Yang Dianggap Sebagai Perbuatan Riya’ dan Syirik Padahal Bukanlah Demikian

YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN RIYA’ DAN SYIRIK PADAHAL BUKANLAH DEMIKIAN

1. Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik.
Diriwayatkan dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ َاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Bagaimana menurut baginda tentang orang yang melakukan suatu perbuatan baik, lalu orang lain memujinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan.” [HR. Muslim, no. 2642 (166)].

2. Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah.
Al-Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal. 234), “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang ahli di dalam ber-tahajjud, lalu dia melakukan shalat pada kebanyakan malam, padahal kebiasaan dia melakukan shalat hanya dalam satu jam saja, dia menyesuaikan dirinya dengan mereka, dan dia berpuasa ketika mereka melakukan puasa. Jika bukan karena mereka, niscaya tidak akan timbul di dalam dirinya kegiatan seperti ini. Sebagian orang menyangka bahwa sikap seperti ini merupakan riya’, bahkan secara umum hal ini sama sekali bukanlah riya’, akan tetapi di dalamnya ada perincian, yaitu bahwa setiap mukmin pada dasarnya sangat senang untuk melakukan ibadah-ibadah kepada Allah akan tetapi berbagai kendala telah menghalanginya, begitu pula banyak kelalaian yang telah melupakannya, mungkin saja menyaksikan orang lain telah menyebabkan kelalaian tersebut lenyap,” kemudian beliau berkata, “Dia harus menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di mana dia dapat melihat orang lain sedangkan orang lain tidak dapat melihatnya, jika dia melihat jiwanya yang tenang dengan beribadah, maka itulah hati yang ikhlas, sedangkan jika jiwanya itu tidak tenang, maka ketenangan jiwanya ketika beribadah di hadapan orang lain adalah sebuah sikap riya’, dan kiyaskanlah yang lainnya kepadanya.

Saya katakan: Rasa malas seseorang ketika menyendiri masuk ke dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,, “Karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.”1 Sedangkan sikapnya yang giat termasuk ke dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Karena itu berjama’ahlah kalian.”2

3. Memakai pakaian atau sandal yang baik.
Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، فقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar atom,” lalu seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang indah dan sandal yang indah,” Rasul bersabda, “Sesungguhnya Allah indah dan menyukai yang indah, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” [HR. Muslim, no. 91 (147), at-Tirmidzi, no. 1999]

4. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya.
Secara syara’ ini merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, sebaliknya seseorang tidak diperbolehkan untuk menampakkan kemaksiatan, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُـلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيـنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً، ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ، فَيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ.

Semua umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan, dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada malam hari, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi hari dia mengatakan, ‘Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu,’ padahal Allah telah menutupinya sedangkan pada pagi hari dia membuka apa-apa yang telah Allah tutupi.” [HR. Al-Bukhari, no. 6069, Muslim, no. 2990 (52)].

Membicarakan perbuatan dosa memiliki dampak negatif yang sangat besar, akan tetapi sekarang ini bukanlah kesempatan yang tepat untuk mengungkap-kannya; di antaranya adalah memotivasi perbuatan dosa di antara manusia, dan menyepelekan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka barangsiapa yang menyangka bahwa menyembunyikan perbuatan tersebut termasuk riya’ sedangkan membicarakannya adalah sebuah sikap ikhlas, maka orang tersebut telah diracuni oleh syaitan. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan.

5. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta.
Al-Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal. 218), “Yang tercela adalah seorang manusia yang mencari ketenaran, sedangkan keberadaannya yang merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dicari, maka hal tersebut sama sekali tidak tercela, akan tetapi keberadaannya merupakan fitnah bagi orang-orang yang lemah.”

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Nash hadits ini adalah:
مَا مِـنْ ثَلاَثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُـمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
Tidaklah tiga orang yang berada pada sebuah kampung atau di sebuah pedalaman, sedangkan mereka tidak melaksanakan shalat berjama’ah kecuali syaitan akan menguasai dan mengalahkannya, karena itu berjama’ahlah kalian, karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.
2  Ibid.