Category Archives: A4. Kesempurnaan Agama Islam

Dengan Niat, Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat

DENGAN NIAT, AMAL DUNIA JADI LADANG AKHIRAT

Oleh
Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA

Pendahuluan.
Segala puji hanya milik Allâh Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kelurga dan sahabatnya.

Allâh Azza wa Jalla telah menggariskan bahwa kehidupan umat manusia bukan hanya sekali, namun dua kali. Kehidupan dunia yang fana sebagai awal dari kehidupan dan akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sukses Anda  di dunia belum tentu berkelanjutan hingga di akhirat. Namun sebaliknya, sukses di akhirat menjadikan Anda  lupa akan kegagalan selama hidup di dunia, bagaimanapun beratnya. Apalagi bila Anda  ternyata hidup di dunia sukses dan akhirat surga menjadi milik Anda.

Antara Sial Dunia Dan Berkah Akhirat.
Di dunia ini banyak ditemukan pasar, tempat orang  mengais kesuksesan di dunia. Dan tentunya ada pula pasar-pasar akhirat, tempat menaburkan benih-benih pahala. Karenanya tidak layak bila kesibukan mewujudkan sukses di dunia, melalaikan Anda dari akhirat. Terlalai dari akhirat karena sibuk menumpuk dunia berarti sengsara selamanya.

تَعِسَ عبد الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إن أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لم يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وإذا شِيكَ فلا انْتَقَشَ

Semoga kesengsaraan menimpa para pemuja dinar, dirham, dan baju sutra (harta kekayaan), bila diberi ia merasa senang, dan bila tidak diberi, ia menjadi benci. Semoga ia menjadi sengsara dan terus menerus  menderita. Dan bila ia tertusuk duri, semoga tiada yang sudi mencabut duri itu darinya. [HR. Bukhâri]

Sebaliknya, lalai dari dunia karena sibuk membangun akhirat berarti sukses di dunia akhirat.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

… Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allâh, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupinya. Sesungguhnya Allâh (berkuasa untuk) melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya Allâh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan.”  [at Thalâq/65:2-3]

Selanjutnya terserah kepada Anda, ingin sukses dunia akhirat atau sengsara selamanya, walau hidup di lumbung harta benda. Sahabat Ali Radhiyallahu anhu  berkata :

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal. [Mushannaf  Ibnu Abi Syaibah 8/155]

Dengan Ketulusan Niat, Anda Pasti Beruntung
Suatu yang wajar bila dalam suatu perniagaan ada yang beruntung dan ada pula yang merugi. Namun keuntungan adalah cita-cita setiap insan, termasuk Anda. Bukankah demikian saudaraku ? Karenanya, sudikah Anda  saya tunjukkan kepada kiat-kiat meraih keuntungan dan tidak pernah bunting ? Sukses di dunia dengan untung segunung dan di akhirat keuntungan Anda  tiada berujung ?

Tahukah Anda  kiat apakah itu? Ketahuilah, kiat itu adalah dengan menjaga hati Anda  sehingga selalu tulus karena Allâh atas apapun yang Anda  kerjakan, baik ibadah ataupun amal kebiasaan Anda. Dengan niat yang baik, apalagi tulus karena Allâh, amal kebiasaan Anda  bernilai ibadah, tanpa mengurangi sedikitpun dari fungsi amal kabiasaan Anda. Demikianlah dahulu para ulama’ menjalani kehidupan mereka. Sahabat Mu’âz bin Jabal Radhiyallahu anhu berkata :

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَرْجُو فِى نَوْمَتِى مَا أَرْجُو فِى قَوْمَتِى

Adapun aku, maka aku tidur dan juga shalat malam, namun dari tidurku aku mengharapkan (bisa meraih) apa yang aku harapkan (bisa diraih) dari shalat malamku. [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, sebaliknya, karena lalai dari niat, maka bisa menyebabkan amal ibadah Anda  hanya bernilai kebiasaan dan rutinitas semata. Dahulu dinyatakan:

عِبَادَاتُ أَهْلِ الْغَفْلَةِ عَادَاتٌ، وَعَادَاتُ أَهْلِ الْيَقْظَةِ عِبَادَاتٌ

Amal ibadah orang yang lalai hanyalah rutinitas, namun rutinitas orang yang waspada semuanya bernilai ibadah[1]

Subhanallah, walaupun Anda  tidur pulas hingga mendengkur, namun itu tidak menghalangi pahala mengalir ke lembaran-lembaran amal Anda. Dengan demikian, indahnya dunia dapat Anda  nikmati dan pahala akhirat pun terus mengalir tiada henti. Enak bukan ?

Status Amalan Anda Selaras Dengan Niat Anda.
Setelah mengetahui bahwa dengan niat, rutinitas Anda dapat bernilai ibadah, mungkin Anda  berkata, “Apabila benar demikian, betapa mudahnya jalan menuju surga ?” Betul saudarku, namun walau demikian, ternyata selama ini Anda  berjalan di tempat dan sehingga tetap saja jauh dari pintu surga. Untuk membuktikannya, perkenankan saya bertanya, “Berapa amalankah yang Anda  kerjakan ketika Anda  membaca tulisan saya ini ?”

Tahukah anda, bahwa sejatinya saat ini Anda  sedang mengerjakan beratus-ratus amalan dan mungkin beribu-ribu amalan? Anda  terkejut keheranan dan bahkan  tidak percaya ?

Untuk membuktikanya, izinkan saya kembali bertanya, “Apakah saat ini Anda  sedang berzina ? Apakah saat ini Anda  sedang memakan daging babi ? Apakah saat ini Anda  sedang menyembah patung ? Apakah saat ini Anda  sedang mencari sanjungan (riya’ dan sum’ah) ? Apakah saat ini Anda  sedang memakan riba ? Apakah saat ini Anda  sedang minum khamer? Dan masih banyak lagi pertanyan serupa yang sudah pasti jawabannya adalah, “Tidak”. Walau demikian, selama ini Anda  tidak menyadari bahwa Anda sedang mengerjakan semua amalan tersebut ketika Anda membaca tulisan ini atau beraktifitas lainnya. Bila demikian adanya, tentu Anda  tidak mendapatkan pahala darinya, padahal Anda  telah melakukannya.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Yang benar, meninggalkan suatu amalan  tanpa disertai niat tidak mendapatkan pahala. Anda  hanya mendapat pahala bila Anda  dengan sadar meninggalkan suatu hal. Sehingga barang siapa di hatinya tidak terbetik sama-sekali tentang suatu amal maksiat, tentu tidak sama dengan orang yang  mengingatnya, lalu ia menahan diri darinya karena takut kepada Allâh Azza wa Jalla .”[2]

Penjelasan Ibnu Hajar ini menggambarkan betapa pentingnya menghadirkan niat baik dalam setiap aktifitas Anda. Tanpa perlu waktu, tenaga atau bekal apapun, lautan pahala menjadi milik Anda. Semua itu dengan mudah Anda  gapai hanya berbekal niat baik dalam hati anda.

Ibnul Qayyim rahimahullah lebih jauh menjelaskan, Sungguh tujuan dan keyakinan hati diperhitungkan pada setiap perbuatan, dan ucapan, sebagaimana diperthitungkan pula pada amal kebaikan dan ibadah. Tujuan, niat dan keyakinan dapat menjadikan satu amalan halal atau haram, benar atau salah, ketaatan atau maksiat. Sebagaimana niat dalam amal ibadah menjadikannya dihukumi wajib atau sunnah, haram atau halal, dan benar atau salah. Dalil-dalil yang mendasari kaedah ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini.”[3]

Hadits berikut adalah salah satu dalil yang melandasi penjelasan ulama’ di atas :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya setiap amalan pastilah disertai dengan niat. Dan setiap pelaku amalan hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka orang yang berhijrah karena menaati perintah Allâh dan rasul-Nya, maka ia mendapatkan pahala dari Allâh karenanya, dan orang yang berhijrah karena urusan dunia, atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hanya itulah yang akan ia dapatkan (tidak mendapatkan pahala di akhirat. [Muttafaqun alaih]

Mengenal Dua Macam Amalan
Untuk dapat menjadikan setiap aktifitas Anda  bernilai ibadah, maka terlebih dahulu Anda  harus mengenali berbagai aktifitas Anda dan niat-niat Anda pada setiap amalan. Para Ulama’ menjelaskan bahwa secara global amalan terbagi menjadi dua :

1. Amalan yang Tidak Sah Bila Tanpa Niat.
Contoh amalan jenis ini ialah berbagai amal ibadah murni, seperti  shalat, puasa, haji, wudhu dan lain sebagainya. Andai Anda melakukan amal ini tanpa disertai dengan niat, niscaya amalan Anda  tertolak dan tidak mendapatkan pahala. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ

Tiada (ada) puasa bagi orang yang tidak membulatkan niatnya untuk berpuasa sebelum terbit fajar. [HR. Abu Dâwud, at-Tirmizi dan lainnya]

2. Amalan yang Sah Walau Tanpa Niat.
Berbagai amal ibadah yang mendatangkan manfaaat bagi pelakunya atau orang lain adalah contoh nyata dari amalan jenis ini. Misalnya menolong orang kesusahan, menyambung tali silaturahmi, sedekah, dan yang serupa. Dan diantara contoh amalan ini ialah amalan dalam bentuk meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam syari’at. Misalnya, bersuci najis, mengembalikan barang rampasan, membayar hutang, dan yang semisal denganya. Bila Anda  mengamalkan amalan jenis ini tanpa niat, maka amalan Anda  sah alias menggugurkan kewajiban, namun Anda  tidak mendapatkan pahala darinya.

Beda Antara Sah Dan Diterima.
Mungkin Anda  bertanya, sebenarnya apa sih perbedaan antara sah dengan diterima ? Ketahuilah saudaraku, bahwa setiap amalan yang diterima pastilah sah, namun belum tentu amalan yang sah diterima Allâh Azza wa Jalla . Karenanya, walaupun ibadah orang-orang munafiq sah di dunia, namun di akhirat tidak diterima. Sebagaimana shalat orang yang mendatangi dukun sah  di dunia, namun di akhirat tidak mendapatkan pahala, alias tidak diterima.

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima satu shalatpun darinya selama empat puluh hari. [HR. Muslim]

Imam Nawawi t menjelaskan, Maksud hadits ini, shalatnya tidak mendapat pahala, walaupun sah dan bisa menggugurkan kewajiban si pelaku dan tidak perlu diulang.”[4]

Dua Macam Niat
Para ulama’ juga menjelaskan bahwa Anda  dituntut untuk menghadirkan dua jenis niat, pada setiap kali beramal :

1. Niat menjalankan amalan alias mengamalkan amalan dengan sadar
Niat macam ini merupakan syarat sah suatu amalan. Niat dengan kategori inilah yang biasanya dibahas dalam kitab-kitab fiqih. Bila Anda  berenang di kolam renang, namun Anda  lupa bila Anda  sedang junub, maka walaupun sekujur tubuh Anda  telah basah kuyup sebagaimana orang mandi junub, namun tetap saja janabah Anda  belum sirna. Karena Anda melupakan niat yang merupakan syarat sah mandi junub.

2. Niat menjalankan amalan karena Allâh (ikhlas).
Dengan niat macam ini Anda  mendapatkan pahala dari amalan ibadah Anda.

Imam as Suyuthi berkata: “Sebagian ulama’ terkini menegaskan bahwa ikhlas adalah suatu yang lebih  sebatas niat. Keikhlasan tidaklah mungkin terwujud tanpa niat, namun sebaliknya niat bisa saja terwujud walaupun tanpa ikhlas. Sedangkan para Ulama’ ahli fikih biasanya hanya membicarakan sebatas niat, dan berbagai hukum yang mereka sebutkan hanya berkisar padanya. Adapun keikhlasan, maka itu hanya Allâh yang mengetahuinya.”[5]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya para Ulama’ telah sepakat bahwa suatu amalan yang tidak mungkin diamalkan melainkan sebagai ibadah, tidak sah kecuali dengan niat. Berbeda dengan amalan yang kadang dilakukan sebagai amal ibadah dan di lain kesempatan sebagai suatu rutinitas, semisal menunaikan amanat dan membayar piutang.[6]

Niat jenis ini merupakan syarat diterimanya setiap amalan. Sehingga amal apapun tidak mungkin diterima dan mendapatkan pahala bila dilakukan dengan tidak ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla .

Amalan yang Dapat Bernilai Ibadah Dengan Niat.
Amalan yang dapat memiliki nilai ibadah karena Anda  melakukannya dengan niat yang baik ialah amalan rutinitas yang baik. Bila Anda  melakukan amal rutinitas dengan niat yang baik, maka amalan tersebut bernilai ibadah. Namun bila Anda  melakukannya karena sebatas rutinitas semata, tanpa memaksudkannya untuk meraih pahala, maka Anda  tidak mendapatkan pahala darinya.

Dan yang dimaksud bernilai ibadah ialah Anda  mendapatkan pahala dari rutinitas tersebut, tanpa mengurangi fungsi dan manfaat dari rutinitas Anda  itu. Sebagai contoh; berhubungan badan dengan istri, adalah cara Anda untuk melampiaskan kebutuhan biologis Anda. Namun bila Anda  membubuhkan niat demi menjaga diri Anda  dan istri Anda  dari maksiat, tentu amalan ini mendatangkan pahala bagi Anda, tanpa mengurangi kepuasan Anda  dari hubungan badan tersebut.  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

)وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ(. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: (أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ، فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ).

“Dan dengan melampiaskan syahwat birahimu engkau bisa mendapatkan pahala”. Spontan para sahabat bertanya keheranan, “Wahai Rasûlullâh, mungkinkah dengan melampiaskan syahwat birahi, kita mendapatkan pahala karenanya?” Rasûlullâh balik bertanya, “Apa pendapat kalian bila ia melampiaskannya pada perbuatan haram, bukankah ia berdosa ? Demikian pula sebaliknya bila ia melampiaskannya di jalan yang halal, maka tentu ia mendapatkan pahala.” [HR. Muslim]

Imam Nawawi rahimahullaht berkata, “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa dengan niat baik, amalan mubah dapat bernilai ibadah. Hubungan badan –misalnya- bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat memenuhi hak istri, atau memperlakukannya dengan cara yang baik sebagaimana yang Allâh peritahkan. Demikian juga  dengan tujuan  mendapatkan keturunan yang shaleh, atau menjaga dirinya atau istrinya dari perbuatan haram. Dan bisa juga dengan maksud melindungi keduanya dari memandang hal haram, membayangkan, atau menginginkannya atau niat-niat baik yang lain.”[7]

Kalau ini baru Anda ketahui, berarti selama ini, Anda  rugi besar, karena begitu banyak amal rutinitas Anda yang dapat mengalirkan pahala, namun selalu Anda sia-siakan. Setiap pagi Anda  makan dan minum, namun hanya sekedar menuruti selera perut semata. Andai Anda  membubuhkan niat agar dapat kembali kuat sehingga bisa menjalankan ibadah, tentu segunung pahala dapat menjadi milik Anda.

Dengan demikian, niat-niat yang selama ini mendorong Anda  melakukan berbagai rutinitas Anda, seakan-akan sia-sia belaka. Kepuasan biologis, kesenangan, refresing dan lainnya pastilah tercapai dari rutinitas Anda, baik Anda  meniatkannya atau tidak. Namun tidak demikian dengan pahala dan keridhaan Allâh Azza wa Jalla . Tanpa niat yang baik nan tulus, Anda  tidak mungkin meraihnya.

Sekali lagi renungkan ! Anda  memberi uang belanja kepada istri, tentu membuat mereka senang dan akhirnya setia kepada anda. Namun bila Anda  membubuhkan niat menjalankan kewajiban yang telah diamanatkan oleh Allâh kepada Anda  sebagai suami, tentu ini akan menjadi amal ketaatan yang bernilai tinggi. Disamping istri Anda  tetap senang dan dengan izin Allâh semakin setia kepada Anda.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Sesungguhnya tidaklah engkau membelanjakan suatu harta demi mendapatkan keridhaan Allâh, melainkan engkau mendapat pahala darinya. Sampai pun sesuap makanan yang engkau berikan kepada istrimu. [Muttafaqun ‘alaih]

Bila demikian, manakah yang lebih menguntungkan, memberi nafkah hanya sebagai rutinitas belaka, atau membubuhkan niat mengharap keridhaan Allâh Azza wa Jalla padanya ? Jawabannya, tentu yang kedua.

Menggabungkan Niat Dunia Dan Akhirat.
Setelah membaca keterangan di atas, mungkin Anda  menduga bahwa Anda  tidak dibenarkan untuk menggabungkan niat menikmati rutinitas dengan mencari keridhaan Allâh Azza wa Jalla ?

Tidak demikian saudaraku! Menggabungkan antara keduanya adalah sah-sah saja, namun tentu nilai ibadah Anda pun berbeda. Semakin Anda  berhasil memurnikan niat pada rutinitas Anda  hanya karena Allâh, semakin besar pula pahala Anda. Namun sebaliknya semakin besar keinginan Anda  untuk mewujudkan kepentingan pribadi Anda, maka semakin kecil pula nilai ibadah amalan Anda. Renungkan kisah berikut :

أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَال:َ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لاَ، غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

Ada seorang lelaki hendak menjenguk saudaranya yang berdomisili di kampung lain. Maka Allâh memerintahkan seorang malaikat untuk mencegatnya di tengah jalan. Tatkala lelaki itu melintasi malaikat tersebut, malaikat bertanya, “Kemanakah engkau hendak pergi ?” Ia menjawab, “Aku hendak menjenguk saudaraku di kampung ini.” Kembali malaikat bertanya, “Apakah engkau memiliki sesuatu kepentingan yang hendak engkau selesaikan darinya ?” Kembali ia menjawab, “Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala .” Mendengar jawaban itu, malaikat itupun berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allâh untuk menkabarkan kepadamu bahwa Allâh telah mencintaimu, sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu karena-Nya.” [HR. Muslim]

Berkunjung ke sahabat atau saudara, pasti mendatangkan banyak manfaat di dunia. Namun tatkala lelaki di atas tidak memiliki niat lain dari kunjungannya terhadap saudaranya itu selain karena upaya melanggengkan hubungannya yang tulus karena Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh-pun mencintainya. Suatu pahala yang sangat besar yang sangat didamba oleh setiap insan yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla, termasuk Anda.

Dan dari alur kisah hadits di atas, dapat dipahami bahwa andai lelaki itu memiliki kepentingan lain yang tidak bertentangan dengan ketulusan cintanya, tentu ia tidak mendapatkan keutamaan tersebut.

Penutup
Apa yang telah saya paparkan pada tulisan sederhana ini tentunya hanya sekelumit dari pembahasan tentang niat. Terlalu banyak pembahasan tentang niat yang seyogyanya kita ketahui, terlebih-lebih kiat-kiat mewujudkan niat yang tulus dan benar dalam hidup nyata.  Hati Anda  walau terletak dalam dada anda, namun tidak mudah untuk menundukkannya.  Sufyan ats-Tsauri berkata :

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نَفْسِي مَرَّةً لِي وَمَرَّةً عَلَيَّ

Aku tidak pernah membenahi suatu hal yang lebih berat dibanding jiwaku sendiri. Kadang kala patuh dengan keinginanku dan sering pula tidak.”

Ya Allâh, Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah niat kami di atas ketaatan kepada-Mu. Amiin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah oleh Syaikh Muhamad Ibnu Utsaimin, hlm. 9
[2] Fathul Bari 1/15
[3] I’lâmul Muwaqî’in, 3/118
[4] Syarah Shahih Muslim oleh Imam an-Nawawi rahimahullah, 14/227
[5] al-Asybâh wan Nazhâir, hlm. 20
[6] Majmû’ Fatâwâ, 18/259
[7] Syarah Shahih Muslim oleh An Nawawi 7/92

Diantara Fenomena Kemunafikan

DIANTARA FENOMENA KEMUNAFIKAN

Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menciptakan manusia agar mereka menjadi baik bukan buruk, menjadi pribadi yang bermanfaat bukan berbahaya, menjadi sosok yang ikhlas bukan munafiq. Allah berfirman:

قال الله تعالى لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤ ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ٥ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ   [ التين: 6-4]

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. [At-Tin/95: 4-6].

Dan aku bersaksi bahwa  tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kepada para hambaNya bahwa kemunafikan adalah penyakit bahkan termasuk penyakit sosial yang paling berbahaya. Allah  Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى :  وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤ وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ …  [ البقرة: 205-204]

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi…”.[Al-Baqarah/2: 204-205].

Dan aku bersaksi bahwa tauladan kami Muhammad adalah Rasul utusan Allah, imam orang-orang yang ikhlas dalam berbuat. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan kepada para keluarga, para shahabatnya yang telah menjauhi kemunafikan, ikhlas semata karena Allah Yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Maka Allah mengangkat derajat mereka di dunia atau di akherat. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Amma Ba’du:

Nifaq adalah akhlak yang buruk, dimana pelakunya berbuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang dikatakannya. Perbedaan antara perkataan seseorang dengan perbuatannya adalah salah satu bentuk penipuan bahkan dia adalah bentuk pertama penipuan. Banyak orang-orang yang kita saksikan berpakaian seperti pakaian orang yang soleh, berbicara seperti gayanya orang-orang yang bijaksana, yang memberi nasehat dengan nasehat yang baik, kita mendengar perkataannya terlontar semanis madu, lafaz yang indah sehingga engkau menyangka bahwa perkataan tersebut keluar dari hati yang tulus dan bersih, dari relung yang bersih sehingga membuat dirimu menjadi cenderung dengannya, bergaul dengannya menerimanya sebagai kawan setia dengan penuh rasa percaya diri dan tenang namun pada saat dia mendapatkan kesempatan untuk menampakkan jati dirinya yang selama ini disembunyikannya maka dia akan menimpakan kepadamu bencana, kubang kebinasaan dan petaka-petaka yang besar, lalu pada saat itulah dirimu tidak merasakan kesedihan dan penyesalan, dan dirimu memandang kehidupan ini dengan jiwa yang tertekan karena merasa sial, seperti pandangan orang yang ragu terhadap setiap orang yang berada disekitarnya, bahkan takut terhadap bayang-bayangnya sendiri. Sang penipu ini telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Di mana dirimu telah mengubah pola pergaulan dengan dirinya dan menghapuskan kepercayaanmu terhadap dirinya, dengan tindakan seperti ini berarti dia telah berbuat buruk terhadap masyarakat secara keseluruhan sebab dia telah mempengruhi dirimu untuk takut kepada setiap orang dan menjauhkan dirimu dengan dirinya. Maka orang munafiq penipu seperti ini sebagai sumber bencana yang sangat besar.

Dan sungguh sangat mengherankan jika zaman modern ini tidak menolak keburukan ini dan telah bergerak untuk tetap menancapkan kaki tangannya di tengah-tengah kehidupan kita. Dia bertemu denganmu bagai seorang kawan yang setia atau teman sebangsa, dia melontarkan perkataan yang manis nan indah, dengan raut muka yang berseri-seri dan tersenyum, bertanya kepadamu tentang keadaan dirimu seakan sebagai orang yang sangat perhatian dengan kesehatan pribadimu dan anak-anakmu serta seluruh keadaan dirimu dengan bahasa yang indah dan halus serta wajah yang selalu tersenyum sementara demi Allah mengetahuinya bahwa dia adalah pribadi pendengki dan iri. Lapisan hatinya  memperlihatkan kadar  cinta atau rasa bencinya kepadamu, berangan-angan agar dirimu segara  ditimpa mudharat, bahkan dia berupaya secara rahasia di balik pandanganmu agar dirimu terjebak ke dalam bahaya sementara dirimu masih berniat baik kepadanya tidak mengetahui kebusukan niat yang disembunyikannya dia berbuat semua keburukannya tanpa ada rasa takut kepada Allah, Tuhannya dan tanpa menghormati harga diri orang lain. Orang yang berperilaku seperti ini sama dengan sosok yang disebutkan oleh Allah di dalam firmanNya:

قال الله تعالى : وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ [ البقرة: 12-8]

“Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al-Baqarah/2: 8-12].

Wahai sekalian hamba Allah, renungkanlah dan ambillah pelajaran dari kisah seorang lelaki bernama Ts’alabah bin Hathib yang telah menampakkan keislamannya, dia berkata dengan lisannya apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang tersimpan di dalam hatinya, selalu shalat jum’at dan menghadiri shalat jama’ah di belakang Rasulullah shalallau alaihi wa sallam. Suatu ketika dia berkata; Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar Dia berkenan memberikan rizki yang luas kepadaku dan mencurahkan kepadaku harta benda yang berlimpah. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Tsa’labah rizki yang sedikit yang engkau mampu mensyukurinya lebih bagimu daripada harta yang banyak yang tidak mampu engkau syukuri”.

Lalu dia memohon kembali dan berkata,  demi yang mengutusmu dengan kebenaran jika Allah menganugrahkan kepadaku harta yang berlimpah maka aku akan memberikan setiap orang yang berhak haknya masing-masing, maka Nabi pun berdo’a untuknya lalu dia membeli seekor kambing lalu kambing tersebut berkembang biak sehingga lembah menjadi sempit namun dia tidak memenuhi janjinya dan mengingkari nikmat-nikmat Allah kepadanya, maka diapun meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah dan nabipun seperti biasanya bertanya tentang dirinya maka para shahabat menjawab, Hartanya telah banyak, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah celakanya Tsa’labah, lalu pada saat satu tahun telah sempurna Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus dua orang lelaki untuk meminta zakat darinya. Tsa’labah menjawab kepada kedua orang utusan tersebut setelah dia merasa bahwa zakat tersebut terlalu banyak atas dirinya; Ini adalah jizyah, kembalilah sampai aku memberikan keputusan. Lalu ketika kedua utusan tersebut telah kembali pulang Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Alangkah celakanya Tsa’labah, lalu Allah menurunkan firmanNya:

قال الله تعالى :  وَمِنۡهُم مَّنۡ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٧٥ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ بَخِلُواْ بِهِۦ وَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ٧٦ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ٧٧ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ  [ التوبة: 78-75]

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?. [At-Taubah/9 : 75-78].

Itulah orang yang dusta dan berdosa yang telah menceburkan dirinya ke dalam kesengsaraan karena dia menylahi perkataan dan janjinya, dia kembali membawa murka dari Allah dan Rasul-Nya dan dia berhak mendapat siksa. Maha Benar Allah dengan firmanNya:

قال الله تعالى : إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ  [ غافر: 28]

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. [Gafir/40: 28].

Hendaklah seorang muslim bertaqwa kepada Allah dan hendaklah dia waspada terhadap kemunafikan, hendaklah hatinya sama dengan apa yang terungkap dalam perkataan lisannya, hanya kepada Allah kita memohon agar Dia sudi menunjukkan diri kita kepada jalan kebenran, jalan yang lurus dan mendapat petunjuk dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, “Kebaikan itu tidak akan pernah lapuk dan dosa itu tidak akan pernah dilupakan, dan Allah Yang Membalas tidak akan pernah mati, berbuatlah sekehendakmu seperti apa perbuatanmu maka seperti itulah engkau akan mendapat balasan”. [HR. Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Jami’ dari Abi Tsulabah radhaillahu anhu].

Semoga Allah memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan dengan petunjuk penghulu para nabi utusan Allah. Hanya inilah yang bisa aku katakan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepadaNya dan bertaubatlah kepada Allah, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wahai sekalian hamba Allah!. Orang yang menyadari sifat-sifat buruk orang-orang munafiq yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an maka dia menyadari bahwa mereka lebih berhak menempati kerak api neraka yang paling dalam. Allah mensifati mereka sebagai orang yang menipu Allah dan menipu para hambaNya, menyebutkan mereka sebagai orang yang berhati sakit, yaitu karena penyakit syubhat dan keraguan, mensifati mereka sebagai orang yang membuat kerusakan dipermukaan bumi, memperolok-olok agama Allah, para hamba, berbuat zalim, menggadaikan kesesatan dengan petunjuk, mereka orang yang tuli, bisu, buta, bimbang dan malas saat beribadah, berlaku zina, sedikit menyebut Allah dan ragu-ragu memilih antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir. Mereka tidak tergabung dalam kelompok ini dan tidak pula bergabung dengan kelompok lainnya, mereka bersumpah dengan nama Allah secara dusta dan bohong, perkara mereka samar, tidak paham terhadap agama, tidak berilmu dan tidak pula beriman kepada Allah dan hari akhir. Mereka juga membenci menangnya cahaya agama Allah, mereka bersedih jika melihat umat Islam mendapat kebaikan dan kemenangan, senang jika melihat kaum muslimin mengalami bencana dan ujian, mereka selalu mengintai kelemahan kaum muslimin, suka mencela orang-orang yang beriman dan menuduh mereka dengan tuduhan yang bukan sebenarnya, maka mereka mencela orang-orang yang bersedeqah dan mensifati mereka sebagai budak dunia, jika mereka diberikan maka mereka rela dan  jika tidak diberikan maka mereka marah, mereka juga menyakiti dan mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mencari-cari kerelaan manusia dan tidak berusaha mencari keridhaan Allah Subahanahu wa Ta’ala. Selain itu mereka juga mengejek orang-orang yang beriman.

Allah mensifati mereka sebagai orang yang busuk, yaitu benda busuk adalah benda yang paling kotor dan jelek. Mereka adalah anak Adam yang paling busuk, kotor dan hina.

Allah juga mensifati mereka sebagai orang yang menyeru kepada kemungkaran dan mencegah yang ma’ruf, pelit dalam berinfaq di jalan Allah guna mendapat keridhaan Allah.

Wahai sekalian hamba Allah!. Inilah sebagian sifat-orang-orang munafiq yang telah disebutkan dalam Al- Qur’an yang mulia dan banyak sekali orang yang bersifat seperti ini pada zaman kita sekarang. Semoga Allah melindungi kita darinya. Betapa banyak orang yang bergerak menyebarkan kerusakan di antara kaum muslimin dan betapa banyak orang yang menyerahkan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dan meninggalkan kaum muslimin.

Wahai sekalian hamba Allah!. Sesungguhnya bahaya orang-orang munafiq tersebut sangat besar, ancaman mereka sangat luas terlebih karena mereka menamakan dirinya sebagai orang muslim, bergaul bersama masyarakat muslim sehingga orang-orang merasa aman dari bahayanya.

Oleh karena itulah, kaum muslimin tidak mengalami musibah di dalam diri mereka yang melebihi musibah yang ditimpakan oleh orang-orang munafiq yang hidup di tengah-tengah masyarakat muslim.

Inilah yang dapat saya sampaikan dan ucapkanlah shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari من مظاهر النفاق Penulis Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]

Memberikan yang Bermanfaat

MEMBERIKAN YANG BERMANFAAT

 أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Manusia yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala  adalah yang paling bermanfaat

Kita melihat banyak sekali sumber daya yang terpendam di dalam jiwa seseorang dan kita merasakan sumber kisi-kisi kebaikan yang tersimpan dalam diri pemiliknya. Akan tetapi hal itu tidak menular kepada orang lain, tidak memberikan manfaat dan tidak pula menyumbangkan faedah. Bagaimana gambaran yang menyakitkan ketika engkau melihat seorang faqih (ahli fikih) berteman orang jahil yang tidak mengambil faedah apapun dari fikihnya, seorang qari (ahli baca al-Qur`an) yang ditemani orang yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang tidak berguna baginya keindahan bacaannya, dan seorang ‘abid (ahli ibadah) yang berada di samping seorang yang fasik yang tidak menular sedikitpun dari keshalehannya. Dakwah itu sendiri merupakan manfaat yang bersifat umum, maka ketika Abu Dzarr Radhiyallahu anhu masuk Islam, pembicaraan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersamanya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya:

فَهَلْ أَنْتَ مُبَلِّغٌ عَنِّي قَوْمَكَ, لَعَلَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَنْفَعَهُمْ بِكَ وَيُأْجُرَكَ فِيْهِمْ

Apakah engkau bisa menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala  memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.”[1]

Tarbiyah pertama pembicaraan pertama masuk Islam adalah tarbiyah berdakwah dan berusaha menyalurkan manfaatnya kepada orang lain.

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu meruqyah dari sengatan kalajengking, maka ia berkata, ’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari ruqyah dan sesungguhnya aku meruqyah dari sengatan kalajengking.’ Seolah-olah dia minta ijin dalam hal itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.’[2]

Dan terkadang engkau menemukan sebagian orang yang enggan melakukan sesuatu  yang tidak membahayakannya, padahal berguna bagi orang lain, karena hanya mengurus kepentingan pribadinya. Ini bukanlah sifat seorang muslim. Karena alasan itulah, Umar bin Kaththab Radhiyallahu anhu mencela Muhammad bin Maslamah Radhiyallahu anhu ketika ia menghalangi adh-Dhahhak bin Khalifah Radhiyallahu anhu menggali saluran air yang mengalir ke tanahnya yang melewati tanah Muhammad bin Maslamah Radhiyallahu anhu, maka Umar Radhiyallahu anhu  berkata: ‘Kenapa engkau menghalangi sesuatu yang berguna untuk saudaramu, dan ia menjadi manfaat untukmu, engkau menyiram dengannya yang pertama dan terakhir, dan ia tidak membahayakanmu…demi Allah, ia pasti melewatinya sekalipun di atas perutmu.’[3]

Seorang muslim pada dasarnya selalu berusaha memberikan pelayanan kepada yang membutuhkannya, memberi nasehat kepada yang tidak mengetahuinya, memberi manfaat kepada yang berhak menerimanya berdasarkan motivasi dan keinginan dari dirinya. Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada pamannya Abbas bin Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu, ’Wahai pamanku, bukankah aku mencintaimu? Bukankah aku memberikan manfaat kepadamu? Bukankah aku menyambung silaturrahim kepadamu?[4] Dan di antara wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Barzah Radhiyallahu anhu ketika ia berkata kepada beliau: Wahai Rasululah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadaku.’ Beliau bersabda:

اُنْظُرْ ماَيُؤْذِي النَّاسَ فَاعْتَزِلْهُمْ عَنْ طَرِيْقِهِمْ

Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.’[5]

Pelayanan seperti ini menambah sifat tawadhu’ dan menanamkan makna-makna kebaikan di dalam jiwa seorang da’i, serta menjadikan masyarakat di sekitarnya melihat semangat bekerja padanya dalam segala hal yang memberi manfaat atau menolak bahaya dari mereka.

Dan apabila seorang mukmin mengingat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dengan memberi hidayah, merasakan manisnya iman dan kenikmatan taat, maka ia tidak akan pelit dengan kata-kata yang baik (memberi nasehat dan dakwah), untuk menyelamatkan manusia yang masih belum merasakan seperti yang telah dia rasakan dan terhijab dari apa yang telah dia kenal. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan dengan bumi yang subur, yang menerima hujan lalu menumbuhkan tanaman, maka beliau bersabda:

وَذلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ عز وجل وَنَفَعَهُ اللهُ عز وجل بِمَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ وَنَفَعَ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ…

Maka itulah perumpamaan orang paham terhadap agama Allah Azza wa Jalla, dan Allah Azza wa Jalla memberi manfaat kepadanya dengan ajaran yang Dia Subhanahu wa Ta’ala mengutusku dengannya, mengambil manfaat dengannya, mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain)…”[6]

Seorang dai yang bersemangat adalah bumi subur yang menyerap kebaikan dan menyumbangkannya.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan duduknya seorang anak laki-laki di belakangnya –seperti Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu tanpa memberikan manfaat kepadanya yang merupakan tarbiyah baginya dan mengisi waktu perjalanan, beliau bersabda kepadanya:

أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ …احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ…

Wahai anakku, aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (pesan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu dengannya: Jagalah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Dia Subhanahu wa Ta’ala menjagamu…”[7]

Para sahabat juga mengikuti akhlak yang mulia ini, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata kepada Anas bin Hakim, ‘Wahai anak muda, maukah engkau kuceritakan kepadamu satu hadits, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu dengannya?…sesungguhnya yang pertama-tama manusia dihisab pada hari kiamat dari amal perbuatan mereka adalah shalat…”[8]

Memberikan manfaat kepada kaum kerabat lebih wajib dan lebih banyak pahalanya. Abu Qilabah berkata: ‘Laki-laki manakah yang lebih besar pahalanya daripada seseorang yang memberi nafkah keluarganya yang kecil, membuat mereka bersikap ‘iffah atau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepada mereka dengannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong mereka dengan (perantaraan)nya dan Dia Subhanahu wa Ta’ala mencukupkan mereka.”[9] Perhatian kepada karib-kerabat seperti ini menarik hati mereka dan menyambung tali silaturrahim, simbol keakraban, tanda cinta, bukti kasih sayang, terutama saat adanya anak-anak kecil dalam keluarga mereka, yang kehilangan perhatian, kasih sayang dan kebutuhan manusia yang terpenting.

Sesungguhnya pintu-pintu manfaat sangat banyak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan sabdanya:

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ

“Setiap muslim harus bersedekah…”

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat beberapa contoh menurut kadar kemampuan seseorang:

فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ…فَيُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ

Maka ia bekerja dengan kedua belah tangannya, memberi manfaat kepada dirinya dan bersedekah…menolong orang yang sangat membutuhkan…”

dan jika seorang mukmin tidak melakukan sedikitpun dari hal itu:

فَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ

‘Maka hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka hal itu menjadi sedekah baginya.”[10]

Ini adalah tingkatan memberi manfaat yang terendah, yang tidak pantas seorang muslim lebih rendah darinya dan tidak wajar seorang da’i berada pada tingkatan itu.

Dan jihad adalah tingkatan memberi manfaat yang tertinggi dan ‘uzlah adalah yang paling rendah: seorang Arab Badawi bertanya: ‘Wahai Rasulullah, manusia apakah yang terbaik? Beliau menjawab:

رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَرَجُلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan seseorang yang tinggal di salah satu lembah, menyembah Rabb-nya, dan meninggalkan manusia dari kejahatannya.”[11]

Dan orang yang berjihad, ia memberikan manfaat kepada manusia lewat pengorbanan jiwa dan hartanya, untuk menjaga mereka dan menakuti musuh mereka. Ini adalah kebaikan terbesar, dan manusia berbeda-beda dalam kebaikan di antara kedudukan pejuang (mujahid) dan orang yang ber’uzlah, yang menahan dirinya dari berbuat jahat kepada orang lain.

Tanggung jawab sangat besar dan beban sangat berat bagi orang yang mengurus kaum muslimin, karena dia lebih mampu menolak bahaya atau memberikan manfaat karena kekuasaan yang dipegangnya dan hak untuk dipatuhi dari rakyatnya. Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…فَمَنْ وَلِيَ شَيْئًا مِنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ فَاسْتَطَاعَ أَنْ يَضُرَّ فِيْهِ أَحَدًا أَوْ يَنْفَعَ فِيْهِ أَحَدًا فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيَتَجَاَوزْ عَنْ مُسِيْئِهِمْ.

Barangsiapa yang mengurus sedikit dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia mampu memberi mudharat kepada seseorang padanya, atau memberi manfaat kepada seseorang, maka hendaklah ia menerima orang yang baik dan memaafkan yang jahat dari mereka.”[12]

Di mana perkaranya berputar di antara memuliakan yang baik dan memaafkan yang jahat, maksudnya di antara memberi manfaat atau menolak bahaya, karena banyak sekali penguasa yang berbuat zalim sedangkan mereka tidak mengetahui. Maka apabila meletakkan di depan mata mereka tugas memberi manfaat dan menolak bahaya, tentu mereka menjaga diri dari kesalahan, dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara gambaran amaliyah untuk menciptakan manfaat bahwa engkau tidak membiarkan tanah yang engkau miliki menganggur, tanpa diurus atau ditanami, padahal engkau mempunyai saudara yang menganggur, yang mampu mengurus tanah itu dan mengambil manfaat dengannya. Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ لَمْ يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ

Barangsiapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya. Apabila ia tidak bisa menanaminya, maka hendaklah ia meminta saudaranya untuk menanaminya.”[13]

Sangat banyak di kalangan kaum muslim yang mempunyai kemampun yang menganggur, kekayaan yang terpendam, dan energi yang terbuang percuma, dan kita tidak berfikir untuk memanfaatkannya, yang manfaatnya kembali kepada kaum muslimin. Apakah engkau memberikan sumbangan dengan ilmu pengetahuanmu, bersedekah dengan keringatmu, membantu dengan usahamu, agar engkau selalu termasuk dari orang yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai kunci kebaikan, penutup keburukan, dan saat itulah kabar gembira untukmu adalah surga. Sebagaimana dalam hadits:

فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ بِيَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ بِيَدَيْهِ

“Maka beruntunglah bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci-kunci kebaikan lewat kedua tangannya, dan celaka bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci-kunci kejahatan lewat dua tangannya.”[14]

Dan supaya manfaat terus berlangsung untuk orang-orang seperti itu, maka diberikanlah dukungan dengan harta dan kekuasaan. An-Nasa`i menyebutkan –setelah hadits dalam kitab pembagian harta fai- cara membagi jatah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari harta ghanimah setelah wafatnya beliau, ia berkata : Dan jatah bagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diserahkan kepada imam (pemimpin): ia membeli kuda dari mereka dan senjata, memberikan darinya kepada orang yang dia lihat, dari orang yang berkecukupan dan bermanfaat untuk umat Islam, dan dari kalangan ahli hadits, ilmu, fikih dan al-Qur`an.[15]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan seorang mukmin sebagai perumpamaan selalu memberi manfaat dan menyerupakan dengan pohon kurma  karena selalu hijau dan bisa memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya, beliau bersabda:

إِنِّي َلأَعْلَمُ شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ

Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.’[16]

Dan seorang mukmin berusaha memberikan manfaat untuk manusia karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharap ridha-Nya, dan tidak dikuasai oleh perasaan pribadi atau posisi yang berbeda. Rabb Subhanahu wa Ta’ala mencela Abu Bakr Radhiyallahu anhu saat ia bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah Radhiyallahu anhu karena ikut serta dalam peristiwa ifk (berita bohong). Maka tatkala turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [an-Nur/24:22]

Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata: bahkan, demi Allah, sesungguhnya kami ingin agar Dia Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kami. dan iapun memberikan manfaat kepada Misthah Radhiyallahu anhu.

Apakah engkau ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampunimu, maka marilah terus menambah dalam berdakwah, memberi nasehat, faedah dan manfaat, memanfaatkan waktu dan kemampuan… maka sesungguhnya ia seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”[17]

Kesimpulan:

  1. Apabila seorang mukmin tidak memberikan manfaat, berarti kebaikannya tidak menjalar kepada orang lain.
  2. Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya.
  3. Segera memberikan manfaat sebelum diminta.
  4. Memanfaatkan semua kesempatan untuk menyampaikan kebaikan.
  5. Manfaat yang paling wajib adalah untuk karib kerabat.
  6. Barangsiapa yang tidak mampu memberikan manfaat, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh untuk tidak membahayakan orang lain.
  7. Manfaat yang paling tinggi adalah jihad dan yang terendah adalah ‘uzlah.
  8. Besarnya manfaat disertai besarnya tanggung jawab, dan bahaya juga seperti itu.
  9. Dalam memberikan manfaat, mengambil kesempatan bagi energi yang terbuang percuma untuk kepentingan orang yang membutuhkannya.
  10. Manfaat menjadi dengan memberikan dukungan dengan harta dan kekuasaan.
  11. Di antara karekteristik seorang mukmin adalah: kebaikannya saja yang selalu terus dirasakan dan banyak manfaatnya.
  12. Yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik.

[Disalin dari النفع للآخرين Penulis Mahmud Muhammad al-Khazandar, Penerjemah : Team Indonesia, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2008 – 1429]
______
Footnote
[1] Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)
[2] Shahih Muslim, kitab fadhail, bab ke-28, no. 132/2473.
[3] Muwaththa’ Imam Malik, kitab Aqdiyah, bab ke-26, hadits ke 33.
[4] Shahih Sunan Ibnu Majah , kitab shalat,  bab ke-190 no. 1138.
[5] Musnad Imam Ahmad 4/423.
[6] Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, bab ke-20, no. 79 (Fath al-Bari 1/175).
[7]  Musnad Imam Ahmad 1/307 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 7907.
[8] Musnad Imam Ahmad 2/425, dan lafazh  yang marfu’ dalam shahih Sunan Abu Daud no. 770/864 (Shahih).
[9]  Shahih Muslim, kitab zakat, bab ke-12, hadits 38/994 (Syarh an-Nawawi 4/85).
[10]  Shahih al-Bukhari, kitab Adab, bab ke-33, no. 6022 (Fath al-Bari 10/447)
[11] Shahih al-Bukhari, kitab riqaq, bab ke-34, hadits no. 6494 (Fath al-Bari 11/330).
[12] Shahih al-Bukhari kitab Jum’at, bab ke-29, hadits no. 927 (Fath al-Bari 2/404).
[13]  Shahih Muslim, kitab jual beli, bab ke-17, hadits no. 88 (Syarh an-Nawawi 5/454)
[14] Shahih Sunan Ibnu Majah, Muqaddimah (pengantar), bab ke-19, hadits no 193/237 (Hasan)
[15]  Shahih Sunan an-Nasa`i karya Syaikh al-Albani, dari komentar an-Nasa`i  terhadap hadits no 3866 dari kitab pembagian harta fai.
[16] Musnad Ahmad 2/115, seperti dalam riwayat  al-Bukhari dalam kitab ilmu, bab ke-5, no 62 (Fath 1/147)
[17]  Shahih al-Jami’ no 3289 (Hasan).

Kesempurnaan Agama Islam

KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

Islam adalah agama yang sempurna, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala, muliakan manusia. Dan dengan Islam pula terwujudnya kebahagian manusia di dunia dan akherat. Allah Azza wa jalla telah menciptakan alam ini, dan menjadikan setiap makhluk yang ada didalamnya tunduk kepada sunnatullah (hukum Allah) atau tabiat yang berlaku atasnya. Dengannyalah Allah mewujudkan kehendakNya, oleh karena itu segala sesuatu yang telah ditetapkan atasnya hukum Allah tersebut, tidak bisa di ubah kecuali hanya dengan perintah Allah saja;

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً

“Sebagai suatu sunnatullah (hukum Allah) yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” [Al-Fath/48: 23]

Matahari memiliki sunnatullah, malam memiliki sunnatullah, siang memiliki sunnatullah, tumbuh-tumbuhan memiliki sunnatulah, hewan-hewan memiliki sunnatulah, begitu juga angin, air, bintang-bintang, lautan dan gunung-gunung; setiap mereka memiliki sunnatulah (hukum Allah) yang berlaku atas mereka. Dan begitulah seterusnya:

لا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ 

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yasin/36: 40]

Dan manusia juga makhluk dari makhluk-makhluk Allah yang butuh akan jalan yang ia lalui disetiap keadaan; untuk menggapai kesuksesan dunia dan akherat, dan jalan tersebut adalah agama (Islam) yang Allah : memuliakan manusia dengannya serta meridhoinya untuk mereka, tidak diterima agama manapun selainnya, kebahagiaan dan kesengsaraan itu tergantung kepada sejauh mana ia berpegang teguh atau mengingkarinya, dan ia bisa memilih dalam menerimanya atau menolaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

 Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [Al-Kahfi/18: 29]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  

 Kami berfirman: “turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. “ [Al-Baqarah/2: 38-39]

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia, ditundukkan bagi manusia segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan Allah menurunkan kepada manusia kitab-kitab, juga diutusnya para rasul bagi manusia, serta Allah membekali manusia dengan panca indera dan pengetahuan; berupa pendengaran, penglihatan dan akal, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakannya dengan peribadatan (manusia) kepada Nya semata serta tidak menyekutukan Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan bathin.” [Luqman/31:20]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” [An-Nahl/16: 78]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu“. [An-Nahl/16: 36]

Nikmat yang Paling Agung
Allah menganugerahi kepada para hamba Nya dengan nikmat yang sangat banyak tidak terhitung, nikmat yang terpenting adalah nikmat diciptakannya kita, diberi umur panjang dan nikmat hidayah, dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat manusia seluruhnya, inilah agama yang sempurna, menyeluruh dan kekal :

Mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya dengan menyembah Nya mengesakan Nya serta bersyukur kepada Nya, menghadap kepada Nya dalam setiap permasalahan, takut kepada Nya, bertawakkal hanya kepada Nya, merendahkan diri untuk Nya, mencintai Nya, mendekatkan diri kepada Nya, meminta pertolongan Nya, memohon keridhoan Nya dan (memohon diberikan) jalan-jalan yang bisa mengantarkan kedalam syurga Nya serta bagaimana agar selamat dari kemarahan Nya dan siksaan Nya.

Mengatur hubungan antara manusia dengan Rasul Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menta’atinya, mencintainya, mengikuti sunnahnya, membenarkan apa yang dibawa olehnya, menjadikannya sebagai suri teladan dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan olehnya.

Mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, seperti dengan ibu dan bapak, dengan isteri dan anak, dengan sanak famili dan tetangga, dengan orang ‘alim dan orang awam, dengan orang muslim dan kafir, dengan penguasa dan masyarakat, dan dengan yang selainya.

Mengatur muamalah manusia dengan hartanya, mencari nafkah yang halal, menghindari penipuan, bersikap ramah dalam berjual beli, berinfaq untuk kebaikan, berusaha jujur, menghindari riba dan dusta, dan juga mengatur bagaimana membagikan harta shodaqoh, pembagian warisan dan lain sebagainya.

Islam mengatur kehidupan manusia dalam berkeluarga, mendidik anak-anak, menjaga keluarga agar jauh dari kerusakan, mengatur kehidupan pria dan wanita baik dalam keadaan senang ataupun susah, keadaan kaya atau miskin, keadaan sehat atau sakit, keadaan aman atau takut, keadaan bermuqim atau safar.

Islam mengatur seluruh hubungan-hubungan tersebut diatas jembatan yang kuat berupa kecintaan karena Allah dan benci karena Allah, mengajak kepada sifat-sifat dan akhlaq terpuji, seperti dermawan, murah hari, malu, pemaaf, jujur, berbuat baik, adil, menolong orang, kasih sayang, simpati dan semisalnya.

Islam melarang dari segala keburukan dan kerusakan, kedholiman dan melampaui batas; seperti menyekutukan Allah, membunuh tanpa alasan yang benar, zina, berdusta, sombong, kemunafikan, mencuri, ghibah, memakan harta orang dengan cara yang bathil, riba, minum khamer, sihir, riya dan yang lainnya.

Setelah itu semua; Islam menghabarkan keadaan manusia di alam akherat. Dan sesungguhnya kehidupan di akherat itu dibangun berdasarkan kehidupannya di dunia. Maka barangsiapa yang datang dengan membawa keimanan dan amal-amalan shaleh; ia masuk syurga, di syurga ia berbahagia sekali karena bisa melihat wajah Allah, bersenang-senang dengan kenikmatan yang terdapat didalam syurga, yang mana syurga itu belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah didengar oleh telinga dan tidak pula terbersit dalam hati manusia. Kekal di dalamnya selama-lamanya. Sedangkan orang yang datang dengan kekafiran dan kemaksiatannya maka ia masuk neraka dan mereka kekal di dalamnya, adapun orang muslim yang bermaksiat kepada Allah jika ia tidak diampuni maka akan diazab didalam neraka sebatas kadar dosanya, atau diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak disiksa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah/5: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

ٍSungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali Imran/3: 164]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ  15   يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan  dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” [Al-Maidah/5: 15-16]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ . وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ  

“Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan Nya, niscaya Allah memasukkkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” [An-Nisaa/4: 13-14]

Agama ini akan tersebar dan disampaikan dengan jelas, sebagaimana jelasnya malam dan siang, kemudian (agama islam) akan kembali asing seperti semula.

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا [صحيح مسلم ]

“Sesungguhnya Allah telah menampakan kepadaku bumi sehingga aku bisa melihat dari penjuru timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kesemua tempat yang diperlihatkan kepadaku…” [HR. Muslim].

– Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita, dan menyempurnakan nikmat ini dengannya, serta ridho terhadap islam sebagai agama kita; maka barangsiapa yang menerima agama ini, ia bahagia di dunia dan nanti di akherat masuk syurga. Dan barangsiapa yang mengingkarinya ia sengsara di dunia, dan di akherat masuk neraka. Allah tidak akan pernah menerima agama dari seorang pun selain agama islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah/5: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imran/3: 85]

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda.

((والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار)) [صحيح مسلم]

“Demi yang jiwa Muhammad ada di Tangan Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik yahudi atau nashroni yang mendengar tentang aku, kemudian ia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, maka ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim].

Hikmah Diciptakannya Manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya, dan seluruh makhluk di alam ini bertasbih dan memuji keagungan Allah Jalla Jalaluhu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [At-Thalaq/65: 12]

Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ .   مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia meliankan supaya mereka menyembah Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” [Adz-Dzariyat/60: 56-57]

Alam dan Fase-fase yang Dilewati Manusia.
Allah menciptakan manusia, serta menjadikannya melewati fase-fase waktu, tempat dan keadaan. Kemudian diakhiri dengan keabadian, baik itu abadi di syurga atau di neraka. Inilah fase-fase perpindahan tsb:

dalam perut ibu, inilah fase awal yang dilewati seluruh manusia, tempat tinggal pertama manusia selama kurang lebih 9 bulan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaturnya dalam kegelapan ini dengan kekuasaan Nya, ilmu Nya dan hikmah Nya; apa-apa yang dibutuhkan dari makanan, minuman dan tempat untuk berlindung. Pada fase ini tidak ada tugas dan beban kepada manusia. Ada 2 hikmah dengan adanya fase ini, yaitu: menyempurnakan sendi-sendi dan anggota badan dan keluar kealam dunia setelah sempurna penciptaan secara dhohir dan bathin.

alam dunia, alam yang lebih luas lagi dari alam perut ibu, dan jangka waktu bertempat di alam ini lebih panjang lagi dari alam perut ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur dan menyediakan bagi manusia apa-apa yang dibutuhkannya di alam dunia ini. Juga Allah memberikan kelebihan berupa akal, pendengaran dan penglihatan, kemudian Allah mengutus rasul-rasul bagi manusia, menurunkan kitab-kitab untuknya dan memerintahkannya supaya ta’at kepada Allah, melarangnya bermaksiat kepada Allah, dijanjikan syurga bagi yang taat, dan siksaan neraka bagi yang bermaksiat. Hikmah adanya alam dunia ini adalah : menyempurnakan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menyempurnakan amal-amal sholeh, yang merupakan sebab dimasukkannya ke dalam syurga. Setelah itu berpindah lagi ke alam berikutnya.

alam barzah di dalam qubur, inilah tempat awal dari perkampungan akherat. Manusia tinggal di alam ini sampai meninggalnya seluruh makhluq dan berdirinya hari qiamat. Bertempat di alam ini lebih panjang lagi dibanding dengan alam dunia, kebahagiaan dan kesengsaraan di alam ini juga lebih luas dan lebih sempurna dibanding dengan alam dunia; tergantung amal-amalan kita ketika di alam dunia, (alam ini) bisa menjadi taman dari taman-taman syurga atau menjadi lubang dari lubang-lubang neraka. Balasan sudah dimulai dari alam ini, kemudian berpindah lagi dari alam ini ke alam abadi, baik syurga atau neraka.

alam akherat, kehidupan di alam ini tidak terbatas, kenikmatan-kenikmatan yang sempurna bagi orang-orang beriman, lengkap dan terpenuhi semua keinginan-keinginan orang-orang beriman. Barangsiapa yang ketika di alam dunia menyempurnakan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa keimanan, akhlaq dan amal-amal sholeh, maka di akerat ini Allah sempurnakan pula baginya apa yang ia sukai dan harapkan, dari apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbesit dalam hati manusia. Dan apabila ia datang tanpa membawa keimanan dan amalan-amalan sholeh, maka baginya balasan neraka jahanam dan kekal di dalamnya, sedangkan orang beriman tidak akan merasa puas ketika berpindah dari satu alam ke alam yang lain hingga ia kekal di dalam syurga.

Kesempurnaan Nikmat Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan, memulyakannya diatas semua makhluk lainnya. Dan Allah menjadikan anggota-anggota tubuh manusia secara sempurna, ketika ia tidak memperoleh kesempurnaan tsb, akan terjadi gangguan, kekacauan, dan kesakitan. Maka dijadikan kesempurnaan mata itu dengan penglihatannya, kesempurnaan telinga dengan pendengarannya, kesempurnaan lisan dengan pembicaraannya, dan ketika hilang kesempurnaan kekuatan anggota badan tsb, ia akan mengalami sakit dan cacat.

Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kesempurnaan hati dan nikmat-nikmatnya, kegembiraannya, ketenangannya, dalam mengenal Rabbnya. Mencintai Nya, senang dan rindu kepada Nya, beramal dengan apa yang diridhoi Nya. Dan tetkala hilang kesempurnaan hati ini, maka azab yang sangat dan kesengsaraan yang lebih-lebih dibanding mata yang kehilangan penglihatannya, telinga yang kehilangan pendengarannya. Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.

[Disalin dari كمال دين الإسلام Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri. Penerjemah : Team Indonesia, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 1428 – 2007]

Beberapa Sebab Keselamatan Umat Islam

BEBERAPA SEBAB KESELAMATAN UMAT ISLAM

Segala puji hannya bagi Allah Yang Maha Esa, yang telah menolong hamba -Nya, memuliakan tentara -Nya dan hanya Dia yang menghancurkan seluruh kelompok musuh….. Aku hanya memuji dan bersyukur kepada Allah semata, dan aku memohon taubat dan ampunan kepada -Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, dan aku bersaksi bahwa penghulu dan nabi kita Muhamamd adalah hamba dan Rasul -Nya, Dia mengutusnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, beliau telah bersabar dan teguh dalam berjuang, berjihad dan berhijrah sehingga mercusuar agama ini tegak dan kekar dan sungguh terjadi apa yang semestinya diberlakukan kepada orang-orang yang kafir….shalawat dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, kepada kaluarga dan para shahabatnya yang terbaik dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan kebaikan….

Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Penyayang….

Aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk selalu bertaqwa, muraqabah dan takut kepada Allah baik dalam kondisi tersembunyi atau kondisi terlihat.

Wahai sekalian orang-orang yang beriman….sesungguhnya umat ini telah diangkat, dimuliakan oleh Allah dengan diturunkannya agama ini bagi mereka melalui pemimpin manusia Muhammad bin Abdullah semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan  bagi beliau sampai hari kiamat kelak…

Maka apabila umat ini menyia-nyiakan dan mengentengkan agama ini maka dia akan terhina dalam pandangan Allah, rahasia kemuliaan dan keagungan dan kebangiktannya akan sirna. Realita inilah yang kita lihat sekarang ini diberbagai belahan dunia Islam. Disebuah negeri kita melihat para penguasa diktator mengobrak-abrik kehidupan kaum muslimin dengan membunuh, mengusir dan memarjianlkan kehidupan mereka. Di negeri yang lain, kaum muslimin tercabik-cabik dengan berbagai perang saudara yang sangat menakutkan, kita melihat seorang muslim membunuh saudaranya seiman, darah mengalir hanya untuk kesenangan dunia dan jabatan…dan di seberang sana kehidupan kaum muslimin digoncang oleh badai kelaparan, penyakit, banjir dan gempa bumi juga bencana alam lainnya….

وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ

“..dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri”. [Al-Mudatsir/74: 31].

Kalau kehinaan ini sabagai siksa dari Allah, maka apakah faktor-faktor yang bisa menghilangkan dan menghapuskan kesengsaraan tersebut?..

Dia antara faktor yang bisa menghilangkan kehinaan dan menjaga bangsa dan sebuah Negara adalah:

Pertama : Merealisasikan Tauhid
Yaitu mengesakan Allah dalam ubudiyan dan rububuiyah Allah, mengesakan Allah dengan sifat-sifat yang sempurna baik dalam zat dan nama-nama, mengesakan Allah dalam segala sifat dan perbuatan -Nya sebgaimana dijelaskan di dalam kitab sunnah, maka tiada seorangpun yang ditakuti, diharapkan dan disembah selain Allah Yang Maha Esa.

Dan hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak akan terjadi di dalam kekuasaan Allah kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah, apa yang dikhendaki oleh Allah maka dia mesti terjadi dan apa-apa yang tidak dikehendakinya maka dia tidak akan pernah terjadi, Dialah Allah yang memperkenankan permohonan orang-orang yang dalam kondisi gawat apabila orang tersebut berdo’a memohon kepada -Nya, Dialah yang menghpuskan keburukan, membela orang-orang yang beriman, menyayangi para hamba yang penyayang terhadap orang lain, menolong kekasih -Nya di dunia dan hari kiamat kelak.

Di antara buah positif mewujudakan tauhid adalah: Terbentuknya jiwa yang selalu bertawakkal kepada –Nya dengan tawakkal yang sebenarnya:

وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. [Ali Imron/3: 122].

وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. [Al-Maidah/5: 23]

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya  maka Sungguh Dia akan memberikan kepada kalian rizki sebagaimana dia telah memberikan rizki kepada burung, yang berangkat pada waktu pagi dalam keadaan perut kosong lalu kembali dengan perut kenyang.

Kedua : Iman kepada Allah.
Maksudnya adalah membenarkan segala janji-janji Allah dan ancamanNya yang ada di dalam gaib.

قال الله تعالى: الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ [البقرة: 3] 

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka”. [Al-Baqarah/2: 3]

Allah  Subahanahu Wa Ta’ala telah memberikan janji -Nya kepada orang-orang yang beriman bahwa Dia akan menyelamatkan mereka dari siksa -Nya yang melanda sebuah masyarakat, Allah Ta’ala telah menyelamatkan kaum Nabi Yunus dari siksa. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ [ىونس: 98] 

“Dan Mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu”. [Yunus/10: 98]

Selain itu Allah Ta’ala juga memberikan jaminan bagi orang yang beriman bahwa Dia akan membela mereka dalam menghadapi para musuh. Allah Ta’ala berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang Telah beriman”.  [Al-Hajj/22: 38].

Oleh karenanya setiap orang yang beriman diharuskan untuk merealsasikan keimanannya, menjauhi segala perkara yang bisa mengurangi dan merusak kesempurnaan keimanan sehingga dengannya Allah mewujudkan janji -Nya untuk menjaga dan menolong orang-orang yang beriman.

Wahai orang-orang yang beriman diantara faktor yang menyebabkan sebuah bencana, nasib buruk dan petaka bisa dihilangkan adalah dengan:

Ketiga: Do’a.
Dialah ibadah dan itulah inti ibadah itu sendiri

قال الله تعالى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ [ غفور : 60] 

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.[Gafir/40 : 60].

Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: اَلدُّعَاءُ مُخُّ اَلْعِبَادَةِ  = Do’a adalah inti ibadah.

Do’a adalah ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla, sebab pada saat seorang hamba  menengadahkan tangannya kepada Tuhannya dia meyakini bahwa tiada siapapun yang mampu menghilangkan apa yang dirasakannya baik kesusahan dan penyakit kecuali Allah Azza Wa Jalla dan tiada seorangpun yang mampu merubah nasibanya baik senang atau susah kecuali Allah.

Do’a adalah ibadah dan keikhlasan, pujian, kesyukuran dan permohonan bantuan dan seandainya tanpa do’a maka suatu kaum pasti lenyap binasa namun Allah menyelamatkan mereka karena adanya do’a:

قُلْ مَا يَعْبَؤُا بِكُمْ رَبِّيْ لَوْلَا دُعَاۤؤُكُمْۚ

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya)”, [Al-Furqan/25: 77].

Cukuplah kita mengukur urgensi bagi do’a ini di   saat Allah berkehendak menghancurkan Kaum Yunus mereka segera berhamburan kepada Allah dengan do’a-do’a mereka sehingga Allah menghindarkan mereka dari siksa setelah tanda-tanda datang dan ciri-ciri datang nya siksa telah nampak. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ

Tidak ada yang mampu menolak keputusan Allah kecuali do’a.

Di antara perkara yang bisa menghilangkan bencana dan melenyapkan krisis adalah istigfar.

Keempat: Istighfar.
Istighfar ini adalah faktor yang sangat penting dalam meraih kebaikan dan menghilangkan keburukan di dunia dan akherat. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى [هود: 3] 

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada -Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan”. [Hud/11: 3].

Isitighfar adalah salah satu faktor yang bisa menyebabkan turunnya pertolongan dan karunia  baik harta, anak dan buah-buahan serta turunnya keberkahan dari langit dan bumi. Di antara manfaat istigfar adalah turunnya ampunan Allah dan turunnya hujan, bertambahnya harta dan anak, keberkahan dalam buah dan makanan. Selain dia sebagai faktor yang bisa membawa keberkahan di dunia istigfar juga sebagai bekal di akherat pada saat suasana yang genting mengauasai manusia. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ تَسُرَّهُ صَحِيۡفَتُهُ؛ فَلۡيُكۡثِرۡ فِيۡهَا مِنَ الۡاِسْتِغۡفَارِ

Barangsiapa yang suka catatan amalnya akan menyenangkannya (di hari Kiamat nanti), maka hendaknya dia memperbanyak pada catatan amalnya tersebut istighfar.

Isitghfar memberikan kekuatan bagi seorang hamba pada jasadnya dan dengannya dia bisa menikmati kesempurnaan tubuhnya dan akalnya, selain itu istigfar memberikannya tenaga untuk selalu taat kepada Tuhannya, dia adalah tenaga dalam segala keadaan baik pada masa sekarang atau yang akan datang.

Sementara itu, meninggalkan istigfar adalah sebab utama terjadinya siksa dari Allah yang menimpa negeri dan manusia:

قال الله تعالى: وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ [الا نفا ل: 33] 

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. [Al-Anfal/8: 33].

Istighfar akan membawa keamanan bagi penduduk di dunia sehingga mereka terbebas dari azab duniawi, sebab Allah Ta’ala telah memberikan bagi umat ini dua jaminan keamanan, yaitu: Jaminan keamanan yang telah berlalu dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di tengah-tengah manusia dan jaminan kemanan yang kedua tetap kekal selamanya yaitu istighfar. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ  [النمل : 46] 

“….hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”. [Al-Naml/27: 46]

Maka istighfar adalah salah satu faktor yang menyebabkan turunnya rahmat, dan orang yang dirahmati oleh Allah tidak akan pernah binasa.

Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Rahman…
Kita masih membicarakan tentang faktor-faktor yang membuat umat ini menjadi bangkit dan selamat, bahagia dan mulia. Di antara sebab tersebut adalah:

Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah penyangga tegakknya suatu masyarakat, dia sebagai unsur penting kebaikan, solidaritas dan kekokohan yang di landasi saling mencintai antar sesama di dalam sebuah masyarakat. Di mana saling menasehati dan membantu serta perbaikan terhadap kesalahan sosial tanpak di dalam masyarakat tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan lisannya dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya dan itulah cermin selemah-lemah keimanan”.

Maka pada saat tiang ini dijaga di saat itulah masyarakat terjaga dari segala kehancuran dan kebinasaan serta dia akan tetap dijaga dan di lindungi oleh Allah. Cukuplah firman Allah menjelaskan tentang keadaan ini:

قال الله تعالى: وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ  [ الهو د: 117 ] 

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”.  [Hud/11 : 117].

Maksudnya adalah berbuat kebaikan dengan berda’wah kepada Allah dengan cara menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak cukup bagi seorang muslim untuk hanya menikmati kesalehan pribadinya untuk dirinya sendiri namun dia harus menularkan kesalehan tersebut kepada orang lain dan saudaranya dari kalangan kaum muslimin. Dan dampak perbaikan dan da’wah yang dilakukannya akan mengabadi berabad-abad, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh generasi salaf dan orang-orang terbaik dari umat ini dan orang-orang setelah mereka seperti Imam Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Hambal dan Muhamad bin Abdul Wahhab.

Setelah itu, seseorang juga dituntut untuk menjauhi kezaliman. Kezaliman adalah bertindak aniaya terhadap orang lain baik pada darah, harta dan kehoramatan mereka tanpa didasarkan kebenaran. Kezaliman adalah faktor yang paling besar yang bisa memancing datangnya siksa dan berkuasannya orang-orang yang zalim terhadap sebagian yang lainnya:

وَكَذٰلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضًاۢ

“Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain”. [Al-An’am/6: 129].

قال الله تعالى:  وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا  [الكهف : 59] 

Dan (penduduk) negeri Telah kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Telah kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka”. [Al-Kahfi/18 : 59].

Maka janganlah seseorang begitu berani berbuat kezaliman dan janganlah orang yang zalim tergiur dengan kehendak Allah yang menangguhkan akibat perbuatan zalim. Di dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahun alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksa bagi orang yang zalim sehingga apabila saat siksanya telah tiba maka dia tidak akan bisah berkilah, kemudian beliau membca firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ  [الهود: 102] 

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. [Hud/11 : 102].

Kezaliman banyak sekali terjadi di tengah-tengah masyarakat pada zaman sekarang ini. Menggunjing orang lain, mengadu domba, hasad, dengki, berkata bohong, menipu dan berkhianat, berbohong dan melontarkan dakwaan yang bathil, memakan harta manusia secara bathil, mencuri, merampok, menyuap, bertransaksi secara riba adalah termasuk kezaliman yang akibatnya akan menciptakan kegelapan pada hari kiamat kelak. Oleh karena itulah Allah menjadikan akibat positif dan terpuji bagi mereka yang tidak menghendaki kerusakan dan kesombongan di muka bumi ini adalah kemuliaan di dunia dan kekal di dalam surga di akherat kelak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia ini -berikut dosa yang disimpan untuknya di akhirat- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi.

Do’a orang-orang yang dizalimi sangat mustajab diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa dia bersabda : Do’a orang yang dizalimi diangkat oleh Allah menuju awan dan Dia berfirman: Demi Kemuliaan dan Ketinggian -Ku sungguh Aku akan menolongmu walau setelah beberapa saat”.

Setelah itu, di antara faktor yang membawa keselamatan bagi umat Islam adalah shadaqah. Shadaqah adalah bentuk solidaritas seorang muslilm yang telah diberikan karunia oleh Allah kepada saudaranya yang beriman yang  membutuhkan, di mana orang yang fakir merasa bahwa dirinya dicintai oleh saudaranya.

Dampak positif dari shadaqah di dunia atau akherat adalah:

  1. Padamnya murka Allah, Zat yang selalu kita minta agar Dia  melindungi kita dan kita mohon kepada -Nya agar Dia mengangkat siksa yang mungkin menimpa kita akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh tangan-tangan makhluk.
  2. Menghindarkan seseorang dari kematian yang buruk seperti yang disabadakan oleh nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya shadaqah itu akan memadamkan amarah Allah dan menolak kematian yang buruk”. Selain itu, dia juga menghapuskan dosa dan kesalahan seperti yang disebutkan di dalam hadits Mu’adz.
  3. Shadaqah juga memadamkan api dosa dan kesahalan sebagaimana air memadamkan api.
  4. Menunaikan shadaqah akan mendatangkan rizki, kemanangan dan ketenangan jiwa sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits: “Perbanyaklah mengeluarkan shadaqah baik dalam keadaan terang-terangan atau rahasia niscaya kalian akan limpahkan rizki, dikaruniakan pertolongan dan diberikan ketenangan”.
  5. Shadaqah sebagai sebab tertolaknya bencana. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bersegeralah menunaikan shadaqah sebab benacana itu tidak akan melangkahinya dan dia akan menutup tujuh puluh pintu keburukan”.
  6. Shadaqah menutup tujuh puluh pintu keburukan.
  7. Shadaqah bisa memadamkan panasnya alam kubur. “Sesungguhnya shaqaqah itu akan memadamkan panasnya hawa kubur bagi penghuninya”.
  8. Shadaqah sebagai obat yang manjur dalam mengobati berbagai penyakit hati dan badan. Nabi Muhammad shallallahun alaihi wa sallam bersabda: Obatilah orang yang sakit di antara kalian dangan cara bersedeqah”.
  9. Tidak menunaikan shadaqah dan zakat akan menyebabkan hujan tidak turun dari langit. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dan tidaklah mereka mencegah diri mereka menunaikan zakat kecuali hujan akan tertahan dari mereka”.

[Disalin dari أسباب نجاة الأمة Penulis  Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir, Penerjemah : Muzaffar Sahidu Mahsun. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Agar Amal Kita Diterima

AGAR AMAL KITA DITERIMA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Didalam kitab -Nya yang mulia Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman kepada kita semua selaku umat pembawa risalah terakhir:

إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ ٥٧ وَٱلَّذِينَ هُم بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ٥٨ وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمۡ لَا يُشۡرِكُونَ ٥٩ وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ ٦٠ أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ ٦١

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”.  [al-Mu’minuun/23: 57-61].

Imam Tirmidzi membawakan sebuah hadits tentang tafsir ayat ini didalam sunannya yang diriwayatkan sampai pada Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan: “Diriku pernah bertanya kepada Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam tentang maksud firman Allah ta’ala:

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”.  [al-Mu’minuun/23: 60].

Aisyah bertanya: ‘Apakah mereka orang-orang yang dahulunya minum khamr dan mencuri? Maka beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات » [أخرجه الترمذي]

Bukan, wahai puterinya ash-Shidiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, sholat dan bersedekah, lalu dibarengi rasa takut sekiranya amalannya tidak diterima, mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berlomba-lomba dengan kebaikkan“. HR at-Tirmidzi no: 3175. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih at-Tirmidzi 3/79 no: 2537.

Sungguh para sahabat Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam, dengan ketamakan mereka dalam mengerjakan amal shaleh, selalu saja rasa takut menghampiri mereka kalau sekiranya amalan yang mereka lakukan gugur sia-sia, mereka takut amalannya tidak diterima. Hal itu, tentu timbul karena kedalaman ilmu yang mereka miliki serta keimanan yang begitu kuat. Sampai kiranya Abdullah bin Mulaikah mengatakan: “Aku telah menjumpai tiga puluh orang sahabat Nabi lebih dan mereka semua takut sifat nifak dalam dirinya, dimana tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengatakan: ‘Sesungguhnya keimananan saya seperti keimanannya Jibril dan Mikail’.[1]

Abu Darda pernah mengatakan: “Kalau seandainya aku bisa yakin seratus persen bahwa Allah Shubhanahu wa ta’ala menerima satu sholat saja yang aku kerjakan, maka itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya, karena Allah ta’ala telah berfirman:

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. [al-Maa’idah/5: 27].[2]

Sahabat Ali bin Thalib pernah mengatakan: “Hendaknya kalian menjadi orang yang lebih memperhatikan apakah amalnya diterima dari hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian mendengar firman Allah tabaraka wa ta’ala:

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. [al-Maa’idah/5: 27].

Maksud takwa dalam ayat diatas, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Athiyah adalah: “Takut perbuatan syirik berdasarkan kesepakatan ahlu sunah wal jama’ah. Maka barangsiapa yang takut terhadap perbuatan syirik dia adalah seorang muwahid (yang bertauhid), sehingga amalan sedekah yang ia lakukan niatnya bisa diterima. Oleh karenanya, keadaan orang yang takut terhadap perbuatan syirik dan maksiat maka mereka mempunyai kesempatan terbesar untuk diterima amalannya serta mendapat stempel rahmat dari Allah Shubhanahu wa ta’ala, hal tersebut bisa diketahui dari berita-berita yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala kabarkan dalam firman -Nya”. [3]

Allah Shubhanahu wa ta’ala pernah berfirman dalam kitab suci -Nya:

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.   [al-Mulk/67: 2]

Fudhail bin Iyadh menjelaskan: “Makna firman Allah: “Yang lebih baik amalnya“. Maksudnya amalan yang paling ikhlas dan benar. Ikhlas kalau sekiranya untuk Allah Shubhanahu wa ta’ala semata dan benar jikalau sesuai diatas sunah”. [4]

Syarat Diterimanya Amal
Para ulama mengatakan; ‘Bahwa amal shaleh tidak mungkin diterima oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala melainkan bila terpenuhi padanya dua syarat:

Pertama: Hendaknya amal shaleh tersebut sesuai dengan syari’at yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala tentukan didalam kitab -Nya, atau sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasul -Nya. Disebutkan dalam haditsnya Aisyah radhiyallahu ‘anha oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada dalam dalam urusan (agama) kami maka ia tertolak“. HR Bukhari no: 2697. Muslim no: 1718.

Artinya amalan tanpa pijakan agama tersebut tertolak, tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.

Dalam hadits lain diterangkan kita diperintah supaya memegangi sunah Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dalam haditsnya Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين فتمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ » [أخرجه أبو داود و الترمذي]

Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunahku dan sunahnya para Khulafaur Rasidhin yang mendapat petunjuk, pegangilah sunah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian“.  HR Abu Dawud no: 4607. at-Tirmidzi no: 2676. Beliau berkata hadits hasan shahih.

Kedua: Hendaknya amal shaleh tersebut dikerjakan secara ikhlas karena mengharap wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla. Berdasarkan haditsnya Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, dimana Nabi  Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Hanyalah segala amal itu sesuai dengan niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang mendapat sesuai dengan apa yang diniatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk mencari dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkan“. HR Bukhari no: 1. Muslim no: 1907.

Dan yang mendukung serta membenarkan ucapan tadi adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam kitab -Nya:

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [al-Kahfi/18: 110].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Menurut ahlu sunah wal jama’ah amalan akan diterima dari orang yang bertakwa kepada Allah Shubhanahu  wa ta’alla, dikerjakan ikhlas karena Allah Shubhanahu  wa ta’alla dan sesuai dengan perintah -Nya. Oleh karena itu, barangsiapa bertakwa kepada -Nya ketika beramal maka kemungkinan diterima lebih banyak, walaupun dirinya melakukan perbuatan maksiat pada tempat lain, dan siapa yang tidak menetapi ketakwaan tatkala beramal maka peluang tidak diterimanya lebih besar, walaupun disatu sisi dia mentaati Allah Shubhanahu  wa ta’alla “. [5]

Dan Allah ta’ala telah menegaskan kalau kebaikkan akan menghapus kejelekkan, seperti yang tertera dalam firman -Nya:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”.  [Huud/11: 114].

 Kalau sekiranya kebajikan tidak diterima dari para pelaku kejelekan maka peluang untuk menghapusnya sangat sedikit sekali.

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun
Dan tidak sepantasnya bagi seorang mukmin untuk meremehkan amal shaleh biarpun nilainya sedikit, dimana Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti supaya kita jangan sampai berbuat semacam itu. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ » [أخرجه مسلم]

Janganlah kalian sekali-kali meremehkan kebajikan sedikitpun, walau hanya sekedar bertemu dengan saudaranya dengan wajah berseri“.  HR Muslim no: 2626.

Dalam Kisah Mereka Ada Teladan
Karena bisa jadi amal yang ringan ini diterima oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, lalu sebagai penyebab dirinya masuk ke dalam surga. Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah menuturkan sebuah kisah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Pernah ada seekor anjing yang sedang mengelilingi sebuah sumur, hampir-hampir dirinya mati karena kehausan. Pada waktu itu ada wanita pelacur dikalangan Bani Israil melihatnya, maka dia turun mengambil air dengan sepatunya, kemudian diberikan pada anjing tersebut, (dengan) sebab itu dirinya diampuni“.  HR Bukhari no: 3467. Muslim no: 2245.

Dalam shahih Muslim dibawakan sebuah kisah yang patut kita camkan baik-baik, dimana Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dalam sebuah sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِى الْجَنَّةِ فِى شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِى النَّاسَ » [أخرجه مسلم]

“Sungguh aku pernah menyaksikan ada seseorang yang  keadaannya tak menentu disurga gara-gara satu batang pohon yang dulu dia tebang lalu (ia biarkan) menganggu orang lain“.  HR Muslim no: 1914.

Al-Hafidh Ibnu Hajar memberi petuahnya: “Seharusnya bagi seseorang untuk tidak meremehkan perkara kebajikkan yang mendatanginya walaupun sedikit, tidak pula untuk menjauhi perbuatan jelek biarpun ringan. Karena dirinya tidak mengetahui kebaikkan yang mana akan mendapat rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla, demikian juga dirinya tidak tahu amal kejelekkan mana yang mendatangkan murka -Nya”. [6]

Bisa jadi sebuah amalan tidak diterima, biarpun dimata pelakunya sangat besar nilainya, bisa karena faktor ujub, atau pamer, bangga atas dirinya, atau menyebut-nyebut amalan ditersebut dimata umum, sehingga faktor-faktor itu menjadi sebab amalannya tertolak. Seperti salah satu contoh yang Allah Shubhanahu wa ta’alla telah sebutkan dalam firman -Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”.  [al-Baqarah/2: 264].

Tembok Penghalang
Dan penghalang terbesar tidak diterimanya amal ialah perbuatan syirik. Berdasarkan firman Allah azza wa jalla:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٞ فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡ أَحَدِهِم مِّلۡءُ ٱلۡأَرۡضِ ذَهَبٗا وَلَوِ ٱفۡتَدَىٰ بِهِۦٓۗ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu”.  [al-Imran/3: 91].

Sehingga siapapun orangnya yang menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla bukan dengan cara agama Islam maka tidak akan mungkin amalannya bisa diterima walaupun jumlah banyak. Seperti yang Allah ta’ala tegaskan dalam firman -Nya:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. [al-Imran/3: 85].

Sebab Diterimanya Amal
Diantara sebab diterimanya amal adalah do’a. Allah ta’ala mengkisahkan tentang Nabi -Nya Ibrahim dalam firman -Nya:

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. [al-Baqarah/2: 127].

Salah satu faktor diterimanya amal adalah beristighfar, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنۡ حَيۡثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [al-Baqarah/2: 199].

Adalah kebiasan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salalm yang dilakukan setelah usai dari sholat adalah mengucapkan: ‘Astaghfirullah‘ (Aku memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sebanyak tiga kali lalu membaca:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ » [أخرجه مسلم]

Ya Allah, Engkaulah as-Salamm, dari –Mu lah keselamatan itu. Sungguh Maha Suci Engkau, wahai pemilik Keagungan dan Kemuliaan“. HR Muslim no: 591.

Tanda Diterimanya Amal Shaleh
Diantara salah satu tanda diterimanya amal shaleh ialah giat untuk terus melanjutkan dari satu amal kebajikan pada amal kebajikan yang lainnya. Berkata sebagian salaf: “Kebaikan menyeru saudaraku, saudaraku. Begitu pula maksiat juga menyeru saudaraku, saudaraku”.

Dan yang membenarkan hal tersebut ialah sabda Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Wajib atas kalian untuk jujur, sesungguhnya kejujuran mengantarkan pada kebajikan dan kebajikan mengantarkan pada surga“.  HR Bukhari no: 6094. Muslim no: 2607.

Salah satu tanda yang lain ialah pelakunya merasa, kalau masih banyak sekali kekurangan dalam beramal dibanding dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala padanya, serta taufik     -Nya, yang sekiranya kalau  Allah  Shubhanahu wa ta’ala tidak menghendaki tentu tidak akan tercapai. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.  [al-Hujuraat/49: 17].

Diantara tanda diterima amalnya ialah seorang hamba merasakan kelezatan dalam beribadah, senang dan menyukainya. Sebagaimana yang terjadi pada diri Rasul, bila ingin tenang beliau menyeru:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ » [أخرجه أبو داود]

Wahai Bilal, berdirilah jadikan kami tenang dengan sholat“. HR Abu Dawud no: 4986. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 3/941 no: 4171.

Dan Allah ta’ala telah menyebutkan akan hal itu dalam firman -Nya:

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِين

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.  [al-Baqarah/2: 45].

Sebagian ulama mengatakan: “Ringannya untuk mengerjakan ketaatan merupakan dampak dari kecintaan orang yang taat serta bentuk pengagungannya. Sesungguhnya penyejuk pandangan mata orang yang mencintai sebagai bentuk ketaatan pada Dzat yang dicintainya. Didalam hadits disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ » [أخرجه النسائي]

Dan dijadikan sholat sebagai penyejuk pandanganku“. HR an-Nasa’i no: 3939. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan an-Nasa’i 3/827 no: 3680.

 Karena didalam sholat ada ketenangan jiwa, merasa lebih dekat kepada Penciptanya serta kelezatan untuk bermunajat.

Inilah akhir dari kajian kita kali ini, kita panjatkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari شروط قبول العمل Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya secara mu’alaq (tanpa sanad).
[2] Tafsir Ibnu Katsir 5/166. Dan sanadnya hasan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
[3] Tafsir al-Qurthubi 7/411.
[4] Madaarijus Saalikin oleh Ibnu Qoyim 2/69.
[5] Majmu’ Fatawa 10/322.
[6] Fathul Bari 11/321.

Benarkah Cara Berislam Anda

BENARKAH CARA BERISLAM ANDA

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Said Yai Ardiansyah, Lc, MA

Tidak bisa dipungkiri Islam “lahir” lebih dari 14 abad yang lalu. Selang waktu yang sangat lama ini sangat memungkinkan untuk terjadi kesesatan di dalam “tubuh” Islam. Jangankan 14 abad, dalam waktu yang sangat singkat saja, suatu kaum bisa menjadi sesat, sebagaimana terjadi pada Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam selama 40 hari. Yang  tadinya mereka hanya menyembah kepada Allah, akhirnya mereka menyembah kepada berhala.

Begitu pula dengan jarak yang sangat jauh dengan pusat penyebaran Islam di zaman dahulu, seperti: Madinah, Mekkah, Baghdad, Mesir dll. Untuk bisa mencapai negeri Indonesia, para penyebar Islam harus menempuh pelayaran dan perjalanan yang sangat lama. Ini juga mendukung terjadinya kesesatan.

Berdasarkan catatan sejarah, di awal-awal masuknya Islam ke Indonesia, Islam banyak disebarkan oleh para pedagang Islam yang berinteraksi dengan masyarakat pribumi. Mereka tidak terkenal sebagai ulama yang benar-benar menguasai ilmu Islam secara mendalam sebagaimana ulama-ulama yang berada di pusat penyebaran Islam di zaman dahulu. Seandainya benar mereka adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu yang sangat dalam, tentunya kita akan mendapatkan peninggalan-peninggalan ilmiah mereka, baik berupa: tulisan tangan, riwayat perkataan mereka atau kemasyhuran mereka di dunia Islam. Tetapi ternyata kita tidak menemukannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Islam di Indonesia dulunya diajarkan oleh orang-orang yang belum mencapai derajat ulama yang mendalam ilmunya. Jika demikian, maka Islam bisa ternoda dengan ketidakberilmuan mereka. Ini juga sangat mendukung terjadinya kesesatan di Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui juga, agama yang banyak menyebar di Indonesia sebelum masuknya agama Islam adalah agama Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme dan Atheis. Disadari atau tidak, ini juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi percampuran agama Islam dengan agama-agama tersebut. Belum lagi dengan budaya yang beraneka ragam yang sekarang sangat tampak pengaruhnya terhadap pemeluk-pemeluk Islam di Indonesia. Ini juga bisa mendukung terjadinya kesesatan.

Dengan membaca apa yang telah penulis paparkan di atas, maka Indonesia bisa menjadi “lahan” subur untuk menyebarnya berbagai kesesatan. Oleh karena itu, dalam berislam kita harus benar-benar memperhatikan apakah Islam yang kita jalani pada saat ini adalah Islam yang benar dan jauh dari kesesatan ataukah tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan di dalam hadits Abu Hurairah:

(( افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً ))

“Umat Yahudi terpecah-belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Umat Kristen juga terpecah belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Sedangkan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok [1]. Seluruhnya di neraka kecuali satu kelompok.[2]

Hadits di atas dengan jelas mengabarkan bahwa kaum muslimin akan berpecah-belah dan hanya ada satu kelompok yang selamat. Ini harus kita imani, karena Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-lah yang mengatakannya.

Hadits di atas juga mengabarkan bahwa ketujuh puluh kelompok tersebut masih digolongkan sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beragama Islam, sehingga meskipun mereka terjatuh kepada kesesatan, mereka di akhirat nanti masih berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak untuk mengazab mereka maka Allah akan mengazab mereka, jika tidak maka Allah tidak akan mengazab mereka. Akan tetapi, kesemuanya pada akhirnya akan masuk surga.

Penulis perlu mengingatkan bahwa ada kelompok-kelompok di dalam Islam yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, tetapi kelompok-kelompok tersebut sebenarnya bukanlah termasuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti: Ahmadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), beberapa tarikat  Shufiyah  dan Syi’ah/Rafidhah yang melampaui batas dll. Kelompok-kelompok tersebut tidak termasuk ketujuh puluh kelompok yang disebutkan di dalam hadits di atas.

Siapakah satu kelompok yang disebutkan di dalam hadits tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita tidak boleh mengaku-ngaku berada dalam kebenaran kecuali memang ada dalilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seharusnya kita selalu merasa was-was atau ragu apakah Islam yang kita jalani pada saat ini sudah benar ataukah belum. Dengan demikian kita akan bersemangat untuk mencari kebenaran tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati mereka pada kelanjutan hadits di atas:

(( فَقِيلَ لَهُ : مَا الْوَاحِدَةُ   قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي ))

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditanya, “Siapakah satu kelompok itu, Ya Rasulullah?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Apa yang sesuai dengan yang saya dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.”

Dengan demikian, Islam yang paling benar adalah Islam yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada penambahan dan pengurangan di dalamnya dan juga Islam yang dijelaskan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka langsung menerima ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok yang paling benar, karena kelompoknya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi, mengapa masih terjadi perpecahan di antara mereka sehinga yang satu kelompok mengkafirkan yang lain dan yang lainnya mengatakan sesat kelompok yang lain?

Ini semua terjadi karena mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya dengan akal-akal mereka atau mencukupkan diri dengan bahasa Arab yang mereka kuasai. Sehingga mereka tidak tahu apakah mereka telah terjatuh kepada kesesatan ataukah tidak.

Saudara pembaca yang mudah-mudahan Allah merahmati kita semua, Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah ditafsirkan atau dijelaskan dengan akal-akal manusia, maka akan terjadilah keberagaman pemahaman, karena setiap orang sangat berbeda tingkat pemahamannya dengan yang lain. Jika terus berlangsung demikian, maka Islam di setiap zaman akan berbeda-beda dan akan menjadi agama baru yang berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, kita harus mengikuti pemahaman siapa? Jawabannya adalah kita harus mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik.

Apakah mereka masih ada pada zaman sekarang ini? Ya, orang-orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik masih ada pada zaman sekarang ini sampai hari kiamat nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ))

”Senantiasa ada sekelompok orang di kalangan umatku yang selalu tampak dengan kebenarannya. Orang yang tidak mengacuhkan mereka tidak dapat memberikan mudarat kepada mereka sampai datang perkara Allah dan mereka tetap dengan kebenarannya.”[3]

Mengapa kita harus mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik? Setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus mengikuti pemahaman mereka, yaitu:

  1. Allah subhanahu wa ta’alatelah me-ridha-i mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

( رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ )

     “Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah.”  [Al-Bayyinah/98 : 8]

  1. Mereka adalah umat terbaik di hadapan Allah

(( خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ  ))

Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang hidup setelah zamanku, kemudian yang hidup setelahnya.” [4]

  1. Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya

(وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا )

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisa’/4 : 115]

“Jalan orang-orang mukmin”, siapakah mereka? Tidak lain, mereka adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Allah di dalam Al-Qur’an telah memuji mereka dan menyediakan untuk mereka surga

 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah me-ridha-i mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9 : 100]

Pada ayat di atas Allah menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah telah me-ridha-i mereka dan menyediakan surga untuk mereka kelak. Oleh karena itu, kita harus bisa mengikuti jejak mereka agar bisa menjadi seperti orang-orang yang disebutkan setelah kaum Muhajirin dan Anshar dan mendapatkan keutamaan berupa ke-ridha-an Allah dan surga.

Bagaimana agar kita bisa benar-benar yakin bahwa Islam yang kita jalani adalah Islam yang sesuai dengan pemahaman mereka? Agar kita bisa yakin, maka kita harus benar-benar mempelajari Islam ini dan menghidupkan keilmiahan dalam beragama. Kita tidak menerima, mengamalkan dan berkeyakinan kecuali benar-benar memiliki dalil dari Al-Qur’an dan HaditsNabi shallallahu ‘alaihi wa sallamHadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebar di dunia Islam pun harus diseleksi lagi, karena hadits tersebut bermacam-macam; Ada hadits shahih dan hasan (kedua hadits inilah yang bisa menjadi hujjah/dalil); dan ada juga haditsdha’if/lemah dan maudhu’/palsu (kedua hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah).

Tidak cukup dengan itu, kita harus meneliti lagi apakah pemahaman kita akan tafsir Al-Qur’an danhadits tersebut sudah sesuai dengan pemahaman orang-orang Islam yang terdahulu (kaum salaf dari kalangan sahabat, tabi’intabi’ut-tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik) dengan membaca nukilan-nukilan perkataan mereka di kitab-kitab para ulama yang terpercaya keilmuannya.

Di dalam urusan dunia saja kita harus ilmiah dalam menerima segala sesuatu, contohnya:

Dalam bidang kedokteran, para dokter tidak bisa menerima suatu cara pengobatan kecuali dengan adanya penelitian dan bukti ilmiah. Begitu pula dalam bidang teknologi, para ilmuan tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu penemuan tersebut adalah ilmu pengetahuan kecuali bisa dibuktikan dan dijelaskan dengan teori-teori ilmiah.

Apalagi dalam beragama, maka kita juga harus menghidupkan keilmiahan dalam beragama, sehingga kita nantinya tidak salah dalam memahami agama ini dan tidak tersesat.

Kita juga seharusnya jangan terlalu fanatik dengan madzhab fiqh tertentu, seperti: madzhab Syafi’i, madzhab Hanbali (Ahmad), madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Imam-imam madzhabtersebut tidaklah ma’shum (terjaga dari dosa), sehingga memungkinkan bagi mereka terjatuh kepada kesalahan-kesalahan.

Tidaklah ada pada suatu madzhab fiqh tersebut kecuali di dalamnya ada kebenaran dan kesalahan. Apa-apa yang benar dan sesuai dengan dalil, maka kita ikuti. Dan apa-apa yang salah atau menyelisihi dalil maka kita harus tolak. Kebenaran yang muthlaq tidak ada terdapat pada suatu madzhab tertentu.

Dengan demikian, Sudah benarkah cara berislam Anda? Jika belum benar, maka marilah kita sama-sama memperbaikinya, berlapang dada menerima kebenaran dan tidak sombong.

Akhirul-kalam, penulis mengharapkan kepada pembaca untuk bisa menyebarkan kebaikan yang terdapat pada tulisan ini dengan menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar pembaca, keluarga dan kaum muslimin. Mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.

[Disalin dari الفهم الصحصح  للدين الإسلامي  Penulis : Abu Ahmad Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A,  Editor : Tim islamhouse.com Divisi Indonesia. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
________
Footnote
[1] Sampai di sini HR Abu Dawud no. 4596, At-Tirmidzi no. 2640 dan Ibnu Majah no. 3991 (Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani).
[2] HR Al-Marwazi di As-Sunnah no. 59 dan Al-Hakim di Al-Mustadrak no. 444. Hadits ini memiliki syahid dari Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Aushath no. 4886.
[3] HR Muslim no. 5059
[4] HR Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 6635

Mungkinkah Kaum Muslimin Akan Berjaya?

MUNGKINKAH KAUM MUSLIMIN AKAN BERJAYA ?

Oleh
Syaikh Shafwat Nuruddin

Di tengah berbagai konflik politik dan pertarungan antar manusia di berbagai belahan dunia, banyak kaum Muslimin yang lupa bahwa Allah Azza wa Jalla pernah memenangkan Nabi Nuh Alaihissallam ketika beliau memohon kepada Allah Azza wa Jalla :

فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ 

Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku) [al-Qamar/54:10]

Allah Azza wa Jalla pernah menolong Nabi Hud dan Nabi Shâlih meskipun manusia yang mendukung mereka sedikit, sedangkan musuh sangat banyak. Allah Azza wa Jalla juga pernah menolong Nabi Ibrâhîm dan Nabi Luth serta semua para nabi dan rasul. Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. [an-Nûr/24:55]

Janji Allah Azza wa Jalla dalam ayat ini pernah dibuktikan kepada kaum Muslimin, para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum dimenangkan oleh Allah Azza wa Jalla , mereka tidak dipandang kecuali dengan pandangan penuh pelecehan dan hinaan. Namun tiba-tiba kaum yang dipandang sebelah mata ini bisa menguasai Persia, Roma, Yaman dan Afrika dan berkibar-kibar di Eropa. Ketika mereka sudah memenuhi persyaratan-persyaratan menang yaitu beriman dan beramal shalih, maka Allah Azza wa Jalla memenuhi janji-Nya. Allah Azza wa Jalla menjadikan mereka sebagai penguasa di muka bumi serta Allah Azza wa Jalla memperlakukan sunnatullah di tengah-tengah mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman :

لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ

Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. [an-Nûr/24:55]

Namun setelah generasi ini berlalu, setan berhasil menyeret generasi-generasi berikutnya ke dalam lembah kesesatan.

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ۙ

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan. [Maryam/19:59]

Generasi-generasi kemudian ini tidak lagi memenuhi persyaratan-persyaratan untuk meraih kemenangan; sehingga Allah Azza wa Jalla tidak lagi memberikan kemenangan kepada umat ini. Sebaliknya, kaum Muslimin terhina di negeri sendiri, kehormatan mereka diinjak-injak oleh orang-orang kafir dan orang-orang menyimpang. Orang-orang kafir di antaranya telah menenggelamkan sebagian wilayah kaum Muslimin ke dalam ideologi komunis, sebagian lagi ke dalam cengkeraman para salibis dan sebagian lagi dalam genggaman Zionis, pembunuh para Nabi, kaum yang dikutuk dan dilaknat dalam al-Qur’ân.

Mungkinkah Kaum Muslimin Akan Memproleh Kemenangan dan Kejayaan ?
Jawabannya ada pada janji Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.  [an-Nûr/24:55]

Terkait dengan ini, maka kita harus mengetahui syarat-syarat untuk memperoleh kemenangan dan kejayaan itu kembali. Syarat-syarat yang disebutkan dalam ayat di atas yaitu beriman dan beramal shalih. Iman dengan enam rukunnya yaitu beriman kepada Allah Azza wa Jalla , para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir serta takdir baik dan buruk. Ini merupakan pondasi yang tidak boleh dilalaikan sama sekali, meskipun hanya sesaat.

Sedangkan melakukan amal shalih maksudnya melakukan segala yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang dengan dasar taat kepada Allah Azza wa Jalla serta beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga dalam pengertian secara global ini akan tercakup di dalamnya usaha untuk pelurusan akidah, penyesuaian segala ibadah dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; begitu juga urusan rumah tangga seperti berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada pasangan dan anak, menjaga hak-hak tetangga, amar ma’ruf nahi mungkar, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, meninggal perbuatan riba, tidak menipu dan tidak bertindak zhalim. Semua jenis perbuatan ini masuk dalam lingkup amal shalih yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân.

Ayat yang di atas merupakan bagian dari Surat an-Nûr, sebuah surat yang mengisyaratkan periode baru dalam sejarah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ayat ini turun setelah terjadi perang Mushthaliq yang didahului dengan perang Ahzâb yang menyebabkan diturunkannya surat al-Ahzâb. Jarak antara kedua peperangan ini begitu singkat. Perang Ahzâb merupakan kali terakhir kaum musyrik menyerang kaum Muslimin, dan mereka bertempur di Madinah. Setelah itu Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sekarang kita yang akan menyerang mereka, bukan mereka yang menyerang kita.” [HR Imam al-Bukhâri]

Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan surat an-Nûr untuk menyucikan kaum Muslimin agar bisa melaksanakan kewajiban berdakwah dan berjihad serta menyiapkan mereka agar berbuat taat sehingga berhak mendapatkan pertolongan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla menyucikan jiwa-jiwa mereka dengan perintah-perintah yang dijelaskan secara rinci dalam ayat-ayat surat an-Nûr yang mulia ini dan dijelaskan secara global dalam firman-Nya :

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal shaleh …[an-Nûr/24:55]

Jika kata as-shâlihat maksudnya melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, maka perintah-perintah yang dijelaskan dalam surat an-Nûr masuk dalam penggalan kalimat yang pertama. Jadi menegakkan had-had syar’i, menjaga lisan agar tidak mencederai kehormatan orang lain, menjaga mata agar tidak memandang sesuatu yang haram, menjaga pendengaran, adab meminta ijin dalam rumah, mengajari anak cara meminta ijin, menjaga anggota badan dan kemaluan dan lain sebagainya masuk dalam kategori amal shalih. Dengan memperhatikan Surat an-Nûr dan al-Ahzâb, didapatkan banyak perintah dari Allah Azza wa Jalla .

Di antaranya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [an-Nûr/24:21]

Dalam surat an-Nûr juga:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang tertuduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh yang menuduh itu. Mereka mendapatkan ampunan dan rezki yang mulia (surga). [an-Nûr/24:26]

Juga :

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِ ۙيَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. [an-Nûr/24:37]

Sementara dalam Surat al-Ahzâb/33, Allah Azza wa Jalla berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ  ٩ اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا۠ ۗ  ١٠ هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالًا شَدِيْدًا  ١١ وَاِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اِلَّا غُرُوْرًا  ١٢ وَاِذْ قَالَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ يٰٓاَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوْا ۚوَيَسْتَأْذِنُ فَرِيْقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُوْلُوْنَ اِنَّ بُيُوْتَنَا عَوْرَةٌ ۗوَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۗاِنْ يُّرِيْدُوْنَ اِلَّا فِرَارًا  ١٣ وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِمْ مِّنْ اَقْطَارِهَا ثُمَّ سُـِٕلُوا الْفِتْنَةَ لَاٰتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوْا بِهَآ اِلَّا يَسِيْرًا

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan  berbagai macam prasangka. Di situlah orang-orang Mukmin diuji dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata : “Allah dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan mengatakan : “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.

Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.  [al-Ahzâb/33:9-14]

Juga firman-Nya :

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ 

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). [al-Ahzâb/33:23]

Dalam dua surat ini terkandung banyak petunjuk dan perintah yang bisa membimbing umat ini hidup lurus agar berhak mendapatkan pertolongan dari Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman :

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ

Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari para saksi-saksi dibangkitkan (hari kiamat). [Ghâfir/40:51]

Orang yang memperhatikan dengan seksama firman Allah Azza wa Jalla dalam surat at-Taubah/9: 38-40)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ  ٣٨ اِلَّا تَنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيمًاۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْـًٔاۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ٣٩  اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat ? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah); sedang dia salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur`ân menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. dan kalimat Allah itulah yang Tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana  [at-Taubah/9:38-40]

Serta ayat-ayat tentang perang Badar, Ahzâb dan Hunain, dia akan tahu bahwa Allah Azza wa Jalla telah menolong kaum Muslimin.

Dalam perang Badar, Allah Azza wa Jalla menolong mereka dengan mengirimkan para malaikat yang memiliki tanda yang bergabung dengan pasukan kaum Muslimin. Dalam perang Ahzâb, Allah Azza wa Jalla menolong kaum Muslimin dengan mengirimkan angin (yang bisa mengusir musuh) dan tentara. Allah Azza wa Jalla menolong hamba-Nya, memenuhi janji-Nya serta menghancurkan pasukan sekutu Quraisy. Dalam perang Hunain, Allah Azza wa Jalla telah memalingkan sekelompok besar dari medan pertempuran; mereka melarikan diri lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ketenangan kepada hati Rasul-Nya dan hati kaum Muslimin. Sementara di pihak orang-orang kafir, Allah Azza wa Jalla mengirimkan tentata yang tidak terlihat mata dan Allah Azza wa Jalla menyiksa orang-orang yang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.

Orang yang memperhatikan hadits yang menjelaskan tentang hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dia akan tahu bahwa Allah Azza wa Jalla telah menggagalkan rencana busuk orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla mencabut penglihatan mereka ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah beliau n , juga ketika mendekati persembunyian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Hira. Allah Azza wa Jalla juga melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kejaran Surâqah bin Mâlik, dia terjatuh ketika hampir berhasil menyusul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah Azza wa Jalla telah menggagalkan segala tipu daya yang dilakukan orang-orang kafir.

Dengan merenungi ini, setiap Muslim akan menyadari bahwa dia memiliki kewajiban yang tidak boleh diabaikan yaitu beramal shalih. Dengan amal shalih dakwah Islam akan tersebar, dakwah untuk mengembalikan kejayaan akan tersebar, juga dakwah untuk mengembalikan sebagian negeri yang telah dirampas, merebut kembali Masjidil Aqsha dan lain sebagainya. Ini hanya akan terwujud dengan pertolongan dari Allah Azza wa Jalla yang Maha Perkasa dan Maha Bijak. Bukan dengan teriakan-teriakan kosong dan hampa, tapi dengan menegakkan syari’at dan agama Allah Azza wa Jalla .

Dalam sebuat ayat dalam Surat an-Nûr, Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. [an-Nûr/24:56]

Dengan dahi yang senantiasa sujud, tangan yang senantiasa basah dengan air wudhu’, jiwa yang bersih, badan yang selalu disucikan dan lisan yang terjaga, kemenangan itu akan nyata. Setiap orang hendaknya merasa memiliki tanggung dalam mewujudkan kemenangan demi menyelamatkan al-Quds, menjaga darah kaum Muslimin dan wilayah mereka. Hendaklah masing-masing orang melaksanakan kewajibannya ini. Allah Azza wa Jalla berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.  [Muhammad/47:7]

Bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan kemenangan jika kalian kurang peduli dengan syari’at Allah Azza wa Jalla . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّبِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Jagalah Allah, pasti Allah akan menjagamu ! Jagalah Allah maka pasti engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu ! Jika engkau memohon, maka mohonlah kepada Allah ! Jika engkau hendak minta tolong maka mohonlah pertolongan kepada Allah ! Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat apapun kepadamu kecuali manfaat yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla untukmu. Jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu, maka mereka tidak akan mampu membahayakanmu dengan apapun juga kecuali dengan apa yang Allah Azza wa Jalla tetapkan untukmu. Pena-pena sudah diangkat dan tinta sudah kering.

Hendaklah masing-masing kaum Muslim melaksanakan amanahnya ! Hendaklah dia senantiasa merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam mengurusi rakyatnya. Semoga Allah Azza wa Jalla menolong kita dan memberikan kemenangan kepada kita di bumi ini dengan agama yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla ini. Semoga Allah Azza wa Jalla  menggantikan rasa cemas dengan rasa aman, menggantikan kefakiran dengan kekayaan agar kita bisa melaksanakan syari’at-Nya, menjalankan agama ini. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan pertolongan kepada orang beriman kepada-Nya dan berjalan di atas syari’at-Nya

(Al-Ashâlah, hlm. 54-58, edisi 48/Tahun 10)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIII/1430/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Kesempurnaan Islam dan Konsekuensinya

KESEMPURNAAN ISLAM DAN KONSEKUENSINYA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Di zaman ini, kita melihat berbagai perkara baru telah ditambahkan ke dalam agama Islam. Hal ini benar-benar merusak kesucian Islam. Baik tambahan itu berupa keyakinan, amalan, prinsip dan kaedah, atau yang lainnya dalam urusan agama.

Padahal Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama Islam ini bagi hamba-hamba-Nya, dan ini termasuk nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar. Maka selayaknya orang-orang Islam meridhai agama Islam ini, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah meridhainya. Demikian juga, seharusnya mereka merasa cukup dengan ajaran agama Islam ini, karena memang Allah Azza wa Jalla telah mencukupkan nikmat-Nya.

Di sini, kami sekedar mengingatkan kesempurnaan agama Islam “yang telah kita diketahui bersama” dan mengingatkan konsekuensinya “yang mungkin banyak dilalaikan oleh sebagian orang”.

Inilah sedikit penjelasannya :

  • Termasuk prinsip-prinsip agama yang wajib diyakini, iman seseorang tidak sah tanpa keyakinan ini, adalah bahwa agama Islam telah disempurnakan oleh Allah Azza wa Jalla. Maka, tugas manusia adalah mempelajari, mendengar dan mentaati. Allah Azza wa Jalla berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu.  [al-Mâidah/5:3]

Imam Ibnu Katsîr  rahimahullah  berkata  dalam tafsirnya: “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar kepada umat ini, yaitu Allah Azza wa Jalla menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama apapun selainnya, dan mereka tidak membutuhkan seorang Nabi-pun selain Nabi mereka. Oleh karena inilah Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan (Allah Azza wa Jalla ) mengutus beliau kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada yang halal kecuali apa yang beliau halalkan. Tidak ada yang haram kecuali apa yang beliau haramkan. Tidak ada agama kecuali apa yang beliau syari’atkan. Segala sesuatu yang beliau beritakan, maka hal itu haq dan benar (sesuai kenyataan), tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada kesalahan”.[1]

  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkewajiban menyampaikan agama, dan beliau telah melakukannya dengan sebaik-baiknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan agama Islam dengan sempurna, tanpa dikurangi. Maka, tidaklah beliau wafat kecuali agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan. Allah Azza wa Jalla telah menjadi saksi (surat al-Mâidah/5 ayat 3) tentang hal ini, demikian juga orang-orang yang beriman. Dan cukuplah Allah Azza wa Jalla sebagai saksi. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang dia ketahui kepada umatnya dan memperingatkan keburukan yang dia ketahui kepada mereka. [HR. Muslim no. 1844]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَلاَ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمُ عَنْهُ إِلاَّ وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allah Azza wa Jalla  perintahkan kepada kamu kecuali aku telah memerintahkannya, dan tidak pula aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allah Azza wa Jalla  larang kepada kamu kecuali aku telah melarangnya. [2]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 مَا بَقِيَ شَيْئٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidaklah tersisa sesuatupun yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan telah dijelaskan kepada kamu. [3]

Al-Irbâdh bin Sariyah Radhiyallahu anhu berkata:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ اْلأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menyentuh hati, menjadikan mata bercucuran air mata dan hati bergetar karenanya. Kemudian kami bertanya:“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini benar-benar nasehat orang yang berpamitan, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Aku telah meninggalkan kalian di atas (agama) yang putih (terang, jelas); malamnya seperti siangnya, tidak ada seorang pun menyimpang darinya, melainkan orang yang binasa. Barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sesuatu yang kalian ketahui dari Sunnahku dan Sunnah para khulafâur râshidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan geraham-geraham kalian. Hendaklah kalian taat walaupun kepada budak Habsyi (yang menjadi pemimpinmu), karena seorang Mukmin itu seperti onta yang penurut, ke mana ia di bawa, ia tunduk. [4]

Konsekuensi Kesempurnaan Islam
Setelah mengetahui dengan pasti kesempurnaan agama Islam ini, maka di antara konsekuensinya adalah bahwa kita tidak boleh menambahkan sesuatupun yang baru dalam agama ini, sebagaimana kita juga tidak boleh menguranginya. Inilah yang difahami oleh para Ulama semenjak dahulu. Sebagian dari perkataan mereka di antaranya:

  • Imam Mâlik bin Anas rahimahullah  berkata: “Barangsiapa membuat bid’ah (perkara baru) di dalam Islam dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan. Maka, sungguh dia telah menyangka bahwa Nabi Muhammad mengkhianati risalah (tugas menyampaikan agama) ini, karena Allah telah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu. (al-Mâidah/5:3). Oleh karena itu, segala sesuatu yang pada hari itu bukan dari agama, pada hari inipun juga bukan dari agama”. [5]
  • Imam asy-Syâthibi rahimahullahberkata: “Sesungguhnya orang yang menganggap baik suatu bid’ah, secara umum memuat konsekuensi bahwa menurutnya syari’at itu belum sempurna, sehingga firman Allah Azza wa Jalla ,“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”, tidak memiliki nilai makna menurut mereka”.[6] 

Maka orang yang demikian adalah orang yang sesat dari jalan yang lurus.

  • Iman Asy-Syaukâni rahimahullah berkata: “Jika Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mewafatkan Nabi-Nya, maka apakah perlunya pemikiran/pendapat baru, padahal Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama-Nya. Jika menurut keyakinan mereka pemikiran baru itu termasuk agama, maka agama ini menurut mereka belum sempurna; kecuali dengan pemikiran mereka. Yang berarti bahwa keyakinan mereka ini membantah al-Qur’ân. Jika itu bukan dari agama, maka apa gunanya menyibukkan diri dengan perkara yang tidak termasuk agama. Ini adalah argumen yang sangat kuat dan bukti yang agung. Orang yang membuat pemikiran baru tidak mungkin membantahnya dengan bantahan apapun selamanya. Maka jadikanlah ayat yang mulia ini (al-Mâidah/5 ayat 3) pertama kali untuk menampar wajah ahli ra’yi (pengagung akal), menghinakan mereka, dan menghancurkan hujjah mereka”. [7]
  • Syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma’shûmi rahimahullah berkata: “Jalan-jalan agama dan ibadah-ibadah yang benar hanyalah yang telah dijelaskan oleh Sang Pencipta makhluk lewat lisan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka, barangsiapa menambah atau menguranginya berarti dia telah menyelisihi Allah Azza wa Jalla yang Maha Bijaksana, Maha Mencipta dan Maha Mengetahui, sebab dia meramu obat-obat bagi dirinya sendiri. Padahal, kemungkinan obat itu malah akan menjadi penyakit, dan ibadahnya menjadi maksiat tanpa dia sadari. Karena agama ini telah sempurna, maka barangsiapa menambah ajaran baru dalam agama, berarti dia menyangka bahwa agama ini kurang (sempurna), lalu dia menyempurnakannya dengan anggapan baik menurut akalnya yang rusak dan khayalnya yang tidak laku”. [8]

Sikap Salaf Terhadap Perkara Baru Dalam Agama
Dari uraian di atas menjadi jelaslah bahwa ibadah itu harus mengikuti dalil dari al-Qur’ân atau Sunnah dengan pemahaman yang benar dari para Salaf. Oleh karena itu para Salafus shalih mengingkari cara-cara ibadah yang tidak dituntunkan; atau perkara-perkara yang ditambahkan di dalam ibadah yang telah dituntunkan; walaupun manusia menganggapnya sebagai kebaikan. Karena memang ibadah itu akan diterima dengan dua syarat yaitu ikhlas dan ittibâ’ (mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Tentang syarat ikhlas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya. [9]

Tentang syarat ittibâ’ (mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, sesuatu yang tidak ada contohnya, maka urusan itu tertolak. [HR. Bukhâri no. 2697; Muslim no. 1718]

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya tuntunan kami, maka amalan itu tertolak. [HR. Muslim no. 1718]

Sebagian orang ketika melakukan ibadah bid’ah (ibadah baru yang tidak dituntunkan), lalu diingkari, dia segera menjawab: “Apa sih jeleknya berdzikir”, “Apa sih jeleknya berdoa”, “Apa sih jeleknya membaca al-Qur’ân”, dan semacamnya. Padahal yang diingkari itu bukan masalah berdzikir, berdoa, atau membaca al-Qur’ân. Tetapi yang diingkari adalah tata-cara ibadah mereka di dalam berdzikir, berdoa, atau membaca al-Qur’ân yang menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuat tambahan di dalam agama yang sudah sempurna. Sehingga, ibadah mereka tidak memenuhi syarat ittibâ’, walaupun seandainya mereka ikhlas.

Karenanya, di sini disampaikan beberapa sikap Salafus shalih tentang pengingkaran mereka terhadap berbagai tambahan dalam agama, walaupun mungkin di zaman sekarang orang menganggapnya sebagai suatu kebaikan. Namun, sebaik-baik generasi adalah para Sahabat, sehingga pemahaman para Sahabat itulah yang harus dijadikan rujukan di dalam beragama. Di antara riwayat tersebut adalah:

1. Abu Abdurrahmân Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu
Kisah terkenal tentang perbuatan Abdullâh bin Mas`ûd Radhiyallahu anhu yang mendatangi jama’ah dzikir yang berkelompok-kelompok memegang kerikil. Setiap kelompok dipimpin satu orang. Pemimpin itu memerintahkan: “Bertakbirlah 100 kali”, merekapun melakukannya. Dia juga memerintahkan agar jama’ah bertahlil 100 kali dan bertasbih 100 kali, mereka juga melakukannya. Maka Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata kepada mereka: “Apakah ini -yang aku lihat kamu lakukan-?” Mereka menjawab: “Wahai Abu Abdurrahmân, ini kerikil. Kami menghitung takbir, tahlil, dan tasbih dengannya.” Beliau berkata: “Hitung saja keburukan-keburukan kamu! Aku menjamin kebaikan-kebaikan kamu tidak akan disia-siakan sedikitpun (sehingga perlu dihitung). Kasihan kamu, wahai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , alangkah cepatnya kebinasaan kalian! Ini, masih banyak para Sahabat Nabi kamu. Ini, pakaian beliau belum usang, dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kamu berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan”. Mereka berkata: “Demi Allah Azza wa Jalla , wahai Abu Abdurrahmân, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan”. Beliau menjawab: “Alangkah banyak orang yang menghendaki kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya”. Sesungguhnya Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kepada kami:

أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ

“Bahwa ada sekelompok orang yang membaca al-Qur’ân, namun al-Qur’ân tidak melewati tenggorokan mereka”.

“Demi Allah, aku tidak tahu, kemungkinan mayoritas mereka itu adalah dari kamu”. Kemudian Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu  meninggalkan mereka. [10]

2. Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu
Nafi’ maula Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu bercerita:

أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Bahwa seorang laki-laki bersin di samping Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu , lalu dia berkata: “Alhamdulillâh  wassalâmu ‘ala rasûlillâh”! Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata: “Aku katakan, Alhamdulillâh wassalâmu ‘ala rasûlillâh, bukan begini yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau telah mengajari kita untuk mengucapkan: “Alhamdulillâh ‘ala kulli hâl”. [11]

3. Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah
Abu Rabah, seorang lelaki tua dari keluarga ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata:

رَأَى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ رَجُلاً يُصَلِّيْ بَعْدَ الْعَصْرِ الرَّكْعَتَيْنِ يُكْثِرُ فَقَالَ لَهُ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلاَةِ قَالَ لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ اللَّهُ بِخِلاَفِ السُّنَّةِ

Sa’îd bin Al-Musayyib melihat seorang laki-laki melakukan shalat dua raka’at setelah ashar; dan dia sering melakukannya. Maka beliau melarangnya. Laki-laki itu berkata: “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi Dia akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah (tuntunan Nabi)”. [12]

Setelah membawakan riwayat ini, Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata: “Ini termasuk jawaban-jawaban Sa’îd bin Al-Musayyib rahimahullah yang mengagumkan. Ini merupakan senjata yang kuat melawan para pelaku bid’ah, orang-orang yang menganggap baik banyak dari perkara-perkara bid’ah dengan  sebutan bahwa itu adalah dzikir dan shalat!! Kemudian mereka mengingkari ahlus sunnah yang telah mengingkari bid’ah mereka itu. Mereka menuduh Ahlus sunnah mengingkari dzikir dan shalat!! Sedangkan sebenarnya, Ahlus sunnah itu hanyalah mengingkari ahli bid’ah yang menyelisihi sunnah di dalam dzikir, shalat dan semacamnya”. [13]

4. Imam Malik bin Anas rahimahullah
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: “Imam Malik rahimahullah didatangi seorang lelaki, lalu bertanya: “Wahai Abu ‘Abdillâh, dari mana aku berihram?” Beliau menjawab: “Dari Dzul Hulaifah, tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berihram”. Lelaki tadi berkata: “Aku ingin berihram dari masjid di dekat kubur”. Imam Mâlik rahimahullah berkata: “Jangan engkau lakukan, aku khawatir musibah akan menimpamu”. Dia menjawab: “Musibah apa tentang ini?” Imam Mâlik t berkata: “Musibah mana yang lebih besar dari anggapanmu bahwa engkau meraih keutamaan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat meraihnya? Sesungguhnya aku mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ 

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-nya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [an-Nûr/24:63] [14]

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa agama Islam ini telah dinyatakan sempurna oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Demikian juga diakui oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Ulama setelah mereka. Maka, segala macam tambahan dan perkara baru di dalam agama ini adalah tertolak. Karena setelah jelas al-haq, semua yang bertentangan dengannya adalah kebatilan. Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menganugerahkan kepada kita keikhlasan di dalam niat dan kebenaran dengan mengikuti Sunnah. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII/1430/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir Al-Qur’ânil ‘Azhîm, karya Imam Ibnu Katsîr surat al-Mâidah ayat: 3
[2] Hadits Shahîh dengan seluruh jalur riwayatnya. Riwayat Syâfi’i, al-Baihaqi, al-Khathib al-Baghdâdi, dan lainnya. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Silsilah ash-Shahîhah 4/416-417 dan Syaikh Ahmad Syâkir dalam Ta’lîqur-Risâlah, hlm. 93-103. Dinukil dari Al-Bid’ah Wa Atsaruha As-Sayyi’ Fil Ummah, hlm 25
[3] Hadits Shahîh. Lihat penjelasannya di dalam Ar-Risâlah karya Imam Syâfi’i, hal 93 Ta’lîq Syaikh Ahmad Syâkir. Dinukil dari ‘Ilmu Ushûlil Bida’, hlm 19.
[4] Hadits Shahîh. Riwayat Ibnu Mâjah no. 43; Ahmad 4/126; dan Ibnu Abi ‘Ashim no. 48, 49.
[5] Kitab Al-I’tishâm, juz: 2, hal: 64, karya Imam Asy-Syâtibi
[6] Kitab Al-I’tishâm, juz: 1, hal: 111, karya Imam Asy-Syâtibi
[7] Al-Qaulul Mufîd, hal. 38
[8] Miftâhul Jannah, Lâ ilâha illallâh, hal. 58
[9] HR. Nasâi, no 3140; Lihat: Silsilah Ash-Shahîhah, no. 52;  Ahkâmul Janâiz, hal. 63
[10] Hadits Shahîh Riwayat Ad-Dârimi di dalam Sunannya, juz 1, hlm. 68-69, no. 206; dan Bahsyal di dalam Târîkh Wasith, hlm. 198-199. Lihat: Al-Bid’ah, hlm. 43-44; Ilmu Ushûl Bida’, hlm. 92
[11] Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi, no. 2738; dll. Lihat Ilmu Ushûl Bida’, hlm. 71
[12] Riwayat Shahîh. Diriwayatkan oleh Darimi, juz 1, hlm. 116, no. 437, dll. Lihat Ilmu Ushul Bida’, hlm. 71
[13] Irwâul Ghalîl, juz. 2, hlm. 236
[14] Riwayat Al-Khathib di dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih, juz. 1, hlm. 148; dll. Lihat ‘Ilmu Ushul Bida’, hlm. 72

Jumlah Banyak Bukan Barometer Kebenaran

JUMLAH BANYAK BUKAN BAROMETER KEBENARAN

Jika ada seseorang menyaksikan banyak manusia mengucapkan satu pendapat yang sama atau meyakini sesuatu yang serupa, kondisi demikian akan mudah mendorongnya untuk mengikuti ucapan dan keyakinan mereka. Sebab, seperti diungkapkan pepatah Arab, manusia itu bak gerombolan burung, sebagian akan mengikuti lainnya. Dan pada gilirannya, akan menanamkan kesan pada benak orang tersebut bahwa pendapat yang menyalahi mereka merupakan pendapat yang keliru dan salah, dan otomatis orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka pun ia anggap kumpulan orang yang salah jalan (baca: sesat). Ya, apapun pendapat, keyakinan dan kebiasaan mayoritas manusia, kendatipun  salah, keliru dan menyimpang.

Dengan melihat fakta di atas, maka tidaklah adil dan ilmiah bila kuantitas dijadikan sebagai barometer al-haq (kebenaran). Bila mayoritas manusia memang berada di atas al-haq, dengan mengagungkan nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah serta berkomitmen tinggi untuk mengamalkannya secara keseluruhan dan mendakwahkannya, maka itulah kondisi yang ideal bagi manusia untuk mengenal kebenaran. Komunitas sosial yang lurus tersebut akan menjadi media yang kondusif bagi perkembangan anak-anak dan generasi selanjutnya. Mereka akan memiliki teladan baik dan contoh luhur dalam aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah serta aspek-aspek keagamaan lainnya.

Namun, persoalan akan muncul bila mayoritas berada dalam kondisi sebaliknya; ideologi yang berkembang tidak pernah dikenal di masa Salafush-Shâlih, taklid buta menjadi dasar agama, tradisi lokal sangat diagungkan, hadits-hadits palsu diamalkan, kaifiyah ibadah baru lagi tak berdasar menjadi ‘sunnah’ yang mesti dipertahankan. Pengaruh mayoritas ini dalam masyarakat tersebut akan menyeret anak-anak, generasi muda Islam dan orang-orang jahil serta orang muallaf memahami Islam tidak sebagaimana mestinya. Mungkin saja, mereka menjadi pihak yang superior, tapi yang pasti, standar al-haq (kebenaran) bukanlah berdasarkan besarnya jumlah massa suatu kelompok dan kekuatan otot mereka.

MENURUT AL-QUR`ÂN, KEBANYAKAN MANUSIA  TIDAK BERADA DI ATAS JALAN LURUS
Melalui  beberapa ayat, justru al-Qur`ân yang merupakan pedoman hidayah umat Islam mencela jumlah manusia yang mayoritas dan memberitahukan bahwa kebanyakan manusia berada dalam kesesatan dan kebatilan.  Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ ﴿١١٦﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’âm/6:116-117].

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “(Dalam ayat ini) AllâhTa’ala mengabarkan kondisi kebanyakan penduduk muka bumi dari anak keturunan Adam, sesungguhnya (mereka berada) dalam kesesatan”[1].

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikit lah mereka ini. [Shâd/38:24].

Bukankah jumlah kaum Muslimin lebih sedikit dibandingkan bilangan orang-orang yang kafir? Dan umat Islam yang taat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya lebih sedikit ketimbang orang-orang yang mengabaikannya?

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Kaum Mukminin berjumlah sedikit di tengah manusia. Dan ulama berjumlah sedikit di tengah kaum Mukminin”.[2]

Maka, untuk mengelabui orang, klaim jumlah yang banyak dijadikan oleh ahli batil untuk menegaskan kebenaran jalan dan keyakinan mereka. Karenanya, para pengusung kebatilan, penyeru kepada bid’ah, penjaja liberalisme dan orang-orang yang memusuhi kebenaran al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah berusaha melariskan ‘dagangan’ mereka  dengan menyebarluaskan klaim banyaknya para pengikut dan pendukung mereka. Misi-misi dan doktrin mereka suarakan melalui berbagai media massa agar terbentuk opini. Betapa banyak orang yang mengikuti mereka, kemauan merekalah yang diinginkan oleh publik dan selanjutnya klaim bahwa mereka berada di atas jalur yang benar dan lurus. Bukankah bila satu golongan menyimpang yang memiliki cabang di mana-mana, sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan miring orang terhadap golongan itu?

Dalam kitab Masâilu al-Jâhiliyyah, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb rahimahullah menyebutkan salah satu ciri jahiliyah, “Berhujjah dengan apa yang dipegangi kebanyakan orang tanpa menengok dasarnya”.

PARAMETER KEBENARAN
Dengan demikian, parameter kebenaran bukanlah berdasarkan kuantitas, banyak atau sedikit. Akan tetapi, “kebenaran itu (disebut kebenaran) tatkala sesuai dengan dalil tanpa perlu menengok banyaknya orang yang menerima atau minimnya penolakan orang. Antipati manusia atau respon positif mereka tidak otomatis menunjukkan kebenaran atau penyimpangan satu pendapat. Tiap pendapat dan perbuatan haruslah berdasarkan dalil (yang shahîh) kecuali pendapat (ucapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena ucapan beliau sudah menjadi hujjah (dasar, dalil)”.[3]

Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang umat terdahulu bahwa kaum minoritas bisa saja berada di atas al-haq. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. [Hûd/11:40].

Maka, siapa saja berada di atas al-haq yang berlandaskan dalil yang shahîh dan lurus, berkomitmen kuat dengannya dalam ucapan, perbuatan, keyakinan, meskipun ia sendirian, dialah orang yang benar dan lurus, dan selanjutnya pantas diikuti oleh orang lain.

Bahkan, seandainya pun tidak ada seorang pun yang berpegang teguh dengan al-haq, selama itu merupakan kebenaran, tetaplah merupakan kebenaran dan menjadi sumber keselamatan.[4]

Apabila kebanyakan orang hanyut dalam kebatilan dengan melanggar syariat, tidak konsisten dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk menyampaikan ilmu dan hidayah kepada semua manusia, mengadakan hal-hal baru dalam agama Islam yang tidak ada dasarnya yang jelas dan tidak pernah dikenal oleh generasi terbaik umat Islam; dalam kondisi demikian, pendapat mereka harus ditolak dan tidak boleh terpedaya dengan jumlah mereka yang ada di mana-mana.

Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud  Radhiyallahu anhu pernah berkata:

لاَ يَكُنْ أَحُدُكُمْ إِمَّعَةً يَقُوْلُ: “أَنَا مَعَ النَّاسِ”. لِيُوَطِّنَ أَحَدُكُمْ عَلَى أَنْ يُؤْمِنَ وَلَوْ كَفَرَ النَّاسُ

Janganlah seseorang dari kalian menjadi latah (dengan) mengatakan, ‘Aku bergabung dengan (arus) manusia (saja)’. Hendaknya ia melatih diri untuk beriman walaupun orang-orang telah kafir.

Atas dasar nasihat berharga di atas, mari kita tanamkan pada diri kita, “Hendaklah kita melatih diri (dan berusaha keras) untuk berkomitmen dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , walaupun banyak orang  telah mengabaikan petunjuk beliau dan mengadakan hal-hal baru dalam Islam”. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah, rasyâd  dan taufik-Nya kepada kita semua.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah juga telah menggariskan pesan pentingnya, “Janganlah engkau (mudah) tertipu dengan apa yang mengelabui orang-orang jahil. Mereka itu mengatakan, ‘Jika orang-orang itu (yang berada di atas al-haq) betul-betul di atas kebenaran, mestinya jumlah mereka tidak akan sedikit.  Sementara manusia lebih banyak yang tidak sejalan dengan mereka’.  Ingatlah bahwa sesungguhnya orang-orang (yang berada di atas al-haq) itulah manusia (sebenarnya). Sedangkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka hanyalah serupa dengan manusia, bukan manusia. Manusia (sebenarnya) hanyalah orang-orang yang mengikuti al-haq meskipun mereka berjumlah paling sedikit”.[5]

Syaikh Shâlih al-Fauzân hafizhahullâh mengatakan, “Memang betul, bila mayoritas (manusia) di atas kebenaran dan al-haq, maka itu bagus sekali. Akan tetapi, sunnatullâh (ketetapan Allâh Azza wa Jalla ) yang berjalan bahwa kuantitas yang besar berada di atas kebatilan. (Ketetapan Ilahi ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla  yang artinya):

وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya [Yûsuf/12:103]

Dan firman-Nya:

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6 : 116].[6]

BENARKAH MAYORITAS KAUM MUSLIMIN PADA MASA SEKARANG BERAQIDAH ASY’ARIYAH?
Kaum Asya’irah (yang beraqidah Asy’ariyah) adalah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) kepada Abul-Hasan al-Asy’ari, yaitu ‘Ali bin Ismâ’îl yang wafat pada tahun 330H. Sebenarnya, melalui aspek historis, dapat diketahui bahwa sosok yang terkenal ini mengarungi tiga fase dalam aqidahnya: bermadzhab Mu’tazilah, kemudian berada dalam fase antara pengaruh aqidah Mu’tazilah dan mengikuti Sunnah dengan menetapkan sebagian sifat Allâh, namun masih menakwilkan sebagian besarnya. Fase ini yang kemudian dikenal dengan aqidah Asy’ariyah. Lalu keyakinannya yang terakhir, meyakini aqidah yang dipegangi dan diyakini oleh generasi Salaf umat Islam. Sebab, ia telah menegaskan dan memaparkannya dalam kitabnya al-Ibânah yang termasuk karya terakhir beliau. Di dalamnya, beliau menjelaskan bahwa dirinya mengikuti aqidah yang dipegangi oleh Imam Ahli Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan Ulama Ahli Sunnah lainnya. Yaitu, menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan Allâh Azza wa Jalla bagi Dzat-Nya dan ditetapkan oleh Rasûlullâh bagi-Nya, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allâh Azza wa Jalla , tanpa takyîf, tamtsîl, tahrîf dan takwîl. Berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [asy-Syûrâ/42:11].

Dikala panutan dan tokoh utama Asy’ariyah, Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah telah meninggalkan aqidah 20 sifatnya, para penganut aqidah Asy’ariyah masih bertahan dengan pemikiran Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah sebelum meninggalkan aqidah yang digagasnya menuju aqidah Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Belakangan, ada ungkapan populer di tengah sebagian masyarakat bahwa golongan Asy’ariyah di masa ini merepresentasikan 95% dari jumlah kaum muslimin. Artinya, yang memegangi aqidah Asy’ariyah di dunia Islam merupakan kaum mayoritas.

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad menyanggah pendapat tersebut, melalui, dengan beberapa tinjauan, sebagai berikut:[7]

  1. Bahwa penetapan prosentase di atas haruslah berdasarkan penghitungan detail yang menghasilkan data empiris yang valid. Dan ternyata tidak ada sensus untuk menghitung jumlah penganutnya, hanya sekedar klaim kosong belaka.
  2. Anggap saja prosentasi itu benar, namun tidak otomatis jumlah yang banyak mengindikasikan lurus dan benarnya aqidah tersebut. Sebab, aqidah yang benar dan lurus hanya dapat digapai dengan mengikuti aqidah yang diyakini oleh generasi Salaf dari kalangan Sahabat Nabi dan insan-insan yang berjalan di atas manhaj mereka dengan baik. Bukan dengan mengikuti aqidah yang penggagasnya baru wafat pada abad empat hijriyah, apalagi yang bersangkutan telah meninggalkan aqidah (yang salah) itu. Selain itu, secara logika, tidak mungkin ada kebenaran yang tertutup dan tersembunyi bagi para Sahabat Nabi, generasi Tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik, dan kemudian kebenaran itu baru diketahui oleh orang yang kelahirannya setelah masa generasi terbaik umat Islam.
  3. Selain itu, aqidah Asy’ariyah hanyalah diyakini oleh orang-orang yang mendalaminya di lembaga pendidikan Asy’ariyah atau mereka mempelajarinya dari tangan guru-guru berkeyakinan Asy’ariyah. Sedangkan orang-orang awam yang jumlahnya sangat banyak itu tidaklah mengenal Asy’ariyah. Aqidah mereka masih di atas fitrah.
  4. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam at-Ta’âlum[8] menambahkan bahwa aqidah orang-orang dari tiga generasi terbaik; dari generasi Sahabat dan dua generasi selanjutnya sejalan dengan Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh n yang dalam perjalanan sejarah dikenal dengan Aqidah Salaf.

MAKA, BERSABARLAH DAN TETAPLAH KOMITMEN DENGAN AL-HAQ
Dengan melihat fakta lapangan, orang yang tidak dan belum komitmen dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam jumlahnya lebih banyak bahkan dominan di tengah masyarakat, maka seorang Muslim yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu merasa cemas, resah dan terasing lantaran tidak “memiliki” teman banyak atau bahkan tidak punya teman sama sekali. Sebab, hatinya ingin bersama dengan “orang-orang orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.[9]

Apabila kesabaran dan keyakinannya menipis, maka ia akan meninggalkan kebenaran itu, tidak sanggup menanggung beban (untuk menjalankan)nya, apalagi bila ia tidak memiliki teman dan merasa resah dengan kesendiriannya. Akhirnya, ia akan berkata, “Kemana manusia pergi, maka aku mengikuti mereka”.[10]

MARI SEBARKAN AJARAN AHLI SUNNAH WALJAMAAH!
Tersebarnya ajaran dan petunjuk yang bersumber dari al-Qur`ân dan Sunnah yang shahîhah di tengah satu masyarakat, dari masyarakat terkecil seperti keluarga, hingga masyarakat berskala besar seperti negara, akan mendatangkan kebaikan demi kebaikan bagi mereka semua. Oleh karena itu, sepatutnya penyeru kepada perbaikan berusaha keras untuk memperbanyak jumlah ahlulhaq. Sebab, para nabi pun memperoleh kedudukan yang berbeda-beda juga berdasarkan sedikit banyaknya pengikut mereka. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَرْجُوْ أَنْ تَكُونُوْا أَكْثَرَ أَهْلَ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya aku benar-benar berharap kalian menjadi penghuni terbanyak di dalam  surga. [HR al-Bukhâri dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu].[11]

Wallâhu a’lam.
Disusun oleh : Ustadz Abu Minhal, Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsîru al-Qur`ânil‘Azhîm, 3/322
[2] Miftâhu DârisSa’âdah, 1/147.
[3] Lihat ManhajulIstidlâl, 2/695.
[4] Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, hlm. 61.
[5] Miftâhu Dâris-Sa’âdah, 1/147.
[6] Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, Shâlih al-Fauzân, hlm. 62.
[7] Lihat Qathfu Jana ad-Dânî, Darul-Fadhîlah, Cet. I Th. 1423H-2002M, hlm. hlm35-36
[8] At-Ta’âlum, hlm. 121-122.
[9] QS an-Nisâ/4 ayat 69. Lihat keterangan ini dalam ash-Shawâriwu ‘anilHaqq, hlm. 109.
[10] Syarhu al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, 2/361.
[11] Ash-Shawâriwu ‘anilHaqq, hlm. 106-112.