Monthly Archives: August 2020

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah ‘Aqidah

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I DALAM MASALAH ‘AQIDAH

Mengenal aqidah seorang imam besar Ahlu Sunnah merupakan perkara penting. Khususnya, bila sang imam tersebut memiliki pengikut dan madzhab yang mendunia. Karenanya, mengenal pernyataan Imam Syafi’i yang madzhabnya menjadi madzhab banyak kaum muslimin di negeri ini, menjadi lebih penting dan mendesak, agar kita semua dapat melihat secara nyata aqidah Imam asy-Syafi’i, dan dapat dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin di Indonesia.

Untuk itu, kami sampaikan disini beberapa pernyataan beliau seputar permasalahan aqidah, yang diambil dari kitab Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, karya Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-‘Aqîl.

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Kubur
1. Hukum Meratakan Kuburan.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُزَادُ فِيْ القَبْرِ مِنْ غَيْرِهِ وَلَيْسَ بأَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ بَأْسٌ إِذَا زِيْدَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَ إِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ شِبْرًا أَوْ نَحْوِهِ

Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu“. (1/257)

2. Hukum Membangun Kuburan dan Menemboknya.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصُ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّيْنَةَ وَ الْخُيَلاَءَ وَ لِيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهَا زَلَمْ أَرَ قُبُوْرَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَ الأَنْصَارِ مُجَصَّصةً قَالَ الرَّاوِيُ عَنْ طَاوُسٍ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  نَهَى أَنْ تُبْنَى أَوْ تُجَصَّصُ  وَقَدْ رَأَيْتُ مِنَ الْوُلاَةِ مَنْ يَهْدِمُ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيْهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يُعِيْبُوْنَ ذَلِكَ

Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok”.
“Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kuburan dibangun atau ditembok”.
Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut. (1/258)

3. Hukum Membangun Masjid di Atas Kuburan.

وَ أَكْرَهُ أَنْ يُبْنَى عَلَى الْقَبْرِ مَسْجِدٌ وَ أَنْ يُسَوَى أَوْ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَ هُوَ غَيْرُ مُسَوَى أَوْ يُصَلََّى إِلَيْهِ  وَ إِنْ صَلَّى إِلَيْهِ أَجْزَأَهُ وَ قَدْ أَسَاءَ

Saya melarang dibangun masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk shalat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau shalat menghadap kuburan. Apabila ia shalat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa“. (1/261).

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Fitnah Kubur dan Kenikmatannya

وَ أَنَّ عَذَابَ القّبْرِ حَقٌّ وَ مُسَاءَلَةَ أَهْلِ ال قُبُوْرِ حَقٌّ

Sesungguhnya Adzab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar. (2/420)

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Kebangkitan, Hisab, Surga dan Neraka

وَ البَعْثُ حَقٌّ وَ الْحِسَابُ حَقٌّ وَ الْجَنَّةُ وَ النَّارُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَنُ فَظَهَرَتْ عَلَى أَلْسِنَىِ الْعُلَمَاءِ وَ أَتْبَاعِهِمْ مِنْ بِلاَدِ الْمُسلِمِيْنَ حَقٌّ

Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar. (2/426)

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Bersumpah Dengan Selain Allah

فَكُلُّ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ كَرِهْتُ لَهُ وَ خَشِيْتُ عَلَيْهِ أََنْ تَكُوْنَ يَمِيْنُهُ مَعْصِيَّةً وَ أَكْرَهُ الأَيْمَانَ بِاللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِلاَّ فِيْمَا كَانَ طَاعَةً للهِ مِثْلُ الْبَيْعَةِ فِيْ الْجِهَادِ وَ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

Semua orang yang bersumpah dengan selain Allah, maka saya melarangnya dan mengkhawatirkan pelakunya, sehingga sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allah dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allah, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya. (1/271)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Syafa’at

فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَتَهُ الْمُصْطَفَى لِوَحْيِهِ الْمُنْتَخَبَ لِرِسَالَتِهِ الْمُفَضَّلَ عَلَى جَمِيْعِ خَلْقِهِ بِفَتْحِ رَحْمَتِهِ وَ خَتْمِ نُبُوَّتِهِ وَ أَعَمَّ مَا أَرْسَلَ بِهِ مُرْسَلٌ قَبْلَهُ

Beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk wahyunya lagi terpilih sebagai Rasul-Nya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmat-Nya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dari ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat. (1/291).

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:

وَاسْتَنْبَطْتُ الْبَارِحَةَ آيَتَيْنِ فَمَا أَشْتَهِيْ بِاسْتِنْبِاطِهَا الدُّنْيَا وَ مَا قَبْلَهَا (وَهِيَ قِوْلُهُ تَعَالَى) : يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ  وَفِيْ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَثِيْرٌ. (قَالَ تَعَالَى) : مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَعَطَّلَ الشُّفَعَاءَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ

Semalam saya mengambil faidah (istimbâth) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Firman Allah: … Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya …. -Qs. Yunus/10 ayat 3.

Dan dalam kitabullah, hal ini banyak: … Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?…. –Qs. al-Baqarah/2 ayat 256.

Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Alllah. (1/291).

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Istiwa’ Bagi Allah

الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَ رَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَ مَالِكٍ وَ غَيْرِهِمَا الإقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ…

Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyaan, Maalik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (Lâ Ilâha illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah), (beriman) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka … (2/354-355)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Nuzul (Turun) Bagi Allah

وَ أَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لِيْلَةٍ إِلَى سَمَاء الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allah turun setiap malam ke langit dunia dengan dasar berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . (2/358).

وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia bagaimana Dia suka. (2/358).

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Tangan Bagi Allah
Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan dengan dasar firman Allah,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Orang-orang Yahudi berkata:”Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al-Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. -Qs. al-Maidah/5 ayat 64.

Dan sungguh Dia juga memiliki tangan kanan dengan dasar firman Allah:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. -Qs. az-Zumar/39 ayat 67.

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Melihat Allah Di Akhirat

عَنِ الرَبِيْعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ كُنْتُ ذَاتَ يَوْمٍ عِنْدَ الشَّافِعِيِ رحمه الله زَ جَاءَهُ كِتَابٌ مِنَ الصَّعِيْدِ يَسْأَلُوْنَهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ  لَمَحْجُوبُونَ   فَكَتَبَ فِيْهِ لَمَّا حَجَبَ اللهُ   قَوْمًا بِالسَّخَطِ دَلَّ عَلَى أَنَّ قَوْمًا يَرَوْنَهُ بِالرِّضَا قَالَ الرَّبِيعُ : أَوَتَدِيْنُ بِهَذَا يَا سَيِدِيْ قَألَ : وَ اللهِ لَوْ لَمْ يُقِنَّ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيْسِ أَنَّهُ يَرَى رَبَّهُ فِيْ الْمَعَادِ لَمَّا عَبَدَهُ فِيْ الدُّنْيَا

Dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, beliau berkata: “Suatu hari saya berada di dekat asy-Syafi’i dan datang surat dari daerah ash-Sha’id. Mereka menanyakan kepada beliau tentang firman Allah, (yang artinya): Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. -Qs. Muthaffifin/83 ayat 15- lalu beliau menulis (jawaban) berisi (pernyataan), ketika Allah menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahwa orang-orang melihat-Nya dengan sebab keridhaan”.

Ar-Rubayyi’ bertanya: “Apakah engkau beragama dengan hal ini, wahai tuanku?”
Lalu beliau menjawab: “Demi Allah! Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia melihat Rabb-Nya di akhirat, tentu ia tidak menyembah-Nya di dunia”. (2/286).

عَنِ ابْنِ هَرَمٍ الْقَرَشٍيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى : كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ قَالَ فَلَمَّا حَجَبَهُمُ فِيْ السَخَطِ كَانَ دَلِيْلاً عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِيْ الرِّضَا

Dari Ibnu Haram al-Qurasyi, beliau berkata: “Saya mendengar  asy-Syafi’i mengatakan pada firman Allah l “ Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. -Qs. Muthaffifin/83 ayat 15-“, ini adalah dalil bahwa para wali-Nya melihat-Nya pada hari Kiamat. (2/287).

Sikap Imam Syafi’i Terhadap Syi’ah

عَنْ يُوْنُسِ بْنِ عَبْد الأَعْلِى يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الشَّافِعِي إِذَا ذُكِرَ الرَّافِضَةُ عَابَهُمْ أَشَّدَّ الْعَيْبِ فَيَقُوْلُ شَرَّ عِصَابَةِ

Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek“. (2/486).

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَد بِالزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ

Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah. (2/486).

قَالَ الشَّافَعِيُّ فِيْ الرَّافِضَةِ يَحْضُرُ الْوَقِعَةِ : لاَ يُعْطَى مِنَ الْفَيْءِ شَيْئًا لأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ آيَةَ الْفَيْءِ ثُمَّ قَالَ : جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ  فَمَنْ لَمْ يَقُلْ بِهَا لَمْ يَسْتَحِقَّ

Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, karena Allah l menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, …”. -Qs. al-Hasyr/59 ayat 10- maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bagian fa’i). (2/487).

Sikap Imam Syafi’i Terhada Shufiyah (Tashawwuf)

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتُه أَحْمَقُ

Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh. (2/503).

مَا رَأَيْتُ صُوْفِيًّا عَاقِلاً قَطْ إِلاَّ مُسْلِم الْخَوَاص

Saya, sama sekali tidak mendapatkan seorang sufi berakal, kecuali Muslim al-Khawash. (2/503).

أُسَسُ التَّصَوُّفِ الْكَسَلُ

Asas tasawwuf adalah kemalasan. (2/504).

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيْ صُوْفِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُوْلٌ , أَكُوْلٌ, شُؤُوْمٌ , كَثِيْرُ الفُضُوْلِ

Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia. (2/504).

Demikian, sebagian pernyataan dan sikap beliau, agar diketahui bagaimana seharusnya mengikuti beliau dengan benar. Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Edisi 01/Tahun XII/1429/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Aqidah Imam Syâfi’i, Allah Subhanahu wa Ta’ala Ada Di Atas

AQIDAH IMAM SYAFI’I,  ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA ADA DI ATAS

Oleh
Syaikh Dr. Muhammad bin Mûsa Alu Nashr

Di antara pokok utama aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, ialah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di langit (di atas langit), Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas makhluk-makhluk-Nya dan ber-istiwâ` (bersemayam) di atas ‘Arsy sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, tidak seperti bersemayamnya seorang manusia. Akan tetapi, meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy, ilmu-Nya ada di setiap tempat dan Dia lebih dekat dari urat leher seseorang. Tidak pula tersembunyi dari-Nya apa pun yang ada di langit dan di bumi, bahkan Dia mengetahui dan menyaksikan pembicaraan-pembicaraan rahasia.

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

… Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada …. [al-Mujâdilah/58:7].

Tapi kebersamaan ini adalah kebersamaan pendengaran, ilmu, penguasaan dan rahmah, bukan kebersamaan secara fisik sebagaimana dikatakan Jahmiyah[1] dan Huluuliyah[2]. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan.

Sifat ‘Uluw (Tinggi) Allah Subhanahu wa Ta’ala, terbagi menjadi umum dan khusus. Umum ditinjau dari ketinggian-Nya atas seluruh makhluk; dan khusus, jika ditinjau dari bersemayamnya di atas ‘Arsy setelah penciptaan langit dan bumi.

Dari sini Ahlus-Sunnah menetapkan ketinggian Dzat Allah, Dzat-Nya yang Maha Suci. Dia ada sebelum penciptaan makhluk, sebelum penciptaan langit dan bumi, serta sebelum adanya waktu dan tempat.

Kemudian, setelah menciptakan ‘Arsy, Dia bersemayam di atasnya. Di sini bisa disimpulkan bahwa ketinggian adalah sifat dzatiyah[3] Allah. Sedangkan bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy adalah sifat fi’liyah ikhtiyariyah,[4] maka Allah bersemayam kapan saja dan dengan cara apa saja yang Dia kehendaki.

Al-istwâ` (bersemayam), al-‘uluw (tinggi) dan al-irtifa’ (ketinggian) mempunyai empat arti. Berarti ‘ala (di atas), irtafa’a (tinggi), sha’ada (naik), dan istaqarra (tetap) tanpa perlu ditanyakan bagaimananya.

Seperti jawaban Imam Mâlik ketika ditanya tentang istiwâ`, beliau berkata: “Al-istiwâ` tidaklah asing (yaitu bisa difahami) dan wujudnya tidak masuk akal (tidak mampu difahami akal), sedangkan mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah,” kemudian beliau memerintahkan untuk mengeluarkan si penanya dari masjid.

Oleh karena itu, Ahlus-Sunnah menetapkan ketinggian Dzat Allah dan sifat ‘uluw (tinggi) secara umum atas seluruh makhluk sebelum penciptaan serta sifat ‘uluw (tinggi) secara khusus, yaitu ketinggian dan bersemayam-Nya setelah penciptaan Arsy. Sehingga sifat ‘uluw (tinggi) yang umum melekat dengan Dzat-Nya, sedangkan sifat ‘uluw (tinggi) secara khusus berkenaan dengan kehendak dan pilihan-Nya.

Banyak kelompok telah menyelisihi Ahlus-Sunnah dalam penetapan sifat ‘uluw; di antaranya Jahmiyah, Hulûliyah Ittihadiyah, Mu’tazilah dan selain mereka. Mereka menafsirkan kata istiwâ` dengan istilâ` (menguasai, merebut). Ini merupakan penafsiran baru yang disusupkan ke dalam Islam, yang tidak pernah dikenal oleh generasi pertama umat ini, generasi umat yang terbaik. Kata istiwâ`, jika dibuat aktif dengan kata sambung (على), maka tidak punya arti kecuali ‘uluw (tinggi) dan fauqiyyah (ketinggian).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. [Thaha/20:5].

Sebenarnya, makna lainnya dari istiwâ` masih banyak, tetapi yang menjadi titik perbedaan antara Ahlus-Sunnah dengan kelompok-kelompok lain, ialah dalam bentuk aktif dengan kata sambung (على). Maka dalam firman Allah yang telah disebutkan tadi, makna (على) ialah di atas. Disinilah penyelisihan ahlul bid’ah terghadap Ahlus-Sunnah. Mereka bersikeras, makna istiwâ` ialah istaulâ`. Mereka berhujjah dengan sebuah bait syair palsu yang berbunyi:

 اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَلاَ دَمٍ مِهْرَاقٍ

(Bisyr menguasai/merebut Iraq tanpa pedang dan darah yang mengalir).

Syair ini tidak diketahui siapa yang membuatnya. Ada yang mengatakan syair ini milik Akhtal an-Nashrani (seseorang yang beragama Nashara), tetapi tidak ditemukan dalam kumpulan syair-syairnya. Kalaupun perkataan ini benar, apakah kita akan mengatakan bahwa Akhtal yang beragama Nashrani lebih paham tentang makna-makna Al-Qur`ân dibandingkan para sahabat dan generasi pertama dari umat ini? Padahal perkataan ini sangat jelas ketidakbenarannya. Bagaimana mereka sanggup menolak ayat-ayat Al- Qur`ân dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian mengambil hujjah dari syair yang dipalsukan, tidak jelas siapa yang mengatakannya? Sehingga Ahlus-Sunnah bisa dengan mudah mematahkan argumen mereka yang lemah ini dengan Al-Qur`ân dan Sunnah, bahkan melalui tinjauan bahasa sekalipun.

Telah banyak kisah dari ahli ilmu tentang bantahan ini, sebagaimana sebuah kisah dari seorang ahli bahasa Imam Ibnul-‘Arâbi. Suatu ketika ada yang bertanya kepada beliau:

“Wahai Imam, apa makna firman Allah الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى  ?”

Beliau menjawab: “Maknanya ialah isti’lâ` (tinggi)”.

Si penanya membantah: “Tidak, maknanya ialah istaula (menguasai/merebut)”.

Beliau berkata: “Diam! Orang Arab tidak memaknai istawâ` dengan pengertian istaulâ`, kecuali ketika ada perlawanan dan perselisihan. Siapakah yang mampu melawan kekuasaan Allah dan menentang-Nya?”

Kemudian kalau kita mengatakan istawâ` bermakna istaulâ`, maka kita telah menetapkan kelemahan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena berarti Arsy-Nya pernah dikuasai pihak lain selama beberapa waktu sehingga Allah perlu menguasainya kembali. Sehingga sangat jauh (tidak mungkin) hal ini terjadi terhadap Allah yang Maha Sempurna.

Ayat-ayat Al-Qur’ân yang menerangkan sifat ‘uluw (tinggi) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah banyak. Di antaranya firman Allah Ta’ala:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. [al-Mulk/67:16].

Maksud ‘Dzat yang berada di dalam langit’ ialah Dzat yang berada di atasnya. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit (bukan di dalamnya, pent.). Lantaran jumlah langit adalah tujuh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit ke tujuh. Tempat ‘Arsy berada di atas langit tujuh. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy tersebut sesuai dengan kesempurnaan-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala tempat. Ini karena kata sambung (في, fii) pada ayat di atas mempunyai arti “di atas” (fauqiyyah dan ‘uluw), bukan sebagai zharfiyyah (keterangan tempat).

Ketika kita mengatakan الماء في الكوز (air di dalam cangkir), dalam perkataan ini (في) menjadi keterangan tempat (zharfiyyah), sehingga diartikan “di dalam”. Seperti halnya kita mengatakan الطُّلاَّبُ فِيْ الْقَاعَة (murid-murid di dalam kelas). Karena kelas mengelilingi mereka, maka diartikan murid-murid “di dalam” kelas. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi pada Allah, dimana langit mengelilingi-Nya. Maka kita artikan (في) dengan “di atas”, karena ini juga salah satu makna (في).

Di antara dalil bahwa (في) bermakna “di atas” juga adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menceritakan perkataan Fir’aun kepada para penyihirnya:

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian di atas pohon kurma, dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. [Thâhâ/20:71].

Dalam ayat ini Fir’aun mengancam para penyihir yang beriman dengan kenabian Musa. Mereka diancam akan disalib di atas pohon kurma. Apakah mungkin orang yang berakal mengatakan makna (في) dalam ayat tersebut adalah “di dalam”? Lalu apa gunanya ancaman Fir’aun ini kalau para penyihir disalib di dalam pohon kurma? Bukankah Fir’aun melakukan ancaman ini supaya yang lain takut dengan kekejamannya? Bagaimana yang lain akan takut kalau tidak bisa melihat apa yang terjadi?

Ayat lain yang menerangkan (في) bermakana “di atas”, yaitu firman Allah:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: “Berjalanlah di atas bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. [al-An’âm/6:11].

Apakah pengertian “berjalan di dalam bumi” yang termaktub dalam ayat di atas berarti menelusuri goa-goa di perut bumi yang gelap? Apakah mengarungi air bah? Apa yang dapat disaksikan? (Tidak ada, pent.).

Jadi, maksud dari “berjalan di dalam bumi”, ialah berjalan di atasnya untuk merenungi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta ini untuk mengantarkan kepada rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian, aqidah Imam Syafi’i rahimahullah yang terangkum dalam pernyataan beliau berikut ini: “Konsep ajaran Islam yang aku pegangi dan dipegangi orang-orang yang aku ketahui, semisal Sufyan (ats-Tsauri), (Imam) Mâlik dan lain-lain, (ialah) pengakuan terhadap persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, mendekati makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan turun ke langit bumi sesuai dengan kehendak-Nya[5].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Edisi 01/Tahun XII/1429/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Golongan menyimpang produk Jahm bin Shafwân. Di antara pokok penyimpangannya, yaitu keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mempunyai sifat-sifat.
[2] Golongan menyimpang yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya atau Allah berada dimana-mana.
[3] Sifat-sifat  yang tidak terpisahkan dengan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala .
[4] Perbuatan-perbuatan (sifat-sifat) yang tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah melakukannya ketika berkehendak saja.
[5] Mukhtashar ‘Uluw

Literatur Islam Tentang Wabah-Pandemik Sepanjang Sejarah

KARYA-KARYA LITERATUR ISLAM TENTANG WABAH-PANDEMIK SEPANJANG SEJARAH

Oleh
Dr Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar MA

Hari ini (tahun 2020), Indonesia dan hampir seluruh Negara-negara di dunia mengalami wabah pandemik bernama Covid-19. Patut dicatat, fenomena wabah sejatinya telah terjadi berulangkali sepanjang sejarah umat manusia. Berbagai catatan sejarah melalui literasi tulis yang ada memberi informasi tentang hal itu.

Dalam sejarah, para dokter mendeskripsikan wabah- wabah yang terjadi dalam tinjauan medis, lalu dicarikan solusi dan penanganannya secara medis pula. Hal ini menginisiasi munculnya teknik-teknik pengobatan dan obat-obatan yang relevan untuk penyakit (wabah) tersebut. Sementara itu para fukaha dan ahli agama juga ikut memberi kontribusi dari sisi hukum dan hikmah wabah itu.

Para fukaha juga berperan menangkis pemahaman- pemahaman yang berkembang bahwa wabah tersebut merupakan konspirasi makhluk halus sehingga memerlukan terapi supranatural.

Selain itu, para ahli agama (fukaha atau ulama) juga berperan mengedukasi masyarakat setiap kali terjadi wabah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak taubat, istigfar, sabar, dan rida, serta menerima dan menyadari sepenuhnya semua adalah ketentuan Allah.

Khusus fenomena Tha’un (penyakit menular global), sejatinya telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah, hal ini sebagaimana telah tercatat dalam buku-buku sejarah yang menginformasikan tentang kapan dan dimana saja wabah Tha’un itu pernah terjadi, berapa jumlah orang yang meninggal dunia disebabkan wabah itu, bagaimana respons masyarakat ketika itu, dan lain-lain.

Bahkan, beberapa literatur tentang wabah adakalanya ditulis karena memang telah terjadi dan menimpa dirinya atau kerabatnya. Misalnya, Ibn Hajar (w. 852 H/1448 M) yang kehilangan 3 putrinya dalam sebuah tragedi pandemi. Lalu Ibn al-Wardy (w. 749 H/1348 M) yang wafat dalam sebuah wabah yang terjadi di Aleppo dan kawasan lainnya (sejak tahun 742 H sampai tahun 749 H/1348 M). Lalu Taj ad-Din as-Subky (w. 771 H/1369 M) yang wafat dalam salah satu peristiwa pandemi, dan lain-lain.

Berikut ini dikemukakan tahun-tahun peristiwa
terjadinya wabah (sejak abad ke-1 H/7 M sampai abad ke-14 H/20 M) yang dikutip dari berbagai sumber. Juga, dikemukakan karya-karya tulis tentang wabah-pandemik sebagai ditulis oleh para dokter dan ulama.

Abad 1 H/7 M

  1. Tha’un Syairawiyah di Mada’in (Persia) pada tahun ke- 6 H/627 M yaitu di zaman Nabi Saw.
  2. Tha’un ‘Amwas (nama desa antara Quds dengan Ramlah) tahun 17 H/638 M atau tahun 18 H/639 M yaitu di Syam, yang merenggut 25 ribu orang (ada yang mengatakan 30 ribu orang), dimana pada pandemi ini juga banyak menewaskan sejumlah sahabat seperti Abu Ubaidah, Mu’adz bin Jabal, Abu Malik al-‘Asy’ary, Yazid bin Abi Sufyan, al-Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, dan lain-lain.
  3. Tha’un di Kufah tahun 49 H/669 M.
  4. Di Hasanah tahun 53 H/673 M, yang menewaskan Ziyad bin Abihi.
  5. Di Mesir tahun 66 H/686 M.
  6. Di Basrah tahun 69 H/689 M (ada pendapat yang menyatakan tahun 67 H/687 M, 69 H/689 M, 70 H/690 M, dan 72 H/692 M). Dinamakan juga dengan Tha’un ‘al-Jarif’ yang merenggut puluhan ribu nyawa.
  7. Di Mesir tahun 85 H/704 M.
  8. Di Basrah yaitu Tha’un ‘al-fityat’ dan ‘al-‘adzry’ tahun 87 H/706 M (ada pendapat yang menyatakan tahun 82 H/701 M, 84 H/703 M, 85 H/704 M, 86 H/705 M, 87 H/706 M), dinamakan demikian oleh karena sangat banyak orang yang meninggal dunia.
  9. Tahun 86 H/705 M (yaitu tahun wafatnya Abdul Aziz bin Marwan).
  10. Lalu Tha’un ‘al-asyraf’, dinamakan demikian karena banyaknya orang-orang mulia yang wafat, yaitu tahun 100 H/718 M.
  11. Tha’un ‘Ady bin Arthah tahun 100 H/718 M.

Abad ke-2 H/8 M

  1. Tahun 107 H/725 M di Syam.
  2. Tahun 115 H/733 H di Syam.
  3. Tahun 127 H/745 M (dinamakan Tha’un Ghurab).
  4. Tahun 131 H/749 M (dinamakan Tha’un Sullam bin Qutaibah).
  5. Tahun 134 H/751 M (dinamakan Tha’un Rayy).
  6. Tahun 146 H/763 M di Bagdad.

Abad ke-3 H/9 M

  1. Tahun 221 H/836 M di Basrah.
  2. Tahun 249 H/863 M di Irak.

Karya-karya di abad ini:

  • “Fi al-Abkhirah al-Mashlahah li al-Jaww Min al- Waba’” : Al-Kindy (w. 260 H/874 M). Naskahnya sudah tidak ditemukan lagi (hilang), namun sejumlah substansinya telah dikutip oleh At-Tamimy.
  • Risalah fi Idhah al-‘Illah fi as-Sama’im al-Qatilah as- Sama’iyyah wa Huwa Qaul al-Muthlaq fi al-Waba’ : Al-Kindy (w. 260 H/874 M). Naskahnya juga telah hilang.
  • Risalah fi al-Adawiyah al-Musyfiyah Min ar-Rawa:ih al-Mu’dzyiyah : Al-Kindy (w. 260 H/874 M), naskahnya juga sudah hilang.
  • Kitab ath-Thawa’in : Ibn Aby ad-Dunya (w. 281 H/894 M).
  • Kitab fi al-I’da’ : Qustha bin Luqa (w. sekitar tahun 300 H/912 M).

Abad ke-4 H/10 M

  1. Tahun 301 H/913 M.
  2. Tahun 324 H/936 M di Isfahan.
  3. Tahun 346 H/957 M.

Karya-Karya di abad ini:

  • As-Sabab fi Qatl Rih as-Sumum Aktsar al-Hayawan : Ar-Razy (w. 313 H/925 M)
  • Ar-Risalah al-Waba’iyah : Ar-Razy (w. 313 H/925 M)
  • Na’t al-Asbab al-Maulidah li al-Waba’ fi Mishr wa Thariq al-Hailah fi Dzalika wa ‘Ilaj Ma Yatkhawwafu Minhu : Ibn al-Jazzar (w. 369 H/979 M), naskahnya sudah hilang, namun beberapa substansi pembahasannya telah dikutip oleh At-Tamimy dan Ali bin Ridhwan.
  • Maddah al-Baqa’ fi Ishlah Fasad al-Hawa’ wa at- Taharruz Min Dharar al-Auba’ : Muhammad bin Ahmad at-Tamimy al-Maqdisy (ditulis tahun 370 H/980 M). Naskah ini sudah ditahkik oleh Yahya asy- Syi’ar (Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah, 1999 M).
  • Khuthbah fi Dzikr al-Maut wa al-Waba’ : Al-Khathib bin Nabatah (w. 374 H/984 M). Salah satu naskahnya ada di “Khizanah Jami’ al-Qairawan”.

Abad ke-5 H/11 M

  1. Tahun 406 H/1015 M di Basrah.
  2. Tahun 423 H/1032 M di India dan Asia.
  3. Tahun 425 H/1034 M di Syiraz, Wasith, Ahwaz, Basrah, dan Bagdad.
  4. Tahun 433 H/1041 M di Mousil, Aljazera, dan Bagdad.
  5. Tahun 449 H/1057 M di Bukhara, Azerbaijan, Ahwaz, Wasith, Basrah, dan Samarkand.
  6. Tahun 452 H/1060 M di Hijaz dan Yaman.
  7. Tahun 455 H/1063 M di Mesir.
  8. Tahun 469 H/1076 M di Damaskus.
  9. Tahun 478 H/1085 M, bermula di Irak lalu menyebar ke seluruh dunia.

Karya-karya di abad ini:

  • Risalah fi Tahqiq Amr al-Waba’wa al-Ihtiraz Minhu wa Ishlahuhu Idza Waqa’a : Abu Sahl al-Masihy (w. 401 H/1010 M), telah ditahkik oleh Luth Allah Qary
    denagan judul “Risalatan fi al-Jughrafiya ath- Thibbiyyah wa Ta’tsir al-Bi’ah Ma’a Dirasah ‘an Turatsina al-‘Ilmy Haula al-Maudhu’ (Jami’ah al- Kuwait dan al-Jam’iyyah al-Jughrafiyyah al- Kuwaitiyah, 1426 H/2005 M).
  • Daf’ al-Midhmar al-Kulliyyah ‘an al-Abdan al- Insaniyyah : Ibn Sina (w. 428 H/1037 M), telah ditahkik oleh Zuhair al-Baba (Ma’had at-Turats al- ‘Ilmy al-‘Araby Aleppo, 1984 M).
  • Daf’ Midhmar al-Abdan bi Ardh Mishr : Ali bin Ridhwan (w. 460 H/1068 M), telah diterbitkan di Amerika Serikat dan dicetak di Bagdad tahun 1988 M, lalu di Kuwait tahun 1994 M.

Abad ke-6 H/12 M

  1. Tahun 575 H/1179 M di Bagdad.
  2. Tahun 597 H/1200 M di Mesir.

Karya di abad ini:
Al-Ifadah wa al-I’tibar fi al-Umur al-Musyahadah wa al-Hawadits al-Mu’ayanah bi Ardh Mishr : ‘Abd al- Lathif al-Baghdady (w. 629 H/1231 M), telah dicetak di London dan Damaskus. Buku ini ditulis karena Tha’un yang terjadi di Mesir.

Abad ke-7 H/13 M

  1. Tahun 633 H1235 M.

Karya-karya di abad ini:

  • Idza Nazala al-Waba’ bi Ardh Qawm : Muhammad bin Yusuf al-Mazdaghy al-Fasy (w. 655 H/1257 M). Naskah ini saat ini telah hilang. :
  • Jami’ al-Ghardh fi Hifzh ash-Shihhah wa Daf’ al- Maradh : Ibn al-Quf (w. 685 H/1286 M), ditahkik oleh Samy Hamaranah (al-Jami’ah al-Urduniyah, Aman, 1989 M).

Abad ke-8 H/14 M

  1. Tahun 720 H/1320 M di Mesir.
  2. Tahun 749 H/1348 M di Makkah.
  3. Tahun 764 H/1362 M di Cairo dan Damaskus.
  4. Tahun 769 H/1367 M.
  5. Tahun 771 H/1369 M di Damaskus.
  6. Tahun 781 H/1379 M dan 783 H/1381 M di Mesir.
  7. Tahun 791 H/1389 M.

Karya-karya di abad ini:

  • An-Naba’ ‘an al-Waba’ : Zain ad-Din bin al-Wardy (w. 749 H/1348 M).
  • Kitab ath-Tha’un : Abu Ja’far Ahmad bin Ibrahim bin Ahmad bin Shafwan al-Malaqy (w. 763 H/1361 M), salinan naskahnya sudah hilang.
  • Ishlah an-Niyyah fi al-Mas’alah ath-Tha’uniyyah : Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Muhmmad bin Ja’far bin Musytamil al-Aslamy al-Bilyany (w. 764 H/1362 M).
  • Tahshil Ghardh al-Qashid fi Tafshil al-Maradh al- Wafid : Abu Ja’far Ahmad bin Aby al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Khatimah al-Anshary (w. 770 H/1368 M), ditahkik oleh Muhammad Hasan dalam “Tsalatsu Rasa’il Andalusiyyah fi ath-Tha’un al-Jarif”, diterbitkan oleh “al-Majma’ at-Tunisy li al- ‘Ulum wa al-Adab wa al-Funun”, 2013 M.
  • Maqamah al-Khalil bin Aibak ash-Shafady (w. 764 H/1362 M), ditulis tatkala terjadi wabah Tha’un pada tahun 749 H/1348 M. Ini sebagaimana disebutkan Ibn Hajar dalam “Badzl al-Ma’un”.
  • Juz’ fi ath-Tha’un : Taj ad-Din as-Subky (w. 771 H/1369 M), naskahnya saat ini telah hilang.
  • Hall al-Huba li Irtifa’ al-Waba : Waly ad-Din al- Malawy (w. 774 H/1372 M), telah ditahkik oleh Shalih al-Azhary.
  • Muqni’ah as-Sa’il ‘an al-Maradh al-Ha’il : Lisan ad- Din al-Khathib (w. 776 H1374 M). Ditulis saat terjadi wabah Tha’un di Andalusia tahun 749 H/1348 M. Naskah ini telah ditahkik oleh Hayyah Qarah.
  • Syarh Risalah Muqni’ah as-Sa’il ‘an al-Maradh al- Ha’il : Abdullah bin Muhammad al-Khathib al- Salmany al-Gharnathy (sekitar tahun 769 H/1367 M).
  • Dzikr al-Waba’ wa ath-Tha’un : Abu Muzhaffar as- Sarramary Yusuf bin Muhammad al-‘Abbady ad- Dimasyqy al-Hanbaly (w. 776 H/1374 M). Salah satu naskahnya ada di Chester Beatty dan telah ditahkik oleh Syaukat Rifqy Syaukat (ad-Dar al-Atsariyah, Aman, 1425 H/2003 M)
  • Tahqiq an-Naba ‘an Amr al-Waba : Muhammad bin Ali al-Lakhmy asy-Syaqury (hidup tahun 776 H/1374 M). Naskah ini sudah hilang.
  • Taqyid an-Nashihah : Muhammad bin Ali bin Abdillah al-Lakhmy asy-Syaqury (hidup tahun 776 H/1374 M), telah ditahkik oleh Muhammad Hasan dalam “Tsalatsu Rasa’il Andalusiyyah fi ath-Tha’un al-Jarif”.
  • Risalah fi Ijtinab Waba’ ath-Tha’un : Muhammad bin Ali bin Abdillah al-Lakhmy asy-Syaqury (hidup tahun 776 H/1374 M).
  • Daf’ an-Niqmah fi ash-Shalah ‘ala Nabiyy ar-Rahmah: Ahmad bin Yahya at-Tilmisany (w. 776 H/1374 M).
  • Ath-Thibb al-Masnun fi Daf’ ath-Tha’un : Ahmad bin Yahya at-Tilmisany (w. 776 H/1374 M).
  • Kitab ath-Tha’un wa Ahkamuhu : Syams ad-Din al- Munjiby al-Hanbaly (w. 785 H/1383 M). Ditulis tatkala terjadi wabah Tha’un tahun 764 H. Telah ditahkik oleh Ahmad bin Muhammad Al Tsany (Dar Ibn Hazm).
  • Juz’ fi ath-Tha’un : Badr ad-Din az-Zarkasyi asy- Syafi’iy (w. 794 H/1391 M). Saat ini salinan naskahnya sudah hilang.

Abad ke-9 H/15 M

  1. Tahun 809 H/1406 M di Mesir
  2. Tahun 813 H/1410 M
  3. Tahun 819 H/1416 M
  4. Tahun 821 H/1418 M
  5. Tahun 822 H/1419 M
  6. Tahun 827 H/1423 M di Quds.
  7. Tahun 833 H/1429 M di Mesir. 8. Tahun 841 H/1437 M
  8. Tahun 849 H/1445 M
  9. Tahun 853 H/1449 M
  10. Tahun 859 H/1454 M
  11. Tahun 864 H/1459 M
  12. Tahun 873 H/1468 M
  13. Tahun 886 H/1481 M di Andalusia.
  14. Tahun 897 H/1491 M di Quds.

Karya-karya di abad ini:

  • Al-Maqalah al-Hukmiyah fi al-Amradh al- Waba’iyah : Ali bin Abdillah at-Tadily (w. 816 H/1413 M).
  • Maqamah fi Amr al-Waba’ : Umar bin Ali al-Malaqy (hidup tahun 844 H/1440 M).
  • Badzl al-Ma’un fi Fadhl ath-Tha’un : al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqallany (w. 852 H/1448 M).
  • Du’a’ li Daf’ ath-Tha’un : al-Hafizh Ibn Hajar al- Asqallany (w. 852 H/1448 M).
  • Tasliyah al-Wajim fi ath-Tha’un al-Hajim : Zain ad- Din ash-Shalihy al-Qadiry (w. 856 H/1452 M).
  • Al-Ad’iyah al-Muntakhabah fi al-Adawiyah al- Mujarrabah : al-Busthamy ‘Abd ar-Rahman al- Anthaky (w. 858 H/1454 M).
  • Washf ad-Dawa’ fi Kasyf Afat al-Waba’ : ‘Abd ar- Rahman al-Anthaky al-Hanafy (w. 858 H/1454 M). Naskahnya sudah hilang.
  • Izhhar an-Naba fi Su’al Daf’ al-Waba : ‘Ilm ad-Din Shalih al-Bulqainy (w. 868 H/1463 M).
  • Mukhtashar Badzl al-Ma’un : Yahya bin Makhluf al- Haddady al-Mishry (w. 871 H/1466 M).
  • Washiyyah an-Nashih al-Awadd fi at-Tahaffuzh Min al-Maradh al-Wafid Idza Wafada : Muhammad bin Aby Bakr al-Qisy (w. 888 H atau 889 H/1484 M).
  • Ath-Thibb fi Tadbir al-Musafirin wa Maradh ath- Tha’un : ‘Abd al-Qahir bin Muhammad at-Tunisy (w. 899 H/1493 M).
  • Al-Ajwibah at-Tunisiyyah ‘ala al-As’ilah al- Gharnathiyah : Muhammad bin al-Qasim at-Tunisy (w. 894 H/1488 M).

Abad ke-10

  1. Tahun 969 H/1561 M di Bait al-Maqdis dan sekitarnya.
  2. Tahun 980 H1572 M sampai 982 H/1574 M
  3. Tahun 987 H/1579 M
  4. Tahun 995 H/1586 M

Karya-karya di abad ini:

  • Fatawa fi ath-Tha’un : Muhammad bin Muhammad al-Mary al-Maqdisy (w. 906 H/1500 M).
  • Kitab ath-Thawa’in : Ibn al-Mubarrid al-Hanbaly (w. 909 H/1503 M).
  • Funun al-Manun fi al-Waba’ wa ath-Tha’un : Ibn al- Mubarrid al-Hanbaly (w. 909 H/1503 M).
  • Ma Rawahu al-Wa’un fi Akhbar ath-Tha’un : al- Hafizh Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M).
  • Al-Maqamah ad-Durriyyah fi ath-Tha’un : al-Hafizh Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M).
  • Radd as-Suyuthy ‘ala Su’al ‘an Sabab al-Waba’ : al- Hafizh Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M).
  • Risalah al-Waba’ wa Jawaz al-Firar Minhu : Shalah ad-Din Mushtafa al-Hanafy (w. 911 H/1505 M).
  • Mijinnah ath-Tha’un wa al-Waba’ : Ilyas al-Yahudy bin Ibrahim al-Asiyany (ditulis tahun 915 H/1509 M).
  • Tuhfah ar-Raghibin fi Bayan Amr ath-Thawaghin : Zakariya bin Muhammad al-Anshary (w. 926 H/1519 M).
  • Al-Iba’ fi Mawaqi’ al-Waba’ : Idris bin Hisam ad-Din al-Badlisy (w. 930 H/1523 M).
  • Hushn al-Waba’ : Idris bin Hisam ad-Din al-Badlisy (w. 930 H/1523 M).
  • Risalah ath-Tha’un : Idris bin Hisam ad-Din al- Badlisy (w. 930 H/1523 M).
  • Rahah al-Arwah fi Daf’ ‘Ahah al-Asybah : Ibn Kamal Basya (w. 940 H/1533 M).
  • Risalah fi al-Manafi’ wa al-Khawash li Daf’ ath- Tha’un wa al-Waba’ : Ibn Kamal Basya (w. 940 H/1533 M).
  • Risalah fi Bayan Du’a’ ath-Tha’un : Ibn Kamal Basya (w. 940 H/1533 M).
  • Du’a’ Yuqra’u wa Yuktabu fi Zaman ath-Tha’un : Ahmad bin Ahmad as-Sanhujy (w. 943 H/1536 M).
  • Manzhumah fi ath-Tha’un wa al-Waba’ : Abu al- Hasan al-Bakry ash-Shadiqy (w. 952 H/1545 M).
  • Su’al fi ath-Tha’un wa Jawabuhu : Abu al-Hasan al- Bakry ash-Shadiqy (w. 952 H/1545 M).
  • Tuhfah an-Nujaba’ bi Ahkam ath-Tha’un wa al- Waba’ : Syams ad-Din bin Thulun ash-Shalihy (w. 953 H/1546 M).
  • ‘Umdah ar-Rawin fi Bayamn Ahkam ath-Thawa’in : Syams ad-Din Muhammad bin Muhammad ar- Ra’ainy (w. 954 H/1547 M).
  • Al-Bisyarah al-Haniyyah bi Anna ath-Tha’un La Yadkhul Makkah wa al-Madinah : Syams ad-Din Muhammad bin Muhammad ar-Ra’ainy (w. 954 H/1547 M).
  • Al-Qaul al-Mubin fi Anna ath-Tha’un La Yadkhul al-Balad al-Amin : Syams ad-Din Muhammad bin Muhammad ar-Ra’ainy (w. 954 H/1547 M).
  • Tasliyah al-Mahzun Mimma Waqa’a fi Sanah Tis’u wa Tsamanin Min ath-Tha’un : Ali bin Ahmad al- Anshary al-Qarafy (w. 964 H/1556 M).
  • Risalah asy-Syifa’ fi Adwa’ al-Waba’ : Thasybakry Zadah ‘Isham ad-Din Ahmad bin Khalil ar-Rumy (w. 968 H/1560 M).
  • Risalah fi ath-Tha’n wa ath-Tha’un : Ibn Nujaim Zain ad-Din al-Mishry (w. 970 H/1562 M).
  • Mas’alah ath-Tha’un : Ibn Hajar al-Haitamy (w. 973 H/1565 M).
  • Ma Yajib an Yu’iha al-Wa’un fi Masa’il Tark ath- Thuhur wa Dzikr ath-Tha’un : al-Imam Syarf ad- Din al-Mutawakkil Yahya az-Zaidy (w. 977 H/1569 M).

Abad ke-11 H/17 M

  1. Tahun 1028 H/1618 M di Quds dan sekitarnya.

Karya-Karya di abad ini:

  • Bayan Ma Yaktafy bihi as-Sa’un fi Fahm Amr ath- Tha’un : Muhammad bin Muhammad al-‘Uqaily (w. 1001 H/1592 M).
  • Ma Yaf’aluhu al-Athibba’ wa ad-Da’un li Daf’ Syarr ath-Tha’un : Mar’iy al-Karmy al-Maqdisy (w. 1033 H/1623 M).
  • Tahqiq azh-Zhunun bi Akhbar ath-Tha’un : Mar’iy al-Karmy al-Maqdisy (w. 1033 H/1623 M).
  • Khulashah Ma Tuhasshal ‘alaihi as-Sa’un fi Adawiyah Daf’ al-Waba’ wa ath-Tha’un : Muhammad bin Fath Allah al-Biluny (w. 1042 H/1632 M).
  • Tahqiq al-Anba’ Fima Yata’allaq bi ath-Tha’un wa al-Waba’ : Abu Hamid al-‘Araby al-Fasy (w. 1052 H/1642 M).
  • Khulashah Ma Rawahu al-Wa’un Min al-Akhbar al- Waridah fi ath-Tha’un : Anonim (diduga Ibn Hajar).
  • Hada’iq al-‘Uyun al-Bashirah fi Akhbar Ahwal ath- Tha’un wa al-Akhirah : Ibrahim bin Aby Bakr al- Hanbaly (w, 1049 H/1639 M).
  • Al-Qanun fi ath-Tha’un : Ahmad al-Hashuny (abad ke-11 H/17 M).

Abad ke-12 H/18 M

  1. Tahun 1156 H/1742 M
  2. Tahun 1174 H/1760 M
  3. Tahun 1200 H/1785 M di Bait al-Maqdis dan sekitarnya.

Karya-Karya di Abad ini:

  • Maskan asy-Syajun fi Hukm al-Firar Min ath-Tha’un: Sayyid Ni’mah al-Jaza’iry (w. 1112 H/1700 M).
  • Minhah ath-Thalibin li Ma’rifah Asrar ath-Thawa’in: Zain ad-Din al-Minawy (w. 1131 H/1718 M).
  • Jawab fi Ahkam ath-Tha’un : Ahmad bin Mubarak al-Lamthy (w. 1155 H/1741 M).
  • Ta’lif fi Ahkam ath-Tha’un al-Waqi’ ‘Am 1156 H/1742 M : Muhammad bin al-Hasan al-Banany (w.?)
  • Sirr as-Sa’un fi Daf’ ath-Tha’un : Quthb ad-Din al- Bakry ash-Shadiqy (w. 1162 H/1748 M).

Abad ke-13 H

  1. Tahun 1228 H/1812 M

Karya-Karya di abad ini:

  • Jihaz al-Ma’jun fi al-Khalash Min ath-Tha’un : Sa’d ad-Din Sulaiman bin ‘Abd ar-Rahim (w. 1202 H/1787 M).
  • Ar-Risalah ath-Tha’uniyah : Muhammad Mahdy Bahr al-‘Ulum (w. 1212 H/1797 M).
  • Ajwibah fi Ahkam ath-Tha’un : Muhammad bin Ahmad ar-Rahuny (w. 1230 H/1814 M).
  • Husn an-Naba fi Jawaz at-Tahaffuzh Min al-Waba : Sayyid Muhammad bin Muhammad al-Awwal at- Tunisy (w. 1246 H/1847 M).
  • Dirasah fi Ahwal al-Waba’ al-Mubidah : dinisbahkan kepada Al-Khury Isa Bitru (w. 1250 H/1834 M).
  • Ittihaf al-Munshifin wa al-Udaba’ bi Mabahits al- Ihtiraz ‘an al-Waba’ : Al-Khawajah Hamdan bin ‘Utsman al-Jaza’iry (w. 1255 H/1838 M).Tarjamah Ittihaf al-Munshifin wa al-Udaba’ bi Mabahits al-Ihtiraz ‘an al-Waba’ : Al-Khawajah Hamdan bin ‘Utsman al-Jaza’iry (w. 1255 H/1838 M).
  • Fatwa fi Waba’ ath-Tha’un : dinisbahkan kepada Muhammad Birim ar-Rabi’ (w. 1278 H/1861 M).

Abad ke-14 H

Sejauh penelusuran penulis, di abad ini tidak ada tragedi wabah.

Karya-Karya di abad ini:

  • Kitab ash-Shfwah ath-Thibbiyyah wa as-Siyasiyyah ash-Shihhiyyah fi al-Amradh al-Mu’diyah wa al- Waba’iyah wa al-Fawa’id al-‘Ilajiyah adh- Dharuriyyah li Hifzh ash-Shihhah al-Basyariyah wa al-Hayawaniyah : Muhammad Shfawat (w. 1308 H/1890 M).
  • Aqwal al-Mutha’in fi ath-Tha’n wa ath-Thawa’in : Muhammad al-‘Araby bin ‘Abd al-Qadir al-Gharisy (w. 1313 H/1895 M).
  • Jawab al-Wazir fi Hurmah Imtina’ al-Haj ‘an Dukhul Makkah ‘Inda al-Waba’ al-Kabir : ‘Abd al-Hamid bin Umar Nu’aimy ar-Rumy (w. 1320 H/1902 M).

Dr Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar MA, Doktor di bidang Filologi-Astronomi lulusan “Institute of Arab Research and Studies” Cairo, Mesir. Aktivitasnya saat ini adalah dosen tetap Fakultas Agama Islam UMSU, dan saat ini diamanahi menjadi Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU). Disalin dari tajdid

Akidah Salafi, Akhlak Tablighi, Ukhuwah Ikhwani, Ibadah Sufi, Potret Idealkah?

AKIDAH SALAFI, AKHLAK TABLIGHI, UKHUWAH IKHWANI, IBADAH SUFI, POTRET IDEALKAH?

Oleh
Ustadz Abdullah Zaen, M.A

Di suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis terlibat perbincangan dengan sesama da’i seputar perkembangan dakwah salafiyyah di tanah air yang cukup menggembirakan meski masih ada beberapa kekurangan di berbagai lini. Di tengah-tengah perbincangan ringan tersebut, terlontar suatu pertanyaan yang bersumber dari sebuah keprihatinan rekan penulis, “Ustadz, bagaimana cara membuat Salafi memiliki semangat juang dakwah tinggi seperti Ikhwah Tablighiyyun (Jama’ah Tabligh)?” Saat itu penulis hanya diam dan tidak serta-merta menjawab pertanyaan tersebut. Lalu kami tenggelam dalam pembicaraan masalah lainnya. Hingga selesailah majelis tersebut, tanpa membahas jawaban dari pertanyaan tadi.

Permasalahan tersebut ternyata terus menggelayuti pikiran, dan ‘menantang’ untuk menemukan jawaban yang tepat dan berbobot. Apalagi memang sebelumnya penulis beberapa kali pernah dihadapkan kepada pertanyaan serupa. Sampai akhirnya tertuanglah tulisan ini, yang sebenarnya  merupakan jawaban dari pertanyaan di atas.

Antara ajaran Salaf dan Salafiyyun
Statemen ‘Berakidah Salafi, Berakhlak Tablighi, Jalinan Ukhuwah Model  Ikhwani, Ketekun Ibadah Ala Sufi’ sering dilontarkan sebagian kalangan sebagai sebuah impian untuk mewujudkan karakteristik Muslim ideal, menurut mereka tentunya. Tampaknya, salah satu pemicu munculnya ide ini adalah fenomena praktek banyak pengikut beragam kelompok Islam yang cenderung mengkonsentrasikan diri dalam pengamalan sebagian sisi ajaran agama, dan kurang mengindahkan sisi lainnya. Sehingga timbullah ide penggabungan ‘kelebihan’ masing-masing kelompok, guna menciptakan potret sosok ‘Muslim ideal’.

Yang jadi pertanyaan, perlukah melakukan kombinasi seperti di atas? Tidak cukupkah manhaj Salaf membentuk seorang Muslim sejati ? Bukankah manhaj Salaf (ajaran Ahlus Sunnah) adalah ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana dijelaskan Imam al-Barbahâri rahimahullah (w. 329 H)?[1] Sehingga jika seorang telah bermanhaj Salaf secara totalitas; maka otomatis ia akan menjadi Muslim ideal!

Tentunya jawaban para pembaca akan amat beragam; tergantung ideologi yang dianut masing-masing. Mungkin akan ada yang menjawab, “Ya, kita memerlukan inovasi tersebut! Untuk menciptakan sosok Muslim ideal, tidak cukup hanya dengan bermanhaj Salaf! Sebab mereka yang menisbatkan dirinya kepada manhaj Salaf tidak mencerminkan gambaran Muslim ideal!”.

Argumentasi yang disampaikan tersebut mungkin bisa dibenarkan, karena yang dijadikan obyek sorotan adalah individu yang menisbatkan diri pada manhaj Salaf, yang belum tentu mencerminkan hakikat manhaj tersebut. Namun jika yang dijadikan obyek sorotan adalah ajaran manhaj Salaf; tentu argumen tersebut keliru. Sebab di antara sekian banyak ideologi yang ada di lapangan, manhaj Salaflah yang haq; karena satu-satunya yang mereprentasikan ajaran Islam yang benar. Saat ini bukan momennya untuk membuktikan hal tersebut, para pembaca budiman yang merasa penasaran bisa merujuk buku-buku yang ditulis khusus membahas permasalahan itu.[2]
Bila ada yang mengkritik dengan berkata, “Kalau memang manhaj Salaf adalah Islam itu sendiri, mengapa banyak di antara mereka yang menisbatkan diri kepada manhaj tersebut tidak bisa dijadikan contoh potret muslim ideal?”.

Maka dapat dijawab dengan pernyataan, “Ya, sebab tidak setiap orang yang menisbatkan diri kepada manhaj Salaf, alias yang menamakan diri dengan Salafi, berarti otomatis telah menerapkan manhaj tersebut secara total. Sebagaimana tidak setiap orang yang menisbatkan diri kepada agama Islam, alias mengaku sebagai seorang Muslim; otomatis sudah mempraktekkan seluruh ajaran Islam. Jadi, yang bermasalah di sini adalah personalnya (orangnya), bukan ajarannya.

Adapun kelompok-kelompok lain, dari sisi ajarannya sudah bermasalah, maka tidak heran jika penganutnya pun juga banyak bermasalah. Sehingga untuk memperbaikinya, minimal harus ada dua fase yang ditempuh:

  1. Meluruskan ajaran kelompok tersebut.
  2. Membenarkan kekeliruan perilaku pengikut kelompok itu.

Sedangkan kekeliruan yang ada pada ‘oknum’ Salafi, maka jalan pelurusannya hanya membutuhkan satu fase saja, yaitu memperbaiki perilaku ‘oknum’ tersebut, tanpa perlu meluruskan ajarannya, sebab ajarannya telah benar”.

Sebagian kalangan mungkin tetap menyanggah, “Namun, bukankah tidak seluruh ajaran kelompok-kelompok non Salafi dianggap salah? Masing-masing juga memiliki kebenaran, meskipun itu hanya bersifat parsial. Apa salahnya kelebihan-kelebihan tersebut diambil? Bukankah dalam hadits telah disebutkan:

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

Kalimat hikmah adalah barang temuan seorang Mukmin. Di manapun ditemukan, dialah yang paling berhak untuk mengambilnya.[3]
Maka argumentasi itu dapat dijawab dengan, “Kita bukan sedang mengatakan bahwa seluruh ajaran kelompok-kelompok tersebut salah, dan mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Namun, apakah kebaikan yang mereka miliki tidak ada dalam ajaran Ahlus Sunnah yang mereprentasikan ajaran Islam itu sendiri?

Menarik sekali untuk kita cermati apa yang dipaparkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w.728H) tatkala menjelaskan bahwa Ahlus sunnah memiliki kelebihan-kelebihan yang dimiliki kelompok lain, bahkan tingkatannya lebih sempurna. Dan bukan hanya itu, Ahlus sunnah juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki berbagai kelompok tersebut”.[4]
Dalam makalah singkat ini, insya Allâh akan dipaparkan penjelasan tentang kesempurnaan manhaj Salaf yang meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya hal yang berkaitan dengan akhlak, ukhuwah dan ibadah yang muatannya jauh lebih sempurna dibandingkan konsep yang dimiliki kelompok-kelompok lain.

Manhaj Salaf dan Akhlak
Akhlak menempati kedudukan yang amat urgens di mata Ulama Salaf. Banyak hal yang menunjukkan hal tersebut. Di sini, hanya akan diulas melalui dua sudut tinjauan; teoritis dan praktek.

Dilihat dari tinjauan teoritis, sudah masyhur bahwa para Ulama Salaf telah membukukan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi akhlak dan adab. Sebagian menyelipkannya dalam kitab yang mereka tulis dalam pembahasan hukum-hukum Islam, ada yang menulis buku khusus yang memuat hadits-hadits dan pembahasan tentang akhlak, bahkan ada pula yang memasukkan pembahasan akhlak dalam kitab akidah.

Sekedar contoh jenis pertama, Imam al-Bukhâri (w. 256 H) dalam kitabnya Shahîh al-Bukhâri memuat lebih dari 250 hadits tentang akhlak. Imam Abu Dâwud (w. 275 H) menulis sekitar 500-an hadits akhlak dalam kitab Sunannya. Begitu pula Imam Ibnu Hibbân (w. 354 H) membawakan lebih dari 670 hadits dalam kitab Shahîhnya.

Contoh jenis kedua, kitab al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhâri (w. 256 H), Makârimul Akhlâq karya Imam Ibnu Abid Dun-ya (w. 281 H), Akhlâqul -‘Ulamâ’ karya Imam al-Âjurri (w. 360 H), al-Âdâb asy-Syar’iyyah karya Imam Ibn Muflih (w. 803 H) dan masih banyak contoh lainnya.

Contoh jenis ketiga, pembahasan akhlak yang dimasukkan oleh Imam ash-Shâbûni (w. 449 H) dalam kitabnya ‘Aqîdatus Salaf Ash-hâb al-Hadîts, Imam Ibn Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya al-‘Aqîdah al-Wâsithiyyah, juga yang lainnya. Ini menunjukkan betapa tinggi urgensi akhlak di mata ulama Salaf dan adanya keterkaitan erat antara akidah dengan akhlak. Untuk itu, mereka memasukkan pembahasan akhlak dalam kitab-kitab akidah.

Adapun ditinjau dari sisi praktek nyata dalam kehidupan ulama Salaf, maka ini merupakan lautan tak bertepi. Bagi yang ingin mengetahui sebagian dari potret indah tersebut, bisa menelaah kitab-kitab yang ditulis untuk memaparkan biografi para ulama, semisal Hilyatul Auliyâ’ karya Imam Abu Nu’aim al-Ashbahâni (w. 430 H), Shifatus Shafwah karya al-‘Allamah Ibnul Jauzi (w. 597 H), Siyar A’lâmin Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabi (w. 748 H) dan lain-lain. Niscaya kita akan menjumpai keajaiban dan kemuliaan akhlak mereka di dalamnya!

Kelebihan manhaj Salaf dalam masalah akhlak amatlah banyak. Di antaranya, perhatian mereka terhadap akhlak mulia tidak mengakibatkan terkesampingkannya dakwah terhadap inti agama yakni akidah. Bahkan mereka tetap memprioritaskan dakwah tauhid, namun sambil dikemas dan disampaikan dengan akhlak mulia [5]. Dalam hal ini dan yang lainnya, mereka meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Selama belasan tahun, beliau berkonsentrasi mendakwahkan akidah, sambil menghiasinya dengan akhlak mulia.

Dengan mencermati kelebihan manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah akhlak ini, kita bisa membaca kelemahan manhaj akhlak yang diusung teman-teman Jama’ah Tabligh. Perhatian ekstra mereka terhadap pembentukan akhlak mulia, seringkali mengakibatkan terkesampingkannya pembenahan akidah dalam sorotan dakwah mereka. Bahkan terkadang mereka cenderung menghindarkan diri untuk membahas permasalahan akidah dengan alasan khawatir masyarakat menjauh. Tentunya ini merupakan kekeliruan yang tidak bisa dianggap remeh.

Padahal, jika penyampaian akidah dikemas dengan akhlak mulia; tentu akan lebih mudah diterima umat. Andaikan metode ini telah ditempuh lalu dakwah tidak diterima juga dan sang da’i dijauhi sebagian masyarakatnya; maka itu sudah merupakan salah satu resiko para penyeru kebenaran. Lihatlah bagaimana sosok yang paling sempurna akhlaknya; Rasûlullâh n tetap menghadapi tantangan berat dalam berdakwah.

Manhaj Salaf dan Ukhuwah
Ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu poin pembahasan yang mendapatkan perhatian ekstra dalam Manhaj Salaf. Banyak sisi yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya pemaparan urgensi ukhuwah saat para ulama Salaf menafsirkan ayat-ayat al-Qur’ân yang berisikin motivasi untuk merajut dan menjaga tali ukhuwah sesama kaum Muslimin. Juga saat mereka mengupas dan menjabarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan permasalahan serupa. Para pembaca bisa temukan hal itu dalam beragam kitab tafsir semisal Tafsîr ath-Thabari, Tafsîr al-Baghawi, Tafsîr Ibn Katsîr dan yang lainnya. Juga berbagai kitab syurûh al-ahâdîts (kitab penjabar hadits) seperti Syarh as-Sunnah karya Imam al-Baghawi (w. 516 H), Syarh Shahîh Muslim karya Imam an-Nawawi (w. 676 H), Fathul Bâri Syarh Shahîhil Bukhâri karya al-Hâfizh Ibnu  Hajar al-‘Asqalani (w. 857 H) dan lain-lain.

Sisi lain yang mengungkapkan perhatian manhaj Salaf terhadap peretasan ukhuwah di antara kaum Muslimin, pemaparan para ulama Salaf dalam kitab akidah yang mereka tulis tentang faktor-faktor yang dapat mengeratkan ukhuwah, juga peringatan mereka dari berbagai sebab pemicu kerenggangan ukhuwah.

Contoh jenis pertama, motivasi untuk menyolati dan mendoakan kaum Muslimin yang meninggal dunia, walaupun mereka adalah pelaku dosa kecil maupun besar, selama itu bukan kekufuran. Sebagaimana disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 219 H) dalam kitabnya, Ushûl as-Sunnah. Pengamalan adab di atas dan yang lainnya tentu akan berdampak besar bagi terajutnya ukhuwah di antara kaum Muslimin.

Contoh jenis kedua, peringatan dari praktek adu domba, dusta, menggunjing dan perbuatan zhalim lainnya yang bisa merenggangkan (bahkan memutus) ukhuwah antar kaum Muslimin, sebagaimana dipaparkan Imam al-Muzani rahimahullah (w. 264 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah.

Keunggulan manhaj Salaf dalam bab ukhuwah terlihat dari tidak dikesampingkannya sisi ajaran Islam lainnya, seperti praktek amar makruf nahi munkar, saat berupaya membentuk jalinan ukhuwah. Dan ini jelas merupakan keistimewaan dalam pola beragama, dimana penerapan sebagian ajaran syariat tidak mengakibatkan terbengkalainya sebagian ajaran syariat yang lain. Sehingga muncullah keseimbangan dan kesempurnaan dalam beragama.

Adapun konsep ukhuwah yang diusung Ikhwânul Muslimîn (IM), memiliki kelemahan dari sisi ‘dikesampingkannya’ aktifitas amar makruf nahi munkar guna mewujudkan ukhuwah tersebut. Kelemahan tersebut bersumber dari teori ukhuwah yang diciptakan pendiri IM, Hasan al-Banna rahimahullah, yang berbunyi: “Saling bekerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling bertoleransi dalam perbedaan”.

Teori ini terdiri dari dua bagian; bagian pertama benar, bagian kedua perlu dirinci lebih lanjut. Perbedaan dalam permasalahan ijtihâdiyyah bisa ditolerir. , Adapun perbedaan dalam permasalahan yang tidak ada ruang ijtihâd di dalamnya (semisal akidah, red), maka ini tidak bisa ditolerir. Demikian penjelasan yang disampaikan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah.[6]
Adapun mempraktekkan bagian kedua dari teori ukhuwah di atas secara mutlak; maka beresiko lumpuhnya praktek amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan salah satu pondasi tegaknya agama Islam ini. Di antara indikasi diterapkannya teori ini secara mutlak oleh banyak kalangan IM; kalimat yang diteriakkan salah satu tokoh besar IM saat berorasi di depan massa ketika terjadi ‘peperangan’ antara Hizbullâh dengan Israel; “Musuh Sunni bukan Syi’ah, dan musuh Syi’ah bukan Sunni!”. (Hanya kepada Allâh Azza wa Jalla sajalah kita mengadu…)

Padahal sejatinya, tidaklah ada kontradiksi antara penerapan ukhuwah dengan penegakan amar ma’ruf nahi munkar; sebab keduanya merupakan bagian syariat Islam dan syariat Islam tidak mungkin saling bertentangan. Alangkah baiknya kita cermati susunan ayat 104 dan 105 dari surat an-Nisa. Ayat pertama berisikan perintah untuk amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan ayat kedua berisikan larangan untuk berpecah belah. Diiringinya ayat perintah amar makruf nahi mungkar dengan ayat larangan berpecah belah mengisyaratkan bahwa penerapan amar makruf nahi mungkar tidaklah beresiko menimbulkan perpecahan dan kerenggangan ukhuwah Islamiyyah.[7]
Barangkali ada yang menganggap tidak mungkin penegakan amar ma’ruf nahi mungkar berhasil tanpa menimbulkan kerenggangan ukhuwah. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan bentuk usaha meluruskan kekeliruan yang seringkali tidak diterima oleh pelakunya.

Jawabannya, sangat mungkin tidak menimbulkan gesekan, jika amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan lemah lembut dan memperhatikan skala prioritas dalam pengingkaran[8], juga jika sambil diiringi pemenuhan hak-hak  sesama Muslimin, seperti menebarkan salam, menengok yang sakit, bertakziyah ketika ada musibah dan yang lainnya[9].

Manhaj Salaf dan Ibadah
Ibadah mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi dalam manhaj Salaf. , Bagaimana tidak? Lantaran tujuan utama penciptaan manusia dan jin adalah untuk menegakkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla .

Banyak hal yang menunjukkan hal di atas. Di antaranya: kitab-kitab hadits yang di dalamnya para ulama Salaf menyisipkan pembahasan khusus yang berisikan motivasi untuk rajin beribadah. Contohnya antara lain: kitâb ar-riqâq dalam Shahîh al-Bukhari, kitâb az-zuhd wa ar-raqâ’iq dalam Shahîh Muslim, abwâb az-zuhd dalam Sunan at-Tirmidzi  dan masih banyak lainnya.

Bahkan tidak sedikit ulama Salaf yang menulis buku khusus yang berisikan motivasi untuk beribadah dan peringatan dari melalaiannya, semisal at-Targhîb wa at-Tarhîb karya Imam al-Mundziri (w. 656 H), al-Matjar ar-Râbih fî Tsawâb al-‘Amal ash-Shâlih karya al-Hâfizh ad-Dimyâthi (w. 705 H), dan yang lainnya.

Ini sisi pemaparan teori, adapun sisi prakteknya; maka sejarah kehidupan para Ulama Salaf dipenuhi dengan potret keseriusan dan ketekunan mereka dalam beribadah. Silahkan ditelaah buku-buku biografi para ulama yang telah penulis sebutkan beberapa contohnya di depan.

Keistimewaan manhaj Salaf dalam bab ibadah terlihat, antara lain melalui penggabungan antara unsur ikhlas dan mutâba’ah (meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dalam beribadah, dua perkara yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan. Kelebihan lain juga dapat disaksikan dari keseimbangan dalam memperhatikan tiga pondasi ibadah; rasa takut, rasa harap dan kecintaan terhadap Allah.

Adapun metode ibadah yang diusung kaum Sufi, memiliki berbagai ‘catatan merah’. Antara lain, kurang diperhatikannya faktor mutaâba’ah (meneladani petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah), sehingga mereka kerap hanyut dalam ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (baca: bid’ah). Juga di antara kekurangan metode Sufi dalam beribadah, ketimpangan dalam mempraktekkan pondasi ibadah. Banyak di antara mereka cenderung hanya menekankan sisi kecintaan pada Allâh Azza wa Jalla , lalu ‘mengesampingkan’ rasa takut akan neraka dan harapan memperoleh surga.

Penutup
Semoga makalah singkat ini bisa sedikit menggambarkan kesempurnaan manhaj Salaf beserta kelebihan-kelebihannya. Harapan lain, semoga tulisan ini bisa dijadikan sebagai wahana instrospeksi diri, baik oleh Salafiyyun maupun para pengikut kelompok lain. Bagi Salafiyyun yang belum menerapkan manhaj Salaf secara total hendaknya mereka bergegas memperbaiki diri guna meraih keselamatan dunia dan akhirat, juga agar mereka bisa menjadi contoh dan suri teladan dalam penerapan Islam yang benar, sehingga tidak menjadi pintu penghalang masuknya kaum Muslimin ke dalam manhaj Salaf.

Adapun bagi para pengikut kelompok lain, hendaklah mereka segera membenahi diri dan ajaran kelompoknya. Pemaparkan berbagai sisi kelemahan ajaran kelompok-kelompok tersebut di atas, insya Allâh tidak bertujuan  kecuali sebagai bentuk upaya nasehat.

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mengadakan) perbaikan semampuku. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah”. [Hûd/11: 88].

Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1]  Lihat Syarhus Sunnah dalam Irsyâd as-Sâri fî Syarhis -Sunnah li al-Barbahâri oleh Syaikh Ahmad an-Najmi (hlm. 26)
[2]  Contohnya seperti: Fadhl ‘Ilm as-Salaf ‘alâ al-Khalaf karya Imam Ibn Rajab, Limâdzâ Ikhtartu al-Manhaj as-Salafî karya Syaikh Salîm al-Hilâli dan Irsyâdul Bariyyah ilâ Syar’iyyati -Intisâb ilâs Salafiyyah karya Syaikh Hasan ar-Rîmi
[3]  HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Beliau menyatakan hadits ini “gharîb” dan Syaikh al-Albâni menilainya lemah sekali
[4]  Lihat  Majmû’ al-Fatâwâ (IV/24)
[5]  Lihat berbagai contoh akhlak mulia tersebut beserta dampak positifnya untuk dakwah, dalam makalah kami yang berjudul Berdakwah dengan Akhlak Mulia, materi kajian umum di Masjid at-Ta’awun Klaten pada tanggal 27 Juni 2010.
[6] Lihat: Zajr al-Mutahâwin, Hamd al-‘Utsmân hlm. 129
[7] Silahkan lihat al-Hatstsu ‘alâ al-I’tishâm bi Dînillâh wa Ijtimâ’ al-Kalimah, Syaikh Ibrâhîm ar-Ruhaili hlm. 4
[8] Ash-Shahwah al-Islâmiyyah , Syaikh al-‘Utsaimin hlm. 119
[9] Lihat al-Hatstsu ‘alâ al-I’tishâm bi Dînillah hlm. 3-5

Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

ORANG MUKMIN TERCIPTA PENUH COBA

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اْلمُؤْ مِنَ خُلِقَ مُفَتَّنًا تَوَّابًا نَسَّاءً، إِذَا ذُكِرَ ذَكَرَ

Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan مُفَتَّنًا (mufattan= penuh cobaan), تَوَّابًا (tawwab = senang bertaubat), dan نَسَّاءً  (nassaa’ = suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat“.[1]

Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak  pernah terjauhkan dari mereka.

Mufattan (مُفَتَّنًا )
Artinya : “Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa[2].

Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفِيئُهَا الرِّيحُ تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرَى حَتَّى يَأتِيَ اَجَلُهُ، وَمَثَلُ المُنَا فِقِ ِ كَمَثَلِ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ الَّتِى لَا يُصِيْبُهَا شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَ

Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus[3].

Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.

Tawwaab Nasiyy (تَوَّابًا نَسَّاءً )
Artinya : “Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat“.[4]

Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar“. [Thaha/20 : 82].

Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat
Artinya : “Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya“.

Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.

Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka …..”. [Ali Imran/3:159]

Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

(Majalah Al-Ashalah edisi 15, Th III 15 Dzul Qa’dah 1415H)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun III/1419H/1998M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Silsilah Hadits Shahih No. 2276
[2] Faid-Qadir 5/491
[3] Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027
[4] Faid-Al Qadir 5/491

Hakikat Islam

HAKIKAT ISLAM

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Sungguh saya bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang luar biasa ini ; kesempatan bertemu dan bertatap muka dengan saudara-saudaraku seagama di Perguruan Tinggi yang baik ini, Insya Allah. Kesempatan untuk berdialog, saling berwasiat dan saling memberi nasihat. Ini semua manakala kita mengetahui bahwa yang hadir di sini adalah para penuntut ilmu dan para mahasiswa yang mana kondisinya mengatakan “Ya, Allah. Tambahkanlah ilmu kepadaku”. Saya mohon kepada Allah tambahan ilmu untuk mereka.

Saya tidak ingin pertemuan ini hanya basa-basi, akan tetapi sebuah pertemuan serius yang jelas-jelas memfokuskan pada beberapa poin ilmiah yang dapat mencerahkan akal dan mengokohkan naql (wahyu) dengan pemahaman yang benar. Dengan harapan agar syubhat-syubhat (kerancuan pikiran) yang mengacaukan cara mencari ilmu di Perguruan Tinggi maupun di lembaga pendidikan lainnya dapat dilenyapkan.

Imam Adz Dzahabi (w. 748 H) mengatakan: “Hati ini lemah, sedang syubhat-syubhat ganas merajalela”. Apabila imam ini mengatakan demikian pada ratusan tahun yang lalu sementara para ulama masih banyak dan lingkungan global masih religius Islami, maka bagaimana lagi dengan kita pada hari ini, dengan kondisi kebodohan merajalela, ulama telah langka dan metodologi keilmuan menjadi tidak karuan, maka tentunya hati kita lebih lemah dan syubhat sangat kuat dan berkuasa.

Oleh karena itu, pembahasan ini akan kita tekankan pada masalah-masalah ilmiah yang amat mendasar.

HAKIKAT ISLAM
Tentang hakikat agama Islam, agama yang dengan bangga kita menisbatkan diri kepadanya, berdakwah kepadanya dan berkumpul karenanya. Dialah agama Islam yang difirmankan oleh Allah:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali Imran/3 : 19].

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imran/3 : 85].

Ayat ini merupakan dustur (undang-undang dasar) bagi setiap muslim dan merupakan syari’at yang paling agung. Islam adalah agama Allah, agama yang haq, agama yang diterima dan agama penutup. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada Nabi lagi sesudahku”.

Islam memiliki dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Pengertian khusus adalah apabila Islam digunakan secara mutlak atau lepas maka maksudnya adalah agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan makna umumnya, yaitu agama semua nabi yang mengajarkan tauhid, tunduk patuh hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”[Al An’am/6 : 162-163].

Pasrah, menyerahkan diri kepada Allah melalui ajaran masing-masing nabi adalah makna Islam secara umum. Sedangkan makna Islam secara khusus, yang karenanya Al Qur’an diturunkan, yaitu tunduk patuh kepada Allah dan taat kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat.

Di dalam Al Qur’an, Al Fatihah, surat terbesar dalam Al Qur’an, yang menjadi rukun shalat, dan tidak sah shalat tanpanya, sebagaimana hadits: “Tidak ada shalat tanpa Fatihah”; surat yang dihapal oleh anak-anak kecil apalagi oleh orang dewasa, di dalamnya Allah berfirman: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”. Jalan yang lurus di sini, ialah agama yang dianut oleh para nabi, para shiddiq, syuhada dan kaum shalih, seperti firman Allah.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.[An Nisa/4: 69].

Telah shahih di dalam As Sunnah, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut ayat ini “bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”, Beliau mengatakan, yang dimurkai adalah Yahudi dan yang sesat adalah Nasrani.

Seandainya ada orang yang merubah-rubah makna Islam dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah nama agama yang diterima, tetapi sifat agama, maka ini tertolak dan batil. Yang Pertama, ia tertolak oleh Al Qur’an surat Ali Imran ayat 85:

« وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ »

Dalam ayat ini, kata Islam terkait dengan nama dan sebutan, bukan dengan sifat dan sikap. Yang Kedua, hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafsiri surat Al Fatihah tadi.

Seandainya kita katakan bahwa setiap agama yang mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan adalah diterima, tentu tidak ada bedanya antara agama Islam, Yahudi, Nasraniyah dan agama keberhalaan, sebab para penyembah berhala itupun berniat menyembah Allah. Bukankah mereka mengatakan.

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. [Az Zumar/39 : 3].

Jadi, mereka mengaku bertaqarrub (mendekatkan) kepada Allah. Tetapi ucapan mereka ini batil dan rusak, kesesatan yang nyata yang sangat jelas di depan mata, dan tidak memerlukan bantahan. Namun demikian kami telah membantahnya.

Guna menguatkan yang haq dan menumbangkan yang batil, Allah telah berfirman.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagiNya).[Al Anbiya/21 : 18].

Maka berikut ini kami sebutkan satu ayat dan dua hadits.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.[Al Baqarah/2: 120].

Jika Islam hanya diartikan pasrah kepada Tuhan melalui agama apapun, maka apa artinya ayat yang telah membedakan satu agama dari yang lain ini?!

Adapun haditsnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tidak ada bayi yang lahir, melainkan dia dilahirkan di atas fitrah (tauhid, Islam). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Majusi”. [HR Bukhari Muslim].

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani yang mendengar tentang aku kemudian ia mati dan tidak beriman kepada agama yang aku bawa, melainkan ia menjadi penghuni neraka”. [HR Muslim].

Lalu bagaimana ucapan mereka yang mengatakan bahwa semua agama sama saja? Bagaimana mereka menyamakan antara yang haq dengan yang batil?

SUMBER ISLAM BUKAN PRODUK BUDAYA
Apabila kita telah mengenal Islam, makna, sifat dan hakikatnya, bahwa ia merupakan agama yang diterima oleh Allah dan tidak ada lagi sesudahnya atau bersamanya agama lain yang diterima, maka kita harus mengetahui sumber-sumber agama Islam ini berikut penjelasannya. Sumber agama ini ialah Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman.

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. [Al Isra/17: 9].

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? [Muhammad’47: 24].

Inilah Al Qur’an yang telah dinyatakan oleh Allah.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [Fushshilat/41:42].

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. [At Taubah/9: 6].

Sungguh kalam (firman Allah) seluruhnya sempurna, tidak ada cela, cacat atau kurang. Kalam Allah adalah sifat Allah. Bila Allah Yang Pemilik sifat adalah Maha sempurna, maka sifatnya adalah sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun di dalamnya.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat Al Qur’an itu, entah karena bodohnya atau sikap sok pintarnya mengatakan bahwa Al Qur’an adalah muntaj tsaqafi (produk budaya). Sungguh, yang muncul dari mulut mereka adalah kebohongan besar. Bagaimana mungkin Al Qur’an disamakan dengan buku-buku lain yang dikarang oleh manusia, sedangkan Allah berfirman.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al Mulk/67: 14].

Al Qur’an diturunkan Allah melalui Jibril Alaihissallam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan Kami turunkan Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. [Al Isra/17: 105].

Bagaimana mungkin Al Qur’an yang sempurna keseluruhannya sejajar dengan produk manusia yang penuh dengan kekurangan? Seandainya ucapan ini keluar dari orang yang telah ditegakkan hujjah atasnya, tentu ia menjadi kafir; akan tetapi kita memakluminya, yang dikarenakan kebodohannya. Kami nasihatkan kepada orang-orang seperti ini agar bertaqwa kepada Allah, ingat kematian, kebangkitan, pertemuannya dengan Allah Penguasa alam semesta, hisab, pahala dan siksa.

Maka wajib mengimani bahwa Al Qur’an adalah Kalam Allah (bukan makhluk dan bukan produk budaya), tidak mengandung kebatilan dan kekurangan, semuanya merupakan kebaikan, agama dan kebenaran, dan selainnya adalah batil dan rusak. Sehingga, selama-lamanya tidak boleh mengatakan bila Al Qur’an sebagai produk budaya. Ucapan seperti ini sesat menyesatkan.

Al Qur’an, sebagaimana saya katakan tadi, adalah sempurna keseluruhannya, sebagaimana firman Allah tentang ucapan jin yang mendengarkan Al Qur’an.

فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا(1)يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. [Al Jin/72 : 1-2].

Al Qur’an adalah kitab hidayah, petunjuk kepada jalan yang benar. Semua bagian Al Qur’an menunjukkan kepada jalan yang benar. Anggapan ayat-ayat Makkiyyah bersifat universal, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah adalah tipikal dan lokal adalah batil dan rusak. (Mengapa?) Pertama : Karena nash Al Qur’an dalam ayat tadi –misalnya- bersifat umum menyeluruh: “Sesungguhnya Al Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang lurus” mencakup ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah. Kedua : Ucapan ini merupakan tafsir yang semena-mena, pendapat belaka, dugaan dan nafsu, tidak ada dasar rasional dan tidak pula dasar syar’i: “Datangkanlah bukti-buktimu jika kamu benar”. Ketiga : seluruh ulama telah bersepakat bahwa pelajaran itu didasarkan pada keumuman lafazh, bukan pada kekhususan sebab.

Bila ayat itu jelas makna dan petunjuknya, maka ia mencakup semuanya. Sebab nuzulnya ayat tidak membatasi berlakunya ayat, (tetapi memperjelas dan mempertegas makna yang dimaksud oleh ayat). Jadi ucapan mereka ini batil dan rusak, dan dimaksudkan untuk meragukan Al Qur’an dan mengingkarinya.

AS SUNNAH SEBAGAI SUMBER KEDUA
Al Qur’an ini adalah firman Allah yang telah menunjukkan agar kita berhujjah dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. [Al Hasyr : 7].

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang
. [An Nur/24: 54].

Seandainya yang diterima di sini hanya Al Qur’an, tentu ayat-ayat Al Qur’an ini tidak ada maknanya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dikatakan oleh Allah sebagai orang yang tidak berbicara kecuali dengan wahyu

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَ

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya [An Najm/53 : 3]

(Beliau) bersabda : Ingatlah, sesungguhnya aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya. Yang semisal dengan Al Qur’an adalah As Sunnah. Permisalan di sini bukanlah dalam kedudukan dan kesucian. Kalam Allah sesuai dengan kesucian Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan kalam RasulNya sesuai dengan diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kesamaannya di sini adalah dalam bidang hukum; hukum-hukum As Sunnah sama dengan hukum-hukum Al Qur’an, karena ia adalah wahyu seperti Al Qur’an.

Abdullah Ibn Umar Ibn Al Ash Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Ya, Rasulullah! Engkau berbicara pada waktu ridha dan pada waktu marah. Maka apakah aku menulisnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada yang keluar dari lisanku, melainkan kebenaran, maka tulislah!”

Barangsiapa mencela Sunnah, sebenarnya pukulan itu mengenai Al Qur’an sebelum As Sunnah itu sendiri. Maka hendaklah ia bertaubat, kembali kepada akal sehatnya dan kembali kepada kebenaran. Sebelum datang waktu penyesalan; penyesalan yang tidak lagi berguna dan tidak pula didengar.

Kondisi mereka benar-benar mengingatkan pada sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari dada para ulama, akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut nyawa para ulama hingga tidak tersisa satu orang alimpun. Maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu (satu riwayat: dengan ra’yu mereka), maka mereka sesat dan menyesatkan”. Ini adalah berkata dusta atas Allah. Satu dosa besar yang terbesar, karena Allah berfirman tentang beberapa dosa besar, dan yang terakhir adalah berkata tentang Allah tanpa ilmu.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [Al A’raf /7: 33].

SYUBHAT PENOLAK HADITS
Orang-orang yang mencela hadits, logika mereka sangat rendah dan rapuh. Syubhat-syubhat mereka yang paling penting ada dua macam.

Syubhat Pertama. Mengandalkan akal untuk membatalkan naql (wahyu Al Qur’an dan Sunnah). Mereka menjadikan akal sebagai asas (pondasi). Hal ini lemah, karena akal itu berbeda-beda; ada akal orang awam, ada akal orang terpelajar, ada akal sarjana, ada akal bukan sarjana, ada akal orang kota, ada akal orang desa, dan seterusnya. Lalu akal siapakah yang harus kita ikuti? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An Nisa/4 : 59].

Allah mengajarkan, jika akal kalian berselisih dan pemahaman berbeda-beda dan jika terdapat sengketa, maka kembalikanlah kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Inilah solusi bagi perselisihan. Bagaimana mungkin mengembalikan perselisihan kepada akal, yang ia menjadi penyebabnya, lalu kita jadikan sebagai hukum atas Al Qur’an dan As Sunnah?!

Kemudian, akal itu sendiri berkembang, sedangkan agama Islam ini tetap. Karena ia (Islam) menjadi timbangan yang berfungsi untuk memperbaiki keadaan. Dinamika kehidupan dan kemajuan dapat bertemu dengan agama, bukan agama yang harus berjalan di belakang perkembangan jaman. Agama adalah guru dan pengawal bagi kebudayaan. Kebudayaan itu ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang bermanfaat dan ada pula yang membayakan, ada yang lurus dan ada pula yang sesat. Untuk memilah-milah ini semua, (maka) harus kembali kepada agama.

Sebagai ilustrasi bahwa akal itu berkembang, saya sebutkan satu contoh sederhana. Lima tahun yang lalu, tidak lebih dari itu, kalau ada orang yang mengatakan di sakuku ada kitab Shahih Bukhari, ada Tafsir Ibn Katsir dan ada Majmu’ Nawawi. Tentu seorang akan mengatakan: “Kamu sudah gila. Mana mungkin Shahih Bukhari yang 4 jilid, Tafsir Ibn Katsir yang 4 jilid dan Majmu’ Nawawi yang 20 jilid itu masuk dalam saku yang kecil? Sekarang, akal yang sama akan mempercayainya, sebab CD yang beratnya sekitar 5 gram itu dapat memuat kitab-kitab tadi, bahkan lebih. Oleh karena itu, jangkauan akal amat terbatas. Dia tidak akan memahami apa yang belum dijangkaunya.

Sementara syara’ (Al Qur’an dan Sunnah) adalah sempurna dan terjaga dari kesalahan, berada di atas akal. Dan akal, tidak disebut mukmin sebelum (ia) tunduk patuh kepada ketentuan syara’. Allah berfirman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An Nisa/4: 65].

Dengan demikian jika akal berseberangan dengan syara’, maka tuduhlah akal, karena akallah yang belum dapat memahami kebenaran wahyu. Kitab Allah adalah wahyu yang sempurna, sementara akal selalu memerlukan bimbingan wahyu untuk menyempurnakan dan menutupi kekurangannya. Menjadikan akal sejajar dengan wahyu atau setingkat di atas wahyu, demikian ini merupakan pemahaman yang batil. Mereka adalah orang-orang yang lancang, angkuh dan sombong. Lalu dengan akal siapakah dan yang manakah kita harus menghukumi dan berhukum?!

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al-Ahzab/33 : 36].

Anda tidak memiliki pilihan lain di hadapan Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali menerima, mengimani, mengikuti, ridha dan istiqamah di atasnya. Inilah sifat orang yang cerdas, bijak, mendapat petunjuk di dunia dan bahagia di akhirat.

Syubhat logika yang rusak tadi, akal sendiripun memvonisnya sebagai cara berpikir yang tidak logis.

Syubhat Kedua : Kemudian syubhat kedua sama dengan yang pertama, jauh dari nilai ilmiah, yaitu mencela para rawi hadits. Di antaranya dengan membuat keragu-raguan seputar sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan ini, sepertinya tidak mengetahui semua hadits atau sebagian besar hadits. Sebab, sebagian besar hadits itu diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Cukuplah keutamaan Abu Hurairah dalam dua riwayat berikut ini; yang pertama dari Abu Hurairah dan yang kedua tentang Abu Hurairah.

Riwayat dari Abu Hurairah, dia berkata: “Saya menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengisi perut seadanya. Aku tidak menginginkan harta dan dunia. Aku hanya ingin menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Jadi Abu Hurairah meninggalkan dunia seisinya dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sinilah letak kekayaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Melaporkan perihal hafalannya. Maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Angkat pakaianmu”. Abu Hurairah lalu mengangkatnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup pada pakaiannya. Abu Hurairah lalu berkata: “Semenjak itu, aku tidak pernah lupa satu haditspun yang telah aku hafal dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam” Riwayat yang kedua, Abu Hurairah datang kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Begitulah kecintaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada Rasul dan kecintaan Rasul kepada Abu Hurairah. Kemudian tiba-tiba mereka datang lalu mencela dan mencaci maki Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Sungguh mereka adalah orang-orang yang jauh dari kitab Allah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PENUTUP
Akhirnya, saya akan menutup (muhadharah ini) dengan dua perkara. Yang satu bersifat umum, (yaitu) berkaitan dengan ceramah kita. Dan yang kedua bersifat khusus, berkaitan dengan Perguruan Tinggi Sunan Ampel.

Setelah kami menjelaskan hakikat Islam –tidak ada satu agama yang diterima setelahnya dan bersamaan dengannya- setelah kami jelaskan sumber-sumber agama Islam, yaitu kitab Allah yang berisi hukum, hidayah dan syari’at. Kemudian kami jelaskan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan wahyu yang sama dengan Al Qur’an, lalu kami jelaskan tentang akal dan kedudukannya yang amat tinggi dalam Islam untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah, bukan untuk menghakimi dan menolak Al Qur’an dan Sunnah. Berikutnya menjelaskan tentang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, kedudukan dan keutamaannya. Dia adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. (maka setelah saya jelasakan hal-hal di atas), saya katakan: “Di antara manhaj ilmi yang benar yang wajib diketahui, bahwa Al Qur’an dan Sunnah harus kita pahami sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih. Secara ringkas saya sebutkan dua dalil berikut ini.

Allah berfirman.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[An Nisa/4: 115].

Ini sebagai isyarat kepada pemahaman lurus yang terdapat pada diri para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Karena itu, wajib memahami Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para salafush shalih, dan tidak boleh memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari pemahaman mereka.

(Yang) kedua, hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik generasi manusia adalah generasiku kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya.”

Tidak mungkin khairiyyah (nilai kebaikan) di sini dikaitkan dengan jaman, tempat, orang atau fisik. Akan tetapi, kebaikan yang dimaksud ialah kebaikan iman, kepatuhan, pemahaman, ilmu dan amal. Dan kebaikan ini terdapat pada tiga kurun yang utama tersebut agar menjadi pelita bagi generasi sesudahnya.

Terakhir, perkara yang khusus, bahwa saya memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memudahkan adanya muhadharah ini. Namun saya sangat terheran-heran dan tidak habis pikir, Perguruan Tinggi yang dengan bangga menyematkan label Islam di belakangnya ini, yaitu Al Jami’ah Al Islamiyyah (Universitas Islam) bukan Al Jami’ah Al Mukhalifah Lil Islam (Universitas Penolak Islam), tetapi saya menemukan di dalamnya tiga fenomena yang memprihatinkan:

Pertama. Banyak akhwat, Mahasiswi yang tidak mengenakan pakaian syar’i atau hijab Islami. Hijab yang dimaksud bukan hanya menutup kepala, tetapi menutup seluruh tubuh dan seluruh badan, tidak menampakkan bentuk tubuh dan perhiasan.

Kedua. Banyak pemuda, Mahasiswa yang duduk-duduk dengan fatayat (mahasiswi). Tidak mungkin pemuda itu ayahnya, saudaranya, atau suaminya. Kalaupun ada, paling satu di antara seratus, sedangkan sisanya apa yang mereka lakukan di Perguruan Tinggi Islam ini?!

Ketiga. Kita sekarang berada di rumah Allah, berdzikir kepada Allah menuntut ilmu Allah. Saya sendiri datang dari jauh, dari balik Samudra Hindia, sementara saudara-saudara kita dengan santai ada yang duduk-duduk di pinggir jalan, ada yang di atas tangga, ada yang di halaman, ada yang di pojok sana dan pojok sini; mengapa tidak berkumpul di sini, di rumah Allah ini, mendengarkan dan mengikuti majelis ilmu, sesuai dengan do’a: “Ya Rabb, tambahkan ilmu kepadaku”?

Harapan saya pada Perguruan Tinggi Sunan Ampel ini, semoga pada kunjungan saya yang akan datang, fenomena yang “menakjubkan” ini dapat dihilangkan atau dapat diminimalisir semaksimal mungkin.

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [Al Ashr : 1-3].

(Ceramah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari di Masjid IAIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis tanggal 9 Desember 2004)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Fitnah Syubhat Dan Sebab-Sebabnya

FITNAH SYUBHAT DAN SEBAB-SEBABNYA

Oleh
Ustadz Fariq Gasim Anuz

Al Imam Muhammad bin Aslam At-Thusi rahimahullah (242 H) berkata : “Dan barangsiapa mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam hal wahyu dan dengan apa-apa yang ahli syirik dan ahli bid’ah berada di atasnya pada hari ini, maka dia mengetahui perbedaan yang sangat jauh antara orang-orang salaf dan orang-orang khalaf, lebih jauh antara jarak timur dan barat, mereka berdiri di atas sesuatu dan orang-orang salaf berdiri di atas sesuatu yang lain, sebagaimana dikatakan :

Dia pergi ke timur dan engkau pergi ke barat
Jauh sekali perbedaannya antara timur dan barat

Dan perkara ini -demi Allah- lebih dahsyat dari apa yang telah kami sebutkan.

Imam Al Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya (2/115)[1] dari Ummi Darda Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Abu Darda masuk ke rumah dengan keadaan marah, maka aku tanyakan kepadanya, “Ada apa engkau?” Maka ia berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun pada diri mereka tentang urusan (Nabi) Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, kecuali mereka semuanya shalat”.

Dan Imam Az-Zuhri berkata, “Saya masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus yang sedang dalam keadaan menangis, maka aku tanyakan kepadanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Maka ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sesuatu pun dari apa-apa yang aku ketahui, kecuali shalat ini, dan shalat pun sekarang telah disia-siakan”. Disebutkan oleh Al-Bukhari no. 530.[2]

Dan ini adalah fitnah yang terbesar di mana Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berbicara mengenainya, “Bagaimana keadaan kalian apabila fitnah menyelimuti kalian, orang-orang dewasa menjadi tua di dalamnya, anak-anak kecil tumbuh dewasa di dalamnya pula, bid’ah telah memasyarakat, mereka telah menjadikannya sebagai sunnah, apabila (bid’ah) itu dirubah, maka dikatakannya ‘sunnah (Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam) telah dirubah’ atau ‘ini adalah perbuatan mungkar’.”[3]

Dan hal ini merupakan sebagian bukti yang menunjukkan bahwa suatu amalan jika dilakukan bertentangan dengan As-Sunnah maka janganlah dianggap, dan janganlah ditoleh karena amalan yang bertentangan dengan As-Sunnah tersebut telah dilakukan sejak zaman Abu Darda dan Anas.”[4]

Imam Syathibi rahimahullah (wafat tahun 790 H) berkata : “Dan pada waktu itu saya telah tampil di masyarakat dengan berkhutbah, menjadi imam dan yang semisalnya, maka ketika saya menginginkan istiqamah di jalan yang lurus, saya dapatkan diri saya asing di tengah masyarakat pada waktu itu, dikarenakan gerak langkah mereka banyak dilandasi oleh adat istiadat[5] dan tata cara mereka telah dimasuki bid`ah-bid`ah dan tambahan-tambahan (dalam dien ini ), di mana di zaman dahulu hal ini bukan merupakan barang yang aneh,lebih-lebih di zaman sekarang ini!!”[6] sampai beliau berkata, “Maka ada dua pertimbangan, yaitu pertimbangan pertama mengikuti As Sunnah dengan syarat menyalahi kebiasaan masyarakat, maka haruslah menerima resiko yang biasa diterima oleh orang-orang yang menyalahi adat, terlebih lagi jika masyarakat mengakui bahwa kebiasaan mereka itu satu-satunya sunnah, tetapi meskipun memikul beban yang berat terdapat pahala yang besar padanya dan pertimbangan kedua mengikuti mereka dengan syarat menyalahi As Sunnah dan As-Salafus Shalih, maka kalau begitu saya menjadi orang-orang yang sesat – saya berlindung kepada Allah dari hal yang demikian – hanya saja saya sesuai dengan kebiasaan masyarakat, dan saya dianggap sebagai pendukung, bukan sebagai oposan.

Maka saya berpendapat bahwa binasa dalam mengikuti As-Sunnah itulah sukses namanya, sedangkan manusia tidaklah dapat menguntungkanku sedikitpun di sisi Allah, maka keputusan itu saya terapkan meskipun secara bertahap dalam beberapa perkara, maka kiamatlah menimpa saya, bertubi-tubi celaan datang kepada saya, caci makian dialamatkan kepada saya bagaikan anak panah, saya dicap sebagai ahli bid`ah dan orang sesat, dan kedudukan saya diturunkan sejajar dengan orang tolol dan bodoh.”[7] Sekarang ini pun kita hidup di zaman fitnah, fitnah syubhat dan syahwat.

Al Imam Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan[8] : “Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.”[9]

Apalagi kalau dibarengi rusaknya niat, dan berperannya hawa nafsu maka akan timbul fitnah yang lebih besar dan musibah yang lebih berat, maka katakanlah sekehendakmu mengenai kesesatan yang ditimbulkan buruknya niat, pengendalinya hawa nafsu bukannya hidayah, disertai bashirahnya yang lemah dan sedikit ilmunya mengenai apa-apa yang Allah utus RasulNya dengannya, maka dia itu termasuk orang-orang yang Allah sebut mengenai mereka:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.” [An-Najm/53 : 23]

Sampai beliau berkata : “Fitnah syubhat ini, nanti ujungnya sampai kepada kekufuran dan kemunafikan, dan ini merupakan fitnahnya orang-orang munafik dan fitnahnya ahli bid’ah menurut tingkatan kebid’ahan mereka masing- masing, semuanya berbuat bid’ah disebabkan syubhat-syubhat yang meracuni mereka sehingga menjadi kabur tidak dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang petunjuk dan mana yang sesat.”[10]

Sampai beliau berkata : “Fitnah syubhat ini kadang timbul disebabkan pemahaman yang rusak, atau nukilan yang dusta, atau dari kebenaran yang tegak, tetapi tidak nampak oleh orang tersebut sehingga ia belum mencapainya, dan kadang dari tujuan yang buruk dan mengikuti hawa nafsu maka syubhat tersebut dari kebutaan dalam bashirah dan kerusakan dalam hal keinginan.”[11]

Dalam halaman lain, beliau berkata : “Dan pokok dari segala fitnah hanya terjadi dengan jalan mengutamakan ra’yu (pikiran) atas syariat, dan mengutamakan hawa nafsu dari pada mengikuti akal sehat. Maka yang pertama merupakan pokok fitnah syubhat, dan yang kedua pokok fitnah syahwat.”[12]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyyah rahimahullah berkata : “Sedangkan ahli bid’ah, mereka itu ahli hawa dan syubhat, mereka mengikuti hawa nafunya dalam hal yang mereka sukai dan yang mereka benci, mereka memutuskan perkara dengan dzan (persangkaan) dan syubhat-syubhat, maka sesungguhnya mereka itu mengikuti persangkaan dan hawa nafsu, padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.

Setiap kelompok dari mereka telah membuat fondasi bagi dirinya fondasi dien yang ia buat sendiri, bisa dengan ra’yunya dan qiyas (analogi)-nya yang ia namakan menggunakan akal, atau bisa juga menggunakan perasaannya dan hawa nafsunya yang ia namakan “wangsit” atau dengan cara memalingkan arti dari Al-Qur’an dan merubah kata- kata dari tempat semestinya dalam Al-Qur’an, dan ia berkata: sesungguhnya ia mengikuti Al-Qur’an, seperti kaum Khawarij, atau dengan mengaku menggunakan dalil hadits padahal hadits tersebut dustaatau dhaif sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Syi’ah rafidhah dalam membawakan nash, dan kebanyakan dari orang-orang yang membuat diennya dengan ra’yunya atau perasaannya berhujjah dengan Al-Qur’an di mana ia mengartikan tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, ia menggunakan Al-Qur’an sebagai kedok dan kamuflase belaka, sesungguhnya yang dijadikan asas untuk berpijak adalah ra’yunya.”[13]

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ketika memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad dengan nasehat yang panjang, di awalnya mengenai macam-macam manusia yang terbagi menjadi tiga kelompok : Ulama rabbani, penuntut ilmu yang menuju jalan keselamatan, dan orang yang hina dan rendah, mereka tidak belajar, lalai terhadap diri mereka sendiri. Kemudian setelah itu beliau menjelaskan tentang keutamaan ilmu dibandingkan harta, lalu menjelaskan macam-macam orang yang memiliki ilmu, tetapi mereka itu orang-orang yang tercela, di antaranya adalah orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas di hatinya, tidak memiliki filter untuk menyaring kebenaran, ia merupakan fitnah bagi orang yang terfitnah disebabkan dia. Setelah selesai menceritakan mereka, lalu beliau menjelaskan tentang hilangnya ilmu dengan meninggalnya ulama, namun meskipun demikian ulama yang haq tetap saja ada meskipun sedikit jumlahnya. Setelah itu menyebutkan pujian kepada mereka.[14]

Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam syarah wasiat Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu ketika sedang menjelaskan tipe yang kedua dari orang-orang yang memiliki ilmu, yaitu orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas dihatinya, bingung dalam mencari kebenaran, beliau berkata dalam bukunya Miftah Daaris Sa’adah juz pertama :
“Ia orang yang tunduk kepada ahli kebenaran, tetapi dadanya belum lapang dalam menerimanya, begitu pula hatinya belum tentram, bahkan dia itu lemah bashirah dalam menilai kebenaran, hanya saja dia itu tunduk dan patuh kepada ahli kebenaran.  Ini adalah keadaan pengikut kebenaran dari kalangan muqalliddin, dan mereka ini-meskipun meniti di atas jalan keselamatan-tetapi mereka bukan dari juru da’wah bagi dien ini, mereka itu hanya menambah jumlah tentara, mereka bukan komandannya atau tokohnya.”[15]

Di halaman yang lain, beliau berkata[16]: “(Sedikit saja syubhat datang kepada dia, langsung membekas di hatinya). Hal ini disebabkan sedikit ilmunya dan kelemahan bashirahnya sehingga ketika syubhat yang paling kecil pun masuk kedalam hatinya langsung saja membekas berupa keraguan dan kebimbangan, berbeda dengan orang yang kokoh ilmunya, meskipun syubhat-syubhat sebesar gelombang di lautan menerpanya ia tetap kokoh (bagaikan batu karang) tidak berubah keyakinannya, dan tidak terbersit keraguan sedikit pun, karena telah kokoh ilmu yang ia miliki. Maka syubhat-syubhat tersebut tidak dapat menggoncangkannya, bahkan apabila syubhat datang kepadanya langsung saja para pengawal dan tentaranya berupa ilmu yang ia miliki, menyerangnya sehingga syubhat tersebut langsung jatuh terkapar tidak berkutik sedikit pun.

Dan syubhat yang datang lalu masuk kedalam celah hati sehingga menghalangi dia untuk menyingkapnya agar mengetahui kebenaran, tetapi bila hati telah lekat dengan hakekat ilmu, maka syubhat yang datang tidaklah berdampak apa-apa, bahkan semakin kuat ilmu dan keyakinannya dengan jalan membantah dan menyingkap kebatilannya. Apabila hatinya belum lekat dengan hakekat ilmu yang benar, maka ia akan mudah terpengaruh berupa keraguan sejak dini, bisa jadi ia meralatnya (lalu ruju’ kepada kebenaran) dan apabila tidak berbuat demikian maka syubhat yang semisalnya datang secara berturut-turut, lalu ia menjadi orang yang ragu-ragu dan bimbang. Ada dua jenis tentara dari kebatilan yang selalu masuk kedalam hati manusia, yaitu para tentara syahwat yang durjana dan para tentara syubhat yang batil. Siapa saja yang hatinya condong dan tentram kepada syubhat, maka ia menyerapnya sehingga hati dia penuh berisi syubhat, konsekuensinya yang keluar dari lisannya begitu pula yang diamalkan oleh anggota tubuhnya berupa keraguan, syubhat-syubhat dan tendensi-tendensi hawa nafsu. Adapun orang yang jahil menyangka bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat luas! Padahal sesungguhnya kosong dari ilmu dan keyakinan.”[17]

Sampai beliau berkata : “Asy-Syubhat, dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat kesamaran antara yang haq dengan yang batil, karena sesungguhnya syubhat tersebut memakai pakaian yang haq menutupi badan yang batil, dan kebanyakan manusia adalah orang-orang yang baik dari segi zhahir sehingga orang yang melihat pakaian yang ia pakai, meyakininya sebagai kebenaran.

Sedangkan orang-orang yang memilki ilmu dan keyakinan dia tidak tertipu, bahkan pandangannya dapat menembus sampai ke dalam sehingga dia mengetahui apa yang ada di balik pakaiannya, maka dia dapat menyingkap hakikatnya. Analoginya seperti uang dirham yang palsu, maka orang yang bodoh akan tertipu melihat kepada zhahirnya karena memakai pakaian berupa (sepuhan) perak, tetapi orang yang ahli dalam hal ini lagi memiliki pandangan yang tajam dapat menembus apa yang ada di balik itu sehingga ia dapat mengungkapkan kepalsuannya.

Kata-kata yang manis lagi fasih dalam hal syubhat sama kedudukannya dengan pakaian (sepuhan) berupa perak dari uang dirham palsu, padahal isinya mungkin dari tembaga atau dari jenis lain di bawahnya.

Betapa banyaknya manusia menjadi korban dari penipuan dengan cara seperti ini. Hanya Allah saja yang tahu jumlah orang-orang yang tertipu!

Dan orang yang berakal lagi cerdas apabila memperhatikan hal ini secara seksama, dia akan melihat bahwa kebanyakan manusia memegang satu pendapat dan menyampaikannya dengan satu ungkapan, dalam kesempatan yang lain ia membantah pendapat yang dipeganginya tadi dengan ungkapan yang lain[18]. Saya sendiri sering melihat yang seperti ini dalam buku-buku manusia, Masya Allah banyaknya!! Betapa sering kebenaran itu ditolak dengan cara kecaman sehingga tertutup dengan pakaian, yaitu berupa kata-kata yang buruk !

Dalam hal seperti ini, para imam ahli sunnah, seperti Imam Ahmad dan yang lainnya berkata, “Janganlah kita membuang satu sifat pun dari sifat-sifat Allah dikarenakan kecaman yang dilakukan oleh orang lain, mereka kaum Jahmiyyah menuduh bahwa penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah seperti sifat hidup, ilmu, kalam, pendengaran, penglihatan dan segala sifat lainnya yang Allah sifatkan diriNya dengan sifat tersebut mereka katakan sebagai tajsim dan tasybih (penyerupaan) dengan makhluk. Barangsiapa yang menetapkan sifat-sifat tersebut dituduhnya sebagai musyabbih.”[19]

Hanya orang yang berakal picik lagi mempunyai pandangan sempit, jika ia lari dari pemahaman yang benar disebabkan adanya tuduhan dengan penamaan yang batil ini.

Dan setiap pendukung aliran atau ajaran batil menutupi hakekat aliran dan ajaran mereka dengan ungkapan semanis mungkin. Sedangkan untuk menjatuhkan lawan, mereka menggunakan ungkapan seburuk mungkin.

Adapun orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa bashirah dapat menyingkap hakekat di balik kata-kata tadi, berupa kebenaran atau kebatilan dengan menggunakan bashirah tersebut, dia tidak tertipu dengan ucapan lisan, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

“Engkau katakan ini adalah hasil dari lebah“[20]
Dan apabila engkau menghendaki engkau katakan ini adalah muntahnya zanabir[21]

Ungkapan pertama berupa pujian dan kedua berupa celaan, engkau tidak berlebihan dalam mensifati keduanya Dan kebenaran itu terkadang tertutup oleh buruknya ungkapan.”

Maka dari itu apabila engkau hendak menelaah mengenai hakekat suatu pengertian, apakah dia itu haq atau batil? Maka lepaskanlah semua dari pengaruh ungkapan kata-kata, lepaskan hatimu dari sikap apriori atau simpati, kemudian setelah itu berilah akal haknya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan yang obyektif, janganlah engkau termasuk oarang-orang yang subyektif dalam menilai, yaitu apabila ia melihat tulisan atau ucapan sahabat-sahabatnya atau orang-orang yang ia selalu berprasangka baik kepadanya, ia memandangnya dengan pandangan sempurna dengan sepenuh hati sehingga ditelannya bulat-bulat. Sebaliknya, apabila ia melihat tulisan atau ucapan lawanya atau orang-orang yang yang ia berprasangka buruk kepadanya, maka ia memandangnya dengan memicingkan mata, penuh koreksian. Akibatnya orang yang melihat dengan pandangan permusuhan apabila dia melihat kebaikan, yang terlihat adalah keburukan, sebaliknya orang yang melihat dengan pandangan percintaan apabila dia melihat keburukan, yang terlihat adalah kebaikan .

Dan tidak ada orang yag selamat dari sikap subyektifitas ini, kecuali orang yang Allah kehendaki mendapatkan kemuliaanNya dan Ia ridha kepadanya untuk menerima kebenaran, dan telah dikatakan : “Mata yang penuh ridha akan memejamkan matanya dari segala aib yang ia lihatsebagaimana mata yang penuh kebencian yang ia lihat hanyalah keburukan”

Dan yang lain berkata pula : “Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut mata keridhaan tentu mereka akan menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk.

Apabila yang demikian tadi berkenaan dengan pandangan mata panca indra yang hanya sampai kepada benda-benda fisik, masih saja ia belum bisa menahan dirinya agar tidak sombong, maka bagaimana jadinya dengan pandangan mata hati yang dapat menembus makna-makna yang sangat dalam yang tidak dapat dijangkau oleh mata panca indra, mata hati itu merupakan ujian yang lebih berat lagi, sehingga lebih besar lagi kemungkinannya untuk berbuat sombong.

Dan hanya Allah saja yang diminta pertolonganNya guna mengetahui kebenaran dan agar kita dapat mengikutinya, dan guna menolak kebatilan dan agar kita tidak tertipu dengannya”[22]

Wahai Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk dapat mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya’ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]
_______
Footnote
[1] Ilmu Ushulil Bida’, hal.276
[2] Ilmu Ushulil Bida’, hal.276
[3] H.R. Ad-Darimi (1/64), dan Al-Hakim. Lihat Ilmu Ushulil Bida’ hal. 276
[4] Ilmu Ushulil Bida’, hal.275-277
[5] Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan, “Kebanyakan agama-agama manusia hanyalah adat istiadat yang mereka ambil dari bapak-bapak mereka dan nenek moyang mereka, lalu mereka menirunya secara taqlid buta, baik di dalam menetapkan dan menolak, dalam cinta dan benci, dalam loyalitas dan permusuhan “(juz 2 hal 193)
[6] Al-I’tisham, hal.33
[7] Al-I’tisham hal.34-35
[8] Penyusun menukilnya dari buku Mawaridul Amaan
[9] Syaikh Ali Hasan berkata, “Dan dari pintu sedikitnya ilmu, syetan masuk kepada orang- orang yang cetek ilmunya, ia menghiasi ‘kebatilan’ dengan hal yang indah-indah, sehingga mereka terjerumus dalam perangkapnya, maka ilmu yang bermanfaat merupakan kunci bagi segala kebaikan dan penolak segala kejahatan.” (Mawaridul Amaan, hal 412, Catatan kaki no.1)
[10] Mawaridul Amaan, hal. 412
[11] Mawaridul Amaan, hal. 413
[12] Mawaridul Amaan, hal. 414
[13] Syaikh Ali Hasan menukil dari kitab An-Nubuwah hal.95. (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ , hal.292)
[14] Wasiat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad secara lengkapnya dapat dilihat dalam buku-buku berikut ini: (1). Min Washayaa As-Salaf, hal. 11-18 (2). Al-Ifadah min Miftah Daar As-Sa’adah, hal.192-193 dari juz pertama (3). Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1 hal.493-494, dan syarah wasiat ini terdapat pada hal. 405-474
[15] Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1 hal 441
[16] Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1 hal 442
[17] Syaikh Ali Hasan dalam ta’liqnya mengatakan, “Dan ini yang terjadi pada ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang seperti (Muhammad Zahid) Al-Kautsari itu yang telah binasa, begitu pula si pendusta “Al-Khassaaf” dari Balqa (nama tempat di Yordania, pent) orang yang hina dina !. Dan jauh berbeda antara keduanya dari segi ilmu meskipun semuanya ahli bid’ah.” Penyusun mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Syaikh Ali dengan “Al-Khassaf” pendusta dari Balqa adalah Hasan Assaqqaf, seorang ahli bid’ah dari Yordania penulis buku Tanaqudhaat Al- Albani. Buku-bukunya penuh berisi kecaman dan cacian terhadap da’wah salafiyyah dan para ulamanya dahulu dan sekarang, ia seorang yang tolol, ta’ashshub dan penuh dendam. Syaikh Masyhur Hasan Salman menyebutkan dalam sebuah bukunya Kutubu hadzdzara minha Al-Ulama (buku-buku berbahaya yang diperingatkan oleh para ulama), juz 1 hal.300-301, beliau berkata, “Beberapa masyayikh yang terhormat, dalam rangka membela aqidah salafiyyah telah membantah Hasan Assaqqaf ini, banyak peringatan-peringatan keras mereka lontarkan (kepada ahli bid’ah), begitu pula jakan penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu yang masih goyah, yang masih dalam keadaan bingung dan goncang, mudah-mudahan mereka mengetahui hakekat buku-buku Hasan Assaqqaf ini dan bahayanya terhadap manhaj ahlul haq.
Di antara masyayikh tersebut adalah :
1. Al-Akh Syaikh Sulaiman Nashir Al-Ulwan dalam buku-bukunya :
Al-Kasysyaf ‘an dhalalaat Hasan As-Saqqaf, dicetak oleh Daar Al-Manar,Riyadh.
Al-Qaul Mubin fi Itsbati Ash-Shuroh li rabbil ‘Alamin bantahan terhadap tulisan Assaqqaf Aqwaalul Huffadz Al-mantsuroh libayanil wadh’i hadits “roaitu rabbi fi ahsani shuroh.” Buku (Al-Qoul Mubin) ini dicetak oleh Daar Al-Anshar, Buraidah.
Dan dia (Syaikh Sulaiman) juga mempunyai bantahan yang panjang lebar terhadap buku Daf’u syubahi At-Tasybih dan komentar- komentar Assaqqaf terhadap buku itu yang beliau beri nama “Ithafu Ahlil fadhli wal inshafi binaqdhi kitab daf’i syubahit tasybih wa ta’liqaat Assaqqaf.”
2. Al-Akh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dalam dua bukunya :
Al-Anwar Al-Kasyifah litanaqudhaat Al-khassaf Az-Zaaifah wa Kasyfu ma fiiha minaz ziyagh wat tahrif wal Mujazafah, diterbitkan oleh Daar Al-Ashaalah.
Al-Iiqaafu ‘ala abatil qamus syataaim Assaqqaf, Daar Al-Ashaalah.
Berupa bantahan terhadap kitab Assaqqaf Qaamus Alfadz Al-Albani.
3. Syaikh Abdul Karim bin Shalih Al-Humaid dalam bukunya :
Al-Ithafu bi Aqidatil Islam wat Tahdzir min Jahmiyatis Saqqaf
4. Al-Akh Syaikh Kholid Al-‘Anbari dalam bukunya :
Al-Iftiraa”aatus Saqqaf Al-Atsim’alal Albani Syaikhil Muhadditsin
Dan selain mereka masih banyak lagi.
[18] Syaikh Ali mengatakan, “Hal ini bukan metode yang benar dan bukan jalannya ahli kebenaran.” (Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1, hal.443, catatan kaki no.2)
[19] Syaikh Ali mengatakan, “Dan cara seperti ini dilakukan oleh Ahli Bid’ah dan Ahli hawa dahulu dan sekarang.” (Miftah Daar As- Sa’adah, juz 1, hal.444, catatan kaki)
[20] Hasil dari lebah maksudnya adalah madu
[21] Zanabir bentuk jama’ dari zanbur yaitu serangga yang memiliki sengat seperti lebah, hanya badannya lebih besar dari lebah. Zanbur ini suka mencuri madu dari sarang lebah, apabila muntah, maka muntahnya yang keluar mirip madu
[22] Miftahu Daar As Sa’adah, juz1 hal 443-445

Antara Ahlus Sunnah dan Salafiyah

ANTARA AHLUS SUNNAH DAN SALAFIYAH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Di sini, perlu dijelaskan antara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafiyah. Suatu hal yang perlu dicermati dari tingkah laku sebagian da’i adalah mereka tidak mau menyebut dakwah mereka dengan dakwah salafiyah, walapun secara tegas mereka menyatakan bahwa aqidah mereka adalah salafi. Mereka hanya mau mempopulerkan dakwah mereka dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengulang-ulang nama tersebut di berbagai kesempatan, ketika menyampaikan pidato atau ketika menulis buletin. Ini merupakan ketetapan Allah yang agung. Supaya dakwah yang haq nampak beda dengan dakwah-dakwah yang menyerupainya. Agar dakwah yang haq tidak tercampur dari segala hal yang mengaburkannya.

Penjelasan tentang hal itu sebagai berikut: Sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ketika timbul bid’ah-bid’ah yang meyesatkan sebagian manusia. Maka perlu nama untuk membedakan umat Islam yang komitmen dengan sunnah. Nama itu adalah Ahlus Sunnah sebagai lawan Ahlu Bid’ah. Ahlus Sunnah juga disebut Al-Jama’ah, karena mereka adalah kelompok asal (asli). Sedangkan orang-orang yang terpecah dari Ahlus Sunnah dikarenakan bid’ah dan hawa nafsu adalah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.

Sedangkan saat ini, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjadi rebutan berbagai kaum dan jama’ah yang beraneka ragam. Bisa kita saksikan sendiri, banyak kaum hizbi yang menyebut jama’ah dan organisasi mereka dengan istilah ini. Bahkan beberapa tharekat Sufi melakukan tindakan yang sama. Sampai-sampai Asy’ariyah, Maturidiyah, Barilawiyah dan lain-lainnya mengatakan ‘Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah‘.

Namun mereka semua menolak untuk menamakan diri mereka dengan Salafiyah. Mereka menjauhkan diri untuk menisbatkan kepada manhaj salaf, terlebih lagi kenyataan dan hakikat mereka (yakni mereka jauh dari mengikuti Salafush Shalih).

Ini adalah suatu yang biasa bagi kita, karena termasuk perkara yang sudah maklum di kalangan para da’i yang mengajak kepada Al Qur’an dan as Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, bahwa slogan/prinsip para ahli bid’ah adalah tidak menganut prinsip mengikuti salaf. Karena ittiba’ (mengikuti) sesungguhnya mengikuti pemahaman salaf merupakan kata pemutus terhadap perselisihan pemahaman-pemahaman orang-orang di masa kini. Karena sebagian orang menghukumi dengan akalnya, yang lain menghukumi dengan dasar pengalamannya, yang lain lagi menghukumi dengan emosi.

Demikianlah pemahaman mereka, tanpa memperhatikan jalan orang-orang yang beriman (yaitu jalan para sahabat) yang wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yang beriman itu pada hakikatnya adalah jalan Salafush Shalih, yang kita menisbatkan diri kepadanya dan kita mengambil petunjuk cahayanya. Karena itu slogan Ahlus Sunnah adalah mengikuti Salafush Shalih dan meninggalkan segala sesuatu yang bid’ah dan baru dalam agama.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzhab Salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar.[1]

Pada zaman ini banyak pengakuan-pengakuan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (memang pada hakekatnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan sifat di antara sifat-sifat Salafiyah), Maka ada keharusan untuk membedakan diri dari orang-orang yang mengaku-aku Ahlus Sunnah wal Jama’ah (namun mereka menyelisihi sunnah, baik dalam aspek aqidah maupun manhaj) dengan menisbatkan diri dengan manhaj yang mereka ketakutan untuk terang-terangan menyatakannya dan tidak merasa terhormat dengan bernisbat kepadanya. Karena hal itu akan mengadili mereka apakah mereka mencocoki atau menyelisihi manhaj itu yaitu manhaj salaf dalam metode dan tujuan dakwah, atau dalam aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam dan perilaku.

Juga perlu dikatakan kepada orang yang mengingkari penisbatan kepada Salafiyah. Sesungguhnya menisbatkan diri kepada salaf dan terus terang berbangga terhadap setiap orang yang menyelisihi kebenaran, baik menyelisihi dalam perilaku maupun pembuatan teori-teori, dan terang-terangan menyatakan bahwa satu-satunya dakwah yang benar adalah dakwah salafiyah, itu semua bukanlah aib. Tidak ada bahaya bagi pelakunya. Karena salafiyah adalah nisbat kepada salaf. Penisbatan ini tidak pernah terpisah meski dalam sekejap mata dari umat Islam sejak terbentuknya minhaj kenabian. Salafiyah itu mencakup semua umat Islam yang menempuh metode generasi pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka, dalam metode mendapatkan ilmu, memahami ilmu dan mendakwahkannya. Jadi Salafiyah tidak lagi terbatas pada fase sejarah tertentu, bahkan harus dipahami bahwa makna salaf terus berjalan sepanjang kehidupan dunia.

Hal ini makin dikuatkan bahwa Salafiyah mencakup setiap bagian dari Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi Salafiyah bukanlah suatu corak beragama yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dengan menambah ataupun dengan menguranginya.

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan, seandainya umat ini telah berada di dalam bentuk Islam yang benar, tanpa tercampur dengan bid’ah dan hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi di masa awal Islam terutama masa salafus shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yang berfungsi sebagai pembeda karena tidak adanya penentang.

Karena hal itu maka ikatan wala’ (kecintaan) dan bara’(berlepas diri), pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf adalah berdasarkan Islam. Bukan yang lain. Tidak dengan corak tertentu selain Islam. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah saja.

Dengan ini semua, benar-benar jelas bahwa makna Salafiyah dan hakikat penisbatan kepada salaf adalah nisbat kepada salaf shalih, yaitu semua sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukan orang-orang setelah sahabat yang dibelokkan oleh hawa nafsu, yang mereka adalah generasi yang buruk. Generasi yang menyimpang dari salaf shalih dengan nama atau corak tertentu. Dari sinilah mereka dinamai khalaf (orang yang datang kemudian) dan penisbatannya adalah khalafi.

Jadi Salafiyah tidak memiliki corak yang keluar dari Kitab dan Sunnah. Salafiyah adalah nisbat yang tidak pernah terpisah sekejap-pun dari generasi pertama. Bahkan Salafiyah adalah bagian dari mereka dan merujuk kepada mereka.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi salaf shalih dengan nama atau corak tertentu, bukanlah bagian dari mereka, meski hidup di tengah-tengah mereka atau senantiasa dengan mereka. Karena itulah para sahabat berlepas diri dari Qadariyah, Murjiah dan lain-lain.

Jika demikian maka asas-asas dan kaedah-kaedah untuk mengikuti salaf harus nampak jelas dan tegar. Sehingga tidak merancukan orang-orang yang ingin mengikuti salafus shaleh.

Karena itulah harus ada pembeda antara Ahlus Sunnah dengan para pengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yaitu dengan sebuah nisbat yang mereka tidak berani menggunakannya. Karena penisbatan itu akan membongkar penyimpangan dan cacat jika dicek/dibandingkan dengan jalan orang-orang yang beriman (yaitu sahabat) dan metode salafus shalih. Pembeda itu adalah Salafiyah. Jalan salaf shalih itulah jalan yang jelas tanpa perlu diragukan. Yakni jalan para sahabat dan tabi’in. Inilah jalan petunjuk dan jalan untuk mendapatkan petunjuk.

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ

Maka janganlah orang-orang yang tidak mau beriman dan mengikuti hawanya menghalangimu darinya sehingga engkau akan binasa.[Thaha/20 :16]

(Diterjemahkan dari Mukadimah Kitab Ru’yah Waqi’iyah karya Syaikh Ali bin Hasan al Halabi oleh Ibnu Ahmad al Lambunji)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VI/1423H/2002M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Majmu Fatawa 4/149

Imam Ahmad Sosok  Ulama yang Teguh Diatas Kebenaran

IMAM AHMAD SOSOK ULAMA YANG TEGUH DIATAS KEBENARAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah rangkaian dari kisah perjalanan hidupnya seorang ulama besar dari para Imam umat ini, Imamnya para imam pembawa petunjuk, dengan melalui perantara beliau Allah Shubhanahu wa Ta’alla menolong agama ini dan menjaga sunah Nabi -Nya. Beliau lahir pada tahun 164 H, dan tumbuh dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal tatkala dirinya masih kecil, kemudaian beliau mulai menuntut ilmu dikala usianya masih lima belas tahun, bertubuh sedikit jangkung dengan warna kulit sawo matang, dan menikah pada umurnya yang ke empat puluh tahun.

Abu Zur’ah ar-Razi menuturkan, “Beliau memiliki hafalan satu juta hadits”. Tatkala beliau ditanya akan hal itu, beliau mengatakan, “Aku belajar padanya dan mengambil hadits dengan jumlah yang banyak darinya’. Imam adz-Dzahabi menjelaskan, “Dan kisah ini adalah benar, yang menunjukan akan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Abu Abdillah (Imam Ahmad). Dan mereka didalam menghitung jumlah hafalan yang dimiliki oleh beliau, karena ada yang sifatnya berulang-ulang, ada yang hanya atsar dari sahabat, fatwanya para Tabi’in, dan tafsiran beliau dan yang semisal dengan itu semua. Karena kalau dijumlah seluruh matan hadits shahih yang ada, tentu tidak akan sampai pada angka bilangan satu juta hadits”.[1]

Beliau adalah imamnya Ahlu Sunah wal Jama’ah, syaikhul Islam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adz-Dzahli asy-Syaibani al-Marwazi kemudian al-Baghdadi, beliau mempunyai kun’yah Abu Abdillah. Imam Syafi’i menyatakan, “Aku pergi meninggalkan negeri Baghdad dan tidaklah aku tinggalkan disana seorang yang lebih mulia, lebih berilmu dan bertakwa dari pada Ahmad bin Hanbal”. Berkata Ishaq bin Rahawaih tentang beliau, “Ahmad bin Hanbal adalah hujah yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla turunkan kepada hamba dan Diri-Nya”.

Adz-Dzahabi melanjutkan tentang sirahnya, “Adalah Ahmad bin Hanbal sangat agung urusannya, pemimpin dalam ilmu hadits, ilmu fikih, serta ilmu ibadah. Beliau telah mendapat pengakuan dari lawan-lawannya, sehingga tidak bisa di bedakan mana saudara dan kerabatnya? Beliau sangat disegani ketika berbicara tentang Dzat nya Allah azza wa jalla, sampai sekiranya Abu Ubaid mengatakan tentangnya, “Tidak ada seorangpun yang lebih disegani ucapannya dalam masalah Dzat Allah Shubhanahu wa Ta’alla melebihi ucapannya Ahmad bin Hanbal”.

Konon, dikisahkan bahwa para penuntut ilmu yang hadir dimajelisnya Imam Ahmad kurang lebih lima ribu orang, diceritakan sekitar lima ratus orang yang mencatat hadits darinya, sedang sisanya hanya melihat dan mempelajari adab dan etikanya beliau. Pernah suatu ketika sahabatnya bertanya pada beliau, “Sampai kapan engkau akan terus menuntut ilmu, sedangkan sekarang engkau adalah seorang imamnya kaum muslimin? Beliau menjawab, “Mulai dari buaian sampai ke liang lahat”.

Beliau –semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmatinya- adalah seorang yang sangat fakih dan zuhud dalam urusan dunia. Imam an-Nasa’i menuturkan, “Telah terkumpul dalam diri Ahmad bin Hanbal ilmu yang berkaitan tentang hadits, fikih, wara’, zuhud, dan kesabaran”. Sedang Abu Dawud mensifati beliau dengan mengatakan, “Majelisnya Ahmad bin Hanbal adalah majelis yang menggambarkan tentang akhirat, tidak pernah sedikitpun disebut dalam majelis beliau perkara dunia. Aku tidak pernah beliau menyebut-yebut urusan dunia sedikitpun”.

Ahmad bin Sanan menjelaskan, “Telah sampai berita kepadaku kalau Ahmad bin Hanbal menggadaikan sendalnya kepada tukang roti di Yaman, dan dirinya menangguhkan dengan menambah dua ekor onta tatkala keluar dari negeri Yaman, kemudian Abdurrazaq menawarkan padanya uang dua dirham untuknya, namun dirinya enggan menerimanya”. Berkata al-Marwadzi mengkisahkan beliau, “Adalah Abu Abdillah, apabila disebut tentang kematian disisinya, maka beliau menangis tersedu-sedu khawatir akan hal itu. Dan beliau pernah mengatakan, “Ketakutanku menjadikan diriku segan untuk makan dan minum, jika aku mengingat kematian, menjadiku mudah melupakan semua problematika dunia, makananku hanya cukup untuk menegakkan punggungku, pakaianku sebatas menutup semua auratku. Sungguh dunia adalah bagian dari hari-hari yang sangat pendek, yang aku tidak khawatirkan tentang kefakiran sedikit pun, kalau seandainya ada jalan yang aku bisa keluar dari kesibukan dunia tentu aku sudah keluar darinya sampai kiranya tidak ada lagi yang mengenangku”.

Beliau juga pernah memberi petuah, “Aku ingin kiranya aku berada dilembah Makah sampai kiranya tidak ada orang yang mengenalku, sungguh aku merasa tertimpa musibah dengan ketenaran”. Imam Ahmad adalah seorang yang sangat bertakwa, wara’ dan rendah diri. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Yahya bin Ma’in, “Tidak pernah aku melihat yang semisal dengan Ahmad bin Hanbal, aku telah menjalin persahabatan dengannya selama lebih dari lima puluh tahun, beliau tidak pernah membanggakan diri atas kami dengan sesuatu kebajikan yang beliau lakukan”. Al-Marwadzi menambahkan, “Aku pernah mengatakan pada Abu Abdillah, “Betapa banyak orang yang mendo’akanmu”. Beliau menjawab, “Aku khawatir ini termasuk istidraj (fitnah), apa alasanya? Aku katakan padanya, “Ada seseorang datang dari negeri Thurthus lalu menceritakan, “Kami berada dinegeri Romawi dalam sebuah peperangan. Tatkala malam membawa kesunyian para pasukan mulai mengangkat suaranya dengan do’a, sembari mengingatkan, “Berdo’alah untuk Abu Abdillah”. Lantas kami membentangkan senjata, lalu kami lempar setelahnya kepada musuh yang sedang naik kuda dengan baju perang dan perisainya kemudian diapun mati lalu dipenggallah kepala dan diambil baju perisainya.

Al-Marwadzi melanjutkan, “Maka seketika itu wajah beliau berubah, dan berkata, “Aku berharap semoga ini bukan istidraj”. Aku katakan padanya, “Sungguh sekali-kali tidak”. Lalu ada seorang lagi yang masuk pada beliau, lantas dirinya menyanjung dan memuji beliau sambil mengatakan, “Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberi balasan kepadamu atas jasamu terhadap Islam dengan sebaik-baik balasan”. Maka beliau sangat bersedih hati dan mengatakan, “Bahkan, semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberi balasan kepada Islam atas kebaikan yang diberikan padaku, siapa saya, apa artinya saya dibanding Islam”.

Berkata anaknya, Sholeh tentang ayahnya, “Ayahku, merupakan tradisi beliau jika dido’akan oleh orang lain beliau menerangkan padanya, “Sesungguhnya amalan tersebut tergantung pada akhir penghidupannya”. Muridnya al-Marwadzi menceritakan, “Pada suatu hari aku bertanya pada beliau, “Bagaimana keadaanmu dipagi hari ini? Beliau berkata, “Bagaimana aku mampu menjawab, dipagi hari yang seseorang dituntut oleh Rabbnya supaya menunaikan kewajiban-kewajibannya. Nabinya menuntut agar mengerjakan sunah-sunahnya, sedang dua malaikat selalu mengawasi agar senantiasa memperbagusi amalannya, dan dirinya merongrong untuk mengikuti hawa nafsunya, iblis mendorong agar berbuat kenistaan, sedang malaikat maut mengintainya untuk mencabut nyawanya, dan keluarganya menuntut untuk dipenuhi nafkahnya”.

Beliau juga bercerita, “Tatkala disebut dihadapan Imam Ahmad tentang akhlaknya orang-orang yang wara’ beliau berkata, “Aku memohon kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla semoga tidak menjadikan kami membencinya. Dimana kami bila dibanding dengan mereka-mereka itu? Ini menunjukan tentang tawadhunya beliau sedang beliau adalah Imamnya ahli wara’. Imam Ahmad adalah seorang ulama yang tegar didalam menjelaskan kebenaran dan bersabar terhadap ujian yang menimpanya disebabkan hal itu. Sebagaimana diirinya telah diuji oleh karenanya.  Diterangkan oleh adz-Dzahabi, “Penjelas kebenaran sangatlah agung kedudukannya, dirinya butuh ekstra didalam kemauan dan keikhlasan. Beliau melanjutkan, “Seseorang yang bisa ikhlas namun tidak memiliki kekuatan, dirinya akan kandas ditengah perjalanannya. Adapun kekuatan tanpa dibarengi keikhlasan maka akan menyebabkan dirinya jauh dari pertolongan. Sehingga barangsiapa yang mampu memadukan antara keduanya secara sempurna maka dirinya adalah shidiq (jujur). Dan siapa yang lemah maka paling tidak dirinya akan mengeluh dan hatinya mengingkari, dan tidak ada lagi keimanan yang tersisa setelah itu, maka tidak ada kekuatan melainkan dari Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata”.[2]

Berkata Ali bin al-Madini, “Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah memuliakan agama ini dengan dua orang, Abu Bakar Shidiq tatkala beliau memerangi ahli ridah (yang berpaling keluar dari Islam) sedang yang kedua adalah Ahmad bin Hanbal ketika terjadi fitnah pemikiran al-Qur’an adalah makhluk”.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. [al-Ankabuut/29: 1-3].

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulallah, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang paling berat mendapat ujian? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ  » [أخرجه الترمذي]

Para nabi kemudian yang semisal dan yang semisal dengan mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agama yang dia peluk, jika agama yang dipegang cukup kuat maka ujiannya semakin besar, kalau agamanya sedikit lembek ujian yang diterimanya pun sesuai dengan kadar tingkat agamanya“. [HR at-Tirmidzi no: 2398].

Tatkala meletus fitnah al-Qur’an adalah makhluk pada masanya al-Ma’mun, Sholeh anak Imam Ahmad mengkisahkan, “Kemudian orang-orang (para ulama) pada saat itu mendapat ujian dan dipersiapkan bagi siapa saja yang menolaknya untuk dijebloskan ke dalam penjara. Maka semuanya menuruti kemauan mereka kecuali empat orang, Ayahku, Muhammad bin Nuh, al-Qawariri, dan Hasan bin Hamad. Kemudian diantara empat orang ini dua orang akhirnya menyerah sehingga tinggal dua yang enggan yaitu Ayahku dan Muhammad sehingga keduanya ditahan beberapa waktu. Kemudian datang surat perintah dari Thurthus untuk membawa keduanya dengan tangan terikat. Lantas ditengah perjalanan Muhammad bin Nuh meninggal dunia sehingga tinggal ayahku sendirian yang dibawa menghadap mereka.

Abas ad-Dauri mengatakan, “Aku pernah mendengar Abu Ja’far mengkisahkan, “Tatkala Imam Ahmad digelendang dibawa menghadap al-Ma’mun, aku kabarkan beritanya kepada al-Farat, ketika itu aku dapati dirinya sedang duduk dikedainya lalu aku ucapkan salam padanya. Dia berkata, “Wahai Abu Ja’far, engkau membawa berita duka”. Aku katakan, “Duhai anda, sekarang engkau adalah ulama panutan, banyak manusia mengikutimu. Demi Allah, kalau seandainya engkau menuruti mereka dengan mengatakan al-Qur’an adalah makhluk tentu orang-orang akan menirumu. Dan membuat Ahmad bin Hanbal menangis dan hanya mampu mengucapkan, “Apa yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla kehendaki pasti terjadi”.

Kemudian dia berkata, “Wahai Abu Ja’far, ulangi lagi nasehatmu”. Akupun mengulangi lagi, lalu beliau berkata. “Apa yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla kehendaki pasti terjadi”. Ibrahim bin Abdillah menuturkan, “Pernah Ahmad bin Hanbal mengucapkan, “Tidak ada sebuah ucapan yang menusuk kalbuku semenjak terjadinya fitnah ini dari pada ucapannya seorang Arab badui yang berkata padaku, “Wahai Ahmad, jika kebenaran yang membunuhmu maka engkau mati syahid, dan jika engkau selamat, engkau akan hidup dalam keadaan terpuji”. Seketika itu kalimat tersebut menguatkan hatiku.

Muhammad bin Ibrahim mengatakan, “Orang-orang menyebut-yebut Abu Abdillah (Imam Ahmad) dengan kehalusan budi pekerti dalam masalah ketakwaan, dan kisah yang berkaitan dengannya. Ada yang bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan dengan haditsnya Khabab? Yaitu hadits yang bunyinya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ » [أخرجه البخاري]

Dahulu ada seorang dari kalangan sebelum kalian yang dibuatkan lubang ditanah untuknya lalu dirinya dimasukan kedalamnya. Lantas didatangkan padanya gergaji lalu diletakan diatas kepalanya sehingga kepalanya terbelah menjadi dua. Namun, lelaki tadi tetap teguh dalam mempertahankan agamanya. Ada lagi seseorang yang disisir dengan menggunakan sisir dari besi sehingga terpisah daging dan tulangnya, atau urat sarafnya, namun, itu semua tidak menjadikan dirinya gentar sehingga dia tetap teguh dalam agamanya“.[HR Bukhari no: 3612].

Maka fitnah itu membikin kami berputus asa. Lantas dia berkata, “Aku tidak peduli dengan tahanan, tidaklah penjara kecuali sama seperti rumah bagiku, bukan tebasan pedang yang kutakuti, namun, fitnah cambuk yang kutakuti. Maka ada sebagian penghuni penjara yang mendengar ucapan beliau, lantas dia berkata, “Tidak mengapa wahai Abu Abdillah, tidak ada cambuk kecuali dua cambukan kemudian engkau tidak lagi merasakan sisanya”. Seakan-akan dirinya lenyap setelah itu.

Sholeh bin Ahmad mengkisahkan, “Ayahku berkata, “Tatkala kami dibawa dan sampai dinegeri perbatasan, kemudian di pertengahan malam kami tinggalkan tempat tersebut, maka ketika pintunya dibukakan untuk kami tiba-tiba ada seseorang datang sambil menyeru, “Kabar gembira, dirinya telah meninggal –Yang dimaksud adalah al-Ma’mun-. Ayahku berkata, “Dan aku berdo’a kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla agar aku tidak dipertemukan dengannya”. Setelah itu Ahmad terus ditahan di Ruqah sampai diba’iatnya Mu’tashim menjadi Khalifah setelah kematian saudaranya. Diapun sama dengan saudarnya, memberi titah supaya menyiksa Imam Ahmad, dengan memberi cambukan sampai dirinya pingsan beberapa kali.

Sholeh melanjutkan, “Kemudian beliau dibebaskan dan dikembalikan pulang kerumahnya. Dan beliau tinggal didalam penjara semenjak mulai dimasukan sampai berlalu, selama dua puluh delapan bulan”. Diantara akhlak mulia beliau, ialah pemaaf dan lapang dada sampai kepada lawan yang paling membenci serta menyiksanya. Diantara ucapan beliau ialah, “Setiap orang yang menyebut tentang diriku maka aku halalkan baginya kecuali bagi ahli bid’ah. Dan telah aku jadikan bagi Abu Ishaq –yakni al-Mu’tashim- halal kehoramatanku. Karena aku mendapati Allah Shubhanahu wa Ta’alla berfirman dalam ayat -Nya:

وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [an-Nuur/24: 22].

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Bakar supaya memaafkan dalam kisahnya Misthah. Abu Abdillah mengatakan, “Apa manfaatmu dengan menyebabkan saudaramu sesama muslim tersiksa? Berilah maaf padanya dan berlapang dadalah maka Allah Shubhanahu wa Ta’alla akan mengampunimu sebagaimana yang -Dia janjikan akan hal itu.

Beliau juga berkata pada ahli bid’ah, “Antara kita dan kalian ada sholat jenazah”. Berkata Abdul Wahab al-Waraq mengkisahkan kematian beliau, “Belum pernah sampai kepada kita sejarah dalam masa Jahilayah tidak pula masa Islam sebelumnya akan banyaknya orang yang berkumpul untuk menyolati jenazah beliau. Sampai kiranya sampai kepada kita, bahwa tidak ada tempat yang bisa untuk sholat melainkan disitu ada sekumpulan orang yang ikut menyolati jenazahnya, sehingga terkumpul pada saat itu satu juta orang. Orang-orang berlomba-lomba membukakan pintu-pintu rumahnya dijalanan dan pintu gerbang sambil mempersilahkan, ‘Siapakah yang ingin berwudhu”.[3] Beliau meninggal dunia pada hari jum’at tanggal 12 Rabi’ul awal tahun 241 H. semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati beliau dengan rahmat -Nya yang luas. Dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla membalas beliau akan jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan mengumpulkan kita bersamanya dinegeri kenikmatan bersama para Nabi, Shidiqin, para syuhada serta orang-orang sholeh. Dan mereka adalah sebaik-baik teman.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة الإمام أحمد بن حنبل  Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Siyar a’lamu Nubala 11/187.
[2] Siyar a’lamu Nubala 11/234.
[3] Siyar a’lamu Nubala 11/177-356.

Antara Banyak Dan Sedikit

ANTARA BANYAK DAN SEDIKIT

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al Atsari

Di antara kaidah yang diterapkan ulama adalah, bahwa “merebaknya suatu perbuatan tidak menunjukkan atas kebolehannya, sebagaimana tersembunyinya suatu perbuatan tidak menunjukkan atas dilarangnya.[1]

Ibnu Muflih dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah (I/163) berkata, “Seyogyanya diketahui bahwa hal yang dilakukan banyak manusia adalah bertentangan dengan ketentuan syar’i dan hal tersebut masyhur di antara mereka dan banyak manusia yang melakukannya. Yang wajib bagi orang yang arif adalah tidak mengikuti mereka, baik dalam ucapan maupun perbuatan, dan janganlah dia terpengaruh oleh hal tersebut setelah tersebar jika dalam kesendirian dan sedikitnya kawan”.

Syaikh Muhyiddin An-Nawawi berkata, “Janganlah manusia terpedaya oleh banyaknya orang yang melakukan sesuatu yang dilarang melakukannya, yaitu kepadanya oleh orang yang tidak menjaga adab-adab ini. Laksanakanlah apa yang dikatakan Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Janganlah kamu menganggap buruk jalan-jalan kebaikan karena sedikitnya orang yang melakukannya, dan janganlah kamu terpedaya dengan banyaknya orang-orang yang binasa’.”[2]

Abu Wafa’ bin ‘Uqail dalam Al-Funun berkata, “Barangsiapa yang keyakinannya lahir dari bukti-bukti dalil, maka akan hilang pada diri sikap ikut arus dan terpengaruh oleh perubahan kondisi orang banyak : أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْApakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?[3]

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang kokoh pendiriannya dalam berbagai keadaan, berbeda-beda berbagai kondisi tidak menjadikannya goyah ketika kaki-kaki jatuh tergelincir.”

Sampai dia berkata, “Dan terkadang seseorang Muslim sampai dipersempit kehidupannya. Dan sesungguhnya agama kami berlandaskan pada mengambil dunia dan kebaikan akhirat, maka siapat yang mencari kehidupan dunia dengan cara meninggalkan kebaikan akhirat maka dia salah jalan.”

Jika kita telah mengetahui hal tersebut maka tampak kebatilan argumen yang dibuat orang banyak yang jatuh ke dalam sebagian bid’ah dan hal-hal yang baru, “Bahwa mayoritas manusia melakukan ini,” atau alasan-alasan lain yang batil dan penakwilan-penakwilan yang tumpul.

Dalam buku saya “Dzam Al-Katsrat wal Mutakatstsirin” terdapat banyak keterangan dari ayat Al-Qur’an dan hadits yang mengecam orang yang terpedaya dengan paham mayoritas dan bangga dengan memperbanyak amal.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam “Ighatsah Al-Lahfan min Masyahid Asy-Syaithan” (hal. 132-135 -Mawarid Al-Aman) berkata :

“Orang yang cermat pandangannya dan benar imannya tidak akan merasa gelisah karena sedikitnya kawan dan bahkan dari tiadanya kawan jika hatinya telah merasa berteman dengan generasi pertama dari orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang membenarkan, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sebaik-baik teman. Maka kesendirian seseorang dalam pencariannya sebagai bukti kesungguhan dia dalam mencari kebenaran”.

Ishaq bin Rahawaih pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu dia menjawab. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya saudaramu Ahmad bin Hanbal mengatakan masalah ini seperti itu.” Maka dia menjawab, “Saya tidak menyangka bahwa seseorang sepakat denganku dalam masalah ini.”

Dia tidak merasa kesepian setelah tampak kebenaran baginya meskipun tidak ada yang sependapat dengannya. Sesungguhnya kebenaran jika telah tampak dengan jelas, maka tidak membutuhkan saksi yang mendukungnya. Sebab hati melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari. Maka, jika seseorang telah melihat matahari, dan berdasarkan keilmuan dan keyakinannya bahwa matahari telah terbit, maka dia tidak membutuhkan saksi untuk itu dan tidak membutuhkan orang untuk menyetujui atas apa yang dilihatnya.

Betapa bagusnya apa yang dikatakan Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma’il yang terkenal dengan Abu Syamah[4] dalam kitabnya tentang hal-hal baru dan bentuk-bentuk bid’ah[5], terdapat perintah memegang teguh jama’ah. Maka yang dimaksud denganya adalah, memegang teguh kebenaran dan mengikutinya, meskipun orang yang berpegang teguh kepadanya sedikit, sedangkan orang yang melanggarnya banyak. Sebab kebenaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh jama’ah pertama pada masa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan shahabatnya, dan tidak diukur oleh banyaknya orang yang mengikuti bid’ah mereka.

‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata, “Saya telah menyertai Mu’adz di Yaman, dan saya tidak berpisah dengannya hingga saya menguburkannya di Syam. Kemudian setelah itu, saya selalu menyertai orang terpandai dalam ilmu fiqh, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, maka saya mendengar dia berkata, “Hendaklah kalian memegang teguh jama’ah. Sebab tangan Allah di atas jama’ah”. Pada suatu hari saya mendengar dia berkata, ‘Akan memimpin kalian para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, maka shalatlah kalian tepat pada waktunya, sebab demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama mereka karena shalat itu bagi kalian adalah tambahan (sunnah).’ Saya berkata, ‘Wahai shahabat Muhammad! Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan kepada kami?’ Ia berkata, “Apakah itu?’ Saya berkata, ‘Engkau memerintahkan aku berjama’ah dan menghimbauku kepadanya kemudian kamu berkata, ‘Shalatlah kamu sendirian, dan demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama jama’ah, dan dia sunnah?’ Ia berkata, ‘Wahai ‘Amr bin Maimun. Saya mengira kamu orang yang terpandai tentang fiqh dari penduduk negeri ini. Kamu mengerti, apa jama’ah itu?’ Saya berkata, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya mayoritas masyarakat adalah orang-orang yang berpaling dari jama’ah. Jama’ah adalah sesuatu yang sesuai kebenaran, meskipun kamu hanya sendirian’.”[6]

Dalam riwayat lain disebutkan, “Maka dia memukul pahaku dan berkata, ‘Celakalah kamu! Sesungguhnya mayoritas manusia berpaling dari jama’ah. Sesungguhnya jama’ah adalah apa yang sesuai dengan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla’.”

Nu’aim bin Hammad berkata, “Yakni, jika jama’ah telah rusak, maka kamu harus memegang teguh apa yang telah dilakukan jama’ah ketika sebelum rusak, meskipun kamu sendirian, maka sesungguhnya ketika itu kamu adalah jama’ah.”

Hasan Al-Bashri berkata, ‘Sunnah itu -demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia- di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang yang meremehkan. Maka bersabarlah kalian di atasnya, semoga Allah merahmati kalian. Sebab Ahlus Sunnah adalah minoritas di antara manusia pada masa lalu dan mereka juga manusia minoritas pada masa sesudahnya. Yaitu orang-orang yang tidak pergi bersama orang-orang yang bermewah-mewahan dalam kemewahan mereka, dan juga tidak besama orang-orang yang mengikuti bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar atas Sunnah hingga bertemu dengan Tuhan mereka. Maka dalam keadaan demikianlah kalian harus berada, insya Allah.’

Muhammad bin Aslam Ath-Thusi[7], seorang imam yang disepakati keimamannya adalah orang yang paling mengikuti sunnah pada masanya, hingga dia berkata, “Tidak sampai kepadaku Sunnah dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melainkan saya mengamalkannya. Dan sungguh saya ingin thawaf di Ka’bah dengan naik unta, namun tidak memungkinkan bagi saya untuk melakukannya. Hingga sebagai ulama pada msanya ditanya tentang As-Sawad Al-‘Azham yang disebutkan dalam hadits.

إذَأ اخْتَلَفَ النَّاسُ فَعَلَيكُمْ بِالسَّوَادِاْلأَعْظَمِ

Jika manusia berselisih maka hendaklah kalian memegang teguh As-Sawad Al-‘Azham.”[8]

Maka dia berkata, “Muhammad bin Aslam Ath-Thusi adalah As-Sawad Al-‘Azham.”[9]

Benar, demi Allah, bahwa di satu masa bila di dalamnya terdapat orang yang mengerti Sunnah dan menda’wahkannya, maka dia adalah hujjah, ijma’, jama’ah, dan jalan orang-orang Mukmin, barangsiapa memisahkandiri darinya dan mengikuti yang lainnya, maka Allah akan memalingkan dia kepada apa yang dia berpaling dan Allah akan memasukkan dia ke Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali.”[10]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:[11]
“Barangsiapa yang mempunyai pengalaman tentang ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya dan apa yang dilakukan orang-orang musyrik dan Ahli Bid’ah pada hari ini, niscaya dia akan mengetahui bahwa antara salaf dan mereka yang meninggalkannya terdapat jarak yang jauh lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat, dan bahwa mereka pada sesuatu, sedangkan salaf pada sesuatu yang lain, seperti dikatakan.

Ia berjalan ke timur dan kamu berjalan ke barat
Betapa jauhnya antara timur dan barat.

Dan perkaranya -demi Allah- lebih besar dari apa yang telah kami sebutkan.

Sesungguhnya Imam Bukhari dalam Ash-Shahih II/115 menyebutkan riwayat dari Ummu Darda’ Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Abu Darda’ mendatangi saya dengan marah, maka saya berkata kepadanya, ‘Ada apa?’ Ia berkata, “Demi Allah, saya tidak mengetahui pada mereka sesuatu pun dari perkara Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kecuali mereka semua mengerjakan shalat.”

Imam Bukhari[12] juga menyebutkan bahwa Az-Zuhri berkata, “Saya mendatangi Anas bin Malik di Damaskus dan dia sedang menangis. Maka saya berkata kepadanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis?” Ia berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu tentang apa yang saya dapatkan kecuali shalat ini, dan shalat ini pun telah disia-siakan.”

“Ini adalah fitnah terbesar yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, “Bagaimana jika kalian telah diliputi fitnah di mana orang menjadi tua dan anak kecil tumbuh berkembang di dalamnya, dia berjalan pada manusia dan mereka menjadikannya sebagai sunnah, ketika hal itu diubah, dikatakan, “Sunnah telah diubah?” atau, “Ini adalah kemungkaran.”[13]

“Ini adalah salah satu dalil bahwa amal jika tidak sesuai Sunnah, maka tidak ada nilainya dan tidak boleh diperhatikan. Juga sebagai bukti bahwa amal tersebut telah berjalan pada arah yang berbeda dengan arah Sunnah sejak masa Abu Darda’ dan Anas.”[14]

Abul Abbas Ahmad bin Yahya[15] berkata, “Muhammad bin Ubaid bin Maimun bercerita kepadaku dari Abdullah bin Ishaq Al-Ja’fari, ia berkata, “Abdullah bin Hassan banyak duduk bersama Rabi’ah. Ia berkata, ‘Lalu pada suatu hari mereka menyebut tentang berbagai sunnah, maka seseorang yang ada di majelis itu berkata, ‘Apa yang dilakukan oleh manusia tidak seperti ini!’ Maka Abdullah berkata, ‘Bagaimana pendapatmu jika banyak orang bodoh berlaku sebagai para hakim, apakah mereka menjadi hujjah atas As-Sunnah?’ Maka Rabi’ah berkata, “Saya bersaksi bahwa ini adalah ucapan anak-anak para Nabi.”[16]

Maka, seorang Muslim yang sejati adalah orang yang tidak terkontaminasi oleh maraknya bentuk-bentuk bid’ah dalam memahami bentuk-bentuk sunnah. Sebab hal-hal yang telah mentradisi sebagaimana dia itu membangun beberapa pokok, dia juga menghancurkan beberapa pokok, dan dia sangat mendominasi. Maka, melepaskan dari cengkramannya membutuhkan latihan jiwa dan memaksakan diri dalam melaksanakan segala bentuk sunnah.[17]

Betapa indahnya riwayat yang disebutkan Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashhab Al-Hadits (hal.7) dengan sanad shahih dari Al-Auza’i rahimahullah:

Hendaklah kamu berpegang dengan riwayat-riwayat dari salaf, meskipun manusia menolak kamu, dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat manusia, meskipun mereka menghiasinya kepadamu dengan perkataan yang manis.”

Dan Allah adalah yang memberikan petunjuk kepada jalan kebenaran.

[Dislain dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimah Fi Ilmi Ushul Al-Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah, Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Kautsar, Oktober 2000, hal. 168-173]
_____
Footnote
[1] Al-Hawadits wal Bida’:71 dan lihat Marwiyyat Du’a Khatmi Al-Qur’an : 66
oleh Syaikh Bakr bin Abu Zaid, maka di dalamnya terdapat tambahan
penjelasan
[2] Tasyabbuh Al-Khasisi (hal. 33 dengan tahqiq saya) oleh Adz-Dzahabi
[3] QS Ali ‘Imran/3 : 144
[4] Abu Syamah wafat pada tahun 655 h. Lihat biografinya dalam Tadzkirah Al-Huffadz IV/1460
[5] Yaitu dalam kitabnya Al-Baits ‘ala Inkar Al-Bida’ wal Hawadits 19-20, dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi menukil darinya dalam Syarah Ath-Thahawiyah 362
[6] Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam As-Sunnah nomor 160, dan lihat buku saya Ad-Da’wah Ilallah 89-95 pasal Al-Jama’ah Musthalah wa Bayan
[7] Wafat tahun 242 H. Lihat biografinya dalam Siyar An-Nubala’ XII/195
[8] HR. Ibnu Majah 2950, Ibnu Abi ‘Ashim 84 dan Al-Lalikai 153 dari Anas, dan sanadnya sangat dha’if. Sebab di dalamnya terdapat Abu Khalaf al-Makfuf yang nama aslinya Hazim bin ‘Atha’. Ia ditinggalkan sekelompok ulama dan dinyatakan pendusta oleh Ibnu Ma’in
[9] Hilyah Al-Auliya IX/238-239 dan darinya Adz-Dzahabi meriwayatkannya dalam Siyar An-Nubala’ XII/196
[10] Sebagaimana diisyaratkan dalam surat An-Nisa/4 :115
[11] Ighatsah Al-Lahfan:271-273
[12] Nomor 530 dan lihat An-Nukat Azh-Zhirat I/385
[13] HR. Ad-Darimi I/64 dan Al-Hakim IV/514 dan lihat takhrijnya dalam buku saya Arba’i Asy-Syakhsyiyyah Al-Islamiyyah no. 40
[14] Ini adalah perkataan yang benar, wajib dicatat dengan tinta emas!
[15] Dia adalah Imam Tsa’labi yang masyhur (wafat 291 H). Lihat biografinya dalam Siyar An-Nubala’ XIV/5 oleh Adz-Dzahabi
[16] Al-Ba’its ‘ala A’lam Inkar Al-Bida’ wal Hawadits hal. 51 oleh Abu Syamah.
[17] Lihat Marwiyyat Du’a Khatmi Al-Qur’an hal. 75 oleh Syaikh Bakar bin Abu Zaid