Memuliakan Ahlu Bait

MEMULIAKAN AHLU BAIT

Hal kedua dari wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang harus kita jaga dan kita laksanakan adalah memuliakan Ahlu Bait. Beliau berwasiat kepada para Sahabat dan kepada kita sebagai pengikutnya agar memuliakan dan tidak menzalimi keluarga beliau. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan dan bahkan mengulangnya sampai tiga kali agar kita tidak lupa dan memperhatikan wasiat beliau dengan sebaik-baiknya. Beliau sayang kepada umatnya jangan sampai kita mendapat murka Allah karena tidak takut kepada Allah dan tidak memuliakan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa sajakah yang dimaksud sebagai Ahlu Bait yang harus kita muliakan sebagaimana dimaksud dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut? Dalam lanjutan hadits Gadir Khum disebutkan, Hushain bertanya kepada Zaid, “Siapakah yang dimaksud dengan Ahlu Bait, wahai Zaid? Bukankah para istri beliau juga termasuk Ahlu Bait?” Zaid menjawab, “Betul, para istri beliau termasuk Ahlu Bait. Namun yang dimaksud Ahlu Bait (dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini) adalah mencakup keluarga/kerabat (dan keturunan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diharamkan untuk menerima shadaqah (zakat) sepeninggal beliau.” Hushain lanjut bertanya, “Siapakah mereka?” Zaid menjawab, “Keluarga (dan keturunan) Ali, keluarga (dan keturunan) ‘Aqil, keluarga (dan keturunan) Ja’far serta keluarga (dan keturunan) Abbas.” Mereka semua haram menerima shadaqah (zakat).[1]

Penulis telah menulis buku “Percikan Hikmah dari Kisah Tabi’in (Pembelaan terhadap Ahlu Bait dan Sahabat)”. Di sana dijelaskan tentang keutamaan Ahlu Bait, bagaimana memuliakan Ahlu Bait, Ahlu Bait mencintai Sahabat, larangan mencela Sahabat dan lainnya.

Dalam buku tersebut, penulis menukil tulisan tiga ulama tentang memuliakan Ahlu Bait. Berikut ini petikan singkat dari ucapan mereka.

Prof. DR. Hamka rahimahullah :
“Jadi pantaslah kalau kita ulangi seruan seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Ibukota ini, yaitu Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan Alawy memegang teguh agama Islam, menjaga pusaka nenek moyangnya, jangan sampai tenggelam pada pengaruh peradaban Barat. Seruan Sayid ini pun semoga memelihara kecintaan dan penghormatan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam(kaum Muslimin) terhadap mereka (Ahlu Bait).”[2]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :
“Keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keluarga yang termulia, nasab Bani Hasyim ialah nasab yang paling utama di kalangan bangsa Arab. Karenanya, tidak patut jika mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka baik dari ucapan atau perilaku yang rendah.

Adapun soal menghormati Ahlu Bait, mengakui keutamaan mereka, dan memberikan sesuatu yang merupakan hak mereka, atau memaafkan kesalahan mereka serta tidak mempersoalkan kekeliruan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama, semua itu merupakan kebajikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang-ulang berpesan,

“Aku ingatkan kalian (agar takut) kepada Allah dalam hal Ahlu Baitku, Aku ingatkan kalian (agar takut) kepada Allah dalam hal Ahlu Baitku, Aku ingatkan kalian (agar takut) kepada Allah dalam hal Ahlu Baitku.”

Jadi berbuat baik kepada mereka, memaafkan kesalahan mereka yang sifatnya personal, memuliakan mereka dan membantu mereka, semua itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan.”[3]

Prof. Dr. Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi:
“Hukum asal terkait Ahlu Bait adalah memuliakan dan menghormati mereka, tidak menghinakan dan merendahkan mereka.

Siapa yang nasabnya terbukti sampai kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam (sampai kepada Ali, Aqil, Ja’far bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu anhum) maka ditetapkan sebagai orang yang harus dimuliakan dan dihormati. Jika anda tidak tahu atau ragu akan kebenaran nasabnya, maka tanyalah kepada orang yang mengerti atau carilah informasi terkait.

Sebagian orang berlebihan dalam memuliakan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai jatuh kepada hal-hal yang haram. Sebagian lagi malah ada yang merendahkan, meremehkan ataubahkan menghinakan mereka. Adapun yang diyakini oleh Ahlus Sunnah Wal Jamaah ialah memuliakan mereka tanpa berlebihan dan tidak meremehkan mereka.

Memuliakan Ahlu Bait berarti memuliakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai Ahlu Bid’ah yang justru memuliakan mereka, karena sesungguhnya Ahlus Sunnah Wal Jamaah lebih berhak untuk memuliakan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau ada salah seorang dari keturunan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumahmu maka muliakanlah dia, penuhi kebutuhannya, sanjunglah dia, berbuat baiklah kepadanya sebagai bentuk ketaatan dan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila ada keturunan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tetanggamu atau temanmu dalam pekerjaan maka jagalah dia sebaik-baiknya, istimewakan dia dengan sikap-sikap baik kepadanya. Apabila anda tahu ada janda, anak yatim, atau siapa saja dari keluarga mereka yang membutuhkan bantuan, maka segeralah bantu mereka, mudahkanlah urusannya, ringankanlah bebannya, selesaikanlah problemnya. Sehingga mereka merasakan keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka dan memotivasi mereka agar menjaga nikmat sekaligus amanat tersebut dengan sebaik-baiknya. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’alatelah memuliakan mereka, maka hendaklah mereka memuliakan Islam.

Mereka yang termasuk keturunan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkewajiban untuk menjadi contoh dan teladan yang baik. Jangan sampai Ahlu Bait berkata atau melakukan sesuatu yang tidak pantas. Kemuliaan nasab harus dijaga dengan berpegang teguh kepada agama Islam secara konsisten dan konsekuen.”[4]

[Disalin dari Buku WASIAT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI GHADIR KHUM, Penulis Fariq Gasim Anuz]
_____
Footnote
[1] HR. Muslim No. 2408.
[2] Majalah Panji Masyarakat No. 169, 1975 M/ 1395 H, dinukil dari buku Percikan Hikmah dari Kisah Tabi’in, halaman 75.
[3] Percikan Hikmah dari Kisah Tabi’in, halaman 76-77.
[4] Percikan Hikmah dari Kisah Tabi’in, halaman 77-79.