Category Archives: A8. Qur’an Hadits2 Ilmu Al-Qur’an

Cara Praktis Untuk Menghafal Al-Qur’an

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR’AN

Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al-Qur’an. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:

Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

1. Bacalah ayat pertama 20 kali:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

2. Bacalah ayat kedua 20 kali:

وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا 

3. Bacalah ayat ketiga 20 kali:

وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا 

4. Bacalah ayat keempat 20 kali:

وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا 

5. Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.

6. Bacalah ayat kelima 20 kali:

وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا 

7. Bacalah ayat keenam 20 kali:

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا 

8. Bacalah ayat ketujuh 20 kali:

لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا 

9. Bacalah ayat kedelapan 20 kali:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا 

10. Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.

11. Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al-Qur’an, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

Bagaimana Cara Menambah Hafalan Pada Hari Berikutnya?
Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

Bagaimana Cara Menggabung Antara Mengulang (Muraja’ah) dan Menambah Hafalan Baru?
Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al-Qur’an terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al-Qur’an, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al-Qur’an adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.

Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-Qur’an.

Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana Cara Mengulang Al-Qur’an (30 Juz) Setelah Menyelasaikan Murajaah Diatas?
Mulailah mengulang al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Qur’an  setiap dua minggu sekali.

Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

Apa yang Dilakukan Setelah Menghafal Al-Qur’an Selama Satu Tahun?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun,  jadikanlah al-Qur’an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya, beliau membagi al-Qur’an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap 7 hari sekali.

قال أوس بن حذيفة : سألت أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قالوا: ثَلَاثَ سُوَرٍ، وَخَمْسَ سُوَرٍ، وَسَبْعَ سُوَرٍ، وَتِسْعَ سُوَرٍ، وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً، وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ مِنْ ق حَتَّى تَخْتِمَ. رواه أحمد

Aus bin Huzaifah berkata : Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana cara mereka membagi al-Qur’an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: “kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat,  dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al-Qur’an)”. (HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:

  1. Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
  2. Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
  3. Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
  4. Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
  5. Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
  6. Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
  7. Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur’an menjadi kata: ” Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) , dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:

  1. Huruf “fa” symbol dari surat “al fatihah”, sebagai awal wirid beliau hari pertama,
  2. Huruf “mim” symbol dari surat “al maidah”, sebagai awal wirid beliau hari kedua,
  3. Huruf “ya” symbol dari surat “yunus”, sebagai wirid beliau hari ketiga,
  4. Huruf “ba” symbol dari surat “bani israil (nama lain dari surat al isra)”, sebagai wirid beliau hari keempat,
  5. Huruf “syin” symbol dari surat “asy syu’ara“, sebagai awal wirid beliau hari kelima,
  6. Huruf “wau” symbol dari surat “wa shafaat“, sebagai awal wirid beliau hari keenam,
  7. Huruf “qaaf” symbol dari surat “qaaf”, sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat “an-nas”.

Adapun pembagian hizib yang ada pada al-Qur’an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

Bagaimana Cara Membedakan Antara Bacaan yang Mutasyabih (Mirip) Dalam Al-Qur’an?
Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan  cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

Kaidah dan Ketentuan Menghafal.

  1. Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
  2. Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-Qur’an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
  3. Hafalkanlah mulai dari surat an-Nas hingga surat al Baqarah (membalik urutan al-Qur’an), karena hal itu lebih mudah.
  4. Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
  5. Setiap yang menghafalkan al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa “tajmi‘” (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-Qur’an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-Qur’an merupakan harta yang sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah Subhanahu wa Ta’ala, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini.  Amin ya rabal ‘alamin.

[Disalin dari  : أسهل طريقة لحفظ القرآن الكريم Penulis : Dr. Abdul Muhsin  Al-Qasim (Imam dan Khatib Masjid Nabawi) Penerjemah : Team Indonesia Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]

Kembalikanlah Kepada yang Sudah Pasti!

KEMBALIKANLAH KEPADA YANG SUDAH PASTI ![1]

يُرْشِدُ الْقُرْآنُ إِلَى الرُّجُوْعِ إِلَى الأَمْرِ الْمُحَقَّقِ عِنْدَ وُرُوْدِ الشُّبُهَاتِ وَالتَّوَهُّمَاتِ

Al-Qur’an memberikan petunjuk agar kembali kepada perkara-perkara yang sudah diketahui pasti dan sudah terbukti kebenarannya ketika ada syubhat-syubhat atau keragu-raguan datang menghampiri

Syaikh Khalid al-Musaiqih hafizhahullâh mengatakan bahwa kaidah ini sangat bermanfaat dan penting bagi orang-orang yang ingin memahami al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena al-Qur’ân dan hadits-hadits itu terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu :

  1. Muhkam yaitu ayat atau hadits yang hanya memiliki satu makna, tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan lain.
  2. Mutasyabih yaitu ayat atau hadits yang maknanya belum jelas karena maknanya lebih dari satu.

Orang yang disodori atau mendapati nash yang masih belum jelas maksud dan maknanya, hendaknya tidak bingung dan tidak terkecoh serta tidak menggoyahkan keyakinannya terhadap ayat atau hadits yang muhkam yang hanya memiliki satu makna dan tidak mempunyai kemungkinan-kemungkinan lainnya. Hendaklah dia mengembalikan apa yang belum jelas baginya itu kepada sesuatu yang sudah jelas. Contoh yang mudah yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ

Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa [Al-Ikhlas/112:1]

Ayat ini secara gamblang dan jelas menyebutkan bahwa Allâh Azza wa Jalla itu esa (hanya satu), tidak berbilang. Namun dalam ayat lain disebutkan dengan kata ganti yang seakan memberikan kesan lebih dari satu, misalnya firman Allâh Azza wa Jalla :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [Al-Hijr/15:9] dan firman Allâh Azza wa Jalla yang semisalnya.

Ayat pertama hanya memiliki satu makna yaitu Allâh Azza wa Jalla esa, sementara ayat kedua bisa bermakna tunggal dan bisa juga bermakna lebih dari satu. Apakah kita tetap bingung dengan ayat yang kedua ataukah makna yang kedua dikembalikan ke makna ayat pertama ? Jawabnya kita kembalikan ke makna ayat yang pertama. Inilah metode yang ditempuh oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam.

Yang menjadi dasar kaidah ini adalah keyakinan kaum Muslimin bahwa kalamullah dan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang bertentangan. Tentang kalâmullâh, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’ân ? kalau sekiranya al-Qur’ân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisa’/4:82]

Sedangkan tentang sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[an-Najm/53:3-4]

Jadi kesimpulannya, tidak ada pertentangan pada keduanya.[2]

Kaidah di atas terkadang diungkapkan dengan bahasa lain yaitu sesuatu yang masih diragukan tidak bisa menolak (menghilangkan) sesuatu yang sudah diketahui pasti dan sesuatu yang tidak diketahui tidak bisa menandingi sesuatu yang sudah yakini.

Ketika Allâh Azza wa Jalla memberitakan tentang orang yang mendalam ilmunya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa diantara metode mereka dalam menyelesaikan hal-hal yang belum jelas yaitu mereka mengatakan :

اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami [Ali Imran/3:7]

Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman bin Nashir as-sa’di rahimahullah mengatakan bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya itu mengimani ayat-ayat mutasyabihât itu dan mereka mengembalikan pengertiannya kepada yang ayat muhkam sambil mengatakan, ‘Semua ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih itu datangnya dari Rabb kami. Dan semua yang datang dari Rabb, tidak akan ada yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, semua sejalan, sebagiannya membenarkan sebagian yang lainnya dan  saling mendukung.”[3]

Jadi perkara-perkara yang muhkamah menjadi pegangan untuk memahami perkara-perkara yang masih samar dan masih dalam bentuk dugaan-dugaan. Allâh Azza wa Jalla mengingatkan kaum Muslimin agar tidak mencela kaum Muslimin lainnya :

لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [an-Nûr/24:12]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin agar mengembalikan hal-hal yang masih bersifat praduga kepada apa yang sudah mereka ketahui pasti yaitu saudara-saudara mereka itu masih memiliki keimanan yang bisa membantu dia menangkal semua keburukan. Hendaklah mereka memegang hal yang sudah pasti ini dan tidak memperdulikan perkataan orang-orang yang menafikan ataupun mencelanya. (Dengan demikian dia akan terhindar dari berburuk sangka kepada sesama Mukmin dan tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita tentang saudaranya sesama Muslim-red.)

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allâh membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allâh.  [Al-Ahzab/33:69]

Kedudukan Nabi Musa Alaihissallam yang terhormat disisi Allâh Azza wa Jalla mampu menolak semua aib dan kekurangan yang dinisbatkan kepadanya Alaihissallam oleh orang-orang yang ingin mengganggu dan menyakiti beliau Alaihissallam. Karena seseorang yang tidak akan mendapatkan kedudukan terhormat disisi Allâh Azza wa Jalla sampai dia benar-benar bersih dari kekurangan dan berhias dengan perhiasan kesempurnaan yang sesuai dengan sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh para nabi yang masuk dalam Ulul azmi. Allâh Azza wa Jalla mengingatkan umat ini agar tidak menempuh jalannya orang-orang yang menyakiti dan mengganggu nabi Musa Alaihissallam padahal beliau Alaihissallam memiliki kedudukan terhormat disisi Allâh Azza wa Jalla . Jika mereka menempuh jalan itu, berarti mereka telah menyakiti salah seorang rasul termulia dan tertinggi kedudukannya disisi Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. [Yûnus/10:32]

Juga berfirman :

وَيَرَى الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّۙ وَيَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Rabb yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [Saba’/34:6]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari al-Qawâ’idul Hisân, kaidah ke-67
[2] Sampai disini penjelesan Syaikh Khalid al-Musaiqih terhadap kaidah ke-67 ini
[3] Tafsir Taisir al-Karimir Rahman

Kiat Sukses Dari al-Qur’an

KIAT SUKSES DARI AL-QUR’AN

يُرْشِدُ اللهُ عِبَادَهُ فِي كِتَابِهِ مِنْ جِهَةِ الْعَمَلِ إِلَى قَصْرِ نَظْرِهِمْ عَلَى الْحَالَةِ الْحَاضِرْةِ الَّتِي هُمْ فِيْهَا وَمِنْ جِهَةِ التَّرْغِيْبِ فِي الأَمْرِ وَالتَّرْهِيْبِ مِنْ ضِدِّهِ إِلِى مَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنَ الْمَصَالِحِ، وَ مِنْ جِهَةِ النِّعَمِ إِلَى النَّظْرِ إِلَى ضِدِّهَا

Dalam al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla memberikan tuntunan kepada para hamba-Nya dalam masalah pekerjaan agar fokus pada pekerjaan waktu itu; Dalam rangka motivasi untuk melakukan sesuatu dan menghindari lawannya (Allâh Azza wa Jalla menuntunkan) agar melihat efek positif yang akan timbul; Sedangkan dalam masalah kenikmatan (Allâh Azza wa Jalla menuntun para hamba-Nya) agar melihat kepada lawan dari kenikmatan tersebut[1]

Ini termasuk kaidah penting dan sangat bernilai yang ditunjukkan oleh banyak ayat dalam al-Qur’an. Kaidah ini berisikan managemen terbaik untuk meningkatkan hasil pencapaian dari suatu aktivitas. Kaidah singkat ini berisikan tiga unsur :

  1. Dalam masalah pekerjaan, Allâh Azza wa Jalla memberikan tuntunan kepada para hamba-Nya agar fokus pada pekerjaan waktu itu
  2. Dalam rangka memotivasi untuk melakukan sesuatu dan menghindari lawannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada para hamba-Nya agar melihat hasil positif yang akan diraih
  3. Dalam masalah kenikmatan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada para hamba-Nya agar melihat dan memperhatikan keadaan yang berlawanan dengannya

Fokus Pada Pekerjaan Waktu Itu
Setiap orang memiliki aktivitas yang ingin dikerjakan dengan baik dan meraih hasil maksimal. Namun karena terlalu banyak, terkadang seseorang bingung, mana pekerjaan yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya ?  Satu pekerjaan belum tuntas, pekerjaan berikutnya sudah menunggu. Akibatnya, hampir bisa dipastikan yaitu kurang konsen yang berefek pada hasil dan pekerjaan berikutnya.

Lalu bagaimanakah kiat mengatasi problem ini ? Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullah memberikan kiat penting yaitu untuk mencapai hasil maksimal, kita harus fokus pada pekerjaan waktu itu. Kiat ini beliau rahimahullah simpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an. Beliau rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang sibuk dengan pekerjaan yang merupakan pekerjaannya saat itu, dia fakus padanya, lahir dan bathin, maka dia akan meraih sukses dan pekerjaan itu akan bisa selesai dengan baik. Namun jika saat itu, dia melirik atau jiwanya menginginkan pekerjaan lain yang belum waktunya, maka semangatnya akan berkurang dan konsentrasi buyar. Sehingga perhatiannya kepada pekerjaan lain akan mengurangi kemampuannya menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan mengurangi konsentrasi. Yang pada gilirannya, saat waktu pekerjaan yang diinginkan itu datang, justru semangatnya melemah. Bahkan terkadang, pekerjaan berikutnya sangat tergantung pada pekerjaan pertama. (sehingga jika yang pertama kurang maksimal atau gagal), berarti dia akan kehilangan keduanya. Berbeda dengan orang yang berkonsentrasi dan fokus pada pekerjaannya saat itu, ketika waktu perkejaan berikutnya tiba, dia sudah siap, semangat dan menyambutnya dengan penuh suka. Sehingga pekerjaan pertamanya menjadi pendukung bagi pekerjaan berikutnya. Diantara landasan kesimpulan ini yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang) ! Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allâh, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata, “Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan kami berperang ?[an-Nisa’/4:77]

Perhatkanlah keadaan orang-orang yang diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam ayat di atas. (Mereka ingin sekali memerangi orang-orang kafir, padahal saat itu belum waktunya. Saat itu, mereka baru diwajibkan mendirikan shalat dan menunaikan zakat[2]). Ketika kewajiban berperang itu tiba, mereka justru melemah dan semangat mereka lenyap.

Semisal dengan ayat di atas yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَلْقَوْهُۖ فَقَدْ رَاَيْتُمُوْهُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya. [Ali Imran/3:143]

Masalah ini dijelaskan dengan gamblang dalam firman-Nya :

وَلَوْ اَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ اَنِ اقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ اَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ مَّا فَعَلُوْهُ اِلَّا قَلِيْلٌ مِّنْهُمْ ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهٖ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَاَشَدَّ تَثْبِيْتًاۙ

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) [an-Nisa’/4:66]

Begitu juga dengan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ – فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ  -فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allâh, “Sesungguhnya jika Allâh memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan kami pasti kami termasuk orang-orang yang shalih. Maka setelah Allâh memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allâh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allâh [at-Taubah/9:75-77]

Dalam ayat-ayat ini Allâh Azza wa Jalla memerintahkan pada hamba-Nya untuk menjadi orang pada zamannya dan melakukan sesuatu yang menjadi pekerjaannya kala itu.[3]

Namun ini jangan diartikan bahwa kita tidak boleh memiliki rencana di masa yang akan datang. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga punya perencanaan. Hanya saja, jangan sampai apa yang akan datang itu melalaikan kita dari pekerjaan yang sedang kita lakukan.

Melihat Hasil Positif Yang Akan diraih
Pada uraian di atas dijelaskan bahwa diantara tuntunan Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya agar bisa meraih sukses yaitu fokus pada pekerjaan yang sedang dilakukannya atau yang menjadi kewajibannya pada waktu itu. Adapun terkait dengan masalah-masalah yang akan datang, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk melihat dampak positif dan negatif yang akan dihasilkannya dari apa yang dia lakukan saat ini. Sehingga bisa menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan menghindari yang berbahaya.

Disini kita harus jeli membedakan antara sibuk memperhatikan pekerjaan yang belum waktunya untuk dikerjakan dengan merenungi ganjaran atau dampak positif dari pekerjaan yang sedang kita lakukan. Perhatikanlah firman Allâh Azza wa Jalla berikut ini :

وَلَا تَهِنُوْا فِى ابْتِغَاۤءِ الْقَوْمِ ۗ اِنْ تَكُوْنُوْا تَأْلَمُوْنَ فَاِنَّهُمْ يَأْلَمُوْنَ كَمَا تَأْلَمُوْنَ ۚوَتَرْجُوْنَ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا يَرْجُوْنَ

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allâh apa yang tidak mereka harapkan.[an-Nisa’/4:104]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memberikan motivasi kepada kaum Muslimin untuk tidak lemah dihadapan para musuh. Allâh Azza wa Jalla mengingatkan bahwa para musuh itu juga bisa merasakan sakit sebagaimana kaum Muslimin. Namun rasa sakit ini berakhir dengan sesuatu yang berbeda. Rasa sakit mereka hanya dalam rangka meraih dunia yang tidak kekal sementara rasa sakit yang dirasakan kaum Muslimin akan berbuah dunia dan akhirat. Jika ini dipahami dengan baik, maka kaum Muslimin akan termotivasi untuk melakukan pekerjaan yang dibebankan saat ini.

Perhatikanlah Kondisi sebaliknya
Diantara bukti kasih sayang Allâh kepada hamba-Nya, Allâh Azza wa Jalla memberikan berbagai kenikmatan dan berjanji akan menambah kenikmatan tersebut jika mereka bersyukur. Tidak hanya itu, Allâh Azza wa Jalla juga memberikan kiat agar bisa bersyukur yaitu dengan melihat lawan dari kenikmatan tersebut. Ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an. Misalnya, Allâh Azza wa Jalla mengingat hamba-Nya akan nikmat Allâh Azza wa Jalla berupa nikmat Islam yang membuahkan berbagai kenikmatan lain. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Sungguh Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[Ali Imrân/3:164]

Juga firman-Nya :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allâh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allâh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allâh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allâh, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allâh menyelamatkan kamu dari padanya.[Ali Imrân/3:103]

Demikianlah tuntunan Allâh Azza wa Jalla terkait dengan aspek ini. Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua sehingga tetap istiqâmah di atas jalan-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Diangkat dari al-Qawa’idul Hisaan, Syaikh Abdurrahman Nasir as-Sa’di, kaidah ke-41
[2] Lihat syarah Syaikh Khalid al-Musyaiqih terhadap kaidah ini)
[3] Selesai perkataan Syaikh Abdurrahman Nashir dengan terjemahan bebas

Meraih Cinta Allah Azza wa Jalla Dengan Al-Qur’an

MERAIH CINTA ALLAH AZZA WA JALLA DENGAN AL-QUR’AN

Sesungguhnya di antara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca al Qur`an dengan khusyu’ dan berusaha memahaminya. Sehingga tidak mengherankan, apabila kedekatan dengan al Qur`an merupakan perwujudan ibadah yang bisa mendatangkan cinta Allah, apabila Allah telah menghendaki dengan hikmahNya.

Para salafush-shalih, ketika membaca al Qur`an, mereka sangat menghayati makna ini. Sehingga ketika membaca al Qur`an, seolah-olah seperti seorang perantau yang sedang membaca sebuah surat dari kekasihnya.

Al  Hasan al Basri berkata,”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap al Qur`an adalah surat-surat dari Rabb mereka. Pada malam hari, mereka selalu merenunginya, dan akan berusaha mencarinya pada siang hari.”[1]

Seandainya kita berpikir, sungguh ini merupakan keistimewaan yang luar biasa. Allah Yang Maha Besar, Maha Tinggi, Raja Diraja, mengkhususkan khitab (pembicaraan) dan kalamNya untuk manusia yang penuh dengan kelemahan ini. Allah memberikan kepada mereka kemuliaan untuk berbicara, berkomunikasi denganNya.

Al Imam Ibnul Jauzi berkata,”Seseorang yang membaca al Qur`an, hendaknya melihat bagaimana Allah berlemah-lembut kepada makhlukNya dalam menyampaikan makna perkataanNya ke pemahaman mereka. Dan hendakya ia menyadari, apa yang ia baca bukan perkataan manusia. Hendaknya ia menyadari keagungan Dzat yang mengucapkannya, dan hendaknya ia merenungi perkataanNya.”[2]

Ibnu Shalah berkata,”Membaca al Qur`an merupakan sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada hambaNya. Dan terdapat dalam riwayat, bahwa para malaikat tidak mendapat kemuliaan ini, tetapi mereka sangat antusias untuk mendengarkannya dari manusia.”[3]

Kemuliaan ini akan lebih sempurna apabila disertai keikhlasan. Karena ikhlas -sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi- merupakan kewajiban utama bagi pembaca al Qur`an. Dan seharusnya ia menyadari, bahwa dirinya sedang bermunajat kepada Allah.[4]

Perhatikanlah, wahai saudaraku!

Allah telah memberikan izin kepadamu untuk bermunajat kepadaNya. Dengan demikian, berarti Allah telah memberikan rahasia cintaNya kepadamu. Dan al Qur`an, merupakan bukti kecintaanNya. Karena al Qur`an memberikan petunjuk tentang Allah dan yang dicintaiNya. Maka, tentu cinta kepadaNya merupakan jalan hati dan akal untuk mengetahui sifat-sifat Allah dan hal-hal yang dicintaiNya. Melalui al Qur`an, kita bisa mengetahui nama-namaNya, apa yang layak dan yang tidak layak bagiNya, serta (mengetahui) secara rinci syari’at yang diperintahkan dan yang dilarang Allah, dan mengantarkan seseorang menuju cinta dan ridhaNya.

Oleh karena itu, ada di antara para sahabat berusaha untuk mendapatkan kecintaan Allah dengan membaca satu surat. Dia renungi dan dia cintai; yaitu surat al Ikhlash, yang mengandung sifat-sifat Allah. Dia selalu membacanya dalam shalat yang ia lakukan. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab : “Karena ia merupakan sifat Allah, dan aku sangat suka menjadikannya sebagai bacaan”. Mendengar jawaban itu, Nabi bersabda :

أَخْبِرُوهُ أَنَّ الله يُحِبُّهُ

Beritahukan kepadanya, bahwa Allah mencintainya.[5]

Orang yang mencintai al Qur`an, mestinya cinta kepada Allah Azza wa Jalla , karena sifat-sifat Allah terdapat di dalam al Qur`an. Dan semestinya, ia juga cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliaulah yang menyampaikan al Qur`an.

‘Abdullah bin Mas’ud berkata,”Barangsiapa yang mencintai al Qur`an, maka ia akan cinta kepada Allah dan RasulNya.”[6]

Bukti terbesar cinta kepada al Qur`an, yaitu seseorang berusaha untuk mehamami, merenungi  dan memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, bukti kelemahan cinta kepada al Qur`an atau tidak cinta sama sekali, yaitu berpaling tidak merenungi maknanya. Allah Azza wa Jalla mencela orang munafik, karena tidak merenungi al Qur`an dengan firmanNya :

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur`an? Sekiranya al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka sudah mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya. [an Nisaa`/4 : 82] .

Mentadabburi al Qur`an dapat mengobati berbagai macam penyakit hati, membersihkannya dari kotoran, serta dapat memberikan jawaban dan bantahan terhadap syubhat yang dibawakan setan, manusia, dan jin. Berbeda dengan orang munafik, karena enggan merenungi al Qur`an dan tidak mencari petunjuk darinya, maka hati mereka sakit, penuh penyakit syubhat dan syahwat, sebagaimana firman Allah :

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. [al Baqarah/2 : 10].

Jadi, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia untuk mentadabburi al Qur`an, pada hakikatnya Allah Azza wa Jalla mengajak untuk mengobati hati mereka dari berbagai macam penyakit yang membahayakan.

Tadabbur al Qur`an, juga merupakan cara untuk mengetahui kewajiban-kewajiban agama yang telah dibebankan Allah kepada para hamba. Imam al Qurthubi berkata,”Ayat ini -an Nisaa`/4 ayat 82- dan juga firmanNya

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

(Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur`an ataukah hati mereka terkunci-Muhammad/47 ayat 24) menunjukkan wajibnya mentadaburi al Qur`an supaya dapat mengetahui maknanya.[7]

Juga, kemuliaan lain yang dimiliki oleh orang yang mentadaburi al Qur`an yaitu, kebaikan yang dijanjikan oleh Rasululah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari jalan sahabat ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur`an dan mengajarkanya.[8]

Seseorang yang membaca al Qur`an, hendaknya berusaha untuk memahami setiap ayat yang ia baca. Karena dengan merenungi dan memahaminya, serta mengulanginya, seseorang akan bisa merasakan nikmatnya al Qur`an.

Bisyr bin as Sura berkata,”Sesungguhnya ayat al Qur`an ibarat buah kurma. Setiap kali engkau kunyah, maka engkau akan merasakan manisnya,” kemudian perkataan ini diceritakan kepada Abu Sulaiman, dan dia berkata,”Benar! Maksudnya, apabila salah seorang mulai membaca satu ayat, maka ia ingin segera untuk membaca yang berikutnya.” [9]

Al Qur`an akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Orang yang menjaganya, berarti ia telah membawa panji agama Islam, sebagaimana dikatakan oleh al Fudhail bin Iyad : “Hamilul Qur`an  adalah pembawa panji Islam. Tidak layak baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa, sebagai wujud mengagungkan Allah”. [10]

Orang yang menjunjung tinggi al Qur`an, maka dialah yang berhak mendapatkan kemuliaan membawa panji Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kalian tidak memahaminya [al Anbiyaa`/21 : 10].

Dalam menafsirkan kata ذِكْرُكُمْ, ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata,”Maksudnya, di dalamnya terdapat kemuliaan kalian.”[11]

Allah juga berfirman :

وَاِنَّهٗ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۚوَسَوْفَ تُسْٔـَلُوْنَ

(Dan sesungguhnya al Qur`an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kalian akan diminta pertanggungan jawab. -az Zukhruf/43 ayat 44- maksudnya adalah, (al Qur`an) merupakan kemuliaan bagimu dan bagi mereka, apabila mereka menegakkan hak-haknya.[12]

Rasulullah juga memberitahukan tentang ketinggian derajat Ahlul Qur`an. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab (al Qur`an) ini dan  menghinakan yang lain.[13]

Oleh karena itu, merupakan keharusan bagi orang yang membaca al Qur`an untuk tidak seperti orang kebanyakan. ‘Abdullah bin Mas’ud berkata,“Hamilul Qur`an itu mestinya dikenal dengan malamnya saat manusia lain sedang tidur. Dikenal siangnya dengan berpuasa, saat manusia tidak puasa. Dikenal dengan kesedihannya ketika manusia senang, dengan tangisnya ketika manusia tertawa, dengan diamnya ketika manusia berbicara, dan dengan khusyu’nya ketika manusia dalam keadaan sombong.”[14] Demikian ini merupakan sifat mulia yang harus dimiliki oleh Hamilul Qur`an.

Begitu pula orang yang mencintai al Qur`an, hendaknya tidak membanggakan diri, tertipu dan sombong kepada orang lain dengan kemuliaan yang Allah limpahkan kepadanya. Allah berfirman :

قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ ۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۚ

Katakanlah : “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karuniaNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. [Ali Imran/3:73]

Ibnul Jauzi berkata,”Seseorang hendaknya tidak membanggakan kemampuan dan kekuatan dirinya. Hendaknya tidak memandang dirinya dengan perasaan puas dan menganggap dirinya bersih. Orang yang memandang dirinya penuh kekurangan, akan mengantarkannya semakin dekat denganNya.”[15]

Merasa kurang, bukan berarti kemudian tidak menyadari nikmat Allah atau tidak boleh menceritakan nikmat itu, karena sebagai wujud rasa syukur.

Hamilul Qur`an (penghapal) berada dalam kenikmatan yang tiada bandingannya, jika dia mengamalkannya. ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata,”Wahai Qurra` (para pembaca al Qur`an), angkatlah kepala-kepala kalian. Sungguh, jalan telah dijelaskan buat kalian, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan, dan janganlah kalian menjadi beban bagi manusia.”[16]

Az Zarkasyi berkata,”Ketahuilah, seseorang yang Allah ajarkan padanya al Qur`an, baik seluruhnya atau sebagian, hendaknya menyadari kedudukan nikmat ini. Yakni, al Qur`an merupakan mukjizat terbesar, karena ia senantiasa eksis dengan keberadaan dakwah Islam. Dan juga, karena Rasulullah merupakan penutup para nabi dan rasul. Jadi, hujjah al Qur`an akan senantiasa ada di setiap zaman dan waktu, karena al Qur`an merupakan kalamullah dan kitabNya yang paling mulia. Maka, orang yang dianugerahi al Qur`an hendaknya memandang, bahwa Allah Azza wa Jalla telah memberikan nikmat yang agung kepadanya. Hendaknya dia menyadari dengan perbuatannya, bahwa al Qur`an akan membelanya, dan bukan justru menuntutnya.[17]

Sebagaimana juga, ia harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya, mengumpulkan dalam dirinya yang dapat menyebabkan hati menjadi hidup. Mungkin ada yang bertanya, bagaimanakah cara memaksimalkan dalam mengambil pelajaran dari al Qur`an?

Ibnul Qayyim menjelaskan dalam kitabnya, al Fawaid, beliau t menyatakan :
“Apabila engkau hendak mengambil pelajaran dari al Qur`an, maka konsentrasikanlah hatimu ketika membaca dan mendengarnya, pasanglah telingamu. Jadikanlah dirimu seperti orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang mengucapkannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala , karena al Qur`an merupakan khitab (pembicaraan) yang ditujukan Allah kepadamu melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ

(Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. -Qaaf/50 ayat 37). Karena pengaruh al Qur`an sepenuhnya tergantung dari yang memberi pengaruh, tempat yang bisa menerima pengaruh, terpenuhi syarat-syaratnya, dan tidak ada yang menghalangi. Maka ayat di atas menjelaskan tentang semua itu dengan ungkapan yang ringkas namun jelas, dan mewakili maksudnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى

(Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan), (ini merupakan) isyarat kepada ayat-ayat yang telah lewat dari awal surat sampai ayat ini. Inilah muatstsir (yang memberikan pengaruh).

Dan firmanNya :

لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ

(bagi orang-orang yang mempunyai hati) adalah, tempat yang bisa menerima pengaruh tersebut. Yaitu hati yang hidup yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaiamana Allah Azza wa Jalla berfirman :

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا

[Al Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) –Yasin/36 ayat 69, 70], yaitu yang hatinya hidup.

Sedangkan firman Allah :

اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ

(atau yang menggunakan pendengarannya), maknanya, orang yang mengarahkan pendengaran dan memusatkan indera pendengarannya kepada ucapan yang diarahkan kepadanya. Ini merupakan syarat bisa terpengaruh dengan ucapan.

Adapun firmanNya :

وَهُوَ شَهِيْدٌ

dan dia menyaksikannya), maknanya, hatinya hadir, tidak lalai. Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata,”Yakni, dia mendengarkan al Qur`an dengan penuh perhatian, tidak dengan hati yang lalai lagi lupa. Ini menunjukkan adanya penghalang dari mendapatkan pengaruh, yaitu kelalaian hati tidak merenungi, tidak memikirkan, serta tidak melihat apa yang dikatakan kepadanya.

Apabila ada yang memberikan pengaruh -yaitu al Qur`an- (maka) ada tempat yang bisa menerima pengaruh –yaitu hati yang hidup- dan syaratnya ada -yaitu mendengarkan- serta tidak ada penghalang -yaitu sibuknya hati dengan yang lainya- maka pengaruh itu, pasti akan timbul. Itulah perwujudan dalam memanfaatkan al Qur`an dan mengambil pelajaran darinya”.[18]

Setelah itu, hendaknya ia bersiap-siap untuk mengamalkanya. Karena ilmu mengajak pemiliknya agar mengamalkannya. Jika diamalkan, ilmu akan terjaga. Jika tidak, maka ilmu itu akan hilang.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad berkata,”Sebagian salafush shalih mengatakan, sesungguhnya al Qur`an turun supaya diamalkan. Maka jadikanlah membaca al Qur`an sebagai wujud pengamalannya. Oleh karena itu, Ahlul Qur`an adalah orang yang memahami al Qur`an dan mengamalkan yang terkandung di dalamnya, walaupun ia tidak menghafalkannya. Sedangkan orang yang menghafalnya namun tidak memahaminya, serta tidak mengamalkan kandungannya, maka dia bukan Ahlul Qur`an, meskipun dia mendudukkan huruf-hurufnya sebagaimana mendudukan busur panahnya (artinya, sangat perhatian terhadap huruf-hurufnya, red).[19]

Oleh karena itu apabila seseorang ingin mendapatkan kecintaan dari Allah, maka hendaklah ia memiliki perhatian yang besar kepada al Qur`an, berusaha membacanya, merenugi dan mengamalkanya. Jika kita sudah bertekad untuk mengambil pelajaran darinya, maka hendaklah kita mengamalkan adab-adab berikut.

ADAB-ADAB MEMBACA AL QUR`AN
Imam an Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, at Tibyan, (tentang) beberapa adab-adab dan hukum saat membaca al Qur`an. Di antaranya adalah :

  1. Ikhlas, hanya mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla dan menyadari bahwasannya ia sedang berkomunikasi dengan Allah.
  2. Membersihkan mulutnya dengan siwak atau sejenisnya.
  3. Bagi orang yang junub dan haid, diharamkan membaca al Qur`an, baik semuanya atau sebagiannya, kecuali apabila bacaan tersebut merupakan salah satu dzikir pagi dan petang, atau dzikir secara mutlak yang disunnahkan bagi seseorang untuk membacanya.[20]
  4. Seseorang yang membaca al Qur`an, hendaklah membacanya di tempat yang bersih dan lebih utama melakukannya di masjid. Karena di masjid, kebersihan dan kemuliaan tempat menyatu.
  5. Ketika membaca al Qur`an, hendaknya menghadap kiblat, kemudian duduk dengan tenang. Dan boleh membaca al Qur`an dengan duduk atau dengan merebahkan badan. Tetapi, cara yang pertama lebih utama.
  6. Apabila memulai membaca al Qur`an, disunnahkan membaca ta’awudz disertai dengan membaca Basmalah di setiap awal surat, kecuali surat Bara’ah (At Taubah). Demikian ini yang dikatakan jumhur
  7. Konsentrasi saat membacanya.
  8. Menghadirkan perasaan takut kepada Allah Azza wa Jalla saat membacanya.
  9. Membacanya dengan tartil. Dan para ulama telah sepakat tentang sunnahnya tartil, berdasarkan firman Allah :

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

Dan bacalah al Qur`an itu dengan tartil (perlahan-lahan). [al Muzammil/73:4].

Dan karena membaca dengan tartil lebih menghargai dan lebih memberikan pengaruh dibandingkan membacanya dengan cepat.

  1. Disunnahkan meminta karunia dari Allah saat selesai membaca ayat-ayat tentang rahmat Allah Azza wa Jalla , memohon perlindungan dari siksa apabila selesai membaca ayat-ayat tentang adzab, dan bertasbih kepada Allah apabila melewati ayat-ayat tentang pensucian Allah Azza wa Jalla .
  2. Menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi sikap hormat terhadap al Qur`an, seperti tertawa pada saat membacanya, melakukan perbuatan sia-sia, menjadikannya sebagai bahan perdebatan, atau perbuatan lainya yang bisa mengurangi keagungan al Qur`an. Berdasarkan firman Allah :

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakan al Qur`an, maka hendaklah kalian dengarkan baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang, semoga kalian mendapat rahmat. [al A’raf/7:204].

  1. Tidak boleh membaca al Qur`an dengan selain bahasa Arab, sekalipun bahasa Arabnya fasih, ataupun sama sekali tidak bisa, baik dalam shalat ataupun di luar shalat.
  2. Tidak boleh membaca al Qur`an, kecuali dengan qira’at as sab’ah (bacaan tujuh) yang mutawatir. Dan hendaknya tidak mencampur-adukkan bacaan yang tujuh tersebut selama dalam satu pembahasan.
  3. Hendaknya membaca sesuai dengan urutan yang ada dalam mushaf, baik saat shalat ataupun yang lainnya.
  4. Membaca al Qur`an dengan cara melihat mushaf lebih utama, dibanding membacanya dengan cara menghafal, tentunya di luar shalat. Karena melihat kepada mushaf, merupakan ibadah yang diperintahkan, kecuali apabila orang yang membaca al Qur`an dengan hafalannya merasa lebih khusyu’.
  5. Disunnahkan membuat halaqah dalam membaca dan mempelajari al Qur`an, berdasarkan sabda Rasulullah :

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah, membaca al Qur`an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan. Mereka akan diselimuti rahmat, dan Allah akan menyebut (menceritakan) mereka kepada para malaikat yang ada di sisiNya.[21]

  1. Disunnahkan membaca dengan mengeraskan suara, selama tidak khawatir riya’ dan tidak mengganggu orang lain. Karena mengeraskan suara bisa mengggugah hati, memusatkan hati, serta memusatkan pendengaran ke konsentrasi untuk merenungi bacaan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ.

Tidaklah Allah mengizinkan sesuatu kepada seorang nabi seperti izinnya untuk memperbagus suara  dan mengeraskannya ketika membaca al Qur`an.

  1. Ketika membaca al Qur`an, disunnahkan untuk memperbagus suara, sebagaimana sabda Rasulullah :

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah al Qur`an dengan suaramu. [22]

  1. Disunnahkan minta dibacakan al Qur`an dari orang yang bersuara bagus, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada ‘Abdullah bin Mas’ud z :

اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ قُلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي قَالَ فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا قَالَ لِي كُفَّ أَوْ أَمْسِكْ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ

“Bacakanlah Aku (al Qur`an)!” Dia mengatakan : Aku berkata,”Apakah aku membacakanmu al Qur`an, padahal ia diturunkan kepadamu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Sesungguhnya aku senang mendengarnya dari orang lain.” Dia mengatakan : Aku berkata,”Lalu aku membaca surat an Nisaa`, saat sampai pada ayat

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku : “Cukuplah!” Lalu aku melihat kedua mata beliau berlinang. [23]

  1. Dimakruhkan membaca al Qur`an pada kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika ruku`, sujud, dan yang lainya ketika sedang shalat, kecuali saat berdiri. Dan bagi makmum, dimakruhkan membaca al Qur`an lebih dari surat al Fatihah apabila dia mendengar bacaan imam. Juga makruh membaca al Qur`an dalam keadaan mengantuk dan ketika sedang mendengarkan khutbah.
  2. Dilarang mengkhususkan membaca surat-surat tertentu pada saat-saat tertentu, kecuali jika ada dalil yang menjelaskannya, seperti mengkhususkan membaca surat-surat yang ada ayat sajdahnya pada waktu Subuh hari Jum’at selain surat Sajdah, atau membaca surat al An’am pada raka’at terakhir shalat tarawih pada malam ketujuh dengan diiringi keyakinan bahwa itu sunnah.
  3. Apabila ada seseorang yang memberikan salam kepada orang yang sedang membaca al Qur`an, hendaklah ia hentikan bacaannya dan menjawab salam tersebut. Apabila ia mendengar orang yang bersin mengucapkan alhamdulillah, maka hendaknya ia menjawabnya dengan mengatakan Demikian pula apabila ia mendengar adzan, maka hendaknya ia hentikan dan menjawab adzan yang dikumandangkan.
  4. Disyari’atkan untuk bersujud apabila melewati ayat-ayat sajdah

BAHAYA BERPALING DARI AL QUR`AN
Apabila membaca al Qur`an termasuk salah satu faktor yang akan mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba, maka sebaliknya, berpaling dari al Qur`an merupakan salah satu faktor yang akan mendatangkan murka Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan kepada Allah Azza wa Jalla , orang yang meninggalkan dan berpaling dari al Qur`an, sebagaimana difirmankan Allah :

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Rasul berkata : “Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. [al Furqan/25 : 30].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Apabila mereka dibacakan al Qur`an, mereka banyak berbuat gaduh dan sibuk dengan perkataan yang lain, sehingga mereka tidak mendengarkan bacaan al Qur`an. Ini merupakan perbuatan berpaling dari al Qur`an. Tidak mengimani dan tidak membenarkannya, juga termasuk hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an). Tidak merenungi dan berusaha memahaminya, termasuk hajrul Qur`an. Cenderung kepada yang lainya, seperti syair, nyanyian, perbuatan sia-sia, perkataan dan jalan hidup yang tidak bersumber dari al Qur`an, juga termasuk berpaling dari al Qur`an.”[24]

Dari sini kita bisa memahami, berpaling dari al Qur`an itu bermacam-macam bentuknya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga dirinya agar tidak terjerumus dalam salah satu perbuatan tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an) itu ada beberapa bentuk.

  • Pertama, berpaling tidak mau mendengarkannya, dan tidak mengimaninya.
  • Kedua, tidak mengamalkannya, dan tidak berhenti pada apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkannya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.
  • Ketiga, tidak berhukum dengannya dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya.
  • Keempat, tidak merenungi dan tidak memahami, serta tidak mencari tahu maksud yang diinginkan oleh Dzat yang mengatakannya.
  • Kelima, tidak mengobati semua penyakit hatinya dengan al Qur`an, tetapi justru mencari obat dari selainnya. Semua perbuatan ini termasuk dalam firman Allah Azza wa Jalla :

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Rasul berkata : “Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. [al Furqan/25 : 30].[25]

Ini semua merupakan perbuatan hajr terhadap al Qur`an. Ditambah lagi dengan meng-hajr bacaan. Artinya, dia tidak mau membaca al Qur`an.

Fenomena seperti ini merebak di tengah masyarakat, seperti meletakkan al Qur`an pada tempat-tempat tertentu untuk bertabarruk (mendapatkan barakahnya saja), meletakkan di salah satu pojok rumah, di bagian belakang atau di depan kendaraan sampai tertutup debu. Ini menunjukkan telah menghajr al Qur`an (tidak mempedulikan dan tidak pernah membacanya), sekaligus hal ini merupakan perlakukan yang buruk terhadap al Qur`an.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,”Barangsiapa yang memiliki mushaf, maka hendaklah membacanya setiap hari walaupun beberapa ayat, supaya mushaf itu tidak seperti ditinggalkan.”

Demikian ini merupakan tingkatan seseorang yang meninggalkan al Qur`an serta beberapa keadaan mereka. Adapun keadaan seseorang yang selalu menyertai al Qur`an, maka ikatan hubungan mereka dengan al Qur`an juga bermacam-macam, sesuai tingkat keseriusan yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada mereka.

Para salafush-shalih, selalu menghidupkan hari-hari mereka dengan al Qur`an, sepanjang waktu siang maupun malam. Mereka selalu mempersiapkan hati ketika membaca al Qur`an, sehingga hati mereka selalu terasa hidup dan jauh dari kelalaian.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk Hamilul Qur`an yang memiliki ikatan kokoh dengannya, dan selalu menjadikan al Qur`an sebagai pedoman dan penawar penyakit hati.

(Diringkas dari Syarhul Asbabul ‘Asrah al Mujibah limahabatillah kama ‘addaha ibnul qayyim, Abdul Aziz Musthafa, halaman 13-33, Cet. Ke VIII, 1422 H)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi (07-08)/Tahun X/1427/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur`an, Imam an Nawawi, halaman 28.
[2] Mukhtasar Minhajul Qasidin, halaman 46.
[3] Al Itqan fi Ulumil Qur`an, 1/291, karya Imam as Suyuthi.
[4] At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur`an, Imam an Nawawi, halaman 38
[5] Diriwayatkan Imam al Bukhari, no. 7375; Fat-hul Bari, 13/360, dan Imam Muslim, 1/557 (813)
[6] At Thabrani, no.  8658; al Haitsami berkata,”Para perawinya tsiqah.”
[7] Tafsir al Qurthubi, 5/290.
[8] Diriwayatkan Imam al Bukhari, no. 5027; Fat-hul Bari, 8/692.
[9] Al Burhan fi ‘Ulumil Qur`an, Imam az Zarkasyi, tahqiq Muhammad Abul Fadl Ibrahim, 1/471.
[10] Mukhtasar Minhajul Qasidin, halaman 45.
[11] Tafsir Ibnu Katsir, 5/327.
[12] Tafsir Jalalain, Jalaluddin al Mahalli dan Jalaluddin as Suyuthi, halaman 599, Cet. Darur-Rayyan, Mesir.
[13] Imam Muslim, no. 269 (1/559).
[14] Sifatush-Shafwah, Imam Ibnul Jauzi, 1/172
[15] Mukhtasar Minhajul Qasidin, halaman  47.
[16] At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur`an, halaman 27.
[17] Al Burhan fi Ulumil Qur`an, 1/449.
[18] Al Fawaid Ibnul Qayyim, halaman 3.
[19] Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 1/338, Cet. Muasasah ar Risalah.
[20] Dalam masalah ini terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. (redaksi).
[21] Diriwayatkan Abu Dawud, no. 1455 (148/2); dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1291 (1/142); dan at Tirmidzi, no. 2946 (8/142), Ibnu Majah dalam Muqaddimah-nya, no. 225 (1/82), Ahmad, 2/252, no. 407
[22] Riwayat Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, no. 7544; Fat-hul Bari, 3/527.
[23] Riwayat Imam al Bukhari, no. 5055; Fat-hul Bari, 8/717 dan Imam Muslim, no. 700 (551/1).
[24] Tafsir Ibnu Katsir, 3/306.
[25] Al Fawaid Ibnul Qayyim al Jauziyah, halaman 82.

Kurikulum Tafsir Dasar Bagi Keluarga Muslim

KURIKULUM TAFSIR DASAR BAGI KELUARGA MUSLIM

Oleh
Ustadz Abu Minhal Lc

Di antara karunia agung yang Allâh Azza wa Jalla limpahkan kepada umat Islam adalah diturunkannya Kitâbullâh, Al-Qur`ânil Karîm, yang berfungsi sebagai petunjuk, penyembuh dan cahaya bagi mereka. Sebagaimana terhadap nikmat-nikmat Allâh yang lain, seorang Mukmin akan mensyukuri anugerah Al-Qur`ân. Rasa syukurnya terungkap dengan mengimani Al-Qur`ân dan mengagungkannya, banyak-banyak membacanya, menghafal dan mentadabburinya, serta berusaha keras untuk memahami dengan mempelajarinya dan selanjutnya mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dua Golongan Manusia Terkait Al-Qur`ân
Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan bahwa respon manusia terhadap Al-Qur`an terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang memperoleh manfaat dari Al-Qur`ân dan Al-Qur`ân menjadi hujjah (pembela) baginya di Hari Kiamat dan jalan menuju Allâh Azza wa Jalladan ridha-Nya. Sebagian lain, tidak mendapatkan manfaat dari Al-Qur`ân. Al-Qur`an pun tidak memberikan tambahan bagi dirinya kecuali dosa-dosa dan jarak yang kian jauh darinya. Dan pada Hari Kiamat, Al-Qur`ân menjadi penggugat dirinya. [1]
Peran Strategis Keluarga Muslim Dalam Menanamkan Pentingnya Memahami Al-Qur`ân
Untuk itu, umat Islam wajib memperhatikan fungsi Al-Qur`ân yang Allâh Azza wa Jalla turunkan ke tengah mereka. Fungsi mulia Al-Qur`ân untuk mengentaskan manusia dari kegelapan menuju kehidupan yang bercahaya dengan hidayah Allâh tidak mungkin terwujud kecuali dengan mengamalkan kandungan Al-Qur`ân dan berpegang-teguh dengan bimbingan-bimbingannya dalam seluruh aspek kehidupan. Dan pengamalan Al-Qur`ân juga mustahil tercapai sampai seseorang Mukmin dan Mukminah memahami teks-teks ayat Al-Qur`anil Karim.  Dan inilah yang sebenarnya disebut tilâwah haqqa tilâwatih, yang Allâh firmankan dalam ayat berikut:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang  ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al-Baqarah/2:121]

Maksud ’membacanya dengan bacaan yang sebenarnya’ adalah mengikuti (ajaran)nya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu dan ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu.[2]
Maka, dalam rangka penanaman dan penekanan tentang pentingnya memahami Al-Qur`ân pada diri anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi masa depan sehingga masa depan umat  Islam menjadi lebih baik, keluarga harus memainkan peran  strategisnya sejak  dini kepada anak-anak Muslim, sehingga mereka mencintai Kitâbullâh dan mengagungkannya, memahami ayat-ayat suci Al-Qur`ân dan mengamalkannya. Dengan demikian, anak-anak tidak sekedar bisa membaca Kitâbullâh dengan baik, namun juga mengetahui kandungannya sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Sebab, Allâh Azza wa Jalla telah mencela Ahlul Kitab karena mereka tidak memberikan perhatian besar terhadap kitab suci yang diturunkan kepada mereka.  Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. [Al-Baqarah/2:78].

 Dan salah satu makna firman Allah: (إِلَّا أَمَانِيَّ “kecuali dongengan bohong belaka” ) adalah  (mereka tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat) kecuali sekedar membacanya saja.[3]
Bila umat Islam yang memperoleh anugerah besar berupa kitab suci terbaik sikap mereka sama dengan sikap Ahlul Kitab terhadap kitab suci mereka, hanya sekedar tahu bacaannya, atau sekedar rutin membaca dan menghafalnya saja,  maka celaan yang terarah kepada umat Islam pun akan semakin besar. Semoga Allâh Azza wa Jalla permudah kita memahami Kitab-Nya. Amin.

Orang Tua Belajar Al-Qur`an Dan Mengajarkannya Kepada Anak-Anak
Kewajiban seorang ayah, sebagai kepala rumah tangga, bukan hanya berhubungan dengan pemenuhan nafkah jasmani bagi keluarganya. Akan tetapi, ia jugaberkewajiban membawa keluarga untuk mengerti perkara-perkara agama yang merekabutuhkan.

Imam al-Baihaqi (wafat tahun 458H)  rahimahullah mengatakan dalamal-Jâmi’ li Syu’abil Îmân (11/104), “Cabang iman keenam puluh, adalah (memenuhi hak-hak anak dan istri. Yaitu, seorang kepala rumah tangga memenuhi kebutuhan anak dan istrinya, dan mengajari mereka perkara-perkara agama yang mereka butuhkan”.

Membaca Al-Qur`ân, menghafal dan memahaminya merupakan salah satu aspek yang menuntut perhatian besar dari seorang ayah agar dikuasai oleh anak-anak dan istrinya. Karenanya, orang tua pun tertuntut untuk belajar hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur`ân, seperti ilmu tajwid, cara membaca Al-Qur`ân yang baik dan benar, menghafal surat-surat Al-Qur`ân dan pemahaman terhadap ayat-ayatnya.

‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu anhuma pernah berpesan:

عَلَيْكُمْبِالْقُرْآنِ فَتَعَلَّمُوْهُ وَتُعَلِّمُوْهُ أَبْنَاءَكُمْ. فَإِنَّكُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنْهُ وَتُجْزَوْنَ. وَكَفَى بِهِ وَاعِظًا لِمَنْ عَقِلَ

“Kalian harus memberi perhatian kepada Al-Qur`ân, dengan mempelajarinya dan mengajarkannya kepada anak-anak kalian. Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggung jawaban tentang itu dan memperoleh balasan karenanya. Cukuplah Al-Qur`an menjadi nasehat bagi orang yang berakal”. [HR. Abu ‘Ubaid dalam Fadhâilu Al-Qur`ân hlm.22]

Untuk memotivasi orang tua agar memandang aspek ini penting bagi dirinya dalam menjalankan fungsi sebagai kepala rumah tangga dan sekaligus menjadikannya ladang investasi pahala,  hadits berikut ini sudah sangat cukup untuk memompa semangat orang tua untuk mendalami ilmu-ilmu Al-Qur`an.

Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عُثْــمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : ” خـَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Dari ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`ân dan mengajarkannya”. [HR. Al-Bukhâri no. 5027].

Hadits ini terarah kepada seluruh umat Islam dan mengabarkan bahwa sebaik-baik mereka adalah orang yang memadukan dua hal, belajar Al-Qur`ân dan mengajarkannya. Belajar dan mengajarkan Al-Qur`ân di sini mencakup mengajarkan bacaan-bacaannya dan pengertian-pengertiannya. [4]
Bila orang tua belum mampu mengajarkan bacaan-bacaan Al-Qur`an kepada anak-anaknya, atau belum mampu untuk mengajarkan hafalan kepada mereka, lalu ia masukkan anak-anak ke TPQ atau halaqah Al-Qur`an di masjid-masjid misalnya, maka ia pun masuk dalam bingkai pengertian hadits di atas. [5]
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang hadits di atas,”Ini adalah sifat-sifat orang-orang Mukmin yang mengikuti para rasul. Mereka adalah orang-orang yang sempurna dalam pribadi mereka, yang menyempurnakan keadaan orang lain. Maka, dengan ini, telah dipadukan antara manfaat bagi pribadi dan manfaat bagi orang lain”.[6]
Kurikulum Tafsir Dasar Keluarga Muslim
Jika seorang anak telah mumayyiz, mulailah pengajaran Al-Qur`ân kepadanya sedikit demi sedikit. Anak mulai diajarkan surat-surat al-mufashshal.[7] Dahulu, ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu memerintahkan anak-anaknya untuk belajar Al-Qur`ân dan berkata, “Bila salah seorang dari kalian akan belajar (Al-Qur`ân), maka hendaknya ia mempelajari surat-surat al-mufashshal terlebih dahulu, karena hal itu akan lebih mudah”.

Imam Al-Bukhâri rahimahullah menguatkan pedoman di atas dengan  berkata, “Bab mengajari anak-anak Al-Qur`ân”. Kemudian beliau membawakan pernyataan Ibnu ‘Abbâs , “Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku berusia 10 tahun dan telah menyelesaikan surat-surat al-muhkam”. Yang dimaksud surat-surat al-muhkam adalah surat-surat al-mufashshal.

Selanjutnya, Khalifah ‘Umar bin Khaththâb z mengarahkan supaya anak-anak ditalqin sebanyak lima ayat lima ayat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Bâz rahimahullah telah menyampaikan bimbingan kepada umat Islam terkait level dasar pelajaran Al-Qur`ân yang mesti diperhatikan oleh mereka. Arahan beliau tentang hal tersebut pantas diperhatikan oleh keluarga Muslim dalam rangka menerapkan skala prioritas ketika akan memahami Kitabullah Al-Qur`anulKarim.

Dalamad-Durûsul Muhimmatuli ‘Âmmatil Ummati, pada pelajaran pertama, beliau rahimahullah menyampaikan, “Surat Al-Fâtihah dan Qishârus suwari (surat-surat pendek)”. Beliau mengarahkan  agar dipelajari dan diajarkan surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya yang mudah, yaitu surat An-Nâs hingga surat Al-Zalzalah. Perhatian terhadap surat ini mencakup aspek penguasaan bacaan, hafalan dan pemahaman terhadap surat-surat tersebut.

Ini adalah level dasar yang cukup bagi kalangan pemula dan juga masyarakat awam untuk mereka baca dalamshalat-shalat wajib atau shalat sunnah.

Porsi ‘kurikulum’ dasar dalam belajar mengajarkan Al-Qur`an ini mudah bagi  orang tua dan anak-anak, sehingga akan menyemangati mereka untuk mau belajar dan menghafal. Orang tua akan merasa mudah bila ia tahu kadar yang mesti ia kuasai adalah kadar tersebut. Demikian pula, bila kita katakan kepada anak-anak bahwa surat-surat Al-Qur`an yang mesti engkau perhatikan, hafalkan dan pahami setelah Surat Al-Fatihah adalah dari Surat Al-Zalzalah hingga An-Nâs, maka perhatian mereka akan besar untuk belajar membacanya, menghafalnya dan memahaminya. Bila sudah menyelesaikan level ini, maka kita katakan, engkau telah berhasil menuntaskan apa yang engkau butuhkan dalam shalat-shalatmu.

Setelah itu, anak menempuh level-level berikutnya dalam menghafal dan mempelajari tafsir Al-Qur`ân.

Penutup
Al-Qur`ân adalah karunia besar bagi umat Islam. Semestinya kita semua mencurahkan perhatian besar kita kepadanya, karena merupakan sumber hidayah kita di kehidupan dunia ini, sehingga kita memperoleh keselamatan di dunia dan tidak celaka di akhirat.

Semoga Allâh Azza wa Jallamemudahkan kita untuk mengagungkan Kitab Suci-Nya dengan cara-cara yang telah digariskan oleh syariat. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Adh-Dhiyâ’ul Lâmi’ 1/431.
[2]  Tafsîrul Qurânil ‘Azhîm 1/408.
[3]  Ibid. hlm.315.
[4]  Syarah Ridyadhus Shalihin 2/1238
[5]  Ibid.
[6]  Tafsîrul Qurânil ‘Azhîm 1/67.
[7]  Yaitu Surat Qâf hingga An-Nâs. Inilah pandangan yang dirajihkan oleh Imam Ibnu Katsîr t dalam Tafsirnya.

Urgensi Mengenal Kisah-Kisah Dalam Al-Qur`an

URGENSI MENGENAL KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN

Oleh
Ustadz Khalid Syamhudi Lc

Al- Qur`an merupakan petunjuk bagi manusia, artinya semua yang disampaikannya merupakan pesan dan nasihat-nasihat sehingga menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk pribadi manusia dari dahulu sampai dengan sekarang. Diantara metode al-Qur’an dalam menyampaikan pesan dan nasehat adalah melalui kisah. Al-Qur`an membawakan banyak sekali kisah, baik berkenaan dengan perjalanan para Nabi dan Rasul juga berbagai peristiwa yang terjadi antara mereka dengan orang-orang yang beriman maupun orang-orang yang kafir. Juga berkenaan  dengan kisah sejumlah orang atau kelompok, seperti kisah Maryam, Luqmân, Dzulqarnain, Qârûn, pemuda al-Kahfi, tentara gajah, orang-orang yang dilemparkan ke dalam parit api dan kisah-kisah lainnya.

Kisah-kisah dalam al-Qur’an itu sarat dengan pesan dan nasihat, baik secara tersurat maupun tersirat. Dalam menyampaikan pesan dan nasehat, tidak harus selalu disampaikan dengan jelas dan gambling dengan metode ceramah, terkadang melalui kisah yang perlu perenungan terlebih dahulu itu lebih mengena di hati.

URGENSI KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN
Kisah atau cerita yang benar adalah salah satu metode yang sangat menyenangkan dan menyentuh hati untuk menjadi sarana menumbuhkan iman. Kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan kisah paling benar sebagaimana disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allâh? [an-Nisa’/4:87]

Demikianlah semua kisah dan cerita yang ada dalam al-Qur`an adalah benar dan pas, karena menceritakan realita yang terjadi tanpa ada pengurangan dan penambahan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar [Al-Kahfi/18:13]

Juga firman-Nya:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak diibadhi) selain Allâh; dan sesungguhnya Allâh, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [Ali Imrân/3:62]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala suci dari sifat dusta sehingga tidak mungkin Allâh Azza wa Jalla mengisahkan kisah-kisah yang tidak terjadi atau fiktif. Allâh Azza wa Jalla juga maha mengetahui, mendengar dan melihat serta menyaksikan semuanya. Oleh karena itu ketika Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan satu kisah, berarti kisah itu benar dan diceritakan berdasarkan ilmu.

Kisah al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik kisah sebagaimana disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu. [Yûsuf/12:3]

Syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Hal itu karena kisah-kisahnya benar, kalimat-kalimatnya terangkai dengan baik dan makna yang terkandung begitu indah. [Taisîr Karîmirrahmân].

Oleh karena itu, kisah-kisah al-Qur’an merupakan kisah yang paling bermanfaat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman [Yûsuf/12:111]

Siapa saja yang meyakini bahwa semua kisah-kisah dalam al-Qur`an dan yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan nyata, maka insya Allah, kisah-kisah itu akan memberikan pengaruh besar pada perbaikan dan pembinaan diri.

Demikian penting kisah-kisah ini, hingga Allâh Subhanahu wa Ta’ala perintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kepada manusia semua kisah yang diketahuinya, agar menjadi bahan renungan dan mengambil pelajaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir [al-A’râf/7: 176].

Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilali mengatakan bahwa tujuan dihadirkan kisah-kisah para Nabi adalah untuk memberikan pelajaran kepada kaum Mukminin sepanjang masa; agar menjadi bekal bagi para pengikut mereka yang jujur dan ikhlas [Shahîh Qashashil Anbiyâ, hlm. 5]

Memang demikianlah, para Nabi dan para da’i sejak dahulu telah mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu untuk terus memenuhi jiwa mereka dan meneguhkan hati mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman [Hûd/11:120]

BEBERAPA HIKMAH DIKISAHKAN KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang hikmah kisah-kisah dalam al-Qur’an:

  • Penjelasan mengenai hikmah Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam kandungan kisah-kisah tersebut, sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ ﴿٤﴾ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmat yang sempurna, maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka) [al-Qamar/54:4-5]

  • Menjelaskan keadilan Allâh Azza wa Jalla melalui hukuman-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang yang mendustakan-Nya:

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ۖ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, kerana itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allâh, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan [Hûd/11:101]

  • Menjelaskan karunia-Nya berupa pemberian pahala dan keselamatan kepada yang beriman, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ

Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing [Al-Qamar/54:34]

  • Sebagai hiburan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi sikap orang-orang yang mendustakannya, sebagaimana firman-Nya,

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ الْمُنِيرِ ﴿٢٥﴾ ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” [Fâthir/35:25-26]

  • Sebagai motivasi bagi kaum Mukminin agar tegar dalam keimanan bahkan bertambah imannya saat mereka tahu kaum Mukminin terdahulu telah selamat dan menang saat diperintahkan berjihad.

  • Sebagai peringatan bagi orang-orang kafir akan akibat buruk yang mereka dapatkan jika mereka terus-menerus dalam kekufuran, sebagaimana firman-Nya,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۖ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allâh telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” [Muhammad/47:10]

  • Semakin mengukuh kebenaran risalah Nabi Muhammad n , sebab berita-berita tentang umat-umat terdahulu tidak ada yang mengetahuinya selain Allâh Azza wa Jalla. Allah berfirman:

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. [Hûd/11:49]

Dan juga berfirman:

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ ۛ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ

Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (iaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allâh.” [Ibrahim/14:9][1]

Demikianlah urgensi kisah-kisah dalam al-Qur`an yang sudah seharusnya kita semua mampu mengambil pelajaran darinya.

Semoga penjelasan ini memberikan dorongan dan motivasi untuk mengenal lebih jauh kisah-kisah yang ada dalam al-Qur`an.

Wabillahit taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIX/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Ushûl Fit Tafsîr karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hlm.50-51

Jangan Terburu-Buru Dan Jangan Menunda-Nunda

JANGAN TERBURU-BURU DAN JANGAN MENUNDA-NUNDA

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar (kita) memastikan kebenaran sesuatu dan tidak terburu-buru pada segala hal yang dikhawatirkan dampaknya. Dan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan (kita) untuk bergegas melakukan segala kebaikan yang dikhawatirkan akan luput

Kaedah ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an. Diantara contoh terapan untuk penggalan kaedah yang pertama yaitu :

1. Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allâh, maka telitilah ! [an-Nisâ’/4:94]

Maksudnya, ketika berjibaku dalam peperangan, jika ada orang yang mengucapkan salam, maka harus dicek kebenarannya, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa itu hanya tipu muslihat untuk melindungi diri, lalu orang yang mengucapkans alam itu tetap dibunuh. ini sebuah kekeliruan.

2. Firman Allâh Azza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [al-Hujurât/49:6]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bergegas menyebarkan berita-berita besar yang justru dikhawatir akan tersebar. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amridi antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). [an-Nisâ’/4:83]

Allâh juga berfirman,

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ

Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan Sempurna [ Yûnus/10:39]

Termasuk dalam kaidah ini yaitu perintah agar memusyarawahkan segala sesuatu, senantiasa waspada serta tidak mengucapkan sesuatu yang tidak diketahui dengan pasti. Tentang hal ini, banyak ditemukan ayat-ayat yang menjelaskannya.

sedangkan diantara contoh terapan untuk potongan kedua dari kaidah diatas yaitu firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imrân/3:133), juga firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.” (al-Baqarah/2:148), dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang senada.

Apa yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada para hamba-Nya ini merupakan kesempurnaan, agar para hamba senantiasa tegar, tidak kehilangan kesempatan untuk melakukan kebaikan dan senantiasa memastikan sesuatu karena khawatir akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan atau membahayakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allâh bagi orang-orang yang yakin ?[al-Maidah/5:50]

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di, kaidah ke 43)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Asal Usul Catatan Kebaikan Bagi Seorang Hamba

ASAL USUL CATATAN KEBAIKAN BAGI SEORANG HAMBA

يُكْتَبُ لِلْعَبْدِ عَمَلُهُ الَّذِيْ بَاشَرَهُ، وَيُكَمَّلُ لَهُ مَا شَرَعَ فِيْهِ وَعَجَزَ عَنْ تَكْمِيْلِهِ قَهْراً عَنْهُ، وَيُكْتَبُ لَهُ مَا نَشَأَ عَنْ عَمَلِهِ

Seorang hamba akan ditulis untuknya perbuatan yang dia lakukan sendiri dan akan dinilai sempurna amal perbuatan yang mulai dilakukannya namun dia terpaksa tidak bisa melanjutkannya juga akan dituliskan untuknya apa-apa yang timbul dari amal perbuatannya tersebut

Tiga hal ini termasuk diantara karunia Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya juga termasuk bukti betapa rahmat Allâh itu sangat luas.

Ketiganya disebutkan dalam al-Qur’ân.
1. Amal Perbuatan Yang Dilakukan Sendiri
Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang melakukan kebaikan akan dicatat untuknya kebaikan yang dilakukan itu. Diantaranya adalah firman Allâh Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allâh kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [al-Maidah/5:105]

Juga firman-Nya :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. [al-Baqarah/2:286]

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. [Yûnus/10:41]

2. Amal Perbuatan Yang Mulai Dilakukan Namun Terpaksa Tidak Bisa Dilanjutkan Atau Dituntaskan
Jika seseorang sudah memulai melakukan suatu amalan, namun terpaksa dia tidak bisa melanjutkan amalan tersebut, padahal dia sangat berantusias untuk melanjutkannya, maka dia mendapatkan pahala sempurna, meskipun dia belum selesai. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allâh dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [an-Nisâ’/4:100]

Berdasarkan ini, semua orang yang memulai amal kebaikan namun terpaksa tidak melanjutkannya dengan sebab wafat misalnya, atau fisiknya lemah, atau hartanya habis, sementara niatnya, seandainya tidak ada penghalang ini pasti dia sudah melanjutkannya atau menyempurnakannya. Orang seperti ini telah dicatatkan kebaikan yang sempurna disisi Allâh Azza wa Jalla .

3. Pengaruh Dari Perbuatan Hamba
Efek baik dari perbuatan dilakukan oleh seorang hamba juga akan menjadi catatan kebaikan bagi sang hamba, dengan tanpa mengurangi pahala pelaku kebaikan berikutnya. Tentang pengaruh dari amal kebaikan seseorang, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfûzh) [Yasin/36:12]

Efek yang muncul dari amalan seseorang itu ada dua macam :
1. Pertama, terjadi tanpa sengaja. Misalnya seseorang melakukan kebaikan, lalu banyak orang yang mengikuti kebaikan tersebut. Seperti ini akan dicatat sebagai buah dari perbuatannya.
2. Kedua, terjadi sesuai dengan keinginannya, seperti orang yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat.

Aktifitasnya mengajarkan ilmu yang bermanfaat itu sudah merupakan amalan mulia, kemudian ilmu dan kebaikan yang muncul dari aktifitas ini, yaitu ilmu dan kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang diajarinya masuk dalam kategori buah dari amalannya. Sebagaimana juga orang yang melakukan kebaikan agar ditiru orang lain; Atau orang yang menikah dengan niat mendapatkan anak keturunan yang shalih lalu keinginannya menjadi kenyataan misalnya; Juga orang yang menanam atau membuat sesuatu dengan tujuan agar bisa dimanfaatkan oleh orang lain dalam urusan dunia dan agama. Jika tujuannya tercapai, maka manfaat yang muncul, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, merupakan buah dari amalnya dan dia berhak mendapatkan pahala darinya.

Itulah tiga jenis amalan yang akan dicatatkan bagi seorang hamba. Semoga tulisan singkat ini bisa memacu kita untuk berlomba melakukan kebaikan dan tidan menunda-nundanya lagi.

(Diangkat dari al-Qawâ’idul Hisân, Syaikh Muhammad Nashir as-Sa’di, kaidah ke-56)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Iman Dan Amal Shaleh Sebagai Standar Kebaikan

IMAN DAN AMAL SHALEH SEBAGAI STANDAR KEBAIKAN

يُرْشِدُ الْقُرْآنُ إِلَى أَنَّ الْعِبْرَةَ بِحُسْنِ حَالِ الإِنْسَانِ : إِيْمَانُهُ الصَّحِيْحُ وَعَمَلِهِ الصَّالِحُ، وَأَنَّ الاِسْتِدْلاَلَ عَلَى ذَلِكَ باِلدَّعَاوَى الْمُجَرَّدَةِ أَوْ بِإِعْطَاءِ اللهِ لِلْعَبْدِ مِنَ الدُّنْيَا بِالرِّيَاسَاتِ, كُلُّ ذَلِكَ مِنْ طُرُقِ الْمُنْحَرِفِيْنَ

Al-Qur’ân memberikan petunjuk bahwa standar baiknya seseorang adalah keimanan dan amal shalehnya. Al-Qur’ân juga menunjukkan bahwa mengukur kebaikan seseorang berdasarkan pengakuan hampa, kekayaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada seseorang atau berdasarkan jabatan adalah metode orang-orang menyimpang.

Kaidah ini menunjukan bahwa bukti baiknya keadaan seseorang adalah keistiqamahannya dalam iman dan amal shaleh serta semangatnya untuk selalu bergegas melakukan kebaikan, bukan harta melimpah, bukan pula pengakuan-pengakuan hampa. Orang yang senantiasa melakukan perbuatan taat dan konsisten menjalankan al-Qur’an dan sunnah, dialah orang baik, sebaliknya yang tidak seperti itu berarti dia buruk, bagaimanapun pengakuan dan perkataannya.

Kaidah dijelaskan dalam banyak ayat, diantaranya firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. [Saba’/34:37]

Juga firman-Nya :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih [As-Syu’ara/26 : 88-89]

Sebagian orang mengira bahwa harta melimpah yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla kepada seseorang adalah tanda kedekatan mereka kepada Allâh Azza wa Jalla dan kecintaan Allâh Azza wa Jalla kepada mereka. Ini merupakan sangkaan yang keliru. Seandainya karunia harta itu merupakan bukti kecintaan Allâh Azza wa Jalla kepada mereka tentu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang paling banyak menerima anugerah ini. Namun faktanya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam miskin dan beliau n menjelaskan bahwa dunia diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki sedangkan akhirat hanya diberikan kepada insan yang bertaqwa.

Adapun tentang kelompok kedua yaitu kelompok menyimpang. Allâh Azza wa Jalla menceritakan perkataan orang-orang yahudi dan Nashara:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. [Al-Baqarah/2:111]

Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan burhân (bukti) yang bisa menghantarkan seseorang masuk surga dengan firman-Nya :

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [Al-Baqarah/2:112]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?” [Maryam/19:73]

Dalam ayat ini, mereka menjadikan kebagusan tempat tinggal dan tempat pertemuan mereka sebagai indikasi baiknya keadaan mereka.

Juga firman-Nya :

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Dan mereka berkata, “Mengapa al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini ?”[ukhruf/43:31]

Diantara para Ulama ahli tafsir ada yang menjelaskan bahwa yang mereka maksud dengan orang besar adalah al-Walîd bin al-Mughîrah dan Urwah bin Mas’ûd ats-Tsaqafi. Standar mereka adalah kekayaan dan ketokohan mereka, padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tokoh terbaik.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa orang-orang kufar menjadikan keunggulan mereka dalam hal dunia dan ketokohan sebagai bukti bagusnya kondisi mereka. Sebaliknya, mereka mencela kaum Muslimin dan menganggap kekurangan kaum Muslimin dalam dua hal di atas sebagai bukti rusaknya agama kaum Muslimin.

Oleh karena itu, seyogyanya seorang Muslim menjadikan kwalitas keistiqamahan seseorang dalam menjalankan agama sebagai standar baik atau buruknya seseorang, bukan harta melimpah serta bukan pula jabatan yang berhasil diraih.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Mendahulukan Mashlahat Mengutamakan Keburukan Terkecil

MENDAHULUKAN MASHLAHAT TERTINGGI DAN MENGUTAMAKAN KEBURUKAN TERKECIL

فِي الْقُرْآنِ عِدَّةُ آيَاتٍ فِي الْحَثِّ عَلَى أَعْلَى الْمَصْلَحَتَيْنِ وَتَقْدِيْمِ أَهْوَنِ الْمَفْسَدَتَيْنِ، وَمَنْعِ مَا كَانَتْ مَفْسَدَتُهُ أَرْجَحَ مِنْ مَصْلَحِتِهِ

Dalam beberapa ayat al-Qur’an ada anjuran agar (kaum Muslimin) mendahulukan mashlahat yang lebih besar atau mendahulukan mafsadah yang lebih kecil serta ada larangan dari (melakukan) sesuatu yang mafsadah (keburukan)nya lebih dominan dari pada mashlahatnya.

Diantara pokok agama yang wajib diketahui oleh kaum Muslimin yaitu agama ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk merealisasikan dan memperbanyak kemaslahatan (kebaikan) serta untuk melenyapkannya atau meminimalisir keburukan. Oleh karena itu Islam memerintahkan bahkan mewajibkan kaum Muslimin untuk melakukan berbagai perbuatan baik, seperti shalat, puasa, zakat, menyambung silaturahmi dan lain sebagainya. Islam juga melarang bahkan mengharamkan semua keburukan. Adalah kewajiban bagi kaum Muslimin untuk mentaati syari’at Allâh Azza wa Jalla dengan melakukan semua kebaikan yang diperintahkan dan menjauhi semua keburukan yang dilarang. Namun terkadang dalam kondisi tertentu, seseorang tidak bisa melakukan semua kebaikan yang diketahuinya dan tidak bisa menghindari semua keburukan yang dilarang syari’at. Artinya dia harus memilih. Lalu mana yang harus dipilih ? Inilah yang maksud perkataan penyusun kitab al-Qawa’idul Hisan al-Muta’alliqah bi tafsiril Qur’an di atas.

Dari perkataan di atas kita simpulkan tiga point penting :
1. Apabila ada dua kebaikan atau lebih berbenturan, maksudnya, kebaikan-kebaikan itu tidak mungkin kita lakukan semuanya, karena suatu sebab, maka kita harus memilih. Mana yang harus dilakukan ? Yang harus kita pilih adalah yang terbaik dari berbagai kebaikan yang berbenturan itu. Ini menunjukkan bahwa nilai amal-amal shalih yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla itu tidak sama, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah).[al-Hadîd/57:10]

Dan firman-Nya :

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu anggap sama dengan orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allâh ? [at-Taubah/9:19]

Dan juga firman-Nya :

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allâh dengan harta mereka dan jiwanya. Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allâh menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. [an-Nisâ/4:95]

2. Apabila dua keburukan atau lebih berbenturan, maksudnya karena suatu hal dan kondisi, berbagai keburukan itu tidak bisa dijauhi semuanya, namun kita harus melakukan salah satunya. Lalu mana yang kita lakukan ? Yang harus kita lakukan adalah yang paling ringan dampak buruknya.

Penerapan kaidah ini bisa kita temukan dalam banyak tempat, diantaranya :

a. Dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allâh, kafir kepada Allâh, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allâh [al-Baqarah/2:217]

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa pembalasan yang dituntut oleh kaum kafir terhadap kaum Muslimin atas peperangan di bulan-bulan yang terhormat- meski ada keburukannya namun apa yang dilakukan kafir Quraisy yang telah menghalangi manusia dari jalan Allâh, kafir kepada Allâh dan menghalangi manusia dari Masjid Haram serta mengusir penduduknya lebih besar keburukannya (dosanya) disisi Allâh dari pada berperang di bulan-bulan yang terhormat atau suci. Jadi disini terdapat dua mafsadah (keburukan), yaitu :

Pertama : Tetap eksisnya orang-orang kafir Quraisy yang menghalangi kaum Muslimin dari jalan Allâh Azza wa Jalla , mengusir dan menzhalimi kaum Muslimin di sana, serta kekufuran dan kesyirikan mereka.

Kedua : Menyerang mereka saat bulan haram.
Mana diantara dua mafsadah ini yang lebih buruk ? Allâh Azza wa Jalla menjelaskan dengan gamblAng bahwa yang lebih buruk adalah yang pertama. Sehingga ketika harus memilih, maka yang kedualah yang dipilih, karena dampak buruknya lebih sedikit.

b. Dalam firman Allah Azza wa Jalla

وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan kalau bukanlah karena laki-laki Mukmin dan perempuan-perempuan Mukmin yang tidak kamu ketahui (keberadaan mereka, yang dikhawatirkan), kamu membunuh mereka sehingga menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allâh tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). [al-Fath/48:25]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menahan kaum Muslimin dari keinginan mereka untuk menyerang penduduk kuffar di Makkah yang telah menghalangi mereka memasuki Masjidil Haram. Ini untuk suatu tujuan yang lebih tinggi yaitu supaya kaum Muslimin dan Muslimat yang masih menyembunyikan keimanannya dan masih tinggal di Makkah tidak menjadi korban peperangan. Kalau mereka menjadi korban perang, maka tentu orang yang menyebabkannya akan merasa menyesal atau turut berdosa, sebagaimana dijelaskan para Ulama ahli tafsir. Oleh karena itulah, Allâh Azza wa Jalla melarang penyerangan itu, meski faktor pemicunya sudah ada yaitu perilaku kuffar yang telah menghalangi kaum Muslimin dari Masjidil Haram.

Jadi disini ada dua keburukan yaitu :
Pertama : Tidak memerangi atau membiarkan kaum kuffar yang telah menghalangi kaum Muslimin untuk memasuki kota Makkah

Kedua : Memerangi mereka dengan resiko ikut terbunuhnya kaum Muslimin yang masih tinggal di Makkah dan menyembunyikan keimanan mereka karena belum mampu hijrah ke Madinah. Mereka akan ikut terbunuh karena sulit membedakan antara penduduk Makkah yang sudah beriman dan masih kafir.

Dari kedua keburukan ini, yang paling sedikit dampak buruknya adalah tidak memerangi mereka.

Termasuk dalam pelaksanaan kaidah yang kedua ini yaitu semua kejadian-kejadian atau kesepakatan-kesepakatan dalam Shulh (perjanjian damai) Hudaibiyah, dimana tercantum butir-butir perdamaian yang harus dipatuhi, yang dzahirnya sangat merugikan kaum muslimin, akan tetapi itu ternyata berbuah kemenangan bagi kaum muslimin. Termasuk juga, larangan terhadap kaum Muslimin untuk berperang sebelum Rasûlullâh n hijrah ke Madinah. Karena berperang dalam kondisi seperti itu lebih besar dampak buruknya daripada tetap bersabar.

3. Jika ada kebaikan dan keburukan sekaligus, namun keburukannya lebih kuat atau lebih dominan, maka kita dilarang melakukannya.
Ini merupakan bagian terakhir yaitu apabila mashlahat dan mafsadah berkumpul, maka mashlahat harus didahulukan ketika mafsadah tidak mendominasi, jika sebaliknya, maka mafsadah harus diutamakan, meskipun harus meninggalkan atau menghiangkan maslahah. Misalnya dalam firman Allâh :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.” [Al-Baqarah/2:219]

Ini merupakan alasan umum yaitu segala sesuatu yang bahayanya (madharat) dan dosanya lebih besar daripada manfaatnya, maka dengan hikmah-Nya, Allâh melarang para hamba-Nya dan mengharamkannya.

Demikianlah kaidah-kaidah ini, disamping sebagai kaidah yang ditetapkan secara syar’i juga sesuai dengan logika manusia yang normal serta bisa diamalkan dalam masalah-masalah agama maupun dunia. Wallahu a’lam

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]