Category Archives: A7. Kenapa Takut Kepada Islam?

Anda Bebas Memilih

ANDA BEBAS MEMILIH

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma Ba’du:

Terkadang ada orang yang terlihat bersedekah dan menyantuni orang lain, tapi kadang juga dirinya sangat pelit. Jika anda dituntut untuk memberi komentar pada orang tadi dan ditanya apakah dia itu orang dermawan atau orang yang pelit? Anda akan termenung sejenak, ragu untuk memastikan jawabannya, karena yang diketahui orang tersebut kadang berbuat baik, penyantun tapi kadang dirinya juga sangat pelit.

Seperti itulah kiranya perilaku manusia. Sesungguhnya perilaku yang muncul dari setiap orang diantara kita, tentulah merupakan keputusan menusia itu sendiri, dia bebas memilih sesukanya, baik itu dalam hal berpakaian, memilih makanan dan minuman, berbicara, bergaul, bermaksiat dan seterusnya.

Di sisi lain dia juga merasakan adanya perilaku yang muncul yang dirinya merasa terkungkung tidak ada pilihan lain, seperti hatinya yang berdenyut, tubuhnya yang tumbuh,, darahnya mengalir, sistem pencernaan, sistem syaraf dan pernafasan, maka kesemua itu tidak ada pilihan baginya, namun sebetulnya apa alasan itu semua? Apakah sebetulnya manusia itu dikendalikan atau bebas memilih, coba kita perhatikan, sesungguhnya didalam diri kita ada yang menunjukan pada jawaban yang pertama ada pula yang kedua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ  [الذريات: 21]

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. [adz-Dzariyaat/51: 21].

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengistimewakan manusia dari makhluk lainnya karena manusia dibekali dengan akal. Jika diklasifikasikan maka makhluk tersebut menjadi empat golongan;

  1. Golongan yang tidak mempunyai akal serta nafsu syahwat, golongan ini ada pada benda padat dan tumbuhan.
  2. Dan golongan yang memiliki akal namun tidak memiliki nafsu, golongan ini adalah para malaikat.
  3. Lalu golongan yang memiliki nafsu syahwat akan tetapi tidak memiliki akal, dan dia adalah binatang.
  4. Kemudian terakhir golongan yang punya akal dan syahwat, golongan ini adalah manusia.

Maka bila ditilik, jelas diantara makhluk-makhluk tersebut maka yang paling mulia adalah manusia yang Allah Shubhanahu wa ta’alla karuniakan akal, dan diutus pada mereka para rasul, serta diturunkan kitab suci, supaya mereka beribadah kepada Rabbnya, sehingga dirinya mendapat kemenangan dengan kebahagian didunia dan diakhirat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal tersebut didalam firman-Nya:

قال الله تعالى: إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ  [فصلت: 30-32] 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan menyatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat/41: 30-32].

Adapun benda mati, sesungguhnya ada padanya tubuh, warna dan ukurannya, sedangkan tumbuhan pun demikian cuma memiliki kelebihan bisa tumbuh berkembang, dan binatang memiliki itu semua dan mempunyai kelebihan dengan perasaan dan bisa bergerak, adapun manusia maka dirinya mempunyai itu semua dan dibedakan dengan akal yang bisa untuk membedakan antara dua hal, yaitu bisa membedakan mana yang menurutnya bermanfaat dan mana yang menurutnya membahayakan, dirinya bebas memilih.

Maka jika diperhatikan dalam diri manusia terkumpul padanya dari sifat-sifat yang ada pada benda mati, tumbuhan dan binatang.[1]

Dan apa yang dimiliki oleh sifat-sifat yang ada pada benda mati, tumbuhan dan binatang maka itu semua tidak ada kekuasaan padanya, tidak ada pilihan baginya selama-lamanya. Maka jelas manusia itu memiliki tubuh, warna dan ukuran, seperti benda padat, dan dalam hal ini merupakan sesuatu yang dikendalikan, tidak ada pilihan, begitu pula manusia tumbuh seperti tumbuhan, maka ini juga dikendalikan, selanjutnya manusia juga punya perasaan dan bergerak, didalam tubuhnya bekerja sistem pencernaan, urat syaraf, darah, dan pernafasan, maka itu semua juga dikendalikan tidak ada pilihan, seperti halnya hewan yang juga tidak punya pilihan.

Dan ini merupakan klimaks dari rahmat dan kasih sayang-Nya, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan seluruhnya berada pada pemeliharaan dan penjagaan-Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak membiarkan manusia begitu saja, sebab manusia butuh tidur, kadang lupa, terkadang melemah kondisinya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyindir hal itu melalui firman -Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ  [الأنبياء: 42]

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) yang Maha Pemurah?” sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka”.[al-Anbiyaa’/21: 42].

Sehingga apa yang ada pada manusia dari sifat-sifat yang dimiliki oleh benda mati, tumbuhan dan binatang, maka manusia dikendalikan, terkontrol didalamnya dengan rahmatnya Allah azza wa jalla.

Lantas kapan manusia itu dikatakan bebas memilih?

Manusia berada dalam kondisi bebas memilih dalam lingkup permasalahan yang berkaitan dengan akal saja. Akal yang ketika dihadapkan padanya hukum dari suatu perbuatan, berupa perintah dan larangan, maka dia bebas memilih lalu membedakan antara melakukan yang berupa perintah atau larangan. Dirinya bebas memilih apa yang menurutnya baik, sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا  [الإنسان: 29]

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya”. [al-Insaan/76: 29].

Demikian pula dalam firman -Nya yang lain:

قال الله تعالى:  وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ  [الكهف: 29]

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [al-Kahfi/18: 29].

Maka apabila dirinya telah mengetahui kebenaran lantas dia mengikutinya maka surga untuknya, tapi, jika dirinya kufur terhadap kebenaran tadi maka baginya neraka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعٗاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٣٨ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  [البقرة: 38-39]

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [al-Baqarah/2: 38-39].

Dari sini kita mengetahui bahwa beban taklif tidak mungkin dipikulkan melainkan kepada orang yang berakal, jika seandainya hilang akal yang bisa membedakan antara dua hal, antara baik dan buruk, benar dan salah, jujur dan dusta, maka beban taklif tersebut diangkat. Bukankah kita tahu bahwa tidak ada beban taklif pada orang gila, anak kecil dan orang yang sedang tidur, dikarenakan fungsi akal telah hilang atau belum adanya kesadaran pada orang tadi.

Dan dalam hal ini Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ » [أخرجه أحمد و النسائي]

Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan, orang yang tertidur sampai dirinya terbangun, anak kecil sampai dirinya dewasa, dan orang gila sampai dirinya sembuh“. HR Ahmad no: 24694. Nasa’i 6/156.

Dan sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghalalkan bagi kita perkara-perkara yang baik, serta mengharamkan yang jelek-jelek, menyuruh kita untuk menikah, dan melarang untuk berbuat zina, menganjurkan untuk berkata jujur dan melarang berkata dusta, menyuruh untuk beriman, dan memperingatkan jangan sampai kufur. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ [ النحل: 36 ]

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.  [an-Nahl/16: 36].

Disinilah peran akal dibutuhkan untuk bekerja, dirinya bebas memilih antara dua jalan, maka menjadikan pahala dan siksaan yang didapat sesuai dengan pilihannya.

Dan perlu dipahami bahwa akal seseorang itu sangat terbatas kapasitasnya tidak mampu mengetahui semua kejadian, tidak bisa bebas untuk mengetahui setiap yang mendatangkan manfaat baginya, serta yang membahayakan, maka dengan diutusnya para rasul, dan diturunkannya kitab suci, akan menuntun serta membimbing akal tersebut sesuai dengan apa yang mendatangkan manfaat didunia dan diakhiratnya nanti.

Dan bukan berarti bebas memilihnya seorang hamba itu keluar dari kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla, karena sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak ada sesuatupun dimuka bumi tidak pula dilangit yang mampu membuat-Nya lemah. Baginya kedaulatan mutlak dalam mencipta, mengatur serta menyuruh, kalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki untuk memberi petunjuk seluruh manusia niscaya kesampaian, tidak ada yang mampu mencegah -Nya, dan tidak ada yang mampu menolak hokum-Nya, Allah menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡ فَلِلَّهِ ٱلۡحُجَّةُ ٱلۡبَٰلِغَةُۖ فَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ  [الأنعام: 149]

“Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika -Dia menghendaki, pasti -Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. [al-An’aam/6: 149].

Akan tetapi, dengan hikmah Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak melakukan hal itu, namun membiarkan mereka sesuai dengan pilihannya, membiarkan mereka dengan amal perbuatannya, setelah Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan pada mereka kebenaran, supaya ibadah yang mereka kerjakan berdasarkan pilihan mereka bukan paksaan dan tekanan, semua itu dilakukan dalam rangka ujian dari Allah Shubhanahu wa ta’alla. Allah menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا ٢ إِنَّا هَدَيۡنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرٗا وَإِمَّا كَفُورًا [الإنسان: 2-3]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. [al-Insaan/76: 2-3].

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan mahluk menjadi dua macam:

  1. Mahluk yang dijadikan untuk senantiasa didalam ketaatan kepada -Nya, dan itu ada pada seluruh makhluk kecuali manusia dan jin.
  2.  Yang kedua adalah makhluk yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kebebasan untuk menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya, antara beriman atau kufur, taat atau memaksiati, mereka itu adalah manusia dan jin. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ    [الذريات: 56-58]

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada -Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi -Ku makan.  Sesungguhnya Allah -Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. [adz-Dzariyaat/51: 56-58].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyukai hamba yang datang kepada-Nya dalam kondisi memilih sendiri, sedangkan hamba tersebut bisa untuk tidak mendatangin-Nya. Maha Bijaksana Allah Shubhanahu wa ta’alla lagi Maha mengetahui dalam penciptaan dan perintah-Nya. Sebagaimana di jelaskan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُۤ لَهُۥۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٞ مِّنَ ٱلنَّاسِۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ  [الحج: 18]

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinasakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang -Dia kehendaki”. [al-Hajj/22: 18].

Maka manusia bebas memilih sekehendak dirinya, maka kembali hasilnya antara menjadi orang yang berbahagia atau orang yang sengsara diakhirat kelak berdasarkn pilihannya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى: لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [البقرة: 256]

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Baqarah/2: 256].

[Disalin dari خلق الله الإنسان مختارًا  (edisi Indonesia : Anda Bebas Memilih). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
_______
Footnote
[1]. Al-Qur’an, Mu’jizah wa Manhaj karya asy-Sya’rawi.

Yakin Dengan Pertolongan Allah

YAKIN DENGAN PERTOLONGAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

اَلْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى

Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi

Hakikat yakin kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala nampak dalam beberapa tahapan lemah, karena yang memiliki keyakinan bukanlah orang yang cerah sanubarinya, lapang dadanya dan berseri mukanya saat melihat kekuatan islam, kemuliaan penganutnya dan berita gembira kemenangannya. Yakin adalah milik orang yang percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bila kegelapan telah hitam pekat, sangat sempit, kesulitan sudah bertumpuk-tumpuk, dan semua umat saling menyatakan sikap permusuhan dengan terang-terangan. Karena sesungguhnya harapannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat besar dan dia yakin bahwa kesudahan bagi orang-orang yang bertaqwa dan masa depan untuk agama ini.

Dan karena sesungguhnya mujahid (pejuang) berusaha untuk menegakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, maka sesungguhnya jalannya menuju hal itu adalah sabar dan yakin. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: ‘Aku mendengar Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Dengan kesabaran dan keyakinan dicapai kepemimpinan dalam agama, kemudian dia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. [as-Sajdah/32 :24][1]

Pemberian paling penting yang diberikan kepada seseorang adalah yakin, sebagaimana dalam hadits:

وَسَلُوْا اللهَ الْيَقِيْنَ وَاْلمُعَافَاَة فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ خَيْرًا مِنَ الْمُعَافَاةِ

Mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yakin dan afiyat, maka sesungguhnya seseorang tidak diberikan setelah yakin yang lebih baik dari pada afiyah.”[2]

Tidak binasa umat ini kecuali ketika anak-anaknya tidak mau menyumbangkan kesungguhan yang diberikan untuk kemenangannya, kemudian meneguk beberapa gelas harapan tanpa bekerja. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَحُ أَوَّلِ هذِهِ اْلأُمَّةِ بِالزُّهْدِ وَالْيَقِيْنِ وَيَهْلِكُ آخِرُهَا باِلْبُخْلِ وَاْلأَمَلِ

Kebaikan generasi pertama umat ini adalah dengan zuhud dan yakin, dan binasa yang terakhirnya dengan bakhil dan angan-angan.”[3]

Dan karena hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahui perkara gaib, maka kita tidak mengetahui kapan datang pertolongan? Dan kita tidak mengetahui di manakah kebaikan? Akan tetapi yang kita ketahui sesungguhnya umat kita adalah umat yang baik –dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala- diharapkan baginya pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala -walaupun setelah beberapa masa-, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kepada hal itu dengan sabdanya r:

مثل أمتي مثل المطر لا يدرى أوله خير أم آخره

Perumpamaan umatku seperti hujan, tidak diketahui apakah permulaannya yang baik atau akhirnya.”[4]

Kita tidak tahu lewat tangan generasi manakah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyingkap awan dan mengangkat perkara umat ini, akan tetapi yang kita ketahui sesungguhnya sunnatullah di alam ini adalah sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَيَزَالُ اللهُ يَغْرِسُ فِى هذَا الدِّيْنِ غَرْسًا يَسْتَعْمِلُهُمْ فِيْهِ بِطَاعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menanamkan di dalam agama ini, mempekerjakan mereka untuk taat kepada-Nya hingga hari kiamat.”[5]

Banyak sekali kabar gembira dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membangun kembali semangat dan meneguhkan keyakinan. Di antaranya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kerajaan umat ini akan mencapai Timur dan Barat, dan masih banyak wilayah yang belum jatuh di bawah kekuasaan kaum muslimin, dan Islam harus menaklukkannya, sebagaimana di dalam hadits:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkan bumi untukku, maka aku melihat Timur dan Baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dilipat untukku darinya.[6]

Apabila kita mengetahui bahwa asal di dalam Islam adalah tinggi, memimpin, dan kuat, maka kita tidak berputus asa karena lemahnya kaum muslimin dalam satu kurun waktu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى

Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi.’[7]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan terus menerus bertambahnya Islam:

وَلاَيَزَالُ اْلإِسْلاَمُ يَزِيْدُ, وَيَنْقُصُ الشِّرْكُ وَأَهْلُهُ, حَتىًّ تَسْيُر الْمَرْأَتَانِ لاَتَخْشَيَانِ إِلاَّ جوْرًا, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَتَذْهَبُ اْلأَيَّامُ وَاللَّيَالِي حَتَّى يَبْلُغَ هذَا الدِّيْنُ مَبْلَغَ هذَا النَّجْمَ

Islam senantiasa bertambah, syirik dan penganutnya berkurang, sehingga dua orang wanita berjalan dan tidak takut kecuali perbuatan aniaya. Demi (Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang diriku berada di tangan-Nya, tidak berlalu hari dan malam sehingga agama ini mencapai tempat bintang ini.”[8]

Harapan tetap ada dan meluasnya kekuasaan kaum muslimin terus berlanjut –dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala-.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar dengan berita-berita gembira yang melunakkan segala keputus asaan, menetapkan setiap orang yang mendapat cobaan, melapangkan hati setiap orang yang kehilangan harapan dengan para penganut agama ini, ketika ia tidak mendapatkan secercah harapan yang berkilau untuknya, di mana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بشّر هذِهِ اْلأُمَّةُ باِلسَّنَاءِ وَالدّيْنِ وَالرِّفْعَةِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِيْنِ فِى اْلأَرْضِ

Umat ini diberi kabar gembira dengan keluhuran, agama, ketinggian, kemenangan dan keteguhan di muka bumi…”[9]

Jihad terus berlanjut hingga hari kiamat. Dan golongan yang nampak di atas kebenaran tidak membahayakannya orang yang menghinanya, ia terus berlanjut hingga datang perkara Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَنْ يَبْرَحَ هذَا الدِّيْنُ قَائِمًا يُقَاتِلُ عَلَيْهِ عصَابَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ حَتىَّ تَقُوْمَ السَّاعَةُ

Agama ini senantiasa tegak, berperang atasnya segolongan dari kaum muslimin hingga terjadi hari kiamat.[10]

Standar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan standar manusia, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kekuatan dari yang lemah. Hal itu jelas dalam merenungkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ يَنْصُرُ هذِهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا, بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ وَإِخْلاَصِهِمْ

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong umat ini dengan yang lemahnya, dengan doa, shalat dan ikhlas mereka.”[11]

Sesungguhnya seorang muslim yang diseret dengan belenggu, ditahan di sel, diburu di setiap tempat, tidak punya senjata, fakir yang papa, dengan do’a, shalat dan ikhlasnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong umat ini. Sekalipun dengan segala kelemahan yang tergambar padanya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan:

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوْع بِاْلأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ َلأَبَرَّهُ

Berapa banyak orang yang berambut kusut, ditolak di depan pintu (kalau ia meminta atau melamar, pent), jika ia bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Dia mengambulkannya.” [12]

Sungguh kita melihat pada hari ini kekuatan berada di tangan musuh-musuh kita dan kemenangan untuk mereka terhadap kita…akan tetapi kita tidak lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur alam ini dan mata-Nya tidak lalai dari hamba-hamba-Nya yang beriman, Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak akan ridha mereka selalu hina dan terus menerus dikuasai. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

المِيْزَانُ بِيَدِ الرَّحْمنِ يَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِيْنَ

Timbangan (neraca) berada di tangan ar-Rahman, Dia mengangkat suatu kaum dan merendahkan yang lain.”[13]

Dia Subhanahu wa Ta’ala pasti akan mengangkat kita setelah merendahkan kita, apabila Dia melihat dari kita kesungguhan usaha untuk mendapat ridha-Nya.

Di setiap abad, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan rasa yakin di dalam jiwa umat, dengan menjadikan padanya orang-orang yang berlomba dalam kebaikan, tidak memperdulikan berbagai cobaan, manusia mengikuti mereka, seperti dalam hadits:

فِى كُلِّ قَرْنٍ مِنْ أُمَّتِي سَابِقُوْنَ

Dalam setiap abad dari umatku ada orang orang yang berlomba (dalam kebaikan).”[14]

Sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dalam umat ini orang yang meluruskan pemahaman baginya, berjalan dengannya di atas kesungguhan, membimbingnya menuju petunjuk, memperbaharui baginya perkara agamanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira dengan hal itu, Dia Subhanahu wa Ta’ala bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا أَمْرَ دِيْنِهَا

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkan untuk umat ini di atas setiap seratus tahun orang yang memperbaharui baginya agamanya.”[15]

Bisa jadi kelapangan itu datang lewat tangan para pendahulu, dan bisa jadi lewat tangan para pembaharu, akan tetapi kesusahan tidak akan kekal.

Semua musuh Islam jatuh dalam lingkaran ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berperang. Dan siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memeranginya, maka tidak ada takut darinya dan tidak ada harapan terus berlangsung kekuasaanya terhadap kita. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku memberitahukannya dengan berperang…”[16]

Maka hendaklah kita saling berwasiat untuk tetap sabar di atas bala musibah, tetap teguh apabila terjadi qadha (keputusan), hendaklah kita menjadi pemberi kabar gembira yang baik dan tidak menjadi pemberi ancaman yang buruk, dan hendaknya kita mengatakan kepada orang-orang yang putus asa setelah begitu lama menunggu seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, saat mereka mengadu karena banyaknya bala musibah dan beratnya:

وَاللهِ لَيُتِمَّ اللهُ هذاَ اْلأَمْرَ…وَلكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

Demi Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyempurnakan perkara ini…akan tetapi kamu meminta segera.”[17]

Sesungguhnya keyakinan yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hamba-Nya adalah keyakinan yang terwujud pada Ibu Nabi Musa Alaihissallam dalam praktiknya, ketika Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang dia:

فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَتَخَافِي وَلاَتَحْزَنِي

dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati,. [al-Qashash/28:7]

Seperti inilah, dia melemparnya di sungai Nil dan tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati, padahal biasanya sungai besar sangat berbahaya bagi anak kecil yang masih menyusu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menentukan keselamatan untuknya,  dan Fir’aun memungut bayi yang masih menyusu, dia tidak takut dari pemeliharaannya di istananya, karena biasanya bayi yang masih menyusu tidak takut terhadap orang yang mengasuhnya. Maka kebinasaan Fir’aun lewat tangannya. Seperti inilah keajaiban kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang tiga golongan manusia yang tidak ada kebaikan pada mereka: “Tiga golongan, janganlah engkau bertanya tentang mereka …dan laki-laki yang ragu terhadap perkara Allah Subhanahu wa Ta’ala, putus asa dari rahmat-Nya.[18] Karena itulah, sesungguhnya umat yang diselimuti keraguan dan dililit keputusasaan, tidak bisa diharapkan kebaikannya selama ia tidak membanyak kembali rasa percaya diri dan keyakinan dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam.

Sesungguhnya beriman kepada Qadar (ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala) adalah salah satu sumberi keyakinan bahwa kesudahan adalah untuk orang-orang yang bertaqwa. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْئٍ حَقِيْقَةً وَمَا بَلَغَ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ

Sesungguhnya bagi setiap sesuatu ada hakikat, dan seorang hamba tidak bisa mencapai hakikat iman sehingga ia mengetahui bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpanya tidak akan meleset darinya, dan sesuatu yang tidak ditakdirkan kepadanya tidak akan menimpanya.”[19]

Sungguh umat telah melewati beberapa masa kelemahan, maka kita tidak lupa bahwa ia adalah taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mampu mengembalikan kemuliaan yang hilang, mengembalikan kepemimpinan yang telah berlalu, dan kondisi manusia naik dan turun, seperti dalam hadits:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ السُّنْبُلَةِ تَمِيْلُ أَحْيَانًا وَتَقُوْمُ أَحْيَانًا

Perumpamaan seorang mukmin seperti tangkai, terkadang miring dan terkadang berdiri.”[20]

Yang penting ia terkadang berdiri – dan itu adalah sunnah kauniyah– dan hari ini pasti akan tiba –apabila semua sebab telah terpenuhi-.

Seperti inilah berlalu sunnatullah di semua umat, seperti dalam hadits:

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Diperlihatkan kepadaku semua umat, maka aku melihat seorang nabi dan bersamanya ada rombongan kecil, seorang nabi dan bersamanya ada seorang dan dua orang laki-laki, dan seorang nabi yang tidak ada seorangpun bersamanya…”[21]

Kendati demikian dakwah terus berlangsung dan tetap ekses, sekalipun mengalami kelemahan di sebagian waktu. Seorang nabi tidak akan dicela karena tidak ada yang mengikutinya sekalipun ia telah mengorbankan segenap kemampuan dalam dakwahnya. Sebagaimana seorang mujahid tidak dicela karena tidak bisa mencapai kemenangan, sekalipun ia berjihad dalam waktu yang lama. Yang membuat kita dicela adalah karena kurang melakukan sebab (usaha), tidak mau berjuang sebatas kemampuan –sekalipun sedikit- dan yang tersisa diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat Dia menghendaki.

Dan tatkala para syuhada merasa khawatir terhadap orang-orang yang masih hidup sesudah mereka yaitu lemah kepercayaan yang membawa kepada enggan berjihad, atau merasa putus asa dari hasilnya, mereka berkata kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala :

مَنْ بَلَّغَ إِخْوَانَنَا عَنَّا أَنَّا أَحْيَاءٌ فِى الْجَنَّةِ نُرْزَقُ لِئَلاَّ يَزْهَدُوْا فِى الْجِهَادِ وَلاَينكلوا فِى الْحَرْبِ. فَقَالَ اللهُ سبحانه: أَنَا أُبَلِّغُهُمْ عَنْكُمْ

Siapakah yang menyampaikan kepada saudara-saudara kami yang masih hidup tentang kami, sesungguhnya kami tetap hidup di surga mendapat rizqi, agar mereka tidak enggan berjihad dan tidak mundur saat berperang.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Aku menyampaikan kepada mereka tentang kamu…’[22]

Maka malam pasti akan berlalu, buih pasti akan sirna, dan yang berguna bagi manusia pasti akan menetap di muka bumi dan berlalulah taqdir Rabb semesta alam bahwa kesudahan adalah untuk orang-orang yang beriman.

Kesimpulan:

  1. Orang yang memiliki keyakinan percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bilamana dunia menjadi sempit atasnya.
  2. Kepemimpinan dalam agama diperoleh dengan sabar dan yakin.
  3. Yakin adalah sebaik-baik yang diberikan kepada seseorang.
  4. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menanam untuk agama ini…dan kebaikan pasti akan tiba dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  5. Di antara kabar gembira dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    • Kerajaan umat akan mencapai Timur dan Barat.
    • Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi, ia bertambah dan syirik berkurang.
    • Janji dengan keteguhan dan agama senantiasa tetap tegak.
    • Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong umat dengan orang yang lemah, mengangkat suatu kaum dan merendahkan yang lain.
    • Di setiap masa/abad ada orang-orang terdahulu/berlomba (dalam kebaikan) dan pembaharu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan musuh-musuhnya berperang.
    • Pertolongan pasti akan tiba, akan tetapi manusia meminta segera atau ragu-ragu, dan iman mereka lemah kepada taqdir.
    • Janji pasti akan tiba, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan waktunya.
    • Tidak mengapa sedikitnya pengikut, akan tetapi kesalahan adalah tidak melakukan sebab (usaha).

[Disalin dari  الثقة بنصر الله   Penyusun : Mahmud Muhammad al-Khazandar, Penerjemah :  Muhammad Iqbal Ghazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1] Tahdzib Madarijus Salikin, manzilah shabr, hal 352.
[2] Shahih al-Jami’ no. 4072 (Shahih).
[3] Shahih al-Jami’ no. 3845 (Hasan).
[4]  Shahih al-Jami’ no. 5854 (Shahih).
[5] Shahih al-Jami’ no. 7692 (hasan).
[6]  Shahih Muslim, kitab fitan, bab ke lima, hadits 19/2889
[7] Shahih al-Jami’ no 1778 (hasan)
[8]  Shahih al-Jami’ no. 1716, (Shahih), dan awalnya: sesungguhnya Allah I menerima Syam denganku…
[9]  Shahih al-Jami’ no. 2825 (Shahih).
[10]  Shahih Muslim, kitab imarah, bab ke 53  hadits 174/1922
[11]  Shahih Sunan an-Nasa`i, kitab jihad, bab ke 43, hadits no. 2978.
[12] Shahih Muslim, kitab birr wa shilah, bab ke 40, hadits no 138/2622.
[13]  Shahih al-Jami’ no. 6737 (Shahih).
[14]  Shahih al-Jami’ no. 4267 (hasan).
[15]  Shahih Sunan Abu Daud karya al-Albani, kitab Malahim, bab 1, hadits no. 4606/4291
[16] Shahih al-Bukhari, kitab riqaq, bab ke 38, hadits no. 6502
[17]  Shahih Sunan Abu Daud karya Syaikh al-Albani, bab 107, hadits no. 2307/2649
[18] Shahih al-Jami’ no. 3059 (Shahih).
[19] Shahih al-Jami’ no. 2150 (Shahih).
[20] Shahih al-Jami’ no. 5845 (Shahih) dan no. 5844 yang berbunyi: Terkadang lurus dan terkadang merunduk. (Shahih).
[21]  Shahih Muslim, kitab iman, bab ke 94, hadits no. 374/220 (Syarh an-Nawawi 3/93)
[22]  Shahih Sunan Abu Daud karya al-Albani, kitab jihad, bab ke 27, hadits no. 2199/2520 (Hasan), dan dalam Shahih al-Jami no. 5205 (Shahih).

Berpegang Teguh Dengan Syari’at, Merupakan Kunci Kemenangan

BERPEGANG TEGUH DENGAN SYARI’AT, MERUPAKAN KUNCI KEMENANGAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Segala puji hanya milik Allah. Dia-lah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji keimanan seseorang. Dia-lah ar Rahman dan ar Rahim, yang menguasai hari pembalasan. Dia-lah yang akan memberikan kemuliaan kepada kaum Mukminin, dan akan menghinakan orang-orang yang lalai. Dia-lah yang akan memberikan pertolongan bagi hamba-hambaNya yang selalu teguh dan istiqamah di atas agamanya.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkat dakwah dan bimbingan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla  telah mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari kebodohan menuju cahaya ilmu.

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita sebagai pengikut yang setia kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu menegakkan sunnah-sunnahnya, sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Allah telah berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran/3 : 31]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji akan memberikan kemuliaan dan pertolongan kepada kaum Mukminin. Lihatlah! Bagaimana Allah memberikan pertolongan kepada kaum Mukminin dari kalangan para sahabat, sehingga mereka selalu berpindah dari kemenangan yang satu menuju kemenangan yang lainnya. Sungguh, pertolongan ini akan terus diberikan Allah kepada kaum Mukminin. Tentunya jika kaum Mukminin mau menolong agama Allah. Allah berfirman:

وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ 

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [ar Ruum/30 : 47].

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ

Sesunguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi. [al Mu’min/40 : 51]

Marilah kita melihat sejarah Islam, satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan yang penuh barakah. Yakni, Allah telah memenangkan Rasulullah dan para sahabat. Allah meninggikan kalimatNya, dan merendahkan kaum musyrikin. Satu kejadian yang sangat membahagiakan kaum Mukminin, dan menjadi kabar menyedihkan bagi kaum kafirin. Kejadian itu disebut sebagai al Furqan, karena Allah telah memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah tersebut adalah Perang Badar Kubra.

Para ulama sirah menyebutkan, telah sampai kabar kepada Rasulullah tentang kepulangan kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Mereka datang dari Syam dan menuju Mekkah. Kemudian Rasulullah memanggil para sahabatnya, untuk bersiap-siap merampas harta yang dibawa kafilah dagang tersebut.

Setelah semua dipersiapkan, berangkatlah Rasulullah membawa pasukan berjumlah 300 sekian belas orang. Terdiri 70 orang dari kalangan Muhajirin, dan sisanya dari kalangan Anshar, dengan dua ekor kuda dan 70 ekor unta.  Akan tetapi Allah berkehendak lain. Allah berkehendak mempertemukan antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, yang sebelumnya tanpa ada kesepakatan waktu dan juga tempatnya. Akan tetapi, kabar tentang keberangkatan Rasulullah dari Madinah telah sampai kepada Abu Sufyan, sehingga dia langsung mengirim utusan kepada para pemimpin Quraisy, agar segera mengirim pasukan untuk menghadapi bahaya yang akan menghadang mereka.

Sampailah kabar tersebut kepada orang-orang Quraisy. Mereka pun segera berangkat, dengan pasukan berjumlah sekitar 1000 orang, dengan membawa 100 ekor kuda dan 700 ekor unta, maka keluarlah pemimpin-pemimpin mereka dengan penuh kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

Dan janganlah kalian seperti orang yang keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong dan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah, dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. [al Anfal/8 : 47].

Setelah Abu Sufyan merasa aman dan selamat dari bahaya tersebut, ia memerintahkan pasukan Quraisy untuk kembali ke Mekkah. Akan tetapi mereka enggan, bahkan dengan penuh kesombongan  Abu Jahal berkata : “Demi Allah. Kita tidak akan kembali ke Mekkah, sehingga kita sampai di Badar dan menginap disana. Selama tiga malam kita sembelih unta, kemudian makan-makan, dan menuangkan khamr, sehingga orang-orang Arab mendengar apa yang kita lakukan, sehingga mereka akan tetap merasa takut dan gentar kepada kita“.

Kemudian bagaimana dengan Rasulullah? Ketika mengetahui keberangkatan pasukan Quraisy, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabatnya dan bermusyawarah, tentang apa yang akan mereka lakukan, terhadap kedatangan orang-orang Quraisy tersebut.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan untuku, antara dua kelompok kafilah dagang atau pasukan musuh.”

Mendengar seruan Nabi, maka berdirilah salah seorang dari kaum Muhajirin, seraya berkata : “Wahai Rasulullah. Berjalanlah sesuai dengan yang telah Allah perintahkan kepadamu. Demi Allah, kami tidak ingin seperti orang-orang Bani Israil yang mengatakan kepada Musa :

فَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ

(Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua. Sesunguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. –QS al Maidah/5 ayat 24). Sesungguhnya kami akan selalu berperang di samping kanan dan kirimu, serta di depan dan belakangmu”.

Berdiri pula Sa’ad bin Mu’adz, seorang dari kaum Anshar seraya berkata : “Wahai Rasulullah. Mungkin engkau menganggap kami, orang-orang Anshar akan mengunakan haknya untuk tidak membelamu, kecuali di negerinya sendiri. Maka saya katakan atas nama orang-orang Anshar, bawalah kami sekehendakmu, sambunglah tali orang yang engkau kehendaki, putuskanlah tali orang yang engkau kehendaki, ambillah dari harta kami sekehendakmu, dan berilah untuk kami apa yang engkau kehendaki. Sesungguhnya, apa yang engkau ambil dari kami, lebih kami cintai dari apa yang engkau tinggalkan. Maka perintahkanlah kami sekehendakmu, karena sesungguhnya kami akan mengikuti perintahmu. Wahai Rasulullah, seandainya engkau berjalan sampai ke al Birk yang ada di Ghamdan, tentu kami akan berjalan bersamamu. Seandainya engkau memerintahkan kami untuk mengarungi lautan ini, maka kami akan mengarunginya. Tidaklah kami merasa berat, apabila engkau memerintahkan kami untuk bertemu dengan musuh esok hari. Sesungguhnya kami akan bersabar ketika dalam peperangan, dan jujur ketika bertemu dengan musuh. Semoga Allah memperlihatkan sikap kami ini kepadamu dan menenangkan jiwamu”.

Maka berbahagialah Rasulullah ketika mendengar semangat para sahabatnya. Beliau pun berseru : “Berangkatlah dan bergembiralah. Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat kematian mereka“.

Setelah itu, berangkatlah Rasulullah beserta pasukan kaum Muslimin menuju Badar. Sesampainya disana, Rasulullah mengambil posisi di lembah yang dekat, dan mengarah ke kota Madinah. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy berada di lembah yang jauh, dan dekat dengan arah menuju Mekkah.

Pada malam harinya, Allah menurunkan hujan yang deras kepada orang-orang kafir, hingga menyebabkan adanya lumpur yang licin. Sebaliknya, hujan ini merupakan gerimis yang mensucikan bagi kaum Muslimin dan melembutkan pasir, sehingga memantapkan langkah-langkah kaum Muslimin.

Kemudian kaum Muslimin membangun gubuk untuk Rasululah. Beliau segera memantapkan barisan kaum Muslimin dan berjalan menuju tempat peperangan, dan beliau berkata : “Ini adalah tempat kematian fulan, ini adalah tempat kematian fulan, Insya Allah”. Maka tempat kematian mereka tidak jauh dari yang telah ditunjukkan Rasulullah.

Setelah itu beliau melihat kepada pasukan kaum Muslimin dan pasukan Quraisy, seraya berdoa :  “Ya Allah, sesungguhnya Quraisy telah datang dengan kesombongan dan kuda-kudanya untuk menantangMu dan mendustakan RasulMu. Ya Allah, berikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, penuhilah janjiMu. Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini pada hari ini, maka Engkau tidak akan diibadahi lagi”.

Kaum muslimin juga meminta pertolongan kepada Allah, dan Allah mengabulkan doa mereka. Allah berfirman.

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ ١٢ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ١٣ ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ

Ingatlah ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang beriman”. Kelak akan Aku letakkan rasa ketakutan ke dalam hati-hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka, dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya; dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hokum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) adzab neraka. [al Anfal/8 : 12-14].

Akhirnya bertemulah dua pasukan, dan terjadilah pertempuran yang sangat hebat, dengan jumlah yang tidak seimbang. Pada saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di gubuk, dijaga oleh Abu Bakr dan Sa’ad bin Mu’adz, dan beliau terus-menerus meminta pertolongan kepada Allah, sembari terus membakar semangat kaum Muslimin dengan sabdanya : Demi yang jiwa Muhammad berada di tanganNya! Tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, dengan sabar dan mengharapkan pahala Allah, dan kemudian terbunuh, terus maju dan tidak mundur, kecuali Allah akan memasukkan dirinya ke dalam surga.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah dan menaburkannya. Tidaklah salah seorang dari pasukan Quraisy terkena taburan tanah itu, keculai matanya akan terpenuhi  dengan tanah itu. Dan ini merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah, serta pertolongan yang Allah berikan kepada RasulNya.

Pada akhirnya pasukan kafir Quraisy bisa dikalahkan, dan mereka lari meninggalkan medan pertempuran. Kaum Muslimin berhasil membunuh 70 orang kafir Quraisy dan menawan 70 orang lainnya.

Lihatlah, bagaimana Allah memenangkan hambaNya yang beriman, walaupun jumlah mereka sedikit jika dibandingkan dengan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Allah berfirman.

كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ  

Berapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [al Baqarah/2 : 249].

Mengapa Allah banyak memberikan pertolongan kepada para sahabat Rasulullah? Jawabnya, karena mereka adalah orang-orang yang sangat semangat mengamalkan apa yang telah disyari’atkan Allah.

Kemudian kita bertanya, mengapa kaum Muslimin pada saat sekarang ini justru banyak dihinakan, bahkan ditindas oleh orang-orang kafir? Apakah pertolongan Allah terlambat datang? Apakah Allah mengakhiri janjiNya?

Demi Allah, tidak. Allah pasti akan menunaikan janjiNya. Akan tetapi, perlu kita tanyakan kepada kaum Muslimin, apakah kaum Muslimin sudah melakukan syarat untuk mendapatkan pertolongan Allah? Atau justru mereka jauh dari syarat tersebut? Atau bahkan meninggalkannya?

Ketahuilah, wahai kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah berfirman :

وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [ar Rum/30 : 47].

وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. [al Hajj/22 : 40].

Sesungguhnya Allah pasti akan memberrikan pertolongan kepada kaum Muslimin. Tentunya, kaum Muslimin mau menegakkan syari’at Allah, yaitu kembali kepada al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman para sahabatnya.

Sebaliknya, jika kaum Muslimin berpaling dari syari’at Allah, sibuk dengan urusan dunia dan jauh dari ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, niscaya mereka akan mendapatkan kehinaan. Dan Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut, sehingga kaum Muslimin kembali kepada Islam yang benar, Islam yang dibawa Rasulullah dan dipahami para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sampai hari Kiamat

Maka marilah tingkatkan semangat kita untuk melaksanakan perintah Allah. Kita jauhi yang dilarang Allah. Kita juga iltizam dengan Sunnah Rasulullah. Dengan ini semua, niscaya kita akan mendapatkan pertolongan Allah.

Wallahu a’lam bish-Shawab.

(Diangkat dari Majalisu Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 94-98)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Balasan Selaras Dengan Amal Perbuatan

BALASAN SELARAS DENGAN AMAL PERBUATAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Ada begitu banyak penjelasan yang datang baik dari ayat-ayat suci yang mulia serta hadits-hadits nabawai, yang menyebutkan tentang ganjaran bagi orang-orang muhsin yang (berbuat baik) serta balasan bagi para pendosa, sebagai bentuk motivasi untuk memacu kita didalam memperbanyak amal sholeh dan menakut-nakuti supaya kita menjauh dari amal perbuatan buruk. Dan itu selaras dengan kaidah ‘Balasan sesuai dengan amalannya’. Seperti yang ditegaskan oleh Allah tabaraka wa ta’ala dalam firman -Nya:

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ [ الرحمن: 60]

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. [ar-Rahman/55: 60].

Dan sebagaimana yang  Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam ayat lainnya:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا ١٢٥ قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى  [ طه: 124-126]

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan -Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Ia pun berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. [Thaahaa/20: 124-126].

Sedangkan penjelasan dalam hadits-hadits nabawi, itu juga sangat banyak, diantaranya ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » [أخرجه مسلم]

Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhan dirinya. Barangsiapa yang mengangkat kesusahan seorang muslim maka Allah akan mengangkat darinya kesulitan dari kesulitan yang ada kelak para hari kiamat. Dan bagi siapa yang menutup (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat“. HR Muslim no: 2580.

Dan bagi siapa pun yang membela kehormatan seorang muslim, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membalas dengan menjauhkan dirinya dari siksa neraka kelak pada hari kiamat.

Berdasarkan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ, رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa yang menjaga kehormatan seorang muslim, maka Allah akan menjaganya dari api neraka kelak pada hari kiamat“. HR Ahmad 45/528 no: 27543.

Barangsiapa menjadi pemimpin dan mengurusi urusannya kaum muslimin lantas dirinya mempersulit mereka didalam ururannya niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla pun akan menjadikan sulit penghidupannya.  Dan bagi siapa yang berlaku lembut kepada mereka maka Allah Shubhanahu wa ta’alla juga akan berlaku lembut pada dirinya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ  [أخرجه مسلم]

Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu dirinya mempersulit atas mereka, maka persulitlah urusannya. Dan bagi siapa yang mengurusi urusan umatku lalu dirinya berlaku lembut pada mereka maka sayangilah dirinya“. HR Muslim no: 1828.

Barangsiapa kalangan pemimpin yang menutupi kebutuhan orang miskin dan butuh, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memenuhi hajat dan kebutuhannya. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Amr bin Murah, bahwasannya beliau berkata pada Mu’awiyah, “Wahai Mu’awiyah! Sesungguhnya aku pernah mendengar dari Rasulalah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ إِمَامٍ أَوْ وَالٍ يُغْلِقُ بَابَهُ دُونَ ذَوِي الْحَاجَةِ وَالْخَلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ إِلَّا أَغْلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَمَسْكَنَتِهِ. قَالَ: فَجَعَلَ مُعَاوِيَةُ رَجُلًا عَلَى حَوَائِجِ النَّاسِ » [أخرجه أحمد]

Tidaklah ada seorang penguasa yang menutup (mata) enggan memenuhi kebutuhan orang miskin, fakir dan papa niscaya Allah akan menutup pintu langit baginya, kecuali bagi orang miskin, fakir dan butuh“. Mendengar itu maka Mu’awiyah langsung mengambil pegawai yang mengurusi kebutuhan manusia”. HR Ahmad 29/565 no: 18033.

Dan bagi siapa yang menginfakan hartanya niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menggantinya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits Qudsi, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ » [أخرجه البخارى ومسلم]

Allah ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam berinfaklah niscaya Aku akan berinfak padamu“. HR Bukhari no: 4684. Muslim no: 993.

Demikian pula bagi siapa yang kikir mengeluarkan hartanya sesuai dengan kewajiban yang Allah Shubhanahu wa ta’alla bebankan padanya untuk memenuhi hak-hak orang lain. Niscaya -Dia akan memusnahkan hartanya dan mencabut barokahnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا » [أخرجه البخارى ومسلم]

Tidaklah pagi hari menyapa seorang hamba melainkan ada dua malaikat yang turun padanya. Lalu salah seorang diantara keduanya berdo’a, “Ya Allah, gantilah harta orang yang berinfak”. Dan yang satunya lagi berdo’a, “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang enggan berinfak“. HR Bukhari no:1442,  Muslim no: 1010.

Dan barangsiapa mengingat Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam hatinya maka -Dia pun akan mengingat ia dalam Dirinya. Dan bagi siapa yang menyebut -Nya di majelis yang banyak orangnya niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menyebut dirinya di majelis yang lebih baik dari majelis mereka. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ » [أخرجه البخري ومسلم]

“Allah azza wa jalla berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada Ku, dan Aku bersama dirinya manakala ia menyebut namaKu, dan jika dirinya menyebutKu didalam hatinya niscaya aku akan menyebutnya didalam DiriKu, dan apabila dia menyebutKu di sebuah majelis niscaya Aku akan menyebut dirinya di majelis yang lebih baik dari majelisnya mereka“. HR Bukhari no: 7405. Muslim no: 2675.

Barangsiapa yang membangun masjid niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membangunkan baginya istana di surga. Hal itu, berdasarkan haditsnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ » [أخرجه مسلم]

Barangsiapa membangun masjid (di dunia) dengan ikhlas karena Allah niscaya Allah akan membangunkan baginya yang semisal di dalam surga“. HR Muslim no: 533.

Begitu pula bagi siapa yang memata-matai auratnya kaum muslimin niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membuka auratnya bahkan menyibaknya walaupun dia berada didalam rumahnya. Berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ » [أخرجه أحمد]

Duhai orang-orang beriman yang (hanya) dengan lisannya dan tidak masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian saling mengunjing sesama muslim, tidak pula mengikuti auratnya mereka. Karena seungguhnya, bagi siapa yang mengikuti auratnya mereka, Allah akan membuka auratnya, dan bagi siapa yang dibuka auratnya oleh Allah niscaya Allah akan memperlihatkan kejelekannya pada orang banyak “. HR Ahmad 20/33 no: 19776.

Sebagian ulama salaf menuturkan, “Aku pernah berjumpa dengan suatu kaum yang tidak memilik aib sedikitpun, namun, celakanya mereka selalu menyebut-yebut aib orang lain. Maka manusia pun menyebut-nyebut aib mereka. Kemudian akan berjumpa dengan suatu kaum yang aku dapati banyak mempunyai aib, namun, mereka menahan lisannya dari membicarakan kejelekan manusia. Maka orang pun melupakan kejelekan mereka … atau semisal dengan ucapan beliau”.[1]

Imam Syafi’i mengatakan dalam bait syairnya:
Duhai penyibak kehormatan orang dan mengikuti
Keburukan mereka, sadarlah dirimu hidup dalam kehinaan
Jika seandainya engkau bebas dari penghambaan Maha Mulia
Niscaya engkau tidak menyibak kehormatan muslim
Siapa yang berzina dengan wanita lain dengan upah seribu dirham
Niscaya orang lain akan menzinai keluarganya dengan setengah dirham
Sungguh zina adalah hutang jika engkau menangguhkan
Pasti pemiliknya akan menagih untuk menyerahkan keluargamu. Camkanlah

Dan barangsiapa menenggak miras di dunia maka diharamkan baginya minuman keras diakhirat kelak.

Hal itu berdasarkan sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa meminum khamr di dunia niscaya dirinya tidak akan pernah merasakannya di akhirat kelak, sampai sekiranya dia bertaubat darinya“. HR Ahmad 8/354 no: 4729.

Barangsiapa menyiksa orang lain di dunia niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menyiksanya kelak pada hari kiamat.  Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Hisyam bin Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, “Aku pernah mendengar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِى الدُّنْيَا » [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain ketika dulu di dunia“. HR Muslim no: 2613.

Sehingga suatu perkara pasti yang sangat jelas bagi kita kalau balasan itu sesuai dengan amal perbuatannya. Seperti kabar gembira yang diberitakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada istri tercintanya Khadijah, ibunda mukminin radhiyallahu ‘anha. Yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata padanya, “Wahai Rasulallah, inilah Khadijah, dirinya telah datang, bersamanya ada bejana yang berisi daging atau makanan, atau minuman. Apabila dirinya datang padamu sampaikan salam keselamatan padanya dari Allah Shubhanahu wa ta’alla dan diriku. Dan berilah kabar gembira, baginya surga dari emas dan perak, tidak bising tidak pula lelah didalamnya”.  HR Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432.

Penjelasan hadits, yang dimaksud dengan Shakhibu ialah suara-suara keras lagi bising. An-Nashab artinya capai, lelah. As-Suhaili menjelaskan kenapa di tiadakan dua sifat ini pada istana yang ditempatinya kelak disurga, yakni suara bising dan capai, “Bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam manakala mengajak memenuhi panggilan Islam, dirinya bersegera untuk menerimanya dalam keadaan rela, tidak dibarengi dengan mengangkat suara tidak pula sampai mendebat dan membikin letih dirinya. Bahkan, dirinya menghilangkan segala kesedihan yang menimpa suaminya, menentramkan hatinya dari segala kegalauan, dan membantu demi memudahkan kesulitan yang dihadapinya. Sehingga pantas sekali bila dijadikan istananya kelak disurga seperti yang di kabarkan oleh Rabbnya melalui perantara utusan -Nya dengan sifat yang sesuai dengan perbuatannya”. [2]

Lihat pada Ja’far bin Abi Thalib tatkala dirinya mati syahid pada peperangan Uhud, dirinya terpotong tangannya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengganti tangannya dengan sayap sehingga dirinya bisa terbang di surga bersama para malaikat. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رأيت جعفر بن أبي طالب مع جبريل و ميكائيل له جناحين » [أخرجه الحاكم]

Aku melihat Ja’far bin Abi Thalib sedang terbang bersama Jibril dan Mikail, dirinya mempunyai dua sayap“. HR al-Hakim 4/218 no: 4988. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 3/226 no: 1226.

Diantara perkara masyhur dalam hikayah yang menyebar di kalangan banyak orang apa yang terjadi, bagi orang yang berbakti pada kedua orang tuanya atau yang durhaka pada keduanya, maka hal tersebut adalah nyata dalam kehidupan yang bisa dilihat dan disaksikan oleh banyak orang, yakni bagi siapa yang berbakti pada kedua orang tuanya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla memberinya rizki dengan anak-anak yang berbakti pada dirinya ketika masih hidup.

Demikian pula kebalikannya bagi orang yang durhaka pada orang tuanya, dan diantara kisah dalam hal ini ialah seperti dikisahkan, : Bahwa ada seseorang yang mempunyai anak-anak yang berbakti padanya, jika mereka datang untuk mengambil air di sumur maka mereka membawa serta ayahnya yang sudah sangat tua demi menyenangkan orang tuanya. Apabila mereka telah sampai di sumur, mereka menurunkan ayahnya dengan penuh kelembutan dari atas onta lantas mereka menaruh ditempat yang sudah mereka persiapkan, setelah itu mereka membikin api unggun untuk menghangatkan tubuhnya lalu membikinkan minuman hangat baginya.

Pada suatu ketika mereka melihat di dekat sumur ada orang tua dan dua anaknya yang sedang mengambil air ke dalam sumur, seperti di ketahui sumur zaman dahulu, jika ada dua orang yang ingin mengambil air maka salah satunya harus ada yang turun dengan susah payah untuk mengambil air, lalu yang satunya lagi menunggu diatas, akan tetapi, anaknya yang satu menyuruh ayahnya yang turun ke dalam sumur dan di janjikan akan dibikinkan kopi hangat, kemudian ayahnya pun enggan menuruti kemauan anaknya dan menyuruh anaknya saja yang turun, namun, usahanya tidak berhasil, akhirnya dengan terpaksa dia pun turun.

Melihat kejadian tersebut maka anak yang berbakti pada orang tuanya tadi bangun beramai-ramai menawarkan bantuan, akan tetapi, anak orang tua tadi menolaknya dengan keras. Lalu ayahnya mereka mengatakan, “Jika seandainya kalian gali di sekitar tempat kalian duduk ini niscaya kalian akan mendapati bekas api yang dulu aku buat untuk orang tuaku. Sungguh diriku telah mendapat karunia bakti kalian dengan sebab apa yang aku lakukan dahulu pada orang tuaku. Adapun orang tua itu, sungguh aku telah menyaksikan dia memperlakukan orang tuanya sama seperti perlakuan kedua anaknya sekarang ini”. Balasan sesuai dengan amal perbuatan.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الجزاء من جنس العمل وكما تدين تدان Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Syarh Mandhumah al-Adaab Syar’iyah, al-Hajawi hal: 176.
[2] Fathul Bari 7/138.

Fenomena Ghuluw (Melampaui Batas) Dalam Agama

FENOMENA GHULUW (MELAMPAUI BATAS) DALAM AGMA

Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya; juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.

Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]

Dan dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. [an-Nisâ`/4:171]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku: “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata:

أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan: “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.”[1]

Ghuluw dalam agama itu sendiri adalah sikap dan perbuatan berlebih-lebihan melampaui apa yang dikehendaki oleh syariat, baik berupa keyakinan maupun perbuatan.[2]

Beberapa Istilah Untuk Sikap Berlebih-lebihan Dalam Agama.
Ada beberapa ungkapan lain yang digunakan oleh syariat selain ghuluw ini, di antaranya:

  1. Tanaththu’ (sikap berlebih-lebihan/ekstrim).

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

`Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ-قالها ثلاثا

Celakalah orang-orang yang brelebih-lebihan!” Beliau mengucapkannya tiga kali.”[3]

  1. Tasyaddud (memberat-beratkan diri).

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”[4]

Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ

Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).[5]

  1. I’tidâ (melampaui ketentuan syariat).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ 

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”  [al-Baqarah/2:190].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ

Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya.” [al-Baqarah/2:187]

  1. Takalluf (memaksa-maksa diri).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” [Shâd/38:86]

عن عمر رضي الله عنه قال: نُهِيَنا عن التَّكَلُّف

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ia berkata. “Kami dilarang bersikap takalluf (memaksa-maksa diri).”[6]

Sebab Munculnya Sikap Ghuluw.
Sebab-sebab munculnya sikap ghuluw ini bermacam-macam, di antaranya:

  1. Kebodohan dalam agama. Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw.
  2. Taqlîd (ikut-ikutan). Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berpangkal dari sebab ini.
  3. Mengikuti hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.
  4. Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk mempertebal sebuah keyakinan sesat.

Bentuk-bentuk Ghuluw.
Secara garis besar, ghuluw ada tiga macam: dalam keyakinan, perkataan dan amal perbuatan.

  1. Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, Nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih sebagai orang-orang yang ma’shûm (bersih dari dosa). Contohnya adalah keyakinan orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap ahli bait dan keyakinan orang-orang sufi terhadap orang-orang yang mereka anggap wali.
  2. Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap seseorang, doa-doa dan dzikir-dzikir bid’ah, misalnya puji-pujian kaum sufi terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wali-wali mereka; demikian pula dzikir-dzikir mereka yang keluar dari ketentuan syariat. Contoh lainnya adalah menambah-nambahi doa dan dzikir, misalnya menambah kata sayyidina dalam salawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbîratulihrâm; sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti waswas. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakbîratul ihrâm karena anggapan belum sesuai dengan niatnya.

Sebenarnya, ada satu jenis ghuluw lagi yang perlu diwaspadai yaitu ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasuki para pemuda yang memiliki semangat keagamaan yang berlebih-lebihan akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis  kafir, fasiq dan bid’ah.

Virus Ghuluw.
Virus ghuluw ini biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang Allah Azza wa Jalla tanpa haq, tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.

Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berkata: “Agama Allah Azza wa Jalla adalah agama pertengahan, antara sikap ekstrim (berlebih-lebihan) dan sikap moderat (terlalu longgar).”

Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnul Munîr sebagai berikut:“Hadits ini termasuk salah satu mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kita semua sama-sama menyaksikan bahwa setiap orang yang melewati batas dalam agama pasti akan terputus. Maksudnya bukanlah tidak boleh mengejar ibadah yang lebih sempurna, sebab hal itu termasuk perkara yang terpuji. Perkara yang dilarang di sini adalah berlebih-lebihan yang membuat jemu atau melewati batas dalam mengerjakan amalan sunat hingga berakibat terbengkalainya perkara yang lebih afdhal. Atau mengulur kewajiban hingga keluar waktu. Misalnya orang yang shalat tahajjud semalam suntuk lalu tertidur sampai akhir malam, sehingga terluput shalat Subuh berjama’ah, atau sampai keluar dari waktu yang afdhal atau sampai terbit matahari sehingga keluar dari batasan waktunya.”

Dalam hadits Mihzan bin al-Adra’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan:

إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوْا هَذَا الأَمْرَ بِالمُغَالَبَةِ، وَخَيْرَ دِيْنِكُمْ اليُسْرَةُ

Kalian tidak akan dapat melaksanakan agama ini dengan memaksakan diri. Sebaik-baik urusan agamamu adalah yang mudah.”

Pernah ada tiga orang yang ingin mengetahui aktifitas ibadah Nabi Shallallahu a’alaihi wa sallam di rumah. Mereka tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anha tentang ibadah beliau. Setelah diberitahukan, mereka merasa ibadah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hanya sedikit. Mereka berkata: “Dimanakah kedudukan kami dibanding dengan Nabi!? Padahal telah diampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.”

Maka salah seorang dari mereka berkata: “Aku akan shalat malam terus menerus tidak akan tidur.”
Yang lain berkata: “Aku akan puasa terus menerus tanpa berbuka.”
Dan yang lain berkata: “Aku tidak akan menikah selama-lamanya.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya mengatakan:

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ؛ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Adapun diriku, demi Allah Azza wa Jalla , aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur serta aku menikahi wanita! Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.”[7]

Dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُوْنَ عَنْ الشَّيءِ أَصْنَعُهُ فَوَاللهِ إِنِّي لأَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

Bagaimana halnya kaum-kaum yang menjauhkan diri dari sesuatu yang kulakukan? Demi Allah Azza wa Jalla, aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah Azza wa Jalla dan yang paling takut kepada-Nya.”[8]

Dalam menjelaskan hadits ini ad-Dawudi berkata: “Menjauhkan diri (dengan anggapan hal itu lebih baik-pent) dari dispensasi yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan dosa besar. Sebab ia memandang dirinya lebih bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla daripada rasul-Nya. Ini jelas sebuah penyimpangan.” Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan, “Tidak diragukan lagi kesesatan orang yang meyakini demikian (meyakini bahwa hal itu lebih baik).”[9]

Menjauhi Ghuluw Bukan Berarti Jatuh Dalam Taqshîr (Melonggar-longgarkan Diri).
Akan tetapi perlu juga kita waspadai, bahwa dalam menjauhi sikap ghuluw ini kita juga jangan sampai terjebak ke dalam sikap taqshîr (melalai-lalaikan dan melonggar-longgarkan diri).

Ini merupakan tipu daya setan yang luar biasa. Setan selalu mencari titik lemah seorang insan. Apabila titik lemahnya pada sikap ghuluw maka setanpun masuk melalui pintu ghuluw dan apabila titik lemahnya pada sikap taqshîr maka setanpun masuk melalui pintu taqshîr. Memang, mempertahankan diri di tengah-tengah antara sikap ghuluw dan sikap taqshîr merupaka suatu perkara yang sulit. Kesuksesan, kebahagiaan dan keberhasilan dalam urusan akhirat maupun dunia tergantung dengan cara kita menempatkan segala sesuatu secara proporsional menurut pandangan syariat yang hanîf dan fitrah ini. Karena setiap ketidakseimbangan akan menyebabkan ketimpangan dan keberatan yang akan menghalangi tercapainya tujuan.

Dalam hal ini setan akan melihat dari pintu manakah ia mungkin masuk. Jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah potensi rendah diri dan gampang menyerah, maka setanpun menanamkan rasa malas dalam dirinya, mengendorkan semangatnya, menggambarkan berat amal-amal ketaatan dan mendorongnya untuk mudah mengabaikan kewajiban, sampai akhirnya ia meninggalkan kewajiban itu sama sekali.

Namun jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah semangatnya yang menggebu-gebu, mulailah setan menanamkan anggapan bahwa apa yang diperintahkan itu baru sedikit dan belum cukup untuk mengimbangi semangatnya, sehingga ia serasa membutuhkan sesuatu yang baru sebagai tambahannya.[10]

Jangan Salah Menilai ‘Ghuluw’
Sebagaimana halnya kita tidak boleh terjebak dalam sikap taqshîr karena menghindari ghuluw, demikian pula kita jangan salah menilai ‘ghuluw’. Sebagian orang menilai keteguhan memegang syariat dan istiqamah di atasnya merupakan sikap ghuluw. Sebagai dampaknya, mereka menganggap pengamalan sebagian sunnah Nabi sebagai sikap ghuluw. Ini jelas salah besar. Memang kita membenci sikap ghuluw, namun hendaknya kita jangan salah menilai. Sebagian orang beranggapan memelihara jenggot, memakai cadar, mengenakan pakaian sampai setengah betis, memakai gamis bahkan shalat lima waktu berjama’ah di masjid pun dianggap ghuluw. Ini tentu penilaian yang salah. Sebab, seluruh perkara-perkara tersebut adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan bahkan ada yang wajib. Penilaian yang salah ini bisa berakibat fatal, yaitu perkara-perkara sunnah dianggap sebagai perkara bid’ah, dan sebaliknya perkara bid’ah dianggap sunnah. Hakikat ghuluw adalah sesuatu yang melangkahi ketentuan syariat. Penilaian tersebut didasari atas kebodohan dalam memahami apa itu ghuluw dan juga kejahilan terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kita tidak boleh menilai sesuatu tanpa ilmu. Dan berbicara tentang agama Allah Azza wa Jalla tanpa ilmu merupakan salah satu langkah setan, bahkan tergolong dosa besar.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨ اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ  

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitaan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [al-Baqarah/2:168-169].

Dan Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ  

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [al-A’râf/7:33]

Apalagi terkadang tuduhan ghuluw terhadap perkara-perkara sunnah ini mengandung ejekan dan olokan terhadap para pengamalnya. Ini jelas kesalahan di atas kesalahan. Takutlah kepada Allah Azza wa Jalla pada hari seluruh kesalahan akan ditampakkan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ  

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.[al-Hujurat/49:11]

Kiat-kiat Menghindari Ghuluw.
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menghindari fenomena ghuluw dalam agama, diantaranya:

  1. Menuntut ilmu syar’i. Ilmu adalah lentera yang menerangi langkah kita di dunia dan menjadi asset yang amat bernilai di akhirat. Apabila lentera ini padam, maka setan akan leluasa menyesatkan anak Adam. Maka dari itu janganlah absen dari majelis-majelis ilmu. Banyak sekali faidah yang dapat kita petik dari majelis ilmu. Di antaranya adalah kita dapat bertatap muka secara langsung dengan ahli ilmu.
  2. Jangan malu dan segan bertanya kepada ahli ilmu (Ulama). Malu bertanya sesat di jalan, begitulah kata pepatah kita. Terlebih lagi dalam urusan agama. Janganlah kita malu bertanya kepada ulama dalam perkara-perkara agama yang belum kita ketahui, baik dalam perkara aqidah, ibadah, mu’amalah dan lainnya. Terlebih lagi perkara yang berkaitan dengan perincian dalam agama, misalnya prosedur pelaksanaan sebuah ibadah, perincian dalam hal aqidah dan lain sebagainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bertanya kepada mereka dalam firman-Nya:

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [an-Nahl/16:43]

Kesimpulannya, kita harus menjauhi segala macam bentuk ghuluw dalam agama, baik berupa keyakinan, ucapan maupun perbuatan yang diatas-namakan agama. Dan hendaknya kita juga harus waspada jangan sampai tergelincir dalam sikap taqshîr. Di samping itu, janganlah sembrono dan serampangan dalam menilai ‘ghuluw’ tanpa ilmu.

Referensi:

  1. Tafsîrul-Qur’ân al-Azhîm, Ibnu Katsîr.
  2. Fathul Bâri Syarah Shahîh al-Bukhâri.
  3. Mawâridul Amân al-Muntaqâ min Ighâtsatil Lahfân, Ali Hasan Ali `Abdil Hamîd.
  4. Iqtidhâ’ Shirâtul Mustaqîm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  5. Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhus Shâlihîn, Salim bin ‘Ied al-Hilâli.
  6. Mausu’ah Manâhi Syar’iyyah, Salim bin ‘Ied al-Hilâli.
  7. Madârijus Sâlikîn, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
  8. Mu’jamu Maqâyisil Lughah.
  9. Muqaddimah Shahîh Fiqh Sunnah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Hadits shahîh, diriwayatkan oleh an-Nasâ’i (V/268), Ibnu Mâjah (3029) dan Ahmad (I/215), al-Hâkim mengatakan: “Shahîh, sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[2] Mu’jamul Maqâyis IV/388.
[3] Hadits riwayat Muslim (2670).
[4] Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
[5] Hadits riwayat al-Bukhâri.
[6] Fathul Bâri (XIII/263-265)
[7] Muttafaqun ‘alaihi.
[8] Muttafaqun ‘alaihi.
[9] Silakan lihat kitab Fathul Bâri tulisan Ibnu Hajar rahimahullah .
[10] Silakan lihat kitab Mawâridul Amân tulisan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid halaman 187.

Kejayaan Hanya Milik Islam

KEJAYAAN HANYA MILIK ISLAM

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali

Sesungguhnya termasuk hal yang sangat menggembirakan, kita bisa bersua kembali dalam masjid ini, di universitas ini, di tengah saudara-saudara kami, kita bersatu dikalimat yang sama, yaitu kalimat tauhid dan di atas kebesaran Islam. Tema kita di pagi hiri yang cerah ini ialah kebesaran milik Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman. Maksudnya, kebesaran hanya milik Islam semata.

Dalil-dalil yang menunjukan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum muslimin serta Islam banyak sekali. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. [Al-Munafiqun/63 : 8]

Ayat ini menegaskan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum mukminin.

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Janganlah kamu merasa lemah dan meminta perdamaian, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. [Muhammad/47: 35]

Dan sudah di ketahui bagi orang yang mendalami Al-Quran, ia menetapkan bahwa kalimatullah adalah paling tinggi, sedangkan kalimat orang kafir berada dalam tingkat yang paling rendah. Jadi kebesaran milik Islam dalam kitabullah. Demikian juga, hal ini di tegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga pernyataan dari generasi salaf, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لَا يَنْبَغِي لِمُسْلِمٍ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ

Tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya” [Hadits Riwayat Ahmad]

Ini dalil agar setiap muslim merasa mulia dengan agamanya. Karena Islam mengajarkan al ‘izzah kepadanya.

Perhatikan dialog antara Abu Sufyan yang masih dalam kekufurannya –padawaktu itu– dengan Umar bin Khaththab, tatkala kaum musyrikin mendapatkan kemenangan dalam perang uhud.

Abu Sufyan berkata: Agungkanlah Hubal, kemudian nabi memerintahkan Umar bin Khaththab untuk menyanggah dengan (perkataan) : ”Allah lebih besar dan lebih tinggi”.

Ini merupakan sebagian dalil dari al kitab dan as Sunnah yang menunjukan bahwa izzah (kebesaran) hanya milik Allah, RasulNya dan Islam.

Apabila kita telah mengetahui bahwa kebesaran itu milik Islam, apakah yang dimaksud dengan izzah dalam Islam, dan bagaimana Islam bisa mengangkat kaum muslimin dari konsep kebesaran jahiliyah menuju kosep izzah imani. Renungkanlah ayat ini, kita lihat dan bandingkanlah.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al–Munafiqun/63 : 8]

Lihatlah, Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafqin dalam perang bani Musthaliq. Setelah orang-orang pulang dari perang tersebut –termasuk Rasulullah- dia memunculkan ide penyebaran hadits ifk (berita palsu). Dia menuduh ummul mukminin ash Shiddiqah bin ash Shiddiq (‘Aisyah) dengan tuduhan zina. Wal iyyadzu billah.

Lihatlah, ia mengalihkan peperangan ke rumah beliau, pada kehormatan beliau. Dalam suasana panas penuh isu, simpang-siur sarat berita bohong, orang munafik ini ingin memanfaatkan kesempatan ini, atau ingin menghantam beliau, atau ingin memancing dalam air keruh.

Pada situasi demikian ia mengatakan: لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ (Sesungguhnya jika telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya). Yang ia maksud dengan orang yang kuat adalah dia sendiri. Sedangkan yang ia maksud orang yang lemah adalah Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah konsep izzah dalam kaca mata jahiliyah, membanggakan diri, membanggakan kedudukan sosial, dengan nasab, nenek moyang, golongan, banyaknya pengikut, banyaknya harta, dengan jabatan dan harta. Inilah izzah menurut jahiliyah.

Dalam masalah berita palsu ini, Allah tidak membiarkan ada orang yang membantah para penyebar isu berita palsu tersebut. Yang membantah adalah langsung Allah sendiri. Allah merehabilitasi nama baik Ummul Mukminin dalam sebelas ayat pertama dari surat An-Nur. Sementara di dalam surat Al-Munafiqun, Allah membantah Abdullah bin Ubay bin Salul (dengan firmanNya).

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun/63 : 8]

Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan Allah.

Siapa saja yang tergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah berpegang dengan Allah, sehingga ia menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan–insan yang kuat.

Inilah makna izzah dalam kosep imani, bangga diri dengan agama, dengan Allah, Rasul, amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah. Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi menuju ketinggian izzah. Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat dengan malail a’la (majlis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di sisi Allah. Jadi izzah milik Islam.

Apakah (yang menjadi) sumbernya?
Sudah kami katakan tadi, bahwa tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dan siapa saja yang bersama dengan yang maha perkasa, ia menjadi perkasa Dan siapa saja yang mencari kejayaan dengan selain Allah, niscaya akan hina.

Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang. Allah berfirman .

وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ

Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. [Ali–Imran/3 : 26]

Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Allah akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.

Faktor lain yang juga dapat mewujudkan ‘ izzah adalah mInhaj. Oleh karena itu, Allah berfirman.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata : “Sesungguhnya aku termsuk orang–orang yang berserah diri.” [Fushiliat/41: 33]

Lihatah, setelah ia berpegangan dengan manhaj dan dakwah, kemudian mempunyai rasa bangga dengan agama. Dia mengumandangkan suaranya, bahwa ia seorang muslim, termasuk yang bertauhid kepada Allah dan mengikuti Allah dan RasulNya. Firman Allah :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا

(Dan siapakah yang lebih baik perkataannya …), maka jawabannya, tidak ada seorang pun yang lebih baik darinya. Dalam ayat ini Allah mengikat dakwah dengan manhaj. Baru kemudian mengerjakan amalan shalih. Setelah itu, akhirnya ia bangga dengan Islam.

Oleh karena itu, berkaitan dengan syarat diterimanya amalan shalih, ada syarat sah dan syarat kamal (kesempurnaan).

Tentang syarat sah diterimanya amal adalah ikhlas bagi Allah dan ittiba’ kepada Nabi. Sedangkan syarat kesempurnaannya amal ialah.

Pertama : Seseorang harus menggenggam agamanya dengan kuat. Allah berfirman.

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Hai, Yahya. Ambillah Al–Kitab (Taurat) itu dengan sungguh–sungguh. [Maryam/19 : 12]

Allah berfirman :

خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ

“Pegangilah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu” [Al–Baqarah/2 : 63]

Dan yang dimaksud dengan quwwah ini adalah berbangga diri dengan agama Islam.

Kedua : Tidak malas beramal shalih dan menyegerakan diri dalam mengerjakan amal kebaikan maupun ketaatan.

Sumber kemuliaan Islam yang lain, yaitu menjadi seorang muslim yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam aqidah, cara–cara beribadah, penampilan lahiriah atau batiniah.

Dalam seluruh aspek, seorang muslim memiliki ciri khas tersendiri. Umat Islam memiliki nilai istimewa dengan menonjolnya kebaikannya. Allah berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” [Al–Imran/3 : 110]

Memiliki nilai tersendiri sebagai umat yang adil dan pilihan. Allah berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kami (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan” [Al–Baqarah/2: 143]

Mereka menjadi saksi–saksi Allah di bumi. Lihatlah nilai istimewa yang dimiliki kaum Muslimin dalam ayat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang–orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bukan (jalan) yang dimurkai Allah (yaitu : Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (yaitu : Nashara” )” [Al–Fatihah/1 : 6–7]

“Tunjukilah kami wahai Rabb ke jalan yang benar dan lurus, bukan jalan orang–orang yang dimurkai Allah, yaitu kaum Yahudi. Juga bukan jalan orang–orang yang sesat, yaitu kaum Nashara”. Seorang muslim berbeda dengan Yahudi dan Nashara, penganut agama dan golongan lain. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam melarang tasyabbuh (berserupa) dengan orang–orang kafir. Larangan itu tertuang dalam nasihat beliau yang sangat mengagumkan.

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah. Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintahku. Rezekiku ditetapkan berada di bawah ujung tombak. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ

Aku diutus dengan pedang saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah

Ini adalah ‘izzatul Islam. Kita memperjuangkan Islam sampai orang–orang menyembah Pencipta mereka. Kita berjuang untuk mengeluarkan orang–orang dari kegelapan menuju cahaya. Kita memperjuangkan Islam dengan kata–kata, dakwah, dengan hujjah dan burhan sebelum memasuki perjuangan dengan pedang, di setiap tempat dan moment.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa salaam mengatakan :

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ

(Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah).

Jadi, kita berjuang sampai orang–orang menyembah Allah, yang menciptakan mereka.

وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

(Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintah Ku). Jadi barang siapa mengikuti perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan menggenggam izzah (kebesaran) dan rif’ah (ketinggian kedudukan). Barang siapa menentang manhaj Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan ditimpa kehinaan. Setelah itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka). Maksudnya, barang siapa menyerupai musuh, niscaya akan terhina. Barang siapa silau dengan para musuh, ia akan tersesat. Barangsiapa mengikuti manhaj para musuh, ia akan terhina. Tetapi, orang yang mengikuti manhaj Nabi, tidak ada kesesatan dan tidak ada kehinaan yang menimpanya. Ringkasnya, seorang muslim harus berbeda jati dirinya dari orang lain, dalam hal aqidah, jati diri dalam setiap urusannya. Insan yang mandiri. Tidak ke timur juga tidak ke barat.

Bagaimana kita mengetahui bahwa Islam itu besar di mata manusia atau sebaliknya ? atau bagaimana kita mengetahui bahwa kaum muslimin itu agung atau lemah ?

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa kemuliaan Islam ada di tengah kehidupan kaum Muslimin dan kemuliaan kaum Muslimin ada di tengah umat manusia.

Bukti kemuliaan Islam yang pertama. Semaraknya dan tersebarnya panji–panji Islam yang banyak.

Jika Anda ingin mengetahui tegaknya izzah Islam di tengah kaum Muslimin, maka perhatikanlah, apakah syiar–syiar agama, seperti adzan, shalat, pelaksanaan rukun Islam, amar makruf nahi mungkar terlihat jelas di tengah kaum Muslimin ? Apakah berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran ada di tengah kaum Muslimin ?

Kalau Anda melihat nilai–nilai ada, melihat amal shalih, ilmu yang bermanfaat ada. Jika anda menyaksikan kondisi–kondisi seperti ini dan akhlak yang shalih ada, berarti manusia dalam keadaan baik, dan agama Islam masih dalam keadaan mulia.

Oleh karena itu, Rasulullah menghubungkan kemuliaan Islam dengan pelaksanaan syiar–syiar agama Islam, berkembangnya Sunnah di kalangan umat Islam. Dan anda sekalian mengetahui, bahwa orang yang berpuasa, tatkala matahari telah terbenam, maka hendaknya langsung berbuka. Sebabnya, menyegerakan berbuka puasa termasuk sunnah. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Agama ini senantiasa akan tegak, selama orang–orang menyegarakan berbuka puasa

Sabda beliau yang lain : “Agama ini akan selalu mulia selama umatku tidak menunggu terbitnya bintang dalam berbuka puasa

Disini, beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam menghubungkan tegaknya agama dengan tumbuhnya syiar–syiar agama. Kalian melihat ada semangat emosional bagi Islam. Orang–orang masih memilikinya, alhamdulillah, belum padam. Tetapi kita menginginkan tumbuhnya syiar–syiar Islam dalam kehidupan nyata kaum Muslimin. Kita ingin semangat yang ada di kalbu umat tersebut menjelma menjadi tumbuhnya syiar–syiar Islam.

Lihatlah, kasus sang pelukis kafir tatkala berbuat aniaya terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, melukis karikatur–karikatur buruk lagi dusta yang melecehkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di timur dan barat, utara dan selatan, umat tergerak untuk mengingkarinya. Sebagian tindakan mereka dapat dibenarkan syariat. Namun sebagian yang lain tidak dapat dibenarkan oleh agama. Ada pemboikotan kepada negara–negara kafir dalam bidang ekonomi. Ini berarti masih ada semangat agama pada mereka. Kita tidak ingin ini saja. Tapi bersama ini, kita ingin tegaknya syiar–syiar agama.

Kita memang mencintai Rasulullah dengan sepenuh perasaan kita. Tapi pembelaan kita yang hakiki kepada Rasul adalah membela Sunnah Rasul, dengan menghidupkan sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pertolongan kepada orang yang menolong agamaNya.

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar–benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al–Hajj/22 : 40]

Barang siapa yang menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Allah membelanya. Barang siapa menolong Rasul, niscaya Allah akan membelanya. Allah berfirman.

وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Dan kami sekalian menguatkan (agama) nya dan menghormatinya” [Al–Fath/48 : 9]

Menurut mayoritas ulama tafsir, kata ganti ketiga (pada ayat di atas) ini mewaikili Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau umat ingin benar–benar membela Rasul, maka harus konsisten dengan agamanya. Kita mendukung adanya pemboikotan produk musuh. Tetapi sebelum itu, kita harus memboikot pemikiran musuh, kebudayaan barat, aqidah musuh, kebudayaan asing. Dengan ini, syiar–syiar agama akan terlihat di tengah khalayak.

Tanda Kemuliaan Umat Yang Lainnya.
Yaitu adanya sikap mandiri, tidak bergantung kepada umat lain ; sebagai umat merdeka dengan aqidah, manhajnya, ekonominya, kebudayaannya, tidak meniru barat, umat kafir atau umat lainnya. Bukan berarti kita tidak boleh mengambil manfaat dari produk ilmu–ilmu mereka. Imu–ilmu teknologi tersebut bukan monopoli mereka saja, milik siapa saja, dapat diraih oleh siapa saja yang menekuninya. Dan umat Islam, diperintahkan untuk menyatukan dua kebaikan, dunia dan akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [Al–Qashash/28 : 77]

Jadi, seorang mukmin beramal untuk akhiratnya, dengan amal shalih ; dan beramal untuk dunia, dengan membangunnya. Oleh karena itu terlihat kembali hadits Nabi Shalallahu ‘slaihi wa sallam. “Agama ini akan selalu mulia selama umatku tidak menunggu terbitnya bintang dalam berbuka puasa.

Siapakah yang menunggu terbitnya bintang–bintang saat akan berbuka puasa ? (Mereka) ialah : Yahudi dari orang kafir dan golongan Rafidhah (Syi’ah). Artinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, apabila umatku menunggu terbitnya bintang–bintang untuk berbuka puasa, maka mereka telah mengekor umat lain yang mengakibatkan jati diri umat ini menjadi lemah.

Tanda Kemuliaan Islam Yang Lain.
Orang–orang memberlakukan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada denyut kehidupan mereka, para penguasa menetapkan Al–Qur’an dan As–Sunnah sebagai aturan perundang–undangan. Karena, aplikasi syari’at hukumnya wajib dan fardhu ‘ain atas setiap muslim. Perhatikanlah sabda Nabi.

ألَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin ditanya tentang pertanggung jawabannya

Dari sini, setiap muslim adalah pemimpin. Dan sebagai pemimpin, bertanggung jawab untuk menerapkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, menegakkan hukum Allah sebagai undang–undang adalah wajib, fardhu ‘ain sesuai kedudukan dan tanggung jawabnya. Allah berfirman.

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Dan tentang perkara apa saja yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah” [Asy-Syura/62 : 10]

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” [Al-An’am/6 : 57]

Jadi, penerapan syari’at, hukum Allah dan penegakan negara Islam merupakan kewajiban atas umat Islam. Sedangkan meremehkan atau lemah dalam mengusahakan masalah ini, tidak akan membuahkan hasil sama sekali. Tetapi dalam hal menyeru kepada hal ini, harus sesuai dengan metode Nabi. Kita menyeru agar ditetapkan syarat, agama dan hukum Allah dengan cara Rasulullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu, dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” [An-Nahl/16: 125]

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah : Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf/12 : 108]

Jadi, kita menyeru dengan hujjah, burhan, dalil dan penjelasan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menegakkan sebuah negara Islam, tetapi tidak dengan pedang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menegakkannya tatkala berhasil menanamkan aqidah pada umat. Setiap umat yang telah berhasil mengekkan tauhid dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam kehidupan mereka, niscaya Allah menegakkan daulah Islam di negeri mereka.

Oleh karena itu tatkala Nabi menawarkan dakwah Islam kepada kabilah-kabilah saat musim haji, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. “Katakanlah sebuah pernyataan! Dengan itu, bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan kalian akan menguasai bangsa Asing. Katakanlah Laa Ilaaha Illa Allah, niscaya kalian akan selamat”.

Jadi umat yang menegakkan tauhid, menegakkan sunnah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugrahkan kekuasaan bagi mereka di bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur : 55]

Istikhlaf dan Tamkin (kekuasaan dan kemenangan) adalah sebuah janji dari Allah bagi orang-orang beriman yang berusaha. Kemudian lihatlah :

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ

(Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Allah ridhai untuk mereka)

Sebelum Allah menegakkan negara di bumi, Allah menegakkan agama di hati manusia. Tatkala agama telah tertanam di hati kita masing-masing, kita sudah menegakkan hukum Allah di hati masing-masing, kita telah menegakkan hukum Allah dalam kehidupan sesuai dengan kemampuan kita, niscaya Allah akan memberikan anugrah berupa Istikhlaf dan Tamkin.

Apakah Islam Akan Kembali Agung Seperti Semula ?
Perkara ini telah di beritahukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih.

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْشِّرْكَ وَأَهْلَهُ

Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhjina ; yaitu kemuliaan yang dengannya Allah akan memuliakan Islam dan penganutnya, dan menghinakan kesyirikan dan pengikutnya”.

(Dalam hadits ini) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Islam, meskipun tertekan dalam kehidupan manusia dan lemah di jiwa sebagian kaum muslimin, (tetap ia) akan kembali agung, menang, bercahaya sebagaimana disebutkan Rasul dalam hadits yang mulia. Ini juga menunjukkan, masa depan hanya milik Islam. Tidak syak lagi, ini pasti datang dan tiba, tidak bisa tidak ! Karena kita mengimani Allah dan RasulNya. Maha Benar Allah, demikian juga RasulNya. Peristiwa yang diberitahukan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tiba, tidak ada yang bisa mengingkarinya.

Tapi ada faktor-faktor yang menghalangi menuju kebesaran Islam dan jalan ke sana, di antaranya yang paling penting ialah.

Pertama : Fanatisme Daerah dan Sukuisme
Di tengah kaum muslimin tumbuh seruan-seruan kepada fanatisme daerah dan sukuisme. Seruan ini telah mencerai beraikan kaum muslimin. Juga merupakan perkara yang menekan dan menghinakan mereka.Bangsa Arab menyeru kepada fanatisme golongannya sendiri. Demikian juga bangsa Persia, Turki. Bangsa Urdu berperang untuk memperjuangkan fanatisme golongannya. Kaum muslimin terpecah belah menjadi berbagi macam golongan. Bahkan dalam satu golongan pun bercerai berai, muncul banyak faksi. Satu pihak menyeru ke arah selatan dan pihak lainnya menyeru kea rah utara. Ini menyeru kepada barat dan itu menyeru kea rah timur, padahal mereka berasal dari negara yang sama, keturunan yang sama.

Kaum muslimin bercerai berai menjadi berbagai golongan dan sekte, padahal sebelumnya mereka adalah umat yang satu. Tatkala mereka terpecah belah, maka kekuatannya melemah dan menjadi pengekor musuh serta makanan yang diperbutkan musuh-musuh Islam. Inilah sebagian penghalang yang menghadang jalan menuju keagungan Islam.

Dengan pandangan yang tajam, kita bisa mengetahui dampak yang muncul bahwa penguasaan yang dilakukan orang-orang kafir bukan berbentuk dzati, tetapi merupakan penguasaan yang sifatnya efek dari kejadian lainnya. Maksudnya, lantaran kelemahan iman dan kelemahan umat Islam. Kita melihat faktor penunjang kekuatan barat adalah kekuatan politik militer dan ekonomi serta kelemahan kaum muslimin.

Kalau kita memperhatikan kekuatan politik barat, ternyata konsep politik mereka telah terbuka kedoknya, terbongkar boroknya, politik yang tertumpu pada dusta, nifak, memainkan standard yang pincang, mengukur dengan timbangan ganda, memainkan dua benang. Mereka menuntut penerapan sesuatu, tetapi justru mereka yang mempecundanginya. Mereka menuntut negara-negara Islam menerapkan demokrasi, tetapi ketika negara-negara kaum muslimin memenangkannya, mereka mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa politik mereka bedasarkan kedustaan dan kepalsuan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka kedok mereka.

Mari kita lihat kekuatan ekonomi barat. Kekuatan ekonomi mereka hancur. Kekuatan ekonomi mereka menjadi kuat lantaran menguasai kekuasaan alam negara-negara Islam, mengeruk kekayaannya. Mereka menjajah negara-negara Islam. Minyak bumi kita, mereka rampok. Emas-emas kita, mereka curi. Minyak bumi dan kekayaan negara kita dikeruk, dijual dipasar dengan nilai rendah. Tidak ada yang mengetahui berapa banyaknya kecuali Allah.

Adapun kekuatan militer mereka, Allah-lah yang akan mengatasinya. Lihatlah, di penghujung abad sebelumnya, ada dua kekuatan yang menguasai dunia. Kekuatan Timur yang terwakili oleh kekuatan komunisme Soviet dan kekuatan Barat yang kapitalisme dengan Amerika sebagai pemimpinnya.

Bagaimana Uni Soviet bisa terkoyak, padahal memiliki persenjataan yang canggih? Allah mendatangi mereka dari sudut yang tidak mereka sangka, dan melemparkan rasa takut di hati-hati mereka. Mereka hancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari kejadian ini, wahai orang-orang yang berakal.

Amerika tidak menyerang Uni Soviet dengan nuklirnya (sehingga hancur). Kehancuran kekuatan Uni Soviet berasal dari dalam. Sedab, adanya faktor-faktor yang memaksanya hancur. Demikian juga, Amerika sudah berada di ambang kehancuran dari dalam. Melemahnya ekonomi, kerusakan dan degradasi moral, kekalahan kekiuatan militer. Kekuatan-kekuatan ini sudah tidak bertaji lagi. Kekuatan mereka yang tersisa adalah kelemahan kaum muslimin. Oleh karena itu, mereka berusaha mengkondisikan agar kaum muslimin dalam keadaan lemah. Lemah dalam agama, duniawi, pemikiran dan harapan. Jika kaum muslimin kembali pada agama mereka, niscaya kesyirikan akan runtuh, kekufuran akan lenyap. Kekuatan yang menakutkan dunia ini akan sirna dengan kalmatut tauhid, Laa Ilaaha Illallah.

Jadi, penghalang yang paling besar demi mencapai kebesaran Islam adalah terpecah belahnya umat Islam.

Apa Jalan Menuju Kebesaran Islam ?
Konsepnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti tercantum dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhu.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi, dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.

Jika demikian, jalan menuju ke sana, wahai saudara-saudaraku, wahai pemuda Islam, wahai harapan umat, wahai orang yang menjadi bekal harapan bagi masa depan yang terang ; jalan menuju keagungan Islam adalah degan kembali memegangi agama kita ini yang dahulu dipegangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan generasi Salafush Shalih. Tatkala mereka konsisten berada di atas agama ini, mereka menjadi umat manusia yang terbaik, para pemimpin wilayah, guru bagi umat manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju ke cahaya terang. Dengan kembali kepada agama kita, agama kita akan menjadi besar lagi. Masa itu pasti akan dating, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketabahan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” [Ali-Imran/3 : 200]

Semoga Allah Al-Qawiyyu Al-Aziz menolong Islam dan kaum Muslimin, menampakkan Al-Haq dan menegakkan negeri Islam dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah-lah yang akan mewujudkannya dan Dia Maha Kuasa untuk itu.

(Naskah ini merupakan ceramah Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali di Universitas Brawijaya, Surabaya, pada hari Rabu, 15 Februari 2006. Diterjemahkan oleh ‘Ashim)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Asas Kebangkitan Dunia Islam

ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?

Jawaban.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu“. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].

Jadi asasnya ialah rujuk (kembali) kepada Islam.

Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma’tsur yang ditulis dengan tinta emas :

مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ

Barangsiapa mengada-adakan bid’ah di dalam Islam kemudian menganggap bid’ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghianati risalah“.

Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu“. [al-Maaidah/5: 3].

Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini

Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :

لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini“.

Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah rujuk (kembali) kepada al-Kitab was-Sunnah.

Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama’ah serta golongan-golongan di “lapangan” mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.

Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firmannya.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya“. [al-An’am/6 : 153].

Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ سَبِيل مِنْهَا الشَّيْطَانَ يَدْعُوا لَهُ

Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya[1].

Allah ‘Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali“. [an-Nisaa/4 : 115]

Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikatkan “jalannya orang-orang mukmin” kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya[2]

Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan “Jalannya orang-orang mukmin (sabiilul mukminim)” dalam ayat tersebut .? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah) langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.

Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

إنَ الشَّاهِدَ يَرَى مَا لا يَرَى اْلغَائِبُ

Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir[3]

Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mutawatir :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi ” (Muttafaq ‘alaihi).

Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami al-Kitab dan as-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.

Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam “mengajak orang kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” untuk menambahkan prinsip “berjalan di atas apa yang ditempuh oleh as-Salafu as-Shalih” dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan “Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu’minin)“, dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh kaum salaf generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.

Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama’ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu ialah : “Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini..?”.

Jawabannya : “Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus rujuk (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang tidak shahih”.

Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan ‘izzah (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :

Pertama : Anda harus mengembalikan syari’at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan firmannya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” [al-Maaidah/5: 3].

Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.

Kedua : Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.

Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana yang dipahami para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu’minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.

Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh salafuna ash-shalih.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia Sami’ (Maha Mendengar) lagi Mujib (Maha Mengabulkan Do’a).[4]

والله أعلم

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 13/Tahun ke-II/1416H-1995M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih sebagaimana terdapat di dalam “Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17
[2] Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203
[3] Lihat Shahih Al-Jami’ : 1641
[4] Diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414H

Hidayah

HIDAYAH

Oleh
Ustadz Ruslan Zuardi Mora Elbagani, Lc.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dari suatu ketiadaan menjadi suatu bentuk wujud nyata nan bagus elok rupa dan parasnya.  Sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya :

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.  [at-Tin/95:4]

Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka nikmat yang sangat banyak. Diantaranya nikmat kesempurnaan  panca indera, kesehatan, rezeki, keturunan dan nikmat-nikmat lain yang tidak terhitung.

Selanjutnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan nikmat-nikmat itu dengan menganugerahkan hidayah kepada mereka. Yaitu suatu nikmat yang tidak diberikan kepada setiap hamba, karena merupakan nikmat yang diberikan khusus kepada hamba-hanba pilihan Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Hidayah adalah milik Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan di tangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Sungguh hanya hamba yang terpilih lagi beruntung yang akan mendapatkannya. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Demi Allâh Subhanahu wa Ta’ala !  Pendidikan orang tua tidak akan bermanfaat jika tidak didahului oleh pilihan Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap anaknya. Sesungguhnya, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala  memilih seorang hamba, maka  Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan menjaganya semenjak ia kecil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  juga memberinya hidayah menuju jalan kebenaran serta membimbingnya ke arah yang lurus. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan membuatnya menyenangi hal-hal yang baik, dan mempertemankanya  dengan orang yang baik.”[1]

Ada di antara hamba yang mengharap hidayah kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakannya kepadanya, namun ada pula yang tidak diberi, dikarenakan keadilan dan ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala  terhadap kejujuran serta kebenaran harapannya.

Di antara hamba-hamba Allâh, ada yang telah merasakan indah dan manisnya hidayah namun ia tidak menjaganya sehingga hidayah itu pun sirna dari dirinya. Ada juga yang pernah menikmati hidayah dalam waktu yang lama, namun kemudian terlepas darinya. Akhirya karena rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala  semata, hidayah itu  dapat kembali kepadanya. Dengan bertaubat dan beristighfar kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala  merupakan jalan terbaik. Seorang hamba yang mengalami hal tersebut  merasakan seolah-olah terlahir kembali, hidup setelah kematian yang panjang.  Menangis karena kebahagian yang tiada tara setelah Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menyelamatkannya kembali… La haula wala quwwata illa billah. Sungguh, nikmat hidayah itu adalah nikmat yang sangat besar. Namun hidayah apakah yang dimaksud mari kita simak ulasan berikut ini.

Lafadz “Al-Huda” serta pecahan katanya dalam al-Qur’ân disepakati oleh Ulama sebagai kata yang paling banyak bentuk maknanya. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan ada dua puluh empat makna lafadz al-huda.[2] Dan Imam as-Suyuthi rahimahullah menyebutkan  ada tujuh belas makna lafadz al-huda.[3] Keseluruhan makna tersebut bermuara pada satu inti yaitu penjelasan dan pengarahan dengan penuh lemah lembut dan santun.

Adapun makna hidayah secara istilah adalah penjelasan dan pengarahan kepada tujuan yang dimaksud[4]

Penggunaan Lafadz Hidayah
Lafadz hidayah (هِدَايَةٌ) dan pecahannya memiliki beberapa keadaan.

  1. Muta’addi dengan sendirinya (tunggal) tanpa bantuan huruf jar.

Dalam keadaan ini, lafadz hidayah secara makna mencakup hidayah al-irsyâd wal bayân, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala  :

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [al-Balad/90:10]

Juga mengandung makna hidâyatut taufîq wal ilhâm, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” [al-Qashash/28:56]

  1. Muta’addi dengan huruf jar ila (إِلَى).

Dalam keadaan seperti ini, hidayah maknanya adalah hidâyatul Irsyâd. Contohnya, firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ 

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [asy-Syûrâ/42:52]

  1. Muta’addi dengan huruf jar lam (اللَّامُ).

Dalam keadaan ini, lafadz hidayah bermakna hidâyatut taufîq. Contohnya adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ  

Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.” [al-A’raf/7:43]

Tingkatan Hidayah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada empat macam atau tingkatan hidayah :[5]
Pertama, hidâyah ‘ammah (menyeluruh).
Hidayah ini meliputi semua makhluk hidup dengan jenisnya yang beragam.

Kedua, hidâyatul bayân wad dalâlah wat ta’rîf wal irsyâd
Hidâyatul bayân bisa dilakukan oleh siapa pun yang memiliki kemampuan menyampaikannya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala  tentang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.”[asy-Syûrâ/42:52]
Setiap Muslim yang menyeru kepada kebaikan, ketaatan atau amal shaleh adalah seorang da’i kepada hidâyah. Selain itu hidayah ini juga dapat diperoleh dari kitab bacaan maupun kitab visual.

Ketiga, hidâyatut taufîq wal ilhâm
Hidâyatut taufîq merupakan kekhususan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , tidak ada yang memilikinya kecuali Allâh.[6] Ia memberikan hidayah ini kepada siapa yang Ia kehendaki tanpa ada campur tangan pihak lain sekalipun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Inilah yang terpahami dari firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala  tehadap Nabi-Nya :

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukan kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetepi Allâh-lah yang mrmberi petunjuk(memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-nya. [al-Baqarah/2:272]

Karena hati itu berada ditangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Ia dapat membolak-balikkannya sekehendak-Nya.

Hidâyatut taufîq wal ilhâm ini memiliki dua tingkatan:
1. Hidâyatut taufîq dari kekufuran dan kesyirikan menuju Islam dan tauhid.
Hidayah ini diperoleh oleh seseorang yang sebelumnya kafir dan musyrik dengan mengucapkan dua kalimat syahadat beserta segenap ketentuan dan persyaratannya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allâh) dan Allâh maha melihat akan hamba-hambanya.”  [Ali Imran/3:20].

Hidayah ini dapat menyelamatkan seseorang dari kekekalan dalam api neraka, meskipun ia pernah terjatuh dalam lembah dosa dan jurang kemaksiatan. Apabila Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menghendaki maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan mengampuni dosanya meskipun ia meninggal sebelum sempat bertaubat.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allâh maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisa’/4:48].

Tidak ada sesuatu pun yang dapat mencabut hidayah ini, melainkan apabila seseorang melakukan salah satu pembatal keislaman dan ketauhidan yang telah dirinci oleh para Ulama dalam kitab-kitab akidah.

2. Hidâyatut taufîq dari kebid’ahan menuju sunnah, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari dosa menuju ibadah.
Hidayah inilah Merupakan hidayah yang paling utama. Inilah yang diinginkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala  dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini juga yang seharusnya dicari oleh seorang hamba. Dengan hidayah ini seorang hamba berlomba meraih pahala yang besar, kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala , dan surga dambaan setiap hamba.

Tidak semua orang yang telah diberi hidayah kepada Islam bisa mendapatkan hidayah untuk mengamalkan Islam sesuai dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan, sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allâh Azza wa Jalla ), banyak pihak yang menyimpang dan sesat, sedangkan yang selamat dari mereka hanyalah sedikit.

Cermatilah berita Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan yang terjadi pada umat ini. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Umatku akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.” Beliau ditanya, “Siapakah dia, wahai Rasûlullâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada diatasnya“. (HR. at-Tirmidzi.[7] Hadits ini dihasankan oleh syaikh Al-Albani.[8])

Hanya satu golongan yang dinyatakan selamat dari kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa di atas Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hidayah ini merupakan konsekuensi dari hidâyatut taufîq yang pertama. Setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam harus mempelajari dan mengamalkan Islam sesuai dengan bimbingan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia harus mengaplikasikan Islam secara kaffah dalam kehidupannya.  Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” [al-Baqarah/2:208]

Inilah makna dan hakikat hidayah yang sesungguhnya. Hidayah di atas jalan yang lurus. Hidayah di atas as-Sunnah. Bila hidayah ini luput dari seorang Muslim, maka dikhawatirkan ia telah ditimpa musibah besar, yaitu musibah yang menimpa agamanya disebabkan jauhnya ia dari sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  . Karena sesungguhnya tidak ada musibah yang lebih besar selain musibah yang menimpa agama seseorang.

Keempat : Hidayah untuk dapat masuk kedalam surga.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا

Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.” [al-A’râf/7:43].

Keempat tingkatan hidayah ini bertahap sifatnya. Seorang hamba yang belum mencapai tingkatan kedua tidak akan mendapatkan hidayah tingkatan yang ketiga. Untuk mencapai tingkatan hidayah keempat, ia harus melalui tingkatan yang kedua dan ketiga.[9]

Buah dari Hidayah
Hidayah akan menghasilkan hidayah yang lain, dan diantara buah dari hidayah sebagaimana berikut ini:

1. Hidayah adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Sudah menjadi kelaziman bahwa setiap amal shalih akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, terlebih lagi jika kebaikan itu diikuti dan diamalkan oleh orang lain setelahnya, maka akan lebih mendatangkan hasil dan buah yang akan dipetik oleh pelaku pertama kebaikan tersebut. Sebagaimana dinyatakan di dalam hadits:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدَىً ، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أجُورِ مَنْ تَبِعَه ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أجُورِهمْ شَيئاً ، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ ، كَانَ عَلَيهِ مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيئاً

Barangsiapa menyeru kepada hidayah maka akan ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi.  At-Tirmidzi berkata Hadits hasan shahih.[10] Hadits ini dishahihkan oleh Imam al-Albani[11])

2. Seorang yang mencari hidayah berarti ia telah memenuhi seruan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  yang akan berdampak positif bagi-nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (al-Qur’ân) dari Rabbmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” [Yûnus/10:108].

Ketika seorang hamba memenuhi panggilan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mencari dan mengejar hidayah, mengorbankan segala yang dimilikinya, lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menganugerahkan taufik kepadanya sehingga dia meraih kenikmatan dan keutamaan yang tiada tara di dunia, dan di akhirat dimasukkan ke dalam surga, yang merasakan semua ini adalah si hamba sendiri. Sedangkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun dari hambanya.

3. Istiqâmah di atas ad-Din dan as-Sunnah, ini juga bagian dari buah hidayah dan sekaligus merupakan konsekwensi hidayah.

4. Merasa ringan untuk melakukan semua perkara yang disyariatkan.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ 

Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekararang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat ) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allâh; dan Allâh tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allâh maha pengasih lagi maha penyayang kepada manusia”.[Al-Baqarah/2:143].

5. Hidayah adalah penyebab datangnya ampunan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya aku maha pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih kemudian tetap dijalan yang benar.”[Thahâ/20:82].

6. Orang-orang yang diberikan hidayah akan tergolong menjadi orang yang lapang dada, paling bahagia dan paling elok hatinya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Barangsiapa Allâh kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki kesesatannya, niscaya Allâh menjadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah ia sedang mendaki kelangit.”[Al-An’aam/6:125].

7. Jalan untuk menambah ilmu.

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

Dan Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk”.[Maryam/19:76]

Kata “al-huda” disini mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.[12]

8. Sebagai perantara untuk mendapatkan kemenangan.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapatkan petunjuk dari tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”[Al-Baqarah/2:5].

Nas’alullah al-huda wa at-tuqa wa al-‘afafa wa al-ghina.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Shaidul Khathir, 1 / 84
[2]  Nuzhatul a’yun, 1 / 626-630
[3]  Al-Itqân, 1/ 410-411
[4] At-Ta’rîfât, 1/277
[5] Ibid, 2 / 271-273
[6] Ini yang mendasari perbedaan antara hidâyatut taufîq dan hidâyatul Irsyâd
[7] Sunan at-Tirmidzi, no. 2641
[8] As-Shahîh wad Dha’îf, no. 9474
[9]  Fathul Bâri, 11 / 515
[10]  Shahîh Muslim, no. 2739; Sunan at-Tirmidzi, no. 2674; Sunan Abu Daud No. 4611; Sunan Ibnu Mâjah, no. 206; Musnad Ahmad, no. 916, Sunan ad-Darimi No. 530
[11] Sisilah al-Ahâdîts as-Shahîhah, 2 / 439
[12] Tafsir as-Sa’di, 1/581

Hidayah dan Istiqâmah di Atasnya

HIDAYAH DAN ISTIQAMAH DI ATASNYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

اَلْهِدَايَةُ هِيَ الْعِلْمُ بِالْحَقِّ مَعَ قَصْدِهِ وَإِيْثَارِهِ عَلَى غَيْرِهِ، فَالْمُهْتَدِيْ هُوَ الْعَامِلُ بِالْحَقِّ الْمُرِيْدُ لَهُ

Hidayah yaitu mengetahui kebenaran disertai dengan niat untuk mengetahuinya dan mengutamakannya dari pada yang lainnya. Jadi orang yang diberi hidayah yaitu yang melakukan kebenaran dan menginginkannya.[1]

Pentingnya Hidayah
Seorang Muslim dalam kehidupannya sangat membutuhkan hidayah. Ia tidak bisa lepas dari hidayah Allâh Azza wa Jalla . Apalagi di zaman yang digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana fitnah itu seperti potongan malam yang kelam, paginya seorang beriman namun sore harinya ia menjadi kafir. Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir, ia menjual agamanya demi sedikit dari harta dunia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَـالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْـمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُـؤْمِنًـا وَيُصْبِحُ كَافِرًا،  يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.

Bersegeralah mengerjakan amal-amal shalih karena fitnah-fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan keuntungan duniawi yang sedikit.[2]

Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allâh Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia.

Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Tidak mungkin Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat-Nya untuk menuntun tangan seorang hamba agar bergerak menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kalau hamba tersebut bermalas-malasan ketika mendengar adzan dan tidak mau mengambil air wudhu. Tidak mungkin juga Allâh Azza wa Jalla mengutus malaikat-Nya untuk menarik tangan seorang hamba dari kemaksiatan dan kemungkaran, kalau hamba tersebut tidak berusaha menjauhinya.

Benarlah ibarat yang sering kita dengar, “hidayah itu mahal”. Ya, hidayah memang mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh,  Allâh beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-‘Ankabût/29:69]

Ingatlah kisah Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu ! Bagaimana beliau Radhiyallahu anhu berusaha dan berjuang untuk mendapatkan hidayah, beliau meninggalkan Persia untuk mendapatkan hidayah sampai masuk agama Nashrani. Kemudian beliau Radhiyallahu anhu pergi ke Madinah sampai bertemu dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu beliau masuk Islam.[3]

Dalam masalah hidayah ini, Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian :

Pertama, رَاشِدٌ (râsyid) yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya.

Kedua, غَاوِيٌ (ghâwi) yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya.

Dan ketiga, ضّالٌّ (dhal) yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh.

Setiap râsyid, dia mendapat petunjuk, dan setiap orang yang mendapat petunjuk secara sempurna maka ia dikatakan râsyid. Karena hidayah menjadi sempurna apabila seseorang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.[4]

Hubungan Hidayah Dan Istiqâmah
Istiqâmah adalah meniti jalan yang lurus dan tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup mengerjakan seluruh ketaatan yang lahir maupun yang batin dan meninggalkan larangan yang lahir maupun batin.

Seorang hamba dalam meniti jalan yang lurus ini membutuhkan hidayah. Ia tidak bisa berjalan tanpa melenceng ke kiri dan ke kanan kecuali dengan hidayah dari Allâh. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus [Al-Fatihah/1:6]

Dalam ayat di atas Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon hidayah dalam meniti jalan yang lurus. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, tuntun kami dan tunjuki kami serta berikan kami taufik kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan surga-Nya. Jalan tersebut adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Maka, tunjuki kami kepada jalan yang lurus dan tunjuki kami di dalam jalan yang lurus tersebut. Maksudnya, tunjuki kami ke jalan yang lurus adalah berpegang teguh pada agama islam dan meninggalkan agama selain islam. Dan makna tunjuki kami di dalam jalan yang lurus adalah mencakup hidayah kepada semua perincian agama secara ilmu dan amal. Doa ini merupakan doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi hamba. Karenanya, wajib bagi seorang hamba untuk berdoa kepada Allâh dengan doa ini di setiap rakaat shalatnya.”[5]

Seorang Muslim tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Ia tidak mengetahui apakah besok dia masih tetap setia berada di jalan yang lurus atau tidak. Karenanya seorang Muslim dituntut untuk selalu memohon hidayah agar ditetapkan dalam agama ini dan diberikan akhir kehidupan yang baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa hati seorang hamba terletak di antara jari jemari Allâh, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesat, maka ia akan sesat, dan jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki ia lurus, maka ia pun akan lurus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا أُمَّ سَلَمَةَ ! إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ.

Wahai Ummu Salamah! Tidaklah ada seorang anak adam melainkan hatinya terletak di antara dua jemari Allâh, kalau Allâh berkehendak, Dia akan luruskan, dan jika Dia berkehendak, Dia akan sesatkan.[6]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengucapkan :

يَـا مُـقَـلِـّبَ الْـقُـلُـوْبِ ، ثَـبّـِتْ قَـلْبِـيْ عَلَـىٰ دِيْـنِـكَ

Ya Allâh, Yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu

Anas Radhiyallahu anhu melanjutkan, “Wahai Rasûlullâh! Kami telah beriman kepadamu dan kepada apa (ajaran) yang engkau bawa. Masihkah ada yang membuatmu khawatir atas kami?” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

نَـعَمْ ، إِنَّ الْـقُـلُوْبَ بَـيْـنَ أُصْبُـعَـيْـنِ مِنْ أَصَابِعِ اللّٰـهِ يُـقَلِـّبُـهَـا كَـيْـفَ يَـشَاءُ.

Benar (ada yang aku khawatirkan kepada kalian), sesungguhnya hati-hati itu berada di antara dua jari dari jari-jemari Allâh, dimana Dia membolak-balikkan hati itu sekehendak-Nya.[7]

Seorang insan tidak bisa istiqâmah melainkan dengan hidayah dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dua perkara ini sangat berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu seorang Muslim jika ia ingin tetap berada di atas hidayah sampai wafatnya, maka ia wajib berpegang teguh dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafus shalih. Ia wajib melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menjauhkan larangan-larangan-Nya. Ia juga wajib melaksanakan tauhid dan menjauhkan syirik, melaksanakan sunnah dan menjauhkan bid’ah, serta senantiasa berdoa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar ditetapkan di atas hidayah dan Sunnah dan diwafatkan di atas sunnah. Bila seseorang istiqâmah dalam melaksanakan sunnah sesuai dengan petunjuk syari’at, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menambah petunjuk kepadanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” [Muhammad/47:17]

Macam-Macam Hidayah[8]
Hidayah memiliki empat macam:
Pertama: Hidayah yang umum yang mencakup seluruh makhluk yang Allâh jelaskan dalam firman-Nya :

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

Dia (Musa) menjawab, “Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” [Thaha/20:50]

Maknanya, bahwa Allâh Azza wa Jalla telah memberikan segala sesuatu bentuknya yang tidak akan serupa dengan lainnya. Allâh memberikan setiap anggota badan bentuk dan gerakannya, memberikan setiap orang rupa yang khusus, kemudian memberikan mereka hidayah kepada pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan sesuai dengan penciptaan mereka. Seperti Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada hewan untuk bergerak dengan kemauannya demi mendapat apa-apa yang bermanfaat baginya dan menolak bahaya yang mengancamnya. Benda mati diberikan hidayah sesuai dengan penciptaannya. Semuanya itu diberikan hidayah yang layak dengan penciptaan mereka. Sebagaimana setiap macam hewan memiliki hidayah yang sesuai dengannya meskipun berbeda macam dan rupanya, begitu juga anggota badan memiliki hidayah yang layak dengannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada kaki untuk berjalan, tangan untuk menggenggam dan bekerja, lisan untuk berbicara, telinga untuk mendengar, dan mata untuk melihat pemandangan. Begitulah Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah sesuai dengan penciptaannya. Allâh juga memberikan hidayah kepada pasangan setiap hewan untuk melakukan perkembang-biakan dan mendidik anak, dan memberikan hidayah kepada seorang anak untuk menghisap puting susu ibunya.

Dan urutan hidayah ini hanya Allâh yang dapat menghitungnya. Allâh juga telah memberi hidayah kepada lebah untuk membuat sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di bangunan-bangunan. Kemudian setelah itu ia diperintah untuk menempuh jalan Rabb-nya yang telah dimudahkan baginya dan kembali ke rumahnya. Ia juga diberikan hidayah untuk mentaati induk lebah, mengikutinya, dan bermakmum padanya kemana pun ia pergi. Ia juga diberikan hidayah untuk membangun rumah yang indah dan kokoh.

Siapa pun yang memperhatikan sebagian dari hidayah Allâh yang tersebar di alam semesta ini, maka ia akan menyaksikan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allâh, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata, Maha Perkasa Maha Bijaksana.

Alihkanlah perhatian Anda dari pengetahuan terhadap hidayah ini kepada penetapan kenabian dengan pandangan yang mudah, benar, ringkas, dan paling jauh dari syubhat. Karena, bagaimana mungkin Rabb yang tidak membiarkan hewan-hewan sia-sia dan memberikan mereka hidayah yang susah dicerna oleh para pemikir, membiarkan manusia yang dimuliakan dan diberikan karunia atas seluruh makhluk begitu saja, tidak memberinya petunjuk kepada kesempurnaannya, malah dibiarkan begitu saja tanpa diperintah, dilarang, tidak diganjar, dan dihukum ? Sungguh, ini merupakan ketidaksesuaian terhadap hikmah Allâh dan menisbatkan sesuatu yang tidak layak kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Karenanya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengingkari orang-orang yang berpendapat seperti yang disebutkan di atas dan menjelaskan bahwa itu mustahil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ﴿١١٥﴾ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ? Maka maha tinggi Allâh, raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia.” [Al-Mukminûn/23: 115-116]

Allâh Azza wa Jalla mensucikan diri-Nya dari perkiraan ini. Maka jelaslah bahwa perkara ini (anggapan bahwa manusia diciptakan sia-sia) telah terbukti kebatilannya dalam fitrah manusia yang suci dan akal yang lurus. Ayat ini juga merupakan salah satu dalil yang menetapkan hari akhirat dengan akal. Dan hal tersebut telah jelas dengan dalil akal dan syara’, sebagaimana ia juga merupakan salah satu jalan yang kuat dalam hal ini. Siapa yang faham tentang ini maka ia akan memahami rahasia firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Rabb mereka dikumpulkan.” [Al-An’âm/6:38]

Dengan firman-Nya :

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka (orang musyrik) berkata, ‘mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Rabbnya?’ katakanlah, ‘sesungguhnya Allâh berkuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’ [Al-An’âm/6:37]

Kalau Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada binatang, maka apalagi kepada manusia ! Allâh tidak mungkin membiarkan mereka. Oleh karena itu, Allâh mengutus para Nabi dan para Rasul untuk menunjuki mereka kepada kemaslahatan mereka, di dunia dan akhirat.

Kedua: Hidayah bayan (keterangan) dan dilalah (petunjuk), serta pengenalan terhadap dua jalan; jalan kebaika dan keburukan, keselamatan dan kebinasaan.

Hidayah ini tidak mengharuskan adanya petunjuk yang sempurna, karena hidayah macam ini hanya sebagai sebab dan syarat bukan sebagai penjamin. Karenanya perlu disandingkan petunjuk dengan hidayah ini, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ

Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu…” [Fushshilat/41:17

Maksudnya, Kami jelaskan kepada mereka, Kami tunjuki mereka, dan Kami tuntun mereka, tapi mereka tidak mau mengikuti hidayah itu. Diantaranya juga firman Allâh :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus. [Asy-Syûra/42:52]

 Ketiga: Hidayah taufik dan ilham. Hidayah ini mengharuskan adanya petunjuk dan tidak pernah absen dalam mengikutinya. Hidayah ini yang disebut oleh Allâh dalam firman-Nya :

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 

Jika Allah berkehendak Dia bisa menjadikan kalian umat yang satu, akan tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki…” [An-Nahl/16:93]

Juga firman-Nya :

إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ

Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allâh tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya…” [An-Nahl/16:37]

Juga dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

Siapa yang Allâh beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allâh sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.”[9]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [Al-Qashash/28:56]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menafikan hidayah taufik dan ilham dari diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapkan hidayah dakwah dan penjelasan dalam firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

…Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus. [Asy-Syûra/42: 52]

 Keempat: Tujuan dari semua hidayah, yaitu hidayah di akhirat, menuju ke Surga atau ke Neraka ketika para penghuninya digiring ke dalamnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Rabb karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai. [Yûnus/10:9]

Dan perkataan penghuni surga ketika berada di dalamnya :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا

 “…Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami ke surga ini…” [Al-A’râf/7:43]

 Dan firman Allâh Azza wa Jalla tentang penghuni neraka :

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ ﴿٢٢﴾ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

 (Diperintahkan kepada malaikat), ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah, selain Allâh, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.’” [Ash-Shaffât/37:22-23]

Apabila Anda telah mengetahui ini, maka hidayah yang selalu diminta dalam firman-Nya tentang jalan yang lurus adalah hidayah dari macam yang kedua dan ketiga saja, yaitu memohon penjelasan, petunjuk, taufik dan ilham.

Doa-Doa Agar Dikaruniai Hidayah
Setelah kita mengetahui bahwa seorang insan tidak pernah lepas dari hidayah dan bahwa ia sangat membutuhkan hidayah melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum, maka berikut ini kami bawakan beberapa doa dari al-Qur’an dan as-sunnah agar kita dikaruniai hidayah oleh Allâh.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pemberi. [Ali Imrân/3:8]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.[10]

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنِيْ وَاْجَعْلِنْي هَادِيًا مَهْدِيًّا

Ya Allâh, teguhkanlah diriku, jadikanlah diriku pemberi petunjuk dan diberi petunjuk (oleh-Mu).[11]

اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِيْ ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Ya Allâh, berilah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya Allâh, aku memohon petunjuk dan kelurusan kepada-Mu.[12]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal/baik), dan kecukupan[13]

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Ya Allâh, Rabb Jibrîl, Mikâ-îl, dan Israfîl. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Mu tentang apa-apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran (yaitu, tetapkan aku di atas kebenaran) dari apa yang dipertentangkan dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.[14]

Wallahu a’lamu bish shawaab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Miftâh Dâris Sa’âdah (I/305), ta’liq Ali bin Hasan al-Halabi, cet. Daar Ibnu ‘Affan, th. 1416 H.
[2] Shahih: HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[3] Tentang kisah masuknya Islamnya Salman al-Fârisi Radhiyallahu anhu dibawakan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah t dalam kitabnya, Fawâ-idul Fawâ-id (hlm. 363-366). Lihat juga kitab-kitab lain dalam ta’liq Syaikh Ali Hasan al-Halabi terhadap kitab ini.
[4]  Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/126), cet. Muassasah ar-Risalah.
[5] Taisîr karîmir Rahmân (hlm. 39), cet. I, Daarul Fadhiilah, th. 1425 H.
[6] Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3522).
[7]  hahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2140), dan selainnya.
[8] Badâ-i’ul Fawâ-id (hlm. 207-208), karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq dan takhrij Basyir Muhammad ‘Uyun, cet. II, Maktabah Darul bayan, th. 1425 H. Lihat juga Miftâh Dâris Sa’âdah (I/307-309), karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah , ta’liq dan takhrij Syaikh Ali Hasan al-Halabi, cet. I, Daar Ibni ‘Affan, th. 1416 H.
[9] HR. Abu Dawud (no. 2118), at-Tirmidzi (no. 1105), dan lainnya.
[10] HR. At-Tirmidzi (no. 3522)
[11] HR. Al-Bukhâri (no. 6333)
[12] HR. Muslim (no. 2725)
[13] HR. Muslim (no. 2721).
[14] HR. Muslim (no. 770 (200)), Abu Dawud (no. 767), dan Ibnu Mâjah (no. 1357). Nabi n membaca doa istiftâh ini ketika shalat malam. Lihat do’a-do’a tersebut dalam buku penulis, Do’a dan Wirid, cet. XVI, Pustaka Imam asy-Syafi’i-Jakarta, th. 2013.

Antara Akal yang Sehat dan Nash yang Jelas

TIDAK ADA PERTENTANGAN ANTARA AKAL YANG SEHAT DAN NASH YANG JELAS

Oleh
Ustadz Ruslan Zuardi Elbagani, Lc.

Akal adalah salah satu nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada  manusia. Nikmat ini menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan Allâh Azza wa Jalla yang sangat menakjubkan.

Sungguh Islam tidak pernah menuntut manusia agar mematikan akalnya, lalu percaya begitu saja dengan semua keyakinan dan syarî’at yang diajarkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, akan tetapi Islam sangat menghormati akal manusia dan menganjurkan untuk mengasah kemampuan berpikirnya. Oleh karena itu, dalam banyak ayat, Allâh Azza wa Jalla memberi semangat agar manusia menggunakan akalnya.

وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۙ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗوَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمْرِهٖ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَۙ 

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allâh Azza wa Jalla ) bagi kaum yang memahami(nya) [an-Nahl/16:12]

وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ 

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allâh Azza wa Jalla ) bagi kaum yang berfikir. [ar-Ra’d/13:4]

Allâh Azza wa Jalla mencela orang yang tidak berakal seperti dalam firman-Nya :

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’.” [al-Mulk/67:10]

Sebagaimana akal merupakan anugerah dari Allâh Azza wa Jalla , nash, baik itu al-Qur’ân maupun sunnah yang bisa dipelajari akal juga merupakan nikmat besar dari Allâh Azza wa Jalla yang dianugrahkan kepada umat manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’ân untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ? [al-Qamr/54:22]     

Namun anugerah Allâh Azza wa Jalla tersebut (akal sehat) tidak menjadikannya tanpa kendali karena bagaimanapun hebatnya akal manusia tetaplah tidak sempurna. Karena kalau memang sempurna lantas untuk apa Allâh Azza wa Jalla mengutus para Nabi dan Rasul dan menurunkan kitab-kitabNya.

Tidak Ada Pertentangan antara Akal Sehat dan Nash yang Jelas (shorih)
Setelah kita mengetahui akal yang sehat adalah nikmat, demikianpula nash yang shahîh dan jelas (sharîh). Keduanya saling bertautan dan melengkapi. Akal yang sehat pasti akan sejalan dengan nash yang jelas, tidak ada pertentangan diantara keduanya. Nash mengarahkan agar akal terjaga, berkembang dan berpikir sebagaimana mestinya, sementara akal memahami, mencermati lalu menjalankan arahan tersebut..

Mengapa Ada Anggapan Bahwa Ada Nash yang Tidak sejalan akal, bahkan Bertentangan ?
Marilah kita bersama-sama menelaah permasalahan ini.
Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya menjadikan akal manusia berada dibawah syara’. Bilamana ada syarî’at yang jelas, maka akal harus tunduk menerimanya, meskipun akal tidak tahu hikmah, latar belakang serta tujuan dari penetapan syarî’at tersebut. Kemudian harus dipahami bahwa akal dilarang untuk terjun dalam hal-hal yang diluar jangkauannya seperti Dzat Allâh Azza wa Jalla , sifat-sifat-Nya dan perkara-perkara ghaib lainnya.[1]

Kewajiban akal untuk tunduk pada syarî’at, bukan berarti bahwa syarî’at Islam tidak selaras dengan akal. Namun karena akal yang sehat berasal dari Allâh Azza wa Jalla dan sumber syarî’at Islam yaitu al-Qur’ân dan as-sunnah juga datang dari Allâh Azza wa Jalla . Sesuatu yang berasal dari Allâh Azza wa Jalla tidak mungkin saling bertentangan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا 

Seandainya al-Qur’ân ini datang dari selain Allâh Azza wa Jalla , maka akan terjadi banyak perselisihan [an-Nisâ’/4:82]

Akal sehat tidak mungkin bertentangan dengan nash yang jelas (sharîh) lagi shahîh. Jika zhahirnya bertentangan maka ada kemungkinan akal yang tidak beres atau nashnya yang tidak jelas atau tidak shahîh.

Adapun pemikiran-pemikiran yang muncul dari para ahli kalam, maka itu merupakan sebuah kekeliruan dan musibah. Mengapa demikian ? Karena pemikiran inilah yang memicu anggapan bahwa akal sehat bertentangan dengan nash yang jelas dan akallah yang selalu benar.

Diantara prinsip dalam kaidah ahli kalam, yaitu tatkala terjadi pertentangan antara akal dan wahyu maka akal mesti dikedepankan.[2]

Prinsip ini terang-terangan menolak sekian banyak nash jika sedikit saja nash itu dilihat menyelisihi akal. Para Ulama, dahulu maupun sekarang membantah dan meluruskan prinsip ini. Diantaranya, Ibnu Taimiyyah t . Beliau t dalam kitabnya Dar’u Ta’ârudh al-Aqli Wa an-Naqli, mengatakan, “Sesuatu yang diketahui dengan jelas oleh akal, sulit dibayangkan akan bertentangan dengan syarî’at sama sekali. Bahkan dalil naqli yang shahîh tidak akan bertentangan dengan akal yang lurus, sama sekali.

Saya telah memperhatikan hal itu pada kebanyakan hal yang diperselisihkan oleh orang. Saya dapati, sesuatu yang menyelisihi nash yang shahîh dan jelas adalah syubhat yang rusak yang bisa diketahui kebatilannya dengan akal, bahkan dengan akal (pula) dapat diketahui kebalikan dari syubhat tersebut (yaitu kebenaran yang-red) sesuai dengan syarî’at. Kita tahu bahwa para Rasul tidak mengabarkan sesuatu yang mustahil menurut akal tapi (terkadang) mengabarkan sesuatu yang membuat akal terkesima. Para Rasul itu tidak mengabarkan sesuatu yang diketahui oleh akal sebagai sesuatu yang tidak benar, namun (terkadang) akal tidak mampu untuk menjangkaunya.

Karena itu wajib bagi orang-orang Mu’tazilah yang menjadikan akal mereka sebagai hakim (yang memutuskan) terhadap nash-nash wahyu, demikian pula mereka yang sejalan dengan mereka serta meniti jejak mereka agar mengetahui bahwa tidak ada satu haditspun di muka bumi ini yang bertentangan dengan akal kecuali hadits itu lemah atau palsu. Wajib bagi mereka untuk menyelisishi kaidah kelompok Mu’tazilah, saat terjadi pertentangan antara akal dan syariat menurut mereka maka wajib untuk mengedepankan syariat. Karena akal telah membenarkan syariat dalam segala apa yang ia kabarkan sedang syariat tidak membenarkan segala apa yang dikabarkan oleh akal. Demikian pula kebenaran syariat tidak tergantung dengan semua yang dikabarkan oleh akal.”[3]

Kekeliruan pendapat ahli kalam itu juga diluruskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Bâz rahimahullah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Yang benar, kitab Allâh Azza wa Jalla dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahîh tidak mungkin bertentangan dengan realita yang benar-benar terjadi ataupun logika akal sehat yang jelas. Apabila didapati sesuatu yang sepertinya bertentangan maka wajib untuk diketahui bahwa hal itu tidaklah benar dan pasti ada yang salah. Kesalahan itu berasal dari keyakinan seseorang atau pemahaman yang buruk karena dia menganggap sesuatu yang tidak nyata sebagai sebuah kenyataan; Atau dia menganggap sebuah syubhat sebagai suatu yang logis menurut akal sehat; Atau dia mengira hadîts (yang dianggap bertentangan dengan akal sehat–red) itu shahîh padahal sebenarnya tidak shahîh; Atau mungkin dia salah dalam memahami kitab Allâh Azza wa Jalla dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahîh.

(seorang penyair mengatakan :-red)
Betapa banyak orang mencela ucapan yang benar
Sisi cacatnya adalah pemahaman yang salah.

Bukti dari semua ini banyak sekali, sebagaimana telah banyak diingatkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dan murid beliau Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitab-kitab mereka berdua.”[4]

Seandainya Ada Yang dianggap Bertentangan Dengan Akal Sehat, Apakah Yang Harus Dilakukan?
Menjawab pertanyaan ini, kita kembali kepada permasalahan sebelumnya. Pertentangan akal dengan syariat tidak akan pernah terjadi manakala nashnya shahîh dan jelas (sharîh) sementara akal yang menjadi tolok ukurnya juga sehat. Jika kita telah mengetahui suatu nash itu shahîh dan sharîh, namun masih terkesan ada pertentangan, maka bersegeralah mengintropeksi diri, mencurigai akal kita, lalu bertanya, masih sehatkah akal kita ? Sudah maksimalkah akal kita dalam usahanya memahami dan memaknai nash tersebut ?

Karena bisa jadi akal kita tidak memahami maksud nash yang kita pelajari tersebut atau akal kita belum mampu memahami masalah yang dibahas secara benar. Karena sudah bisa dipastikan, nash yang shahîh  tersebut pasti benar. Untuk itu, dalam mempelajari sebuah nash, kita memerlukan bimbingan dan rujukan dari para Ulama yang telah membahas nash tersebut dengan baik dan benar.

Jika kita dihadapkan dengan permasalahan akal kita yang tidak sesuai dengan nash yang sedang kita tela’ah, sementara kita juga belum menemukan rujukan dari Ulama, maka ingat-ingatlah ajaran al-Qur’ân dan Sunnah yang mengharuskan kita untuk selalu kembali kepada dalil serta anjuran para sahabat yang bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyaksikan jalannya turunnya wahyu secara langsung.

Seperti beberapa perkataan Ulama berikut ini :

  1. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika dalil naqli bertentangan dengan akal, maka yang diambil adalah dalil naqli yang shahîh dan akal itu dibuang dan ditaruh di bawah kaki, tempatkan di mana Allâh Azza wa Jalla meletakkannya dan menempatkan para pemiliknya.”[5]
  2. Dan perkataan bijak dari Abul Muzhaffar as-Sam’âni rahimahullah ketika menerangkan akidah Ahlus Sunnah. Beliau t berkata, “Adapun para pengikut kebenaran, mereka menjadikan al-Kitâb dan as-Sunnah sebagai panutan mereka dan mencari agama dari keduanya. Apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada al-Kitâb dan as-Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dengan keduanya, mereka terima dan bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla di mana Allâh Azza wa Jalla perlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik-Nya. Tapi jika tidak sesuai dengan keduanya, maka mereka meninggalkannya dan mengambil al-Kitâb dan as-Sunnah kemudian menuduh akal mereka sebagai pihak yang bersalah. Karena sesungguhnya keduanya (al-Kitâb dan as-Sunnah) tidak akan memberikan petunjuk kecuali kepada yang hak sementara pendapat manusia kadang benar kadang salah.”[6]

Akibat Lebih Mengedepankan Akal daripada Nash
Perlu diketahui, lebih mengedepankan daripada nash akan menimbulkan bahaya dan dampak buruk yang berujung pada kesesatan pelakunya. Diantara bahaya yang selalu mengintai pelakunya :

  1. Terjangkiti penyakit sombong yang menyerupai sifat Iblis, ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam Alaihissallam, kemudian ia membangkang dan menentang dengan akalnya.

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

 Allâh berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu ?’ Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’ [al-A’râf/7:12]

Mereka sombong dan ujub, tidak menjadikan firman Allâh Azza wa Jalla yang menjelaskan tentang akibat kesombongan sebagai pedoman dan seakan tidak membutuhkan firman Allâh Azza wa Jalla berikut :

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya [al-A’râf/7:146]

  1. Keengganan mengikuti serta menolak syarî’at adalah sifat yang menyerupai sifat orang kafir yang menolak keputusan Allâh Azza wa Jalla dengan akal mereka, seperti penentangan mereka terhadap kenabian Nabi Muhammad. Dengan sombong, mereka mengatakan :

وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ 

Dan mereka berkata, ‘Mengapa al Qur’ân ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini ?’” [az-Zukhruf/43:31]

  1. Tidak mengikuti sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak merujuk kepadanya dalam perkara-perkara ketuhanan dan perkara syar’i lainnya. Lebih mengedepan akal daripada nash sama saja dengan menunjukkan sikap tidak membutuhkan Rasul bahkan menolak ajarannya n .
  2. Dengan mudahnya mengikuti hawa nafsu dan keinginan jiwa yang sesat karena sumber dari pengikutan hawa nafsu secara membabi buta adalah berasal dari akal yang tidak sehat. Ataupun karena tertipu, maksudnya jiwa cenderung mengikuti hawa nafsu dan hal yang disukai watak dasarnya, karena faktor syubhat dan tipuan dari syetan.
  3. Menyebabkan kerusakan di muka bumi. Point ini bisa kita kaitkan dengan poin keempat dimana jika akal lebih dikedepankan daripada nash, maka hawa nafsu akan merajalela, efek selanjutnya adalah akan terjadi kerusakan di muka bumi ini.
  4. Berkata dengan mengatasnamakan Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ini merupakan tindakan sesat serta menyesatkan karena memahami dalil atau nash berdasarkan pemahaman akalnya yang dangkal semata tanpa merujuk pada pemahaman yang sebenarnya. Ini adalah perbuatan yang sangat keji dan larangan yang teramat besar.

Sesuai dengan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ۙ   

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allâh tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. [al-Hajj/22:8]

Juga firman-Nya :

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ ١١٦ مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ۖوَّلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengadakan kebohongan terhadap Allâh . Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh tiadalah beruntung. (itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. [an-Nahl/16:116-117]

Demikian pula dengan berkata atas nama Rasul dengan akal tanpa dasar ilmu,

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

Ali Radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah engkau berdusta atas (nama) ku. Karena barangsiapa berdusta atas (nama)ku, maka hendaknya ia masuk neraka.” (HR. al-Bukhâri dan Muslim)[7]

Maksud dari jangan berdusta atas (nama)ku adalah jangan menisbatkan kedustakan kepadaku.

  1. Menyebabkan perpecahan dan perbedaan pendapat dan saling menyalahkan, karena lebih mengedepankan akal tanpa berpedoman pada ilmu dan pemahaman yang benar maka akan menimbulkan pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan selera akal masing-masing. Keadaan seperti ini akan berujung pada perpecahan dan menimbulkan kelompok-kelompok, yang masing-masing kelompok itu memiliki pendapat yang berbeda dan menganggap kelompoknyalah yang benar. Akhirnya, perbuatan sesat menyesatkan pun tak terelakkan.

Saat kita mendapatkan ketidaksesuaian antara akal dan nash yang kita pelajari, maka kita harus kembali kepada nash yang shahîh dan sharîh serta mengintropeksi akal kita. Disamping itu, kita juga harus memahami otoritas dan kedudukan wahyu itu sendiri. Sikap yang kita ambil adalah mengambil jalan tengah yakni mempelajari nash dengan akal yang sehat yaitu akal yang tidak keluar dari jalur fitrah (naluri baik) dan berpedoman pada pemahaman salafus shalih serta merujuk pada pendapat Ulama yang mu’tabar. Bukan seperti paham Jabariyyah  yang cenderung menerima nash apa adanya tanpa mempelajarinya, dan jangan pula seperti paham Qadariyyah yang lebih mengedepankan peran manusia dalam kehidupan atau bebas berfikir diatas segala-galanya.

Oleh karena itu, ilmu memiliki peran terpenting. Dengan kehendak dan tekad yang bulat untuk mempelajari ilmu agama secara terus menerus dan berkesinambungan. Sebagaimana menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap Muslim yang dipergunakan untuk memahami serta menyelesaikan masalah agama dengan mampu memahami maksud nash-nash yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla tersebut secara benar. Seperti dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [al-Ankabût/29:43]

Serta Hadits Nabi tentang wajibnya menuntut ilmu:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : – قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah).[8]

Ilmu yang dimaksud disini tentu saja adalah ilmu agama, yang wajib dituntut setiap muslim.

Dan Allâh Azza wa Jalla memberikan ganjaran yang besar bagi penuntut ilmu syar’i yakni dalam firman-Nya :

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Niscahaya Allâh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu(agama) beberapa derajat [al-Mujâdilah/58:11]

Jadi dapat disimpulkan, hal yang harus dilakukan untuk mengatasi pertentangan akal dan nash, dengan menjadikan al-Qur’ân dan as-Sunnah sebagai pijakan awal dan tolok ukur terakhir dari pengambilan keputusan. Jika terdapat pertentangan antara akal dan nash, maka bersegeralah meninggalkan pemahaman akal dan mengambil nash sebagai pedoman, karena nash (yang shahîh dan sharîh) sudah pasti benar.

Sumber:

  1. al-Qur’ân al-Karâm dan terjemahannya.
  2. shahîh al-Bukhâri, cet. Dar thuqunnajah.
  3. Sunan Ibnu Mâjah cet. Darulfikar.
  4. Asâsut Taqdîs, karya Arrazi cet. Maktabah al-Kulliyât al- Azhariyah-Kairo-th:1986 M.
  5. Mukhtasar as-Shawâ‘iqil Mursalah karya Muhammad al-Mûshili, cet. Dar an-Napwah al-Jadidah. Th.1985 M.
  6. al-Intishâr li Ahlil Hadîts, Abu al-Muzhafar as-sam’ani, cet: Maktabah Adwa al-Manar, th.1996 M.
  7. Dar’u Ta’ârudhil Aqli wan Naqli, Ibnu Taimiyah, cet. Dar al-Adabiyah-Riyadh, th. 1391 H.
  8. as-Shawâ‘iqul Mursalah, cet. Dar al-Ashimah, th. 1998 M.
  9. al-Ittijâhât al-Aqlâniyah al-Hadîtsah, Nâshir bin Abdil Karîm, cet. Dar al-Fadilah, th. 2001 M.
  10. Majmû‘ Fatâwâ wal Maqâlât al-Mutanawwi’ah, Abdul Aziz bin Baz, cet. ar-Ri’asah Idarah al-Buhûts-Riyadh, th. 1421 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]Lihat al-Ittijâhât al-Aqlâniyah al-Hadîtsah, hlm. 28-32
[2] Asâsut Taqdîs, hlm. 220-221
[3] Dar’u Ta’ârudhil Aqli wan Naqli 1/83-84
[4] Majmû‘ Fatâwâ wal Maqâlât al-Mutanawwi’ah 1/266
[5] Mukhtashar as-Shawâ’iq, hlm. 82-83
[6] al-Intishâr li Ahlil Hadîts, hlm.. 44-45
[7] HR. al-Bukhâri (no. 106) dan Muslim(1)
[8] HR. Ibnu Mâjah(222)