KEDERMAWANAN
Oleh
Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
Di antara sifat yang dapat memperbaiki hati dan jiwa serta mengangkat derajat di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala adalah sifat kedermawanan. Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan hal ini dengan istilah manzilatul itsar, yaitu kedudukan itsar — mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Ini merupakan salah satu sifat yang muncul dari hati yang suci dan jiwa yang bersih. Beliau juga menyebutnya dengan istilah lain, yaitu manzilatul jud was-sakha wal-ihsan, kedudukan kedermawanan, kemurahan hati, dan kebaikan.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memulai pembahasannya dengan menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam surah Al-Hasyr ayat 9 yang menjelaskan kepribadian kaum Anshar, penduduk kota Madinah, serta sikap mereka terhadap saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin yang datang dari Makkah ke Madinah, termasuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang paling utama di antara mereka.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
…وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ…
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS.Al-Hasyr/59: 9)
Ayat ini menggambarkan potret mulia kedermawanan kaum Anshar yang melebihi segala tingkatan kedermawanan. Mereka lebih mengutamakan saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri membutuhkan apa yang diberikan itu.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjelaskan hal ini agar kita mengambil pelajaran bahwa kedermawanan merupakan salah satu dari tingkatan ubudiyah dan amalan hati yang hendaknya senantiasa menyertai diri seorang mukmin.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata bahwa itsar adalah mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sedangkan lawannya adalah sifat syuh (kekikiran atau bakhil).
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan, al-itsar diddus syuh. Itsar adalah mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sedangkan lawannya adalah sifat syuh, yaitu kekikiran atau kebakhilan. Beliau juga menjelaskan, fa innal mutsira ‘ala nafsihi yatruku ma huwa muhtajun ilaih, sesungguhnya orang yang mengutamakan orang lain daripada dirinya akan meninggalkan sesuatu yang sebenarnya ia butuhkan, demi membantu saudaranya yang membutuhkan.
Seseorang yang memiliki sifat al-itsar akan mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri. Ini merupakan salah satu sifat ahlul iman.
Kedermawanan yang mendorong seseorang untuk mengutamakan orang lain daripada dirinya merupakan bentuk kedermawanan jiwa (sakha’un nafs). Ada orang yang dermawan dengan hartanya, tetapi ada pula yang dermawan dengan jiwanya. Orang yang memiliki jiwa dermawan tidak berharap pada apa yang ada di tangan manusia. Ia memiliki hati yang qanaah dan tidak meminta-minta kepada orang lain karena jiwanya lapang dan mulia.
Sifat seperti ini lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya daripada sekadar kedermawanan dalam berbagi harta. Kedermawanan jiwa melahirkan ketenangan batin dan kebersihan hati dari ketergantungan terhadap makhluk, sehingga seseorang hanya berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala semata.
Imam Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata: “Kedermawanan jiwa dari apa yang ada di tangan manusia (tidak meminta-minta) lebih utama daripada kedermawanan diri dalam berbagi.”
Maksudnya, seseorang yang tidak berharap, tidak meminta-minta, dan tidak mengemis kepada manusia, memiliki derajat kedermawanan yang lebih tinggi dibandingkan orang yang dermawan dalam hal memberi harta. Banyak orang memahami kedermawanan hanya sebatas memberi dengan harta atau berbagi dalam urusan dunia, sehingga ia disebut dermawan atau donatur. Namun, ternyata ada bentuk kedermawanan yang lebih mulia, yaitu jiwa yang dermawan — sakhaun nafs — jiwa yang tidak berharap kepada apa yang ada di tangan manusia, qanaah dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya, serta menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya.
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa al-itsar (mengutamakan orang lain) memiliki tiga tingkatan.
Tingkatan pertama adalah seseorang memberikan sesuatu dengan lapang dada, tanpa merasa berkurang dan tanpa merasa berat. Ia suka berbagi hal-hal yang ringan baginya, dan pemberiannya tidak mengurangi apa yang ia miliki. Ini merupakan sifat jiwa yang mulia, dan tingkatan ini dinamakan manzilat as-sakha, yaitu kedudukan kedermawanan.
Tingkatan kedua adalah seseorang memberikan sesuatu yang banyak kepada orang lain dan menyisakan sedikit untuk dirinya. Atau sebagaimana disebutkan beliau, seseorang menyisakan untuk dirinya sejumlah yang sama dengan apa yang ia berikan. Tingkatan ini menunjukkan jiwa yang luhur dan dermawan, yang mendahulukan kebutuhan orang lain daripada dirinya.
Tingkatan ketiga adalah seseorang mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri padahal ia juga membutuhkannya. Inilah yang dikenal dengan manzilatul itsar, yaitu derajat mengutamakan saudara seiman di atas kepentingan pribadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan sifat kaum Anshar yang mengutamakan saudara mereka kaum Muhajirin di atas diri mereka sendiri.
Lawan dari itsār adalah al-atsarah, yaitu sifat seseorang yang mengutamakan dirinya sendiri di atas orang lain. Ia tidak mau berbagi, hanya memikirkan kemaslahatan dirinya, dan enggan membantu orang lain. Orang seperti ini termasuk dalam golongan orang yang bakhil dan kikir.
Semoga kita termasuk orang yang memiliki sifat itsar, yaitu mampu mendahulukan kepentingan saudara seiman di atas kepentingan pribadi demi mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Disalin dari Rodja
- Home
- /
- A7. Adab dan Perilaku...
- /
- Kedermawanan