Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

2. Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?
As-Shirât al-mustaqîm (jalan lurus) adalah jalan yang tidak berkelok, tidak miring, tidak menyimpang ke kiri maupun ke kanan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

Saya telah tinggalkan kalian di atas al-baidha’ (agama dan hujjah yang sangat jelas), malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat darinya sepeninggalku kecuali dia akan binasa[1]

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah ditanya, “Apa itu as-shirât al-mustaqîm?” Beliau radhiyallahu anhu menjawab, “Yaitu jalan yang kami ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipangkalnya dan jalan tersebut berujung di surga, disamping kiri dan kanan jalan tersebut terdapat banyak jalan-jalan kecil.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan ini kepada para Shahabatnya dengan menggambarkan garis satu garis lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar dua buah garis dari arah sebelah kanan (garis yang pertama) dan menggambara dua garis lainnya dari arah sebelah kiri (garis yang pertama)

Kemudian setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas garis hitam yang pertama dan mengatakan, “Ini adalah jalan Allâh Azza wa Jalla .” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia! Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. [Al-An’am/6:153][2] [HR. Ibnu Majah]

Karena syaitan selalu duduk menghalangi para hamba agar tidak meniti jalan yang lurus itu lalu menggiring mereka agar menyimpang kekiri atau kekanan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7:16-17]

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Sabrah bin Abi Fakih:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لاِبْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ

Sesungguhnya syaitan duduk menghalangi semua jalan yang ditempuh bani Adam[3]

Maksudnya, di setiap jalan yang ditempuh oleh bani Adam mesti ada syaitan yang duduk untuk menghalangi dan menyimpangkan mereka dari kebenaran dan petunjuk. Allâh Azza wa Jalla menceritakan sumpah syaitan:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7: 17]

Akhirnya, kebanyakan manusia mati dalam keadaan kufur kepada Allâh Azza wa Jalla  atau tidak bersyukur kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. [Yusuf/12:103]

Ada juga sebuah permisalan menakjubkan laiinya yang dibuat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menjelaskan shiratullah al-mustaqim (jalan Allâh Azza wa Jalla yang lurus) itu.

Dari Nawas bin Sam’an al-Anshâri Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا! وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ

وَالصِّرَاطُ: الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Allâh Azza wa Jalla membuat permisalan sebuah jalan yang lurus, di samping kiri kanannya ada dua pagar dan pada kedua dinding pagar tersebut terdapat banyak pintu yang terbuka, (namun) pada pintu-pintu itu terdapat tirai penutup yang terjulur. Di pintu masuk jalan yang lurus tersebut ada penyeru yang mengatakan, “Wahai manusia! Masuklah kalian semua ke jalan itu dan janganlah kalian menyimpang!” Ada juga penyeru lain di atas jalan tersebut. Jika ada orang yang hendak membuka tirai penutup (salah satu pintu pada dinding tembok) tersebut, sang penyeru itu akan mengatakan, “Celaka kamu! Janganlah kamu membukanya! (karena) jika kamu membukanya, kamu pasti akan masuk ke pintu itu.”

Jalan itu adalah Islam, kedua pagar itu adalah batasan-batasan (aturan-aturan) Allâh, pintu-pintu yang terbuka itu adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , penyeru yang berada dipintu masuk jalan itu adalah kitab Allâh Azza wa Jalla sementara para penyeru yang berada di atas jalan itu adalah peringatan Allâh Azza wa Jalla yang berada di hati setiap kaum Muslim[4]

Pengingat di hati setiap Muslim itu, Allâh jadikan sebagai pengingat yang bisa mencegahnya dari perbuatan haram. Pengingat di hati ini terkadang bisa rusak, jika manusia terus melakukan hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . sehingga akhirnya, dia tidak bisa lagi mengetahui yang ma’ruf dan tidak bisa lagi mengingkari yang mungkar, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin/83:14]

Maksudnya, perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang telah mereka lakukan telah menutupi hati-hati mereka.

Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ واسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وإِنْ عادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَه وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ الله تَعَالَى : كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Seorang hamba, jika dia melakukan sebuah kesalahan, maka di dalam hatinya diberi satu titik hitam. Jika dia menarik diri (berhenti dari perbuatan salah tersebut), lalu beristighfar dan bertaubat, maka hatinya akan dibuat berkilau lagi. Jika dia kembali berbuat dosa, maka titik hitam akan ditambah sehingga bisa menutup hatinya. Itulah rân yang disebutkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin/83:14]

Ini adalah sebuah permisalan yang mengagumkan dalam rangka menjelaskan maksud dari as-shirât al-mustaqîm, yang dijadikan sebagai gambaran kongkerit tentang Islam. Yaitu (digambarkan sebagai-red) sebuah jalan lurus yang pada kedua sisinya terdapat dua tembok (yang menggambarkan) batasan-batasan Allâh yaitu syari’at-syari’at yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada para hamba-Nya agar istiqamah berjalan di atasnya dan tidak melewati batasan-batasannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

Itulah hukum-hukum Allâh, maka janganlah kamu melanggarnya. [Al-Baqarah/2:229]

Sementara pintu-pintu yang ditutupi tirai itu akan menggiring orang yang memasukinya kearah hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

Itulah larangan Allâh, maka janganlah kamu mendekatinya! [Al-Baqarah/2:187]

Kata hudud pada ayat di atas maksdunya adalah hal-hal yang diharamkan, sedangkan maksud dari kata hudud pada ayat sebelumnya yaitu segala yang disyari’atkan, yang diizinkan atau yang diperbolehkan oleh Allâh Azza wa Jalla (maka di sini yang diperintahkan adalah) tidak melampaui batasan-batasan tersebut.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ

Pada pintu-pintu itu terdapat penutup yang terjurai

Maksudnya, pada pintu-pintu yang bisa menghantarkan kepada hal-hal yang diharamkan itu terdapat penutup yang terjurai, tidak bergembok dan tidak memiliki anak kunci. Ini mengisyaratkan bahwa untuk memasuki hal-hal yang diharamkan atau untuk melakukan hal-hal yang diharamkan tidak memerlukan waktu lama dan tidak memerlukan usaha besar.

Sebagaimana di dunia ini terdapat as-shirât al-mustaqîm yang harus ditapaki oleh para hamba Allâh Azza wa Jalla , maka demikian juga pada hari kiamat. Pada hari itu juga terdapat as-shirâth al-mustaqim yang dibentangkan di atas neraka Jahannam dan akan diminta kepada semua makhluk untuk berjalan di atasnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [Maryam/19:71-72]

Dan jalan menuju surga adalah jalan itu. Sebuah jalan yang lebih halus daripada sehelai rambut, yang terbentang di atas neraka Jahannam.  Api neraka itu berkobar-kobar di bawa jalan yang harus dilalui oleh manusia itu. Allâh Azza wa Jalla telah bersumpah dalam firman-Nya:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan pasti mendatangi neraka itu.[Maryam/19:70]

Jadi, semua orang pasti akan berjalan di atas jalan yang berada di atas neraka itu. Semua orang Islam yakin bahwa mereka akan melalui jalan itu namun mereka masih meragukan keselamatan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُو

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran/3:185]

Dia tidak tahu, apakah dia termasuk orang yang diselamatkan ataukah tidak? Oleh karena, menjadi kharusan bagi seorang hamba untuk terus berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm (jalan yang lurus di dunia-red) yaitu agama Allâh, agama Islam, serta tidak menyimpang kekiri maupun kekanan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allâh”, Kemudian mereka tetap istiqâmah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. [Al-Ahqâf/46:13]

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengatakan, “Dia tidak menyimpang dari jalan sebagaimana menyimpangnya musang.”

Maksudnya, mereka tetap teguh saat meniti as-shirât al-mustaqîm di dunia, sehingga membuahkan keteguhan buat mereka saat melewati as-shirât al-mustaqîm yang dibentangkan di atas api neraka Jahannam pada hari kiamat kelak.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Ibnu Majah, no. 43. Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah, no. 41
[2] HR. Ibnu Majah, no. 11. Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah, no. 11
[3]  HR. An-Nasa’i, no. 3134. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahîh Sunan an-Nasa’i, 2/381
[4]  HR. Ahmad, 4/182-183. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Zhilâlul Jannah fi Takhrîjis Sunnah, karya Ibnu Abi ‘Ashim, no. 19