta memberikan nasehat kepada umat, berjihad di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar jihad dan meninggalkan umat ini pada jalan yang terang hingga malamnya bagai siang harinya, tidak ada orang yang menyimpang darinya kecuali dia akan binasa. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau dan mencurahkan keberkahan atas diri beliau, kepada para keluarga dan para shahabatnya serta seluruh orang yang  mengikuti mereka dengan kebaikan sehingga hari kiamat kelak. Amma Ba’du.

Wahai sekalian hamba Allah Subhanahu wa ta’ala, banyak orang pada zaman sekarang ini yang tidak mengenal Tuhan mereka dengan pengenalan yang sesuai dengan Kemahaagungan dan Kemahabesaran-Nya, seandainya mereka mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenarnya niscaya mereka tidak akan ditimpa dengan siksanya, sebab orang yang paling mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang yang paling takut kepada–Nya. Orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenarnya, maka dia pasti takut kepada -Nya, rasa takut ini mencegahnya untuk tidak bertindak yang tidak baik dalam perkataan, perbuatan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء [فاطر: 28]

Sesungguhnya yang takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla di antara hamba-hamba -Nya, hanyalah ulama. [Fathir/35: 28].

Orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan berani menggerakkan lisannya dengan kalimat-kalimat yang mungkar baik perkataan atau perbuatan, seperti gibah, namimah, dusta, menuduh orang lain, bertindak kefasikan, mengejek dan memperolok-olok  orang lain atau yang lainnya, tidak pula memanfaatkan anggota badannya dalam perkara-perkara yang tidak halal, bahkan menahan pandangan, pendengaran dan tangan serta kakinya dari perkara-perkara yang diharamkan, sebab dia meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala pasti melihatnya walaupun dia berada pada tempat rahasia, tersembunyi dan berdinding rapat dan tebal.

Orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan bertindak hina seperti sombong, dengki, hasad, buruk sangka dan perbuatan buruk yang dibenci lainnya, sebab dia meyakini bahawa tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah Subhanahu wa ta’ala baik di bumi atau di langit, Dia mengetahui apa-apa yang tersembunyi di dalam dada, sebagaimana Dia juga mengetahui yang ditampakkan, orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan pernah merasa tenang sehingga batinnya sama dengan lahirnya, dan suci dari segala kekejian.

Selain itu, kita tidak akan pernah mendengar dari mulut orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenarnya pada saat terjadinya musibah dan bencana kecuali perkataan yang baik dan indah, tidak marah karena ditinggal mati oleh kekasih, atau kehilangan harta dan tertimpa penyakit yang keras, sebab ia menyadari bahwa kemarahan akan menghilangkan pahala dan tidak mengembalikan apa yang telah berlalu.

Orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan berputus asa karena ditimpa kesempitan walau kesempitan tersebut menguasainya, sebab keluasan itu datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan:

قال الله تعالى: فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا [الشرح: 5، 6]

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [As-Syarah/94: 5-6].

Dia tidak pernah berputus asa berusaha meraih kebaikan walau tempatnya tinggi dan jauh, sebab dia menyadari bahwa semua perkara itu terjadi di tangan Zat yang apabila ingin mewujudkan sesuatu maka Dia berfirman, “Jadi maka Jadilah apa yang dikehendaki-Nya itu.” Walau tampak mustahil dalam pandangan orang-orang yang bodoh, orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan pernah putus asa terhadap rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, apabila dosa-dosa mereka menjulang seperti gunung-gunung dan sebanyak pasir, orang yang mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan merasa aman dengan siksa-Nya walaupun telah berbuat kebaikan yang berlimpah, sebab dia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni semua dosa-dosa dan sesungguhnya dia memiliki hujjah yang baik, dan hati-hati para hamba-Nya berada di antara dua jari di antara jari jemari, Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Tinggi, Dia tidak lalai walau banyak manusia yang meremehkan perkara ini.

Hanya ini yang bisa saya sampaikan, ucapkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, utusan Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

[Disalin dari في التحذير من الغفلة عن الله  Penulis : Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir,  Penerjemah Muzaffar Sahidu Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]

Jangan Kau Makan Daging Saudaramu

JANGAN KAU MAKAN DAGING SAUDARAMU

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Sungguh orang-orang beriman adalah bersaudara, satu mukmin dengan mukmin lain bagaikan sebuah bangunan yang saling menopang. Sedangkan ghibah (mengunjing) dan namimah (mengadu domba) merupakan dua penyakit yang akan merusak bangunan ukhuwah yang indah ini, yang akan merobohkan bangunan umat, merobek-robek kebersamaan, melahirkan persaingan hidup serta kebencian, dan juga akan merubah kehidupan bermasyarakat menjadi kubangan api yang membakar dedaunan hijau dan kering. Kalau demikian jelek efeknya, lantas bagaimana kiranya dengan sebagian orang diantara kita yang masih merasa santai, menganggap baik penyakit akut tersebut, serta senang tanpa merasa sungkan untuk duduk berada dimeja hidangan yang menghadirkan ghibah dan namimah.

Saya pernah melihat ada seseorang yang rajin sholat serta membaca al-Qur’an didalam masjid, akan tetapi, dirinya tidak mampu untuk menahan sehari saja dari ghibah atau namimah, disetiap jalan yang dia lewati, atau majelis yang ia duduk didalamnya, dengan rakusnya dia memakan kehormatan orang lain tanpa ada perasaan risih, malu apalagi takut. Dirinya seakan sedang berhadapan dengan hidangan makanan yang paling lezat, dan sedang meminum minuman yang paling menyegarkan. Bayangan awan yang menaunginya siang dan malam hanya menukil ucapan orang katanya dan katanya, mencela dan mengolok-olok orang lain.

Saya berkata dalam hati, ‘Apakah mungkin orang semacam ini mampu untuk memahami kalau sholat yang ditunaikan kepada Rabbnya ternyata bertentangan dengan semua sifat dan perilakunya tersebut’. Sesungguhnya tujuan sholat dikerjakan adalah untuk mencegah perilaku keji dan perbuatan mungkar. Apabila divisualisasikan dalam tingkah lakunya yang mengantarkan pada hilang akal pikiran sehatnya, maka tidak ada kebaikan didalam bacaan ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla kalau tanpa diikuti dengan mentadaburinya, dan tidak ada manfaat dalam tadaburnya jika tanpa direnungi makna kandungannya, dan tidak akan menumbuhkan ilmu kalau tanpa dibarengi dengan amal nyata.

Sungguh dalam ghibah dan namimah merupakan perilaku akhlak yang buruk yang akan memecah belah persatuan umat serta merobohkan bangunan umat nan kuat. Sedangkan, definisi ghibah adalah engkau menyebut-yebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci baik dengan ucapan, isyarat, ejekan, atau dalam bentuk tulisan. Hukumnya adalah haram dalam agama Allah Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du: Dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla secara tegas menegaskan dalam firman -Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّاب رَّحِيم ١٢ [ الحجرات: 12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [al-Hujuraat/29: 12].

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ» [أخرجه مسلم]

Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram darah, harta dan kehormatannya“. HR Muslim no: 2564.

Adapun definisi namimah adalah orang yang memindah isi pembicaraan orang ke tengah-tengah orang dengan tujuan ingin merusak hubungan mereka. Dan hukumnya juga sama dengan ghibah yaitu haram didalam syari’at Allah azza wa jalla. sebagaimana dijelaskan dalam firman -Nya:

وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّاف مَّهِينٍ ١٠ هَمَّاز مَّشَّآءِۢ بِنَمِيم ١١ [ القلم: 10-11]

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. [al-Qolam/68: 10-11].

Sedangkan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih tegas lagi dalam hal ini, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»[أخرجه مسملم]

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba”. HR Bukhari no: 6056. Muslim no: 105.

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, setelah itu beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Sungguh keduanya betul-betul sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab dalam perkara besar. Adapun salah satunya diadzab karena tidak menutupi ketika kencing, sedangkan satunya karena dirinya berjalan sambil mengadu domba“. HR Bukhari no: 218. Muslim no: 292.

Beliau juga pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ  الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ  وَيَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Kamu akan mendapati sejelek-jelek manusia yang bermuka dua, yang mendatangi sekelompok orang dengan muka berbeda dan kelompok lain dengan muka yang lain“. HR Bukhari no: 3494. Muslim no: 2526.

Ketahuilah tidak ada yang lebih berbahaya dari pada berlebihan dalam berbicara, betapa banyak dosa yang dihasilkan oleh lisan, dan betapa besar hukuman bagi pelakunya di sisi Allah Shalalallau ‘alaihi wa sallam Rabb semesta alam. Sungguh berlebihan dalam berbicara seperti ghibah dan namimah, dusta dan bohong, mengejek dan mengolok-olok, semuanya adalah penghancur yang akan menjerumuskan pelakunya kedalam neraka. Tidakkah kita merasa malu apabila catatan amal kita kelak dibagikan kemudian kita mendapati catatan terbanyak hanya pada menukil ucapan orang katanya dan katanya, atau yang semisalnya dari ucapan-ucapan yang berlebihan yang bukan termasuk perkara agama maupun membawa kebaikan pada perkara dunia?. Sedangkan Allah ta’ala menegur kita dalam firman -Nya:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولا ٣٦ [ الاسراء: 36]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. [al-Israa/17: 36].

Hati, lisan dan anggota badan seluruhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla ciptakan untuk para hamba-Nya, oleh karena itu jangan engkau sibukkan untuk selain ketaatan kepada-Nya, dari ucapan maupun amal sholeh, hati yang engkau miliki, gunakanlah untuk beriman serta mentauhidkan-Nya, lisan yang kita punya gunakanlah untuk berdzikir, memuji, serta mengagungkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan digunakan untuk berdakwah kepada -Nya, serta mengajari orang tentang syari’at-Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرا كَثِيرا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَة وَأَصِيلًا ٤٢ هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيما ٤٣ تَحِيَّتُهُمۡ يَوۡمَ يَلۡقَوۡنَهُۥ سَلَٰمۚ وَأَعَدَّ لَهُمۡ أَجۡرا كَرِيما ٤٤  [الأحزاب: 41-44]

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada -Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat -Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui -Nya ialah: Salam dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka”. [al-Ahzab/33: 41-44].

Melepas pembicaraan adalah perkara yang tidak ada batasnya, namun yang terpenting ialah digunakan untuk membaca kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang menegaskan dalam firman-Nya:

لَّا خَيۡرَ فِي كَثِير مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَٰحِۢ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيما ١١٤ [النساء: 114]

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. [an-Nisaa/4: 114].

Akhirnya kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, Ya Allah berilah kami petunjuk untuk menetapi budi pekerti yang paling baik, beretika didalam ucapan dan perbuatan, sesungguhnya tidak ada yang mampu memberi petunjuk melainkan Dirimu.

Membuang Waktu
Waktu ibarat wadah yang digunakan untuk menampung amal perbuatan kita, dan amal tersebut hanya terklasifikasi menjadi dua, adakala amal yang bermanfaat dan yang kedua amal yang membahayakan. Adapun manusia berperan sebagai alat yang melakukan pekerjaan amal tersebut. Dan membuang waktu pada perkara yang tidak penting itu lebih besar keberadaanya dari pada kematian. Hal itu,disebabkan karena manusia yang meninggal dunia itu hanya rugi pada keduniaannya saja, akan tetapi, gara-gara menyia-yiakan waktu mengantarkan dirinya pada dua kerugian, didunia merugi diakhirat juga merugi.

Sehingga juah-jauh hari Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mewanti-wanti kita dengan perintah-Nya agar kita selalu menjaga waktu, dengan menyibukkan pada pekerjaan amal sholeh, bisa dengan sholat, atau puasa, berhaji, berbuat kebajikan, berdzikir, bersyukur, beramal, jihad, dan mencari nafkah atau yang lainnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣  [ الأنعام: 162-163]

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi -Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al-An’aam/6: 162-163].

Pada suatu ketika aku pernah melihat ada orang yang mencabik-cabik waktunya dengan cara yang terburuk, dirinya rela berkorban, baik fisik maupun pikiran untuk sesuatu yang tidak berfaedah sama sekali, tidak pula membawa kebaikan didalamnya, yaitu nongkrong dipinggir jalan, sambil menyapu bersih pemandangan orang yang lewat dihadapannya, menanggalkan kehormatan, melepas lidah, pendengaran serta matanya pada perkara yang diharamkan oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengingatkan hal itu dalam firman-Nya:

وَمَن يَكُنِ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَهُۥ قَرِينا فَسَآءَ قَرِينا ٣٨ [ النساء: 38]

“Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang paling buruk”. [an-Nisaa/4: 38].

Aku berkata dalam hati, “Adapun orang semacam ini apakah mampu untuk memahami dirinya sendiri, bisa terbangun dari tidur panjang kelalaiannya, kemudian menginvestasikan sisa umurnya untuk beramal sholeh, dan segala perkara yang mampu mendekatkan diri kepada Rabbnya, dan mencari sesuatu yang bisa membawa manfaat untuk dunia dan akhiratnya? Sungguh dirinya termasuk dari kalangan yang diseru oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman-Nya:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولا ٣٦ [ الاسراء: 36]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. [al-Israa/17′: 36].

Demikian pula masuk dalam firman-Nya:

فَوَرَبِّكَ لَنَسۡ‍َٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٩٢ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٣  [ الحجر: 92-93]

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. [al-Hijr/15: 92-93].

Dan juga firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡكَعُواْ وَٱسۡجُدُواْۤ وَٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُواْ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ۩ ٧٧  [ الحج: 77]

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. [al-Hajj/22: 77].

Kenapa ayat-ayat semacam ini hilang lafadh, makna, buah serta ancamannya dalam benaknya?

Tanaman apa yang sedang ia tanam kalau kehidupannya saja semacam ini? kemudian apa yang bisa diharapkan kelak setelah kematiannya? Dan bagaimana raut mukanya ketika harus bertemu dengan Rabbnya kelak? Apakah dengan ini manusia diciptakan? Tentu tidak, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ١١٦  [ المؤمنون: 115-116]

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. [al-Mukminuun/23: 115-116].

Sungguh tidak ada kebahagian hakiki melainkan dengan mengikuti kebenaran. Dan langit dan bumi diciptakan dengan kebenaran maka wajib bagi kita mengetahui tentang kebenaran ini kemudian kita mengamalkan kebenaran tersebut serta mendakwahkan pada orang lain. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan tentang keutamaan berdakwah dalam firman-Nya:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣  [ فصلت: 33]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”. [Fushshilat/41: 33].

Sesungguhnya Islam telah memberikan skema hidup bagi tiap muslim, dengan sebuah metode untuk bisa menghabiskan seluruh waktunya, yang penuh dengan amal sholeh, dengan tidak meninggalkan satu peluangpun bagi setan untuk menjadikan kehidupan manusia bersendau gurau serta menjadi boneka syahwatnya.

Yaitu dimulai dari sholat lima waktu, sholat-sholat sunah, amal sholeh, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar, dakwah kepada-Nya, mengajari orang tentang syari’at-Nya, berpuasa, mencari rizki halal, berdzikir, berjihad dan lain sebagainya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman-Nya:

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣  [ العصر: 1-3]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. [al-Ashr/103: 1-3].

Sesungguhnya pohon yang rindang tidak akan merelakan benalu dan hama tanaman tumbuh dan menyerangnya. Maka hendaknya kita bersegera untuk beramal sholeh, sesungguhnya hal itu dapat mengalahkan kejelekan melalui izin Allah azza wa jalla. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ١١٤  [ هود: 114]

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. [Huud/11: 114].

Sesungguhnya hati apabila dipenuhi dengan kebenaran niscaya kejelekan tidak akan mempunyai tempat didalamnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan melalui firman-Nya:

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقا ٨١ وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآء وَرَحۡمَة لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارا ٨٢  [ الاسراء: 81-82]

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. [al-Israa’/17: 81-82].

Dua hal, waktu dan umur yang pasti berlalu, dan diriku jikalau tidak engkau sibukkan untuk kebaikan niscaya dirimu akan tersibukkan dengan kebatilan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

وَنَفۡس وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠  [ الشمس: 7- 10 ]

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. [asy-Syams/91: 7-10].

Ketahuilah sesungguhnya amal perbuatan sangatlah banyak, jauh terbentang dan balasannya menunggu disana, apakah pernah kita sadari hal itu? Kalau seandainya kita  paham, apakah sudah ada amal nyata? Karena setiap insan akan memperoleh balasan selaras dengan amalannya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman-Nya:

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ٤٠ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ٤١  [ النجم: 39-41]

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”. [an-Najm/53: 39-41].

Ketahuilah bahwa siang dan malam adalah dua harta karun dari harta karunnya Allah ta’ala, maka perhatikanlah oleh setiap kalian dengan apa akan engkau isi harta karun tersebut.

Ketika siang menyapa maka itu adalah tamumu maka muliakanlah dirinya. Karena jika seandainya engkau mampu menjamunya dengan baik maka ketika dirinya pergi dia akan memujimu. Namun, kalau sekiranya engkau berlaku buruk padanya maka dia akan pergi dengan umpatan dan celaan, demikian pula malam dia adalah tamumu. Oleh karena itu Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَة مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤  [ آل عمران: 133-134]

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. [al-Imraan/3: 133-134].

Ya Allah, berilah taufik kepada kami agar mudah mengerjakan amal sholeh, dan jauhkanlah kami dari perbuatan keji dan dosa, serta jadikan kami sebagai hamba-hamba pilihan.

[Disalin dari الغيبة والنميمة Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri,  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]

Dampak Negatif Kemaksiatan dan Dosa

DAMPAK NEGATIF KEMAKSIATAN DAN DOSA

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Di antara bencana yang banyak menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang ini adalah merajalelanya kemaksiatan dan dosa, menyebarnya kemungkaran dengan berbagai tingkatannya.

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata : “Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati, sama seperti bahaya racun terhadap tubuh dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda, dan tidakkah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa, Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari surga, tempat kelezatan, kenimatan, kemegahan,  dan kesenangan menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah?. Apakah yang mengeluarkan Iblis dari alam langit, diusir dan dilaknat, rahmat berubah menjadi laknat serta keimanan berubah menjadi kekafiran?.  Lalu sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung?. Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum ‘Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi, sehingga mereka seperti pohon-pohon kurma yang tumbang?. Sebab apakah yang menyebabkan terjadinya siksa yang menyebabkan hati-hati mereka terputus dari tenggorokan-tenggorokan mereka sehingga hati dan tenggorokan mereka berserakan dan mereka tewas?, Sebab apakah yang menyebabkan Fir’aun tenggelam bersama kaumnya, lalu ruh-ruh mereka kembali berpindah ke neraka Jahannam?. Tubuh mereka tenggelam sementara ruh-ruh mereka terbakar, sebab apakah yang mengubur Karun dan rumahnya beserta seluruh hartanya?. Sungguh, semuanya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa!.[1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَكُلًّا اَخَذْنَا بِذَنْۢبِهٖۙ فَمِنْهُمْ مَّنْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ اَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْاَرْضَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَغْرَقْنَاۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa yang disebabkan karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka”. [Al-Ankabut/29: 40]

Dosa-dosa ini ada yang besar dan ada pula yang kecil, seperti yang dijelaskan oleh nash-nash di dalam kitab dan sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

 Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).  [An-Nisa’: 31]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ

(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. [Al-Najm/53: 32]

Maksudnya adalah dosa-dosa yang kecil. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Ibnu Mas’ud bahwa dia bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أيُّ الذَّنْبِ أعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟، قالَ: أنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وهو خَلَقَكَ. قُلتُ: إنَّ ذلكَ لَعَظِيمٌ ، ثم أي؟ قال  أنْ تَقْتُلَ ولَدَكَ مَخافَةَ  أنْ يَطْعَمَ معكَ ، قلت: ثم أي؟، قال: أنْ تُزَانِيَ بحَلِيلَةِ جَارِكَ

Dosa apakah yang paling besar?. Nabi menjawab, “Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Dia-lah yang menciptakanmu”. Kemudian aku bertanya kembali: Kemudian dosa apa?. Nabi menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut jika dia makan bersamamu”. Kemudian dosa apa?. Nabi menjawab: “ Engkau berzina dengan istri tetanggamu”.[2]

Di antara manusia ada yang terlalu meremehkan dosa dan kemaksiatan dan berkata: Selama aku masih menunaikan rukun-rukun Islam, dan kewajiban-kewajiban yang ada padanya maka perkara dosa adalah enteng, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Perkataan ini tidak benar, sebab sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, selain itu Dia memiliki siksa yang pedih bagi orang yang bermaksiat kepada -Nya dan menyalahi perintah -Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۙ وَاَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۗ

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah amat berat siksa -Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Maidah/5: 98]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُۙ وَاَنَّ عَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْاَلِيْمُ 

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah amat berat siksa -Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. [Al-Hijr/15: 49-50].

Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan para hamba -Nya agar mereka tidak menyalahi perintah Rasul:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [An-Nur/24: 63]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ

“…dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. sedangkan di sisi Allah adalah besar”. [An-Nur/24: 15]

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya dari Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، حتى حمَلُوا ما أنضجُوا بِهِ خبزَهُم ، و إِنَّ مُحَقَّراتِ الذنوبِ متَى يُؤْخَذْ بِها صاحبُها تُهْلِكْهُ

Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa kecil, karena perumpamaannya seperti sebuah kaum yang singgah di sebuah lembah, lalu masing-masing dari mereka memabawa satu batang kayu, lalu mereka membakar kayu tersebut hingga bisa memasak adonan roti mereka karena sesungguhnya dosa-dosa kecilnya itu bisa membinasakannya”.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Anas Radhiyallahu anhu berkata.

 إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رسول الله-صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-من الْمُوبِقَاتِ

Sesungguhnya kalian mengetahui suatu amalan di mana dalam pandangan kalian dia lebih kecil dari rambut namun amalan tersebut pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembinasa”.[3]

Satu kemaksiatan menjadi sebab kekalahan para shahabat dalam perang Uhud, yaitu pada saat Nabi memerintahkan mereka agar tidak turun dari gunung, namun mereka tidak mentaati perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya tujuh puluh shahabat terbunuh pada perang itu, sebagaimana disebutkan di dalam sirah yang shahih.[4]

Satu kemaksiatan telah menjerumuskan seorang wanita ke dalam neraka, di dalam Ashaihaini dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya, tidak diberinya makan dan tidak pula dibiarkannya makan serangga bumi”.[5]

Bahkan terkadang seseorang menganggap enteng kalimat yang keluar dari mulutnya tanpa berfikir tentangnya, sehingga menjadi sebab dirinya terjerumus ke dalam neraka.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang tidak jelas baginya, namun dia terperosok karenanya ke dalam jurang neraka, bahkan lebih dalam dari jarak antara Masyrik dan Magrib”.[6]

Satu kemakasiatan telah mengeluarkan Adam dari Surga. Seorang penyair berkata:

Engkau menambah dosa dengan dosa, lalu dirimu mengharap
Tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli ibadah
Apakah kau lupakan Tuhan-mu saat Dia mengeluarkan Adam
Dari Surga menuju dunia hanya karena disebabkan satu dosa

Dampak negatif kemaksiatan sangat banyak, disebutkan oleh Ibnul Qoyyim di dalam kitab “Al-Jawabul Kafi liman sa’ala ani dawai syafi”, di antaranya adalah:

Pertama: Kemaksiatan bisa mengakibatkan kehinaan bagi pelakunya, sesungguhnya kedudukan yang tinggi hanya dapat diraih dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًاۗ

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka dari Allah-lah kemuliaan itu semuanya.”. [Fathir/35: 10]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul -Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui .[Al-Munafiqun/63: 8]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُفْتَرِيْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak kemurkaan akan menimpa mereka dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.”. [Al-A’raf/7: 152]

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda,

وجُعِلَ الذلُّ والصغارُ على مَن خالف أمرِي

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyalahi perintahku”.[7]

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Ya Allah jadikanlah kami mulia dengan taat kepadamu dan janganlah buat kami hina dengan bermaksiat kepadamu”. Al-Hasan AL-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sekalipun keledai mendedas dengan mereka, dan kuda-kuda melegas dengan mereka, sesungguhnya kehinaan maksiat bersemayam di dalam hati mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala enggan kecuali menghinakan orang yang bermksiat kepada -Nya”.[8]

Ibnul Mubarok berkata:
Aku melihat bahwa dosa-dosa itu mematikan hati.
Kecanduan terhadapnya mengakibatkan kehinaan
Dan meninggalkan dosa membuat hati itu hidup
Dan lebih baik bagimu meninggalkan semua dosa

Kedua: Dosa dan kemaksiatan mengakibatkan keterasingan antara seorang hamba dengan Tuhan -Nya, sekalipun seseorang memiliki semua fasilitas kenikmatan dunia maka sungguh keterasingan itu tidak akan pernah sirna darinya. Abdullah bin Abbas berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu memancarkan cahaya pada wajah seseorang, dan cahaya di dalam hati, keluasan dalam rizki, kekuatan pada badan, kecintaan di tengah-tengah makhluk, dan keburukan akan mengakibatkan kehitaman pada wajah, kegelapan dalam hati dan kelemahan badan dan kekurangan rizki serta kebencian di dalam hati para makhluk Allah”.[9]

Dan perkataan Ibnu Abbas ini dipertergas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا 

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”, [Thaha/20: 124-125]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.  [An-Nahl/16: 97]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari االمعاصي وعقوبتها Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Muzaffar Sahidu Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala Anil Dawa’i Syafi, halaman: 37-38
[2] Shahih Bukhari, no: 4477 dan shahih Muslim, no: 86
[3] Al-Bukhari no: 6492
[4] Al-bukhari no: 3986 dan Muslim: 1763
[5] Al-bukhari no: 3318 dan Muslim: 2242
[6] Al-bukhari no: 6477 dan Muslim: 2988
[7] Musand Imam Ahmad: 2/92
[8] Al-Jawbul Kafi, halaman: 53
[9] Al-Jawabul Kafi, halaman: 49

Seharusnya Kita Selalu Menangis

SEHARUSNYA KITA SELALU MENANGIS

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

 Pernahkah anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena takut siksa Allah Azza wa Jalla ? ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla akan mendorong hamba untuk selalu istiqâmah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُوْدَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلاَ يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu  di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam.[1]

Mengapa Harus Menangis?
Seorang Mukmin yang mengetahui keagungan Allah Azza wa Jalla dan hak-Nya, setiap dia melihat dirinya banyak melalaikan kewajiban dan menerjang larangan, dia khawatir dosa-dosa itu akan menyebabkan siksa Allah Azza wa Jalla kepadanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ قَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ

Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini-, maka lalat itu terbang. [HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullah]

Ibnu Abi Jamrah rahimahullah berkata, “Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allah Azza wa Jalla -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allah-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allah). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”[2].

Apalagi jika dia memperhatikan berbagai bencana dan musibah yang telah Allah Azza wa Jalla timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak merasa aman dari siksa Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ ١٠٢ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْاٰخِرَةِ ۗذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ ١٠٣ وَمَا نُؤَخِّرُهٗٓ اِلَّا لِاَجَلٍ مَّعْدُوْدٍۗ ١٠٤ يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ اِلَّا بِاِذْنِهٖۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ ١٠٥ فَاَمَّا الَّذِيْنَ شَقُوْا فَفِى النَّارِ لَهُمْ فِيْهَا زَفِيْرٌ وَّشَهِيْقٌۙ

Dan begitulah adzab Rabbmu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih lagi keras. Sesungguhnya pada peristiwa itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada adzab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari dimana manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)-Nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Saat hari itu tiba, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). [Hûd/11:102-106]

Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat, semua itu pasti akan menggiringnya untuk takut kepada  Allah Azza wa Jalla  al-Khâliq . Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ ١ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya, dan semua wanita yang hamil gugur kandungan. Kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi adzab Allah itu sangat keras. [al-Hajj/22:1-2]

Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Di dunia, mereka takut terhadap siksa Rabb mereka, kemudian berusaha menjaga diri dari siksa-Nya dengan takwa, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka, Allah Azza wa Jalla memberikan balasan sesuai dengan jenis amal mereka. Dia memberikan keamanan di hari Kiamat dengan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ ٢٥ قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِيْٓ اَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ ٢٦ فَمَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَوَقٰىنَا عَذَابَ السَّمُوْمِ ٢٧  اِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوْهُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ

Dan sebagian mereka (penghuni surga-pent) menghadap kepada sebagian yang lain; mereka saling bertanya. Mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga, kami merasa takut (akan diadzab)”. Kemudian Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.  [ath-Thûr/52:25-28]

Ilmu Adalah Sebab Tangisan Karena Allah Azza wa Jalla
Semakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya terhadap keagungan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [Fâthir/35:28]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ غَطَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِيْنٌ

Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Anas bin Mâlik –perawi hadits ini mengatakan, “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan. [HR. Muslim, no. 2359]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis”[3]

Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allah Azza wa Jalla dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.

Lihatlah para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum, begitu mudahnya mereka tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.[4]

Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena takut kepada Allah Azza wa Jalla merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla , tentulah kita akan menangis karena-Nya atau berusaha menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda beliau:

لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوْعٍ فِيْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا اْلأ َثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيْضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ

Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allah daripada dua tetesan dan dua bekas. Tetesan yang berupa air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas di jalan Allah dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu kewajiban dari kewajiban-kewajibanNya.[5]

Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa menangis tersebut adalah benar-benar karena Allah Azza wa Jalla , bukan karena manusia, seperti dilakukan di hadapan jama’ah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang menangis dalam keadaan sendirian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allah pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Pertama: Imam yang berbuat adil; kedua: pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya; ketiga: seorang laki-laki yang hatinya tergantung di masjid-masjid; keempat: dua orang lak-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah; kelima: seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”; keenam: seorang laki-laki yang bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; ketujuh: seorang laki-laki yang menyebut Allah di tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata”.[HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031]

Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat isi hati manusia akan dibongkar, segala rahasia akan ditampakkan di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka kemana orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah Azza wa Jalla pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla .

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata, “Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allah Azza wa Jalla , sebutlah Rabbmu dengan hati yang kosong dari memikirkan yang lain. Jangan fikirkan sesuatupun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin menangis sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan menangis karena rindu kepada Allah Azza wa Jalla dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya? Oleh karena itu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “seorang laki-laki yang menyebut Allah di tempat yang sepi“, yaitu hatinya kosong dari selain Allah Azza wa Jalla , badannya juga kosong (dari orang lain), dan tidak ada seorangpun di dekatnya yang menyebabkan tangisannya menjadi riyâ dan sum’ah. Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi”[6].

Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla . Wallâhul Musta’ân.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII/1431/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]   HR. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasâ`i 6/12; Ahmad 2/505; al-Hâkim 4/260; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264. Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullah mengatakan, “Shahîh lighairihi“. Lihat penjelasannya dalam kitab Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihîn 1/517; no. 448)
[2]  Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497
[3] Syarah Muslim, no. 2359
[4] Lihat Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihin 1/475; no. 41
[5] HR. at-Tirmidzi, no. 1669; dihasankan oleh Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullah dalam Bahjatun Nâzhirîn, 1/523, no. 455
[6] Syarh Riyâdhus Shâlihîn 2/342, no. 449

Tujuh Belas Penghibur Duka

TUJUH BELAS PENGHIBUR DUKA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Dunia adalah tempat ujian dan cobaan, maka seharusnya seseorang tidak mengingkari terjadinya bencana dan kesusahan. Sungguh, semua kesenangan di dunia ini seperti fatamorgana. Bangunan-bangunan megahnya akan roboh dan sirna, orang-orang yang datang dengan menyenangkan akan pergi semua. Seluruh makhluk akan menghadap Penciptanya.

Sebagian orang, saat mendapatkan kesusahan, dia terlalu berkeluh-kesah hingga melewati batas, seolah-olah dia tidak mengetahui bahwa itulah dunia. Bukankah orang sehat hanya menanti sakit ? Anak muda hanya menanti ketuaan dan kepikunan, dan makhluk yang diciptakan hanya menanti kematian ?

Diantara bentuk kesusahan dan derita yang dirasa berat yaitu kehilangan orang yang tercinta, sehingga seseorang membutuhkan sesuatu yang bisa mengokohkan jiwanya. Marilah kita perhatikan beberapa ponit di bawah ini semoga bisa menghilangkan atau meredakan kesusahan yang ada.

Pertama : Seseorang harus mengetahui bahwa semua kejadian telah ditakdirkan dan tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allâh.  [Al-Hadid/57: 22]

Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan hikmahnya :

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa Allâh berikan kepadamu. Dan Allâh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,  [al-Hadid/57: 23]

Dengan demikian, semua musibah itu telah ditetapkan oleh Allâh Yang Maha Bijaksana. Bukan terjadi secara kebetulan atau gejala alam saja, sebagaimana anggapan orang-orang yang tidak beriman ! Dan bukan terjadi dengan sia-sia tanpa hikmah. Musibah kemungkinan untuk menghentikan suatu kerusakan, atau hukuman suatu dosa, atau sebab untuk meraih pahala.

Kedua : Mengetahui bahwa dunia adalah tempat ujian dan bencana, sehingga tidak bisa diharapkan kesenangan yang kekal darinya.

Ketiga : Mengetahui bahwa keluh-kesah adalah musibah kedua yang menimpa hamba!

Keempat : Hendaklah membandingkan dan membayangkan jika musibah yang terjadi lebih besar dari yang ada, seperti membayangkan kehilangan dua anak, saat kehilangan satu anak, dan seterusnya. Demikian musiah yang ada akan terasa lebih ringan.

Kelima : Hendaklah meneladani sikap orang shalih lain yang mengalami musibah serupa. Karena meneladani orang lain itu akan membawa kepada ketenangan yang besar.

Keenam : Hendaklah membandingkan keadaan orang lain yang mendapatkan musibah yang lebih besar darinya, sehingga hal itu akan meringankannya.

Ketujuh : Mengharap ganti, jika memang musibah itu mengenai sesuatu yang mungkin untuk mendapatkan ganti, seperti kehilangan anak atau istri.

Kedelapan : Mengharapkan pahala dengan cara bersabar. Seyogyanya orang yang terkena musibah memahami nilai kesabaran, pahala orang yang bersabar dan kisah kesabaran mereka. Jika bisa meningkat kepada sikap ridha, maka itu adalah puncak keutamaan.

Kesembilan : Hendaklah seorang Mukmin mengetahui bahwa takdir Allâh Azza wa Jalla  itu paling baik untuknya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan tentang keadaan orang Mukmin yang mengherankan, yaitu karena semua urusannya baik baginya.

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari Shuhaib, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusan orang mukmin itu baik, dan hal itu tidaklah terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika kesenangan mengenainya, dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan  jika kesusahan mengenainya, dia bersabar, maka sabar itu baik baginya [HR. Muslim, no: 2999]

Kesepuluh : Memahami bahwa ujian yang berat itu dikhususkan oleh Allah Azza wa Jalla bagi orang-orang pilihan. Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ النَّاس أَشَدُ بَلاءً ؟

“Wahai Rasûlullâh , siapakah manusia yang paling berat musibahnya?”

Beliau menjawab:

الأنبِياءُ ثُم الصَالِحُونَ

Para Nabi, kemudian orang-orang shalih. (HR. Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad, Ibnu Majah, dan lainnya. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Kesebelas : Hendaklah seorang Mukmin mengetahui bahwa dia adalah makhluk Allâh , tidak memiliki kekuasaan sedikitpun terhadap dirinya.

Keduabelas : Mengetahui keagungan dan kebesaran Allâh yang menimpakan musibah, sehingga bisa menghibur kesusahannya.

Ketigabelas: Mengetahui bahwa musibah, jika merupakan ujian, maka terjadi dengan ridha dan kehendak Allâh Raja seluruh raja. Maka selayaknya seorang hamba ridha terhadap perkara yang telah diridhai oleh Sang Raja diraja.

Keempatbelas : Hendaklah dia menegur jiwanya jika berkeluh-kesah, yaitu dengan mengatakan kepadanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa hal ini harus terjadi, maka apa alasanmu berkeluh-kesah terhadap sesautu yang harus terjadi?”

Kelimabelas : Hendaklah dia mengatakan kepada dirinya sendiri, “Musibah ini hanyalah sebentar, kemudian akan hilang”. Dan hendaklah dia mengingat penyakit-penyakit yang pernah dia derita, sampai dia merasakan puncak sakitnya, kemudian penyakit-penyakit itu hilang seolah-olah tidak pernah diderita. Sesuatu itu dinilai dengan akhirnya. Barangsiapa memperhatikan akhir sesuatu, maka musibah menjadi ringan baginya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Pernahkan engkau mendapatkan kenimatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allâh , wahai Rabbku”.

Dan akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penduduk sorga. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam sorga, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkan engkau mendapatkan kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allâh , wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali”. (HR. Muslim,no. 2807)

Keenambelas: Hendaklah dia mengkhayalkan telah berpindah menuju kenikmatan sorga yang kekal. Maka apakah nilai lamanya musibah itu? Bahkan apakah nilai lamanya umur manusia atau bahkan umur dunia, dibandingkan dengan kesenangan abadi di dalam sorga?

Barangsiapa membayangkan kesenangan abadi yang tidak ada putus-putusnya, maka dia akan sangat bersuka cita dan melupakan semua kesusahan. Walaupun kematian adalah jalan untuk menuju kesenangan abadi itu, hal itu ringan baginya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يُنَادِى مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلاَ تَبْتَئِسُوا أَبَدًا ». فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)

“Seorang penyeru akan menyeru (kepada penduduk sorga ketika di dalam sorga-pen), “Sesungguhnya kamu akan selalu sehat, sehingga kamu tidak akan sakit selamanya.
Sesungguhnya kamu akan selalu hidup, sehingga kamu tidak akan mati selamanya.
Sesungguhnya kamu akan selalu muda, sehingga kamu tidak akan tua selamanya.
Sesungguhnya kamu akan selalu bersenang-senang, sehingga kamu tidak akan putus asa selamanya!”. Itulah maksud firman Allâh Azza wa Jalla : “Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (Al-A’raaf/7: 43) [HR. Muslim, no: 2837]

Ketujuhbelas : Hendaklah dia menganggap kecil kesabaran yang dia lakukan dibandingkan dengan keagungan hak Allâh , seperti hadiah yang remeh  kepada seorang raja yang besar. Dan hendaklah dia mengetahui bahwa kesabaran itu hanyalah sebentar saja waktunya.

Dan hendaklah kita mengetahui bahwa barangsiapa yang menjaga perintah-perintah Allâh pada waktu sehat dan lapangnya, maka Allâh Ta’ala akan menjaganya pada waktu kesusahannya. Semoga Allâh selalu membimbing kita di dalam kebaikan dan menjaga kita dari seluruh keburukan. Wallâh ul Musta’an.

Rujukan:

  1. Al-Qur’anul Karim, terjemah Depag.
  2. Shahih Bukhari.
  3. Shahih Muslim.
  4. Sunan Abu Dawud.
  5. Sunan Tirmidzi.
  6. Sunan Nasai.
  7. Sunan Ibnu Majah.
  8. Adabul Mufrad, karya Imam al-Bukhari.
  9. Ats-Tsabaat ‘indal Mamaat, karya Imam Ibnul Jauzi
  10. Ats-Tsabat ‘alal Islam, karya Syaikh Salim al-Hilali

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]