Monthly Archives: April 2012

Dalil-Dalil Turunnya ‘Isa Alaihissalam

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Ketiga TURUNNYA NABI ‘ISA ALAIHISSALAM
3. Dalil-Dalil Turunnya ‘Isa ‘Alaihisalam
Turunnya ‘Isa ‘Alaihisalam di akhir zaman telah tetap dalam al-Kitab dan as-Sunnah yang shahih lagi mutawatir, hal itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda besar Kiamat.

a. Dalil-dalil turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihisalam di dalam al-Qur-an al-Karim.
1). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ إلى قوله تعالى وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ

Dan tatkala putera Maryam (‘Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaum-mu (Quraisy) bersorak karenanya. Sampai dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat...” (Az-Zukhruf/43: 57-61)

Ayat-ayat ini turun dalam konteks bercerita tentang ‘Isa ‘Alaihisalam, di akhirnya dijelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ, maknanya adalah turunnya Isa pada hari Kiamat merupakan salah satu tanda dekatnya Kiamat, hal itu pula ditunjuki oleh bentuk qiraah (tanda baca) yang lainnya  وَإِنَّهُ لَعَلَمٌ لِّلسَّاعَةِ  dengan huruf ‘ain dan lam yang difat-hahkan, maknanya adalah tanda akan tegaknya hari Kiamat. Qira-ah seperti ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan yang lainnya dari kalangan imam ulama tafsir.[1]

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu di dalam tafsiran ayat  وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ, dia berkata, “Ia adalah turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissalam sebelum tegaknya Kiamat.”[2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang shahih bahwa kata (إِنَّـهُ)dhamirnya (kata ganti)- kembali kepada ‘Isa, karena redaksi ayat menyebutkan tentangnya.”[3]

Dan jauh sekali jika makna ayat adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa ‘Alaihisalam berupa menghidupkan yang mati, menyembuhkan orang buta, yang berpenyakit kusta juga yang lainnya dari orang-orang yang berpenyakit.

Lebih jauh lagi apa yang diungkapkan dari sebagian ulama bahwa dhamir di dalam kata (وَإِنَّهُ) kembali kepada al-Qur-an al-Karim.[4]

2).  Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ إلى قوله تعالى وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, ‘Isa putera Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sampai dengan firman-Nya Ta’ala: Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisaa/4: 157-159)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak membunuh ‘Isa ‘Alaihisalam, tidak juga mensalibnya, akan tetapi dia diangkat oleh Allah ke langit, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan me-nyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku…” (Ali ‘Imran/3: 55)

Maka sesungguhnya ayat-ayat itu pun menunjukkan bahwa di antara Ahlul Kitab ada yang beriman kepada ‘Isa ‘Alaihisalam di akhir zaman. Hal itu terjadi ketika dia turun[5] sebelum wafat, sebagaimana dijelaskan oleh beberapa hadits mutawatir lagi shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam jawabannya atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya tentang wafat dan pengangkatan ‘Isa ‘Alaihisalam, “Segala puji hanya milik Allah, ‘Isa ‘Alaihisalam masih hidup, dan telah tetap di dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

يَنْزِلُ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً وَإِمَامًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ.

Ibnu Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim dan pemimpin yang adil, lalu dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jiz’yah (pajak).[6]

Telah tetap dalam hadits shahih dari beliau bahwa ‘Isa ‘Alaihisalam akan turun pada menara putih sebelah timur Damaskus, sesungguhnya dia akan membunuh Dajjal. Barangsiapa ruhnya berpisah dengan jasadnya tidak mungkin tubuhnya akan turun dari langit, dan jika dihidupkan, maka sesungguhnya dia bangkit dari dalam kuburnya.

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

“… sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir....” (Ali ‘Imran/3: 55)

Ini merupakan dalil bahwa tidak dimaksudkan dengan pengangkatan ini adalah kematian, karena jika yang dimaksud dengan hal itu adalah kematian, niscaya ‘Isa ‘Alaihisalam akan sama seperti layaknya orang-orang beriman lainnya, di mana Allah mengambil ruh mereka, lalu mengambilnya ke atas langit, sehingga tidak ada sesuatu yang khusus dalam pengangkatannya. Demikian pula firman-Nya  وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا  “Serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir,” dan jika yang dimaksud bahwa ruhnya telah berpisah dengan jasadnya, niscaya badannya di bumi akan seperti jasad para Nabi yang lainnya.

Sementara Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lain:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا١٥٧  بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“… Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pem-bunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya... (An-Nisaa/4: 157-158)

Firman Allah Ta’ala, بَلْ رَفَعَهُ اللهُ إِلَيْهِ  “Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya,” menjelaskan bahwasanya beliau diangkat dengan badan juga ruhnya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits shahih bahwa dia akan turun dengan badan juga ruhnya, karena jika yang dimaksud pengangkatannya adalah kematiannya, niscaya Allah berfirman, “Tidaklah mereka membunuhnya, tidak juga menyalibnya, akan tetapi dia telah mati.”

Karena itulah di antara para ulama ada yang berkata  إِنِّي مُتَوَفِّيْكَ  “Kami mewafatkannya,” maknanya adalah memegangmu, yaitu memegang ruh dan jasadmu. Dikatakan dalam bahasa Arab (تَوَفَّيْتُ الْحِسَابَ وَاسْتَوْفِيْقَهُ) maknanya adalah mengambilnya.

Dan lafazh (اَلتَّوَفِّي) secara menyendiri tidak mengandung makna kematian ruh tanpa badan, tidak juga kematian keduanya secara bersamaan kecuali dengan qarinah (petunjuk) lainnya yang terpisah.

Bahkan terkadang bermakna tidur, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya…” (Az-Zumar/39: 42)

Firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ

Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari...” (Al-An’aam/6: 60)

Dan firman-Nya:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا

“… Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami…” (Al-An’aam/6: 61)”[7]

Pembicaraan dalam pembahasan ini tidak bermaksud mengungkapkan diangkatnya ‘Isa ‘Alaihisalam, tetapi hanya sekedar menjelaskan bahwa dia Alaihissalam diangkat dengan jasad dan ruhnya, dan sesungguhnya dia masih hidup sampai sekarang di atas langit, dan akan turun di akhir zaman, serta akan diimani oleh orang-orang Ahlul Kitab yang ada pada waktu itu, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya…” (An-Nisaa/4: 159)

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Ibnu Basyar meriwayatkan kepada kami, dia berkata, ‘Sufyan meriwayatkan kepada kami, dari Abu Hushain, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ

‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya…’ (An-Nisaa/4: 159)

Dia berkata, ‘Maksudnya adalah sebelum kematian ‘Isa bin Maryam.’”[8]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah sanad yang shahih.”[9]

Kemudian Ibnu Jarir rahimahullah berkata setelah mengungkapkan berbagai pendapat tentang makna ayat ini, “Dan pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa tafsiran ayat tesebut adalah “Dan tidak ada seorang pun di antara Ahlul Kitab yang tidak beriman kepada ‘Isa sebelum kematian ‘Isa.”[10]

Beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “(Maknanya adalah) sebelum kematian ‘Isa. Demi Allah, sesungguhnya dia sekarang masih hidup di sisi Allah, akan tetapi jika dia turun, maka semua orang akan beriman kepadanya.”[11]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Tidak diragukan bahwa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini adalah pendapat yang benar, karena pendapat itulah yang dimaksud dari beberapa redaksi ayat dalam menetapkan kebathilan semua pengakuan Yahudi bahwa ‘Isa itu dibunuh dan disalib, kemudian diserahkannya kabar ini kepada orang-orang Nasrani yang bodoh. Maka Allah mengabarkan bahwa masalahnya tidak demikian, yang ada hanyalah seseorang yang diserupakan-Nya bagi mereka, sehingga mereka membunuh orang yang serupa dengannya (‘Isa) sementara mereka tidak mencari kebenaran akan hal itu, selanjutnya beliau diangkat kepada-Nya, dan sungguh, dia akan turun sebelum hari Kiamat, sebagaimana hadits-hadits mutawatir menunjukkan hal itu.”[12]

Beliau (Ibnu Katsir) menuturkan bahwa diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma juga yang lainnya bahwa Ibnu ‘Abbas menjadikan dhamir dalam firman-Nya  قَبْلَ مَوْتِهِ  kembali kepada Ahlul Kitab, dan beliau berkata, “Sesungguhnya jika riwayat ini benar, niscaya akan bertentangan dengan penjelasan ini, akan tetapi yang benar di dalam makna dan sanad adalah yang telah kami jelaskan.”[13]

b. Dalil-Dalil Turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihisalam Dalam as-Sunnah al-Muthahharah
Dalil-dalil dari as-Sunnah tentang turunnya ‘Isa ‘Alaihisalam sangat banyak dan mutawatir, sebagian darinya telah kami uraikan, dan akan kami sebutkan di sini sebagian darinya karena khawatir akan terkesan terlalu panjang, di antara-nya:

1). Diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ؛ لَيُوْشِكُنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسُرُ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعُ الْحَرْبَ، وَيُفِيْضُ الْمَالَ حَتَّى لاَ يَقْبَلُهُ أَحَدٌ، حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا.

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat turunnya putera Maryam di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, dia akan mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan peperangan, dan melimpahkan harta, sehingga tidak seorang pun menerimanya, hingga satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan seisinya.’”

Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Dan bacalah jika kalian menghendaki:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ

‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.’ (An-Nisaa/4: 159)”[14]

Ini adalah penafsiran Abu Hurairah Radhiyallahu anhu untuk ayat tersebut bahwa yang dimaksud di dalam ayat ialah di antara Ahlul Kitab akan ada yang beriman kepada ‘Isa ‘Alaihissalam sebelum beliau wafat. Hal itu terjadi tatkala beliau turun di akhir zaman, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

2). Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَيْفَ أَنْتُمُ إِذَا أُنْزِلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟!

Bagaimanakah kalian ketika putera Maryam diturunkan sedangkan (pemimpin) imam kalian dari kalangan kalian sendiri?!’”[15]

3). Muslim meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ، ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَالسَّلاَمُ، فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: صَلِّ لَنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ؛ إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضِ أُمَرَاءُ؛ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

Senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berjuang membela ke-benaran, mereka selalu mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat.” Beliau berkata, “Lalu ‘Isa bin Maryam Alaihisshalatu wa sallam turun, pemimpin mereka berkata, ‘Shalatlah mengimami kami.’ Beliau berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi yang lainnya, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.’”[16]

4). Telah dijelaskan sebelumnya hadits Hudzaifah bin Asid tentang tanda-tanda besar Kiamat, di dalamnya diungkapkan:

وَنُزُوْلُ عِيْسىَ بْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ.

Dan turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihisshalatu wa sallam.”[17]

5). Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ، وَإِنِّي أَوْلَى النَّاسِ بِعِيْسَـى بْنِ مَرْيَمَ؛ لأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِـيْ وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ نَازِلٌ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَاعْرِفُوْهُ.

Para Nabi adalah saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda-beda, akan tetapi agama mereka satu. Sesungguhnya aku adalah orang yang paling berhak (dekat) kepada ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi di antaraku dan dia. Dan sesungguhnya dia akan turun, jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia![18]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Tafsiir al-Qurthubi (XVI/105), dan lihat Tafsiir ath-Thabari (XXV/90-91).
[2] Musnad Ahmad (IV/329, no. 2921) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[3] Tafsiir Ibni Katsir (VII/222).
[4] Lihat Tafsiir Ibni Katsir (VII/223).
[5] Yaitu, turun secara hakiki, tidaklah yang dimaksud dengan turun dan hukum yang diterapkan di bumi di akhir zaman hanya sekedar perumpamaan dominasi ruh dan rahasianya risalah beliau terhadap manusia, berkasih sayang, saling mencintai, kedamaian dan mengambil segala tujuan hukum tanpa memahami zhahirnya, maka sesungguhnya hal itu bertentangan dengan hadits-hadits yang mutawatir bahwa ‘Isa akan turun dengan ruh dan jasadnya, sebagaimana ia diangkat dengan ruh dan jasadnya Alaihissallam.
[6] Lihat perkataan Syaikh Muhammad ‘Abduh dalam Tafsiir al-Manaar (III/317).
[7] Majmuu’ al-Fataawaa (IV/322-323).
[8] Tafsiir ath-Thabari (VI/18).
[9] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/131). Dan atsar Ibnu ‘Abbas dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Fat-h (VI/492).
[10] Tafsiir ath-Thabari (VI/21).
[11] Tafsiir ath-Thabari (I/18).
[12] Tafsiir Ibni Katsir (II/415).
[13] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/137).
[14] Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissalam (VI/490-491, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu ‘alaihi wa Sallaam Haakiman (II/189-191, Syarh an-Nawawi).
[15] Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissalam (VI/491, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Haakiman (II/193, Syarh an-Nawawi).
[16] Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Haakiman (II/193-194, Syarh an-Nawawi).
[17] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/27-28, Syarh an-Nawawi).
[18] Musnad Ahmad (II/406, catatan pinggir kitab Muntakhab al-Kanz).

Penutup dan Daftar Pustaka

PENUTUP

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan-Nya kepada seorang hamba yang lemah ini, bagi-Nya segala puji sebanyak makhluk-Nya, sebanyak keridhaan diri-Nya, seberat ‘Arsy-Nya dan sebanyak kalam-Nya, hanya kepada Allah saya memohon semoga karya saya ini diterima di sisi-Nya sehingga menjadi sebuah karya yang bemanfaat bagi saya dan seluruh umat Islam, dan hanya kepada Allah saya memohon ampunan atas segala kelalaianku di dalam menulis karya ini, Dia-lah Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan hamba-Nya.

Dari pembahasan ini saya telah mengetahui beberapa hal:

Pertama: Di antara manusia ada sekelompok dari mereka yang mendapatkan shalawat dari para Malaikat, mereka itu adalah orang yang tidur dalam keadaan suci, orang yang duduk menunggu shalat, orang yang berada di shaf pertama di dalam shalat. orang yang berada di shaf sebelah kanan di dalam shalat. Orang yang menyambung shaf, orang yang berada di dalam shalat ketika para Malaikat mengamini bacaan al-Faatihah oleh imam, orang yang duduk di tempat shalat setelah melakukan shalat, orang yang melakukan shalat Shubuh dan ‘Ashar dengan berjama‘ah, orang yang bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang dido’akan oleh saudaranya tanpa sepengetahuannya, orang yang mendo‘akan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang dido‘akan, orang yang berinfak di jalan kebaikan, orang yang makan sahur, orang yang makanannya dimakan oleh orang lain sedangkan dia berpuasa, orang yang menjenguk orang sakit, orang yang mengatakan perkataan yang baik di samping orang yang sakit dan yang hendak meninggal (mayit), orang yang mengajarkan kebaikan, orang yang beriman, bertaubat dan mengikuti jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu pula kerabat-kerabat yang baik, orang tuanya, istri-istrinya dan keturunannya, imam para Nabi dan pemimpin para Rasul, yaitu Rasul kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Dan ada pula orang yang sengsara dengan laknat para Malaikat kepada mereka, mereka itu ada-lah orang-orang yang mencela para Sahabat Radhiyallahu anhum, orang-orang yang melakukan kemungkaran di Madinah atau orang yang melindungi orang yang melakukannya, orang-orang yang zhalim kepada penduduk Madinah atau menakut nakuti mereka, orang yang mengakui ayah kepada yang bukan ayahnya, orang yang membatalkan jaminan seorang muslim, orang yang kikir, orang yang mendapati Ramadhan tetapi dia tidak diampuni, orang yang menemukan orang tuanya, tetapi pada akhirnya ia masuk ke dalam Neraka, orang yang ketika nama Nabi disebutkan di hadapannya ia tidak bershalawat, orang yang mengisyaratkan senjata kepada seorang muslim, orang yang menghalangi terlaksananya hukum qishash, wanita yang menolak ajakan suami, orang kafir yang mati dalam keadaan kafir, orang kafir setelah beriman, sebelumnya ia bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan telah datang kepadanya keterangan.

Dua Nasihat.
Pertama: Saya berwasiat kepada seluruh ahli ilmu untuk mengetahui orang-orang yang berbahagia dengan mendapatkan shalawat dari para Malaikat, dan mendorong mereka agar melakukan amal-amal yang menjadikan mereka mendapatkan karunia tersebut, dan saya juga memberikan perhatian kepada mereka agar mengetahui orang-orang yang sengsara dengan mendapatkan laknat dari para Malaikat, setelah itu mereka menjauhi semua perbuatan yang mengakibatkan siksa tersebut.

Kedua: Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan semua manusia yang ada di barat dan di timur, laki-laki atau wanita agar selalu melakukan semua amal yang dengannya kita semua mendapatkan shalawat dari para Malaikat, begitu juga wasiatku kepada semuanya agar menjauhi amal-amal yang menyebabkan kita semua terperosok ke dalam laknat para Malaikat.

Hanya kepada Allah saya dan semua umat Islam memohon taufik, sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan permohonan.

Shalawat beserta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi kita semua, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para Sahabat beliau, dan semua orang yang mengikuti langkah beliau. Keberkahan dan kesela-matan semoga ditetapkan untuk semua.

Dan akhir dari do’a kami adalah alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin (segala puji hanya milik Allah).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Ahaadiits al-Mukhtarah, karya al-Imam Dhiya-uddin al-Maqdisi, diterbitkan oleh Maktabah al-Haditsah Makkah al-Mukarramah, cetakan pertama 1410 H, dengan tahqiq Syaikh ‘Abdul Malik bin ‘Abdillah bin Duhaisy.
  2. Al-Ihsaan fii Taqriib Shahiih Ibni Hibban, karya al-Amir Alaudiin al-Farisy, cetakan Mu-assasah al-Risalah Beirut, cetakan pertama 1408 H, de-ngan tahqiq Syaikh Syuaib al-Arnauth.
  3. Al-Bahru al-Muhiith, karya al-‘Allamah Ibnu Hayyan al-Andalusy, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1413 H, dengan tahqiq beberapa guru besar: ‘Adil Ahmad, ‘Ali Muhammad, Dr. Zakaria Naufa, Dr. Ahmad
  4. Buluughul Amaani fii Asraaril Fat-hir Rabbaani, karya Syaikh Ahmad bin ‘Abdirrahman al-Banna, Dar asy-Syihab Kairo, tanpa edisi dan tahun
  5. Bulughul Maraam min al-Adillatil Ahkaam, karya Ibnu Hajar al-Asqalani, cetakan Mu-assasah al-Tsaqafah Beirut, cetakan pertama 1407 H, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Hamid al-Faqih.
  6. Tariikh ath-Thabari: Tariikh al-Umam wal Muluk, karya al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, cetakan Dar as-Suwaidan Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak, dengan tahqiq Muhammad Abu Fadhl
  7. Tuhfatul Ahwaadzi bi Syarah Jaami’ at-Tirmidzi, karya Syaikh Muhammad ‘Abdurrahman al-Mubarak Furi, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiy-yah Beirut, cetakan pertama 1410 H.
  8. Tuhfatul Ariib fil Qur-aan minal Ghariib, karya al-‘Allamah Ibnu Hayyan al-Andalusi, cetakan al-Maktabah al-Islamiyyah, Beirut, cetakan per-tama 1403 H, tahqiq: Ustadz Samil Majdzub.
  9. At-Tadaabir al-Waqi’iyyah minar Riba fil Islaam, karya Fadhl Ilahi, cetakan Kantor Penterjemahan Pakistan, cetakan keempat 1420 H.
  10. At-Tadaabir al-Waqi’iyyah minal Zina fil Fiqh al-Islaami, karya Fadhl Ilahi, cetakan al-Maktab al-Islami Beirut, cetakan pertama 1403 H.
  11. At-Tadaabir al-Waqi’iyyah minal Qatl fil Islaam, karya Dr. Utsman Daukali, Thesis S2 tidak di-sebarluaskan, saya memperolehnya dari Fakul-tas Dakwah dan Penerangan Riyadh.
  12. At-Tadaabir al-Waqi’iyyah minal Mukhadirat fil Islaam, karya Dr. Faishal bin Ja’far Bali, Disertasi S3 tidak disebarluaskan, saya memperolehnya dari Fakultas Dakwah dan Penerangan Riyadh.
  13. At-Targhiib wat Tarhiib, karya al-Hafizh al-Mun-dziri, cetakan Daarul Fikr, tanpa edisi dan tahun cetakan dengan tahqiq Syaikh Mushtafa Muham-mad ‘Ammarah.
  14. At-Ta’liq al-Mughni ‘ala Sunan ad-Daraquthni, karya al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-‘Azhim Abadi, cetakan Hadits Akademi Faishal Abad Pakistan, tanpa edisi dan tahun cetakan.
  15. Tafsiir al-Baghawi: Ma’aalimut Tanziil, karya al-Imam Abu Muhammad al-Baghawi, cetakan Daarul Ma’rifah Beirut, cetakan pertama 1406 H, dengan tahqiq dua guru besar, ‘Abdurrahman al-Akk dan Marwan Siwar.
  16. Tafsiir al-Baidhaawi, karya al-Qadhi Nashiruddin al-Baidhawi, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1408 H.
  17. Tafsiir at-Tahriir wat Tanwiir, karya Syaikh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur, cetakan ad-Daarut Tunisiyyah lin Nasyr, Tunisia, tahun cetak 1399 H.
  18. Tafsiir as-Sa’di: Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannaan, karya ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, cetakan Darul Mughni Ri-yadh, cetakan pertama 1419 H.
  19. Tafsiir Abi Su’ud: Irsyadul ‘Aql as-Saliim ila Ma-zaaya al-Qur-aanil Kariim, karya al-Qadhi Abu Su’ud, cetakan Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, tanpa edisi dan tahun cetakan.
  20. Tafsiir ath-Thabari: Jaami’ al-Bayaan ‘an Ta’-wiil Aayatil Qur-aan, karya Abu Ja’far ath-Thabari, cetakan Darul Ma’arif Mesir, cetakan kedua 1971 M, dengan tahqiq dua ulama besar; Mahmud Muhammad Syakir dan Ahmad Muhammad
  21. Tafsiir al-Qasimi: Mahaasinit Ta’-wiil, karya Mu-hammad Jamaluddin al-Qasimi, cetakan Daarul Fikr Beirut, cetakan ketiga 1398 H, dengan tah-qiq Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi.
  22. Tafsiir al-Qurtubi: al-Jaami’ li Ahkaamil Qur-aan, karya Imam Abu ‘Abdillah al-Qurthubi, cetakan Daar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi Beirut, tanpa edisi dan tahun cetakan.
  23. At-Tafsiir al-Qayyim, karya Imam Ibnul Qayyim, cetakan Darul Fikr Beirut, tahun cetak 1408 H, yang dikumpulkan oleh Syaikh Muhammad Uwais an-Nadwi dan ditahqiq oleh Syaikh Mu-hammad Hamid al-Faqih.
  24. At-Tafsiir al-Kabiir: Mafaatihul Ghaib, karya Fakhruddin ar-Razi, cetakan Darul Kutub al-‘Ilmiyyah Thahran, cetakan ketiga, tanpa tahun
  25. Tafsiir Ibni Katsiir: Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim, karya al-Hafizh Ibnu Katsir, cetakan Darul Fa-iha dan Darus Salam Riyadh, cetakan pertama 1413 H, dengan muqaddimah Syaikh ‘Abdul Qadir al-Arnauth.
  26. Tafsiir al-Manaar, karya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, cetakan Darul Ma’rifah Beirut, cetakan kedua, tanpa tahun cetak.
  27. At-Talkhiish, karya Imam adz-Dzahabi, cetakan Darul Ma’rifah Beirut, tanpa edisi dan tahun
  28. Jaami’ at-Timidzi (yang dicetak dengan syarah-nya Tuhfatul Ahwaadzi), karya Abu ‘Isa at-Tir-midzi, cetakan Darul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1410 H atau cetakan al-Kitab al-Araby Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak.
  29. Jalaa-ul Afhaam fii Fadhlish Shalaah was Salaam ‘ala Muhammad j Khairul Anaam, karya al-Imam Ibnul Qayyim, cetakan Dar al-Urubah Kuwait, cetakan kedua 1407 H.
  30. Dalilul Faalihiin li Turuuq Riyaadish Shaalihiin, karya Syaikh Muhammad bin ‘Alan ash-Shadiqi, diterbitkan oleh kantor Lembaga Keilmuan, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Saudi Arabia, tanpa edisi dan tahun cetak.
  31. Ruuhul Ma’aani fii Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim was Sab‘il Matsaani, karya Sayyid Mahmud al-Alusi, cetakan Daar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut, cetakan keempat 1405 H.
  32. Riyaadhush Shaalihiin, karya Imam an-Nawawi, cetakan Mu-assasah ar-Risalah, cetakan ke dela-pan 1408 H, dengan tahqiq Syaikh Syu’aib al-
  33. Zaadul Masiir fii ‘Ilmit Tafsiir, karya al-Hafizh Ibnu Jauzi, cetakan al-Maktab al-Islami Beirut, cetakan pertama 1984 M.
  34. Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cetakan Maktabah al-Ma’arif Riyadh, cetakan pertama 1416 H.
  35. Sunan ad-Darimi, karya al-Imam ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman ad-Darimi, terbitan Hadits Aka-demi Faishal Abad Pakistan, tahun 1404 H.
  36. Sunan Abi Dawud (yang dicetak dengan kitab ‘Aunul Ma’buud), karya Imam Sulaiman bin al-Asyats as-Sijistani, cetakan Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1410 H.
  37. Sunan Sa’id bin Manshur, karya al-Imam Sa‘id bin Manshur bin Syu’bah, cetakan Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1405 H, de-ngan tahqiq Syaikh Habibur Rahman al-A’dhami.
  38. As-Sunanul Kubra, karya al-Imam al-Baihaqi, cetakan Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, ce-takan pertama 1414 H, dengan tahqiq Syaikh Muhammad ‘Abdul Qadir Atha.
  39. Sunan Ibni Majah, karya al-Imam Abi ‘Abdillah al-Qazwainy Ibnu Majah, cetakan Syarikah al-Thibaah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah, cetakan kedua 1404 H, dengan tahqiq Muhammad Mus-thafa al-A’dhami.
  40. Sunan an-Nasa-i (dicetak dengan syarah as-Suyuthi dan catatan pinggir as-Sindi), karya al-Imam Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib an-Nasa-i, ce-takan Darul Fikr Beirut, cetakan pertama 1348 H.
  41. As-Siyaasah asy-Syar‘iyyah fii Ishlaahil Raa‘i war Ra‘iyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, cetakan Daarul ‘Araby Beirut tanpa tahun cetak.
  42. Siyar A’laamin Nubalaa’, karya al-Imam adz-Dzahabi, cetakan Mu-assasah ar-Risalah Beirut, cetakan kedua 1402 H, dengan tahqiq: Syaikh Syu’aib al-Arnaut.
  43. Syarah ath-Thaibi ‘ala Misykatil Mashaabih, karya al-Imam Syarifuddin ath-Thaibi, cetakan Mak-tabah Nizar Musthafa al-Baaz Makkah al-Mukar-ramah, cetakan pertama 1417 H, dengan tahqiq Dr. ‘Abdul Hamid Handawi.
  44. Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, karya al-Imam al-Nawawy, cetakan Darul Fikr, Beirut, tanpa edisi, tahun cetak 1402 H.
  45. Ash-Shaarimul Maslul ‘ala Syaatimir Rasuul j, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, disebar-luaskan oleh al-Hirsul Wathan al-Su’udi, tanpa edisi dan tahun cetak, dengan tahqiq Syaikh Muhyiddin ‘Abdul Hamid.
  46. Shahiih al-Bukhari (dicetak dengan Fat-hul Baari), karya al-Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, disebarluaskan oleh Kantor Lembaga Keilmuan, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Saudi Arabia, tanpa edisi dan tahun cetak.
  47. Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cetakan Maktabah al-Ma’arif Riyadh, cetakan ketiga 1402 H.
  48. Shahiih al-Jaami’ ash-Shaghiir wa Ziyaadatuhu, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ce-takan al-Maktab al-Islami, cetakan ketiga 1402 H.
  49. Shahiih Ibni Khuzaimah, karya al-Imam Ibnu Khuzaimah, cetakan al-Maktab al-Islami Beirut, cetakan pertama 1391 H, dengan tahqiq Dr. Mu-hammad Musthafa al-‘Adhami.
  50. Shahiih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, disebarluaskan oleh Mak-tab at-Tarbiyyah al-‘Arabi li Dual al-Khalij Riyadh, cetakan pertama 1409 H, dengan pengawasan Syaikh Zuhair asy-Syawisy.
  51. Shahiih Sunan Abi Dawud, haditsnya dishahih-kan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, disebarluaskan oleh Maktab at-Tarbiyyah al-‘Arabi li Dual al-Khalij Riyadh, cetakan per-tama 1409 H, dengan pengawasan Syaikh Zuhair asy-Syawisy.
  52. Shahiih Sunan an-Nasaa-i, haditsnya dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, disebarluaskan oleh Maktab at-Tarbiyyah al-‘Arabi li Dual al-Khalij Riyadh, cetakan pertama 1409 H, dengan pengawasan Syaikh Zuhair asy-Syawisy.
  53. Shahiih Muslim, karya al-Imam Muslim bin Hajjah al-Qusyairi, disebarluaskan oleh Kantor Lem-baga Keilmuan, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Saudi ‘Arabia, tanpa edisi, tahun cetak 1400 H, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi’.
  54. Ath-Thabaqaatul Kubra, karya al-Imam Ibnu Sa’ad, cetakan Daar Beirut dan Daar Shadir Beirut, tahun cetak 1377 H.
  55. Umdatul Qari’, karya al-‘Allamah Badruddin al-‘Aini, cetakan Darul Fikr Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak.
  56. ‘Aunul Ma’buud Syarah Sunan Abi Dawud, karya al-‘Allamah Abu Thayyib al-‘Azhim ‘Abadi, cetakan Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, ce-takan pertama 1410 H.
  57. Ghariibul Hadiits, karya al-Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam al-Harawi, disebarluaskan oleh Daarul Kitab al-‘Arabi Beirut, cetakan per-tama 1384 H.
  58. Fat-hul Baari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar, dise-barluaskan oleh Kantor Lembaga Keilmuan, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Saudi ‘Arabia, tanpa edisi dan tahun cetak.
  59. Al-Fat-hur Rabbaani li Tartiib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Ahmad ‘Ab-durrahman al-Banna, cetakan Daarusy Syihab Kairo, tanpa edisi dan tahun cetak.
  60. Fat-hul Qadiir, karya al-Imam Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, cetakan al-Maktabah at-Ti-jariyyah Makkah al-Mukarramah, cetakan ke-dua 1413 H, dengan ta’liq al-Ustadz Sa’id Mu-hammad al-Lahm.
  61. Fadhlud Da’wah ilallaah Ta’aalaa, karya Fadhl Ilahi, cetakan Kantor Penterjemahan Pakistan, cetakan pertama 1420.
  62. Faidhul Qadiir Syarah al-Jaami’ ash-Shaghiir, karya al-‘Allamah al-Manawi, cetakan Daarul Ma’rifah Beirut, cetakan kedua 1391 H.
  63. Al-Qaulul Badi fish Shalaah ‘alal Habiibisy Syafii’ j, karya al-Hafizh asy-Syakhawi, cetakan Mak-tabah al-Muayyid Thaif, dan Maktabah Daarul Bayan Damaskus, tanpa edisi dan tahun cetak, dengan tahqiq Ustadz Basyir Muhammad ‘Uyun.
  64. Kitaabuz Zuhud, karya al-Imam al-Mubarak, ce-takan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah Beirut, tanpa tahun cetak, dengan tahqiq Syaikh Habibur Rahman al-A’dhami.
  65. Majmaa’uz Zawaa-id wa Manbaa-ul Fawaa-id, karya al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami, cetakan Daarul Kitab al-‘Arabi Beirut, cetakan ketiga 1402 H.
  66. Majmuu’ah al-Watsaa-iq as-Siyasiyyah li ‘Ahdi an-Nabawi wal Khilafah ar-Raasyidah, karya Muhammad Humaidullah, cetakan Daarul Nafaa-is Beirut, cetakan keenam 1402 H.
  67. Majmuu’ al-Fataawaa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, disusun oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim, cetakan Maktabah al-Ma’arif al-Ribath Maroko, tanpa edisi dan tahun cetak.
  68. Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi‘ah, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz, dicetak dan disebarluaskan oleh Kantor Lembaga Keilmuan dan Fatwa, bagian Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah Riyadh, cetakan pertama 1418 H, dikumpulkan, disusun dan diawasi oleh Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwair.
  69. Al-Muharrar al-Wajiiz fii Tafsiir al-Kitaabil ‘Aziiz, karya al-Qadhi Ibnu Athiyyah al-Andalusy, th. 1413 H, dengan tahqiq Majlis ‘Ilmu Fas.
  70. Mirqaatul Mafaatih Syarah Misykaatul Mashaabih, karya al-‘Allamah ‘Ali al-Qari, cetakan al-Mak-tabah at-Tijariyyah Makkah al-Mukarramah, tanpa edisi dan tahun cetak, dengan tahqiq al-Ustadz Shidqi Muhammad Jamil Athar.
  71. Al-Mustadrak ‘ala Shahiihain, karya al-Imam Abu ‘Abdillah al-Hakim, cetakan Daarul Kitab al-‘Arabi Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak.
  72. Al-Musnad, karya al-Imam Ahmad bin Hanbal, cetakan al-Maktab al-Islami, tanpa edisi dan ta-hun cetak (atau cetakan Daarul Ma’arif Mesir, cetakan ketiga 1368 H atau cetakan Mu-assasah ar-Risaalah Beirut, cetakan pertama 1417 H).
  73. Al-Mushannaf, karya al-Imam ‘Abdurrazzaq al-Shan’ani, cetakan al-Majlis al-Ilmi Afrika Selatan, cetakan pertama 1392 H, dengan tahqiq Syaikh Habibur Rahman al-A’dhami.
  74. Ma’alimus Sunan, karya al-Imam Abu Sulaiman al-Khaththabi, cetakan al-Maktabah al-‘Ilmiyyah Beirut, cetakan pertama 1410 H.
  75. Al-Mu’jamul Kabiir, karya al-Imam ath-Thabrani, cetakan Daar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi Beirut, tanpa edisi, tahun cetak 1405 H, dengan tahqiq Syaikh Hamdi ‘Abdul Majid as-Salafi.
  76. Miftaah Daaris Sa‘aadah, karya al-Imam Ibnul Qayyim, cetakan Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak.
  77. Al-Mufradaat fii Ghariibil Qur-aan, karya al-Imam al-Ragib al-Ashfahani, cetakan Daarul Ma’rifah Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak, dengan tahqiq al-Ustadz Muhammad Sayyid al-Kailani.
  78. Nuzhatun Nadhar fii Taudiih Nuhbatul Fikar, karya al-Hafizh Ibnu Hajar, cetakan Qur-aan Mahal Karachi Pakistan tanpa edisi dan tahun
  79. An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits wal Atsar, karya al-Imam Ibnu Atsir, disebarluaskan oleh al-Maktabah al-Islamiyyah Beirut, tanpa edisi dan tahun cetak, dengan tahqiq dua guru besar; Thahir Ahmad al-Jawi dan Dr. Mahmud Muham-mad al-Thanahi.
  80. Catatan pingir kitab al-Ihsaan fii Taqriibish Sha-hiih Ibni Hibban, karya Syaikh Syu‘aib al-Arna-uth, cetakan Mu-assasah ar-Risaalah, cetakan pertama 1408 H.
  81. Catatan pinggir kitab at-Targhiib wat Tarhiib, karya Syaikh Musthafa Muhammad ‘Ammarah, cetakan Daarul Fikr Beirut, tanpa edisi dan ta-hun cetak.
  82. Catatan pinggir kitab al-Musnad, karya Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, cetakan Daarul Ma‘aarif Mesir, cetakan ketiga 1368 H.
  83. Catatan pinggir kitab al-Musnad, karya Syaikh Syu‘aib al-Arnauth dan kawan kawan, cetakan Mu-assasah ar-Risaalah Beirut, cetakan pertama 1414 H.
  84. Catatan pinggir kitab Misykaatul Mashaabih, karya Syaikh Nashiruddin al-Albani, cetakan al-Maktab al-Islami Beirut, cetakan ketiga 1399 H.

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do’akan Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah

PENGAKUAN HAIDAR BAGIR TENTANG SESATNYA SYIAH

Oleh
Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri MA

Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat.

Bapak Haidar Bagir dengan segala daya dan upayanya berusaha menutupi beberapa ideologi Syiah yang menyeleweng dari kebenaran. Walau demikian, tetap saja ia tidak dapat melakukannya. Bahkan bila Anda mencermati dengan seksama, niscaya Anda dapatkan tulisannya mengandung pengakuan nyata akan kesesatan sekte Syiah Imamiyyah.

Berikut saya ketengahkan ke hadapan Anda tiga pengakuan terselubung bapak Haidar Bagir.

Pengakuan Pertama:
Data Syiah Imamiyah tentang ideologi adanya Al-Quran versi Syiah begitu melimpah dalam berbagai referensi Syiah. Wajar bila Bapak Haidar Bagir tidak menemukan cara untuk mengingkarinya. Fenomena ini mengharuskannya menempuh cara selain menutupinya. Dan ternyata Bapak Haidar Bagir lebih memilih cara mengesankan bahwa data tersebut adalah pendapat pribadi sebagian tokoh Syiah Imamiyah.

Karenanya, dengan jelas tulisan bapak Haidar Bagir ini mengandung pengakuan tentang kebenaran adanya Alquran versi Syiah Imamiyyah. Berdasarkan pengakuannya ini, Anda mendapat kepastian tentang adanya ideologi Alquran versi Syiah Imamiyyah.

Adapun klaim bapak Haidar bahwa ideologi ini adalah ideologi sebagian oknum Syiah, maka itu menyelisihi fakta yang ada. Sebagai salah satu buktinya, Ayatullah Khomeini, yang mereka anggap sebagai Wali Faqih, dan tokoh terkemuka Syiah Imamiyah zaman ini teryata masih mengajarkannya.

Dalam kitabnya Kasyful Asrar Hal. 149 Al Khomeini menyatakan: “Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabi menahan diri dari membicarakan masalah al imaamah (kepemimpinan) dalam Alquran. Alasannya beliau khawatir Alquran akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.”

Adapun keberadaan Mushaf Utsmani di tengah-tengah para penganut Syiah Imamiyah, maka itu belum cukup kuat untuk mengingkari adanya mushaf Fatimah dalam ideologi Syiah. Yang demikian itu karena tokoh Syiah Imamiyah sejak dahulu mengajarkan agar para pengikut mereka untuk sementara membaca Al-Quran yang ada, hingga masa bangkitnya Imam ke-12 mereka. Menurut mereka, hanya Imam Mahdi merekalah yang masih menyimpan dan kelak akan mengajarkannya kembali kepada para pengikutnya.

Al Kulaini dalam kitanya Al Kafi 2:619, meriwayatkan bahwa Abu Hasan Ali bin Musa Ar Ridha, bertanya kepada Imam Syiah ke-5, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain, “ Semoga aku menjadi penebusmu, kita mendengar ayat-ayat Alquran yang tidak ada pada Alquran kita ini. Kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari Anda, maka apakah kami berdosa?” Beliau menjawab, “Tidak, bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajarkannya kepada kalian.”

Adapun klaim bapak Haidar tentang tokoh-tokoh Ahlusunnah yang menyatakan adanya perubahan pada Al-Quran, adalah klaim sepihak dan kosong dari bukti. Pernyataan sahabat Umar bin Al Khatthab juga yang lainnya tentang ayat rajam adalah penjelasan tentang adanya ayat yang dianulir secara bacaan. Walaupun secara hukum, ayat-ayat tersebut masih tetap berlaku.

Sebagaimana ulama-ulama Ahlusunnah juga menegaskan bahwa dalam Alquran terdapat beberapa ayat-ayat yang kandungan hukumnya telah dihapuskan walau secara bacaan masih tetap ada. Fakta ini bukanlah hal aneh, karena telah dijelaskan pada ayat 106, surat Al Baqarah.

Namun tentu syariat nasikh (anulir) suatu ayat menurut Ahlusunnah menyelisihi ideologi perubahan Alquran dalam doktrin Syiah Imamiyah. Nasikh menurut Ahlusunnah hanya terjadi semasa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun sepeninggal beliau maka tidak terjadi nasikh.

Ditambah lagi menurut syariat Ahlusunnah, hingga hari kiamat tidak ada yang mengembalikan ayat-ayat yang semasa Nabi hidup shallallahu ‘alaihi wa sallam mansukh (dianulir).

Sedangkan menurut sekte Syiah Imamiyyah Alquran mengalami perubahan sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kelak ayat-ayat yang dirubah sepeninggal beliau akan dikembalikan lagi oleh imam mereka ke-12. Karena itu, sekte Syiah senantiasa menantikan kehadiran sosok tersebut, yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.

Pengakuan Kedua :
Pada awal tulisan, Bapak Haidar mengklaim bahwa celaan Syiah terhadap sahabat hanyalah sebatas kecenderungan dan bukan ajaran. Menurutnya, Syiah yang mencela sahabat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah minoritas.

Selanjutnya Bapak Haidar berusaha menguatkan klaim ini dengan menyebutkan sekte Syiah Zaidiyah. Menurutnya sekte Zaidiyah menerima kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Penuturan ini adalah bukti nyata bahwa Bapak Haidar telah memutar balikkan fakta. Sejatinya Bapak Haidar Bagir-lah yang telah menggunakan data syadz (ganjil) guna mendukung kesimpulanya. Karena sekte Zaidiyah adalah sekte minoritas Syiah, sedangkan meyoritas Syiah saat ini adalah para pengikut sekte Imamiyyah.

Terlebih lagi, adanya pengakuan terhadap kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah alasan Imamiyah mengucilkan sekte Zaidiyah.

Adapun beberapa tokoh Syiah Imamiyyah yang disebut oleh bapak Haidar telah mengakui kekhilafahan ketiga sahabat di atas, maka saya tidak ingin banyak mempersoalkannya. Saya hanya ingin bertanya: apakah pengakuan tersebut diamini oleh tokoh Imamiyyah yang lain dan kemudian diterapkan oleh seluruh penganut Imamiyah?

Fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa pengikut Syiah imamiyah tetap saja melaknati ketiganya dan juga lainnya. Kasus sampang dan berbagai kasus serupa di negri kita adalah salah satu buktinya. Karena itu Abu Lukluah Al Majusi aktor pembunuh Khalifah Umar bin Khatthab diagungkan oleh sekte Imamiyah sehingga mereka menjulukinya dengan Baba Suja’uddin. Dan sebagai apresiasi atas jasanya membunuh Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab, mereka membangun kuburannya dengan megah.

Pengakuan Ketiga:
Kebesaran jiwa ulama-ulama Ahlusunnah dan juga seluruh Ahlusunnah untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga mereka semua patuh dan mengapresiasi sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan hal tersebut. Dan alhamdulillah hingga kini, hal tersebut sirna dan tidak ada yang melakukannya kembali.

Namun hal serupa hingga saat ini tidak kuasa dilakukan oleh para penganut ajaran Syiah Imamiyah. Sehingga walaupun para aktor sandiwara taqrib telah menyerukannya, namun tetap saja di lapangan para penganut Syiah terus mencaci sahabat-sahabat Nabi. Sikap Yasir Al Habib beserta para pengikutnya dan juga Syiah di Sampang adalah bukti nyata, bahwa seruan tersebut hanyalah seruan tanpa pembuktian.

Pengakuan bapak Haidar ini, dapat menjadi bukti nyata bahwa hanya dengan mengikuti ajaran Ahlusunnahlah kedamaian antar komponen umat Islam dapat terwujud. Adapun ajaran Syiah, terlebih Imamiyyah, hingga saat ini terus menjadi biang terjadinya permusuhan bahkan perang saudara di tengah-tengah umat Islam. Sikap pasukan Al Hutsi di Yaman yang menyerang Ahlusunnah di daerah Dammaj, dan juga pasukan Al Mahdi di Irak yang membantai Ahlusunnah adalah bukti nyata akan hal tersebut.

Pengakuan Keempat :
Bapak Haidar Bagir juga mengakui bahwa sekte Syiah yang selama ini menjadi biang kericuhan umat Islam adalah Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah. Karena itu beliau merasa perlu untuk mengutarakan adanya perubahan pandangan tentang keabsahan khilafah sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Walau demikian, ada satu fakta yang mungkin kurang diwaspadai oleh bapak Haidar Bagir. Mengakui adanya perubahan ini sejatinya adalah pengakuan bahwa ideologi Imamah versi Imamiyyah adalah sesat. Andai tidak sesat, buat apa beliau perlu mengutarakan adanya ralat yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekte Imamiyah?

Terlebih sejatinya ideologi bahwa imam (penguasa umat) dalam Islam hanya berjumlah 12 orang, adalah ideologi tidak nyata dan tidak masuk akal. Anda pasti telah mengetahui bahwa dari kedua belas imam Syiah yang benar-benar pernah mengenyam sebagai khalifah hanyalah sahabat Ali bin Abi Thalib dan putranya Hasan.

Adapun Husein beserta anak cucunya, maka hingga mereka meninggal dunia, tidak seorang pun yang sempat menjadi pemimpin. Sehingga berbagai dalil yang mereka yakini tentang keimaman mereka benar-benar menyelisihi fakta.

Secara defacto seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Hasan bin Abi Thalib telah menyerahkan khilafah (kekuasaan) kepada sahabat Mu’awiyah. Dan tahun terjadinya serah terima khilafah ini akhirnya dikenal dan diabadikan oleh umat Ahlusunnah hingga akhir masa. Sehingga mereka menyebut tahun tersebut dengan sebutan ‘aamul jama’ah (tahun persatuan).

Setiap Ahlusunnah bergembira dengan kejadian ini. Ahlusunnah menganggap sikap Hasan ini sebagai jasa terbesar yang beliau lakukan untuk umat Islam. Bahkan Ahlusunnah hingga saat ini meyakini bahwa sikap Hasan ini sebagai wujud nyata dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya : “Sejatinya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga dengannya Allah menyatukan dua kelompok besar dari umat Islam.” [HR. Bukhari]

Namun tahukah Anda bahwa Ahlusunnah yang mengapresiasi kebesaran jiwa Hasan ini ternyata tidak diteladani oleh penganut Syiah. Beberapa referensi Syiah malah menukilkan sikap yang berlawan arah. Beberapa tokoh Syiah malah menganggap sikap Hasan ini sebagai bentuk pengkhianatan.

Pada suatu hari, seorang tokoh Syiah bernama Sufyan bin Laila berkunjung ke rumah Hasan bin Ali. Didapatkan beliau sedang duduk-duduk sambil berselimut di depan rumahnya. Spontan Sufyan bin Laila mengucapkan salam kepada Hasan dengan berkata, “Semoga keselamatan atasmu, wahai orang yang telah menghinakan kaum mukminin!” Karena merasa ganjil dengan ucapan selamat yang disampaikan oleh Sufyan, Hasan bertanya, “Darimana engkau mengetahui hal itu?” Ia menjawab, “Engkau telah memangku kepemimpinan, lalu engkau melepaskannya dari bahumu. Selanjutnya engkau sematkan kepemimpinan itu di bahu penjahat ini agar ia leluasa menerapkan hukum selain hukum Allah.”

Kisah ini bisa Anda temui pada beberapa refensi agama Syiah, semisal: Al Ikhtishash karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Hal.82, Ikhtiyaar Ma’rifat Ar Rijal, karya As Syeikh At Thusi wafat thn: 460, Hal. 1:327 dan Biharul Anwar karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111 H, Hal.44:24.

Sejak serah terima khilafah antara sahabat Hasan kepada sahabat Mu’awiyah ini, tidak seorang pun dari keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib yang memangku jabatan khalifah. Bahkan Husein bin Abi Thalib yang hendak merebut khilafah dari Yazid bin Mu’awiyah, menemui kegagalan dan terbunuh sebelum sempat mendapatkannya. Tak ayal lagi, ia hidup tanpa imamah, hingga akhir hayatnya, demikian pula nasib seluruh anak cucunya. Dengan demikian kesepuluh imam Syiah Imamiyyah setelah Hasan berstatus Kings Without A Kingdom.

Ini adalah bukti nyata bahwa meyakini keimamahan kesepuluh imam sekte Imamiyah adalah kekeliruan, karena menyelisihi fakta. Sehingga wajar bila seluruh Ahlusunnah dan juga setiap yang berakal sehat tanpa terkecuali umat Islam di negri kita tercinta ini menolak ideologi Syiah Imamiyyah.

[Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI). Disalin dari KonsultasiSyariah]