Puasa Bagi Umat-Umat Terdahulu Sebelum Islam

PENDAHULUAN

Pembahasan 3
PUASA BAGI UMAT-UMAT TERDAHULU SEBELUM ISLAM
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa kepada kaum muslimin melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu seka-lian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebe-lummu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah/2: 183]

Allah memberitahukan bahwa puasa itu juga telah diwajib-kan kepada umat-umat terdahulu. Yang dimaksud dengan umat-umat di sini adalah umat-umat yang bertauhid, seperti kaum Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa r, bukan umat-umat penyembah berhala dan patung yang mengira bahwa patung dan berhala (yang disembahnya) adalah ilah (sesembahan) dan tuhan selain Allah.

Yang pasti, puasa umat-umat terdahulu itu tidak sama dengan puasa kaum muslimin, meskipun demikian keseluruhan mereka tergabung dalam ibadah yang agung ini. Ini menunjukkan bahwa agama Allah itu satu, meskipun para Rasul dan risalahnya berbeda-beda. Benar, bahwa agama Allah itu memang satu dalam dasar-dasar atau pokok-pokok dan tujuannya. Dan hal tersebut telah Allah isyaratkan dalam Kitab-Nya melalui firman-Nya:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam…” [Ali ‘Imran/3: 19]

Sedangkan mengenai cara puasa, proses dan waktu yang dipergunakan oleh umat-umat terdahulu, kita tidak memiliki dalil yang menerangkan dengan jelas tentang hal tersebut. Yang ada pada kita adalah apa yang ditegaskan di dalam as-Sunnah mengenai puasa Dawud Alaihissallam dan puasa Musa Alaihissallam untuk hari Asyura’.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahiihnya bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata, “Aku telah mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah mengatakan, ‘Demi Allah, aku benar-benar akan berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari terus-menerus selama hidupku.’ Kemudian aku katakan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku telah mengucapkan hal itu dengan bersumpah demi ayahku, dirimu, dan ibuku.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“فَإِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيْعُ ذَلِكَ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ.”

Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal tersebut, karena itu berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, berpuasalah tiga hari setiap bulannya, karena satu kebaikan itu akan mendapatkan (pahala) sepuluh kali lipat, dan hal itu seperti puasa ad-Dahr (sepanjang masa).

Selanjutnya, aku katakan, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“فَصُمْ يَوْماً وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ.”

Berpuasalah satu hari dan berbukalah (tidak berpuasa) dua hari.

Aku katakan lagi, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“فَصُمْ يَوْماً وَأَفْطِرْ يَوْماً فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَq ، وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ.”

Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Yang demikian itu adalah puasa Dawud Alaihissallam, puasa tersebut adalah puasa yang paling baik.’

Lalu aku katakan, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan lebih dari itu.’

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لاَ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ.”

Tidak ada yang lebih baik dari puasa itu.’” [1]

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke Madinah lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang-orang Yahudi sedang menjalankan puasa ‘Asyura’, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik, hari di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, kemudian Musa pun berpuasa.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ.”

Maka aku lebih berhak kepada Musa daripada kalian.”

Kemudian, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para Sahabatnya untuk mengerjakan puasa tersebut.[2]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhua, ia berkata: “Dulu, hari ‘Asyura’ dipergunakan oleh orang-orang Quraisy untuk berpuasa pada masa Jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpuasa padanya. Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengerjakannya dan memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan puasa tersebut. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barangsiapa yang ingin, dia boleh berpuasa pada hari itu, dan barangsiapa yang enggan, maka dia boleh meninggalkannya.[3]

Beberapa buku referensi menyebutkan sebagian gambaran dari puasa umat-umat terdahulu dalam bentuk sebagai berikut:

1. Orang-Orang Mesir Kuno
Orang-orang Mesir kuno telah mengenal puasa dan melatih diri dengannya secara sengaja dengan tujuan agar ruh menjadi jernih, khususnya pada hari-hari raya mereka, di mana seluruh masyarakat ikut berpuasa.

Sedangkan para pemuka agama, mereka berpuasa lebih dari itu, dari tujuh hari sampai enam minggu setiap tahunnya.

2. Orang-Orang Yunani
Mereka mengambil kebiasaan puasa ini dari orang-orang Mesir kuno. Dahulu, semua orang berpuasa sebagai persembahan kepada sesembahan-sesembahan selama beberapa hari berturut-turut sebelum melakukan perang, sehingga mereka mendapatkan kemenangan.

3. Orang-Orang Cina
Masyarakat Cina mengerjakan puasa selama beberapa hari dan mengharuskan hal tersebut pada diri mereka selama terjadi-nya musibah dan malapetaka.

Sebagian kelompok (Tibet) melarang memakan makanan selama 24 jam secara berturut-turut, bahkan tidak menelan air liur mereka dan tidak juga memakan makanan apapun.

4. Orang-Orang Yahudi
Nabi mereka, Musa Alaihissallam berpuasa selama 40 hari.

Orang-orang Yahudi itu berpuasa ketika mengalami hidad (berkabung), atau ketika sakit dan dalam keadaan bahaya.

Disebutkan bahwa mereka berpuasa selama beberapa minggu berturut-turut setiap tahunnya. Hal ini mereka lakukan sebagai peringatan atas hancurnya kota Yerussalem, dan mereka juga ber-puasa selama satu hari sebagai kaffarat.

5. Orang-Orang Nasrani
Nabi mereka, ‘Isa Alaihissallam berpuasa selama 40 hari sebelum dimulainya masa kerasulan. Beliau berpuasa pada hari kaffarat yang dahulu pernah ditetapkan di dalam syari’at Nabi Musa Alaihissallam. Orang-orang Nasrani banyak mengerjakan puasa pada hari-hari tertentu di setiap tahunnya dengan cara-cara tertentu. Sebagian besar puasa mereka adalah untuk menahan diri dari memakan apa saja yang mempunyai ruh (seperti binatang ternak dan lain-lain-ed.).

Al-‘Allamah Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa menurut beberapa ulama, puasa yang diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita adalah satu bulan penuh. Sedangkan menurut sebagian lainnya adalah tiga hari. Beliau menyebutkan beberapa atsar dari para Sahabat Radhiyallahu anhum yang menunjukkan hal tersebut.[4]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa puasa itu terdiri dari tiga tahapan, yaitu:

  • Pertama, diwajibkan dengan kategori pilihan.
  • Kedua, memasuki tahap wajib, tetapi jika orang yang berpuasa itu tertidur sebelum makan, maka diharamkan baginya untuk makan dan minum sampai malam berikutnya. Kemudian hal tersebut dihapuskan oleh tahap ketiga.
  • Ketiga, yaitu tahap yang telah ditetapkan oleh syari’at hingga hari Kiamat.[5]

[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”,  Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/35) dan Shahiih Muslim (III/162))
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/39) dan Shahiih Muslim (III/147))
[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/39) dan Shahiih Muslim (III/149))
[4] Tafsiir Ibni Katsir (I/213).
[5] Zaadul Ma’aad (I/320) dan lihat kitab Haakadzaa ash-Shaum (hal. 58-59) oleh Taufiq Sab’u.