Cara Meraih Cinta Allâh : Mengkaji Dan Menghayati Nama-Nama Serta Sifat-Sifat Allâh Tabaraka Wa Ta’ala

CARA MERAIH CINTA ALLAH : MENGKAJI DAN MENGHAYATI NAMA-NAMA SERTA SIFAT-SIFAT ALLAH TABARAKA WA TA’ALA

Di sini Ibnul Qayim rahimahullah menjelaskan tentang hakikat ma’rifah, salah satu derajat tinggi yang menghantarkan seorang Mukmin menuju surga.

Ma’rifah secara etimologi artinya pengetahuan yang dihasilkan dari sebuah proses tafakur dan tadabbur. Berdasarkan ini, ma’rifah memiliki makna lebih dalam dibandingkan “ilmu”.[1] Perbedaan mendasar antara ma’rifah dan ilmu adalah ma’rifah memadukan antara dua komponen, yaitu ilmu dan amal secara bersamaan, terutama amalan-amalan hati.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: seseorang tidak akan mencapai derajat ma’rifah kecuali jika dia mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan baik, mengetahui jalan menuju ridha-Nya dan mewaspadai segala gangguan di jalan tersebut. Hamba yang mencapai derajat ma’rifah adalah hamba yang mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan segala nama dan sifat-sifat-Nya, membersihkan isi hatinya, menjauhi akhlak dan perangai tercela, bersabar dengan segala keputusan Allâh Azza wa Jalla baik berupa nikmat maupun musibah, mendakwahkan agama Allâh Azza wa Jalla berdasarkan ilmu yang benar sesuai petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bukan berdasarkan opini pribadi atau orang lain. Hamba itulah yang benar-benar telah mencapai derajat ma’rifah.[2]

Mengimani nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla merupakan pondasi Islam, Iman dan Ihsan. Maka orang yang mengingkari nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla pada hakikatnya menghancurkan Islam, Iman dan Ihsan itu sendiri. Adapun orang yang menta’wil sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla maka secara tidak langsung telah menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam  kurang sempurna dalam menyampaikan risalah Islam, karena bagaimana mungkin Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam dengan sengaja tidak mengajarkan makna dan kandungan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla tersebut, padahal adab dan tata cara buang hajat saja telah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan.

Mengajarkan nama dan sifat-sifat Allâh adalah inti sari dakwah seluruh nabi, karena pada hakikatnya para nabi diutus dengan membawa tiga risalah pokok, yang semuanya berporos pada tauhid:

Pertama: Mengajak manusia untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla semata, dan ini hanya bisa terwujud jika manusia telah mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan benar, dengan segala nama yang mulia dan sifat-sifat yang sempurna.

Kedua: Menunjukkan jalan menuju ridha Allâh Azza wa Jalla dan kiat-kiat agar dapat istiqamah dalam meniti jalan tersebut, yaitu dengan mengajarkan segala perintah dan larangan Allâh Azza wa Jalla , pahala bagi yang taat dan hukuman bagi pelaku maksiat. Sehingga para hamba melaksanakan segala bentuk ibadah dengan dasar patuh akan perintah Allâh Azza wa Jalla dan mengharap pahala dari-Nya.

Ketiga: Menjelaskan tentang negeri akhirat, surga sebagai tempat kembali hamba-hamba yang bertauhid, dan neraka sebagai tempat kembali hamba-hamba yang kufur dan syirik. Menjelaskan pula fase-fase yang harus dilalui sebelum itu, seperti adanya mizan, telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam , shirath dan lain-lain.[3]

Sudah menjadi sunnatullah bahwa tiga tugas pokok di atas selalu ditentang oleh musuh-musuh kebenaran, yang menghalangi para pengikut nabi untuk melaksanakan dan merealisasikannya dalam kehidupan mereka. Diantara musuh-musuh itu adalah para ahli ta’thil yang mengingkari sebagian sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , sehingga membuat para pengikutnya tidak bisa mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan baik dan benar. Juga orang-orang liberal yang menjauhkan hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla dari pemahaman dan pengamalan agama yang lurus. Ada pula para pengekor dan pengumbar syahwat yang membuat manusia lalai dari beramal untuk negeri akhirat.

Diantara tiga musuh di atas, yang paling berbahaya adalah para ahli ta’thil, yang mengingkari sifat-sifat kesempurnaan, keindahan dan kemulian Allâh Azza wa Jalla . Karena jika hamba mengira Allâh Azza wa Jalla tidak sempurna maka akan melahirkan perbuatan syirik, seperti menyangka bahwa harus ada perantara antara hamba dengan Allâh Azza wa Jalla ketika melaksanakan sebuah ibadah, yang akhirnya justru membuat hamba tersebut menyembah wasilah bukan menyembah Allâh Azza wa Jalla .

Oleh karena itu perbuatan ta’thil termasuk su’udzan terhadap Allâh dan ancamannya sangat berat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allâh. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk, dan Allâh murka kepada mereka dan mengutuk mereka, serta menyediakan neraka jahannam bagi mereka. Dan (neraka jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembali.[Al-Fath/48:6]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: ancaman seperti di atas tidak lain hanya ditujukan bagi orang yang su’udzan terhadap Allâh Azza wa Jalla, dan termasuk su’udzan terbesar adalah mengingkari sifat-sifat serta nama-nama Allâh Azza wa Jalla .[4]

Untuk menghindari bahaya ta’thil di atas, ada dua hal yang harus dilakukan:

Pertama: Mengimani semua nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla yang tercantum dalam ayat al-Qur’an maupun hadits sebagaimana adanya, tanpa melakukan ta’wil (menginterpretasikan maknanya), ta’thil (mengimani sebagian dan mengingkari sebagian lainnya) dan tahrif (menyimpangkan makna dan kandungannya).

Kedua: Mentadaburi alam semesta yang menunjukkan betapa mulia lagi sempurna penciptanya. Karena jika alam itu indah maka pasti penciptanya jauh lebih indah, jika makhluk bisa mendengar dan melihat pasti penciptanya memiliki pendengaran dan penglihatan yang lebih sempurna, jika dalam syari’at agama ada perintah untuk berbuat adil, kasih sayang dan lemah lembut pasti dzat yang menurunkan syari’at itu jauh lebih adil, mengasihi dan menyayangi hamba-hamba-Nya.

Demikianlah hendaknya para hamba selalu memohon agar diberi kepekaan hati untuk mengenal dan menghayati sifat-sifat sempurna Allâh Azza wa Jalla , sehingga dia menjadi hamba yang benar-benar mencintai Allâh Azza wa Jalla .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Raghib al-Asfahani, al-Mufrodat hal. 331
[2] Madarijussalikin, jilid 3 hal 337-338
[3] Ibnu abil’izz, Syarh al-Aqidah at-Thahawiyah, hal 89-90.
[4] Madarijussalikin, jilid 3 hal. 347