Category Archives: A7. Kenapa Takut Kepada Islam?

Mengapa Orang-orang Kafir Menguasai Kaum Muslimin

MENGAPA ORANG-ORANG KAFIR BISA MENGUASAI KAUM MUSLIMIN

Oleh
Syaikh Abdulmalik Ramadhani

Pertanyaan.
Apakah orang-orang kafir akan dibiarkan berkuasa atas kaum Muslimlin, padahal kaum Muslimin jauh lebih baik daripada mereka, bagaimanapun keadaannya?

Jawaban
Muhammad al-Amin as-Syinqithi rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya Adhwâ’ul Bayân (3/53), ‘Banyak kaum Muslimin merasa kesulitan memahami ini dan mereka mengatakan, ‘Bagaimana mungkin orang musyrik atau kafir dijadikan penguasa atas kita, padahal kita berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kebathilan? Maka Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [Ali Imrân/3:165]

Dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.

Terdapat penyataan yang bersifat global, kemudian dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ

Dan sesungguhnya Allâh telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allâh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allâh memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu [Ali Imrân/3:152]

Ayat ini merupakan fatwa dari langit yang menjelaskan secara gamblang bahwa sebab dijadikannya orang-orang kafir sebagai penguasa atas kaum Muslimin adalah lemahnya kaum Muslimin dan perselisihan, serta penyelisihan mereka terhadap perintah-perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga disebabkan oleh kecintaan sebagian mereka kepada dunia yang lebih didahulukan di atas perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini telah kami jelaskan dalam surah Ali Imran. Barangsiapa memahami sumber penyakit, maka dia akan mengetahui penyembuhnya.

Ayat ini turun berkenaan dengan perang Uhud, pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayat ini turun kepada para Shahabat Nabi yang mulia. Dalam Musnad imam ahmad disebutkan, bahwasanya Umar Radhiyallahu anhu mendefinisikan sebab adanya hukuman ada dua perbuatan:

  1. Mereka mengambil tebusan dari tawanan perang Badr sebelum disyari’atkan.
  2. Penyelisihan mereka terhadap perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bukit Uhud, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pasukan pemanah meninggalkan tempat mereka, akan tetapi mereka melanggar larangan tersebut. Imam al-Bukhâri rahimahullah meriwayatkan dari shahabat al-Barrâ’, beliau berkata,

جَعَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى الرَّجَّالَةِ يَوْمَ أُحُدٍ – وَكَانُوْا خَمْسِينَ رَجُلا – عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جُبَيْرٍ ، فَقَالَ لَهُمْ”: إِنْ رَأَيْتُمُونَا تَخْطَفُنَا الطَّيْرُ فَلا تَبْرَحُوا مِنْ مَكَانِكُمْ هَذَا حَتَّى أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ ، وَإِنْ رَأَيْتُمُونَا هَزَمْنَا الْقَوْمَ وَأَوْطَأْنَاهُمْ ، فَلاَ تَبْرَحُوْا حَتَّى أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ فَهَزَمَهُمُ اللَّهُ ” قَالَ: فَأَنَا وَاللَّهِ رَأَيْتُ النِّسَاءَ يَشْتَدِدْنَ عَلَى الْجَبَلِ ، قَدْ بَدَتْ خَلاخِلُهُنَّ وَأَسْوُقُهُنَّ رَافِعَاتٍ ثِيَابَهُنَّ ، فَقَالَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُبَيْرٍ : الْغَنِيمَةَ أَيْ قَوْمُ ! الْغَنِيمَةَ ، ظَهَرَ أَصْحَابُكُمْ فَمَا تَنْتَظِرُونَ ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جُبَيْرٍ : أَنَسِيتُمْ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالُوا : إِنَّا وَاللَّهِ لَنَأْتِيَنَّ النَّاسَ فَلَنُصِيْبَنَّ مِنَ الْغَنِيمَةِ ، فَلَمَّا أَتَوْهُمْ صُرِفَتْ وُجُوهُهُمْ ، فَأَقْبَلُوْا مُنْهَزِمِيْنَ ، فَذَاكَ إِذْ يَدْعُوهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُخْرَاهُمْ ، فَلَمْ يَبْقَ مَعَ رَسُولِ اللّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ اثْنَا عَشَرَ رَجُلا ، فَأَصَابُوا مِنَّا سَبْعِينَ رَجُلا ، وَكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَ أَصْحَابُهُ أَصَابُوْا مِنَ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ بَدْرٍ أَرْبَعِينَ وَمِائَةَ : سَبْعِينَ أَسِيرًا ، وَسَبْعِينَ قَتِيلا ،

‘Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin pasukan pemanah di atas bukit Uhud. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila kalian melihat kami disambar (dimangsa) oleh burung maka janganlah kalian meninggalkan posisi kalian, sampai aku mengutus seseorang kepada kalian. Dan apabila kalian melihat kami berhasil mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan posisi kalian sampai aku mengutus seseorang kepada kalian. Lalu kaum Muslimun berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka. Shahabat Barra berkata, “Demi Allâh! Aku melihat para wanita telah nampak perhiasan mereka, dan aku menggiring mereka dan mereka dalam keadaan mengangkat pakaian mereka. Kemudian pasukan pemanah berkata kepada Abdullah bin Jubair Radhiyallahu anhu , “Wahai saudara-saudara! Ghanimah … Ghanimah … Teman-teman kita telah memenangkan pertempuran! Apa lagi yang kalian tunggu? Abdullah bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata, “Apakah kalian lupa pesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian?” Mereka berkata, “Demi Allâh, kami akan bergabung dengan yang lainnya untuk mendapatkan rampasan perang.” Tatkala mereka turun keadaanpun berbalik, mereka dipukul mundur oleh musuh, mereka lari meninggalkan Rasul dibelakang, yang bersama Nabi hanya 12 orang, maka terbunuhlah dari kami 70 orang. (Padahal) dahulu (dalam perang Badr ) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat berhasil membunuh 70 orang musuh dan menawan 70 orang lainnya.”

Mengetahui sebab kekalahan dari ayat ini bukanlah suatu yang aneh, karena ayat ini turun pada perang ini (perang Uhud). Akan tetapi yang aneh dan mencengangkan adalah mengetahui sebab yang kedua yang tidak terbetik dalam benak, karena waktunya yang telah berlalu lama, yaitu mereka dihukum dengan sesuatu yang pernah mereka ambil pada perang Badr. Saat perang Badr, ketika mereka berhasil menawan tawanan perang dari kalangan kaum musyrikin, para Shahabat bermusyawarah, apakah mereka akan membunuh para tawanan ini ataukah mereka akan meminta tebusan supaya bisa bebas? Mereka memilih opsi kedua, padahal itu belum diysri’atkan, maka Allâh menurunkan ayat yang menjelaskan penyelisihan mereka ini. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٦٧﴾ لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda dunia sedangkan Allâh menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allâh, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. [Al-Anfâl/8:67-68]

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu berkata, “Ketika terjadi perang Uhud pada tahun berikutnya, mereka dihukum atas apa yang telah mereka perbuat pada perang Badr berupa pengambilan tebusan. Pada perang itu, kaum Muslimin yang terbunuh 70 orang, para shahabat lari meninggalkan Rasûlullâh, gigi seri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pecah, pelindung kepala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga rusak, darah mengalir di wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan Allâh Azza wa Jalla menurunkan:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badr), kamu berkata, “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Ali Imrân/3:165]

Yang dimaksud kesalahan mereka adalah tebusan yang mereka ambil.

Yang mengagumkan dari riwayat ini adalah Umar Radhiyallahu anhu masih mengingat dosa lama yang terjadi pada perang Badr itu saat perang Uhud. Dan beliau Radhiyallahu anhu tahu bahwa dosa itu merupakan salah satu sebab dari dua sebab datangnya hukuman (kekalahan pada perang Uhud).

Apabila seburuk-buruk makhluk (orang-orang kafir-red) dimenangkan atau dikuasakan atas sebaik-baik makhluk (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) akibat dosa yang telah diperbuat para Shahabat, lalu bagaimana dengan orang-orang selain mereka yang notabenenya memiliki derajat keimanan yang lebih rendah, lebih sering melakukan kesalahan dan dosa?! Coba perhatikan firman Allâh Azza wa Jalla yang ditujukan langsung kepada para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. [Ali Imrân/3:165]

Perhatikan juga firman Allâh Azza wa Jalla yang ditujukan kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri [An-Nisâ/4:79]

Kemudian diperjelas lagi dengan ucapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kekuasaan (kemenangan) kepada musuh. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوّاً مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ،

Tidaklah mereka melanggar janji Allâh dan janji Rasul-Nya, kecuali Allâh akan menguasakan atas mereka musuh dari selain mereka, yang akan merampas sebagian yang mereka miliki.

Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dengan ini, menjadi jelas makna firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Dan Allâh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. [An-Nisâ’/4:141]

Ayat ini tetap dalam keumumannya, hanya saja terkadang kaum Mukminin melakukan perbuatan maksiat dan penyelisihan yang bertentangan dengan keimanan. Inilah yang membukakan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai (mengalahkan) mereka. Jalan itu seukuran dosa yang telah mereka perbuat. Jadi, kaum Mukmininlah yang menyebabkan terbukanya jalan untuk menguasai mereka, sebagaimana mereka menyebabkan datangnya kekalahan pada perang Uhud dengan sebab maksiat dan penyelisihan mereka terhadap perintah Rasul. Sementara Allâh Azza wa Jalla tidak akan memberikan kesempatan dan jalan kepada syaitan untuk menguasai seorang hamba, sampai si hamba itu sendiri yang memberikan jalan bagi syaitan dengan cara menuruti kemauan syaitan dan berbuat syirik, sehingga pada saat itu Allâh akan memberikan kesempatan (jalan) bagi syaitan untuk menguasai hamba tersebut.

Barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaknya dia bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla , dan barangsiapa mendapatkan selainnya, maka janganlah dia menyalahkan orang lain selain dirinya.- Selesai perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi orang yang beriman untuk berhati-hati dari dosa-dasa yang mereka perbuatan agar tidak dikuasakan atas mereka orang yang lebih buruk dari mereka, meskipun kafir. Sebagaimana Ahlus Sunnah juga hendaknya berhati-hati, hendaknya mereka tidak merasa aman dari penguasaan para ahli bid’ah. Seringnya, mereka menguasai Ahlus Sunnah disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh ahlussunnah lalu ada diantara Ahlus Sunnah yang marah terhadap orang yang menguasai mereka dan dia lupa terhadap dosa yang dia lakukan.

Akhirnya, kita memohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari segala keburukan jiwa-jiwa kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1435H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Islam Saja, Sudah Cukup!

ISLAM SAJA, SUDAH CUKUP!

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Pendahuluan
Orang hidup harus beragama. Dalam beragama harus mencakup semua sisi kehidupan, menyangkut kegiatan rutinitas pribadi, keluarga, sosial, politik, budaya, da’wah, ibadah, aqidah dan lain sebagainya. Sedangkan agama yang benar dan paling sempurna adalah Islam. Semua urusan hidup ada tatanannya dalam Islam, bahkan tentang tata cara buang air. Maka Islam adalah solusi, dan Islam adalah tolok ukur kebenaran. Namun Islam yang dimaksud adalah Islam yang benar berdasarkan Al-Qur`ân dan Sunnah sebagaimana yang dipahami dan ditempuh oleh para salafush-shalih. Bukan Islam yang sudah tercampur dengan paham-paham lain. Karena itulah agama yang diterima di sisi Allah dan bermanfaat bagi pemeluknya hanyalah Islam:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [‘Ali ‘Imran/3:19].

Sesungguhnya kehadiran Islam merupakan nikmat yang sangat besar bagi kemanusiaan. Sayangnya banyak kaum Muslimin sekarang tidak secara optimal dapat memanfaatkan Islam sebagai nikmat. Petunjuk-petunjuk serta nilai-nilai Islam seolah lenyap dari dada-dada dan kehidupan nyata umat Islam. Hanya ada beberapa sisi tertentu yang masih tersisa.

Nikmat! Karena Islam merupakan ajaran yang membuat hidup manusia serba enak tidak saja di dunia, bahkan sampai akhirat. Tidak ada satupun dari ajaran Islam jika diterapkan secara benar kecuali pasti membawa kebaikan, kenikmatan dan ketenteraman  bagi umat. Dan itu berlaku sepanjang masa dan di manapun. Sebab ia merupakan wahyu paripurna dari Yang Maha Mengetahui kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia; Pencipta seru sekalian alam. Islam bukan agama rekayasa manusia. Tetapi agama sempurna yang datang dari Allah Yang Maha Sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-sempurnakan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.[al-Mâidah/5:3]

Imam Ibnu Katir rahimahullah mengatakan:
“Ini adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar bagi umat ini, karena Allah telah menyempurnakan agama (Islam) untuk mereka. Sehingga mereka tidak lagi memerlukan agama yang selain Islam dan tidak memerlukan seorang nabipun selain Nabi mereka (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah Allah menjadikan Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi. Allah mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (seluruh) manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal kecuali apa yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali apa yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang beliau syariatkan. Segala apa yang beliau beritakan, maka ia adalah haq dan benar; tidak mengandung unsur dusta dan tidak pula mengandung unsur penyimpangan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ

Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`ân); kebenaran dan keadilannya. [al-An’âm/6:115].

Maksud “telah sempurna kebenarannya” ialah kebenaran berita-beritanya. Sedangkan maksud “sempurna keadilannya” ialah keadilan perintah-perintah serta larangan-larangannya. Ketika agama ini telah sempurna bagi mereka, maka menjadi sempurna pula nikmat untuk mereka.”[1]

Jadi Islam sebagai agama yang sempurna sungguh merupakan nikmat paling besar. Begitu pula kehadiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Islam juga merupakan anugerah terbesar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [‘Ali ‘Imran/3:164].

Namun sayang, sebagian umat Islam, kurang atau bahkan tidak percaya, bahwa kenikmatan sejati hanya terletak dalam Islam. Oleh sebab itu, banyak kaum Muslimin yang kadang mencari solusi dari luar Islam dalam banyak persoalannya. Ini menyedihkan.

Seorang ulama besar yang sangat peduli terhadap kebaikan umat yaitu, Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri rahimahullah mengatakan: “Dari Allah Azza wa Jalla lah datangnya risalah (Islam), sedang tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyampaikannya, adapun kewajiban kita adalah menerimanya”.

Demikian perkataan Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri seperti yang disampaikan oleh Imam al-Bukhâri pada awal Bab Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ

dari Kitab at-Tauhid dalam Kitab Shahih al-Bukhâri.[2]

Ketika risalah Islam telah datang, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikannya dengan sempurna dan jelas, manusia terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang mendapat taufiq Allah untuk mengikuti jalan kebenaran, dan golongan yang tidak mendapat taufiq dari Allah hingga mereka mengikuti jalan-jalan lain. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [al-An’âm/6:153]

Keistimewaan Syariat Islam
Syariat dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini memiliki tiga keistimewaan.[3]

Pertama. Bersifat kekal hingga hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup nabi-nabi.[al-Ahzâb/33:40]

Berkenaan dengan firman Allah:

   وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ

(tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup nabi-nabi), Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Ayat ini merupakan nash yang tegas bahwa sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Apabila sesudah beliau n tidak ada lagi seorang nabipun, maka apalagi untuk seorang rasul. Jelas lebih tidak ada lagi. Sebab kedudukan rasul lebih khusus daripada kedudukan nabi. Karena setiap rasul pasti nabi, tetapi tidak sebaliknya. Untuk itu telah terdapat riwayat yang mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan oleh banyak sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”. Kemudian Ibnu Katsir mengemukakan sebagian riwayat tersebut.[4]

Di antara hadits yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِب الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ . مبفق عليه

Sesungguhnya aku memiliki banyak nama. Aku adalah Muhammad, aku juga Ahmad, akupun bernama al-Mahî yang dengan namaku itu Allah menghapuskan kekafiran dari muka bumi. Aku juga bernama al-Hâsyir yang manusia kelak akan dikumpulkan sesuai dengan jejak kakiku. Dan aku adalah al-‘Âqib (nabi paling akhir) yang tidak ada lagi nabi sesudahku”.[5]

Selanjutnya Imam Ibnu Katsir menegaskan: “Sesungghnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan dalam Kitab-Nya, demikan juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnah-nya yang mutawatir, bahwasanya tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Supaya orang-orang mengetahui bahwa barangsiapa yang mengaku memiliki kedudukan sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka dia adalah pendusta, pembual, dajjal, sesat dan menyesatkan. Meskipun ketika ia dibakar api tidak mempan, atau bisa bermain sulap atau bisa mendatangkan berbagai macam sihir, jimat-jimat dan kemampuan-kemampuan aneh lainnya. Semuanya adalah mustahil (sebagai bukti kenabian) dan sesat bagi pandangan orang-orang yang punya akal.”[6]

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam bersifat abadi, berlaku terus hingga hari kiamat.

Kedua. Bersifat umum meliputi semua manusia dan jin.
Semua manusia dan jin di akhir zaman ini masuk dalam umat da’wah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa saallam . Sebab setiap manusia dan jin, semenjak di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat, diajak dan diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam.

Dalil yang menunjukkan cakupan da’wah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa saallam yang meliputi seluruh manusia tanpa kecuali, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ۨ

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”.[al-A’râf/7:158]

Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ. رواه مسلم.

Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya! Tidak seorangpun di antara umat ini yang mendengar tentang aku, baik ia Yahudi ataupun Nasrani, kemudian ia meninggal dunia sedangkan ia dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali ia pasti termasuk penghuni neraka.[7]

Hadits ini menunjukkan bahwa semua manusia setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam umat da’wah beliau. Jika seseorang tidak mau beriman kepada beliau dan kepada risalah yang beliau emban, maka ia kafir.

Sedangkan dalil yang menunjukkan cakupan da’wah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa saallam meliputi seluruh jin, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٢٩  قَالُوْا يٰقَوْمَنَآ اِنَّا سَمِعْنَا كِتٰبًا اُنْزِلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْٓ اِلَى الْحَقِّ وَاِلٰى طَرِيْقٍ مُّسْتَقِيْمٍ ٣٠ يٰقَوْمَنَآ اَجِيْبُوْا دَاعِيَ اللّٰهِ وَاٰمِنُوْا بِهٖ يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ ٣١ وَمَنْ لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللّٰهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى الْاَرْضِ وَلَيْسَ لَهٗ مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءُ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`ân, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah ini dan berimanlah kepadanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah ini, maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. [al-Ahqâf/46:29-32].

Ayat di atas menunjukan bahwa da’wah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa saallam juga meliputi semua golongan jin.

Ketiga. Bersifat sempurna.
Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-sempurnakan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. [al-Mâ`idah/5:3]

Dalam kitab Shahîh Muslim, telah disebutkan sebuah riwayat dari Salman al-Farisi  Radhiyallahu anhu , beliau ditanya:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ : قِيلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ ؟ قَالَ :فَقَالَ:  أَجَلْ ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. رواه مسلم

Dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu , ia berkata: Pernah ditanyakan kepadanya (Salman): “Apakah nabi kalian mengajarkan segala sesuatu kepada kalian hingga (tata cara) buang air?” Salman menjawab: “Ya! Sesungguhnya beliau telah melarang kami untuk menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar atau kencing. Melarang kami untuk bercebok dengan tangan kanan. Melarang kami untuk bercebok dengan kurang dari tiga buah batu. Atau melarang kami untuk bercebok (istinja’) dengan kotoran hewan atau dengan tulang”.[8]

Hadits ini menunjukkan betapa sempurna syariat Islam, dan menunjukkan bahwa syariat Islam meliputi semua apa yang diperlukan umat ini, meskipun hanya adab dan tata cara buang air.[9]

Jika masalah tata cara buang air saja diajarkan dalam syariat Islam, padahal itu hanya merupakan kebutuhan rutinitas sehari-hari manusia yang dianggap tidak penting, apalagi jika masalahnya menyangkut kebaikan dan keselamatan hidup manusia di dunia maupun di akhirat, seperti masalah aqidah, ibadah, mu’amalah dan hal-hal lain yang menyangkut kepentingan hidup manusia. Begitu juga masalah halal dan haram. Tidak mungkin syariat Islam akan mengabaikannya.

Abu Dzar al-Ghifari Radhiyallahu anhu berkata:

تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ عِنْدَنَا مِنْهُ عِلْمٌ. رواه ابن حبان في صحيحه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami, sedangkan tidak ada seekor burungpun yang terbang dengan kedua sayapnya kecuali pada kami (selalu) ada ilmu dari Rasululah.[10]

Imam Ibnu Hibban mengatakan: Maksud “pada kami (selalu) ada ilmu dari Nabi”, ialah (ilmu yang) mencakup semua perintah-perintah beliau, larangan-larangan beliau, berita-berita beliau, perbuatan-perbuatan beliau dan hal-hal yang diperbolehkan oleh beliau”.[11]

Maksudnya, semua sudah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa saallam , meliputi segala keperluan hidup manusia.

Hadits senada juga dikeluarkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Kabîr no. 1647, dengan tambahan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu :

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidak ada sesuatupun yang dapat mendekatkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka kecuali (semuanya) telah dijelaskan kepada kalian”.[12]

Berdasarkan ini, maka sesungguhnya seluruh kebutuhan umat dalam segala bidang, sudah terpenuhi oleh syariat Islam. Maka seorang Muslim tidak perlu lagi mencari solusi dari luar Islam dalam semua persoalannya. Hanya yang perlu dilakukan adalah mempelajari bagaimana Islam memberikan solusi.

Penutup
Dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Islam sudah sempurna, memenuhi segala keperluan manusia dalam semua sisi kehidupannya, tidak memerlukan pengurangan atau penambahan dari ajaran-ajaran lain atau gagasan-gagasan lain.

Penyusun kitab Taqrîb at-Tadmuriyyah mengatakan:
Tidak ada Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan mengikuti beliau. Sebab Dinul-Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa saallam merupakan penentu dan barometer kebenaran bagi semua agama atau aturan lain. Syariat Islam menghapus semua syariat terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗ ۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْ ۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَا ۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, yaitu: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, maka sungguh hendaknya kamu bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan membelanya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [‘Ali ‘Imran/3:81].

Maksudnya, bahwa rasul yang datang dan membenarkan apa yang ada pada para nabi dalam ayat di atas adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur`ân dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan menjadi penentu bagi kitab-kitab yang lain itu.  [al-Mâ`idah/5:48].

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ

Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama yang lain. [at-Taubah/9:33].

Kemenangan agama Muhammad yang dimaksud pada ayat ini mencakup kemenangan secara taqdir sebagai ketetapan dari Allah maupun kemenangan ketika diperjuangkan sesuai ketentuan syari’at.[13] Maksudnya, Islamlah yang menjadi pengontrol bagi seluruh ajaran lainnya.

Dengan demikian, untuk mengukur benar tidaknya perkataan, perbuatan dan kegiatan manusia, baik menyangkut keyakinan, peribadatan, pergaulan, perdagangan, sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan semua sisi kehidupan lain; neraca dan barometernya adalah Islam.

Kebenaran adalah apa yang dibenarkan Islam, kebatilan adalah apa yang dinyatakan batil oleh Islam. Halal adalah apa yang dihalalkan oleh Islam, dan haram adalah apa yang diharamkan oleh Islam.

Maka Islam harus menjadi neraca bagi kehidupan manusia dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tujuan mendapat ridha-Nya dan mendapat kebahagiaan hakiki di akhirat. Tanpa kembali kepada Islam, orang akan mengalami kegagalan dan kesengsaraan. Wallahu Waliyyu at-Taufiiq.

Marâji`:

  1. Al-Hatsts ‘ala it Tiba’i as-Sunnah wa at-Tahdzir min al-Bida’ wa Bayan Khathariha, Syaikh Abdul- Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr, Fahrasah Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyah Atsna’ an-Nasyr.
  2. ‘Ilmu Ushûl al-Bida’, Dirâsah Takmîliyyah Muhimmah fî ‘Ilmi Ushul al-Fiqh, Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi. Dâr ar-Râyah, Riyadh, Cetakan I, Tahun 1413 H/1992 M.
  3. Fathul-Bari Syarh Shahîh al-Bukhâri.
  4. Shahîh Ibni Hibban bi Tartib Ibni Balban, Tahqiq: Syu’aib al-Arna’ûth, Mu’assasah ar-Risâlah, Cetakan III, Tahun 1418 H/1997.
  5. Shahîh Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha, Dâr al-Ma’rifah, Cetakan III, Tahun 1417 H/1996 M. .
  6. Tafsir Ibnu Katsir, Muqadimah Abdul Qadir al-Arna’uth, Dâr al-Faihâ` Dimasyq dan Dar as-Salam Riyadh, Cetakan I, Tahun 1414 H./1994 M.
  7. Taqrib at-Tadmuriyah (Tahqîqal-Itsbât lil Asmâ wash-Shifât, wa Haqîqat al-Jam’i Baina al-Qadar wa asy-Syar’i), karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. Takhrîj: Sayyid bin ‘Abbas bin ‘Ali al-Julaimi, Maktabah as-Sunnah, Kairo, Cetakan I, Tahun 1413 H/1992 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/TahunXI/1428H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote
[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir berkait dengan Qs al-Mâidah/5 ayat 3, II/19.
[2] Lihat al-Hatsts ‘ala it-Tiba’i as-Sunnah wa at-Tahdzir min al-Bida’ wa Bayan Khathariha, Syaikh Abdul- Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr, Fahrasah Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyah Atsna’ an-Nasyr, Cet. I, Th. 1425 H, hlm. 4. Lihat pula Fathu al-Bari Syarh Shahîh al-Bukhâri, XIII/503.
[3] Lihat al-Hatsts ‘ala it-Tiba’i as-Sunnah wa at-Tahdzir min al-Bida’ wa Bayan Khathariha, hlm. 5-17.
[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang  Surat al-Ahzâb/33 ayat 40, berkenaan dengan pengertian firman Allah di atas, III/650.
[5] HR al-Bukhâri, Kitab at-Tafsir, Surah Shaff, Bab I, no. 4896 –Fathu al-Bâri, VIII/640-641, dan Muslim, Kitab al-Fadha’il, Bab: Fî Asmâ’ihin , no. 6058 dan 6059 – Shahîh Muslim Syarh Nawawi, XV/104-105.
[6] Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada penjelasan bagian akhir dari ayat di atas sesudah memaparkan hadits-hadits tentang penutup para nabi, III/652.
[7] HR Muslim. Lihat Shahîh Muslim Syarh Nawawi, Kitab al-Iman, Bab: Wujub al-Iman bi Risalati Nabiyyina Muhammad l ila Jami’i an-Nâs, no. 384, II/364.
[8] HR Muslim. Shahîh Muslim Syarh Nawawi, Kitab ath-Thaharah, Bab: al-Istithâbah, no. 605. III/144-145.
[9] Demikian seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdul-Muhsin al-‘Abbad al-Badr, seorang ulama besar di Madinah yang menjadi salah satu pengajar di Masjid Nabawi, dalam kutaibnya: al-Hatsts ‘ala it-Tiba’i as-Sunnah wa at-Tahdzir min al-Bida’ wa Bayan Khathariha, hlm. 10.
[10] Hadits ini, oleh para ulama dikatakan sanadnya shahih. Lihat Shahîh Ibni Hibban bi Tartib Ibni Balban, I/267, no. 65. Tahqîq: Syu’aib al-Arna’uuth, Mu’assasah ar-Risâlah, Cet. III, Th. 1418 H/1997.
[11] Lihat footnote 10.
[12] Syaikh Ali bin Hasan mengatakan bahwa sanad hadits ini shahîh. Lihat ‘Ilmu Ushuul al-Bida’, Dirâsah Takmîliyyah Muhimmah fî ‘Ilmi Ushul al-Fiqh, hlm. 19.
[13] Lihat Taqrib at-Tadmuriyah (Tahqîqal-Itsbât lil Asmâ` wash-Shifât, wa Haqîqat al-Jam’i Baina al-Qadar wa asy-Syar’i), Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin, hlm. 107-108.

Siapakah Mukmin Sejati?

SIAPAKAH MUKMIN SEJATI?

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Kajian kita kali ini menghadirkan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam surat al-Anfaal pada awal surat yang bunyinya:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ [الأنفال : 2-4]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. [al-Anfaal/8: 2-4].

Kita mulai dari firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ [الأنفال : 2]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetar hati mereka”. [al-Anfaal/8: 2].

Maksudnya merasa takut dan khawatir, sehingga rasa takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla tersebut mengharuskan mereka menjauh dari perkara haram. Karena rasa takut kepada -Nya merupakan bukti paling nyata yang akan meniadakan bagi pemiliknya dari perbuatan dosa.

Kemudian Allah ta’ala melanjutkan:

وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا [الأنفال : 2]

“Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya “.[al-Anfaal/8: 2].

Sisi yang bisa mendongkrak keimanan mereka ialah karena ketika mereka dibacakan ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla mereka memasang pendengaran, serta menghadirkan hati untuk mentadaburinya, sehingga dengan sebab itu, iman mereka bertambah. Karena tadabur termasuk amalan hati, kemudian bacaan tersebut setidaknya mampu untuk menjelaskan makna yang benar sekiranya mereka tidak tahu, atau mengingatkan mereka tatkala lupa, atau mendorong  hati mereka untuk melakukan kebaikan serta merindukan pada karunia Rabbnya, atau merasa takut dari adzab dan maksiat. maka ini semua termasuk faktor yang bisa mndongkrak keimanannya.

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [الأنفال : 2]

“Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.[al-Anfaal/8: 2].

Artinya mereka menyandarkan hati mereka kepada Rabbnya semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya didalam mengharap maslahat, dan menolak mara bahaya, baik dari sisi dunia maupun agama. Mereka begitu yakin bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla pasti akan melakukan hal tersebut. Dan Dzat yang ditawakali ialah yang akan menanggung seluruh amalan tersebut, sehingga amalan tersebut tidak mungkin bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan ijin Allah azza wa jalla.

Selanjutnya Allah ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ [الأنفال : 3]

“(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat”.  [al-Anfaal/8: 3].

Yaitu baik sholat yang wajib maupun yang sunah dengan menyempurnakan seluruh kandungannya baik amalan yang dhohir maupun yang batin, seperti halnya menghadirkan hati dalam sholat yang merupakan ruh dan inti sarinya sholat.

Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla melanjutkan:

وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ [الأنفال : 3]

“Dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.  [al-Anfaal/8: 3].

Nafkah-nafkah yang wajib seperti zakat dengan segala jenisnya serta membayar kafarah, terus nafkah untuk istri dan sanak keluarga, atau untuk membayar sumpah. Lalu nafkah yang sunah seperti sedekah pada segala sarana kebajikan yang ada.

Allah ta’ala melanjutkan:

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚٞ  [الأنفال: 4]

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”.   [al-Anfaal/8: 4].

Maksudnya orang-orang yang mempunyai sifat-sifat seperti diatas, maka merekalah orang yang imannya benar-benar sempurna, karena mereka telah mampu memadukan antara Islam dan iman antara amalan yang dhohir dan yang bathin dan antara ilmu dengan amal.

Selanjutnya Allah ta’ala berfirman:

لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ  [الأنفال : 4]

“Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”.  [al-Anfaal/8: 4].

Artinya mereka akan memperoleh derajat yang tinggi didalam surga sesuai dengan amalan yang telah dilakukan, ditambah dosa-dosanya diampuni, serta memperoleh rizki yang mulia sebagaimana yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla janjikan pada mereka di kampung kemuliaan -Nya, dimana kenikmatannya tidak pernah terlihat sebelumnya oleh pandangan, tidak pernah terdengar oleh pendengaran, dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia.

Pelajaran yang Bisa Dipetik Dari Ayat Mulia Diatas:
Pertama: Bahwa menangis karena takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla merupakan syi’arnya orang-orang yang beriman dan bertakwa. Hal tersebut didukung oleh firman -Nya:

وَإِذَا سَمِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعۡيُنَهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ ٱلۡحَقِّۖ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ [ المائدة: 83]

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”. [al-Maaidah/5: 83].

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla lalu menangis maka akan menjadikan dirinya terbebas dari api neraka. Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « عينان لا تسمهما النار عين بكت من خشية الله وعين باتت تحرس في سبيل الله » [أخرجه الترمذي]

Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan (kedua) mata yang terjaga untuk jihad dijalan Allah“. HR at-Tirmidzi no: 1639. Dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahihul Jami’ no: 4113.

Beliau sendiri adalah orang yang banyak menangis dikarenakan rasa takutnya yang besar kepada Allah azza wa jalla, setelahnya adalah orang-orang sholeh dikalangan umatnya, keadaan mereka juga tak jauh berbeda dalam rangka mengikuti suri tauladannya.

Dan dalam sebuah ayat, Allah tabaraka wa ta’ala mengancam bagi mereka yang memiliki hati namun terkunci mati dengan ancaman yang keras. Seperti yang disinggung oleh Allah dalam firman -Nya:

فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ [الزمر: 22]

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.  [az-Zumar/39: 22].

Kedua: Didalam penggalan ayat diatas, tepatnya yang berbunyi:

وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا [الأنفال : 2]

“Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya “. [al-Anfaal/8: 2].

Dalam ayat ini, jelas sekali disebutkan adanya iman yang bertambah. Hal tersebut juga didukung oleh banyak ayat pada kesempatan yang lain, seperti firman Allah ta’ala:

وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ  [التوبة: 124]

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”.  [at-Taubah/9: 124].

Demikian juga dalam firman -Nya:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا لفتح: 4]

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah -lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. [al-Fath/48: 4]

Juga telah disebutkan dalam ayat -Nya:

لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا [المدثر: 31]

“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu”.  [al-Muddatstsir/74: 31].

Dan ayat-ayat diatas dan yang semisal dengannya, semuanya menunjukan adanya dalil iltizam (keharusan) kalau iman itu juga bisa berkurang, karena segala sesuatu kalau bisa bertambah tentunya juga dapat berkurang, maka dijelaskan oleh para ulama bahwa iman itu bisa bertambah dengan ketaatan sedangkan berkurangnya disebabkan karena maksiat.

Untuk semakin jelas, maka telah disebutkan oleh hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan jelas mengatakan iman bisa berkurang. Yaitu dalam hadits syafa’at, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً  » [أخرجه البخاري و مسلم]

Akan dikeluarkan dari neraka seseorang yang pernah mengucapkan ‘laa ilaha illah’ dan masih menyisakan didalam hatinya kebaikan walaupun seberat biji sawi“.  HR Bukhari no: 7510. Muslim no: 192.

Ketiga: Diambil faidah dari firman Allah tabaraka wa ta’ala:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ [الأنفال : 2]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetar hati mereka”. [al-Anfaal/8: 2].

Bahwa iman itu mencakup tiga perkara; Keyakinan dalam hati, Mengucapkan dengan lisan, dan Mengamalkan dengan anggota badan. Dan didalam dua ayat diatas terkumpul hal tersebut semuanya. Amalan hati tersirat dalam masalah tawakal dan bertambah keimanan serta yang lainnya, amalan lisan tercantum dalam masalah mengingat Allah Shubhanahu wa ta’alla dan membaca al-Qur’an, sedang amalan anggota badan tertera dalam firman -Nya:

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ [الأنفال : 3]

“(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.  [al-Anfaal/8: 3].

Keempat: Ayat-ayat diatas menunjukan pada kita bahwa orang yang tidak bisa menambah keimanannya dengan hanya mendengar bacaan al-Qur’an maka barangkali justru hal tersebut menambah jauh darinya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ  [التوبة: 125]

“Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, Maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. [at-Taubah/9: 125].

Kelima: Tawakal termasuk cabang keimanan yang besar, berdasarkan firman -Nya:

وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [الأنفال : 2]

“Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.  [al-Anfaal/8: 2].

Keenam: Sayangnya Allah ta’ala kepada para hamba -Nya, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebut bahwa apa yang mereka infakkan hanyalah rizki yang diberikan pada mereka, lantas bagaimana mungkin setelah itu mereka menjadi bakhil?

Ketujuh: Banyak orang yang mengklaim dirinya orang beriman, akan tetapi, seorang mukmin sejati ialah mereka yang terkumpul padanya sifat-sifat yang disebutkan pada ayat diatas, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan setelahnya:

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗا [الأنفال : 4]

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”.  [al-Anfaal/8: 4].

Kedelapan: Kedudukan orang beriman tinggi saling bertingkat-tingkat, berbeda satu sama lainnya. Adapun kedudukan orang kafir juga saling bertingkat namun menurun kebawah. Berdasarkan firman -Nya:

لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ [الأنفال : 4]

“Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya”.  [al-Anfaal/8: 4].

Ini bagi orang beriman, adapun orang kafir, maka Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ [النساء: 145]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah didasar neraka”.  [an-Nisaa’/4: 145].

Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ قَالَ بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Sesungguhnya penduduk surga bisa saling melihat penghuni kamar yang berada diatasnya, sebagaimana kalian melihat bintang yang berkilau yang tersisa diufuk timur maupun barat sesuai kedudukan yang ada diantara mereka”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah itu kedudukannya para nabi, yang tidak mungkin bisa kita capai? Maka beliau menjelaskan: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku ditanganNya. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan mempercayai para Rasulnya“. HR Bukhari no: 3256. Muslim no: 2831.

Sembilan: Termasuk anugerah dari pahala yang diperoleh orang beriman ialah didekatkan kepada Rabb mereka, berdasarkan firman    -Nya:

عِندَ رَبِّهِمۡ [الأنفال: 4]

“Di sisi Tuhannya”.  [al-Anfaal/8: 4].

Sepuluh: Orang-orang beriman sebelum mereka masuk kedalam surga akan dibersihkan terlebih dahulu dari kekurangan dan dosa. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ [الأنفال : 4]

“Dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”.  [al-Anfaal/8: 4].

Sebelas: Nikmat rizki yang akan diperoleh oleh orang beriman didalam surga sangatlah banyak, luas, indah serta terus mengalir. Berdasarkan firman -Nya:

وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ [الأنفال : 4]

“Serta rezki (nikmat) yang mulia”.  [al-Anfaal/8: 4].

Inilah akhir dari kajian kita kali ini, kita panjatkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari المؤمن الحقيقي  Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Kedudukan Akal Dalam Islam

KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM

Oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad-Dariny

Segala puji bagi Allâh  Azza wa Jalla , yang telah menganugerahkan kepada umat manusia hati nurani, yang dengannya mereka menjadi berakal, mampu berfikir, merenung, dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Allâh  Azza wa Jalla berfirman :

وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

Dialah yang menjadikan kalian memiliki pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kalian bersyukur [an-Nahl/16:78]

Ibnu Katsîr rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Allâh  Azza wa Jalla memberikan mereka telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati -yakni akal yang tempatnya di hati- untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan… Dan Allâh  Azza wa Jalla memberikan umat manusia kenikmatan-kenikmatan ini, agar dengannya mereka dapat beribadah kepada Rabb-nya.”[1]

Shalawat dan salam, semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang teladan yang telah mendorong umatnya, untuk terus meningkatkan kemampuan akalnya dalam memahami agama ini, sebagaimana dalam sabdanya :

مَنْ يُرِدْ اللهُ بهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang Allâh kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan dipahamkan dalam agamanya. [HR. Bukhâri, no. 69; Muslim, no.1719]

Begitu pula dalam sabdanya :

خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ، إِذَا فَقُهُوا

Orang yang paling baik di masa jahiliyyah, adalah orang yang paling baik setelah masuk Islam, jika mereka menjadi seorang yang faqih (ahli dan alim dalam ilmu syariat). [HR. Bukhâri, no. 3353 ; Muslim, no. 2378]

Lihatlah bagaimana Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dorongan kepada umatnya untuk menjadi Muslim yang benar-benar memahami syarîat Islam, dan itu tidak mungkin dicapai, kecuali dengan memanfaatkan sebaik mungkin akalnya.

Para pembaca yang budiman –waffaqanillâhu wa iyyâkum-, sebelum kita masuk dalam pembahasan ini, ada baiknya kita mengerti dulu apa yang dimaksud dengan kata “akal” ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Istilah ‘akal’ menurut kaum Muslimin dan mayoritas kaum intelektual tidak lain adalah: sifat, yakni sifat yang melekat pada orang yang berakal. Dan inilah yang ditunjukkan oleh al-Qur’ân, (seperti) dalam firman-Nya (لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ), “Agar kalian berfikir” (al-Hadîd/57:17), begitu pula dalam firman-Nya (اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ), “Tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati mereka dapat berfikir”.(Al-Hajj/22:46) [2]

Sebagian Ulama membagi akal menjadi dua jenis yaitu akal dasar dan akal bentukan. Akal dasar adalah kemampuan dasar manusia untuk berfikir dan memahami sesuatu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan akal bentukan adalah kemampuan berfikir dan memahami, yang dibentuk oleh pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika dua akal ini berkumpul pada seorang hamba, maka itu merupakan anugerah besar yang diberikan oleh Allâh kepada hamba yang dikehendaki-Nya, urusan hidupnya akan menjadi baik, dan pasukan kebahagiaan akan mendatanginya dari segala arah.[3]

Tentunya adanya pembedaan dua jenis akal di atas, tidak berarti adanya pemisah antara akal dasar dengan akal bentukan. Karena akal bentukan pada dasarnya adalah akal dasar yang telah berkembang seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman yang  diperoleh seseorang. Bisa dikatakan, bahwa akal bentukan melazimkan adanya akal dasar. Sebaliknya, sangat nadir adanya akal dasar yang tidak berkembang seiring berjalannya waktu, wallahu a’lam.

Keutamaan Akal
Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allâh  Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dengan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.

Karena besarnya karunia akal ini, Islam menggariskan banyak syariat untuk menjaga dan mengembangkannya, seperti:

  1. Mengharamkan apapun yang dapat menghilangkan akal, baik makanan, minuman, ataupun tindakan. Juga memberikan hukuman khusus berupa cambuk, bagi mereka yang sengaja makan atau minum apapun yang memabukkan.
  2. Memasukkan akal dalam lima hal primer yang harus dijaga dalam syarîat Islam, yakni: agama, jiwa, keturunan, akal dan harta.
  3. Menjadikannya sebagai syarat utama taklîf (kewajiban dalam syariat). Oleh karena itu, ada batasan baligh, karena orang yang belum baligh biasanya kurang sempurna akalnya… Oleh karena itu pula, semua orang yang hilang akalnya, bebas atau gugur kewajibannya menjalankan syariat.
  4. Menganjurkan, bahkan mewajibkan umatnya untuk belajar. Lalu memberikan derajat yang tinggi bagi mereka yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.
  5. Melarang umatnya membaca bacaan atau mendengarkan perkataan-perkataan, yang dapat menyesatkannya dari pemahaman yang benar.

Semua hal di atas digariskan oleh Islam, terutama untuk menjaga nikmat akal, mensyukurinya, dan mengembangkannya. Bahkan dalam al-Qur’ân, sangat banyak kita dapati ayat-ayat yang mendorong manusia agar memanfaatkan akalnya untuk hal-hal yang berguna, terutama untuk mencari hakekat kebenaran. Berikut ini, merupakan sebagian kecil dari contoh ayat-ayat tersebut :

وَهُوَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dia pula yang mengatur pergantian malam dan siang. Tidakkah kalian menalarnya?! [al-Mukminûn/23:80]

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُۗ اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ

Katakanlah: samakah antara orang yang buta dengan orang yang melihat?! Tidakkah kalian memikirkannya?! [al-An’am/6:50]

اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

Perhatikanlah, bagaimana kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda kekuasaan Kami, agar mereka memahaminya! [al-An’am/6:65]

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Tidakkah mereka merenungi al-Qur’ân?! Sekiranya ia bukan dari Allâh , pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya. [an-Nisâ’/4:82]

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ ١٧ وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ ١٨ وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ ١٩ وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ ٢ فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ٠

Tidakkah kalian memperhatikan pada unta, bagaimana ia diciptakan? Dan pada langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan pada gunung-gunung, bagaimana itu ditegakkan? Dan pada bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. [al-Ghasyiyah/88:17-21]

Ilmu Lebih Tinggi Daripada Akal (Akal Membutuhkan Wahyu).
Betapa pun jenius dan tingginya kemampuan akal, tetap saja ia merupakan salah satu dari kekuatan manusia. Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa semua kekuatan manusia pasti memiliki batasan dan titik lemah. Tidak lain, itu disebabkan karena sumber kekuatannya adalah makhluk yang lemah, dan sumber yang lemah, tentu akan menghasilkan sesuatu yang ada lemahnya pula.

Diantara bukti adanya titik lemah pada akal manusia, adalah adanya banyak hakekat yang tidak bisa dijelaskan olehnya, seperti: hakekat ruh, mimpi, jin, mukjizat, karamah, dan masih banyak lagi. Belum lagi, seringnya kita dapati adanya perubahan pada hasil penelitiannya; dahulu berkesimpulan dunia ini datar, lalu muncul teori bulat, lalu muncul teori lonjong. Dahulu mengatakan minyak bumi adalah sumber energi tak terbarukan, lalu muncul teori sebaliknya. Dahulu mengatakan matahari mengitari bumi, lalu muncul teori sebaliknya, dan begitu seterusnya.

Kenyataan ini menunjukkan, bahwa akal tidak layak dijadikan sebagai sandaran untuk menetapkan kebenaran hakiki. Apabila ada sumber kebenaran hakiki yang diwahyukan, maka itulah yang harus dikedepankan, sedangkan akal diberi ruang untuk memahami dan menerima dengan apa adanya.

Oleh karenanya, Islam memberi ruang khusus bagi akal, ia hanya boleh menganalisa sesuatu yang masih dalam batasan jangkauannya, ia tidak boleh melewati batasan tersebut, kecuali dengan petunjuk nash-nash yang diwahyukan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan al-Qur’ân, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api”[4].

Karena kenyataan ini, maka hendaklah kita mengetahui batasan-batasan akal, sehingga kita tahu, kapan kita boleh melepas akal kita di lautan pandangan, dan kapan kita harus mengontrolnya dengan wahyu Allâh  Azza wa Jalla . Ini merupakan bentuk lain dari penghormatan Islam terhadap akal. Islam menempatkannya pada posisi yang layak, sekaligus menjaganya agar tidak terjatuh ke dalam jurang kesesatan yang membingungkan.

Diantara beberapa hal, yang kita tidak boleh mengedepankan akal dalam membahasnya adalah:

  1. Hal-hal yang berhubungan dengan akidah dan perkara-perkara ghaib. Seperti menetapkan atau menafikan Nama dan Sifat Allâh Azza wa Jalla , surga dan neraka, nikmat dan siksa kubur, jin dan setan, malaikat, keadaan hari kiamat, dan lain-lain.
  2. Dasar-dasar akhlak dan adab yang tidak bertentangan dengan syarîat, seperti adab makan dan minum, adab buang hajat, akhlak terhadap orang tua, sesama, dan anak kecil, dan lain-lain.
  3. Ajaran syarîat Islam, terutama dalam masalah ibadah, seperti menetapkan atau menafikan syariat shalat, zakat, puasa, haji, jihâd, dan lain-lain.[5]

Dalam perkara-perkara ini, memang dibutuhkan akal untuk memahami, merenungi, dan menyimpulkan suatu hukum dari dalil, tapi akal tidak boleh keluar dari dalil yang ada, ia tidak boleh menentangnya, ataupun mengada-ada.

Adapun yang berhubungan dengan alam semesta yang kasat-mata, maka itulah lautan luas yang diberikan kepada akal manusia untuk terus menganalisa dan meneliti, terus menemukan dan mengolahnya. Inilah yang banyak disinggung dalam firman-firman Allâh ubhanahu wa Ta’ala :

اَوَلَمْ يَنْظُرُوْا فِيْ مَلَكُوْتِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ 

Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi, serta segala sesuatu yang diciptakan Allâh ?! [al-A’râf/7:185]

وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ ٢٠ وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

Di bumi itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allâh bagi orang-orang yang yakin… dan juga pada diri kalian sendiri, tidakkah kalian memperhatikannya?! [adz-Dzariyât/51:20-21]

اَفَلَمْ يَنْظُرُوْٓا اِلَى السَّمَاۤءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنٰهَا وَزَيَّنّٰهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ ٦ وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍۙ ٧ تَبْصِرَةً وَّذِكْرٰى لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيْبٍ   

Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangun dan menghiasinnya dan tidak ada keretakan sedikitpun padanya?… Dan (bagaimana) bumi Kami hamparkan, Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan di atasnya tanaman-tanaman yang indah… Agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepadaNya).[Qaf/50:6-8]

Akal Bukan Sebagai Hakim, Namun Alat Untuk Memahami
Setelah kita memahami uraian di atas, tentu kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa akal merupakan nikmat yang sangat agung, namun ia bukanlah segalanya. Kita harus menempatkannya pada tempat yang layak, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak bisa dijangkau olehnya.

Jika ada keterangan wahyu dalam masalah apapun, maka itulah yang harus didahulukan, dan akal harus menyesuaikan dengannya, memahaminya, dan menerimanya dengan apa adanya. Memang, kadang keterangan wahyu menjadikan akal tertegun, namun ia tidak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil.

Akhirnya, penulis akan tutup tulisan ini, dengan perkataan yang layak ditorehkan dengan tinta emas, dari salah seorang Ulama besar Islam, beliau adalah Ibnu Abil Izz rahimahullah :

وَقَدْ تَوَاتَرَتِ الأَخْبَارُ عَنْ رَسُوِلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثُبُوْتِ عَذَابِ الْقَبْرِ, وَنَعِيْمِهِ لِمَنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلاً, وَسُؤَالِ الْمُكَلَّفِيْنَ , فَيَجِبُ إِعْتِقَادُ ثُبُوْتِ ذَلِكَ , وَالإيْمَانُ بِهِ , وَلاَ نَتَكَلَّمُ فِي كَيْفِيَّتِهِ , إِذْ لَيْسَ لِلْعَقْلِ وُقُوْفٌ عَلَى كَيْفِيَّتِهِ, لِكَوْنِهِ لاَ عَهْدَ لَهُ بِهِ غَيْرُ هَذِهِ الدَّارِ, وَالشَّرْعُ لاَ يَأْتِي بِمَا تُحِيْلُهُ الْعُقُوْلُ , وَلَكِنَّهُ قَدْ يَأْتِي بِمَا تُحَارُ فِيْهِ الْعُقُوْلُ

Telah datang keterangan dalam banyak hadits yang telah mencapai derajat mutawatir, tentang adanya adzab kubur dan nikmatnya bagi orang yang berhak, serta pertanyaan kubur bagi mereka yang mukallaf. Maka itu wajib diyakini dan diimani kebenarannya, dan kita tidak boleh membicarakan tentang gambaran detailnya, karena memang akal tidak boleh menerka gambaran detailnya, demikian itu, karena akal tidaklah menyaksikan kecuali dunia yang ada ini. Dan Syariat tidak akan datang dengan sesuatu yang dimustahilkan akal, meski kadang datang dengan sesuatu yang membingungkannya. [Syarhu Aqîdah Thahâwiyyah, hlm.  399]

Sekian, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terutama bagi penulis sendiri, umumnya bagi semua yang membacanya.

Madinah, 17 Dzul Qo’dah 1433H/ 3 Oktober 2012M

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir (4/590), dengan sedikit penyesuaian.
[2] Majmû‘ul Fatâwâ, 9/286
[3] Miftâhu Dâris Sa’âdah, 1/117
[4] Majmû‘ul Fatâwâ, 3/338
[5] Lihat kitab Al-Islam wal Aql, karya : Abdul Halim Mahmud, hal: 30.

Kenali Penyakit yang Memperlemah Kekuatan Umat Islam

KENALI PENYAKIT YANG MEMPERLEMAH KEKUATAN UMAT ISLAM

Oleh
Syaikh ‘Abdul Aziz bin Rayyis ar-Rayyis

Saudara-saudaraku….,[1]
Fenomena ketidakberdayaan umat Islam dan para musuh yang menguasai diri kita merupakan musibah besar dan ujian mendalam. Kita wajib menyingkirkannya. Proses ini tidak dapat terwujud kecuali dengan proses analisa yang benar. Dalam proses analisa penyakit ini, kita tidak boleh mencampurbaurkan antara penyakit utama dan dampak yang menyertainya. Berapa banyak pihak yang mencampuradukkan antara penyakit sesungguhnya dengan dampak-dampak yang menyertai. Akhirnya, terapi dan solusi yang mereka tampilkan pun kabur.

Sebagian orang berpandangan bahwa penyakit yang sedang menimpa umat ialah makar para musuh dan kekuatan besar mereka atas umat Islam. Atas dasar analisa ini, mereka menyimpulkan bahwa solusi problematika umat ialah menyibukkan kaum Muslimin untuk mengenali musuh, program-program, pernyataan-pernyataan dan laporan-laporan mereka.

Golongan kedua menyatakan bahwa penyakit yang sedang menguasai umat Islam adalah keberadaan penguasa-penguasa yang berbuat zhalim di sebagian negara Islam. Berdasarkan cara pandang ini, maka jalan yang ditempuh guna menghilangkan penyakit umat yaitu menyingkirkan para penguasa zhalim itu dan memprovokasi masyarakat untuk membenci para penguasa tirani tersebut.

Pihak ketiga menganggap penyakit yang menjadi sumber kelemahan kaum Muslimin adalah tercerai-berainya umat Islam di banyak negara. Maka, atas dasar ini, solusinya adalah mempersatukan dan memadukan mereka sehingga menjadi kekuatan yang berjumlah banyak.

Dengan merujuk keterangan al-Qur`ân dan Hadîts, mereka semua telah melakukan kekeliruan dalam menganalisa penyakit umat yang sebenarnya. Akibatnya, solusi yang ditawarkan pun tidak tepat.

Sisi kesalahan pendapat pertama, bahwa tipu-daya musuh tidak akan membahayakan kaum Muslimin, bila mereka benar-benar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [Ali Imrân/3:120]

Adapun sisi kekeliruan anggapan kedua, yaitu para penguasa yang zhalim itu pada dasarnya merupakan hukuman yang Allah Azza wa Jalla timpakan kepada orang-orang yang berbuat zhalim. Maksudnya, orang zhalim itu bisa berkuasa karena kezhaliman dan dosa-dosa rakyat yang dipimpin. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. [al-An’âm/6:129]

Jadi, bukanlah para penguasa zhalim itu yang menjadi sumber penyakit umat. Tetapi, sumber penyakit itu muncul dari orang-orang yang mereka pimpin yang telah berbuat zhalim dan berbuat dosa.

Kesalahan pernyataan ketiga dapat diketahui dari sisi bahwa kuantitas besar yang dipadukan menjadi satu tidak banyak bermanfaat bila terdapat dosa-dosa yang dilakukan oleh individu-individu yang dipersatukan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. [at-Taubah/9:25]

Coba lihat, bagaimana dosa ujub (silau terhadap diri sendiri) akibat jumlah pasukan yang banyak menyebabkan kaum Muslimin (para Sahabat Rasulullah yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri) mengalami kekalahan di perang Hunain.

Termasuk tindakan dosa lain, mempersatukan umat dengan kaum ahli bid’ah dari kalangan Sufi, Asy’ari dan Mu’tazilah. Karena, mereka itu harus diingkari, minimal dengan hati yaitu dengan menjauhi mereka dan tidak duduk-duduk bersama mereka.

Dari sini tampaklah kekeliruan pernyataan ‘Mari kita saling mendukung dalam perkara-perkara yang kita sepakati dan saling memberi toleransi dalam urusan yang kita perselisihkan’.

Selanjutnya, mungkin ada orang yang akan melontarkan pertanyaan, engkau telah menunjukkan kesalahan-kesalahan analisa-analisa golongan-golongan dalam meraba-raba penyakit yang sedang memperlemah kekuatan umat. Jadi, apa sebenarnya analisa yang tepat mengenai penyakit yang sedang menimpa umat berdasarkan al-Qur`ân dan Hadîts? Maka kita katakan, bahwa terdapat banyak ayat al-Qur`ân dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan musibah-musibah yang menimpa umat manusia karena dosa-dosa mereka. Diantaranya firman Allah Azza wa Jalla :

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. [Ali ‘Imrân/3: 165]

Saat menjelaskan ayat di atas, Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan : “Ketika ditimpa musibah kekalahan di Uhud, kalian saling berkata bagaimana bisa (kami kalah)? Dari mana datangnya sebab kekalahan yang telah menimpa kami ini ? Padahal kami kaum Muslimin sementara mereka kaum musyrikin, terlebih lagi, ada Nabi di tengah kami yang mendapatkan wahyu dari langit. Para musuh kami adalah orang-orang yang kafir dan musyrik kepada Allah.” Maka katakanlah wahai Muhammad kepada para Sahabatmu yang beriman kepadamu “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Karena kalian melanggar perintahku dan tidak taat kepadaku. Jadi, sebab kekalahan kalian bukan dari orang lain.”[2]

Ibnu Taimiyyah raimahullah berkata : “Kemenangan kaum kafir terjadi karena dosa-dosa kaum Muslimin yang mengakibatkan keimanan mereka menurun. Jika mereka bertaubat dengan menyempurnakan iman mereka, maka Allah Azza wa Jalla akan memenangkan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. [Ali ‘Imrân/3:139][3]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “Sehubungan dengan kemenangan, Allah Azza wa Jalla mempergilirkannya. Kadang-kadang dialami kaum kafir sebagaimana kaum Mukminin juga dimenangkan atas kaum kafir. Ini telah dialami para Sahabat Nabi Muhammad saat menghadapi musuh. Hanya saja, akhir yang baik menjadi milik kaum Mukminin. Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), [Ghâfir/40:51]

Kelemahan kaum Muslimin, dan kemenangan orang-orang kafir itu disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kaum Muslimin. Baik karena kurang perhatian dalam menjalankan kewajiba-kewajiban secara batiniah dan lahiriah. Atau karena mereka telah bersikap melampaui batas secara batiniah maupun lahirian. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) [Ali Imrân/3:155]

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. [Ali ‘Imrân/3: 165]

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. [al-Hajj/22: 40-41]

Di antara cobaan terbesar yang dialami umat ini yaitu ketidakberdayaan umat Islam dan keperkasaan musuh. Dari sini tampak jelas bahwa penyakit yang menimpa kaum Muslimin sesungguhnya adalah taqshîr (kurang peduli) terhadap ajaran Islam dan pelanggaran mereka terhadap syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sebagai efek nyata dari penyakit itu adalah kemenangan kaum kafir atas kaum Muslimin hingga umat Islam selalu dikendalikan oleh mereka serta keberadaan penguasa-penguasa zhalim di sebagian negeri Islam.

Bukankah praktek syirik masih menjerat dengan jaring-jaringnya. Bahkan syiar-syiar syirik berkibar di mana-mana. Lihatlah bagaimana tauhid yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla malah diperangi di dunia Islam? Kalau demikian kondisi dunia Islam yang masih dilingkupi dosa terbesar di hadapan Allah (syirik besar), bagaimana mungkin kita sekalian mengharapkan kemenangan dan kejayaan?

Selain syirik, maksiat-maksiat jenis lain, seperti kerancuan berpikir tentang Islam dan aplikasinya yang bermacam-macam beserta memperturutkan nafsu syahwat juga telah berkembang di tengah dunia Islam. Jika memang kita mau jujur dan berempati terhadap kondisi umat, maka janganlah kita menyibukkan diri dengan efek-efek samping dari penyakit umat hingga melupakan upaya penyembuhan penyakit sesungguhnya. Empati itu hendaklah kita wujudkan dengan berusaha mengembalikan umat kepada agama mereka yang murni.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua menuju shirâthul mustaqîm dan menyejukkan pandangan kita dengan kejayaan Islam dan Muslimin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diterjemahkan secara bebas dari Muhimmatun Fil Jihâd, Abdul ‘Aziz bin Rayyis ar-Rayyis, pengantar Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân dan Syaikh Abdul Muhsin bin Nâshir al-‘Ubaikan, Cetakan tahun 1424 H
[2] Tafsir ath-Thabari (4/108)
[3] al-Jawâbush Shahîh (6/450)

Kiat Berpegang Teguh Dengan Agama Allah

KIAT BERPEGANG TEGUH DENGAN AGAMA ALLAH

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya…Amma Ba’du:

Sesungguhnya kebutuhan seorang muslim terhadap kiat-kiat untuk berpegang teguh dan berkomitmen terhadap ajaran agama mereka sangatlah besar, hal ini disebabkan karena banyaknya fitnah dan sedikitnya manusia yang bisa membantu, dalam hal keterasingan agama. Dan di antara kiat berpegang teguh dengan agama adalah:

Pertama: Sadar untuk kembali kepada Al-Qur’an yang agung baik dengan menghafal, membaca dan mengamalkan. Dia adalah tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kuat, jalan yang lurus, dan barangsiapa yang berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaganya dan barangsiapa yang berpaling, maka dia akan tersesat dan menyimpang. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah untuk mengokohkan keberadaannya (di dalam hati). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). [Al-Furqon/25: 32]

Kedua: Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amal shaleh. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاء

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan berbuat sesuka yang Dia kehendaki. [Ibrahim/14: 27]

Qotadah berkata, “Di dalam kehidupan dunia maka dia akan diberikan ketetapan dengan berbuat kebaikan dan beramal shaleh dan di akherat adalah keteguhan di dalam kubur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) [Al-Nisa’/4: 66]

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu beramal shaleh secara kontinyu dan amal yang paling beliau sukai adalah amal yang berkesinambungan walaupun sedikit, dan para shahabat beliau saat ingin melakukan suatu amal shaleh maka mereka menetapkannya.

Ketiga: Membaca kisah-kisah para nabi dan mempelajarinya agar bisa ditauladani dan diamalkan. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

وَكُـلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءكَ فِي هَـذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul telah Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman. [Hud/11: 120]

Banyak ayat-ayat yang diturunkan untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman bersama beliau, seperti kisah Nabi Ibrahim, Musa dan seorang keluarga Fir’aun yang beriman dan kisah-kisah lainnya.

Keempat: Berdo’a. Sesungguhnya di antara sifat-sifat orang yang beriman adalah mereka menghadap Allah dengan berdo’a kepadaNya agar diteguhkan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firmanNya:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami…”. [Ali Imron/3: 8]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jemari Allah Yang Maha Rahman sama seperti satu hati dan dia berbuat padanya sekehendak -Nya”.[1]

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdo’a dengan mengucapkan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya Allah yang Maha Membolak balikkan hati tetapkanlah hati-hati kami agar selalu  taat kepadaMu”.[2]

Kelima: Berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dzikir adalah sebab yang paling agung agar seseorang bisa teguh. Renungkanlah ayat di bawah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُواْ وَاذْكُرُواْ اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلَحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. [Al-Anfal/8: 45]

Allah menjadikan zikir sebagai sebab utama dalam berpegang teguh saat berjihad.

Keenam: Berdakwah kepada Allah Azza wa Jalla, dan ini adalah tugas para Rasul dan para pengikut mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf/12: 108]

Dan jika seorang hamba betul-betul berusaha memberikan petunjuk kebenaran kepada orang lain, maka Allah akan memberikan balsannya dari jenis amal yang sama, sehingga dia semakin bertambah dalam mendapatkan petunjuk dan keteguhan dalam kebenaran. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini;  [Al-Kahfi/18: 28]

Dan disebutkan di dalam cerita tentang seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa manusia bahwa dia bertanya tentang taubat kepada seorang yang berilmu dan orang alim tersebut berkata; Apakah yang menghalangi dirimu dari taubat, pergilah ke daerah ini sebab disana terdapat masyarakat yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sembahlah Dia bersama mereka dan janganlah kembali mendatangi kampung halamanmu sebab dia adalah lingkungan yang buruk”.[3]

Ibnul Qoyyim rahimahullah bercerita tentang keteguhan syaekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah saat beliau dipenjara: Dan apabila rasa khawatir kami memuncak dan prasangka buruk menguasai kami serta dunia telah menyempit maka kamipun berkunjung kepada beliau, maka tidaklah kita melihatnya dan mendengar ucapannya kecuali keburukan yang kami rasakan sebelumnya sirna seketika, bahkan dada kami berbalik merasakan kelapangan, kekuatan, keyakinan dan ketenangan. Maha suci Allah yang telah memperlihatkan surga -Nya sebelum bertemu dengan -Nya, dan membukakan baginya pintu-pintu surga pada waktu beramal, juga Dia telah memberikan kepada mereka keharuman, kesejukan, dan kebaikannya selama mereka memusatkan usaha mereka untuk menuntutnya dan berlomba-lomba mendapatkannya”.[4]

Kedelapan: Yakin dengan kedatangan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan masa depan adalah milik Islam. Inilah cara Nabi  meneguhkan para shahabat di awal dakwah Islam pada saat mereka tersiksa dengan berbagai intimidasi. Dari Khabbab bin Arit bahwa dia mengadu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siksa yang dihadapinya dan dia meminta dido’akan agar terhindar dari siksa, maka Beliau bersabda,

وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnkan agama ini sehingga seorang pengendara akan berjalan sendiri dari Shan’a ke Hadramaut sementara mereka tidak sedikitpun takut kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan seorang penggembala tidak takut terhadap domba-dombanya namun kalian terlalu tergesa-gesa”.[5]

Kesembilan: Sabar. Ini termasuk sebab yang paling besar agar seseorang bisa berpegang teguh pada agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al-Baqarah/2: 153]

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Barangsiapa bersabar maka Allah akan memberikan kesabaran baginya dan tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari sabar”.[6]

Dari Abi Tsa’alabah Al-Khusyani Radhiyallahu anhu bahwa pada saat Nabi menyinggung tentang amar ma’ruf anhi mungkar beliau bersabda,

«إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الْمُتَمَسِّكُ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَهُ كَأَجْرِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ».  قَالُوا: يَا نَبِيَّ الله، أَو مِنْهُمْ؟ قَالَ:«بَلْ مِنْكُمْ».

Sesungguhnya di belakang kalian akan tiba masa-masa bersabar, di mana bersabar pada masa itu sama seperti menggenggam bara api, orang yang berbuat kebaikan pada masa itu dari kalangan mereka akan mendapat pahala yang menyamai pahala lima puluh orang pada jenis kebaikan yang sama”. Tsa’labah bertanya: Wahai Rasulullah apakah akan menyamai lima puluh pahala kebaikan dari golongan mereka?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Menyamai Pahala lima puluh orang di antara kalian”.[7]

Kesepuluh: Merenungkan kenikmatan surga dan pedihnya siksa neraka, serta mengingat kematian. Maka pada saat seorang yang beriman merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,..”.[Ali Imron/3: 133]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.  [Ali Imron/3: 185]

Dengan merenungakan ayat ini maka segala kesulitan akan menjadi ringan dan hidup zuhud di dunia, jiwanya akan rindu kepada akherat dan derajat yang tinggi.

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para shahabatnya dengan kenikmtan surga agar mereka tatap berpegang teguh pada agama Allah dan bersabar atasnya. Beliau melewati Yasir dan Amar beserta ibunya pada saat mereka tersiksa di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala guna memperthankan keimanannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ، إِنَّ موعدكم الجنة.

Berasabarlah wahai keluarga Yasir sebab janji kalian adalah surga”. [8][9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari أسباب الثبات على الدين Penulis Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi , Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Shahih Muslim: 4/2045 no: 2654
[2] Musnad Imam Ahmad: 6/251
[3] Shahih Bukhari: 2/497 no: 3470 dan shahih Muslim: 4/2118 no: 2766
[4] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit Tahyyib, halaman; 82
[5] Shahih Bukhari: 4/285 no: 6943
[6] Shahih Bukhari: 4/186 no:  no: 6470 dan shahih Muslim: 2/729 no: 1053
[7] Sunan AbuDawud: 4/123 no: 4341
[8] Mustadrakul Hakim:  3/432 dishahihkan oleh Albani di dalam fiqhus siroh, halaman: 103
[9] Lihat risalah syekh Muhammad Al-Munjjid, Asbabus sabat alad dini”.

Masyarakat Merdeka

MASYARAKAT MERDEKA

Masyarakat Muslim Menyambut Kemerdekaan
Manusia tidak mengenal suatu masyarakat yang menyambut kemerdekaan seperti masyarakat muslim yang menerapkan syari’at Islam dalam kehidupan dan menyambutnya. Dan manusia tidak mengenal kemerdekaan dengan maknanya yang paling dalam seperti yang dikenal oleh manusia muslim yang mengerti petunjuk agamanya.

Hal ini karena Islam yang membentuk kepribadian manusia muslim, dan membangun masyarakat muslim, telah menentukan arti kemerdekaan, membuat aturan dan ukuran yang menjadikannya suatu kemerdekaan yang layak bagi manusia yang dimuliakan oleh Allah, dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi, untuk memakmurkannya dengan kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia.

Islam telah memberikan kemerdekaan kepada manusia yang menghargai kepribadiannya yang seimbang, memelihara haknya secara syar’i, dan memberikan kesempatan padanya untuk melakukan semua yang bermanfaat tanpa batasan dan rintangan.

Arti Kemerdekaan Dalam Islam
Kemerdekaan dalam Islam mencakup seluruh segi kehidupan : agama, politik, pemikiran, sipil, masyarakat dan kepribadian, dan berbagai macam model kemerdekaan lainnya, dengan syarat ia muncul dari akal manusia, bukan dari hawa nafsu, dan menggunakannya untuk kebaikan dirinya dan kebaikan masyarakatmya, tidak bertentangan dengan kemaslahatannya atau merugikan orang lain.

Kebebasan bukan berarti mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya, memuaskan keinginannya, atau menyebarkan keraguan dan mengacaukan pemikiran, menginjak-injak kesucian, membangkitkan fitnah dan menyerang orang lain; kebebasan mempunyai batas-batas yang tidak boleh dilanggar oleh manusia yang berakal  ; karena dengan demikian ia mengganggu kebebasan orang lain, dan kebebasan seseorang selalu berhenti di permulaan kebebasan orang lain.

Dalam masyarakat muslim, kebebasan bukanlah merongrong akidah Islam dan prinsip-prinsip dasar agama yang telah diketahui secara baik oleh setiap muslim ; sebab negara dimana masyarakat muslim tegak, konsisten dengan akidah dan peraturan, akidah adalah dasar yang di atasnya dibangun masyarakat dan negara, akidah ini berdiri atas keimanan kepada Allah, tunduk dan patuh padanya, mengikuti syari’atnya melalui kenabian dan kerasulan, dimana yang terakhir adalah Islam, oleh karena itu ikatan akidah merupakan ikatan masyarakat yang paling tinggi, dan di atasnya berdiri kesatuan masyarakat, bukan berdasarkan kepentingan, bukan kesatuan keturunan, kewarga negaraan, dan nasionalisme.

Dalam negara Islam dan masyarakat muslim akidah merupakan peraturan umum yang dihormati semua umat , bangsa dan masyarakat, maka tidak boleh bagi siapapun merongrong, menyerang atau melawannya; karena hal ini merupakan perusakan terhadap aturan masyarakat dan negara, dan ini tidak boleh dilakukan atas nama kebebasan.

Dalam negara Islam merusak akidah Islam atau menentangnya berarti mengajak untuk meruntuhkannya ; karena akidah adalah dasar bangunannya, dan penentangan yang terang-terangan dinamakan murtad, dan hukuman bagi orang murtad adalah hukuman bagi setiap yang mengajak untuk menghancurkan dasar negara dan memberontaknya, yaitu dibunuh. Adapun jika orang murtad hanya sebatas keyakinan dalam dirinya tanpa disampaikan kepada orang lain, maka hukuman itu tidak dilakukan, karena negara Islam tidak menghukum keyakinan orang, akan tetapi mempersoalkan yang nampak dan perbuatan yang menyebabkan fitnah dan merusak bangunan masyarakat.

Dalam masyarakat muslim kebebasan juga bukan berarti mengajak kepada akidah pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam dari segi prinsip; karena ia berarti penentangan terhadap akidah Islam, dan ajakan untuk menyingkirkan hukum yang diturunkan oleh Allah, berikutnya adalah menentang dasar negara secara umum. Dikecualikan dari kaidah umum ini adalah kepercayaan terhadap agama-agama samawi, yaitu ahli kitab, seperti Yahudi, Nasrani dan yang semisalnya, mereka dibolehkan tetap dalam akidah mereka, dan berhak mengumumkannya dalam batas lingkungan yang khusus bagi mereka dan di rumah ibadah mereka, hal ini karena pada dasarnya agama-agama ini ada kesamaan dengan Islam dalam hal dasar-dasar keimanan kepada Allah, hari akhir dan kenabian. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dipaksa masuk Islam karena (Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)) dalam masyarakat muslim dan negara Islam.

Islam telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama dan akidahnya, dan pilihan ini mempunyai nilai dan tanggung jawab, karena manusia walaupun anak kecil tidak boleh dihapus kepribadiannya, atau dirampas kebebasannya, atau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinannya, oleh karena itu Islam mengharamkan memaksa orang mengikutinya, walaupun ia adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi; Karena pemaksaan ini merupakan pelanggaran terhadap kebebasan manusia dan kehormatannya, disamping tidak ada gunanya orang mengikuti dengan terpaksa.

Islam sangat menghormati manusia, sangat menghormati kebebasan dan harga dirinya, dan mempunyai pandangan yang agung terhadap kemanusiaan.

Dengan pemahaman yang jelas ini tentang kemerdekaan, maka dalam masyarakat muslim manusia mempunyai kebebasan, ia bisa menggunakan kebebasannya yang dibolehkan dalam segala aspek kehidupannya.

Aspek Kebebasan Dalam Masyarakat Muslim
Dalam masyarakat muslim manusia boleh mengungkapkan pemikiran yang membangun yang timbul dalam hatinya, dengan media massa yang mana saja baik cetak maupun elektronik.

Ia berhak mengkritik kondisi yang tidak baik dan tidak benar, selama dalam mengkritik berpijak pada kebenaran dan disertai bukti-bukti nyata, termasuk di dalamnya amar ma’ruf dan nahi mungkar, ini diperintah baik bagi laki-laki maupun wanita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar. [at Taubah/9: 71]

Ia bebas berkumpul dengan orang lain untuk membentuk opini, yayasan atau badan yang berdiri di atas pemikiran yang benar, dengan dasar menghormati akidah umat dan manhaj hidupnya, ini termasuk saling tolong menolong yang dianjurkan oleh al-Qur’an.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [al Maidah/5: 2]

Ia bebas memilih pekerjaan dan mata pencaharian untuk mencukupi dirinya dan keluarga yang ada di bawah tanggung jawabnya, tidak boleh disempitkan kesempatannya untuk mencari rezeki dari pekerjaan yang ia miliki, atau dipaksa mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya.

Ia mempunyai kebebasan yang utuh di tempat tinggalnya, tidak boleh bagi siapapun masuk rumahnya tanpa izinnya, atau memata-matainya, atau mencari-cari kesalahannya, atau menginjak-injak kehormatannya, seperti agama, nyawa, badan, harga diri, keluarga dan  hartanya.

Minoritas non muslim boleh hidup di dalam masyarakat muslim dengan bebas, memeluk agama yang diyakininya, dan melaksanakan ibadahnya, karena (Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam))

Luasnya Pemahaman Kebebasan Dalam Masyarakat Muslim
Dalam masyarakat muslim arti kebebasan sangat luas, mencakup terlepasnya manusia dari semua tekanan dan paksaan, baik dari cengkraman penguasa zalim, atau kekuatan yang bisa mengekangnya, inilah yang dikatakan oleh Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu kepada gubernurnya di Mesir Amru bin Ash, karena putranya memukul orang Mesir Kopti: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan Merdeka“, inilah kata-kata yang terukir dalam sejarah, dan menjadi dasar bagi hak-hak asasi manusia, dikatakan bahwa Jean Jacques Rousseau mengutip kata-kata ini.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berwasiat kepada anaknya dengan wasiat yang pantas ditulis dengan tinta emas, yaitu perkataannya: “Janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Allah telah menjadikanmu Merdeka“.

Permusuhan Penguasa Zalim Terhadap Kebebasan
Arti kebebasan ini adalah semakna dengan penghambaan kepada Allah; karena insan muslim tidak menjadi hamba kecuali bagi Allah, oleh karena itu ia tidak mengenal tuhan kecuali Allah, ketika manusia mengerti hakikat ini maka ia benar-benar merdeka; karena penghambaannya kepada Allah membebaskannya dari penghambaan kepada selain Allah.

Tidak ada yang lebih membunuh kebebasan daripada menjadikan sebagian manusia tuhan bagi yang sebagian yang lain, dalam kondisi seperti ini manusia tidak bisa mengembalikan kemerdekaannya dan kehormatannya kecuali jika mereka menghancurkan tuhan-tuhan palsu itu, terutama dalam diri orang-orang yang dianggap tuhan, padahal ia adalah manusia seperti mereka, tidak bisa memberikan manfaat atau bahaya kepada dirinya, tidak juga menghidupkan, mematikan dan membangkitkan.

Tidak naik kekuasaan bagi para tiran kecuali kebebasan dipasung, dan tidak meningkat api kebebasan kecuali kursi para tiran runtuh.

Semua agama samawi mengajak ummat mendongakkan kepalanya di hadapan para tiran, tidak ada yang lebih menakutkan para tiran seperti ketakutan mereka apabila umat menerima agama langit, oleh karena itu Fir’aun berkata kepada Musa Alaihissallam:

قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا وَتَكُوْنَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاۤءُ فِى الْاَرْضِۗ

Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?” [Yunus/10: 78]

Kalau seandainya Nabi Musa Alaihissallam menerima kesombongan Fir’aun dan keangkuhannya, niscaya Fir’aun menerimanya dan mengizinkan bagi rakyatnya melaksanakan kegiatan keagamaan yang diajak oleh Nabi Musa Alaihissallam, selama hal ini tidak membahayakan kekuasaan dan kedudukannya. Oleh karena itu kisah Fir’aun dan Nabi Musa Alaihissallam disebutkan berulang kali dalam al-Qur’an, dan pengulangan ini mempunyai makna yang besar, yaitu yang hak tidak bisa berdampingan dengan kebatilan, dan bahwasanya penguasa tirani tidak bisa bersabar atas kebenaran yang bergerak ; karena ia tahu bahwa kebenaran akan mengalahkannya.

Orang-orang musyrik Arab telah memahami hakikat ini sejak mereka mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka dengan terang-terangan agar berikrar bahwa.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ

Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah

Mereka yakin bahwa di belakang kalimat tauhid ini terkandung perubahan yang menyeluruh dalam kehidupan bangsa Arab, dimana ia menjadikan kedaulatan bagi Allah, dan tidak bisa mencapai kepada kedudukan tertinggi kecuali yang melaksanakan syari’at Allah, oleh karena itu mereka menentang dakwah baru ini, mereka menyiksa siapa saja yang beriman dan mau mengikuti panggilan dakwah ini, terutama orang-orang miskin dan lemah.

Maka diperlukan hijrah ke suatu negeri dimana orang-orang lemah itu mendapat kebebasannya, mereka bisa bergerak dengan dakwahnya, jauh dari cengkraman orang-orang musyrik Qurais, pertama kali hijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan di sanalah umat Islam menetap dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan Negara Islam.

Sejak hari itu tumbuhlah masyarakat kebebasan yang menjaga kebebasan individu dan memeliharanya, menghormati perasaan umat dan pendapat mereka, seseorang tidak memikul kesalahan orang lain, dan tidak ada yang dijatuhi hukuman kecuali penjahat yang berhak mendapatkan hukuman, seseorang tidak bertanggung jawab atas kesalahan orang lain seperti yang dilakukan para penguasa di masa kini, dimana kekejaman dan hukumannya meluas kepada semua yang ada kaitannya dengan pelaku kejahatan baik sebagai teman, kerabat atau hubungan nasab.

[Disalin dari  ( الحرية في المجتمع الإسلامي ) Buku Masyarakat Muslim Dalam Perspektif Al Quran dan Sunnah. Penulis Muhammad Ali al-Hasyimi. Penerjemah : Muzaffar Sahidu, Editor : Muhammad Thalib. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Bahaya Ghazwul Fikri

BAHAYA GHAZWUL FIKRI

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimîn rahimahullah

Sesungguhnya mencari ilmu merupakan salah satu jenis jihâd fî sabîlillâh, karena penuntut ilmu akan mampu membantah musuh-musuh agama dengan al-haq sehingga dapat mematahkan kebatilan mereka. Sebagaimana dapat disaksikan, terkadang ghazwul fikri (perang pemikiran yang dilancarkan Barat) itu lebih berbahaya dari pada peperangan bersenjata. Sebab, pengaruh pemikiran tersebut dapat menyusup ke setiap rumah dengan keinginan pemilik rumah sendiri, tanpa ada penolakan maupun perlawanan sedikit pun. Berbeda halnya peperangan militer, tidak dapat mengobrak-abrik rumah atau sebuah negara kecuali setelah melalui adu kekuatan yang panjang dan perlawanan sengit.

Musuh-musuh Islam terkadang dapat menguasai kaum Muslimin dengan kekuatan militer melalui peperangan, namun hal ini sangat mungkin untuk diantisipasi. Dan kadang-kadang, melalui usaha melancarkan pengaruh pemikiran yang dampaknya lebih berbahaya dan lebih buruk daripada dampak yang pertama (peperangan militer). Karena pengaruh pemikiran itu menerjang kaum Muslimin dari dalam  rumah-rumah mereka sendiri tanpa mereka sadari. Bisa jadi, mereka kemudian keluar dari agama Islam dan Islam itu terhapus dari kalbu mereka secara keseluruhan – sekali lagi-red – tanpa mereka sadari. Karena (melalui ghazwul fikri), musuh-musuh Islam menyerang kaum Muslimin dari pintu syahwat, sementara hati manusia apabila telah berkubang dengan syahwat, akan melupakan tujuan hidupnya, melalaikan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dan hubungan hatinya dengan Allâh Azza wa Jalla tidak ada lagi. Maka, orang tersebut hanya akan memikirkan pemuasan syahwat saja saat ia duduk, berdiri, datang maupun pergi. Dan ia tidak berusaha kecuali untuk meraihnya, seakan-akan hanya itulah tujuan penciptaan dirinya (di dunia ini-red).

Selain itu, musuh-musuh Islam selalu menjejali jiwa-jiwa kaum Muslimin dengan penanaman rasa hormat kepada orang-orang kafir, bahwa mereka itu lebih maju, peradaban mereka lebih baik dan alur kehidupan mereka lebih lebih benar dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya jati diri seorang Muslim meleleh dalam kobaran api fitnah mereka. Dan tidak diragukan lagi kejadian ini merupakan kenyataan, banyak negera Islam kehilangan karakternya dan kepribadiannya hancur disebabkan perang pemikiran ini.

Sesungguhnya, meskipun mereka (para musuh agama itu) memerangi negeri-negeri Islam dengan kekuatan militer dan mampu menundukkannya, namun hati orang (kaum Muslimin) akan tetap antipati dan membenci mereka. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah para musuh Islam dapat menyerang karakter, akhlak dan akidah kaum Muslimin saat mereka duduk-duduk di dalam rumah dan membukakan pintu hati mereka bagi musuh Islam. Inilah kehancuran yang sebenarnya.

Oleh karenanya, perlawanan dengan senjata ilmu yang digali dari al-Qur’ân dan Sunnah Rasul-Nya itu sejajar tingkatannya -kalau tidak lebih baik dan lebih mengena-  dengan perlawanan militer. Di sini, saya mengajak diri saya dan Anda semua–semoga Allâh Azza wa Jalla memberkahi Anda semua- untuk mempersiapkan bekal guna menghadapi musuh-musuh yang hendak memerangi kita di rumah-rumah kita melalui pemikiran-pemikiran yang keji, akhlak yang kotor, dan ideologi yang menyimpang, sehingga kita dapat melindungi kaum Muslimin dari keburukan mereka itu. Karena senjata mereka itu lebih membinasakan dan berbahaya daripada senjata yang terbuat dari besi dan api sebagaimana hal itu telah jelas adanya.

(Tafsîr sûrat ash-Shâffât hlm. 37-38)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1430H/2009M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Islam Merupakan Rahmat, Bukan Ancaman

ISLAM MERUPAKAN RAHMAT, BUKAN ANCAMAN[1]

Oleh
Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabi

Saya tidak melupakan untuk menyebutkan satu hal yang nantinya menjadi pijakan tema sekarang ini, yaitu rahmat Islam dan rahmat Nabi Islam. Sungguh saya bisa merasakan dan melihat rahmat ada pada masyarakat muslim di negeri yang baik ini. Mereka mencintai Allah dan RasulNya, serta mencintai kebenaran yang datang dari Rabb dan RasulNya. Ini adalah keistimewaan yang tiada bandingannya. Sebuah etika yang sedikit sekali orang yang menghiasi dirinya dengannya pada masa sekarang ini. Dan memang semakin jauh masa dari masa nubuwwah, maka kebaikan semakin sedikit.

Seperti yang dikatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ عَامٍ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

Tidak ada satu masa (yang datang), kecuali masa setelahnya itu lebih buruk darinya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian. [HR at Tirmidzi, no. 2132].

Maka, saya ucapkan selamat kepada Anda sekalian, atas etika yang baik ini, ketundukan kepada Allah dan RasulNya sebagai rasa pengagungan kepada Allah dan RasulNya. Dan saya mentazkiah (memuji) Anda sekalian dihadapan Allah.

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang bergejolak dalam dada. Sesuatu ini nampak kontradiktif, akan tetapi merupakan sebuah kebenaran jika dijelaskan dan diterangkan. Hal tersebut tentang Islam adalah rahmat, Rabb kita adalah ar Rahim (Maha Penyayang) dan Nabi kita adalah rahmat bagi seluruh alam.

Adapun sisi kontradiksif yang ada dalam benak saya, bahwasanya masalah-masalah di atas termasuk perkara-perkara badahiy,[2]yang jelas dan lebih jelas dari matahari pada siang hari. Kemudian, tiba-tiba kita harus menjelaskannya lagi sebagai wujud pembelaan terhadap Islam, penjelasan atas pemutarbalikkan kenyataan tentang Islam, dan penjelasan terhadap sebuah kondisi saat pandangan terhadap Islam sudah berubah.

Tidak disangsikan lagi, ini merupakan sesuatu yang merisaukan hati dan pikiran, kita menyaksikan fakta yang kontradiktif untuk menjelaskan sebuah permasalahan yang sudah diimani, permasalahan yang jelas, yaitu agama ini (Islam) adalah rahmat,  Allah Maha Penyayang dan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga seorang penyayang. Karenanya, saya memohon kepada Allah agar berkenan menolong kita dalam memahami makna ini dan mengamalkannya.

Nash-nash dari al Qur`an dan Sunnah Nabawiyah yang menguatkan topik ini dan memantapkan penjelaskan ini sangatlah banyak, tidak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, kita harus menyebutkan sebagian, agar hati menjadi tenang dalam kebenaran. Dan akal pikiran serta jiwa merasa berbahagia dengan hidayah.

Nash yang paling agung yaitu, Allah mensifati diriNya sendiri bahwa Dia Dzat Yang Maha Penyayang. Sifat dengan nama ini, banyak terdapat di dalam al Qur`an. Cukuplah bagi Anda, sebuah nash yang Anda baca berulang kali dalam shalat sehari semalam sebanyak lebih dari sepuluh kali, agar  pemahaman terhadap makna ini tertanam dan tertancap dalam hati dan perasaan. Allah Azza wa Jalla berfirman :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [al Fatihah/1 : 1-3].

Anda mengulanginya pada tiap raka’at, saat membaca basmalah dan membaca ayat kedua (dari surat al Fatihah), sehingga gambaran makna ini dan juga realisasinya, baik secara ilmiah atau amaliah bisa dilakukan (secara bersamaan) dalam satu waktu.

Allah juga mensifati NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat rahim (penyayang) itu. Allah Azza wa Jalla berfirman :

بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

(Nabi Muhammad) amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. [at Taubah/9 : 128].

Nabi kita rahim (penyayang), sebagaimana juga Rabb kita Rahim (Maha Penyayang). Akan tetapi, rahim (kasih-sayang)nya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam penghulu seluruh Bani Adam, sesuai dengan kebesaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sifat kemanusiaannya. Sedangkan Rahim (penyayang)nya Allah sesuai dengan keagunganNya dan kesempurnaanNya. Jadi rahmat (kasih-sayang) merupakan sifat Allah dan sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan RasulNya menginginkan agar rahmat ini menjadi nyata di muka bumi. Karena din (agama) ini merupakan din rahmat. Allah Azza wa Jalla  berfirman :

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al Anbiya/21’ : 107].

Allah tidak mengatakan “ … sebagai rahmat bagi kaum Mukminin,” namun Allah mengatakan rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya manusia ; bahkan rahmat ini terasa juga pada alam lain, yaitu alam jin dan malaikat.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan tentang dirinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

Aku adalah rahmat yang dihadiahkan. [3]

Banyak nash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan kepada kaum Mukmin, kaum yang menyambut seruan Allah dan RasulNya, yang mengimani hukum Allah dan RasulNya, dan tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya, agar menjadi orang-orang yang memiliki rasa kasih-sayang dan saling menyayangi, sehingga mereka akan disayangi oleh Allah Azza wa Jalla, bukan sekedar rahmat yang berbentuk angan-angan yang diimpikan oleh hati dan dilantunkan oleh lisan. Kalau hanya sekedar itu, maka ini bisa dilakukan oleh semua orang. Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَالاَتَفْعَلُونَ {2} كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَالاَتَفْعَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.[ash Shaf/61 : 2-3].

Allah menginginkan kita menjadi orang-orang yang menyayangi dan saling menyayangi, lagi disayangi; bukan hanya sekedar ucapan, akan tetapi (dibuktikan) dengan amal; bukan sekedar ungkapan, akan tetapi (diwujudkan) dengan perbuatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Orang-orang yang menyayangi akan disayang oleh Dzat yang Maha Penyayang. Sayangilah orang yang ada di muka bumi, niscaya Dzat yang ada diatas langit (Allah) akan menyayangi kalian.[4]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا

Berbuat kasih-sayanglah kalian, pasti kalian akan disayangi.[5]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

Orang yang tidak memiliki rasa kasih-sayang, tidak akan disayang.[6]

Semua nash di atas dan yang lainnya menegaskan makna rahmat, supaya membumi dalam kehidupan dan sistem yang dilaksanakan; saling menyayangi satu dengan yang lain, saling berlemah- lembut, saling menolong, terutama kepada orang yang diberi taufik oleh Allah, dan diberi petunjuk untuk memeluk Islam dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rahmat ini tidak akan bisa diwujudkan secara benar, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat berlandaskan al Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Adapun rahmat tanpa dilandasi ilmu, tetapi dilandasi kejahilan, hanyalah sebuah perasaan yang berkutat di dalam dada, terkadang tidak sesuai dengan tempatnya; menjadi tidak jelas, dan ketidakjelasan ini membuahkan kesalahan besar.

Oleh karena itu Ahlus Sunnah itu berasal dari ahli ilmu, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah : “Ahlus Sunnah adalah orang yang paling tahu tentang al haq (kebenaran) dan paling sayang terhadap makhluk”.

Rasa kasih-sayang ini menuntut kita agar memberikan nasihat kepada orang lain, berlemah- lembut kepada mereka, dan menuntut Anda agar memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla , kembali ke jalan Allah sebelum mereka meninggal.

Rasa kasih-sayang (rahmat) ini menuntut Anda untuk memiliki rasa kepedulian (terhadap keselamatan makhluk) yang Anda ambil dari sifat Rasulullah yang diberikan Allah kepada beliau, yaitu:

… حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

…(Rasulullah) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.[at Taubah/9 : 128].

Semangat ini semestinya diiringi kelembutan dan kasih-sayang, yang merupakan ciri terbesar dan paling agung din (agama) ini, bukan kekasaran dan kekakuan, tidak dibarengi sikap ekstrim atau sikap berlebihan, tetapi, dengan kelembutan yang menjadi simbol agama ini.

Agar tidak ada orang yang berprasangka dan menduga bahwa rahmat (rasa kasih-sayang) ini hanya untuk kaum Muslimin saja, atau berlaku hanya di kalangan kaum Muslimin (saja), sehingga menyeretnya kepada kebatilan, maka saya perlu menyebutkan beberapa nash dari hadits Nabi yang menerangkan  rahmat ini dan cakupannya. Rahmat ini bukan hanya bagi kaum Muslimin saja, akan tetapi juga bagi orang-orang kafir; bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk bangsa hewan sekalipun.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para da’i (mubaligh) dan pemimpin orang-orang yang bersabar terhadap berbagai macam siksa dan cercaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar menghadapi permusuhan dan penyiksaan, serta mendoakan kebaikan atas pelakunya. Ketika orang-orang kafir dahulu melukai kepala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , membuat beliau mengeluarkan darah, dan saat mereka mematahkan gigi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan balasan buruk kepada mereka, tetapi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menginginkan rahmat buat mereka, karena beliau adalah rahmat. Rasulullah berdoa saat itu :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Ya, Allah. Ampunilah kaumku, karena mereka itu tidak mengetahui. [7]

Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam disiksa dan disakiti oleh mereka. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَا أُوذِيَ أَحَدٌ فِي اللَّهِ مِثْلَ مَا أُوذِيْتُ

Tidak ada seorang pun yang disakiti di jalan Allah sebagaimana (sebesar) gangguan yang menimpaku.[8]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesabarannya  mengatakan :

لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يُوَحِّدُ اللَّهَ

Semoga Allah mengeluarkan kaum yang mentauhidkan Allah dari tulang punggung (keturunan) mereka.[9]

Kesabaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berperan besar dalam penyebaran din ini, menempati andil besar dalam membimbing umat melalui amal nyata, bukan sekedar teori sebagaimana yang dikatakan pada masa ini. Bahkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam rahim (memiliki rasa sayang) dalam situasi peperangan dan sedang berhadapan dengan para musuh Islam. Peperangan dalam Islam bukanlah perang permusuhan, akan tetapi perang penebusan; peperangan untuk menebarkan sendi-sendi kasih-sayang. Membunuh musuh bukanlah tujuan utama dan pertama, akan tetapi itu merupakan pilihan terakhir. Tawaran pertama adalah memeluk agama Islam, kedua adalah membayar jizyah (pembayaran sebagai ganti jaminan keamanan), dan ketiga adalah tidak mengganggu kaum Muslimin. Jika orang-orang kafir tidak mempedulikannya, tetap mengganggu dan menyakiti kaum Muslimin, maka mereka harus diperangi, dan ini pun harus dengan perintah dari penguasa dan para ulama yang saling bahu-membahu dalam menolong din Allah ini. Tetapi, kalau yang berinisiatif mengobarkan peperangan adalah individu-individu, maka perlu dimengerti, bahwa masalah memobilisasi perang bukanlah hak per individu. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.[al Baqarah/2 : 190].

Inilah sendi-sendi din Islam dalam keadaan damai maupun perang, juga ketika sedang berhadapan dengan musuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengarahkan para komandan supaya berbuat rahmat (kasih sayang) dan menuju rahmat (kasih sayang). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian membunuh anak kecil, orang yang sudah renta, jangan membunuh para rahib di gereja, dan janganlah kalian mematahkan pepohonan. [10]

Allahu Akbar!!! Inilah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , inilah karakter beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah melakukan pembunuhan membabi buta, apatah lagi menjadi tujuan, atau menjadi sesuatu yang digemari atau yang beliau perintahkan?

Pembunuhan dengan membabi-buta tidak pernah diridhai oleh Rabb kita dan Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bagaimana mungkin meridhai? Pembunuhan dengan membabi-buta, hanya akan mendatangkan masalah dan tertumpahnya darah yang sangat disesalkan hati nurani manusia, apalagi oleh Allah dan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dengan akhlak dan sendi-sendi ini, Islam mendapatkan keutamaan, Islam menjadi yang terdepan dan memiliki peran dalam menancapkan pondasi, atas apa yang mereka sebut menyuarakan hak-hak asasi manusia dan yang mereka sebut hak-hak asasi hewan. Sebelum ilmu pengetahuan mengalami kemajuan, sebelum peradaban Barat, dan sebelum sarana komunikasi mengalami perkembangan yang saat ini dirasakan oleh berbagai belahan dunia, Islam terlebih dahulu menyuarakan hak-hak manusia dan hak-hak hewan. Bagaimanapun mereka berusaha mendahului, berusaha mengunggulkan peradaban mereka dan berusaha merealisasikan makna-makna dan ajaran-ajaran ini, maka Islam tetap yang terdepan.

Islam terdepan dalam menanamkan sendi-sendi yang luhur, dan selanjutnya merealisasikannya dalam kehidupan nyata, dalam sejarah masa lalunya, sekarang ini dan pada masa yang akan datang, insya Allah Azza wa Jalla . Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian berbuat baik kepada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (melaksanakan hukum qishash), maka perbaikilah cara pelaksanaannya. Jika kalian melakukan penyembelihan hewan, maka berbuat baiklah dalam penyembelihan. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan binatang sembelihannya.[11]

Inilah akhlak yang ditampilkan dalam mu’amalah seorang muslim, mu’amalah dalam Islam, hingga dalam hal pemotongan hewan. Lalu bagaimana dalam mu’amalah dengan manusia yang diterangkan sifatnya oleh Allah Azza wa Jalla :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى ءَادَمَ

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, [al Israa/17 : 70].

Dengan apa Allah memuliakan mereka? Dengan apa Allah mengunggulkan mereka? Tidak lain, kecuali dengan menunjukkan mereka kepada din Allah yang haq, memberikan petunjuk kepada mereka agar menjadi da’i menuju jalan Allah Azza wa Jalla . Sehingga mereka menjadi orang yang shalih dan mengadakan perbaikan bagi yang lain. Ini merupakan penghargaan yang teramat tinggi. Ini pulalah yang masih banyak, bahkan kebanyakan hilang dari manusia, kecuali manusia mau bertaubat kepada Allah. Dan ini, jika Allah tidak memberikan pentunjuk, maka tidak akan ada yang memberikan petunjuk selain Allah Azza wa Jalla .

Supaya gambaran ini menjadi sempurna dan kebenaran menjadi jelas, saya perlu mengingatkan, bahwa makna rahmat (kasih-sayang) dan lemah-lembut tidaklah bertentangan dengan ‘izzah (keperkasaan) seorang muslim. Rasa kasih-sayang seorang muslim tidak boleh menyebabkannya tunduk, kecuali kepada al haq (kebenaran) dan (tidak boleh) merendahkan diri, kecuali kepada kaum Muslimin. Rasa kasih-sayang memiliki tempat tersendiri; begitu juga dengan ‘izzah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ (فَذَكَرَ مِنْهَا) وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga hal, barangsiapa memiliki ketiga hal ini, maka dia akan merasakan manisnya iman … (lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya, salah satunya yaitu) … tidak mau kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran, sebagaimana dia tidak mau dicampakkan ke dalam api. [12]

Ini termasuk ‘izzah seorang muslim dengan keimanannya, tidak tunduk kepada selain Allah Azza wa Jalla . Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada seorang mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan.[13] Masing mendapatkan kebaikan sesuai dengan kekuatan (yang dimilikinya).

Jadi kekuatan, perasaan tinggi, merasa perkasa, (itu) memiliki tempat tersendiri. Sama sekali tidak bertentangan dengan ketundukan seorang muslim kepada Rabb-nya, bukan tunduk kepada musuhnya. Sifat kasih-sayang ini tidak bertentangan dengan perintah Allah kepada NabiNya :

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. [at Tahrim/66 : 9]

Juga tidak bertentangan dengan sifat yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kaum Mukminin, bahwa mereka itu,

مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, [al Fath/48 : 29].

Ketegasan sikap yang terdapat dalam firman Allah Azza wa Jalla di atas memiliki saat dan tempat tersendiri. Sebagaimana telah dijelaskan di muka, bahwa tempatnya adalah pada urutan ketiga, bukan urutan pertama. Karena orang yang tidak mau menerima ajakan masuk Islam, pada tahapan pertama; dan tidak menghiraukan peringatan, urutan kedua; berarti dia adalah orang yang enggan menerima kebenaran dan berlaku semena-mena terhadap makhluk, maka dia berhak mendapatkan sikap keras ini. Dan dalam sikap keras terdapat pelajaran bagi orang-orang yang lain.  Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَشَرِّدْ بِهِم مَّنْ خَلْفَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. [al Anfal/8 : 57].

Begitulah, sikap keras ini juga mengandung pembelajaran tentang rahmat (kasih-sayang), supaya orang-orang yang sombong itu berhenti dari kesombongannya. Karena pelajaran bagi mereka sudah cukup untuk mendidik jiwa.

Untuk memperjelas, saya bawakan permisalan, dan permisalan yang paling tinggi hanyalah milik Allah. Tidakkah Anda perhatikan, saat Anda mengajari anak Anda dan mendidiknya; jika ia gagal, Anda memberikan peringatan. Jika dia tetap dalam keadaannya, maka Anda akan memukulnya.

Ya, itu memang sebuah pemukulan yang menyakitkan, akan tetapi, (hal) itu untuk tujuan pendidikan, bukan pukulan yang mengandung dendam, tetapi, sebuah pukulan yang mengandung kebaikan. Begitu pula sikap keras dalam Islam, dia memiliki saat dan tempat tersendiri yang mengandung kasih-sayang dan sebagai realisasi dari firman Allah Azza wa Jalla :

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.[al Anbiya/21 : 107].

Akhirnya, saya memohon kepada Allah Azza wa Jalla , agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang penyayang dan menjadi orang-orang yang mendapatkan kasih-sayang, menjadi orang yang mengajak manusia menuju Kitab Allah, menjadi orang yang senantiasa mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , (menjadi) orang yang berpegang teguh dengan tali Allah, menjadi orang yang tunduk kepada tauhidNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu semua.

Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Transkip ceramah di Masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 19 Februari 2006 M
[2] Aksioma, sudah menjadi hal yang diterima.
[3] HR Imam ad Darimi
[4] HR Imam Tirmidzi.
[5] HR Imam Ahmad.
[6] HR Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[7] HR Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[8] Hadits yang senada diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah, yaitu :
وَلَقَدْ أُوذِيتُ فِي اللَّهِ وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ
Dan sungguh aku pernah diganggu di jalan Allah, dan tidak ada seorang pun yang pernah mengalaminya.
[9] Hadits yang senada diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
… بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Akan tetapi, saya berharap semoga Allah mengeluarkan orang yang beribadah kepada Allah semata dan tidak melakukan kesyirikan, dari tulang punggung (keturunan) mereka.
[10] Hadits yang senada, terdapat dalam riwayat Abu Dawud :
… وَلَا تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلَا طِفْلًا وَلَا صَغِيرًا وَلَا امْرَأَةً …
dan janganlah kalian membunuh orang tua renta, anak kecil dan juga kaum wanita.
وَلَا تَقْتُلُوا الْوِلْدَانَ وَلَا أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ
.. janganlah kalian membunuh anak-anak dan orang-orang yang mendiami tempat-tempat ibadah. [Musnad Ahmad No. 2592]
[11] HR Imam Tirmidzi, Imam Nasa-i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.
[12] HR Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[13] HR  Imam Muslim.

Sesungguhnya Agama Itu Mudah

SESUNGGUHNYA AGAMA ITU MUDAH

Kerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini (yaitu ucapan “Sesungguhnya agama itu mudah“), akan tetapi (sebenarnya) mereka (tidak menginginkan) dengan ucapan itu, untuk tujuan memuji Islam, atau melunakkan hati (orang yang belum mengerti Islam) dan semisalnya. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.

Ketika salah seorang diantara kita ingin memperbaiki perbuatan yang menyalahi syari’at, orang-orang yang menyalahi (syari’at itu) berhujjah dengan perkataan mereka : “Islam adalah agama yang mudah“. Mereka berusaha mengambil keringanan yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan sangkaan bahwa mereka telah menegakkan hujjah bagi orang yang menasehati mereka agar mengikuti syariat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Orang-orang yang menyelisihi syariat itu hendaknya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mudah. (Akan tetapi maknanya adalah) dengan mengikuti keringanan-keringanan yang diberikan Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya kepada kita.

Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya telah memberi keringanan bagi kita, ketika kita membutuhkan keringanan itu dan ketika adanya kesulitan dalam mengikuti (melaksanakan perintah) yang sebenarnya.

Asal dari ungkapan ” Sesungguhnya agama itu mudah” adalah penggalan kalimat dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat“.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan “Sesungguhnya agama itu mudah” dalam kitabnya yang tiada banding (yang bernama) :

فَتْحُ الْبَارِي بِشَرْحِ صَحِيْحِ الْبُخَارِي

Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116.

Beliau rahimahullah berkata : “Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi”.

Kalau kita melihat hadits ini secara teliti, dan melihat kalimat sesudah ungkapan “agama itu mudah“, kita dapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita bahwa seorang muslim berkewajiban untuk tidak berlebih-lebihan dalam perkara ibadahnya, sehingga (karena berlebih-lebihan) ia akan melampui batas dalam agama, dengan membuat perkara bid’ah yang tidak ada asalnya dalam agama.

Sebagaimana keadaan tiga orang yang ingin membuat perkara baru (dalam agama). Salah seorang di antara mereka berkata : “Saya tidak akan menikahi perempuan“, yang lain berkata : “Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka“, yang ketiga berkata : “Saya akan shalat malam semalam suntuk“. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari hal itu semua, dan memberi pengarahan kepada mereka agar membaguskan amal mereka semampunya, dan hendaknya dalam mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu, (beribadah) dengan ibadah yang telah diwajibkan Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka.

Dan hendaknya mereka tidak membuat-buat perkara yang tidak ada asalnya dalam agama ini, karena mereka sekali-kali tidak akan mampu (mengamalkannya), (sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ” Maka sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan“.

Maka ungkapan “Agama itu mudah” maknanya adalah : “Bahwa agama yang Allah Jalla Jalaluhu turunkan ini semuanya mudah dalam hukum-hukum, syariat-syariatnya“. Dan kalaulah perkara (agama) diserahkan kepada manusia untuk membuatnya, niscaya seorangpun tidak akan mampu beribadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Maka jika orang-orang yang menyelisihi syariat tidak mendapatkan “kekhususan” (tidak mendapat celah sebagai pembenaran atas perbuatan mereka) dengan hadits diatas, mereka akan lari kepada hadits-hadits lain, yang dengannya mereka berhujjah bagi perbuatan mereka yang menggampang-gampangkan dalam perkara agama.

Diantara hadits-hadits yang mereka jadikan alasan dalam masalah ini, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan

Dalam riwayat lain.

كَمَايُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ

Sebagaimana Allah menyukai kewajiban-kewajibannya didatangi

Hadits lain adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا

Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Hadits yang ketiga.

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِرُوا وَلَا تُنَفِّرُو

Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari (dari kebenaran)“.

Adapun hadits yang pertama, wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa keringanan-keringanan dalam agama Islam banyak sekali, diantaranya : Berbukanya musafir ketika bepergian, orang yang tertinggal dalam shalat boleh mengqadha (mengganti), orang yang tertidur atau lupa boleh mengqadha shalat, orang yang tidak mendapatkan binatang sembelihan dalam haji tamattu boleh berpuasa, tayamum sebagai ganti wudhu ketika tidak ada air atau ketika tidak mampu untuk berwudhu … dan lainnya diantara keringanan yang banyak tidak diamalkan kecuali jika terdapat kesulitan dalam melaksanakan perintah yang sebenarnya.

Dan perlu kita perhatikan, bahwa keringanan-keringanan ini adalah syari’at Allah Jalla Jalaluhu dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan izin Allah Jalla Jalaluhu). Dan tidak diperbolehkan seorang muslim manapun, untuk mendatangkan (mengada-ada) keringanan (dalam masalah agama) tanpa dalil, karena hal ini adalah termasuk mengadakan perkara baru dalam agama yang tidak berdasar.

Dan perhatikanlah wahai saudaraku sesama muslim (surat Al-Baqarah/2 ayat 185), yang menceritakan tentang puasa dan keringanan berbuka bagi orang yang sakit atau bepergian, lalu firman Allah Jalla Jalaluhu sesudah ayat itu.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu

Makna ini menerangkan makna mudah (menurut Allah Jalla Jalaluhu), yang maknanya adalah keringanan itu datangnya dari sisi Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Atau (keringanan itu) dari syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wahyu dari Allah Jalla Jalaluhu. Ayat ini juga menerangkan bahwa makna mudah itu dengan mengikuti hukum Allah Jalla Jalaluhu (yang tiada sekutu bagiNya) dan mengikuti syariatNya. Inilah yang bekenaan dengan hadits yang pertama tadi.

Adapun hadits yang kedua dan tiga, maka pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu serta menyelisihi syariat (dengan kedua hadits itu) adalah batil, dan termasuk merubah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makna yang sebenarnya, dan keluar dari makna yang dimaksud.

Tafsir kedua hadits yang lalu berhubungan dengan para da’i yang menyeru kepada agama Islam. Dalam kedua hadits itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memantapkan kaidah penting dari kaidah-kaidah dasar dakwah kepada Allah Jalla Jalaluhu, yaitu berdakwah dengan lemah lembut dan tidak kasar. Maka dakwah para dai yang sepatutnya disampaikan pertama kali kepada orang-orang kafir adalah Syahadat, lalu Shalat, Puasa , Zakat. Kemudian (hendaknya) mereka menjelaskan kepada manusia tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menerangkan amal perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang makruh. Jika melihat suatu kesalahan yang disebabkan karena kebodohan atau lupa, maka hendaklah bersabar dan mendakwahi manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta tidak kasar. Allah Jalla Jalaluhu berfirman.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [Ali Imran/3 : 159]

Sesudah memahami hadits-hadits itu, dan penjelasan makna keringanan dan kemudahan. Maka saya berkata kepada orang-orang yang merubah dan mengganti makna-makna hadits-hadits tersebut (karena ingin mengenyangkan hawa nafsu mereka dengan perbuatan itu) :

“Bertaqwalah kepada Allah Jalla Jalaluhu dan ikutilah apa yang diperintahkan kepada kalian, dan jauhilah laranganNya, dan tahanlah (diri kalian) dari merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan takutilah suatu hari yang kalian dikembalikan kepada Allah Jalla Jalaluhu lalu setiap jiwa akan disempurnakan dengan apa yang ia usahakan. Dan takutlah kalian jangan sampai diharamkan dari mendatangi telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran kalian mengganti agama Allah Jalla Jalaluhu dan merubah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Saya mengharapkan dari Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri agar memberi petunjuk kepada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya, dan agar Allah Jalla Jalaluhu mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan memberi manfaat dari apa yang Dia ajarkan, serta memelihara kita dari kejahatan perbuatan bid’ah dan penyelewengan, serta kejahatan mengubah dan mengganti (syariat Allah).

(Majalah Al Ashalah edisi 15-16 hal 33-35, Ummu Malik)

[Disalin dari Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad. Jl. Sultan Iskandar Muda No.54 Surabaya]