Category Archives: A4. Syarat Diterimanya Ibadah

Muqaddimah Kitaabul Ikhlaas

MUQADDIMAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, hanya kepada-Nya kita memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan.

Dan kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita sendiri dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, niscaya tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, niscaya tidak akan ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya seluruh manusia di muka bumi pada saat ini, dengan agama dan keyakinannya yang berbeda-beda, dan dengan keinginan hawa nafsu yang bermacam-macam, mereka semua melakukan berbagai perbuatan juga berbagai aktifitas dengan dari sebagian mereka bahwa semua itu dapat mewujudkan kebahagiaan mereka, di antara mereka ada yang meleset dari harapannya -sungguh sangat banyak mereka ini- dan di antara mereka ada yang menda-patkannya -sungguh sangat sedikit mereka ini- tetapi semuanya tetap saja berakhir dengan kesengsaraan yang berkepanjangan, ini bagian yang mereka dapatkan di dunia apalagi yang akan mereka dapatkan di akhirat, karena itu mereka berhak untuk mendapat-kan ungkapan bela sungkawa, kesedihan dan tangisan.

Bagaimana bisa terjadi kesesatan padahal jalan menuju kebenaran sangatlah jelas, bagaimana juga bisa terjadi penyelewengan padahal jalan menuju Allah sudah lurus, maka sungguh tidak akan terwujud ketenangan dan kebahagiaan di dalam hati kecuali dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sangatlah pantas bagi orang yang gigih guna mencapai keba-hagiaan dunia tanpa disertai keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ungkapan sya’ir berikut ini:

إِذَا لَـمْ يَكُنْ مِنَ اللهِ عَوْنُ الْفَتَى
فَـأَوَّلُ مَا يَجْنِى عَلَيْهِ اِجْتِـهَادُهُ

Jika tidak ada pertolongan dari Allah kepada seseorang, maka kesungguhan,
seseorang merupakan perbuatan jahat yang pertama terhadap dirinya.

Seseorang akan mendapatkan kesengsaraan dan tersiksa perasaannya sebanyak tenaga yang telah dicurahkan oleh akalnya dalam mewujudkan kebahagiaan tanpa disertai dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apakah seseorang tidak sadar bahwa keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkan raga dan jiwa dari setiap kesengsaraan? Ini bukanlah sebuah perkataan yang diungkapkan tanpa makna, akan tetapi ia adalah sebuah pengalaman yang pernah diarungi oleh manusia yang paling utama dan mulia, yaitu pengalaman yang pernah dialami oleh para Nabi dan Rasul, dan juga pengalaman yang pernah dialami oleh para Sahabat dan Tabi’in, akhirnya mereka berhasil mendapatkan kebahagiaan dan selamat di dalam kehidupan dunia, sedangkan di akhirat mereka mendapatkan kehidupan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan yang belum pernah terlintas dalam hati manusia.

Dengan demikian menurut hemat saya, sangat penting menerbitkan buku ini dalam rangka menjelaskan keutamaan ikhlas dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya, juga dalam rangka menjelaskan tentang bahaya riya’ (sikap ingin dilihat orang lain dalam beribadah) dengan berbagai cara pengobatannya, dan hal-hal bermanfaat lainnya.

Di dalam buku ini -sebagaimana di dalam buku-buku yang lainnya- saya tidak menuturkan satu hadits kecuali yang shahih saja, dengan merujuk kepada takhrij dan tahqiq para ahli hadits[1] untuk mewujudkan tujuan dari penulisan saya ini.

Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada guru saya yang mulia, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, yang telah menyuguhkan hadits-hadits yang berhubungan dengan tema ini, takhrij dan tahqiq beliau dalam at-Targhiib wat Tarhiib karya al-Mundziri, di mana kitab beliau yang sangat berharga, yaitu Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib merupakan sebuah hasil jerih payah beliau yang agung -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat (pahala) baginya sampai hari Kiamat, dan kitab ini sedang dalam proses penerbitan, insya Allah.-

Dan juga saya ucapkan banyak terima kasih kepada semua kawan-kawan yang telah ikut serta di dalam menerbitkan buku ini, dengan semua jerih payahnya yang sangat mulia, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas mereka dengan kebaikan.

Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kami berharap semoga menjadikan semua amal kita tulus ikhlas karena-Nya, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewujudkan kemanfaatan kitab ini bagi saya pada hari Kiamat dan menjadikannya sebagai wasilah untuk menjaga saya pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
[1] Terkadang al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadits, begitu pula para ahli hadits yang lainnya, tetapi saya merasa cukup dengan hadits yang termaktub di dalam ash-Shahiih, ini terjadi pada cetakan yang pertama, lalu setelah itu saya merincinya, dan ternyata hal tersebut membutuhkan jerih payah yang melebihi dari waktu yang tersedia, hasilnya saya menetapkannya dengan formula awal, apalagi dengan kenyataan bahwa cara ini telah saya lakukan pada kesempatan sebelumnya, agar saya dapat lebih memanfaat-kan waktu untuk melakukan kegiatan ilmiah lainnya.

Syarat Suatu Amal Diterima Oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

SYARAT SUATU AMAL DITERIMA OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Sebelum melangkah -wahai saudaraku- seyogianya mengetahui jalan yang dapat menyelamatkanmu, dan janganlah melelahkan dirimu dahulu dengan banyak melakukan amal perbuatan, karena banyak sekali orang yang melakukan perbuatan, sedangkan amal tersebut sama sekali tidak memberikan apa-apa kecuali kelelahan di dunia dan siksa di akhirat,[1] karena itu sebelum melangkah untuk melakukan amal perbuatan, Anda harus mengetahui syarat diterimanya amal tersebut, dengan harapan amal Anda diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam masalah ini ada dua syarat penting lagi agung yang perlu diketahui oleh setiap hamba yang beramal, jika tidak demikian, maka amal tersebut tidak akan diterima:

  • Pertama, Pelaku yang melakukan amal tersebut hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Kedua, Amal yang dilakukannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam al-Qur-an atau sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya.

Jika salah satu di antara syarat amal tersebut hilang, maka ia tidak benar (bukan amal shalih) dan tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antara dalil yang memperkuat pernyataan di atas adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [ Al-Kahfi/18: 110]

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar amal itu berupa amal yang shalih, yang maknanya adalah sesuai dengan yang telah ditetapkan di dalam agama, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada pelaku amal tersebut untuk mengikhlaskan karena-Nya dengan tidak mengharap selain-Nya.[2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab Tafsiir-nyav berkata, “Inilah dua rukun amal yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dilakukan dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sesuai dengan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ungkapan ini diriwayatkan pula dari al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang lainnya

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
[1]  Di antara hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ.

Banyak sekali orang yang melakukan puasa, tetapi dari pua-sanya itu mereka tidak mendapatkan apa-apa (pahala) kecuali rasa lapar, dan berapa banyak orang yang melakukan Qiyaa-mullail, tetapi dari Qiyaamullailnya itu mereka tidak mendapatkan apa-apa (pahala) kecuali begadang.”

 Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah, dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Sha-hiihul Jaami’ (no. 3482).
[2]  Dikutip dari kitab yang berjudul at-Tawassul Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, makalah yang diungkapkan oleh guru kami al-Albani, lalu disusun rapih oleh Muhammad ‘Ied ‘Abbasi.
v Tafsiir Surah al-Kahfi.

Perintah untuk Ikhlas dan Peringatan agar Menjauhi Riya’ dan Syirik

PERINTAH UNTUK IKHLAS DAN PERINGATAN AGAR MENJAUHI RIYA’ DAN SYIRIK

Ketahuilah wahai saudaraku sesama muslim, sesungguhnya amal perbuatan itu sangat tergantung kepada niat. Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.”1

Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah/98: 5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ

“Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahui… .’” [Ali ‘Imran/3: 29]

Di dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan dari perbuatan riya’, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“…Jika kamu mempersekutuan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu… .” [Az-Zumar/39: 65]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam talbiyah haji berkata:

اللّهُمَّ حَجَّةٌ لاَ رِيَاءَ فِيهاَ وَلاَ سُمْعَةَ.

Ya Allah, karuniakanlah kepadaku haji yang di dalamnya tidak ada riya’ juga sum’ah (ingin di dengar oleh orang lain).”2

Dan Rasulullah pun telah memperingatkan dengan peringatan yang sangat keras, diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ  ِلأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ! فَقَدْ قِيلَ: ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْـمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْـمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ! وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ! فَقَدْ قِيلَ، ثُـمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَـالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: جَوَادٌ! فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan urusannya pada hari Kiamat adalah orang yang mati syahid, lalu dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkan, dia pun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sehingga aku mati syahid.” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani, dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan ke dalam Neraka. Dan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, juga orang yang membaca al-Qur-an, dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkannya, dia pun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, aku pun membaca al-Qur-an di jalan-Mu,” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, engkau belajar agar dikatakan sebagai seorang alim! Dan membaca al-Qur-an agar dikatakan sebagai Qari! Dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan ke dalam Neraka. Dan orang yang diberikan keluasan dengan limpahan harta, dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkannya, dia pun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku meninggalkan satu jalan pun yang dicintai oleh-Mu untuk berinfak kecuali aku berinfak di jalan tersebut.” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan ke dalam Neraka. [HR. Muslim no. 1905].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.

Aku sama sekali tidak membutuhkan sekutu dari perbuatan yang menjurus kepada syirik, barangsiapa yang melakukan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, maka aku tinggalkan dia (tidak Aku terima) dan perbuatan syiriknya itu.” [HR. Muslim no. 2985].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits yang lainnya ber-sabda:

مَنْ تَعَلَّـمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّى لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, tetapi dia mencarinya agar mendapatkan materi duniawi, maka dia tidak akan pernah mencium wewangian Surga pada hari Kiamat.”3

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Ini merupakan bagian dari hadits yang terdapat dalam ash-Shahiihain.
2 HR. Adh-Dhiyaa’ dengan sanad yang shahih.
3 HR. Abu Dawud (no. 3664) dengan sanad yang shahih.

Peringatan agar Menjauhi Syaitan dan Segala Macam Tipu Dayanya

PERINGATAN AGAR MENJAUHI SYAITAN DAN SEGALA MACM TIPU DAYANYA

Jika kenyataan bahaya ini memang sangat besar, maka tidak diragukan lagi bahwa seseorang yang benar-benar muslim harus selalu berusaha dan berfikir agar dirinya terlepas dari sifat riya’ dan segala macam pembatal amal, dan langkah awal yang harus dilakukannya adalah mengetahui bermacam sebab penyakit yang berbahaya ini. Ketahuilah sesungguhnya musuhmu, yaitu syaitan beserta seluruh pasukannya, tidak akan pernah berhenti berusaha agar semua amal yang kamu lakukan hancur lebur dan berusaha agar kamu terjerumus ke dalam sikap riya’, maka lihatlah berbagai macam peringatan di dalam al-Qur-an dan as-Sunnah agar tipu daya syaitan itu selalu dijauhi, hal ini merupakan obat yang sangat baik di dalam melumpuhkan penyakit tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu) [Faathir/35: 6]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)…” [Al-Baqarah/2: 268]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ 

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.  [Yusuf/12: 5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

“…Barangsiapa mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar  [An-Nuur/24: 21]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ

“…Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah)… .”  [An-Naml/27: 24]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ، حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ، فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمُ اللُّقْمَةُ فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ تَكُوْنُ الْبَرَكَةُ.

Sesungguhnya syaitan datang kepada seseorang di antara kalian dalam setiap keadaan, bahkan dia hadir ketika seseorang sedang makan, maka jika sesuap makanan jatuh dari salah seorang di antara kalian, bersihkanlah kotoran yang ada padanya lalu makanlah makanan tersebut dan janganlah membiarkannya untuk syaitan, kemudian jika salah seorang di antara kalian selesai makan, jilatlah jari-jemarinya, karena dia tidak mengetahui ada dimana keberkahan makanannya itu berada.” [HR. Muslim no. 2033 (135)].

Yang menjadi dalil dalam masalah ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya syaitan datang kepada seseorang di antara kalian dalam setiap keadaan,” dia datang untuk merusak niat, perkataan dan perbuatan, jika niat yang Anda lakukan tulus karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka syaitan akan menunjukkan Anda kepada suatu amal yang sama sekali tidak ada landasannya di dalam agama yang Anda lakukan dengan niat tersebut, jika amal tersebut baik, maka dia akan merusak niat yang Anda lakukan, dan jika niat Anda baik, maka dia akan merusak sikap Anda dengan orang lain sehingga timbul permusuhan dalam kemarahan di antara kalian, semua jalan akan dia tempuh dengan seluruh kemampuannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ مِنَ الْجِنِّ وَقَرِيْنُهُ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ، قَالُوْا: وَإِيَّاكَ؟ قَالَ: وَ إِيَّايَ، إِلاَّ أَنَّ اللهَ أَعَانَنِيْ عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلاَ يَأْمُرْنِيْ إِلاَّ بِخَيْرٍ.

Tidaklah seseorang di antara kalian kecuali telah ada wakil (qarin) yang menyertainya dari ka-langan jin dan Malaikat.” Para Sahabat bertanya, “Apakah hal ini pun terjadi pada dirimu?” Rasul menjawab, “Dan kepadaku pula, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepadaku sehingga dia (qarin dari kalangan jin) masuk Islam, maka dia sama sekali tidak memerintah sesuatu kepadaku kecuali kebaikan.”1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، إِلاَّ وَمَعَهُ شَيْطَانٌ، قَالُوْا: وَأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَأَنَا، إِلاَّ أَنَّ اللهَ أَعَانَنِيْ عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ

Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali bersamanya seorang syaitan, para Sahabat bertanya, ‘Dan bagaimana dengan engkau wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Begitu pula aku, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolongku untuk menghadapinya sehingga dia masuk Islam.’2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُـمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ اْلأَعْمَشُ: أَرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِيْمُهُ.

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu dia mengutus pasukannya, yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah (tentaranya) yang paling besar memberikan fitnah (merusak manusia), salah satu di antara mereka datang kepada iblis dengan berkata, ‘Aku melakukan ini dan itu,’ lalu iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan apa-apa.’ Kemudian datang lagi yang lainnya dengan berkata, ‘Aku sama sekali tidak meninggalkan seorang manusia sehingga aku memisahkannya dengan isterinya,’ Rasul bersabda, ‘Lalu iblis mendekatinya dengan berkata, ‘Engkau memang hebat.’’ 3 Al-‘Amasy berkata, ‘Aku berpandangan bahwa beliau bersabda bahwa jin tersebut, menjadi jin kepercayaan iblis.’”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ.

Sesungguhnya syaitan berjalan pada diri anak Adam di dalam saluran darah.”4

Maka Anda harus selalu terjaga dan berhati-hati terhadap musuh yang satu ini, ketahuilah karena dia sama sekali tidak pernah beristirahat (tidur siang), hal ini sebagaimana yang diungkapkan di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قِيْلُوْا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ تَقِيْلُ.

Tidur sianglah kalian, karena sesungguhnya syaitan tidak pernah tidur siang.”5

Dan tidak mungkin dia akan meninggalkan Anda sementara Anda tidak memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak merasa diperhatikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam seluruh amal perbuatan, yang besar maupun yang kecil.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Shahiihul Jaami’ (no. 5676).
2 Shahiihul Jaami’ (no. 5677).
3 HR. Muslim (no. 2813 (67)), dikutip dari Mukhtashar Shahiih Muslim dengan tahqiq guru kami al-Albani.
4 HR. Al-Bukhari (no. 2035), Muslim (no. 2175 (24)) dan yang lainnya.
5 Dihasankan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab Shahii-hul Jaami’ (no. 4307).

Bertawassul dengan Keikhlasan kepada Allah di Dalam Amal Perbuatan

BERTAWASSUL DENGAN KEIKHLASAN KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DI DALAM AMAL PERBUATAN

Tidak lupa di dalam bab ini saya akan mengungkapkan beberapa manfaat ikhlas di dunia sebelum akhirat, Anda dapat bertawassul kepada Allah dengan amal-amal yang Anda lakukan dengan keikhlasan agar seluruh kesulitan dan kegalauan hilang dari kehidupan Anda.

Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman bin ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu anhuma, beliau berkata.

 عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ انْطَلَقَ ثَلاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوْا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنْ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمْ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لا يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَكُنْتُ لا أَغْبِقُ – شُرْب الْعَشِيّ – قَبْلَهُمَا أَهْلا وَلا مَالا فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلا أَوْ مَالا فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا ُ [َ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ – الصِّيَاح بِبُكَاء بسبب الجوع – عِنْدَ رِجْلَيَّ فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمَا حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ ] حَتَّى بَرَقَ الْفَجْر فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوج 

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian yang sedang dalam perjalanan sehingga mereka terpaksa bermalam di sebuah gua, dan akhirnya mereka semua memasukinya, kemudian ada satu buah batu yang besar jatuh dari gunung sehingga menutupi (mulut) gua yang mereka masuki, mereka semua berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali jika kalian berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyebut amal-amal shalih kalian (dalam do’a kalian).’ Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Ya Allah, dahulu aku memiliki dua orang tua yang telah lanjut usia, dan aku sama sekali tidak pernah memberikan susu kepada keluarga dan semua pembantuku sebelum mereka berdua, lalu pada suatu hari aku berada jauh dari mereka berdua untuk mencari sebuah pohon, aku tidak kembali sehingga mereka telah tertidur, lalu aku memeras susu untuk mereka padahal mereka telah tertidur, aku takut jika membangunkan keduanya dan aku juga tidak mau memberikan susu kepada keluarga dan para pembantu sebelum mereka berdua meminumnya, akhirnya aku menunggu sampai terbit fajar sedangkan anak-anak berteriak di sekitarku karena kelaparan, lalu ketika terbit fajar mereka berdua bangun dan meminum susu. Ya Allah, seandainya aku melakukan hal itu ikhlas karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami. Akhirnya batu tersebut bergeser sedikit akan tetapi mereka masih belum bisa keluar darinya.’

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ [ كُنْتُ أُحِبُّ امْرَأَةً مِنْ بَنَاتِ عَمِّي كَأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرَّجُلُ النِّسَاءَ ] فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنْ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي [ فَقَالَتْ لا تَنَالُ ذَلِكَ مِنْهَا حَتَّى تُعْطِيَهَا مِائَةَ دِينَارٍ فَسَعَيْتُ فِيهَا حَتَّى جَمَعْتُهَا ] فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لا أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلا بِحَقِّهِ [قَالَتْ اتَّقِ اللَّهَ وَلا تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلا بِحَقِّهِ ] فَتَحَرَّجْتُ مِنْ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا [ فَقُمْتُ وَتَرَكْتُهَا] وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتْ الصَّخْرَةُ [فَفَرَجَ عَنْهُمْ الثُّلُثَيْنِ ]  غَيْرَ أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا

Yang lainnya berkata, ‘Ya Allah sesungguhnya aku mengenal seorang puteri pamanku sendiri, yang merupakan wanita paling aku cintai.’ Di dalam riwayat yang lainnya, ‘Aku mencintainya sebagaimana rasa cinta paling besar yang dirasakan oleh seorang lelaki terhadap wanita, aku sangat menginginkan dirinya (menggaulinya), akan tetapi dia menolaknya, sehingga pada suatu masa paceklik dia datang meminta bantuan dariku, akhirnya aku memberikan uang sebesar seratus dua puluh dinar dengan syarat dia rela berduaan denganku, ternyata dia menyetujuinya, sehingga ketika aku akan “melakukannya,” di dalam riwayat yang lain, ‘Sehingga ketika aku telah duduk di atas kedua kakinya, ia berkata, ‘Takutlah kepada Allah dan janganlah engkau menghilangkan keperawanan orang lain kecuali dengan cara yang benar.’’ Akhirnya aku pergi padahal dia adalah seorang wanita yang paling aku cintai, dan aku tinggalkan emas yang telah aku berikan kepadanya. Ya Allah, seandainya aku melakukan hal itu ikhlas karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami, akhirnya batu tersebut bergeser sedikit akan tetapi mereka masih belum bisa keluar darinya.’

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ( أَيْ : ثَمَنه) غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنْ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لا تَسْتَهْزِئُ بِي فَقُلْتُ إِنِّي لا أَسْتَهْزِئُ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتْ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ .

Yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempekerjakan beberapa pekerja dan memberikan upah mereka, kecuali satu orang pekerja saja yang meninggalkan apa yang dia miliki (upah) dan pergi, setelah itu aku mengembangkan dari upahnya itu sampai banyak, pada satu saat dia datang kepadaku dengan berkata, ‘Wahai hamba Allah, bayarlah upahku!’ ‘Semua unta, sapi dan kambing serta hamba sahaya yang engkau lihat adalah milikmu,’ kataku. Dia berkata, ‘Janganlah engkau menghinaku!’ Aku berkata, ‘Aku sama sekali tidak menghinamu.’ Lalu ia mengambilnya dan menggiring semuanya dengan tidak meninggalkan sesuatu apa pun. Ya Allah, seandainya aku melakukan hal itu karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami, akhirnya batu tersebut terbuka dan mereka pun keluar dari gua, lalu pergi.’”1

Wahai saudaraku, lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan batu besar tersebut dari orang-orang yang berada di dalam kesulitan seperti mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membukakan batu yang sangat keras dari mereka karena do’a-do’a mereka dengan bertawassul melalui amal shalih yang mereka lakukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan tidaklah kehinaan yang telah menimpa banyak manusia, kecuali karena ketidakikhlasan mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam beramal, wahai manusia! Tidakkah ada amal-amal shalih yang dengannya kalian dapat bertawassul kepada Allah agar terlepas dari segala kesulitan?

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Muttafaq ‘alaihi, dikutip dari kitab Riyaadhush Shaalihiin, karya an-Nawawi.

Nabi Yusuf Alaihissallam Selamat dengan Sebab Keikhlasannya

NABI YUSUF ALAIHISSALLAM SELAMAT DENGAN SEBAB KEIKHLASANNYA

Lihatlah cobaan yang telah menimpa Nabi Yusuf Alaihissallam, yaitu cobaan yang mendorongnya untuk melakukan zina, lalu lihatlah bagaimana dorongan yang sangat besar telah berkumpul dan menimpanya, dan di sisi lain syaitan bermaksud untuk menjerumuskannya ke dalam perbuatan zina akan tetapi ia tidak berhasil. Di antara dorongan besar yang telah menimpanya adalah keadaan beliau yang masih muda, di mana dorongan seksual sangatlah kuat di dalam dirinya, selain itu ia adalah seorang pemuda yang sangat tampan, dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُعْطِيَ يُوْسُفُ سَطْرَ الْحُسْنِ.

Yusuf Alaihissallam diberikan setengah dari ketampanan (seluruh manusia).”1

Ini menjadi faktor pendorong yang sangat kuat bagi isteri raja (untuk berzina dengannya) apalagi tidak ada seorang pun dari anggota keluarga yang melihatnya yang akan membongkar perbuatan tersebut, tetapi sungguh pun demikian, beliau Alaihissallam tetap teguh dalam pendirian berkat karunia dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal ini digambarkan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ 

Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba Kami yang ikhlas.” [Yuusuf/12: 24]

Dengan keikhlasanlah Yusuf Alaihissallam selamat. Wahai para pemuda apakah Anda tidak bisa mengambil pelajaran dari kisah ini? Wahai para pemudi apakah Anda tidak merenungi kisah ini? Berapa banyak pemuda dan pemudi yang tidak bisa menundukkan pandangannya -dan hal yang lebih dahsyat lagi- disebabkan hanya karena ketidakikhlasan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Penolong dan Pelindung bagi kita semua.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Shahiihul Jaami’ (no. 1073).

Seorang Pemuda yang Beriman

SEORANG PEMUDA YANG BERIMAN

Di dalam kisah ini terdapat satu pelajaran bagi orang yang memiliki hati atau pendengarannya yang penuh dengan perhatian, maka renungilah kisah ini dengan memetik beberapa pelajaran yang sangat agung di dalam keikhlasan.

Diriwayatkan dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada zaman dahulu ada seorang raja dari kalangan orang-orang sebelum kalian memiliki tukang sihir, ketika sang tukang sihir itu sudah lanjut usia, dia berkata kepada raja, ‘Aku sekarang sudah tua, maka utuslah seorang pemuda yang akan aku ajarkan sihir!’ Akhirnya sang raja mengirim seorang pemuda kepadanya agar belajar sihir, pada perjalanan sang pemuda itu, dia berjumpa dengan seorang rahib.1 Pemuda itu duduk padanya dan mendengarkan semua pembicaraannya yang mengagumkan pemuda itu. Akhirnya, setiap kali dia mendatangi tukang sihir, dia singgah pada sang rahib tersebut, dan ketika sampai kepada sang tukang sihir, dia (tukang sihir) memukulnya, lalu dia memberitahukan hal tersebut kepada sang rahib, sang rahib berkata, ‘Jika engkau takut kepada tukang sihir, katakanlah kepadanya bahwa keluargamu telah menghalangi (menahan)mu, dan jika engkau takut kepada keluargamu, maka katakanlah kepada mereka bahwa tukang sihir telah menahanmu.’

Ketika dia di dalam perjalanan, tiba-tiba saja ada seekor binatang besar yang telah menghalangi jalan manusia.’ Dia berkata, ‘Sekarang aku akan mengetahui, apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah sang rahib?’ Lalu dia mengambil batu dan berkata, ‘Ya Allah, seandainya urusan rahib itu lebih engkau sukai daripada urusan sang tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melakukan perjalanan mereka.’ Maka dilemparkan batu tersebut kepada binatang itu yang akhirnya binatang tersebut terbunuh dan orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka.

Kemudian pemuda itu datang kepada rahib dan menceritakan peristiwa tersebut, rahib itu berkata, ‘Wahai anakku, engkau sekarang lebih utama daripadaku pada hari ini, engkau telah mencapai pada apa yang aku saksikan sekarang ini, dan engkau akan diuji, maka jika engkau diuji janganlah engkau menunjukkan kepadaku (mengabarkan keberadaanku).’ Pemuda tersebut dapat mengobati orang yang buta sejak lahir, mengobati penyakit kusta dan berbagai penyakit yang lainnya (dengan izin Allah), kemudian penasihat sang raja mendengarkan hal tersebut, dia membawa berbagai macam hadiah kepadanya dengan berkata, ‘Semua ini untukmu, jika engkau dapat menyembuhkanku.’ Lalu pemuda itu berkata, ‘Aku sama sekali tidak dapat menyembuhkan. Yang menyembuhkan hanyalah Allah, jika engkau beriman kepada-Nya, maka aku akan memohon kepada-Nya agar Dia menyembuhkanmu.’ Akhirnya dia beriman dan Allah menyembuhkannya. Sang penasihat datang kepada sang raja dan duduk bersamanya sebagaimana biasa, kemudian sang raja bertanya kepadanya, ‘Siapakah yang telah mengembalikan penglihatan kepadamu?’ ‘Rabb-ku,’ jawab sang penasihat. Sang raja berkata, ‘Apakah engkau memiliki Rabb selainku?’ Sang penasihat menjawab, ‘Rabb-mu dan Rabb-ku adalah Allah.’ Lalu raja tersebut menyiksanya dan senantiasa menyiksanya hingga dia menunjukkan (mengabarkan keberadaan) pemuda itu. Pemuda itu lalu didatangkan ke hadapan raja tersebut, ia berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah sampai kepada puncaknya hingga engkau dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang tertimpa penyakit kusta, dan banyak lagi yang dapat engkau lakukan.’ Pemuda itu berkata, ‘Aku sama sekali tidak dapat menyembuhkan. Yang menyembuhkan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.’ Lalu raja tersebut menyiksanya dan senantiasa menyiksanya hingga menunjuki keberadaan sang rahib, lalu rahib itu didatangkan ke hadapan raja, ia berkata, ‘Tinggalkanlah agamamu!’ Tetapi dia enggan meninggalkannya. Akhirnya, raja tersebut memerintahkan untuk mengambil gergaji, lalu gergaji itu diletakkan di tengah kepalanya, lalu membelahnya hingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Kemudian didatangkan sang penasihat (yang telah masuk ke dalam agama yang benar), dan dikatakan kepadanya, ‘Tinggalkanlah agamamu!’ Tetapi dia enggan meninggalkannya, akhirnya raja tersebut memerintahkan untuk meletakkan gergaji di tengah kepalanya, lalu membelahnya hingga terbelah menjadi dua. Raja tersebut kemudian memerintahkan agar pemuda itu didatangkan ke hadapannya, lalu dia berkata kepadanya, ‘Tinggalkanlah agamamu!’ Tetapi pemuda itu enggan, akhirnya sang raja menyerahkannya kepada pasukannya, dia berkata, ‘Bawalah pemuda ini ke gunung itu, bawalah dia ke puncak gunung, usahakanlah agar dia meninggalkan agamanya, jika tidak maka lemparkanlah ia!” Akhirnya mereka pergi dengan membawa pemuda itu ke puncak gunung, pemuda itu berkata, “Ya Allah, aku serahkan mereka kepadamu.’ Akhirnya gunung bergetar dan mereka pun berjatuhan, kemudian pemuda itu berjalan menuju raja. Raja tersebut bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah terjadi dengan bala tentaraku?’ Dia berkata, ‘Allah telah menghancurkan mereka.’ Lalu raja tersebut menyerahkan kepada pasukan yang lainnya, dia berkata, ‘Pergi dan bawalah dia dengan sebuah kapal ke tengah lautan, bujuklah dia agar meninggalkan agamanya, jika tidak mau maka lemparkanlah ia.’ Akhirnya, mereka pergi dan pemuda itu berkata, ‘Ya Allah, aku serahkan mereka kepada-Mu.’ Setelah itu kapal terbalik dan mereka pun tenggelam.

Kemudian pemuda itu pergi mendatangi raja tersebut dengan berkata, ‘Engkau sama sekali tidak akan dapat membunuhku sehingga engkau lakukan apa yang aku perintahkan.’ ‘Apakah itu?’ tanya sang raja. Sang pemuda berkata, ‘Kumpulkanlah manusia pada sebuah lapangan, lalu saliblah aku di atas sebatang pohon kurma, ambillah panah dari sarung panahku dan letakkanlah di tengah busur dengan mengu-capkan, ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb pemuda ini.’ Setelah itu panahkanlah kepadaku. Jika engkau melakukan hal tersebut, maka engkau dapat membunuhku.’ Akhirnya raja tersebut mengumpulkan manusia pada suatu lapangan dan menyalib pemuda itu pada batang pohon kurma. Lalu dia mengambil panah dari sarung panah pemuda itu dan meletakkannya di tengah busur, dengan mengucapkan, ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb pemuda ini.’ Dia melemparkan panah dan tepat mengenai pelipis mata pemuda itu, lalu ia meletakkan tangannya di pelipis mata dan meninggal dunia, khalayak ramai yang ada pada waktu itu berkata, ‘Kami beriman kepada Rabb pemuda ini.’

Lalu seseorang datang kepada raja tersebut dan berkata, ‘Apakah baginda mengetahui apa yang baginda takutkan sebelumnya? Demi Allah, ia telah tiba, semua manusia telah beriman. Setelah itu sang raja memerintahkan untuk membuat beberapa parit di depan jalan, akhirnya digalilah parit tersebut, dan dinyalakan api di dalamnya. Raja tersebut berkata, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan agamanya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.’ Akhirnya, mereka melakukannya sehingga datanglah seorang wanita dengan membawa bayi, ketika ibu tersebut mundur, bayi itu berkata, ‘Wahai ibu, bersabarlah karena engkau ada di atas kebenaran.’” [HR. Muslim].

Lihatlah, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan do’a-do’a orang yang ikhlas kepada-Nya dan bagaimana ketentuan Allah dapat merubah keadaan hanya dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebenarnya sang pemuda tersebut sedang berada di dalam bahaya yang sangat besar ketika pasukan sang raja membawanya ke puncak gunung untuk dilemparkan, lalu dia berdo’a kepada Allah dengan penuh keikhlasan, seraya berkata, “Ya Allah! Aku serahkan mereka kepada-Mu,” dengannya gunung bergetar dan para pasukan jatuh terlempar, kemudian sang pemuda pergi menemui sang raja, dengan keutamaan dari Allah. Keikhlasan telah menjadi sebab keselamatan dirinya dari kematian dan dengan keikhlasan dia dapat membunuh musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu mereka membawanya kembali (sang pemuda) dengan sebuah kapal laut ke tengah lautan agar mereka dapat mengakhiri hidup pemuda itu -padahal mereka tahu bahwa keikhlasan adalah rahasia kekuatannya- sang pemuda pun berdo’a kepada Rabb-nya, seraya berkata, “Ya Allah, aku serahkan mereka kepada-Mu.” Akhirnya kapal laut itu terbalik dan seluruh pasukan tenggelam, kemudian sang pemuda kembali mendatangi sang raja.

Inilah keikhlasan yang dikaruniakan oleh Allah kepada pemuda tersebut, dengannya dia dapat selamat dari bahaya yang sangat besar, dan dengannya dia dapat melumpuhkan seluruh musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu lihatlah bagaimana besarnya keikhlasan sang pemuda, dia telah menjual jiwanya kepada Allah dengan mati dalam keadaan syahid, dia mengorbankan jiwanya agar kalimat al-Ikhlas (Tauhid) selalu berkumandang di atas bumi, dan agar semua manusia berkata, “Kami beriman kepada Rabb sang pemuda ini.”

Dia berkata kepada sang raja, “Engkau sama sekali tidak akan dapat membunuhku sehingga engkau lakukan apa yang aku perintahkan,” “Apakah itu?” Tanya sang raja. Sang pemuda berkata, “Kumpulkanlah manusia pada sebuah lapangan, lalu saliblah aku di atas batang pohon kurma, ambillah panah dari sarung panahku dan letakkanlah di tengah busur dengan mengucapkan “Dengan menyebut Nama Allah, Rabb pemuda ini,” “Kemudian lepaskan anak panah tersebut mengarah kepadaku, maka jika engkau melakukannya, berarti engkau membunuhku.”

Apakah hasil dari keikhlasan yang sangat besar seperti ini? Tidak lain adalah pahala yang sangat besar dan kedudukan yang sangat agung di sisi Allah bagi pemuda tersebut, juga keimanan semua manusia kepada Rabb sang pemuda, karena ketika dia mati, semua manusia berkata, “Aku beriman kepada Rabb pemuda ini.”

Inilah buah dari keikhlasan sang pemuda, yaitu keimanan seluruh rakyat… keimanan yang menjadikan mereka kuat ketika berada di dalam kobaran api, dan di antara buah dari keikhlasan yang lain adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada bayi sehingga dia dapat berbicara, yaitu ketika sang ibu mundur untuk menjatuhkan diri ke dalam api, sang anak berkata, “Wahai Ibu! Janganlah takut karena engkau berada di atas kebenaran.”

Pada waktu itu bayi berbicara, dan sekarang ini mulut-mulut manusia terkunci, bahkan berbisik sedikit pun tidak -kecuali orang-orang yang diberikan kasih sayang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala- mereka pun sangat sedikit, apakah ada orang yang dapat merenungkannya…?”

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Seorang ahli ibadah dari agama Nasrani dengan keyakinan yang masih benar.

Kisah Nabi Ibrahim Alaihissallam dan Isterinya di Baitullah

KISAH NABI IBRAHIM ALAIHISSALLAM DAN ISTERINYA DI BAITULLAH

Marilah kita menikmati cuaca yang penuh dengan keikhlasan dan keimanan, sambil membaca kisah Ibrahim Alaihissallam beserta isterinya, yaitu satu kisah yang diungkap di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Ibrahim Alaihissallam membawa ummu Isma’il (Hajar) beserta anaknya, Isma’il yang sedang disusui oleh Hajar dan meletakkan mereka di dekat Bait1, di dekat pohon besar dan di atas lokasi air zamzam, tepatnya di atas masjid, di waktu tidak ada orang lain sama sekali, dan tidak ada air di sana, tetapi Ibrahim tetap meletakkan mereka di sana dengan dibekali satu tempat yang di dalamnya ada kurma, dan satu kantung air, kemudian Ibrahim tetap pergi dengan diikuti oleh ummu Isma’il, beliau berkata,

“Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi, mengapa engkau meninggalkanku di lembah ini, tidak ada teman atau yang lainnya?  Dia menanyakan hal tersebut berkali-kali sedangkan Ibrahim sama sekali tidak menengok, lalu sang isteri bertanya, “Apakah Allah yang telah memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?” “Betul,” jawab Ibrahim. Isterinya berkata, “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Lalu sang isteri kembali, sedangkan Ibrahim pergi, sehingga sesampainya di sebuah dataran tinggi, yaitu pada sebuah tempat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, dia menghadap Baitul Haram, seraya memohon kepada Allah sambil mengangkat kedua tangannya dia berkata:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Eng-kau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [Ibrahim/14: 37]

Sedangkan ummu Isma’il menyusui Isma’il dan minum dari air (yang tersedia), dan ketika persediaan air telah habis, sedangkan dia dan anaknya merasakan haus, ia melihat anaknya yang sedang menghentak-hentakkan kaki dan tangannya di atas tanah, setelah itu sang ibu pergi (untuk mencari air) karena tidak tega melihat anaknya yang ada di dalam keadaan seperti itu, sehingga dia sampai ke Shafa, yaitu sebuah bukit yang dekat dengannya, di sana dia berdiri, lalu dia melihat lembah untuk mencari apakah di sana ada seseorang, kemudian dia turun dari Shafa, sehingga sesampainya pada sebuah lembah, dia mengangkat ujung bajunya dengan berlari seperti orang yang berada di dalam kesulitan, sehingga dia melewati lembah tersebut dan sampai di Marwah, dia berdiri di sana dan melihat apakah ada seseorang, dia melakukan hal tersebut sebanyak tujuh kali. Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Karena itulah Sa’i di antara keduanya (di dalam ibadah haji) disyari’atkan bagi manusia.’ Sesampainya di Marwah, dia mendengar suara yang mengatakan, “Diam!” (Maksudnya kepada dirinya sendiri), lalu dia mendengarkan suara itu, seraya berkata, “Engkau telah memperdengarkan kepadaku, seandainya pada dirimu dapat memberikan pertolongan, maka tolonglah aku.” Ternyata di tempat itu ada Malaikat dan di situlah sumber air zamzam keluar, lalu dia mencari zamzam dengan kakinya -atau berkata, dengan sayapnya- sehingga tampaklah air, pada waktu itu pula dia mulai membuat sebuah kolam dengan tangannya, setelah itu dia menyimpan air ke dalam wadah, sedangkan air terus memancar, di dalam riwayat yang lain: Sesuai dengan apa yang ia simpan. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ -أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ- لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِيْناً

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kasih sayang-Nya kepada ibunda Isma’il, seandainya dia meninggalkan zamzam, atau (beliau bersabda) seandainya dia tidak mengambil air darinya, niscaya zamzam merupakan mata air yang terus mengalir di atas permukaan bumi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu dia minum darinya dan menyusui anaknya, Malaikat berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau takut binasa, karena di sini ada Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah mengabaikan keluarga Ibrahim.’”2

Di antara tanda keikhlasan yang sangat nampak di dalam diri Ibrahim n adalah kepatuhannya di dalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meninggalkan isteri dan anaknya di sebuah tempat yang sama sekali tidak ada teman dan tidak ada sesuatu apa pun, tanda keikhlasan ini pun nampak pada diri isterinya ketika ia berkata, “Apakah Allah yang telah memerin-tahkan hal ini?” Ibrahim menjawab, “Betul,” ia berkata, “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Apakah Allah membiarkan mereka? Sungguh keikhlasan Ibrahim serta isterinya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menggetarkan hati seorang mukmin yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan keikhlasan dan pengorbanannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memancarkan air zamzam, air tersebut bukan hanya untuk Isma’il dan ibunya, akan tetapi untuk berjuta-juta manusia sepanjang zaman. Dan dengan keikhlasan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dipancarkanlah air zamzam yang akan diminum oleh setiap orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah dari berbagai belahan negeri, air zamzam yang diungkapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya:

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zamzam tergantung untuk tujuan apa ia diminum.3

Siapa saja yang meminum air zamzam dengan niat agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan ilmu kepadanya, maka Dia akan mengaruniakan ilmu tersebut kepadanya, siapa saja yang meminumnya agar diberikan ketetapan di dalam agama, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ketetapan baginya di dalam agama, dan siapa saja yang meminumnya dengan niat agar disembuhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari suatu penyakit, maka Dia akan menyembuhkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ber-sabda:

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ وَهِيَ طَعَامُ طُعْمٍ وَشِفَاءُ سُقْمٍ

Air tersebut adalah air yang penuh dengan keberkahan, kedudukannya sebagai makanan yang mengenyangkan dan merupakan obat dari segala macam penyakit.4

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah air zamzam, di dalamnya terdapat makanan dan obat dari berbagai penyakit.”5

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Maksudnya adalah al-Ka’bah.
2 Bagian hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3364) sebagaimana yang diungkapkan oleh an-Nawawi di dalam kitabnya Riyaadhush Shaalihiin.
3 HR. Ibnu Majah (no. 3062) Hadits ini dishahihkan oleh guru kami al-Albani di dalam Manaasikul Hajji wal ‘Umrah, hal. 23. Lihat Shahiih Ibni Majah (II/183).
4 Lihat kitab Manaasikul Hajji wal ‘Umrah, hal. 23, cetakan kedua.
5 Hadits ini dikeluarkan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab as-Silsilah ash-Shahiihah.

Termasuk Keikhlasan adalah Melaksanakan Amal Shalih Disertai Rasa Takut

TERMASUK KEIKHLASAN ADALAH MELAKSANAKAN AMAL SHALIH DISERTAI RASA TAKUT AKAN ADZAB PADA HARI AKHIR

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang yang shalih di dalam firman-Nya:

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا-  اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا -اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا –   فَوَقٰىهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقّٰىهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًاۚ

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.”  [Al-Insaan/76: 8-11]

Orang-orang ini sama sekali tidaklah melakukan amal shalih karena untuk mengharapkan ucapan terima kasih dan pujian dari manusia. Ketika mereka menyuguhkan makanan, minuman atau bantuan, mereka sama sekali tidak mengharapkan balasan apa-apa (dari manusia), akan tetapi semua ini disertai dengan rasa takut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا

Sesungguhnya Kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” [Al-Insaan/76: 10]

Mereka menyuguhkan makanan dengan disertai rasa takut mereka kepada Rabb mereka pada hari Akhir, dan tidak dengan jiwa yang angkuh atau sombong kepada orang yang dibantu oleh mereka. Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, beliau berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ اْلآيَةِ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ: هُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُوْنَ الْخَمْرَ وَيُسْرِفُوْنَ ؟ قَالَ: لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ! وَلَكِنَّهُمُ الَّذِي يَصُومُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَهُمْ يَخَافُوْنَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُوْلئِكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ.

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut… .” ‘Aisyah berkata, “Apakah mereka yang selalu meminum khamr dan berlebih lebihan?” Rasul menjawab, “Tidak wahai puteri ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melakukan shalat, dan bershadaqah sedangkan mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa amal mereka tidak diterima, mereka itulah yang selalu berlomba-lomba di dalam kebaikan.”1

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Hadits ini dikeluarkan oleh guru kami di dalam kitab as-Silsilah ash-Shahiihah, (no. 162).

Dikabulkannya Do’a Orang yang Dizhalimi Serta Makna Mengosongkan Hati

DIKABULKANNYA DO’A ORANG YANG DIZHALIMI DAN DALAM KESULITAN  SERTA MAKNA MENGOSONGKAN HATI UNTUK ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا، فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ.

Do’a orang yang dizhalimi adalah do’a yang selalu dikabulkan, walaupun ia orang yang selalu melakukan kemaksiatan, maka kemaksiatan tersebut hanya akan menimpa dirinya saja.1

Jika kita merenungkan hal ini, maka kita akan menemukan bahwa orang yang berdo’a dalam keadaan seperti itu akan selalu tulus di dalam do’anya, hatinya berkonsentrasi di dalam do’a dan tidak ada satu hal pun yang melalaikannya untuk bersikeras agar do’anya dikabulkan, karena dia meyakini bahwa do’anya harus terwujud. Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan di antara sebab tertolaknya do’a, beliau bersabda:

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْلإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdo’alah kalian kepada Allah dengan meyakini bahwa do’a kalian akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari orang yang hatinya lalai dan bermain main.”2

Do’a seseorang yang hatinya lalai atau bermain-main di dalam do’anya tidak akan pernah dikabulkan, sedangkan orang yang dizhalimi hatinya tidak akan pernah lalai dalam do’anya, karena dia dalam keadaan yang sangat membutuhkan-Nya, begitu pula do’a dari orang yang sedang kesulitan, walaupun dia bukan seorang muslim,3 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, … .”[An-Naml/27: 62]

Tidaklah bagi orang yang berada dalam keadaan sulit berkesempatan untuk lalai dari apa yang telah menekannya, oleh karena itu ia sangat tulus ketika berada di dalam keadaan tersebut, walaupun ia adalah orang yang kufur dan ingkar.

Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menjelaskan kepada kita semua bahwa kesibukan inilah yang melalaikan seseorang dari hal yang lebih utama.

Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَصْعَدُ الثَّنِيَّةَ، ثَنِيَّةَ الْمِرَارِ، فَإِنَّهُ يُحَطُّ عَنْهُ مَا حُطَّ عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وكَانَ أَوَّلُ مَنْ صَعِدَهَا خَيْلُنَا خَيْلُ بَنِي الْخَزْرَجِ ثُمَّ تَتَامَّ النَّاسُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّكُمْ مَغْفُورٌ لَهُ إِلاَّصَاحِبَ الْجَمَلِ اْلأَحْمَرِ) فَأَتَيْنَاهُ فَقُلْنَا لَهُ، تَعَالَ! يَسْتَغْفِرْ لَكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: وَاللهِ!  َلأَنْ أَجِدَ ضَالَّتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لِي صَاحِبُكُمْ

Barangsiapa yang menaiki puncak al-Mirar (suatu tempat di antara Makkah dan Hudaibiyah melalui jalan Madinah), maka dihapus baginya apa-apa yang dihapus dari Bani Israil,” dan yang pertama kali menaikinya adalah pasukan berkuda kita, yaitu pasukan berkuda Bani al-Khazraj, kemudian yang lainnya saling menyusul, lalu Rasulullah n bersabda, “Kalian semua diampuni, kecuali pemilik unta merah,”4 lalu kami mendatanginya dan ber-kata, “Kemarilah, semoga Rasulullah n memo-honkan ampunan untukmu.” Dia berkata, “Aku lebih suka menemukan barangku yang hilang daripada dimohonkan ampun oleh Sahabat kalian (Rasulullah).” [HR. Muslim no. 2780 (12)]

Orang tersebut telah sibuk dengan barangnya yang hilang daripada mendapatkan ampunan baginya dan melakukan ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah baiknya pada kesempatan ini kita ungkapkan sebuah hadits lain dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat menambah jelas masalah ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ رَجُلٍ يُقَرِّبُ وُضُوءَهُ، فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَمُجُّ، وَيَسْتَنْشِقُ، فَيَنْتَثِرُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطاَيَا وَجْهِهِ وَفِيْهِ وَخَيَاشِيْمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى اْلِمْرفَقَيْنِ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ اْلمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى اْلكَعْبَيْنِ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلاَّ جُرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَ باِلَّذِي هُوَ أَهْلُهُ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ ِللهِ، إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

Tidaklah seorang di antara kalian mendekati tempat air wudhunya, lalu dia berkumur-kumur, dan membuangnya, lalu dia memasukkan air ke dalam hidung dan membuangnya, kecuali dosa-dosa wajahnya, mulutnya dan rongga hidungnya akan dihilangkan, kemudian jika dia membasuh mukanya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa-dosa wajahnya dari ujung jenggotnya beserta (jatuhnya) air, kemudian ketika dia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, maka berjatuhanlah dosa kedua tangannya dari ujung jarinya bersama jatuhnya air, kemudian ketika dia membasuh kepalanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa kepalanya dari ujung rambutnya bersama air. Kemudian jika dia membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, maka berjatuhanlah dosa kedua kaki dari ujung jarinya bersama jatuhnya air, jika dia berdiri untuk melakukan shalat, lalu memuji-Nya dan mengagungkan-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya, dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah, maka dia akan keluar dari semua kesalahannya seperti keadaannya saat baru dilahirkan oleh ibunya.5

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ فَرَّغَ قَلْبَهُ ِللهِ (Dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala),” ungkapan itulah yang menjadi dalil dalam permasalahan ini, mengosongkan hati hanya untuk Allah, maksudnya adalah tidak sibuk sama sekali dengan selain-Nya. Inilah kesempurnaan ikhlas karena Allah semata, orang yang berada di dalam keadaan terzhalimi dan keadaan sulit akan selalu mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berdo’a, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan permohonannya sebagai balasan atas keikhlasan hatinya untuk Allah, kemudian di antara do’a Nabi Ibrahim Alaihisssallam adalah:

لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ 

“…Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”  [Al-An’aam/6: 77]

Dan do’a Nabi Nuh Alaihissallam kepada Rabb-nya:

وَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

“…Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” [Huud/11: 47]

Ini merupakan do’a-do’a yang pasti dikabulkan, karena do’a-do’a tersebut berasal dari para hamba yang mengalami kesulitan, jika tidak dikabulkan, maka akan mengakibatkan kesesatan dan kerugian. Semua redaksi do’a ini termasuk dari do’a yang menunjukkan akan sikap mengosongkan hati hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak menyibukkan diri kepada selain-Nya, semua yang ada di benaknya hanyalah harapan agar do’anya dikabulkan dengan mementingkan apa yang diungkap di dalam do’a daripada yang lainnya. Bahkan ketika syaitan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan permohonan yang isinya adalah sebesar-besarnya kesesatan:

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“Berkata iblis, ‘Ya Rabb-ku (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’” [Al-Hijr/15: 36]

Maka sesungguhnya syaitan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam permohonan tersebut, karena itu adalah do’a makhluk yang berada di dalam keadaan terdesak, di mana di dalam hatinya hanya ada permohonan tersebut. Apakah akibat da-rinya setelah semuanya mendapatkan kerugian, dan apakah hasil yang terjadi?

قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ  ٣٧ اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ 

“Allah berfirman, ‘(kalau begitu) maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’” [Al-Hijr/15: 37-38]

Dan bagaimanakah rasa terima kasih yang diungkapkan syaitan kepada Rabb-nya atas do’a yang dikabulkan untuknya?

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٣٩ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

“Iblis berkata, ‘Ya Rabb-ku! Oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.’” [Al-Hijr/15: 39-40]

Maka syaitan -hanya kepada Allah kita semua memohon perlindungan darinya- mengecualikan orang-orang yang ikhlas karena mereka mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemungkaran sama sekali tidak bisa menjadi perhiasan bagi mereka.

Dari kenyataan ini kita dapat memahami bahwa orang yang berdo’a di dalam keadaan terzhalimi atau dalam keadaan terdesak, hati mereka selalu dikosongkan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, di dalam hatinya sama sekali tidak ada hal lain yang dapat melalaikan permohonan tersebut sehingga permohonannya terwujud.

Dari kenyataan ini pula kita melihat bahwa ketiga Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut perang bersama Rasulullah tanpa uzur bahwa mereka merasa bumi menjadi sempit dan jiwa mereka pun terasa sempit, inilah penyifatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَّعَلَى الثَّلٰثَةِ الَّذِيْنَ خُلِّفُوْاۗ حَتّٰٓى اِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوْٓا اَنْ لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّآ اِلَيْهِۗ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوْبُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [At-Taubah/9: 118)

Inilah orang-orang yang ada di dalam keadaan terdesak dalam do’a mereka, hati-hati mereka pun dikosongkan dari segala sesuatu selain dari keridhaan Allah, sehingga bumi terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun demikian adanya, karena itu syaitan tidak dapat mengelabui mereka sedikit pun, karena mereka berpendapat harus mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah menerima taubat mereka.

Berpijak dari penjelasanan ini, kita dapat mema-hami sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ، وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلْثُهَا نِصْفُهَا.

Sesungguhnya seseorang selesai melakukan shalat sedangkan pahala shalatnya itu tidak didapatkannya kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya atau sepertujuhnya atau seperenamnya atau seperlimanya atau seperempatnya atau sepertiganya atau setengahnya.” 6

Pahala di dalam shalat ditulis seukuran kekhusyu’an orang tersebut yang hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam shalatnya7 dan seukuran kekhusyuannya Allah menerima shalat tersebut, dan demikian pula do’a, terjadi perbedaan dalam pengabulannya, semuanya akan dikabulkan berdasarkan kekhusyu’annya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu akan terjadi kepada orang yang berada dalam keadaan terzhalimi, juga orang yang berada di dalam keadaan terdesak, karena mereka mengosongkan hatinya secara sem-purna hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Coba perhatikan lagi bagaimana keadaan pemuda beriman yang akan dilemparkan dari atas gunung? Dia telah mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam do’anya, dia berkata, “Ya Allah! Aku serahkan mereka kepada-Mu sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki,” kemudian adakah kesibukannya yang lain dalam berdo’a, padahal saat itu dia melihat bahwa dirinya akan dilemparkan dari atas gunung? Dengan berpijak dari kenyataan tersebut sangatlah kuat keimanan orang yang faham akan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 اَلْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ

Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, dan begitu pula Neraka.8

Maka sesungguhnya orang yang merasakan dengan hatinya dan melihat bahwa Surga itu sangat dekat, niscaya dia akan mengosongkan fikirannya dari selain Surga tersebut, dan siapa saja yang merasakan bahwa Neraka itu sangat dekat baginya, maka dia tidak akan sibuk kecuali dengan sesuatu yang dapat menjauhkan dirinya dari Neraka, inilah keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehubungan dengan masalah ini, renungkanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَـمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ.

“Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkan Surga, dan seandainya seorang kafir mengetahui kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia tidak akan pernah putus asa akan Surga-Nya.”9

Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia akan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah agar dia selamat dari siksa-Nya dan dia sama sekali tidak akan berharap akan Surga yang merupakan tujuan setiap hamba yang mukmin, Wallaahu a’lam.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 Shahiihul Jaami’ (no. 3377).
2 Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 594).
3 Ini di dunia, sedangkan di akhirat hal ini tidak berlaku.
4 ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh orang munafik.
5 Shahiihul Jaami’ (no. 5680).
6 HR. Ahmad di dalam Musnadnya, Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahiihnya, hadits ini terdapat di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 1622).
7 Seorang muslim dituntut pula untuk melakukan shalat se-suai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah n di dalam berbagai gerakannya dan lain sebagainya, dan di dalam amal yang lainnya. Apabila melakukannya, tidak seperti itu (tidak sesuai dengan contoh dari Rasul) maka akan mengurangi pahala shalatnya.
8 HR. al-Bukhari.
9 HR. Muslim.